- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#1341
PART 73
Gue terpaku memandang wajah Reza yang pucat dan penuh luka lecet disana-sini. Segala kenangan gue tentang Reza mendadak muncul di kepala gue, dan itu sangat menyiksa batin gue. Gue merasakan dada gue sesak, dan napas gue menjadi lebih cepat. Kesedihan yang begitu mendalam memang sangat mempengaruhi kondisi fisik seseorang. Gue memiringkan kepala, dan masih memandangi wajah Reza didepan gue, dan gue merasakan ada tangan yang melingkar di lengan gue. Gue menoleh. Anin ada disamping gue, sambil melingkarkan tangannya di lengan gue, dan gue melihat air mata yang mengalir lembut di pipinya. Menyadari gue memandanginya, Anin menoleh ke gue, dan kemudian menyandarkan kepalanya di bahu gue sambil menangis sesenggukan.
Gue menoleh ke Ari, dan dia memandangi wajah Reza, sama seperti gue dan Anin, sambil menangis. Gue rangkul bahu Ari, dan menepuk-nepuk bahunya. Tepukan gue itu ternyata malah menambah sedihnya, dan dia menjadi semakin larut dalam kesedihan dan tangisnya. Gue melepaskan rangkulan gue dari bahu Ari, dan mengelus rambut Reza yang acak-acakan. Entah apa yang mendorong gue, gue membungkuk dan mencium kening jenazah Reza yang dipenuhi luka dan lebam. Dan hal ini juga diikuti oleh Ari, dia juga membungkuk dan mencium kening Reza. Sebagai tanda dari kami bahwa hari itu kami kehilangan satu anggota keluarga.
Selama beberapa waktu, kami bertiga masih berdiri terpaku di depan jenazah Reza, dengan memanjatkan doa-doa yang mungkin hanya diketahui oleh Tuhan dan isi hati kami masing-masing. Setelah kami bisa lebih menenangkan diri, kemudian kami berbincang-bincang dengan beberapa anggota keluarga Reza yang sudah datang di kamar jenazah itu. Disitu gue liat betapa ayah dan ibu Reza sangat sedih dan terpukul atas kepergian anaknya. Berkali-kali ibu Reza pingsan, dan ayahnya tampak sangat lemah meskipun berusaha tegar atas cobaan yang menimpanya. Kami bertiga tetap berada di ruang jenazah itu, sampai tiba waktunya memandikan jenazah. Gue dan Ari ikut memandikan jenazah, sementara Anin menunggu di salah satu ruang tunggu bersama keluarga Reza yang lain.
Menjelang sore, jenazah udah siap dibawa kembali pulang ke kota kami. Dengan iring-iringan mobil jenazah dan beberapa mobil pengikut, kamipun pulang. Sampai di rumah duka udah malam, dan jenazah disambut dengan isak tangis anggota keluarga yang lain. Gue, Ari dan Anin tetap berada di rumah duka, karena rencananya malam itu juga Arya datang kesitu, jadi kami bertiga menunggu Arya.
Sekitar pukul 8 malam, Arya sampai di rumah duka, dan hal pertama yang kami lakukan adalah saling berangkulan, dan menangis di bahu masing-masing. Kemudian Arya masuk dan melihat jenazah Reza yang telah dikafani dan berada di peti jenazah. Anin yang melihat seluruh adegan itu juga kembali meneteskan air mata.
Setelah Arya lebih tenang dan bisa menguasai diri, kami berempat duduk bersila di lantai, tepat disamping peti jenazah Reza. Kami bertiga saling memandangi, dan sangat merasakan kepergian Reza. 4 tahun yang lalu kami berpisah, lulus SMA, dan saling berjanji untuk mengejar mimpi kami masing-masing, dan tetap berkomunikasi. Kami juga saling berjanji untuk tetap mengingat satu sama lain meskipun jalan hidup membawa kami ke arah yang berbeda-beda, pohon kami tumbuh berbeda-beda, namun ranting-ranting kehidupan kami tetap saling bersentuhan satu sama lain.
Sekarang, salah satu dari kami telah pergi, mendahului berpulang kepada-Nya. Dan kami bertiga, yang ditinggalkan, akan tetap mengingat dan memegang teguh janji yang pernah kami ucapkan. Dalam kesedihan itu, kami bertiga berjanji, meskipun gak terucapkan, bahwa kami akan melanjutkan mimpi-mimpi Reza yang gak akan pernah bisa dia wujudkan.
Kami bertiga bangkit dari duduk, dan berdiri di samping peti jenazah Reza. Kami saling berpandangan sebentar, kemudian memandangi jenazah dengan takzim. Gue merasa gue harus memulainya, dan itulah yang gue lakukan. Gue membungkuk, mendekatkan kepala gue ke jenazah Reza, dan berbisik dalam bahasa Jawa, bahasa yang biasa kami gunakan kalo berkumpul berempat. Dan tentunya dibawah ini udah gue translatekan.
Dan kemudian kami bertiga bergantian mencium kening Reza yang dingin dan menyentuh wajah Reza untuk terakhir kalinya.
Selamat jalan, saudaraku. We will always love you.
Gue terpaku memandang wajah Reza yang pucat dan penuh luka lecet disana-sini. Segala kenangan gue tentang Reza mendadak muncul di kepala gue, dan itu sangat menyiksa batin gue. Gue merasakan dada gue sesak, dan napas gue menjadi lebih cepat. Kesedihan yang begitu mendalam memang sangat mempengaruhi kondisi fisik seseorang. Gue memiringkan kepala, dan masih memandangi wajah Reza didepan gue, dan gue merasakan ada tangan yang melingkar di lengan gue. Gue menoleh. Anin ada disamping gue, sambil melingkarkan tangannya di lengan gue, dan gue melihat air mata yang mengalir lembut di pipinya. Menyadari gue memandanginya, Anin menoleh ke gue, dan kemudian menyandarkan kepalanya di bahu gue sambil menangis sesenggukan.
Gue menoleh ke Ari, dan dia memandangi wajah Reza, sama seperti gue dan Anin, sambil menangis. Gue rangkul bahu Ari, dan menepuk-nepuk bahunya. Tepukan gue itu ternyata malah menambah sedihnya, dan dia menjadi semakin larut dalam kesedihan dan tangisnya. Gue melepaskan rangkulan gue dari bahu Ari, dan mengelus rambut Reza yang acak-acakan. Entah apa yang mendorong gue, gue membungkuk dan mencium kening jenazah Reza yang dipenuhi luka dan lebam. Dan hal ini juga diikuti oleh Ari, dia juga membungkuk dan mencium kening Reza. Sebagai tanda dari kami bahwa hari itu kami kehilangan satu anggota keluarga.
Selama beberapa waktu, kami bertiga masih berdiri terpaku di depan jenazah Reza, dengan memanjatkan doa-doa yang mungkin hanya diketahui oleh Tuhan dan isi hati kami masing-masing. Setelah kami bisa lebih menenangkan diri, kemudian kami berbincang-bincang dengan beberapa anggota keluarga Reza yang sudah datang di kamar jenazah itu. Disitu gue liat betapa ayah dan ibu Reza sangat sedih dan terpukul atas kepergian anaknya. Berkali-kali ibu Reza pingsan, dan ayahnya tampak sangat lemah meskipun berusaha tegar atas cobaan yang menimpanya. Kami bertiga tetap berada di ruang jenazah itu, sampai tiba waktunya memandikan jenazah. Gue dan Ari ikut memandikan jenazah, sementara Anin menunggu di salah satu ruang tunggu bersama keluarga Reza yang lain.
Menjelang sore, jenazah udah siap dibawa kembali pulang ke kota kami. Dengan iring-iringan mobil jenazah dan beberapa mobil pengikut, kamipun pulang. Sampai di rumah duka udah malam, dan jenazah disambut dengan isak tangis anggota keluarga yang lain. Gue, Ari dan Anin tetap berada di rumah duka, karena rencananya malam itu juga Arya datang kesitu, jadi kami bertiga menunggu Arya.
Sekitar pukul 8 malam, Arya sampai di rumah duka, dan hal pertama yang kami lakukan adalah saling berangkulan, dan menangis di bahu masing-masing. Kemudian Arya masuk dan melihat jenazah Reza yang telah dikafani dan berada di peti jenazah. Anin yang melihat seluruh adegan itu juga kembali meneteskan air mata.
Setelah Arya lebih tenang dan bisa menguasai diri, kami berempat duduk bersila di lantai, tepat disamping peti jenazah Reza. Kami bertiga saling memandangi, dan sangat merasakan kepergian Reza. 4 tahun yang lalu kami berpisah, lulus SMA, dan saling berjanji untuk mengejar mimpi kami masing-masing, dan tetap berkomunikasi. Kami juga saling berjanji untuk tetap mengingat satu sama lain meskipun jalan hidup membawa kami ke arah yang berbeda-beda, pohon kami tumbuh berbeda-beda, namun ranting-ranting kehidupan kami tetap saling bersentuhan satu sama lain.
Sekarang, salah satu dari kami telah pergi, mendahului berpulang kepada-Nya. Dan kami bertiga, yang ditinggalkan, akan tetap mengingat dan memegang teguh janji yang pernah kami ucapkan. Dalam kesedihan itu, kami bertiga berjanji, meskipun gak terucapkan, bahwa kami akan melanjutkan mimpi-mimpi Reza yang gak akan pernah bisa dia wujudkan.
Kami bertiga bangkit dari duduk, dan berdiri di samping peti jenazah Reza. Kami saling berpandangan sebentar, kemudian memandangi jenazah dengan takzim. Gue merasa gue harus memulainya, dan itulah yang gue lakukan. Gue membungkuk, mendekatkan kepala gue ke jenazah Reza, dan berbisik dalam bahasa Jawa, bahasa yang biasa kami gunakan kalo berkumpul berempat. Dan tentunya dibawah ini udah gue translatekan.
Quote:
Dan kemudian kami bertiga bergantian mencium kening Reza yang dingin dan menyentuh wajah Reza untuk terakhir kalinya.
Selamat jalan, saudaraku. We will always love you.
Diubah oleh jayanagari 11-10-2014 23:35
chanry dan 4 lainnya memberi reputasi
5

