- Beranda
- Stories from the Heart
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS (POSITIF HIV AIDS)
...
TS
masternagato
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS (POSITIF HIV AIDS)
Bissmillah.
Assalamualaikum.
Nb: kontak bbm berubah: 5AB07E99
Wa:08128886670
Line:
@masternagato
mas ter nagato proudly Present
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’
DISCLAIMER
1. sangat dianjurkan mencopy dan memperbanyak. Share kepada dunia tulisan busuk ini! (kayanya lebay banget sih?)
Ijin atau tanpa seijin dari penulis (buat ane sah-sah aje)
pelanggaran hak cipta akan dikenakan sanksi sesuai dengan hati nurani lau sendiri.
.
2. Kisah dalam cerita ini adalah fiksi belaka kalau ada kesamaan nama, tempat atau kejadian itu cuma kebetulan semata.
Selamat membaca tulisan busuk ini!
*******
Petunjuk arah baca HD
Kalo membaca tanda:
*******
Berarti pergantian waktu, bisa tempat, tokoh.
Atau bisa tokoh sama waktu dan tempat berbeda?
Bisa aja cuma di alam mimpi!
Kalo membaca tanda:
-------
Ini menandakan hari yang sama.
Bisa berbbeda waktu, berbeda tokoh, berbeda tempat, tapi tetap dihari yang sama.
Bisa juga menunjukan kelanjutan alur cerita!
*******
soudtrack: Eminem Not Afraid
Langsung update add line:
@masternagato
Pin bb: 5AB07E99
WhatsappBrother-sister
Jangan lupa

Bikin

sekalian


Atas saran berbagai pihak.
:Yang mau memberikan donasi seikhlasnya.

Untuk terwujudnya buku ini
Rekening bank btpn
Kode bank 213
Norek:
90010415858
Rudi hermawan

sedikit sinobsis:
bersetting di tahun 2003.
Rudi kelas 2 SMA.
Masuk ke blackworl, drugs user tingkat dewa.
Menjadi drugs dealer.
Hidup penuh bling-bling,wanita.
Teman-teman yang mengelilingi karena uang.
Dengan time skip.
Rudi yang di tahun 2014.
Sudah berkeluarga,punya anak.
Hidup dengan kemiskinan,tanpa penglihatan,positif HIV?
*******
’HIV AIDS salah satu penyakit paling menakutkan.’
’penyakit kutukan’
’yang terkena tak tertolong!’
’sampah masyarakat’
’jauhi orang-orang sampah itu’
’tak ada obatnya!’
’pasti mati’
dan masih banyak lagi label stigma yang menempel!
Yang berpendapat sama dengan stigma di atas!
Monggo jangan di teruskan membaca.
Why..?
Guest what?
Yang nulis HIV+

jadi harus di jauhi.. Nanti ketularan.


warning 16+ only.

Minimal SMA kelas satu boleh lanjut baca, wajib malah!

"Ini nyata gan?"
"terserah.! Anggap aja fiksi"
HIV (Human Immunodeficiency Virus)
AIDS (Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome)
ane nulis ini biar bro-sis mikir sejuta kali!
Untuk tenggelam di blackworl,sex,drugs.
Dan buat yang sudah terkena!
Bangun! Bangkit! Kembalikan warna hidup lo sebelumnya.
Gak ada yang mau bertemen ama lo?
Minder?
Sekeliling lo penuh kepalsuan?
Takut? Trauma?
Sumpah demi Allah
Ane siap kapan aja jadi best friend forever!
Melewati semua cobaan yang ane anggap adalah pujian dari Allah
ane bukan siapa-siapa.
Cuma orang buta pengangguran kelas berat.
Bermodalkan laptop jadul dengan pembaca layar.
Dengan tetesan darah, dengan gerimis air mata.
Dengan sepenuh hati..
Berharap kejelekan ane jadi kebaikan lo.
Kesedihan ane menjadi kebahagiaan buat lo.
Salah langkahnya ane menjadi jalan buat lo.
Penyakit ane menjadi kesehatan buat lo.
"kenapa pemeran utamanya Rudi sama ama agan?"
"habis gak ada yang lebih bagus dari Rudi, yang lebih mahal banyak!"

harapan utama ane. Menurunkan tingkat HIV AIDS walaupun cuma beberapa %
setidaknya menghambat kecepatan tingkat HIV AIDS yang menggila setiap detiknya.
Harapan ke dua.
Tentu saja tulisan ini jadi sumber penghasilan ane!
Gak ada yang bisa ane lakuin selain nulis!
Setiap hari bini kerja nyari nafkah!
Bayangin perasaan ane yang cuma enak-enakan dirumah!
Asli mending tusuk ane gan.. Daripada ane ngerasain ini setiap hari.


stop!
Ane gak minta di kasihani.
Tapi ane berharap buat agan-sista bantuin nerbitin tulisan ane ini.
Kendala ane di modal gak ada!
Boro-boro buat publish keseharian ane juga susah.
Ngiklanin rumah buat modal di fjb.
Ampe capek nyundulnya belum ketemu jodohnya tuh rumah.
Entah kenapa ane yakin aja kalo ini jadi novel, pasti laris.

impianya sih kalo jadi novel.
Taruh di sekolahan, yayasan narkoba atau HIV AIDS.
Taruh dirumah sakit tempat HIV AIDS.
Kalo bisa di toko buku apalagi.
Yah cuma harapan.
Mudah-mudah dikabulkan allah, aamiin.
dan agan sista ada yang tertarik.
Apalagi dilirik penerbit.
"kenapa gak langsung ngirim ke penerbit gan?"
"karena tulisan ane,ane ngerasa berantakan perlu di poles.. Perlu ada yang ngeditorin.
Penerbit mana mau nerima tulisan mentah ane!"

"emang tulisanya udah tamat gan?"
"boro-boro,. Males-malesan nulisnya. Kalo ada yang nerbitin tuh! Baru semangat"
sebetulnya sih tokoh utamanya bukan cuma Rudi.
Banyak tokoh utama lainya.
Termasuk pembaca ane sebut tokoh utama juga disini.
cerita ini agan-sista
Bakal nemuin 3type orang HIV

Ini pakai pengamatan ane sendiri dan bahasa ane seadanya:
Jadi gak bakal ketemu kalo search di google.


1: saver: orang yang terkena HIV dan sadar akan HIVnya!
2. Invite: orang terkena HIV tapi dendam!
Dan membahayakan orang lain.
Menyebarkan HIV ke orang lain!
Biasanya faktornya adalah type invite ini terkena HIV tapi gak terima!
Masih bisa disadarkan type yang ini.
3. Zero: orang ini terkena HIV tapi ia gak tahu!
Ini yang paling berbahaya!
Ia gak tahu.
Yang terkena gak tahu!
Semua gak tahu.
Tahu-tahu pada kena HIV.
Sedikit saran dan percobaan buat agan-sista.
Supaya lebih bersyukur atas nikmat Allah
Kalo agan-sista di rumah sendiri.
Terserah mau malem boleh, siang juga boleh.
Coba lakuin kegiatan sambil di tutup pake apa aja matanya.
Sejam aja coba rasain.abis itu agan-sista renungin.
Seberapa nikmat Allah yang diberikan.
Banyak yang nyoba saran ane ini.
Nanti pandangan agan-sista berubah, setelah melakukan percobaan di atas.

Index setelah pariwara berikut ini:yang mau bergabung di FHD (fans hati malaikat darah iblis)
Invite pin: 5AB07E99
Mau memberikan donasi silakan
Rekening btpn.
Kode bank 213
Norek:
90010415858
Atas nama Rudi hermawan
Call/sms/whatsapp:
08128886670
Update add line:
@masternagato
selamat membaca

HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’
Mau membeli buku ini?
Mau memberikan donasi untuk membantu tulisan ini
:thubup
Menjadi novel


"apa yang didapetin kalo ngasih donasi gan?"
"gak ada! Ente dapet ucapan terimakasih sedalamnya dari lubuk hati ane!"

Mudah-mudahan dengan donasi gotong royong seikhlasnya.
Bisa menerbitkan tulisan busuk ane.
aamiin..
Bisa di bilang ini sumbangan lebih tepatnya kale

Rekening btpn.
Norek:
90010415858
Rudi hermawan.
DAFTAR ISI:
Update langsung ad line:
@masternagato
BAB1: KABUKI
BAB2 BAGIAN1: PENGANTIN KOPLAK
BAB2 BAGIAN2: PENGANTIN KOPLAK
BAB SIDE STORY: PENCARIAN SAHABAT 12 TAHUN
BAB3 BAGIAN1: TULISAN BERBICARA
BAB3 BAGIAN2: TULISAN BERBICARA
BAB4 BAGIAN1: OTAK MAFIA
BAB4 BAGIAN2: OTAK MAFIA
BAB5 BAGIAN1: PRODUK GAGAL
BAB5 BAGIAN2: PRODUK GAGAL
BAB6: SAVE HOUSE
BAB7: OTAK ATIK
BAB8: TEKAD BLENDER
BAB9 BAGIAN1: EMOTION
BAB9 BAGIAN2: EMOTION
BAB WARNING: WAJIB BACA
BAB WARNING: WAJIB BACA
BAB10: LATIHAN MEMBUNUH
BAB11 BAGIAN1: UNDER THE INFLUENCE
BAB11 BAGIAN2: UNDER THE INFLUENCE
BAB : warning2: galaw gak penting!
BAB12 BAGIAN1: CANDIED MANGO MISERABLE
BAB12 BAGIAN2: CANDIED MANGO MISERABLE
BAB13: NGENES AWARDS
BAB14: TULISANKU ATAU KELUARGAKU
BAB15 BAGIAN1: HEY MAN
BAB15 BAGIAN2: HEY MAN
update FHD16: koberlaw
BAB16 BAGIAN1: RIP
BAB16 BAGIAN2: RIP
BAB WARNING3: PETUNJUK ARAH
BAB17 BAGIAN1: LOVE NOTES FOR MY DRUGS
BAB17 BAGIAN2: LOVE NOTES FOR MY DRUGS
BAB18 BAGIAN1: POCONG VS KUNTILANAK
BAB18 BAGIAN2: POCONG VS KUNTILANAK
BAB19 BAGIAN1: FROZEN HEART
BAB19 BAGIAN2: FROZEN HEART
REHAT
BAB WARNING4: FHD LEGOWO
BAB20: MENGECOH HITUNGAN LANGIT
BAB21 BAGIAN1: BIG MOM
BAB21 BAGIAN2: BIG MOM
BAB22: SATU TITIK X SEPULUH=SEPULUH
BAB23 BAGIAN1: FOUR GODFATHER
BAB23 BAGIAN2: FOUR GODFATHER
BAB24 BAGIAN1: ROLLER HEARTS
BAB24 BAGIAN2: ROLLER HEARTS
BAB25: VIRGIN SEGAW
BAB26 BAGIAN1: MASIH HIJAU
BAB26 BAGIAN2: MASIH HIJAU
BAB27 BAGIAN1: FIRST JACKPOT
BAB27 BAGIAN2: FIRST JACKPOT
BAB28 BAGIAN1: FOR SENTIMENTAL REASON
BAB28 BAGIAN2: FOR SENTIMENTAL REASON
BAB28 BAGIAN3: FOR SENTIMENTAL REASON
video zamirah monster kecil
wait yo!
IN PROGRESS


Kontak:
WA: 08128886670
Pin bbm: 5AB07E99
line:
@masternagato
Twitter: @masternagato
Diubah oleh masternagato 24-03-2017 22:20
anasabila memberi reputasi
1
256.9K
1.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
masternagato
#719
BAB18-1
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
BAB18-1:
POCONG VS KUNTILANAK
BACKSOUND:
*******
Berpindah dari kantor ke kantor lainya, rutinitas biasa untuku.
Kantor Ac favoritku, turun di Genjo melihat kantorku berjalan pergi diiringi asap hitam mencemarkan udara sekitarnya.
Menghitung pendapatanku rp90.000 cukup untuk mencari cewek seksi yang tak punya otak.
Bernyanyi-nyanyi kecil memainkan alat kantor, gayaku melebihi artis tenar, mungkin aku harus memikirkan apa nama sebutan penggemarku.
Masuk gang melewati warung mang Nyiang.
"kite mau bayar lunas nih mang!" ucapku, bergaya juragan minyak.
"nah gitu dong Cing, bentar gue itung..
Enam puluh empat ribu Cing" sahutnya, memberikan catatan bon.
Juragan minyak berubah bangkrut dalam semenit.
"kite bayar setengah dulu ye mang.." negoku, nyengir kuda.
"kebanyakan gaya lo, utang dibanyakin? Duit yang dibanyakin kunyuk.
Boleh lo bayar setengah, jangan kasbon disini lagi!" cerocosnya, muka jeruk nipis.
Dengan berat hati, melunaskan semuanya, daripada gak bisa kasbon? Bisa berabe nanti.
Gila bener, lebih mahal rokok daripada si Rini?
Memasuki gang lebih dalam, nitip alat kantor ditempat bang aditya udah gak boleh?
Ke tempat Dini aja, kali aja bisa ngintip cewek mandi.
Melewati warung kacang ijo Beni dan lapangan bulu tangkis punya bang Encang.
Dilapangan dibangun pos RW megah, hasil sumbangan om Tamar.
Aku mendengus, tentu saja bisa menyumbang kalo menguasai tanah warisan dua hektar lebih dipinggir jalan pramuka street ini!
Terakhir kudengar ditawar 25m oleh bosnya acil Sri, mungkin kalo tak ada kejadian itu, kebusukan om Tamar takan tercium sampai masuk tanah.
Aku tak begitu paham, yang kutahu warisan yang seharusnya hak 12 ahli waris termasuk ibuku.
Berubah menjadi satu ahli waris sah! Yaitu si penghisap darah om Tamar.
Semuanya terbongkar saat bosnya acil Sri mau melihat sertifikat tanah berdarah ini.
Aku tak mengerti mengapa tak ada seorangpun yang menuntut si penghisap darah ke pengadilan?
"woi Garong! Sini lo, nasib lo mujur hari ini" panggil Jimbo dari pos RW.
Meloncati got, mendekati lapangan sambil memetik alat kantor.
"ada apa nih bang Jimbo? Ceria bener romanya" sapaku, feeling good.
"banyak ngemeng lo! Gue baru dari tempat acil Sri, gue dapet seperempi dari Ruday" jelasnya, memperlihatkan paketan shabu.
"anjrit bang! Nyesel gue gak ngikut!" sahutku, frustasi.
"nyesel dibelakang mah biasa Cing" balasnya, terkekeh.
"yaelah bang Jim, masa ada nyesel didepan?"
"adalah Cing! Punya sodara garong model lo gue nyesel didepan"
"kite kan dah tobat bang" sahutku, nyengir membakar rokok.
"udah banyak ngemeng lo! Lo siapin rokok ama alat-alat, sekalian extra jos deh! Ntar ngube bareng gue"
"siap bang!" sahutku secepat kilat.
-------
Rumah petakan kecil, terdiri dari dua ruangan sempit, yang disekat oleh triplek seadanya.
Ruang pertama, tempat tidur.
Kasur kapuk besar dan dua kasur lipat.
Dua lemari pakaian, TV 21 inc menghiasi ruangan itu.
Dinding campuran perpaduan antara triplek dan tembok usang tanpa warna.
Lantai dari karpet plastik, penuh robekan, dan bekas rokok.
Ruang kedua,melompong hanya ada lemari kecil, kompor minyak, dan peralatan masak, peralatan makan, semua ditaruh dalam ember.
Sekarang ruangan ini penuh asap rokok, lima orang bertarung mencari peruntungan dalam permainan kartu.
Tiga wanita, dua lelaki mengadu nasib dengan perjudian.
Taruhan paling kecil rp5000
masih ada kamar mandi dengan pintu yang sudah copot, walau ditutup tetap terlihat dalamnya.
Suara bantingan kartu, tangisan bayi, makian, tawa, sumpah serapah menjadi alunan melody melukiskan pemilik rumah pemain judi kelas dewa.
-------
turun dari mobil om Nawi, menggandeng Yayan.
"makasih om Nawi, acil Ine, dadah Sonya" ucapku tersenyum ramah.
"dah k Vivi besok aku main kerumah yaa" sahut Sonya lewat kaca.
Melihat keluarga lain juga baru turun dari mobil om Tamar.
Memasuki gang melewati warung mang Nyiang, rumah om Tamar tepat disebelah warung kacang Ijo.
Rumah acil tantri, acil Oni, om Hendrik.
masuk ke gang kecil yang ditengah-tengah, diapit oleh warung kacang ijo dan rumah om Tamar.
"bang Darwin baru nyampe langsung main di pos?" tanyaku, melihatnya masuk ke lapangan.
"bawel lo Vi, hus tuyul pulang sono" sahutnya, mendelik.
Aku menjulurkan lidah berlari menggandeng Yayan kedalam gang.
"yan, kalo ditanya mamah dikasih jajan gak ama acil Sri, Yayan jawab dikasih lima puluh ribu berdua kk ya!
Nantikan uang lo diambil mamah, kk ganti, ngerti gak!" perintahku, mendelik.
"iya k, tapi Yayan boleh beli petasan ya" sahutnya, mengangguk.
"gak boleh! Inget pesen bang Rudi tadi, lo nurut kk, kalo gak, gak bakal kk kasih jajan" ancamku, menjitak palanya.
"iya k" jawabnya meringis, memegang kepala sambil ngelap ingus.
Memasuki gang-gang sempit berliku, dari luar rumah terdengar suara bantingan kartu.
Melihat rumahku yang menyedihkan, menghela nafas, mengetuk pintu.
"siapaa?!" tanya Elen.
"ini aku mah"
"ah kau Vi, bikin mak kau kaget saja" omelnya membuka pintu.
Masuk kedalam rumah dengan cepat, seperti biasa langsung menutup pintu.
Kenapa masuk rumah sendiri harus seperti maling? Aku melihat lawan main ibuku, tak ada tante Gading.
Berarti gak akan sampai pagi.
"sini kau Yan! Dapat berapa kau dari acil Sri?" tanya Elen, memeluk Yayan.
"aku dikasih lima puluh ribu buat berdua ama kk Vivi" sahut Yayan manja, mengeluarkan uang.
"tumben ngasih gocap berdua si Sri? Dah sana, pada istirahat.
Cuma masak nasi, lauknya minta ama acil Tantri, acil Oni atau minta di lapo sana!" jawab Elen tak percaya, mengambil uang.
Menghela nafas, masuk keruang sebelah, bagaimana bisa ibuku baru tiga hari yang lalu melahirkan sudah kuat bermain kartu lagi?
Melihat k Evi, k Ova, adiku iza, dan si kecil Noa.
Entah k Dini kemana? Kalo pada tertidur semua kita mirip ikan asin panggang, aku bersyukur tiga kk ku yang lain tinggal di medan bersama ayah.
Apa jadinya kalo semua disini? Kenapa kami menjadi miskin seperti ini.
Aku masih ingat saat ayah jadi S E N S O R besar, semuanya serba enak, makan enak, rumah enak, kehidupan yang enak.
Berantakan karena ayah ditangkap? Uang habis untuk menebus ayah.
Ibuku yang hancur mengetahui ayah menikah lagi.
Semua jadi berantakan, kami susah ayah berangkat ke medan setengah tahun lalu membawa istri barunya.
Meninggalkan kami menderita disini? Ibu harus bergadang memutar otak mencari uang dengan kartu.
Kami makan meminta lauk orang lain, kadang dikasih dengan senyuman, kadang dengan tatapan hina.
Kami semua sekolah dari biaya acil Sri, aku benci sekali sama ayahku.
Apakah semua lelaki bajingan seperti itu? Gak! Aku berharap menemukan lelaki seperti bang Rudi.
Walaupun sedih melihat si kecil Noa diruangan penuh asap rokok.
Aku masih bisa tersenyum membayangkan bang Rudi.
*******
Selsai acara api unggun, perkenalan membosankan, pertunjukan tenaga dalam dari perguruan silat merak putih.
Beberapa anak kelas tiga memperagakan lambaian tangan yang membuat lawanya mental menjauh.
Ibu Handayani dari bagian tata usaha sebagai guru besar merak putih.
Memperagakan jentikan jari membuat sepuluh murid mental tak karuan.
Aku cuma menguap bosan oleh demonstrasi akal-akalan itu.
"gokil, jadi ngeri gua ama anak-anak mekar" ucap Jidad, terkagum-kagum.
"apalagi bu Handayani, kasian amat ya, kalo ada yang ngerampok doi" tanggap Acong geli.
"woi Sempak, ntar jadi kita nyelusup ke kamar tidur cewek? Gak kita aja sih, bakal banyak yang ngikut" tanya Acong, menyenggol bahuku.
"ruang tiga ada Ros pak" timpal Jidad.
"hmm, oh.." sahutku, tak peduli.
Asik smsan dengan Ros, menentukan cara kami bertemu.
"woi Sempak!" teriak Acong, dikupingku."hmm, oh.." tanggapku, masih smsan.
"percuma Cong, lo gak liat lagi semeses dia? Liat aja tuh senyum-senyum sendiri" ucap Jidad, terkikik menepuk bahu Acong.
"Sempak, Sempak, liat gua nanti bakal dapet anak kelas satu" gumam Acong, menghayal.
Jam 22:30 para murid memasuki kelas yang diubah menjadi tempat pengungsian banjir.
Berbagai macam alas tidur berserakan, cowok-cewek dipisahkan, tentu saja! Apa jadinya kalo digabung?
Aku, Acong, Jidad dan beberapa cowok mesum tak tahu diri memasuki tempat cewek.
Masuk perlahan lewat jendela, yang sengaja dibuka oleh Rita supaya kami bisa masuk.
Aku tersenyum geli melihat deretan otak mesum dibelakang yang tak sabar masuk kedalam.
Kalo mereka otak mesum? Mungkin aku otak comberan?
Suara cekikikan menyilimuti ruangan, masing-masing mencari pasanganya.
Aku mengusir Rita halus, risih ia menempel terus.
Mataku mencari, kumpulan cewek-cewek menggunakan pakaian tidur? Diterangi hanya dengan lampu cahaya dari luar.
Mungkin ini pinggiran surga? Menurutku biasa saja.
Menemukan yang kucari, sepasang mata memandangku geli.
Bermodalkan penerangan dari luar, aku mendekati melewati cewek-cewek yang tak mempengaruhiku sama sekali.
Aku mendengar jeritan kaget, segera meminta maaf karena menginjak kakinya.
Melanjutkan mendekati kedua pasang mata itu lebih perlahan, berhati-hati takut menginjak kaki orang lain lagi.
Sampai tujuan, memperjelas penglihatanku.
Melihat gelang glow in the dark sebagai kode kami.
Agak kekanak-kanakan tapi cukup jitu.
Aku menariknya ke pojok menjauhi kerumunan tawa cekikikan.
Tempat tidur cewek dua kelas dijadikan satu.
Entah berapa ruangan yang diperlukan untuk menampung murid yang tak bisa kuhitung sampai sekarang jumlah tepatnya berapa?
"hai Ros, bagus juga ide gelang lo ini?" ucapku, menyentuh gelangnya.
Kami mengobrol diatas alas tidur siapa? Aku tak tahu, mungkin bisa dibilang tak peduli.
"kalo gak pake ini, emang bisa lo nemuin gua Day? Tanpa cahaya gini?" sahutnya, tawa khas.
"bisalah! Kan gue punya mulut, emang kagak bisa nanya ape!"
aku mendengar suara gesekan plastik, tak tahu apa itu?
"mau coklat Day?" tawarnya, memberikan potongan coklat.
"tobleron? Tau aje gue suka coklat" sahutku, memakan coklat.
"Ros, ruangan Fio yang mana ya? Gue bingung kebanyakan nih! Ruangan lo aje gue gak bakal tau kalo gak lo sms"
"k Fio ruang lima, ini kan nomer tiga, lo ke sebelah kanan ruangan empat"
"oh, oke, kok lo masih nyimpen gelang mainan kaya gitu Ros?" tanyaku, mengangkat tanganya, cahaya gelang menyinari wajah Ros.
Sial! Itu sangat seksi, mungkin aku perlu mencari gelang seperti ini lagi.
"sama kaya pertanyaan, kenapa lo masih majang gundam kid dikamar lo" sahutnya, geli.
"eh, jangan samai gundam kid ama gelang glow in the dark dong? Banyak kolektor udah berumur ngoleksi rakitan robot kaya gue shorty!" balasku, geli.
"eh, jangan samain gelang glow in the dark ama gundam kid dong!
Banyak kolektor udah berumur, ngoleksi berbagai macam gelang ini man!" sahutnya, fotocopy.
"lo kan gak pernah kekamar gue? Tau darimana?" tanyaku geli.
"gua masuk sindikat perampok rumah pengkoleksi gundam kid.
Jadi rumah lo sasaran kita berikutnya" sahutnya berlagak serius.
Kami menahan tawa, tapi kaget mendengar lonceng besi pas didepan ruangan ini.
"tidur-tidur! Nanti jam setengah dua siap-siap untuk acara lagi" teriak pak Yon, membunyikan besi seperti lonceng kematian.
Otaku bekerja cepat melihat selimut disebelah kami, tapi merasa ragu melakukan ideku dengan Ros.
Menghela nafas, pasrah nasib kalo pak Yon masuk.
Terkejut oleh gerakan cepat Ros, mendekat, menutupi kami dengan selimut, berbaring tanpa melihat satu sama lain.
Baru sadar, kalo dalam sekejap menjadi senyap, apakah yang lain melakukan hal yang sama seperti kami?
Bersembunyi dibalik selimut, saling mendekap?
Betapa bahagianya mereka, sedangkan aku menahan diri disini.
Menjaga kesopanan tanganku didepan dada sendiri layaknya orang berdoa.
Menahan diri untuk tak menyentuh apapun yang ada dihadapan tanganku.
Syaraf otaku bergemuruh merasakan posisi celaka ini.
Pahanya yang tertutup bahan tipis, menempel pas di processor.
Sekarang aku mengetahui bagaimana rasanya punya tiga otak sekaligus.
Kepala, tangan, processor.
Masing-masing mempunyai otaknya tersendiri.
Mendengar suara kunci dibuka, sial! Sudah kuduga pak Yon punya kunci seluruh ruangan sekolah.
Punggung jariku merasakan sesuatu yang lembut, menelan ludah, apakah itu air-bag.
Tanganku kesemutan, mungkin keram, karena menahan sebisa mungkin tak melakukan hal bodoh.
Keparat! Jariku bergerak sendiri? Punggung jariku penasaran mencari puncak sesuatu yang lembut ini.
Rasanya aku menemukan volume mixer? Apa iya?
Aku tak bisa memastikan hanya menyentuh perlahan dengan punggung jari tangan kanan.
Dugaanku meningkat merasakan yang tersentuh mengkristal memberikan bentuk aslinya.
Dan aku yakin ia tak memakai bra.
Dari balik selimut kami merasakan sorotan senter.
Samar-samar kami bisa saling melihat, malu sekali aku, pasti Ros tahu perbuatan bodohku tadi.
Apalagi processorku takan bisa menipu.
Mengambil keputusan untuk meminta maaf, mulutku terbuka, ucapanku terhenti.
Karena Ros mendekap mulutku dengan tangan kananya.
Mataku melebar melihat kedalam matanya.
cahaya senter cukup untuk melihat kedalam mata Ros.
Ia tak berkedip, tangan kirinya menggenggam tangan kananku, menuntun tanganku masuk kedalam bajunya.
Menaruh tanganku di air-bag ia meremas tanganku.
Otomatis tangan keparatku berkerja tanpa diperintah.
Tatapanya tak terukur, kemauanya terbias bagaikan cermin dua arah.
Sorotan senter makin terang, suara langkah pak Yon khas dengan suara kunci yang selalu dibawanya.
Adrenalin yang kurasakan tak terkendali, perasaan takut akan pak Yon, perasaan panas yang membakar seluruh tubuhku.
Kemauan untuk menuntaskan ledakan secepatnya.
Semua menjadi satu-kesatuan membentuk evolusi zat baru dalam tubuhku.
Otak berputar melebihi kapasitas, tangan keparat terus bekerja, peluncuran roket NASA menghitung mundur.
Dari suara langkahnya kutahu pak Yon tinggal beberapa langkah lagi, habislah semuanya.
"permisi pak Yon" suara serak mengelilingi ruangan.
Sorotan senter menghilang, mungkin diarahkan ke pendatang itu?
"kenapa kamu Erik?" tanya Yon, mengernyit.
"perut saya sakit pak, kayanya saya keracunan makanan" sahut Erik, memegang perut.
"hah? Yang benar kamu Rik? Ayo ikut bapak ke UKS" sahut Yon, khawatir.
Langkah pak Yon menjauh, cahaya senter menhilang, suara pintu ditutup lalu suara kunci.
Mereka menjauh, menahan nafas, berdebar-debar tak terkendali.
Baru aku mendengar nafas Ros memburu.
Menelan ludah, baru kali ini merasakan gabungan perasaan yang bisa membuatku sinting dalam sekejap.
Memang aku tak bisa melihat Ros sekarang, apakah ia merasakan hal yang sama?
Atau malah kecewa? Bisa jadi ia marah.
Fuck! Peduli setan, aku memeluk Ros memberi ciuman panjang.
-------
Merasakan pernah dikerjain habis-habisan waktu kelas satu.
Mengingat kejadian itu rasa dendam Aji menebal, teringat ia pernah lari terkencing-kencing.
Karena kejadian itu, ia menjadi bahan tawaan sebulan penuh, bahkan sampai sekarang nama pesing melekat padanya.
Kini Aji melakukan hal yang sama, setahun lalu saat kelas dua ia sukses membuat banyak anak kelas satu ketakutan.
Sampai sebagian pindah sekolah karena kejadian itu.
Aji yang sudah kelas tiga takan menyia-nyiakan kesempatan terakhir menakut-nakuti kelas satu.
Dengan tim empat orang.
Aji berperan sebagai pocong, kostum lengkap dan make-up pada wajah, persis seperti baru keluar dari kubur, ia standby disela-sela tembok yang tak terlihat.
Rita berperan sebagai kuntilanak, standby di pohon besar berdaun lebat, yang tampak sangat angker.
Posisi Rita bisa terlihat dari persembunyian Aji.
Tugas Rita mencegat korban yang lari ketakutan karena ulah Aji.
Sehabis melihat pocong, melihat kuntilanak? Pengalaman yang menyenangkan.
Dua orang bertugas sebagai pemancing, menyuruh anak kelas satu dengan cara apapun.
Untuk melewati tempat Aji!
Rencana diatur dengan teliti, sekitar lokasi sudah ditaburi bunga melati.
Aji menyeringai bahagia, membuatnya tampak lebih seram.
Aji melihat pohon tempat Rita standby!
Rita berdiri dibawah pohon, rambut riap-riapan.
Noda darah dibagian perut kostum kuntilanaknya.
Jam 02:03 tepat sesuai perhitungan Aji, pasti sudah pada selsai acara renungan malam.
Tiga pemuda berjalan sambil mengobrol.
"gila kali tuh senior? Masa nyuruh nyari tukang nasgor jam segini?" ucap Hendro,menggerutu kesal.
"udahlah banyak omong juga percuma, eh gua denger daerah belakang sekolah ini serem katanya?" sahut Ronde, memegang tengkuk merinding.
"serem? Mau aja lo dibegoin!" tukas David garang, menghisap rokok.
"anjrit! Lo nyium bau kembang gak?" tanya Ronde, menghentikan langkah.
"mana sih? Eh? Iya! Bau melati" sahut Hendro, mengusap-ngusap tangan.
"ayo jalan! Banci lo pada!" ketus David.
Melewati belokan tempat Aji bersembunyi, David yang pertama melihat.
"po.. Po.. Pocooong!!" teriak David, mengambil langkah seribu.
Hendro, Ronde ikut menyusul berlari kalap, mereka berlari ke tempat Rita.
Terdengar teriakan mereka yang lebih mengerikan dari sebelumnya.
Aji tersenyum bangga, siap untuk korban berikutnya.
Aji mengernyit mendengar suara langkah berlarian disepanjang lorong, menuju kearahnya.
Aji terkejut, matanya melotot melihat orang dihadapanya, make-up setan Aji terlihat makin menakutkan.
"Ji, sory ya gua telat! Tiba-tiba sakit perut gua, ini aja masih mules.
Belum ada korban yang datang kan? Gua keposisi rencana kita, bentar gua ganti kostum dulu!" cerocos Rita. Tersengal-sengal kehabisan nafas.
Aji membeku wajahnya pucat serasa aliran darah macet diberbagai tempat.
"ka.. Kalo lo disini terus yang dipohon itu dari tadi siapa?" ucap Aji gemetar, membalikan Rita menghadap pohon.
Walaupun jaraknya cupkup jauh, tapi terlihat jelas sosok wanita dengan rambut riap-riapan baju berlumuran darah.
Aji, Rita saling merangkul ketakutan melihat wanita itu melayang ke atas pohon lalu menghilang.
Mereka saling menatap ngeri, tapi wanita itu muncul lagi dibawah pohon.
Ia makin lama makin mendekat ke arah Aji dan Rita.
Makin lama terlihat jelas sosoknya, wanita dengan baju putih.
Bolong dibagian perut darah mengalir dari perutnya.
Setiap langkah meninggalkan darah, rambut panjang menutupi sebelah mata, mata yang satunya terlihat keluar menggantung, dari sela bibir mengalir darah.
Air mengalir dari celana Aji.
"se.. Se.. Setaaan! Setaan! Tolong setaan!" teriak Aji berlarian kalap dengan kostum pocongnya, Rita menyusul tak kalah cepat.
Pocong lari terbirit-birit pemandangan yang cukup membuat orang tercengang.
*******
ke bagian2
BAB18-1:
POCONG VS KUNTILANAK
BACKSOUND:
[Youtube]9hYNjn1gohM&itct=CC8QpDAYBCITCK2ZiZqqlcECFUg1jgod0xkAIFIUQ3JhenkgdG93biBidXR0ZXJmbHk%3D&client=mv-google&hl=en&gl=ID[/youtube]
*******
Berpindah dari kantor ke kantor lainya, rutinitas biasa untuku.
Kantor Ac favoritku, turun di Genjo melihat kantorku berjalan pergi diiringi asap hitam mencemarkan udara sekitarnya.
Menghitung pendapatanku rp90.000 cukup untuk mencari cewek seksi yang tak punya otak.
Bernyanyi-nyanyi kecil memainkan alat kantor, gayaku melebihi artis tenar, mungkin aku harus memikirkan apa nama sebutan penggemarku.
Masuk gang melewati warung mang Nyiang.
"kite mau bayar lunas nih mang!" ucapku, bergaya juragan minyak.
"nah gitu dong Cing, bentar gue itung..
Enam puluh empat ribu Cing" sahutnya, memberikan catatan bon.
Juragan minyak berubah bangkrut dalam semenit.
"kite bayar setengah dulu ye mang.." negoku, nyengir kuda.
"kebanyakan gaya lo, utang dibanyakin? Duit yang dibanyakin kunyuk.
Boleh lo bayar setengah, jangan kasbon disini lagi!" cerocosnya, muka jeruk nipis.
Dengan berat hati, melunaskan semuanya, daripada gak bisa kasbon? Bisa berabe nanti.
Gila bener, lebih mahal rokok daripada si Rini?
Memasuki gang lebih dalam, nitip alat kantor ditempat bang aditya udah gak boleh?
Ke tempat Dini aja, kali aja bisa ngintip cewek mandi.
Melewati warung kacang ijo Beni dan lapangan bulu tangkis punya bang Encang.
Dilapangan dibangun pos RW megah, hasil sumbangan om Tamar.
Aku mendengus, tentu saja bisa menyumbang kalo menguasai tanah warisan dua hektar lebih dipinggir jalan pramuka street ini!
Terakhir kudengar ditawar 25m oleh bosnya acil Sri, mungkin kalo tak ada kejadian itu, kebusukan om Tamar takan tercium sampai masuk tanah.
Aku tak begitu paham, yang kutahu warisan yang seharusnya hak 12 ahli waris termasuk ibuku.
Berubah menjadi satu ahli waris sah! Yaitu si penghisap darah om Tamar.
Semuanya terbongkar saat bosnya acil Sri mau melihat sertifikat tanah berdarah ini.
Aku tak mengerti mengapa tak ada seorangpun yang menuntut si penghisap darah ke pengadilan?
"woi Garong! Sini lo, nasib lo mujur hari ini" panggil Jimbo dari pos RW.
Meloncati got, mendekati lapangan sambil memetik alat kantor.
"ada apa nih bang Jimbo? Ceria bener romanya" sapaku, feeling good.
"banyak ngemeng lo! Gue baru dari tempat acil Sri, gue dapet seperempi dari Ruday" jelasnya, memperlihatkan paketan shabu.
"anjrit bang! Nyesel gue gak ngikut!" sahutku, frustasi.
"nyesel dibelakang mah biasa Cing" balasnya, terkekeh.
"yaelah bang Jim, masa ada nyesel didepan?"
"adalah Cing! Punya sodara garong model lo gue nyesel didepan"
"kite kan dah tobat bang" sahutku, nyengir membakar rokok.
"udah banyak ngemeng lo! Lo siapin rokok ama alat-alat, sekalian extra jos deh! Ntar ngube bareng gue"
"siap bang!" sahutku secepat kilat.
-------
Rumah petakan kecil, terdiri dari dua ruangan sempit, yang disekat oleh triplek seadanya.
Ruang pertama, tempat tidur.
Kasur kapuk besar dan dua kasur lipat.
Dua lemari pakaian, TV 21 inc menghiasi ruangan itu.
Dinding campuran perpaduan antara triplek dan tembok usang tanpa warna.
Lantai dari karpet plastik, penuh robekan, dan bekas rokok.
Ruang kedua,melompong hanya ada lemari kecil, kompor minyak, dan peralatan masak, peralatan makan, semua ditaruh dalam ember.
Sekarang ruangan ini penuh asap rokok, lima orang bertarung mencari peruntungan dalam permainan kartu.
Tiga wanita, dua lelaki mengadu nasib dengan perjudian.
Taruhan paling kecil rp5000
masih ada kamar mandi dengan pintu yang sudah copot, walau ditutup tetap terlihat dalamnya.
Suara bantingan kartu, tangisan bayi, makian, tawa, sumpah serapah menjadi alunan melody melukiskan pemilik rumah pemain judi kelas dewa.
-------
turun dari mobil om Nawi, menggandeng Yayan.
"makasih om Nawi, acil Ine, dadah Sonya" ucapku tersenyum ramah.
"dah k Vivi besok aku main kerumah yaa" sahut Sonya lewat kaca.
Melihat keluarga lain juga baru turun dari mobil om Tamar.
Memasuki gang melewati warung mang Nyiang, rumah om Tamar tepat disebelah warung kacang Ijo.
Rumah acil tantri, acil Oni, om Hendrik.
masuk ke gang kecil yang ditengah-tengah, diapit oleh warung kacang ijo dan rumah om Tamar.
"bang Darwin baru nyampe langsung main di pos?" tanyaku, melihatnya masuk ke lapangan.
"bawel lo Vi, hus tuyul pulang sono" sahutnya, mendelik.
Aku menjulurkan lidah berlari menggandeng Yayan kedalam gang.
"yan, kalo ditanya mamah dikasih jajan gak ama acil Sri, Yayan jawab dikasih lima puluh ribu berdua kk ya!
Nantikan uang lo diambil mamah, kk ganti, ngerti gak!" perintahku, mendelik.
"iya k, tapi Yayan boleh beli petasan ya" sahutnya, mengangguk.
"gak boleh! Inget pesen bang Rudi tadi, lo nurut kk, kalo gak, gak bakal kk kasih jajan" ancamku, menjitak palanya.
"iya k" jawabnya meringis, memegang kepala sambil ngelap ingus.
Memasuki gang-gang sempit berliku, dari luar rumah terdengar suara bantingan kartu.
Melihat rumahku yang menyedihkan, menghela nafas, mengetuk pintu.
"siapaa?!" tanya Elen.
"ini aku mah"
"ah kau Vi, bikin mak kau kaget saja" omelnya membuka pintu.
Masuk kedalam rumah dengan cepat, seperti biasa langsung menutup pintu.
Kenapa masuk rumah sendiri harus seperti maling? Aku melihat lawan main ibuku, tak ada tante Gading.
Berarti gak akan sampai pagi.
"sini kau Yan! Dapat berapa kau dari acil Sri?" tanya Elen, memeluk Yayan.
"aku dikasih lima puluh ribu buat berdua ama kk Vivi" sahut Yayan manja, mengeluarkan uang.
"tumben ngasih gocap berdua si Sri? Dah sana, pada istirahat.
Cuma masak nasi, lauknya minta ama acil Tantri, acil Oni atau minta di lapo sana!" jawab Elen tak percaya, mengambil uang.
Menghela nafas, masuk keruang sebelah, bagaimana bisa ibuku baru tiga hari yang lalu melahirkan sudah kuat bermain kartu lagi?
Melihat k Evi, k Ova, adiku iza, dan si kecil Noa.
Entah k Dini kemana? Kalo pada tertidur semua kita mirip ikan asin panggang, aku bersyukur tiga kk ku yang lain tinggal di medan bersama ayah.
Apa jadinya kalo semua disini? Kenapa kami menjadi miskin seperti ini.
Aku masih ingat saat ayah jadi S E N S O R besar, semuanya serba enak, makan enak, rumah enak, kehidupan yang enak.
Berantakan karena ayah ditangkap? Uang habis untuk menebus ayah.
Ibuku yang hancur mengetahui ayah menikah lagi.
Semua jadi berantakan, kami susah ayah berangkat ke medan setengah tahun lalu membawa istri barunya.
Meninggalkan kami menderita disini? Ibu harus bergadang memutar otak mencari uang dengan kartu.
Kami makan meminta lauk orang lain, kadang dikasih dengan senyuman, kadang dengan tatapan hina.
Kami semua sekolah dari biaya acil Sri, aku benci sekali sama ayahku.
Apakah semua lelaki bajingan seperti itu? Gak! Aku berharap menemukan lelaki seperti bang Rudi.
Walaupun sedih melihat si kecil Noa diruangan penuh asap rokok.
Aku masih bisa tersenyum membayangkan bang Rudi.
*******
Selsai acara api unggun, perkenalan membosankan, pertunjukan tenaga dalam dari perguruan silat merak putih.
Beberapa anak kelas tiga memperagakan lambaian tangan yang membuat lawanya mental menjauh.
Ibu Handayani dari bagian tata usaha sebagai guru besar merak putih.
Memperagakan jentikan jari membuat sepuluh murid mental tak karuan.
Aku cuma menguap bosan oleh demonstrasi akal-akalan itu.
"gokil, jadi ngeri gua ama anak-anak mekar" ucap Jidad, terkagum-kagum.
"apalagi bu Handayani, kasian amat ya, kalo ada yang ngerampok doi" tanggap Acong geli.
"woi Sempak, ntar jadi kita nyelusup ke kamar tidur cewek? Gak kita aja sih, bakal banyak yang ngikut" tanya Acong, menyenggol bahuku.
"ruang tiga ada Ros pak" timpal Jidad.
"hmm, oh.." sahutku, tak peduli.
Asik smsan dengan Ros, menentukan cara kami bertemu.
"woi Sempak!" teriak Acong, dikupingku."hmm, oh.." tanggapku, masih smsan.
"percuma Cong, lo gak liat lagi semeses dia? Liat aja tuh senyum-senyum sendiri" ucap Jidad, terkikik menepuk bahu Acong.
"Sempak, Sempak, liat gua nanti bakal dapet anak kelas satu" gumam Acong, menghayal.
Jam 22:30 para murid memasuki kelas yang diubah menjadi tempat pengungsian banjir.
Berbagai macam alas tidur berserakan, cowok-cewek dipisahkan, tentu saja! Apa jadinya kalo digabung?
Aku, Acong, Jidad dan beberapa cowok mesum tak tahu diri memasuki tempat cewek.
Masuk perlahan lewat jendela, yang sengaja dibuka oleh Rita supaya kami bisa masuk.
Aku tersenyum geli melihat deretan otak mesum dibelakang yang tak sabar masuk kedalam.
Kalo mereka otak mesum? Mungkin aku otak comberan?
Suara cekikikan menyilimuti ruangan, masing-masing mencari pasanganya.
Aku mengusir Rita halus, risih ia menempel terus.
Mataku mencari, kumpulan cewek-cewek menggunakan pakaian tidur? Diterangi hanya dengan lampu cahaya dari luar.
Mungkin ini pinggiran surga? Menurutku biasa saja.
Menemukan yang kucari, sepasang mata memandangku geli.
Bermodalkan penerangan dari luar, aku mendekati melewati cewek-cewek yang tak mempengaruhiku sama sekali.
Aku mendengar jeritan kaget, segera meminta maaf karena menginjak kakinya.
Melanjutkan mendekati kedua pasang mata itu lebih perlahan, berhati-hati takut menginjak kaki orang lain lagi.
Sampai tujuan, memperjelas penglihatanku.
Melihat gelang glow in the dark sebagai kode kami.
Agak kekanak-kanakan tapi cukup jitu.
Aku menariknya ke pojok menjauhi kerumunan tawa cekikikan.
Tempat tidur cewek dua kelas dijadikan satu.
Entah berapa ruangan yang diperlukan untuk menampung murid yang tak bisa kuhitung sampai sekarang jumlah tepatnya berapa?
"hai Ros, bagus juga ide gelang lo ini?" ucapku, menyentuh gelangnya.
Kami mengobrol diatas alas tidur siapa? Aku tak tahu, mungkin bisa dibilang tak peduli.
"kalo gak pake ini, emang bisa lo nemuin gua Day? Tanpa cahaya gini?" sahutnya, tawa khas.
"bisalah! Kan gue punya mulut, emang kagak bisa nanya ape!"
aku mendengar suara gesekan plastik, tak tahu apa itu?
"mau coklat Day?" tawarnya, memberikan potongan coklat.
"tobleron? Tau aje gue suka coklat" sahutku, memakan coklat.
"Ros, ruangan Fio yang mana ya? Gue bingung kebanyakan nih! Ruangan lo aje gue gak bakal tau kalo gak lo sms"
"k Fio ruang lima, ini kan nomer tiga, lo ke sebelah kanan ruangan empat"
"oh, oke, kok lo masih nyimpen gelang mainan kaya gitu Ros?" tanyaku, mengangkat tanganya, cahaya gelang menyinari wajah Ros.
Sial! Itu sangat seksi, mungkin aku perlu mencari gelang seperti ini lagi.
"sama kaya pertanyaan, kenapa lo masih majang gundam kid dikamar lo" sahutnya, geli.
"eh, jangan samai gundam kid ama gelang glow in the dark dong? Banyak kolektor udah berumur ngoleksi rakitan robot kaya gue shorty!" balasku, geli.
"eh, jangan samain gelang glow in the dark ama gundam kid dong!
Banyak kolektor udah berumur, ngoleksi berbagai macam gelang ini man!" sahutnya, fotocopy.
"lo kan gak pernah kekamar gue? Tau darimana?" tanyaku geli.
"gua masuk sindikat perampok rumah pengkoleksi gundam kid.
Jadi rumah lo sasaran kita berikutnya" sahutnya berlagak serius.
Kami menahan tawa, tapi kaget mendengar lonceng besi pas didepan ruangan ini.
"tidur-tidur! Nanti jam setengah dua siap-siap untuk acara lagi" teriak pak Yon, membunyikan besi seperti lonceng kematian.
Otaku bekerja cepat melihat selimut disebelah kami, tapi merasa ragu melakukan ideku dengan Ros.
Menghela nafas, pasrah nasib kalo pak Yon masuk.
Terkejut oleh gerakan cepat Ros, mendekat, menutupi kami dengan selimut, berbaring tanpa melihat satu sama lain.
Baru sadar, kalo dalam sekejap menjadi senyap, apakah yang lain melakukan hal yang sama seperti kami?
Bersembunyi dibalik selimut, saling mendekap?
Betapa bahagianya mereka, sedangkan aku menahan diri disini.
Menjaga kesopanan tanganku didepan dada sendiri layaknya orang berdoa.
Menahan diri untuk tak menyentuh apapun yang ada dihadapan tanganku.
Syaraf otaku bergemuruh merasakan posisi celaka ini.
Pahanya yang tertutup bahan tipis, menempel pas di processor.
Sekarang aku mengetahui bagaimana rasanya punya tiga otak sekaligus.
Kepala, tangan, processor.
Masing-masing mempunyai otaknya tersendiri.
Mendengar suara kunci dibuka, sial! Sudah kuduga pak Yon punya kunci seluruh ruangan sekolah.
Punggung jariku merasakan sesuatu yang lembut, menelan ludah, apakah itu air-bag.
Tanganku kesemutan, mungkin keram, karena menahan sebisa mungkin tak melakukan hal bodoh.
Keparat! Jariku bergerak sendiri? Punggung jariku penasaran mencari puncak sesuatu yang lembut ini.
Rasanya aku menemukan volume mixer? Apa iya?
Aku tak bisa memastikan hanya menyentuh perlahan dengan punggung jari tangan kanan.
Dugaanku meningkat merasakan yang tersentuh mengkristal memberikan bentuk aslinya.
Dan aku yakin ia tak memakai bra.
Dari balik selimut kami merasakan sorotan senter.
Samar-samar kami bisa saling melihat, malu sekali aku, pasti Ros tahu perbuatan bodohku tadi.
Apalagi processorku takan bisa menipu.
Mengambil keputusan untuk meminta maaf, mulutku terbuka, ucapanku terhenti.
Karena Ros mendekap mulutku dengan tangan kananya.
Mataku melebar melihat kedalam matanya.
cahaya senter cukup untuk melihat kedalam mata Ros.
Ia tak berkedip, tangan kirinya menggenggam tangan kananku, menuntun tanganku masuk kedalam bajunya.
Menaruh tanganku di air-bag ia meremas tanganku.
Otomatis tangan keparatku berkerja tanpa diperintah.
Tatapanya tak terukur, kemauanya terbias bagaikan cermin dua arah.
Sorotan senter makin terang, suara langkah pak Yon khas dengan suara kunci yang selalu dibawanya.
Adrenalin yang kurasakan tak terkendali, perasaan takut akan pak Yon, perasaan panas yang membakar seluruh tubuhku.
Kemauan untuk menuntaskan ledakan secepatnya.
Semua menjadi satu-kesatuan membentuk evolusi zat baru dalam tubuhku.
Otak berputar melebihi kapasitas, tangan keparat terus bekerja, peluncuran roket NASA menghitung mundur.
Dari suara langkahnya kutahu pak Yon tinggal beberapa langkah lagi, habislah semuanya.
"permisi pak Yon" suara serak mengelilingi ruangan.
Sorotan senter menghilang, mungkin diarahkan ke pendatang itu?
"kenapa kamu Erik?" tanya Yon, mengernyit.
"perut saya sakit pak, kayanya saya keracunan makanan" sahut Erik, memegang perut.
"hah? Yang benar kamu Rik? Ayo ikut bapak ke UKS" sahut Yon, khawatir.
Langkah pak Yon menjauh, cahaya senter menhilang, suara pintu ditutup lalu suara kunci.
Mereka menjauh, menahan nafas, berdebar-debar tak terkendali.
Baru aku mendengar nafas Ros memburu.
Menelan ludah, baru kali ini merasakan gabungan perasaan yang bisa membuatku sinting dalam sekejap.
Memang aku tak bisa melihat Ros sekarang, apakah ia merasakan hal yang sama?
Atau malah kecewa? Bisa jadi ia marah.
Fuck! Peduli setan, aku memeluk Ros memberi ciuman panjang.
-------
Merasakan pernah dikerjain habis-habisan waktu kelas satu.
Mengingat kejadian itu rasa dendam Aji menebal, teringat ia pernah lari terkencing-kencing.
Karena kejadian itu, ia menjadi bahan tawaan sebulan penuh, bahkan sampai sekarang nama pesing melekat padanya.
Kini Aji melakukan hal yang sama, setahun lalu saat kelas dua ia sukses membuat banyak anak kelas satu ketakutan.
Sampai sebagian pindah sekolah karena kejadian itu.
Aji yang sudah kelas tiga takan menyia-nyiakan kesempatan terakhir menakut-nakuti kelas satu.
Dengan tim empat orang.
Aji berperan sebagai pocong, kostum lengkap dan make-up pada wajah, persis seperti baru keluar dari kubur, ia standby disela-sela tembok yang tak terlihat.
Rita berperan sebagai kuntilanak, standby di pohon besar berdaun lebat, yang tampak sangat angker.
Posisi Rita bisa terlihat dari persembunyian Aji.
Tugas Rita mencegat korban yang lari ketakutan karena ulah Aji.
Sehabis melihat pocong, melihat kuntilanak? Pengalaman yang menyenangkan.
Dua orang bertugas sebagai pemancing, menyuruh anak kelas satu dengan cara apapun.
Untuk melewati tempat Aji!
Rencana diatur dengan teliti, sekitar lokasi sudah ditaburi bunga melati.
Aji menyeringai bahagia, membuatnya tampak lebih seram.
Aji melihat pohon tempat Rita standby!
Rita berdiri dibawah pohon, rambut riap-riapan.
Noda darah dibagian perut kostum kuntilanaknya.
Jam 02:03 tepat sesuai perhitungan Aji, pasti sudah pada selsai acara renungan malam.
Tiga pemuda berjalan sambil mengobrol.
"gila kali tuh senior? Masa nyuruh nyari tukang nasgor jam segini?" ucap Hendro,menggerutu kesal.
"udahlah banyak omong juga percuma, eh gua denger daerah belakang sekolah ini serem katanya?" sahut Ronde, memegang tengkuk merinding.
"serem? Mau aja lo dibegoin!" tukas David garang, menghisap rokok.
"anjrit! Lo nyium bau kembang gak?" tanya Ronde, menghentikan langkah.
"mana sih? Eh? Iya! Bau melati" sahut Hendro, mengusap-ngusap tangan.
"ayo jalan! Banci lo pada!" ketus David.
Melewati belokan tempat Aji bersembunyi, David yang pertama melihat.
"po.. Po.. Pocooong!!" teriak David, mengambil langkah seribu.
Hendro, Ronde ikut menyusul berlari kalap, mereka berlari ke tempat Rita.
Terdengar teriakan mereka yang lebih mengerikan dari sebelumnya.
Aji tersenyum bangga, siap untuk korban berikutnya.
Aji mengernyit mendengar suara langkah berlarian disepanjang lorong, menuju kearahnya.
Aji terkejut, matanya melotot melihat orang dihadapanya, make-up setan Aji terlihat makin menakutkan.
"Ji, sory ya gua telat! Tiba-tiba sakit perut gua, ini aja masih mules.
Belum ada korban yang datang kan? Gua keposisi rencana kita, bentar gua ganti kostum dulu!" cerocos Rita. Tersengal-sengal kehabisan nafas.
Aji membeku wajahnya pucat serasa aliran darah macet diberbagai tempat.
"ka.. Kalo lo disini terus yang dipohon itu dari tadi siapa?" ucap Aji gemetar, membalikan Rita menghadap pohon.
Walaupun jaraknya cupkup jauh, tapi terlihat jelas sosok wanita dengan rambut riap-riapan baju berlumuran darah.
Aji, Rita saling merangkul ketakutan melihat wanita itu melayang ke atas pohon lalu menghilang.
Mereka saling menatap ngeri, tapi wanita itu muncul lagi dibawah pohon.
Ia makin lama makin mendekat ke arah Aji dan Rita.
Makin lama terlihat jelas sosoknya, wanita dengan baju putih.
Bolong dibagian perut darah mengalir dari perutnya.
Setiap langkah meninggalkan darah, rambut panjang menutupi sebelah mata, mata yang satunya terlihat keluar menggantung, dari sela bibir mengalir darah.
Air mengalir dari celana Aji.
"se.. Se.. Setaaan! Setaan! Tolong setaan!" teriak Aji berlarian kalap dengan kostum pocongnya, Rita menyusul tak kalah cepat.
Pocong lari terbirit-birit pemandangan yang cukup membuat orang tercengang.
*******
ke bagian2
0