- Beranda
- Stories from the Heart
You're Not The One
...
TS
divadivnia
You're Not The One
Terima kasih kamu telah membawaku sejauh ini.
Aku senang berada disampingmu. Tapi terlalu lama kita berjalan, aku lelah.
Semakin jauh kita menyelam, semakin gelap, semakin sulit bagiku untuk bernafas.
Aku memutuskan kembali ke permukaan, melepaskan tanganmu.
Aku senang berada disampingmu. Tapi terlalu lama kita berjalan, aku lelah.
Semakin jauh kita menyelam, semakin gelap, semakin sulit bagiku untuk bernafas.
Aku memutuskan kembali ke permukaan, melepaskan tanganmu.
Spoiler for Part 1:
*mohon maaf kalau tulisannya kurang enak dibaca, maklum ts bukan penulis

*sangat menerima kritik dan saran mengenai penulisan biar lebih ajib

*ini true story dari sudut pandang ts
Spoiler for Index:
Diubah oleh divadivnia 14-12-2014 22:52
anasabila memberi reputasi
1
8.1K
115
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
divadivnia
#16
Part 6
Quote:
ga perlu setahun-dua tahun buat wisa ngambil hati gue, cuma dalam hitungan diklat, hitungan liburan semester genap.
wisa buat gue seneng setiap hari. mungkin karena sepanjang diklat gue terus-terusan ketemu wisa, mungkin wisa emang tau betul cara bikin cewe seneng, mungkin wisa lovable, mungkin wisa tipe gue, mungkin...... gue ga tau alesannya, yang pasti gue suka bahkan sayang sama wisa.
suatu hari gue dateng diklat, gue lupa tepatnya itu diklat keberapa. pendiklat harusnya kumpul jam 5 subuh. gue yang tidak suka bangun pagi ini telat bangun dan baru sampe kampus jam 8 (ga nanggung-nanggung ya telatnya
)sesampainya di kampus gue menuju lapangan. di sudut lapangan terlihat beberapa pendiklat sedang berkumpul sambil mengawasi dari jauh calon panitia yang sedang latihan. gue hampiri mereka.
"sorry ya gue telat
""wah parah sih" ucap raffi. raffi ini salah satu pendiklat yang cukup disegani, badannya tinggi gede, mukanya sangar hahaha tapi orangnya baik banget.
"maaf raf
""hahaha becanda kali div. selo lah, gue juga telat ko tadi baru sampe jam 7an"
tiba-tiba wisa menghampiri gue. gue baru sadar kalau wisa juga ada disana

"wah baru dateng lo div" wisa memberi gue hi-five. gue sambut tangannya.
"iya hehe
""ko lo ketawa-ketawa sih, lo tau ga lo telat berapa jam?" wajah wisa mendadak serius
"..........3 jam sa
" asli, wisa kalau lagi serius gini nyeremin bgt, gue berasa diospek."menurut lo, pantes ga sih, pendiklat ngehukum calon panitia yang telat dateng diklat, tapi pendiklat sendiri telat"
raffi cekikikan melihat gue mati kutu disidang wisa "nah loh div, udah sa hukum aja"
"eh raf, lo juga kan telat. ko gue doang sih?"
"ih apaan bawa-bawa gue, hahaha
""oke oke cukup, jadi gimana div? lo mau ngajuin konsekunsi apa?" wisa kembali ke topik awal
"fisik deh sa"
"berapa seri?"
"dua...
"muka wisa terlihat menahan tawa,kemudian mukanya kembali serius
"yang bener aja lo kan telat 3 jam
""ya terus apa dong, gue bingung, ya udah deh gue dipulangin aja" gue udah pasrah, emang gue salah ko, fikir gue.
wisa teridam, muka isengnya terlihat sedang berfikir hukuman apa yang cocok buat ngerjain gue.
"wisa, lo disuruh marko ke sekre, penting katanya" seorang pendiklat menghampiri kami, memecahkan keheningan antara gue dan wisa.
"oke div, gue ke sekre dulu ya. ntar gue pertimbangin konsekuensi apa yang pas buat lo" wisa beranjak pergi meninggalkan gue.
gue bernafas lega, 'aman deh gue' kata gue dalem hati

hari itu gue menemani raffi berkeliling kampus untuk mengecek semua spot latihan. selesai berkeliling kami memutuskan istirahat sebentar di sekre, sebelum kembali ke lapangan. saat berjalan menuju sekre, kami berpapasan dengan wisa yang juga sedang menuju sekre sambil membawa buku agenda dan beberapa gulungan kertas.
wisa menghampiri kami, dan berjalan disebelah gue.
"eh div gue udah tau konsekuensi apa yang pas buat lo" tiba-tiba wisa berbisik di telinga gue. raffi sudah jauh berjalan di depan kami.
"apa?"
"lo jadi milik gue
"gue bengong.... sesaat kami berhenti berjalan. kemudian gue menjawab "ga mau ah, ntar lo babuin gue lagi
""loh ya engga lah, lo jadi milik gue, bukan asisten pribadi gue"
jujur gue malu banget saat itu, tapi gue bingung harus gimana

"oke deh, buat hari ini doang kan?"
"buat selamanya div
" wisa menyodorkan buku agenda dan pulpen yang dia bawa "nih lo tanda tangan disini pake nama lengkap juga"gue raih pulpennya dan gue tanda tangan buku agenda wisa, gue kehabisan kata-kata............
Diubah oleh divadivnia 09-10-2014 15:11
0