- Beranda
- Stories from the Heart
When you're gone. i see you everywhere (based on real story)
...
TS
godaanpuasa
When you're gone. i see you everywhere (based on real story)

"Semua pertanyaan yang dulu belom bisa gw jawab, semua kalimat yang dulu belum bisa gw ucapin, bakal gw tulis disini"
-Row-
Misi agan-agan semua
ane nubi+ silent reader akhirnya turun gunung juga

ane disini mau nulis cerita ane gan, karna terinspirasi dari beberapa cerita-cerita keren yang ada di SFTH

cerita ini based on real-life events dari seseorang bernama Row, dari jaman dia SMK-Kuliah. Tetapi sebisa mungkin ane samarin, terutama tempat dan nama orang" nya buat menjaga privasi
ok gan, langsung aja kita mulai...
link photo diatas
Spoiler for Prologue:
"ini tempat favorit gw "
"wah keren banget row, lo harusnya ngajak gw dari dulu kesini" gadis itu tersenyum sangat senang, melihat row dengan mata yang berbinar
"ahaha, enak aja ini tempat spesial gw, lagian kalo lagi gak full moon kaya gini, gw juga jarang kok naek kemari"
gadis itu melihat kelangit, memang benar dari tempat ini bulan dan bintang terlihat sangat jelas. Langit biru kegelapan yang luas disinari oleh gemerlap bintang dan cahaya bulan sungguh melegakan hati, seakan untuk saat ini tak ada yang perlu dipikirkan, tak ada yang perlu dicemaskan.
mereka berdua sama-sama terdiam, menikmati keindahalan langit malam tersebut.
"Row"gadis itu memangil pelan
"Kenapa ?" row menjawab seadanya, masih asik menatap langit.
tiba-tiba gadis itu menggenggam tangan kiri row
"menurut lo, gw ini cw yang menarik gak sih ?"
row yang kaget karna tangan nya di genggam refleks melihat kearah gadis tersebut. Row terdiam, entah apa yang terjadi, gadis disampingnya terlihat berbeda dari biasanya, wajahnya bersinar terkena paparan sinaran Bulan, matanya sedikit berkaca-kaca, dan senyumnya sangat menawan.
Row menatap mata gadis itu, tangan kanan row ikut menggengam tangan gadis tersebut.
"lo itu........"
Spoiler for index:
Prologue,Index,Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Special Q&A
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62
Part 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70-1
Part 70-2
70-3
hehe
Epilogue Part 1
Epilogue Part 2
Epilogue Part 3
Selesai Gan
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Special Q&A
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62
Part 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70-1
Part 70-2
70-3
hehe
Epilogue Part 1
Epilogue Part 2
Epilogue Part 3
Selesai Gan
Spoiler for Part 1:
LANGIT sudah gelap. Jalanan lengang hanya dilewati beberapa mobil dan motor yang melaju dengan kencang, entah ingin cepat-cepat pulang untuk beristirahat atau takut akan bahaya dari para begal yang mengincar. Jam 01.00 pagi, saat suasana sedang hening, saat semua orang terlelap, saat semua orang tertidur, mengistirahatkan tubuh dan mengisi tenaga untuk menjalani kehidupannya esok pagi. Row justru masih terjaga, di tempat yang sangat ramai ini, di tempat yang penuh teriakan dan juga asap rokok,Warung Internet.
Mata row tertuju ke arah monitor, tangan kanan memegang mouse, dan tangan kiri bersiap diatas keyboard, sigap menekan tombol-tombol keyboard.
“MANTAP WUUHHUUU” Row berteriak, tim Row memenangkan pertandingan.
“yo’i menang lagi kita row” Diyas teman satu tim Row, menepuk bahunya sambil tersenyum.
‘‘iyalah jelas gw jago maenya”
“apanya,mati mulu gitu lo row”
“yah,yang penting menang, ahahaha” mereka berdua tertawa kompak.
Jam 11 malam sampai jam 5 pagi. Row menghabiskan waktu nya bermain bersama teman-temannya. Ah mungkin lebih tepatnya bukan menghabiskan, tetapi Row justru sedang menikmati waktu tersebut,waktu dimana Row merasa lebih hidup. Sebenarnya Row tidak saling mengenal mereka satu sama lain selain nama. Mereka hanya bermain dan jarang membicarakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan game. Di tempat ini tak ada hal lain yang terpikirkan kecuali memenangkan game, makanan, dan rokok. Jika sudah duduk, Row akan fokus terhadap monitor dan enggan untuk meninggalkan kursinya sebelum billing habis, selain kehabisan rokok dan kebelet ingin ke kamar kecil.
Jam 05:00 pagi
Row beranjak dari kursinya, memakai jaket dan bersiap untuk pulang.
“yas balik dulu gw ya”
“yah dia pake balik, last game lah ”
“ah mau sekolah dulu lah gw”
“alah paling juga tidur lo di kelas”
“ebuset, se kebo itu apa gw?, ya seenggaknya ada yang nyangkut dikit lah di otak gw”
“hahaha yodah hati-hati lo Row”
“sip” Row pun berlalu menuruni tangga lantai 2.
Row pulang menggunakan angkot, berjuang menahan kantuk sepanjang perjalanan. Takut ketiduran dan melewatkan gang rumahnya. Untungnya dia masih bisa bertahan.
Row masuk lewat pintu belakang rumah menggunakan kunci duplikat nya, masuk ke kamar dan mengambil peralatan mandi. Jam dinding, masih menunjukan pukul 05:30 pagi, belum ada tanda-tanda kehidupan dari kamar teman- temannya, kos-kosan ini selalu sepi pada pagi hari seperti ini.
Row tinggal di kos-kosan milik Neneknya sejak kelas 2 SMP, dari saat ia pindah ke kota gajah ini. Neneknya tidak tinggal disini, ia tinggal di kebun keluarga yang berada di kota yang bereda. Jadilah Row ditunjuk sebagai penjaga Rumah dengan 8 kamar yang disewakan sebagai kos-kosan .Tidak banyak tugasnya, kurang lebih hanya mengumpulkan iuran dari penyewa dan menerima komplain-komplain mereka.
Selesai mandi dan berseragam, Row pergi dengan sepedahnya menuju tempat dimana ia melakukan rutinitasnya di pagi hari, bersekolah.
-to be continued-
Mata row tertuju ke arah monitor, tangan kanan memegang mouse, dan tangan kiri bersiap diatas keyboard, sigap menekan tombol-tombol keyboard.
“MANTAP WUUHHUUU” Row berteriak, tim Row memenangkan pertandingan.
“yo’i menang lagi kita row” Diyas teman satu tim Row, menepuk bahunya sambil tersenyum.
‘‘iyalah jelas gw jago maenya”
“apanya,mati mulu gitu lo row”
“yah,yang penting menang, ahahaha” mereka berdua tertawa kompak.
Jam 11 malam sampai jam 5 pagi. Row menghabiskan waktu nya bermain bersama teman-temannya. Ah mungkin lebih tepatnya bukan menghabiskan, tetapi Row justru sedang menikmati waktu tersebut,waktu dimana Row merasa lebih hidup. Sebenarnya Row tidak saling mengenal mereka satu sama lain selain nama. Mereka hanya bermain dan jarang membicarakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan game. Di tempat ini tak ada hal lain yang terpikirkan kecuali memenangkan game, makanan, dan rokok. Jika sudah duduk, Row akan fokus terhadap monitor dan enggan untuk meninggalkan kursinya sebelum billing habis, selain kehabisan rokok dan kebelet ingin ke kamar kecil.
Jam 05:00 pagi
Row beranjak dari kursinya, memakai jaket dan bersiap untuk pulang.
“yas balik dulu gw ya”
“yah dia pake balik, last game lah ”
“ah mau sekolah dulu lah gw”
“alah paling juga tidur lo di kelas”
“ebuset, se kebo itu apa gw?, ya seenggaknya ada yang nyangkut dikit lah di otak gw”
“hahaha yodah hati-hati lo Row”
“sip” Row pun berlalu menuruni tangga lantai 2.
Row pulang menggunakan angkot, berjuang menahan kantuk sepanjang perjalanan. Takut ketiduran dan melewatkan gang rumahnya. Untungnya dia masih bisa bertahan.
Row masuk lewat pintu belakang rumah menggunakan kunci duplikat nya, masuk ke kamar dan mengambil peralatan mandi. Jam dinding, masih menunjukan pukul 05:30 pagi, belum ada tanda-tanda kehidupan dari kamar teman- temannya, kos-kosan ini selalu sepi pada pagi hari seperti ini.
Row tinggal di kos-kosan milik Neneknya sejak kelas 2 SMP, dari saat ia pindah ke kota gajah ini. Neneknya tidak tinggal disini, ia tinggal di kebun keluarga yang berada di kota yang bereda. Jadilah Row ditunjuk sebagai penjaga Rumah dengan 8 kamar yang disewakan sebagai kos-kosan .Tidak banyak tugasnya, kurang lebih hanya mengumpulkan iuran dari penyewa dan menerima komplain-komplain mereka.
Selesai mandi dan berseragam, Row pergi dengan sepedahnya menuju tempat dimana ia melakukan rutinitasnya di pagi hari, bersekolah.
-to be continued-
Diubah oleh godaanpuasa 02-02-2015 00:31
someshitness dan 9 lainnya memberi reputasi
10
79K
Kutip
508
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
godaanpuasa
#334
update
Spoiler for Part 64:
Tetapi memang, sang Khalik selalu memiliki rencananya sendiri
Hari itu hari minggu, seperti biasa Ayah sedang asik mencuci mobil tuanya. Meskipun cat biru mobil tersebut sudah mengelupas di beberapa bagian body mobil, tetapi tetap saja mobil itu masih terlihat anggun. Entah karna terlalu asik mencuci atau mungkin terburu-buru, Ayah terpleset dan jatuh terlentang, tempurung kepalanya tepat menghantam tanah. Ayah tak sadarkan diri.
Lagi-lagi kejadian itu terulang kembali. Adik kembali duduk di RS swasta yang dulu merawat Abang. Dari tempat itu Adik kembali melihat pemandangan yang sama, Ibu yang berada di dalam ruangan UGD, menangis menunggu keluarga yang sekarang sedang terkapar di ruang tersebut.
Syukurlah Ayah tersadar, namun hasil pemeriksaan dokter tidak menunjukan hal yang baik. Posisi jatuh Ayah tadi pagi ternyata tepat di tempat dulu Ayah pernah jatuh dari motor, balapan liar di waktu muda pada 15 tahun yang lalu. Takut dimarahi nenek, Ayah tidak memberi tahu siapapun tentang kecelakaan tersebut.
Hasilnya sangat fatal, kecelakaan tersebut menyebabkan daging menggumpal di kepala Ayah, dokter menyebutnya tumor. Dan kecelakaan tadi pagi menyebabkan Tumor itu aktif. Tidak sampai disitu, Dokter juga memaparkan sejumlah penyakit lain yang ternyata didapat Ayah karna pola hidup yang kurang sehat. Banyak bekerja, Sedikit istirahat, makan sembarangan dan perokok berat.
Ayah Divonis dokter mengalami Komplikasi dan Struk. Bagian badan sebelah kiri Ayah dari bawah dagu hingga kaki tidak dapat digerakan. Ayah yang dulu orang paling bugar di keluarga ini, sekarang hanya bisa terkapar tak berdaya di atas kasur.
Ibu bekerja lebih giat dari biasanya, sekarang ibu membuka warung nasi uduk di pagi hari. Jadilah dari jam 3 sampai jam 9 malam, setiap hari Ibu bekerja tanpa lelah. Bahkan Ibu masih sempat menyiapkan keperluan Ayah dan Adik setiap harinya. Kali ini Ibu mencoba untuk tegar dalam menghadapi ujian ini.
Tetapi berbeda dengan Adik, saat bersama Ibu atau saat Adik mengobrol dengan Ayah ditempat tidurnya, Adik dapat tersenyum dengan ceria. Tetapi saat sendirian, wajah itu menjadi kosong. Adik 2 kali lebih sedih dan murung dari sebelumnya. Kepalanya selalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang sampai sekarang tak pernah terjawab. Dan jauh didalam hatinya Adik sangat tersiksa, mengetahui bahwa dia tidak dapat melakukan apapun.
Setiap hari, Adik selalu mengunjungi Ayah dikamarnya. Bercerita dengan riang tentang nilai sekolahnya, tentang teman-temannya. Padahal Adik tak memiliki satupun teman dekat, dia menutup diri dari teman-temannya.
6 bulan berlalu
Hari ini, entah kenapa Ayah memanggil Adik kekamar, padahal biasanya Ayah selalu menunggu Adik untuk berkunjung kekamarnya. Hari itu seakan-akan Ayah sangat terburu-buru. Kebetulan Ibu hari ini menghadir pengajian di masjid, hari itu mereka berdua saja dikamar Ayah.
“Kenapa yah ?”
“Dik, kali ini Ayah yang gantian cerita boleh ?”
“Boleh”
“Ingat hal ini baik-baik……” Ayah terdiam menatap mata Adik lamat-lamat.
“Kau tau apa yang paling menyakitkan di dunia ini ?”
Adik terdiam sejenak, wajahnya menerawang kesana kemari, tangan kananya menggaruk-garuk kepalanya yang gatal.
“sakit kaya Ayah, gak bisa ngapa-ngapain bosen pasti, hehe” Adik kembali mengeluarkan senyum palsu andalannya.
Ayah tersenyum
“Bukan dik, penyakit ini bukan apa-apa. Hanya merenggut kebugaran fisik Ayah…..”
”Tetapi melihat orang-orang yang disayangi menderita karna kita, karna kebodohan di masa lalu, karna kesalahan yang mereka tak pernah ambil andil dalam kesalahan itu….”
“Sungguh membuat hati teriris Dik” air mata Ayah mengalir membasahi pipinya
“Mungkin sekarang Adik belum mengerti, tetapi tolong janji sama Ayah. Janji kalo Adik gak bakal ngelupain yang barusan Ayah bicarakan sama Adik”
Adik mengangguk sambil menangis. Dalam hatinya Adik berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia takkan melupakan pembeciraan hari ini, pembicaraan terakhirnya dengan Ayah.
Keesokan harinya, Ayah meninggal dunia.
Kesedihan yang teramat dalam kembali dialami oleh Adik dan Ibu. Dalam waktu yang cukup singkat, mereka telah kehilangan dua anggota keluarga mereka, dua bagian hidup mereka.
2 tahun berlalu
Kehidupan mereka lagi-lagi menjadi lebih berat dari sebelumnya. Demi mencukupi kebutuhan hidup mereka yang semakin meningkat terutama Adik yang baru saja masuk SMP, membuat ibu membutuhkan penghasilan lebih. Kini ibu membuka jasa jahit, Perempuan rigkih itu, setiap hari melakukan 3 pekerjaan, belanja ke pasar, memasak nasi uduk, serta menjahit sembari menjaga warung uduk mereka. Melihat hal itu Adik pun tidak hanya diam, setiap hari Adik hanya meminta uang sebatas keperluan naik angkot kesekolahnya. Tiap diberi uang untuk makan, Adik menolak. Adik berkata bahwa disekolahnya yang sekarang tiap murid mendapatkan jatah makan siang gratisdari sekloah. Tentu saja itu kebohongan besar, Adik tidak pernah makan siang.
Tak hanya itu, ia juga selalu berjalan kaki saat pulang sekolah, sehingga ongkos angkot nya memiliki sisa. Uang ini Adik gunakan untuk membeli LKS dan buku paket keperluan sekolahnya. Adik tidak tega merepotkan Ibunya lebih jauh lagi, Adik tau dirinya tidak cukup pintar untuk mendapatkan beasiswa. Untuk saat ini, inilah yang bisa dia lakukan untuk mengurangi beban Ibunya.
Setiap malam Adik selalu menyempatkan untuk memijit ibunya. Kulit-kulit nya sudah keriput menunjukan bahwa umurnya sudah tidak muda lagi. Terlihat jelas dari wajahnya rasa lelah yang teramat sangat, tetapi Ibu tidak pernah mengatakan apapun kepada Adik. Wanita itu menanggung semua bebanya tanpa mengeluh.
“Tenang Dik, hidup kita pasti bakal lebih baik lagi” Ibu selalu tersenyum kepada Adik setelah mengucapkan kalimat ini, kalimat yang selalu Ibu ucapkan setiap malam.
Adik tersenyum mengangguk. Tetapi jauh didalam hatinya Row tidak pernah mempercayai perkataan itu, Adik tahu bahwa suatu saat ini akan ada hal lain yang menggangu kedamaian mereka, mengganggu kebahagiaan keluarga mereka.
Dan Adik benar, hal itu terjadi kembali
Hari itu hari minggu, seperti biasa Ayah sedang asik mencuci mobil tuanya. Meskipun cat biru mobil tersebut sudah mengelupas di beberapa bagian body mobil, tetapi tetap saja mobil itu masih terlihat anggun. Entah karna terlalu asik mencuci atau mungkin terburu-buru, Ayah terpleset dan jatuh terlentang, tempurung kepalanya tepat menghantam tanah. Ayah tak sadarkan diri.
Lagi-lagi kejadian itu terulang kembali. Adik kembali duduk di RS swasta yang dulu merawat Abang. Dari tempat itu Adik kembali melihat pemandangan yang sama, Ibu yang berada di dalam ruangan UGD, menangis menunggu keluarga yang sekarang sedang terkapar di ruang tersebut.
Syukurlah Ayah tersadar, namun hasil pemeriksaan dokter tidak menunjukan hal yang baik. Posisi jatuh Ayah tadi pagi ternyata tepat di tempat dulu Ayah pernah jatuh dari motor, balapan liar di waktu muda pada 15 tahun yang lalu. Takut dimarahi nenek, Ayah tidak memberi tahu siapapun tentang kecelakaan tersebut.
Hasilnya sangat fatal, kecelakaan tersebut menyebabkan daging menggumpal di kepala Ayah, dokter menyebutnya tumor. Dan kecelakaan tadi pagi menyebabkan Tumor itu aktif. Tidak sampai disitu, Dokter juga memaparkan sejumlah penyakit lain yang ternyata didapat Ayah karna pola hidup yang kurang sehat. Banyak bekerja, Sedikit istirahat, makan sembarangan dan perokok berat.
Ayah Divonis dokter mengalami Komplikasi dan Struk. Bagian badan sebelah kiri Ayah dari bawah dagu hingga kaki tidak dapat digerakan. Ayah yang dulu orang paling bugar di keluarga ini, sekarang hanya bisa terkapar tak berdaya di atas kasur.
Ibu bekerja lebih giat dari biasanya, sekarang ibu membuka warung nasi uduk di pagi hari. Jadilah dari jam 3 sampai jam 9 malam, setiap hari Ibu bekerja tanpa lelah. Bahkan Ibu masih sempat menyiapkan keperluan Ayah dan Adik setiap harinya. Kali ini Ibu mencoba untuk tegar dalam menghadapi ujian ini.
Tetapi berbeda dengan Adik, saat bersama Ibu atau saat Adik mengobrol dengan Ayah ditempat tidurnya, Adik dapat tersenyum dengan ceria. Tetapi saat sendirian, wajah itu menjadi kosong. Adik 2 kali lebih sedih dan murung dari sebelumnya. Kepalanya selalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang sampai sekarang tak pernah terjawab. Dan jauh didalam hatinya Adik sangat tersiksa, mengetahui bahwa dia tidak dapat melakukan apapun.
Setiap hari, Adik selalu mengunjungi Ayah dikamarnya. Bercerita dengan riang tentang nilai sekolahnya, tentang teman-temannya. Padahal Adik tak memiliki satupun teman dekat, dia menutup diri dari teman-temannya.
6 bulan berlalu
Hari ini, entah kenapa Ayah memanggil Adik kekamar, padahal biasanya Ayah selalu menunggu Adik untuk berkunjung kekamarnya. Hari itu seakan-akan Ayah sangat terburu-buru. Kebetulan Ibu hari ini menghadir pengajian di masjid, hari itu mereka berdua saja dikamar Ayah.
“Kenapa yah ?”
“Dik, kali ini Ayah yang gantian cerita boleh ?”
“Boleh”
“Ingat hal ini baik-baik……” Ayah terdiam menatap mata Adik lamat-lamat.
“Kau tau apa yang paling menyakitkan di dunia ini ?”
Adik terdiam sejenak, wajahnya menerawang kesana kemari, tangan kananya menggaruk-garuk kepalanya yang gatal.
“sakit kaya Ayah, gak bisa ngapa-ngapain bosen pasti, hehe” Adik kembali mengeluarkan senyum palsu andalannya.
Ayah tersenyum
“Bukan dik, penyakit ini bukan apa-apa. Hanya merenggut kebugaran fisik Ayah…..”
”Tetapi melihat orang-orang yang disayangi menderita karna kita, karna kebodohan di masa lalu, karna kesalahan yang mereka tak pernah ambil andil dalam kesalahan itu….”
“Sungguh membuat hati teriris Dik” air mata Ayah mengalir membasahi pipinya
“Mungkin sekarang Adik belum mengerti, tetapi tolong janji sama Ayah. Janji kalo Adik gak bakal ngelupain yang barusan Ayah bicarakan sama Adik”
Adik mengangguk sambil menangis. Dalam hatinya Adik berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia takkan melupakan pembeciraan hari ini, pembicaraan terakhirnya dengan Ayah.
Keesokan harinya, Ayah meninggal dunia.
Kesedihan yang teramat dalam kembali dialami oleh Adik dan Ibu. Dalam waktu yang cukup singkat, mereka telah kehilangan dua anggota keluarga mereka, dua bagian hidup mereka.
2 tahun berlalu
Kehidupan mereka lagi-lagi menjadi lebih berat dari sebelumnya. Demi mencukupi kebutuhan hidup mereka yang semakin meningkat terutama Adik yang baru saja masuk SMP, membuat ibu membutuhkan penghasilan lebih. Kini ibu membuka jasa jahit, Perempuan rigkih itu, setiap hari melakukan 3 pekerjaan, belanja ke pasar, memasak nasi uduk, serta menjahit sembari menjaga warung uduk mereka. Melihat hal itu Adik pun tidak hanya diam, setiap hari Adik hanya meminta uang sebatas keperluan naik angkot kesekolahnya. Tiap diberi uang untuk makan, Adik menolak. Adik berkata bahwa disekolahnya yang sekarang tiap murid mendapatkan jatah makan siang gratisdari sekloah. Tentu saja itu kebohongan besar, Adik tidak pernah makan siang.
Tak hanya itu, ia juga selalu berjalan kaki saat pulang sekolah, sehingga ongkos angkot nya memiliki sisa. Uang ini Adik gunakan untuk membeli LKS dan buku paket keperluan sekolahnya. Adik tidak tega merepotkan Ibunya lebih jauh lagi, Adik tau dirinya tidak cukup pintar untuk mendapatkan beasiswa. Untuk saat ini, inilah yang bisa dia lakukan untuk mengurangi beban Ibunya.
Setiap malam Adik selalu menyempatkan untuk memijit ibunya. Kulit-kulit nya sudah keriput menunjukan bahwa umurnya sudah tidak muda lagi. Terlihat jelas dari wajahnya rasa lelah yang teramat sangat, tetapi Ibu tidak pernah mengatakan apapun kepada Adik. Wanita itu menanggung semua bebanya tanpa mengeluh.
“Tenang Dik, hidup kita pasti bakal lebih baik lagi” Ibu selalu tersenyum kepada Adik setelah mengucapkan kalimat ini, kalimat yang selalu Ibu ucapkan setiap malam.
Adik tersenyum mengangguk. Tetapi jauh didalam hatinya Row tidak pernah mempercayai perkataan itu, Adik tahu bahwa suatu saat ini akan ada hal lain yang menggangu kedamaian mereka, mengganggu kebahagiaan keluarga mereka.
Dan Adik benar, hal itu terjadi kembali
Diubah oleh godaanpuasa 15-10-2014 21:03
fatqurr dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas