- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#1315
PART 72
Kadang-kadang gue bertanya-tanya sendiri, tentang perjalanan hidup manusia. Ada sedih, ada senang, ada marah, ada tawa. Kadang gue bertanya sendiri, sampai kapankah gue akan hidup di dunia ini. Apakah gue sudah siap apabila tiba waktunya nanti gue harus meninggalkan dunia ini. Berpikir tentang kematian memang gak ada habisnya. Tapi itu merupakan hal positif untuk merefleksikan diri kita, selama tidak dilakukan secara berlebihan. Selalu mengingat kematian adalah pertanda bahwa kita adalah pribadi yang cerdas. Dengan mengingat kematian, kita akan terpacu untuk menjadi pribadi yang lebih baik, selama kita percaya akan ada kehidupan setelah kematian nanti.
Sidang skripsi gue berjalan dengan lancar tanpa hambatan satu apapun. Gue lulus, dan berhak menggunakan gelar Sarjana Hukum. Setelah menyelesaikan semua administrasi yang diperlukan untuk lulus dari kampus, gue mendaftar wisuda. Seperti yang gue harapkan, gue wisuda bareng Anin. Di universitas gue, wisuda diadakan dua kali. Satu wisuda fakultas, yang diadakan oleh fakultas masing-masing, satu wisuda universitas, yang dihadiri oleh rektor.
2 hari menjelang hari H wisuda fakultas.
Sekitar pukul 11 siang gue sedang tiduran di kamar, sambil menonton DVD. Hari itu memang gak ada agenda yang mengharuskan gue keluar rumah. Urusan kampus juga udah kelar, dan gue tinggal menunggu hari wisuda. Mendadak handphone yang gue letakkan disamping tempat tidur, berbunyi dengan keras. Gue melihat nama yang tertera di layar handphone gue itu. Ternyata Ari.
(dialog di part ini seluruhnya no emoticon ya, lo semua pasti udah bisa membayangkan situasinya tanpa perlu gue beri emoticon)
Seketika itu juga dunia gue terasa berhenti. Gue terdiam. Mematung. Tangan dan kaki gue mendadak terasa dingin banget. Lidah gue ingin mengucapkan sesuatu, tapi terasa kelu. Entah berapa lama kesunyian yang ada diantara gue dan Ari di telepon itu, sampai gue mendengar suara Ari lagi di ujung sana.
Gue bangkit dari tempat tidur, duduk di tepian kasur, sembari menarik napas panjang dan sangat berat. Gue kemudian berbicara dengan sangat lirih.
Telepon ditutup. Gue masih membeku di posisi gue. Duduk di pinggiran kasur, sambil memegangi kepala gue dengan kedua tangan. Sahabat gue, sahabat gue selama 7 tahun, sekarang udah gak ada. Udah beberapa waktu gue gak ketemu Reza. Terakhir ketemu waktu ngumpul-ngumpul di akhir taun 2011, sebelum tahun baru. Mata gue terasa panas, dan tanpa gue sadari, air mata mulai mengalir pelan di pipi gue. Saat gue menyadari bahwa gue nangis, yang gue pikirkan adalah kenangan gue tentang sosok Reza. Hal itu membuat gue semakin sedih dan air mata gue semakin deras.
Gue merebahkan tubuh dan masih tetap menangis, gue masih shock dengan kepergian Reza yang begitu mendadak dan dengan cara yang tragis. Entah berapa lama gue menangis, pada akhirnya gue bisa menguasai diri gue lagi. Kemudian gue ambil handphone, dan menelepon Anin. Dengan suara serak dan gemetar gue menelepon Anin.
Gue buru-buru ganti baju seadanya, pake jeans, dan ngambil tas kecil gue yang gue isi dengan dompet dan handphone. Sebelum pergi, gue bilang ke nyokap, kalo Reza meninggal dan sekarang gue mau ke Solo buat menjemput jenazahnya. Nyokap kaget bukan main, secara nyokap juga udah kenal Reza selama gue kenal Reza juga. Bahkan nyokap juga menawarkan diri untuk ikut ke Solo, tapi gue larang. Mending nanti disini aja layatnya, gitu alasan gue ke nyokap.
Setelah pamitan sama nyokap via telepon, gue berangkat kerumah Anin. Di rumah Anin gue liat dia udah siap di teras sambil menunggu kedatangan gue. Kemudian gue sempatkan untuk menelepon Ari sebentar, buat ngasih tau perubahan titik pertemuan. Mending ketemuan dirumah Ari aja, jadi gue yang jemput dia kesana. Untunglah Ari belom berangkat, jadi gue putuskan untuk segera kerumah Ari. Lagian gue gak mau Ari naik motor, masih trauma gue.
Gue dan Anin meluncur kerumah Ari, dan sesampainya disana, Ari langsung naik ke mobil dan gue langsung putarkan mobil, menuju ke arah Solo. Sejak berangkat dari rumah sampe menuju Solo ini, gue samasekali belom turun mobil dan mematikan mesin mobil. Dari situ bisa dibayangkan kan betapa tergesa-gesanya kami. Arya waktu itu sedang berada di Jakarta, dan dia udah kami kabari mengenai ini. Arya langsung mencari tiket kereta pulang, dan pada waktu kami menuju Solo itu dia udah berada di atas kereta menuju kemari.
Selama perjalanan itu kami bertiga lebih banyak membisu. Gue gak bisa mencari topik pembicaraan apapun. Begitu pula dengan Anin dan Ari. Cuma sesekali gue bertanya ke Ari tentang rencana pemakaman dan kronologis kejadiannya. Perjalanan ke Solo itu kami tempuh dengan cepat, karena kami ingin segera sampai dan melihat sendiri kondisi Reza.
Akhirnya kami sampai di rumah sakit yang dimaksud, dan setelah memarkirkan mobil, kami bertiga bergegas menuju kamar jenazah. Perasaan gue sangat gak karuan waktu itu. Seluruh tubuh gue terasa dingin membeku, dan jantung gue berdetak kencang. Kami mencari petunjuk arah menuju kamar jenazah, dan langsung menuju kesana. Sesampai di kamar jenazah, gue bertanya kepada petugas disitu, mana jenazah yang barusan masuk karena kecelakaan. Petugas itu menunjuk ke satu bilik jenazah yang dipenuhi dengan beberapa orang dengan isak tangis tertahan, dan disitulah gue mendapati sahabat gue terbaring kaku.
Gue melihat sahabat gue terbaring di depan gue. Dengan kain yang menutupi seluruh tubuhnya, yang gue buka pelan-pelan. Akhirnya tampaklah wajah yang sudah sangat gue kenal selama 7 tahun ini. Wajahnya dipenuhi luka-luka dan lecet disana sini. Rambutnya acak-acakan dan masih bernoda darah. Tapi entah kenapa, ekspresinya damai. Tanpa terasa air mata gue mengalir lagi tanpa bisa gue bendung.
Wajah ini, entah kenapa gue gak tau, persis sama seperti wajahnya pada saat kami bertemu untuk pertama kalinya di kelas 1 SMA. Seakan dia kembali muda.
Kadang-kadang gue bertanya-tanya sendiri, tentang perjalanan hidup manusia. Ada sedih, ada senang, ada marah, ada tawa. Kadang gue bertanya sendiri, sampai kapankah gue akan hidup di dunia ini. Apakah gue sudah siap apabila tiba waktunya nanti gue harus meninggalkan dunia ini. Berpikir tentang kematian memang gak ada habisnya. Tapi itu merupakan hal positif untuk merefleksikan diri kita, selama tidak dilakukan secara berlebihan. Selalu mengingat kematian adalah pertanda bahwa kita adalah pribadi yang cerdas. Dengan mengingat kematian, kita akan terpacu untuk menjadi pribadi yang lebih baik, selama kita percaya akan ada kehidupan setelah kematian nanti.
Sidang skripsi gue berjalan dengan lancar tanpa hambatan satu apapun. Gue lulus, dan berhak menggunakan gelar Sarjana Hukum. Setelah menyelesaikan semua administrasi yang diperlukan untuk lulus dari kampus, gue mendaftar wisuda. Seperti yang gue harapkan, gue wisuda bareng Anin. Di universitas gue, wisuda diadakan dua kali. Satu wisuda fakultas, yang diadakan oleh fakultas masing-masing, satu wisuda universitas, yang dihadiri oleh rektor.
2 hari menjelang hari H wisuda fakultas.
Sekitar pukul 11 siang gue sedang tiduran di kamar, sambil menonton DVD. Hari itu memang gak ada agenda yang mengharuskan gue keluar rumah. Urusan kampus juga udah kelar, dan gue tinggal menunggu hari wisuda. Mendadak handphone yang gue letakkan disamping tempat tidur, berbunyi dengan keras. Gue melihat nama yang tertera di layar handphone gue itu. Ternyata Ari.
(dialog di part ini seluruhnya no emoticon ya, lo semua pasti udah bisa membayangkan situasinya tanpa perlu gue beri emoticon)
Quote:
Seketika itu juga dunia gue terasa berhenti. Gue terdiam. Mematung. Tangan dan kaki gue mendadak terasa dingin banget. Lidah gue ingin mengucapkan sesuatu, tapi terasa kelu. Entah berapa lama kesunyian yang ada diantara gue dan Ari di telepon itu, sampai gue mendengar suara Ari lagi di ujung sana.
Quote:
Gue bangkit dari tempat tidur, duduk di tepian kasur, sembari menarik napas panjang dan sangat berat. Gue kemudian berbicara dengan sangat lirih.
Quote:
Telepon ditutup. Gue masih membeku di posisi gue. Duduk di pinggiran kasur, sambil memegangi kepala gue dengan kedua tangan. Sahabat gue, sahabat gue selama 7 tahun, sekarang udah gak ada. Udah beberapa waktu gue gak ketemu Reza. Terakhir ketemu waktu ngumpul-ngumpul di akhir taun 2011, sebelum tahun baru. Mata gue terasa panas, dan tanpa gue sadari, air mata mulai mengalir pelan di pipi gue. Saat gue menyadari bahwa gue nangis, yang gue pikirkan adalah kenangan gue tentang sosok Reza. Hal itu membuat gue semakin sedih dan air mata gue semakin deras.
Gue merebahkan tubuh dan masih tetap menangis, gue masih shock dengan kepergian Reza yang begitu mendadak dan dengan cara yang tragis. Entah berapa lama gue menangis, pada akhirnya gue bisa menguasai diri gue lagi. Kemudian gue ambil handphone, dan menelepon Anin. Dengan suara serak dan gemetar gue menelepon Anin.
Quote:
Gue buru-buru ganti baju seadanya, pake jeans, dan ngambil tas kecil gue yang gue isi dengan dompet dan handphone. Sebelum pergi, gue bilang ke nyokap, kalo Reza meninggal dan sekarang gue mau ke Solo buat menjemput jenazahnya. Nyokap kaget bukan main, secara nyokap juga udah kenal Reza selama gue kenal Reza juga. Bahkan nyokap juga menawarkan diri untuk ikut ke Solo, tapi gue larang. Mending nanti disini aja layatnya, gitu alasan gue ke nyokap.
Setelah pamitan sama nyokap via telepon, gue berangkat kerumah Anin. Di rumah Anin gue liat dia udah siap di teras sambil menunggu kedatangan gue. Kemudian gue sempatkan untuk menelepon Ari sebentar, buat ngasih tau perubahan titik pertemuan. Mending ketemuan dirumah Ari aja, jadi gue yang jemput dia kesana. Untunglah Ari belom berangkat, jadi gue putuskan untuk segera kerumah Ari. Lagian gue gak mau Ari naik motor, masih trauma gue.
Gue dan Anin meluncur kerumah Ari, dan sesampainya disana, Ari langsung naik ke mobil dan gue langsung putarkan mobil, menuju ke arah Solo. Sejak berangkat dari rumah sampe menuju Solo ini, gue samasekali belom turun mobil dan mematikan mesin mobil. Dari situ bisa dibayangkan kan betapa tergesa-gesanya kami. Arya waktu itu sedang berada di Jakarta, dan dia udah kami kabari mengenai ini. Arya langsung mencari tiket kereta pulang, dan pada waktu kami menuju Solo itu dia udah berada di atas kereta menuju kemari.
Selama perjalanan itu kami bertiga lebih banyak membisu. Gue gak bisa mencari topik pembicaraan apapun. Begitu pula dengan Anin dan Ari. Cuma sesekali gue bertanya ke Ari tentang rencana pemakaman dan kronologis kejadiannya. Perjalanan ke Solo itu kami tempuh dengan cepat, karena kami ingin segera sampai dan melihat sendiri kondisi Reza.
Akhirnya kami sampai di rumah sakit yang dimaksud, dan setelah memarkirkan mobil, kami bertiga bergegas menuju kamar jenazah. Perasaan gue sangat gak karuan waktu itu. Seluruh tubuh gue terasa dingin membeku, dan jantung gue berdetak kencang. Kami mencari petunjuk arah menuju kamar jenazah, dan langsung menuju kesana. Sesampai di kamar jenazah, gue bertanya kepada petugas disitu, mana jenazah yang barusan masuk karena kecelakaan. Petugas itu menunjuk ke satu bilik jenazah yang dipenuhi dengan beberapa orang dengan isak tangis tertahan, dan disitulah gue mendapati sahabat gue terbaring kaku.
Gue melihat sahabat gue terbaring di depan gue. Dengan kain yang menutupi seluruh tubuhnya, yang gue buka pelan-pelan. Akhirnya tampaklah wajah yang sudah sangat gue kenal selama 7 tahun ini. Wajahnya dipenuhi luka-luka dan lecet disana sini. Rambutnya acak-acakan dan masih bernoda darah. Tapi entah kenapa, ekspresinya damai. Tanpa terasa air mata gue mengalir lagi tanpa bisa gue bendung.
Wajah ini, entah kenapa gue gak tau, persis sama seperti wajahnya pada saat kami bertemu untuk pertama kalinya di kelas 1 SMA. Seakan dia kembali muda.
chanry dan 3 lainnya memberi reputasi
4

