- Beranda
- Stories from the Heart
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS (POSITIF HIV AIDS)
...
TS
masternagato
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS (POSITIF HIV AIDS)
Bissmillah.
Assalamualaikum.
Nb: kontak bbm berubah: 5AB07E99
Wa:08128886670
Line:
@masternagato
mas ter nagato proudly Present
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’
DISCLAIMER
1. sangat dianjurkan mencopy dan memperbanyak. Share kepada dunia tulisan busuk ini! (kayanya lebay banget sih?)
Ijin atau tanpa seijin dari penulis (buat ane sah-sah aje)
pelanggaran hak cipta akan dikenakan sanksi sesuai dengan hati nurani lau sendiri.
.
2. Kisah dalam cerita ini adalah fiksi belaka kalau ada kesamaan nama, tempat atau kejadian itu cuma kebetulan semata.
Selamat membaca tulisan busuk ini!
*******
Petunjuk arah baca HD
Kalo membaca tanda:
*******
Berarti pergantian waktu, bisa tempat, tokoh.
Atau bisa tokoh sama waktu dan tempat berbeda?
Bisa aja cuma di alam mimpi!
Kalo membaca tanda:
-------
Ini menandakan hari yang sama.
Bisa berbbeda waktu, berbeda tokoh, berbeda tempat, tapi tetap dihari yang sama.
Bisa juga menunjukan kelanjutan alur cerita!
*******
soudtrack: Eminem Not Afraid
Langsung update add line:
@masternagato
Pin bb: 5AB07E99
WhatsappBrother-sister
Jangan lupa

Bikin

sekalian


Atas saran berbagai pihak.
:Yang mau memberikan donasi seikhlasnya.

Untuk terwujudnya buku ini
Rekening bank btpn
Kode bank 213
Norek:
90010415858
Rudi hermawan

sedikit sinobsis:
bersetting di tahun 2003.
Rudi kelas 2 SMA.
Masuk ke blackworl, drugs user tingkat dewa.
Menjadi drugs dealer.
Hidup penuh bling-bling,wanita.
Teman-teman yang mengelilingi karena uang.
Dengan time skip.
Rudi yang di tahun 2014.
Sudah berkeluarga,punya anak.
Hidup dengan kemiskinan,tanpa penglihatan,positif HIV?
*******
’HIV AIDS salah satu penyakit paling menakutkan.’
’penyakit kutukan’
’yang terkena tak tertolong!’
’sampah masyarakat’
’jauhi orang-orang sampah itu’
’tak ada obatnya!’
’pasti mati’
dan masih banyak lagi label stigma yang menempel!
Yang berpendapat sama dengan stigma di atas!
Monggo jangan di teruskan membaca.
Why..?
Guest what?
Yang nulis HIV+

jadi harus di jauhi.. Nanti ketularan.


warning 16+ only.

Minimal SMA kelas satu boleh lanjut baca, wajib malah!

"Ini nyata gan?"
"terserah.! Anggap aja fiksi"
HIV (Human Immunodeficiency Virus)
AIDS (Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome)
ane nulis ini biar bro-sis mikir sejuta kali!
Untuk tenggelam di blackworl,sex,drugs.
Dan buat yang sudah terkena!
Bangun! Bangkit! Kembalikan warna hidup lo sebelumnya.
Gak ada yang mau bertemen ama lo?
Minder?
Sekeliling lo penuh kepalsuan?
Takut? Trauma?
Sumpah demi Allah
Ane siap kapan aja jadi best friend forever!
Melewati semua cobaan yang ane anggap adalah pujian dari Allah
ane bukan siapa-siapa.
Cuma orang buta pengangguran kelas berat.
Bermodalkan laptop jadul dengan pembaca layar.
Dengan tetesan darah, dengan gerimis air mata.
Dengan sepenuh hati..
Berharap kejelekan ane jadi kebaikan lo.
Kesedihan ane menjadi kebahagiaan buat lo.
Salah langkahnya ane menjadi jalan buat lo.
Penyakit ane menjadi kesehatan buat lo.
"kenapa pemeran utamanya Rudi sama ama agan?"
"habis gak ada yang lebih bagus dari Rudi, yang lebih mahal banyak!"

harapan utama ane. Menurunkan tingkat HIV AIDS walaupun cuma beberapa %
setidaknya menghambat kecepatan tingkat HIV AIDS yang menggila setiap detiknya.
Harapan ke dua.
Tentu saja tulisan ini jadi sumber penghasilan ane!
Gak ada yang bisa ane lakuin selain nulis!
Setiap hari bini kerja nyari nafkah!
Bayangin perasaan ane yang cuma enak-enakan dirumah!
Asli mending tusuk ane gan.. Daripada ane ngerasain ini setiap hari.


stop!
Ane gak minta di kasihani.
Tapi ane berharap buat agan-sista bantuin nerbitin tulisan ane ini.
Kendala ane di modal gak ada!
Boro-boro buat publish keseharian ane juga susah.
Ngiklanin rumah buat modal di fjb.
Ampe capek nyundulnya belum ketemu jodohnya tuh rumah.
Entah kenapa ane yakin aja kalo ini jadi novel, pasti laris.

impianya sih kalo jadi novel.
Taruh di sekolahan, yayasan narkoba atau HIV AIDS.
Taruh dirumah sakit tempat HIV AIDS.
Kalo bisa di toko buku apalagi.
Yah cuma harapan.
Mudah-mudah dikabulkan allah, aamiin.
dan agan sista ada yang tertarik.
Apalagi dilirik penerbit.
"kenapa gak langsung ngirim ke penerbit gan?"
"karena tulisan ane,ane ngerasa berantakan perlu di poles.. Perlu ada yang ngeditorin.
Penerbit mana mau nerima tulisan mentah ane!"

"emang tulisanya udah tamat gan?"
"boro-boro,. Males-malesan nulisnya. Kalo ada yang nerbitin tuh! Baru semangat"
sebetulnya sih tokoh utamanya bukan cuma Rudi.
Banyak tokoh utama lainya.
Termasuk pembaca ane sebut tokoh utama juga disini.
cerita ini agan-sista
Bakal nemuin 3type orang HIV

Ini pakai pengamatan ane sendiri dan bahasa ane seadanya:
Jadi gak bakal ketemu kalo search di google.


1: saver: orang yang terkena HIV dan sadar akan HIVnya!
2. Invite: orang terkena HIV tapi dendam!
Dan membahayakan orang lain.
Menyebarkan HIV ke orang lain!
Biasanya faktornya adalah type invite ini terkena HIV tapi gak terima!
Masih bisa disadarkan type yang ini.
3. Zero: orang ini terkena HIV tapi ia gak tahu!
Ini yang paling berbahaya!
Ia gak tahu.
Yang terkena gak tahu!
Semua gak tahu.
Tahu-tahu pada kena HIV.
Sedikit saran dan percobaan buat agan-sista.
Supaya lebih bersyukur atas nikmat Allah
Kalo agan-sista di rumah sendiri.
Terserah mau malem boleh, siang juga boleh.
Coba lakuin kegiatan sambil di tutup pake apa aja matanya.
Sejam aja coba rasain.abis itu agan-sista renungin.
Seberapa nikmat Allah yang diberikan.
Banyak yang nyoba saran ane ini.
Nanti pandangan agan-sista berubah, setelah melakukan percobaan di atas.

Index setelah pariwara berikut ini:yang mau bergabung di FHD (fans hati malaikat darah iblis)
Invite pin: 5AB07E99
Mau memberikan donasi silakan
Rekening btpn.
Kode bank 213
Norek:
90010415858
Atas nama Rudi hermawan
Call/sms/whatsapp:
08128886670
Update add line:
@masternagato
selamat membaca

HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’
Mau membeli buku ini?
Mau memberikan donasi untuk membantu tulisan ini
:thubup
Menjadi novel


"apa yang didapetin kalo ngasih donasi gan?"
"gak ada! Ente dapet ucapan terimakasih sedalamnya dari lubuk hati ane!"

Mudah-mudahan dengan donasi gotong royong seikhlasnya.
Bisa menerbitkan tulisan busuk ane.
aamiin..
Bisa di bilang ini sumbangan lebih tepatnya kale

Rekening btpn.
Norek:
90010415858
Rudi hermawan.
DAFTAR ISI:
Update langsung ad line:
@masternagato
BAB1: KABUKI
BAB2 BAGIAN1: PENGANTIN KOPLAK
BAB2 BAGIAN2: PENGANTIN KOPLAK
BAB SIDE STORY: PENCARIAN SAHABAT 12 TAHUN
BAB3 BAGIAN1: TULISAN BERBICARA
BAB3 BAGIAN2: TULISAN BERBICARA
BAB4 BAGIAN1: OTAK MAFIA
BAB4 BAGIAN2: OTAK MAFIA
BAB5 BAGIAN1: PRODUK GAGAL
BAB5 BAGIAN2: PRODUK GAGAL
BAB6: SAVE HOUSE
BAB7: OTAK ATIK
BAB8: TEKAD BLENDER
BAB9 BAGIAN1: EMOTION
BAB9 BAGIAN2: EMOTION
BAB WARNING: WAJIB BACA
BAB WARNING: WAJIB BACA
BAB10: LATIHAN MEMBUNUH
BAB11 BAGIAN1: UNDER THE INFLUENCE
BAB11 BAGIAN2: UNDER THE INFLUENCE
BAB : warning2: galaw gak penting!
BAB12 BAGIAN1: CANDIED MANGO MISERABLE
BAB12 BAGIAN2: CANDIED MANGO MISERABLE
BAB13: NGENES AWARDS
BAB14: TULISANKU ATAU KELUARGAKU
BAB15 BAGIAN1: HEY MAN
BAB15 BAGIAN2: HEY MAN
update FHD16: koberlaw
BAB16 BAGIAN1: RIP
BAB16 BAGIAN2: RIP
BAB WARNING3: PETUNJUK ARAH
BAB17 BAGIAN1: LOVE NOTES FOR MY DRUGS
BAB17 BAGIAN2: LOVE NOTES FOR MY DRUGS
BAB18 BAGIAN1: POCONG VS KUNTILANAK
BAB18 BAGIAN2: POCONG VS KUNTILANAK
BAB19 BAGIAN1: FROZEN HEART
BAB19 BAGIAN2: FROZEN HEART
REHAT
BAB WARNING4: FHD LEGOWO
BAB20: MENGECOH HITUNGAN LANGIT
BAB21 BAGIAN1: BIG MOM
BAB21 BAGIAN2: BIG MOM
BAB22: SATU TITIK X SEPULUH=SEPULUH
BAB23 BAGIAN1: FOUR GODFATHER
BAB23 BAGIAN2: FOUR GODFATHER
BAB24 BAGIAN1: ROLLER HEARTS
BAB24 BAGIAN2: ROLLER HEARTS
BAB25: VIRGIN SEGAW
BAB26 BAGIAN1: MASIH HIJAU
BAB26 BAGIAN2: MASIH HIJAU
BAB27 BAGIAN1: FIRST JACKPOT
BAB27 BAGIAN2: FIRST JACKPOT
BAB28 BAGIAN1: FOR SENTIMENTAL REASON
BAB28 BAGIAN2: FOR SENTIMENTAL REASON
BAB28 BAGIAN3: FOR SENTIMENTAL REASON
video zamirah monster kecil
wait yo!
IN PROGRESS


Kontak:
WA: 08128886670
Pin bbm: 5AB07E99
line:
@masternagato
Twitter: @masternagato
Diubah oleh masternagato 24-03-2017 22:20
anasabila memberi reputasi
1
256.8K
1.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
masternagato
#720
BAB18-2
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
BAB18-2:
POCONG VS KUNTILANAK
BACKSOUND:
Dipenuhi bunga berbagai macam jenis, setiap dinding dilengkapi hiasan janur warna putih.
Walau cuma kamar hias, suasana romantis berpendar keseluruh ruangan.
Meja rias dengan cermin raksasa, sofa melingkar tersedia untuk keluarga kedua mempelai
Nia sendiri dalam ruangan, menari mengelilingi bangku rias.
Sayup-sayup terdengar alunan music dari ruangan utama.
Nia tampak tersenyum bahagia, air mata merusak riasanya.
"Nia! Nia! Buka! Buka pintunya!" teriakan beberapa orang diluar menggedor pintu.
Nia tak peduli masih tersenyum dan terus tersenyum.
Ia melihat ucapan karangan bunga bertuliskan:
’SELAMAT MENEMPUH HIDUP BAHAGIA’
’ADAM KURNIA DAN NIA JULYTA’
memandangi cermin, Nia bahagia memakai gaun rancangan sahabatnya, Nia menelusuri gaun ditubuhnya merasa kagum dengan keahlian Ria.
Suara orang mendobrak pintu dengan tendangan terdengar sampai tiga kali.
"percuma man, slot kunci utama besi ke besi, yang ada kaki lo patah!"
nia memandang pintu sekilas, senyuman tak menghilang dari wajahnya.
Ia naik ke bangku riasan, memasukan kepala kedalam tali dari hordeng.
Simpul mengikat lehernya, ia tetap tersenyum.
Menendang bangku, nia bergelantungan tali menjerat lehrnya.
Mau berubah pikiran? Sudah terlambat, kakinya menendang-nendang angin.
Nafas mulai meninggalkanya perlahan tapi pasti.
"ngapain lo bawa mainan kaya gitu ke acara nikahan? Tapi gua maafin buat kali ini aja Lex! Dengan itu kita bisa masuk kedalam!"
nia sudah tak bergerak matanya terpejam, bibir menyunggingkan senyuman terluka.
Dua kali suara letusan terdengar samar.
Pintu ditendang keras, terbuka, lima orang masuk, ada suara jeritan ngeri tertahan.
Amelia pingsan dirangkul oleh Fio, Ria menutup mulut dengan kedua tangan, Alex melotot tak percaya.
Empat orang terpaku menjadi patung.
cuma Rudi dari awal masuk langsung berlari mengambil bangku, melepaskan tali yang menjerat leher Nia.
*******
menatap kagum sosok kuntilanak dihadapanku, kaki indahnya bergoyang-goyang tak menempel dilantai.
Aku mengaguminya dari sofa, merasakan rasa sakit dipangkal pahaku, memasukan kokain kedalam darah.
Ia menatap penuh perhatian, mata yang keluar tak mengurangi keindahan mata satunya.
Senyuman geli, darah disekitar bibir membuatnya tampak panas.
Melempar insullin ke tempat sampah, berjalan mendekatinya.
Dengan satu jari, aku menelusuri perutnya terlihat jelas penuh darah karena bagian perut bajunya bolong.
"apa lo nyata?" tanyaku, menelusuri jari dibibirnya.
Ia menjilat jariku, menaruh tanganku tepat dijantungnya.
Merasakan debaran jantungnya yang berdegup kencang, ia tersenyum aku mendesah.
"ada yang salah?" tanyanya lembut.
"lo keliatan begitu nakal, begitu seksi, gue bawa pulang setan kekamar gue!
Tanpa ada harapan buat mengendalikanya" sahutku focus.
"gua bisa jadi setan penurut" jawabnya, mengedipkan mata.
"apa itu berarti menjelaskan kalo lo suka gue?" tukasku, rasa sakit dipangkal paha mendapat harapan sembuh.
"gua udah berubah pikiran, gua gak suka lo sekarang.
Lo gak bisa ngediemin kaki goyang lo lebih dari lima detik.
Lo gak bisa menahan posisi badan lo kalo duduk lebih dari sepuluh detik.
Lo memiliki konsentrasi seekor kecoak, pikiran seekor tikus got.
Otak comberan, dan pemakaian kokain lo mengerikan"
"biar gue tebak? Lo suka yang dibalik celana gue kan?"
"apa tadi gua udah bilang kalo lo tuh bajingan sombong?
Badboy brengsek cabul?
Player serakah?"
darahku memanas dengan permainan kata, meraih lebih dekat, melebarkan pahanya.
Tanganku pindah ke pinggulnya, menariknya mendekat.
Ia tergeser dari tempat duduknya di meja belajarku.
Kakinya menjepit menyilang dibelakang,merasakan bibir lembut hangat dileherku, menyelipkan tangan keatas sisi tubuhnya, melingkarkan dileher.
Mengangkat dagunya, mencium panas yang sudah kutahan lama.
Lidah kami saling menyerang, berputar bersama-sama, bergelombang, menjelajah.
Otak terbakar hangus, terhuyung-huyung, aromanya.
Rasa strawberry dari mulutnya, sentuhanya memberi efek listrik.
Aku hanya bisa menggeram jauh didalam tenggorokan layaknya hewan buas.
Sangat menakutkan tak bisa menahan, tak satupun dari kami bernafas.
Ia duduk dimeja, sedangkan aku berdiri di ambang kehancuran, ledakan gempa, letusan merapi.
Terlalu putus asa untuk lembut, terlalu lapar untuk menjaga kesopanan dalam bersantap.
Tanganku melepaskan mata mainan konyol itu.
Bibir kami terpisah, saling menatap mengukur kekuatan masing-masing.
Kami beristirahat saling menempel kepala, telinga bertemu telinga.
Terengah-engah, mengambil nafas sebanyak mungkin.
"shit! Gila! Lo baik-baik aja kan nek?" bisiku.
"gak!" sahut Fio tersengal-sengal.
"gue juga"
aku dalam bahaya, processor menggelitik mau meledak.
Betapa beruntungnya menjadi cewek? Jika meledak dengan cepat tepuk tangan satu stadion full.
Kalo cowok terlalu cepat meledak? Sorakan mengejek satu kota.
Aku menempelkan keningku ke keningnya.
Fio berdiri, beberapa saat tak melakukan apapun, saling memeluk, kami masih berusaha menyeret nafas kembali.
"lo mikirin apa nek?"
"gua mikir rasanya baru ngerasain ciuman yang benar"
hatiku menggelembung dengan kebahagiaan, jariku bermain di kostumnya.
"mau gak lo bukain kostum cinderella gua"
menelan ludah melirik kedalam matanya.
Aku memutar tubuh Fio, menurunkan risleting.
Kostum putih yang halus terbuka memperlihatkan punggung mulusnya.
Menelusuri jariku dipunggungnya, ia bergetar seperti aku menyalakan saklar aktifasi.
Panas menelusuri darahku menuju processor, apa yang sudah mengkristal tak mungkin lebih mengkristal lagi.
Aku menarik kostumnya turun, jatuh melewati pinggul dan teronggok dilantai.
Aku mengerang, satu-satunya yang Fio pakai sekarang hanyalah celana dalam transparan.
Pita kecil dibagian tengah, renda-renda yang menyilang dibemper, tali pita panjang jatuh dibawah lipatan bempernya.
Begitu sempurna, nafasku macet ditenggorokan.
Aku menyelipkan jari disela bempernya, membelai kulit lembut.
Meluncurkan tangan memutar tubuh Fio, menarik punggungnya.
Mencium leher, menelusuri tanganku mencetak stiap bagian maha karya yang kusentuh.
Berhenti di air-bag nafasnya mengeluarkan suara.
"gue suka kostum itu, tapi lebih suka saat lo begini" bisiku.
Aku mengangkat, Fio melingkarkan tangan dileherku, menahan bempernya dengan kedua tangan.
Ia cumiik geli, menjatuhkannya dikasur.
------
satu-persatu gerombolan mesum keluar dari jendela, aku masih duduk di alas tidur.
Tanpa kata dihadapan Ros.
Lagi-lagi aku berbuat bodoh! Kenapa tanganku tak mau menuruti perintah kalo sudah didekat cewek?
Kenapa otaku isinya comberan kalo berhadapan dengan cewek yang menarik?
Entah keberuntungan? Enthah kesialan? Belum pernah ketemu cewek yang menolak tangan keparatku.
Apakah akan tiba saatnya nanti? Mendapat tamparan keras, karena ketidak sopanan tanganku?
Penerangan hanya samar-samar dari luar, cahaya gelang juga membantu penglihatan kami.
"tadi itu tegang ya?" ucapku perlahan, agak gugup.
"iya.. Tegang banget Day" jawabnya menunduk.
Apa Ros berpikiran sama denganku? Atau cuma aku yang terlalu percaya diri?
Kejadian Putri, menjadikan pelajaran untuk jangan terlalu yakin sama otak comberanku.
"tegang soal pak Yon kan?" tanyaku, salah tingkah.
"i.. Iya Day soal pak Yon" sahutnya, menunduk.
Peduli setan dengan pengalamanku sama Putri? Aku masih meyakini otak comberanku.
"bukan Ros! Gue gak mikirin pak Yon, yang gue maksud tadi didalam selimut ama lo.
Itu pengalaman menegangkan buat gue, lo tau kan tadi gue tegang?
Maksud gue tegang, mak." jarinya menyentuh bibirku.
"sama kok Day, yang gua maksud juga bukan pak Yon, tapi soal diselimut tadi" ucapnya menunduk malu.
"gua malu Day, jadi gua yang agresif tadi, gua takut lo mikir gua murahan, gua gampangan, gu.."
aku melumat perkataanya dengan ciuman lembut.
Lama kami saling melumat perlahan tapi pasti darah kembali memanas.
Melepaskanya walau merasa tak ingin berhenti, tapi aku masih ada tugas menemani Fio.
"Ros, lo mau gak kita jalan lagi? Atau lo kapok jalan ama gue?
Atau gue tunggu kedatangan perampok yang mau ngambil gundam kid dirumah?
Kalo cuma perampok amatir mending jangan coba jajal keamanan rumah gue ngelebihin pentagon"
"gak Day, kenapa lo berpikiran gua kapok jalan ama lo?
Dengan senang hati perampok gundam kid menerima tantangan lo" sahutnya tersenyum manis."yaudah gue cabut ya, ada janji ama Fio, lo tau sendiri tuh nenek-nenek gak suka nunggu" ucapku menghela nafas.
"mau ngapain Day?"
aku menjelaskan perangkap Fio untuk Aji.
Ros semangat mendengarkan, sambil terkikik karena ide gila Fio.
"jadi tugas lo Day? Nangkring diatas pohon? Buat narik orang-orangan keatas" ucapnya kegelian.
"sialan lo Ros, gue bakal digigit nyamuk nangkring dipohon lo malah ketawa?" sahutku mendelik geli.
"sory Day, gua ngebayangin lo nangkring dipohon.
Terus orang-orangannya ada dimana?"
"tau deh, udah dipohon sana kali, gue cabut ya"
mencium pipinya, berjalan perlahan kearah pintu.
Berhati-hati takut menginjak sesuatu, ngapain keluar loncat jendela?
Pak Yon pasti udah istirahat, membuka kunci mendorong pintu, menutupnya perlahan.
"disini ternyata badboy cabul kita!" tegur dingin mematikan.
Aku menelan ludah mengenal suaranya yang dingin dan berkarat, khas suara sedang marah seingatku kalo seperti itu.
Memasang senyuman terbaik, membalik badan melihat Fio melipat kedua tangan didadanya.
Satu kakinya mengetuk-ngetuk lantai, lumayan juga sendalnya kalo dilempar kekepala.
Setiap ketukan menyiksa, entah hukuman apa yang mau diberikan nenek sihir ini?
"gua tunda urusan pencabulan lo sama Ros? Sampe tugas kita selsai, ayo cepet ikut gua" ucapnya ketus, menarik telingaku.
"aduuh, ampun nek" kok bisa tahu kalo aku sama Ros?
-------
hasil make over Fio pada wajahnya membuatku kagum, efek darah begitu nyata, tapi mata mainan itu menggangguku.
"jelek nek matanya keliatan banget boongan" ucapku mengernyit.
"ya lo kan dari deket liatnya Day! Coba lo mundur sepuluh meter" sahutnya ketus.
Menuruti perintah Fio, aku menjauh, benar juga? Terlihat seperti mata asli.
"gimana? Bener kan perhitungan gua? Dah cepet ambilin kostum di tas" perintah Fio, memutar bola mata.
Membuka tas, mengambil kostum, memperhatikan bolongan pada bagian perut dikostum.
Ada plastik merah dibagian dalam? Mungkin untuk efek darah nanti?
"ini air apaan nek?" tanyaku, penasaran.
"sirup rasa strawberry"
"gak keliatan kaya darah nek?"
"udah deh Day? Protes mlulu lo!" sahutnya kesal, menolak pinggang.
Aku cuma bisa menyengir bodoh, memberikan kostum.
Tak butuh waktu lama ia sudah berubah menjadi kuntilanak terseksi, menelan ludah tenggelam dalam otak comberan.
"cuma orang dongo yang lari ngeliat setan seseksi lo nek" ucapku menahan nafas.
"seksi? Masa sih?" jawab Fio malu, memperhatikan kostumnya sendiri.
"beruntung amat si Aji bakal ngeliat perut lo" sahutku tak senang.
"liat setan kok beruntung Day? Udah sono cepet manjat pohon" Fio terkikik geli.
Bersiap memanjat melirik orang-orangan bodoh lengkap dengan rambut palsu dan kostum yang sama.
"nek? Siapa yang bisa ketipu liat mainan konyol ini?" keluhku, menggeleng.
"ampun dah Day! Dari tadi protes mlulu lo.
Jarak dari sini ama tempat Aji ada kali dua ratus meter, tambah posisi kita ditempat gelap, udah lo kebanyakan ngemeng Day.
Semua udah gua perhitungkan" gerutu Fio cemberut, melipat kedua tangan.
"oke.. Oke.. Gue manjat aje deh, sebelum manjat ada ciuman pembuat kebal nyamuk gak?" sahutku, menggaruk kepala.
"kalo tugas kita berhasil, bisa gua pertimbangkan permintaan lo" jawab Fio mengedip, muka ngeselin.
"lo tau Scarymovie? Yang pas bercinta ama setan" tanyaku, memegang pohon.
"Scarymovie? Taulah! Maksud lo muka gua ditutup semacam kardus? Baru lo bercinta ama gua!
Lo mau kardusnya dipasang muka siapa? Miyabi? Paris? Maksud lo muka gua jelek gitu!" sahutnya garang, tatapan kucing betina liar.
"bukaan! Bukan soal ditutup muka, tapi bagian bercinta ama setanya maksud gue neneku sayang" tukasku cepat, rada ngeri.
"oh, oke, berharap aja tugas kita lancar, nanti gua pikirin saran lo" tanggap Fio dingin.
Daripada banyak bicara bikin nenek galak ini kesal? Mending aku berkelahi sama nyamuk diatas pohon.
-------
merasakan geli, sesuatu yang lembut menyentuh pipiku.
Masih ngantuk, mengerjapkan mata, mencium aroma kopi menusuk hidung.
Fio duduk disamping menciumi pipiku, ia mengenakan sweater putih billabong punyaku.
Melihat dimeja, samping TV dua cangkir mengepulkan asap dan dua piring makanan? Makanan apa, aku tak tahu?
"gue gak suka kopi k" ucapku serak suara bangun tidur, menutup hidungku.
"kopi buat gua Day, susu buat lo, gua bikinin makanan, dimakan ya" sahutnya senyum, sekali lagi mencium pipiku.
Mengambil bantal, mengganjal punggungku dengan tiga bantal.
"apaan nih nek? Telor dadar planet mars?" tanyaku ragu, memegang piring pemberianya.
"itu martabak mie Day, cobain dulu baru komentar" Fio memutar bola mata, memencet hidungku.
Martabak mie? Makanan apa itu? Baru tahu, menurutku ini terlihat seperti telor dadar untuk alien.
Kalo gak dimakan, bisa-bisa aku yang dimakan Fio.
Perlahan, menggigit potongan kecil telor mengerikan ini.
Tak yakin apa rasanya, menggigit lebih besar, tak percaya apa yang dirasakan lidahku?
Hampir setengah piring sudah masuk kedalam perut, dan aku masih tak percaya.
"gokil nek? Enak banget, asli enaak" tanggapku seperti anak kecil terus menghabiskan sisanya.
Fio tersenyum bangga tanpa kata, ia berdiri dari posisi duduknya dikasur.
Aku ternganga bodoh dengan potongan martabak mie masih dimulut.
Melihatnya berdiri berjalan ke sofa.
Sweater kebesaran, bagian tangan menggantung melebihi panjang tanganya.
Itu keren, tapi yang membuatku sesak, Fio hanya mengenakan celana dalam? Dan itu seksi gila.
Fio duduk disofa, memakan makananya, melipat kaki, segitiga gila mengintip padaku dari sela lipatan pahanya.
Fio tersenyum geli melihat ekspresiku.
Mungkin aku butuh terapi untuk menghilangkan kebiasaan monolog menganga setiap melihat sesuatu yang indah.
"please deh nek, lo bisa make sweater gue, berarti lo tau letak celana pendek gue?
Pake celana dulu gih" ucapku tak focus, frustasi melihatnya.
"kalo gua suka begini, lo mau apa?" jawabnya menggoda, melebarkan kakinya.
Nafasku menghilang, segitiga gila melotot padaku.
*******
wanita berambut pendek, kulit putih mulusnya hanya tertutup selimut.
Ia mengerjapkan mata, hanya sesaat bingung berada dimana?
Pria berumur penuh lemak, sedang mengenakan pakaianya.
"mau kemana om? Kok udah mau pergi aja" ucapnya menggoda, mendekat menempelkan air-bag kelengan pria itu.
Tatapanya nakal, bibir penuh godaan.
"kapan-kapan kita ketemu lagi ya sayang, siapa nama kamu cantik?" sahut pria itu meremas.
"namaku Dini om, di save ya nomerku" jawabnya memikat bisikan mematikan.
"pasti sayang, pasti om bakal nyari kamu lagi" jawab pria itu pergi, meninggalkan sepuluh lembar rp50.000
Dini masih tersenyum nakal, pria itu pergi, suara pintu terbuka lalu menutup.
Air mata mengalir deras, Dini terisak-isak menyayatkan hati.
Ia meremas lembaran uang, menenggelamkan wajah kedalam bantal.
Tangisan berkaratnya teredam bantal.
Tanganya memukul-mukul bantal melampiaskan rasa sesak yang menyelimutinya.
Aku harus kuat, aku harus tegar.
Untuk adik-adiku, untuk kk-kk ku.
Aku harus menghilangkan malu, aku harus membuang jauh-jauh harga diriku.
Untuk ibuku, berhati-hati memakai uang.
Mengumpulkan sebanyak yang kubisa.
Ibuku bisa menipu adik,kk, orang lain, menggila di meja judi.
Aku tahu pasti itu cuma untuk mengalihkan rasa sakit di tubuhnya.
Tak peduli jalanku menjijikan, tak peduli pandangan hina.
Tak perlu aku menjawab ini untuk keluarga?
Ini jalanku, ini hidupku, tak ada urusanya dengan kalian.
*******
bersambung..
BAB18-2:
POCONG VS KUNTILANAK
BACKSOUND:
[Youtube]9hYNjn1gohM&itct=CC8QpDAYBCITCK2ZiZqqlcECFUg1jgod0xkAIFIUQ3JhenkgdG93biBidXR0ZXJmbHk%3D&client=mv-google&hl=en&gl=ID[/youtube]
Dipenuhi bunga berbagai macam jenis, setiap dinding dilengkapi hiasan janur warna putih.
Walau cuma kamar hias, suasana romantis berpendar keseluruh ruangan.
Meja rias dengan cermin raksasa, sofa melingkar tersedia untuk keluarga kedua mempelai
Nia sendiri dalam ruangan, menari mengelilingi bangku rias.
Sayup-sayup terdengar alunan music dari ruangan utama.
Nia tampak tersenyum bahagia, air mata merusak riasanya.
"Nia! Nia! Buka! Buka pintunya!" teriakan beberapa orang diluar menggedor pintu.
Nia tak peduli masih tersenyum dan terus tersenyum.
Ia melihat ucapan karangan bunga bertuliskan:
’SELAMAT MENEMPUH HIDUP BAHAGIA’
’ADAM KURNIA DAN NIA JULYTA’
memandangi cermin, Nia bahagia memakai gaun rancangan sahabatnya, Nia menelusuri gaun ditubuhnya merasa kagum dengan keahlian Ria.
Suara orang mendobrak pintu dengan tendangan terdengar sampai tiga kali.
"percuma man, slot kunci utama besi ke besi, yang ada kaki lo patah!"
nia memandang pintu sekilas, senyuman tak menghilang dari wajahnya.
Ia naik ke bangku riasan, memasukan kepala kedalam tali dari hordeng.
Simpul mengikat lehernya, ia tetap tersenyum.
Menendang bangku, nia bergelantungan tali menjerat lehrnya.
Mau berubah pikiran? Sudah terlambat, kakinya menendang-nendang angin.
Nafas mulai meninggalkanya perlahan tapi pasti.
"ngapain lo bawa mainan kaya gitu ke acara nikahan? Tapi gua maafin buat kali ini aja Lex! Dengan itu kita bisa masuk kedalam!"
nia sudah tak bergerak matanya terpejam, bibir menyunggingkan senyuman terluka.
Dua kali suara letusan terdengar samar.
Pintu ditendang keras, terbuka, lima orang masuk, ada suara jeritan ngeri tertahan.
Amelia pingsan dirangkul oleh Fio, Ria menutup mulut dengan kedua tangan, Alex melotot tak percaya.
Empat orang terpaku menjadi patung.
cuma Rudi dari awal masuk langsung berlari mengambil bangku, melepaskan tali yang menjerat leher Nia.
*******
menatap kagum sosok kuntilanak dihadapanku, kaki indahnya bergoyang-goyang tak menempel dilantai.
Aku mengaguminya dari sofa, merasakan rasa sakit dipangkal pahaku, memasukan kokain kedalam darah.
Ia menatap penuh perhatian, mata yang keluar tak mengurangi keindahan mata satunya.
Senyuman geli, darah disekitar bibir membuatnya tampak panas.
Melempar insullin ke tempat sampah, berjalan mendekatinya.
Dengan satu jari, aku menelusuri perutnya terlihat jelas penuh darah karena bagian perut bajunya bolong.
"apa lo nyata?" tanyaku, menelusuri jari dibibirnya.
Ia menjilat jariku, menaruh tanganku tepat dijantungnya.
Merasakan debaran jantungnya yang berdegup kencang, ia tersenyum aku mendesah.
"ada yang salah?" tanyanya lembut.
"lo keliatan begitu nakal, begitu seksi, gue bawa pulang setan kekamar gue!
Tanpa ada harapan buat mengendalikanya" sahutku focus.
"gua bisa jadi setan penurut" jawabnya, mengedipkan mata.
"apa itu berarti menjelaskan kalo lo suka gue?" tukasku, rasa sakit dipangkal paha mendapat harapan sembuh.
"gua udah berubah pikiran, gua gak suka lo sekarang.
Lo gak bisa ngediemin kaki goyang lo lebih dari lima detik.
Lo gak bisa menahan posisi badan lo kalo duduk lebih dari sepuluh detik.
Lo memiliki konsentrasi seekor kecoak, pikiran seekor tikus got.
Otak comberan, dan pemakaian kokain lo mengerikan"
"biar gue tebak? Lo suka yang dibalik celana gue kan?"
"apa tadi gua udah bilang kalo lo tuh bajingan sombong?
Badboy brengsek cabul?
Player serakah?"
darahku memanas dengan permainan kata, meraih lebih dekat, melebarkan pahanya.
Tanganku pindah ke pinggulnya, menariknya mendekat.
Ia tergeser dari tempat duduknya di meja belajarku.
Kakinya menjepit menyilang dibelakang,merasakan bibir lembut hangat dileherku, menyelipkan tangan keatas sisi tubuhnya, melingkarkan dileher.
Mengangkat dagunya, mencium panas yang sudah kutahan lama.
Lidah kami saling menyerang, berputar bersama-sama, bergelombang, menjelajah.
Otak terbakar hangus, terhuyung-huyung, aromanya.
Rasa strawberry dari mulutnya, sentuhanya memberi efek listrik.
Aku hanya bisa menggeram jauh didalam tenggorokan layaknya hewan buas.
Sangat menakutkan tak bisa menahan, tak satupun dari kami bernafas.
Ia duduk dimeja, sedangkan aku berdiri di ambang kehancuran, ledakan gempa, letusan merapi.
Terlalu putus asa untuk lembut, terlalu lapar untuk menjaga kesopanan dalam bersantap.
Tanganku melepaskan mata mainan konyol itu.
Bibir kami terpisah, saling menatap mengukur kekuatan masing-masing.
Kami beristirahat saling menempel kepala, telinga bertemu telinga.
Terengah-engah, mengambil nafas sebanyak mungkin.
"shit! Gila! Lo baik-baik aja kan nek?" bisiku.
"gak!" sahut Fio tersengal-sengal.
"gue juga"
aku dalam bahaya, processor menggelitik mau meledak.
Betapa beruntungnya menjadi cewek? Jika meledak dengan cepat tepuk tangan satu stadion full.
Kalo cowok terlalu cepat meledak? Sorakan mengejek satu kota.
Aku menempelkan keningku ke keningnya.
Fio berdiri, beberapa saat tak melakukan apapun, saling memeluk, kami masih berusaha menyeret nafas kembali.
"lo mikirin apa nek?"
"gua mikir rasanya baru ngerasain ciuman yang benar"
hatiku menggelembung dengan kebahagiaan, jariku bermain di kostumnya.
"mau gak lo bukain kostum cinderella gua"
menelan ludah melirik kedalam matanya.
Aku memutar tubuh Fio, menurunkan risleting.
Kostum putih yang halus terbuka memperlihatkan punggung mulusnya.
Menelusuri jariku dipunggungnya, ia bergetar seperti aku menyalakan saklar aktifasi.
Panas menelusuri darahku menuju processor, apa yang sudah mengkristal tak mungkin lebih mengkristal lagi.
Aku menarik kostumnya turun, jatuh melewati pinggul dan teronggok dilantai.
Aku mengerang, satu-satunya yang Fio pakai sekarang hanyalah celana dalam transparan.
Pita kecil dibagian tengah, renda-renda yang menyilang dibemper, tali pita panjang jatuh dibawah lipatan bempernya.
Begitu sempurna, nafasku macet ditenggorokan.
Aku menyelipkan jari disela bempernya, membelai kulit lembut.
Meluncurkan tangan memutar tubuh Fio, menarik punggungnya.
Mencium leher, menelusuri tanganku mencetak stiap bagian maha karya yang kusentuh.
Berhenti di air-bag nafasnya mengeluarkan suara.
"gue suka kostum itu, tapi lebih suka saat lo begini" bisiku.
Aku mengangkat, Fio melingkarkan tangan dileherku, menahan bempernya dengan kedua tangan.
Ia cumiik geli, menjatuhkannya dikasur.
------
satu-persatu gerombolan mesum keluar dari jendela, aku masih duduk di alas tidur.
Tanpa kata dihadapan Ros.
Lagi-lagi aku berbuat bodoh! Kenapa tanganku tak mau menuruti perintah kalo sudah didekat cewek?
Kenapa otaku isinya comberan kalo berhadapan dengan cewek yang menarik?
Entah keberuntungan? Enthah kesialan? Belum pernah ketemu cewek yang menolak tangan keparatku.
Apakah akan tiba saatnya nanti? Mendapat tamparan keras, karena ketidak sopanan tanganku?
Penerangan hanya samar-samar dari luar, cahaya gelang juga membantu penglihatan kami.
"tadi itu tegang ya?" ucapku perlahan, agak gugup.
"iya.. Tegang banget Day" jawabnya menunduk.
Apa Ros berpikiran sama denganku? Atau cuma aku yang terlalu percaya diri?
Kejadian Putri, menjadikan pelajaran untuk jangan terlalu yakin sama otak comberanku.
"tegang soal pak Yon kan?" tanyaku, salah tingkah.
"i.. Iya Day soal pak Yon" sahutnya, menunduk.
Peduli setan dengan pengalamanku sama Putri? Aku masih meyakini otak comberanku.
"bukan Ros! Gue gak mikirin pak Yon, yang gue maksud tadi didalam selimut ama lo.
Itu pengalaman menegangkan buat gue, lo tau kan tadi gue tegang?
Maksud gue tegang, mak." jarinya menyentuh bibirku.
"sama kok Day, yang gua maksud juga bukan pak Yon, tapi soal diselimut tadi" ucapnya menunduk malu.
"gua malu Day, jadi gua yang agresif tadi, gua takut lo mikir gua murahan, gua gampangan, gu.."
aku melumat perkataanya dengan ciuman lembut.
Lama kami saling melumat perlahan tapi pasti darah kembali memanas.
Melepaskanya walau merasa tak ingin berhenti, tapi aku masih ada tugas menemani Fio.
"Ros, lo mau gak kita jalan lagi? Atau lo kapok jalan ama gue?
Atau gue tunggu kedatangan perampok yang mau ngambil gundam kid dirumah?
Kalo cuma perampok amatir mending jangan coba jajal keamanan rumah gue ngelebihin pentagon"
"gak Day, kenapa lo berpikiran gua kapok jalan ama lo?
Dengan senang hati perampok gundam kid menerima tantangan lo" sahutnya tersenyum manis."yaudah gue cabut ya, ada janji ama Fio, lo tau sendiri tuh nenek-nenek gak suka nunggu" ucapku menghela nafas.
"mau ngapain Day?"
aku menjelaskan perangkap Fio untuk Aji.
Ros semangat mendengarkan, sambil terkikik karena ide gila Fio.
"jadi tugas lo Day? Nangkring diatas pohon? Buat narik orang-orangan keatas" ucapnya kegelian.
"sialan lo Ros, gue bakal digigit nyamuk nangkring dipohon lo malah ketawa?" sahutku mendelik geli.
"sory Day, gua ngebayangin lo nangkring dipohon.
Terus orang-orangannya ada dimana?"
"tau deh, udah dipohon sana kali, gue cabut ya"
mencium pipinya, berjalan perlahan kearah pintu.
Berhati-hati takut menginjak sesuatu, ngapain keluar loncat jendela?
Pak Yon pasti udah istirahat, membuka kunci mendorong pintu, menutupnya perlahan.
"disini ternyata badboy cabul kita!" tegur dingin mematikan.
Aku menelan ludah mengenal suaranya yang dingin dan berkarat, khas suara sedang marah seingatku kalo seperti itu.
Memasang senyuman terbaik, membalik badan melihat Fio melipat kedua tangan didadanya.
Satu kakinya mengetuk-ngetuk lantai, lumayan juga sendalnya kalo dilempar kekepala.
Setiap ketukan menyiksa, entah hukuman apa yang mau diberikan nenek sihir ini?
"gua tunda urusan pencabulan lo sama Ros? Sampe tugas kita selsai, ayo cepet ikut gua" ucapnya ketus, menarik telingaku.
"aduuh, ampun nek" kok bisa tahu kalo aku sama Ros?
-------
hasil make over Fio pada wajahnya membuatku kagum, efek darah begitu nyata, tapi mata mainan itu menggangguku.
"jelek nek matanya keliatan banget boongan" ucapku mengernyit.
"ya lo kan dari deket liatnya Day! Coba lo mundur sepuluh meter" sahutnya ketus.
Menuruti perintah Fio, aku menjauh, benar juga? Terlihat seperti mata asli.
"gimana? Bener kan perhitungan gua? Dah cepet ambilin kostum di tas" perintah Fio, memutar bola mata.
Membuka tas, mengambil kostum, memperhatikan bolongan pada bagian perut dikostum.
Ada plastik merah dibagian dalam? Mungkin untuk efek darah nanti?
"ini air apaan nek?" tanyaku, penasaran.
"sirup rasa strawberry"
"gak keliatan kaya darah nek?"
"udah deh Day? Protes mlulu lo!" sahutnya kesal, menolak pinggang.
Aku cuma bisa menyengir bodoh, memberikan kostum.
Tak butuh waktu lama ia sudah berubah menjadi kuntilanak terseksi, menelan ludah tenggelam dalam otak comberan.
"cuma orang dongo yang lari ngeliat setan seseksi lo nek" ucapku menahan nafas.
"seksi? Masa sih?" jawab Fio malu, memperhatikan kostumnya sendiri.
"beruntung amat si Aji bakal ngeliat perut lo" sahutku tak senang.
"liat setan kok beruntung Day? Udah sono cepet manjat pohon" Fio terkikik geli.
Bersiap memanjat melirik orang-orangan bodoh lengkap dengan rambut palsu dan kostum yang sama.
"nek? Siapa yang bisa ketipu liat mainan konyol ini?" keluhku, menggeleng.
"ampun dah Day! Dari tadi protes mlulu lo.
Jarak dari sini ama tempat Aji ada kali dua ratus meter, tambah posisi kita ditempat gelap, udah lo kebanyakan ngemeng Day.
Semua udah gua perhitungkan" gerutu Fio cemberut, melipat kedua tangan.
"oke.. Oke.. Gue manjat aje deh, sebelum manjat ada ciuman pembuat kebal nyamuk gak?" sahutku, menggaruk kepala.
"kalo tugas kita berhasil, bisa gua pertimbangkan permintaan lo" jawab Fio mengedip, muka ngeselin.
"lo tau Scarymovie? Yang pas bercinta ama setan" tanyaku, memegang pohon.
"Scarymovie? Taulah! Maksud lo muka gua ditutup semacam kardus? Baru lo bercinta ama gua!
Lo mau kardusnya dipasang muka siapa? Miyabi? Paris? Maksud lo muka gua jelek gitu!" sahutnya garang, tatapan kucing betina liar.
"bukaan! Bukan soal ditutup muka, tapi bagian bercinta ama setanya maksud gue neneku sayang" tukasku cepat, rada ngeri.
"oh, oke, berharap aja tugas kita lancar, nanti gua pikirin saran lo" tanggap Fio dingin.
Daripada banyak bicara bikin nenek galak ini kesal? Mending aku berkelahi sama nyamuk diatas pohon.
-------
merasakan geli, sesuatu yang lembut menyentuh pipiku.
Masih ngantuk, mengerjapkan mata, mencium aroma kopi menusuk hidung.
Fio duduk disamping menciumi pipiku, ia mengenakan sweater putih billabong punyaku.
Melihat dimeja, samping TV dua cangkir mengepulkan asap dan dua piring makanan? Makanan apa, aku tak tahu?
"gue gak suka kopi k" ucapku serak suara bangun tidur, menutup hidungku.
"kopi buat gua Day, susu buat lo, gua bikinin makanan, dimakan ya" sahutnya senyum, sekali lagi mencium pipiku.
Mengambil bantal, mengganjal punggungku dengan tiga bantal.
"apaan nih nek? Telor dadar planet mars?" tanyaku ragu, memegang piring pemberianya.
"itu martabak mie Day, cobain dulu baru komentar" Fio memutar bola mata, memencet hidungku.
Martabak mie? Makanan apa itu? Baru tahu, menurutku ini terlihat seperti telor dadar untuk alien.
Kalo gak dimakan, bisa-bisa aku yang dimakan Fio.
Perlahan, menggigit potongan kecil telor mengerikan ini.
Tak yakin apa rasanya, menggigit lebih besar, tak percaya apa yang dirasakan lidahku?
Hampir setengah piring sudah masuk kedalam perut, dan aku masih tak percaya.
"gokil nek? Enak banget, asli enaak" tanggapku seperti anak kecil terus menghabiskan sisanya.
Fio tersenyum bangga tanpa kata, ia berdiri dari posisi duduknya dikasur.
Aku ternganga bodoh dengan potongan martabak mie masih dimulut.
Melihatnya berdiri berjalan ke sofa.
Sweater kebesaran, bagian tangan menggantung melebihi panjang tanganya.
Itu keren, tapi yang membuatku sesak, Fio hanya mengenakan celana dalam? Dan itu seksi gila.
Fio duduk disofa, memakan makananya, melipat kaki, segitiga gila mengintip padaku dari sela lipatan pahanya.
Fio tersenyum geli melihat ekspresiku.
Mungkin aku butuh terapi untuk menghilangkan kebiasaan monolog menganga setiap melihat sesuatu yang indah.
"please deh nek, lo bisa make sweater gue, berarti lo tau letak celana pendek gue?
Pake celana dulu gih" ucapku tak focus, frustasi melihatnya.
"kalo gua suka begini, lo mau apa?" jawabnya menggoda, melebarkan kakinya.
Nafasku menghilang, segitiga gila melotot padaku.
*******
wanita berambut pendek, kulit putih mulusnya hanya tertutup selimut.
Ia mengerjapkan mata, hanya sesaat bingung berada dimana?
Pria berumur penuh lemak, sedang mengenakan pakaianya.
"mau kemana om? Kok udah mau pergi aja" ucapnya menggoda, mendekat menempelkan air-bag kelengan pria itu.
Tatapanya nakal, bibir penuh godaan.
"kapan-kapan kita ketemu lagi ya sayang, siapa nama kamu cantik?" sahut pria itu meremas.
"namaku Dini om, di save ya nomerku" jawabnya memikat bisikan mematikan.
"pasti sayang, pasti om bakal nyari kamu lagi" jawab pria itu pergi, meninggalkan sepuluh lembar rp50.000
Dini masih tersenyum nakal, pria itu pergi, suara pintu terbuka lalu menutup.
Air mata mengalir deras, Dini terisak-isak menyayatkan hati.
Ia meremas lembaran uang, menenggelamkan wajah kedalam bantal.
Tangisan berkaratnya teredam bantal.
Tanganya memukul-mukul bantal melampiaskan rasa sesak yang menyelimutinya.
Aku harus kuat, aku harus tegar.
Untuk adik-adiku, untuk kk-kk ku.
Aku harus menghilangkan malu, aku harus membuang jauh-jauh harga diriku.
Untuk ibuku, berhati-hati memakai uang.
Mengumpulkan sebanyak yang kubisa.
Ibuku bisa menipu adik,kk, orang lain, menggila di meja judi.
Aku tahu pasti itu cuma untuk mengalihkan rasa sakit di tubuhnya.
Tak peduli jalanku menjijikan, tak peduli pandangan hina.
Tak perlu aku menjawab ini untuk keluarga?
Ini jalanku, ini hidupku, tak ada urusanya dengan kalian.
*******
bersambung..
0