- Beranda
- Stories from the Heart
CINTA NGUMPET - NGUMPET
...
TS
aqiaqi
CINTA NGUMPET - NGUMPET
ASSALAMUALAIKUM WR. WB
Sebagai anak baru, ijinin ane memperkenalkan diri, ane aqiaqi, ane baru di SF ini awalnya ane maen ke SF ini sebagai SR tapi akhirnya ane memutuskan untuk bergabung dengan SFTH , buat agan - aganwati yang budiman, jangan segan segan memberi kritik, saran dan masukan buat ane, karena ane masih dalam tahap belajar
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for index update:
Quote:
Diubah oleh aqiaqi 20-12-2015 23:04
elianasidik914 dan anasabila memberi reputasi
0
28.5K
239
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aqiaqi
#109
Cinta Ngumpet - Ngumpet - Chapter 24 : "Sahabat"
Meraka memang orang yang pintar, mereka bukan playboy, mereka memang gak gaul bahkan terkadang mereka hialng kewarasannya, tapi yang gue tau mereka peduli sama gue dan mereka mungkin arti sahabat yang sesungguhnyayang gue temuin.
Satu minggu berlalu, dan gue rasa gue memang harus nyatain perasaan gue sama Sari apapun resikonya. Tapi sebelum itu gue harus tau dulu penyebab kenapa Sari menjauh dari gue, dan lari dengan orang yang baru dia kenal. Malam minggu gue sms sari,
“selamat sabtu malam para jomblo
”.
Tak ada balasan yang datang malam itu, dan gue udah bulet kalau Sari beneran udah lupa sama gue. Jam 3 pagi gue kebelet, dan dengan bermodalkan mata yang masih ngantuk, gue ari ke kamar mandi, setelah merasa lega gue kembali masuk ke kamar dan melihat ke hp ada 12 missedcall dan 5 pesan (tumben?). karena penasaran gue cek nomernya, tapi gue gak kenal nomor ini, begitu juga dengan 5 sms yang gue terima, nomer yang sama dengan nomer yang missedcall gue, gue pun buka salah satu smsnya.
“heh, udah lu jangan sms Sari lagi! Sari udah jadi milik gue” dan ke lima sms itu pun bertuliskan sama, ternyata itu dari Rony. Sedikit emosi memang tapi gue harus bisa nahan ego, karena ini bukan salah siapa-siapa ini terjadi karena gue lebih memilih jalan seorang pecundang di banding jalan seorang pemenang.
Sejak malam itu gue berhenti menghubungi Sari dan mencoba menghindari dia, karena kalaogue melihat dia meski dari belakang sekali pun gue tetap merasakan sakit.
Aiko dan Prasetyo lah yang selalu setia berasama gue dan membuat gue sedikit tertawa dengan tingkah laku mereka yang di luar batas kewarasan itu. Sedih memang tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi......
“heh kampret, lu udah bilang sama Sari?”, kata prasetyo mengagetkan gue,
“belom, belom nemuin waktu yang tepat!”, kata gue
“kapan emang yang tepat?” kata aiko ikit bertanya,
“entah, mungkin engga akan ada waktu yang tepat buat gue” kata gue menyerah,
“lu gak usah gitu bro, jangan jadiin hati lu samsak yang bisa di tinju-tinju orang-orang”, kata prasetyo menasehati gue,
“hmm.. gue putus asa sob”,
“eh kampret! Lu banci banget sih jadi orang...” kata aiko memaki,
“tenang dong ko, si lana lagi ada masalah jangan di perkeruh” kata prasetyo
mencoba memperbaiki suasana.
“gue kesel ama ni anak atu, lu harus bialng sob! Kalo lu sayang banget sama dia, lu harus berani membongkar identitas lu sebagai pemuja rahasianya Sari!” kata aiko emosi. Gue pun tersenyum dan memeluk mereka berdua,
“thanks sob, lu berdua memang saudara gue” kata gue terharu,
“eh eh udah ah, lu lama-lama jadi homo bahaya”, kata aiko
“bukannya emang homo yah?” kata prasetyo meledek gue,
“ah kampret lu, ceritanya kan gue terharu” kata gue sambil tersenyum,
“tuh kan homoooo” kata Prasetyo dan Aiko sambil lari menjauh dari gue,
“oooy asem banget! Cumi....” kata gue sambil tertawa.
Satu minggu berlalu, dan gue rasa gue memang harus nyatain perasaan gue sama Sari apapun resikonya. Tapi sebelum itu gue harus tau dulu penyebab kenapa Sari menjauh dari gue, dan lari dengan orang yang baru dia kenal. Malam minggu gue sms sari,
“selamat sabtu malam para jomblo
”.Tak ada balasan yang datang malam itu, dan gue udah bulet kalau Sari beneran udah lupa sama gue. Jam 3 pagi gue kebelet, dan dengan bermodalkan mata yang masih ngantuk, gue ari ke kamar mandi, setelah merasa lega gue kembali masuk ke kamar dan melihat ke hp ada 12 missedcall dan 5 pesan (tumben?). karena penasaran gue cek nomernya, tapi gue gak kenal nomor ini, begitu juga dengan 5 sms yang gue terima, nomer yang sama dengan nomer yang missedcall gue, gue pun buka salah satu smsnya.
“heh, udah lu jangan sms Sari lagi! Sari udah jadi milik gue” dan ke lima sms itu pun bertuliskan sama, ternyata itu dari Rony. Sedikit emosi memang tapi gue harus bisa nahan ego, karena ini bukan salah siapa-siapa ini terjadi karena gue lebih memilih jalan seorang pecundang di banding jalan seorang pemenang.
Sejak malam itu gue berhenti menghubungi Sari dan mencoba menghindari dia, karena kalaogue melihat dia meski dari belakang sekali pun gue tetap merasakan sakit.
Aiko dan Prasetyo lah yang selalu setia berasama gue dan membuat gue sedikit tertawa dengan tingkah laku mereka yang di luar batas kewarasan itu. Sedih memang tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi......
“heh kampret, lu udah bilang sama Sari?”, kata prasetyo mengagetkan gue,
“belom, belom nemuin waktu yang tepat!”, kata gue
“kapan emang yang tepat?” kata aiko ikit bertanya,
“entah, mungkin engga akan ada waktu yang tepat buat gue” kata gue menyerah,
“lu gak usah gitu bro, jangan jadiin hati lu samsak yang bisa di tinju-tinju orang-orang”, kata prasetyo menasehati gue,
“hmm.. gue putus asa sob”,
“eh kampret! Lu banci banget sih jadi orang...” kata aiko memaki,
“tenang dong ko, si lana lagi ada masalah jangan di perkeruh” kata prasetyo
mencoba memperbaiki suasana.
“gue kesel ama ni anak atu, lu harus bialng sob! Kalo lu sayang banget sama dia, lu harus berani membongkar identitas lu sebagai pemuja rahasianya Sari!” kata aiko emosi. Gue pun tersenyum dan memeluk mereka berdua,
“thanks sob, lu berdua memang saudara gue” kata gue terharu,
“eh eh udah ah, lu lama-lama jadi homo bahaya”, kata aiko
“bukannya emang homo yah?” kata prasetyo meledek gue,
“ah kampret lu, ceritanya kan gue terharu” kata gue sambil tersenyum,
“tuh kan homoooo” kata Prasetyo dan Aiko sambil lari menjauh dari gue,
“oooy asem banget! Cumi....” kata gue sambil tertawa.
0
). #bersambung
MONGGO GAN, SIST, 