- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Bersambung: Voyeurism
...
TS
widka
Cerita Bersambung: Voyeurism
Quote:

Quote:
Judul Karya : Voyeurism
Jenis Karya : Fiksi
Genre Karya : Detektif, Misteri, Drama.
Target Pembaca : Remaja-Dewasa
Usia : 17+
Quote:
HOT COVER

Spoiler for PRAWACANA:
PRAWACANA
Kisah ini menceritakan kontroversi pengakuan pelecehan seksual yg dialami ALINA pada masa lalunya. Apakah benar atau salah bahwa kejadian itu benar-benar terjadi? Seberapa akuratkah ingatan seseorang?
Seperti yang kita ketahui bahwa ada banyak tulisan yang dipublikasikan mengenai pulihnya ingatan tentang pelecehan seksual di masa anak-anak berakhir keliru atau tidak koheren (nyambung) dengan fakta-fakta yang ada.
Lantas cerita berlanjut ke polisi muda yang bernama WIDKA, yang menderita voyeurisme. Voyeurisme adalah penyakit psikologis di mana penderitanya mencapai kepuasan seksual hanya dengan cara mengintip. Namun, tanpa sengaja aktifitas terlarangnya itu membuat sang tokoh tahu misteri dibalik kontroversi yang menyelimuti ALINA.
Kisah yang menarik tentang drama-hasrat-kriminal dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, sehingga kisah ini sangat layak untuk dinikmati sebagai bacaan yang menghibur sekaligus mengundang rasa penasaran.
Saya akan update terus cerita bersambung ini jika agan-agan berkenan terhadap cerita yang sedang saya kembangkan.
Terimakasih.
Seperti yang kita ketahui bahwa ada banyak tulisan yang dipublikasikan mengenai pulihnya ingatan tentang pelecehan seksual di masa anak-anak berakhir keliru atau tidak koheren (nyambung) dengan fakta-fakta yang ada.
Lantas cerita berlanjut ke polisi muda yang bernama WIDKA, yang menderita voyeurisme. Voyeurisme adalah penyakit psikologis di mana penderitanya mencapai kepuasan seksual hanya dengan cara mengintip. Namun, tanpa sengaja aktifitas terlarangnya itu membuat sang tokoh tahu misteri dibalik kontroversi yang menyelimuti ALINA.
Kisah yang menarik tentang drama-hasrat-kriminal dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, sehingga kisah ini sangat layak untuk dinikmati sebagai bacaan yang menghibur sekaligus mengundang rasa penasaran.
Saya akan update terus cerita bersambung ini jika agan-agan berkenan terhadap cerita yang sedang saya kembangkan.
Terimakasih.
Quote:
Hot Comment Sampai BAB VIII

Quote:
Original Posted By princess.anne►
Ane juga tau cerita ini setelah liat trit agan di CYSTG
Dari sana aja udah terpesona sama pengetahuan agan ttg kepribadian
Dan 4 hal di atas yg bikin ane makin WOW sama karya agan ini
Judul kayak gini justru bagus, unik. Coba kalo judulnya langsung: petualangan sang pengintip, sedikit agak basi. Tapi dengan kata voyeurism, pertama bikin kening berkerut, lalu semakin bikin penasaran, pengen menggali lebih dalem, endingnya "ooooh.... gitu!"
Oya satu hal lagi yang paling ane suka, agan ga cuma nyediain cerita yang bikin penasaran, menghibur, tapi juga memberikan banyak pengetahuan!
I love it!
Ane penggemar berat genre kayak gini
Pokoke semangat terus berkarya gan!
Ane juga tau cerita ini setelah liat trit agan di CYSTG

Dari sana aja udah terpesona sama pengetahuan agan ttg kepribadian

Dan 4 hal di atas yg bikin ane makin WOW sama karya agan ini
Judul kayak gini justru bagus, unik. Coba kalo judulnya langsung: petualangan sang pengintip, sedikit agak basi. Tapi dengan kata voyeurism, pertama bikin kening berkerut, lalu semakin bikin penasaran, pengen menggali lebih dalem, endingnya "ooooh.... gitu!"
Oya satu hal lagi yang paling ane suka, agan ga cuma nyediain cerita yang bikin penasaran, menghibur, tapi juga memberikan banyak pengetahuan!

I love it!
Ane penggemar berat genre kayak gini
Pokoke semangat terus berkarya gan!
Quote:
Original Posted By Blazerknight►homina homina homina, keren banget ceritanya asli..... 

Quote:
Original Posted By septhia►hari minggu, gak ada hiburan, buka kaskus liat thread agan, sungguh luar biasa ceritanya...gini ini yg seru gak hanya cerita cinta melulu...salut for agan...
Quote:
Original Posted By Garyu73►What gilaaak? Ini apa? Baru pertama liat uy, ini buku ya? Keren banget uy TS bisa nyampe disini terus menyalurkan ide gilanya 
Keren gan, mudahan ada waktu biar bisa baca ceritanya

Keren gan, mudahan ada waktu biar bisa baca ceritanya

Quote:
Original Posted By bapaknya.tongol►wanjeeeeng, aktingnya alin mantap kalee bah...
"pelakunya adalah kau". sambil menjukan jati tengah ke arah kolonel
ataukah hanya mimpi widka
bodo amat, yg penting cepet abdet lagiii braaay

tunggu cendol mateng ya braaay....
buru apdet nya..
"pelakunya adalah kau". sambil menjukan jati tengah ke arah kolonel

ataukah hanya mimpi widka

bodo amat, yg penting cepet abdet lagiii braaay

tunggu cendol mateng ya braaay....
buru apdet nya..
Quote:
Original Posted By chayono►Wah gan abis baca bab 5 part 1 kayaknya bakal makin dalem nih ceritanya. Awalnya ane percaya alina tuh gila. Tapi pas baca mengenai pendapat komandan jo trus review ulang kayaknya ada yg aneh dengan kolonelnya. Seolah olah di buat skenario alina meninggal padahal engga. Di tunggu part berikutnya yg lebih ngebuka misterinya.
Quote:
Quote:
Original Posted By velerkajut►akhirnya update juga makin keren aja nh jalur ceritanya gue suka cara penulisannya yg frontal jd ga kaku bacanya nice gan di tunggu part 3 nya

Quote:
Original Posted By cUmplanks►mana bab v!! manaaaaaaaaa...!!
manaaaaaa ...!! bab v bab v bab v...
hayok cepat gannnnn..penasaran 1/2 idup ini..!!
bener" nice post gan..cendol +1 dari ane yah..

manaaaaaa ...!! bab v bab v bab v...

hayok cepat gannnnn..penasaran 1/2 idup ini..!!

bener" nice post gan..cendol +1 dari ane yah..

Quote:
Original Posted By TahtaArash►bab V part 2 mana gan. ane udh bli paket extra buat baca cerita agan
Quote:
Original Posted By umikrachmi►Gan masih bersambung yaaa ceritanyaaa? Seruuu sumpah
Quote:
Quote:
Original Posted By milan22►Yah,ternyata masih bersambung, padahal ane udah siap2 menebak endingnya..
Update nya kapan gan?
Update nya kapan gan?
Quote:
Original Posted By encantz►update lagi mas, alinanya jgn dimatiin yak 

Quote:
Quote:
Quote:
Original Posted By dados8756►izin stalk mas bro
, bagus ceritanya... sambil sekalian belajar
, bagus ceritanya... sambil sekalian belajarQuote:
Quote:
BAB I












BERSAMBUNG
INDEX
Quote:
BAB II Versi jpg
BAB II Versi Text Part 1
BAB II Versi Text Part 2
BAB II Versi Text Part 3
BAB III Versi Text Part 1
BAB III Versi Text Part 2
BAB III Versi Text Part 3
BAB IV Versi Text Part 1
BAB IV Versi Text Part 2
BAB IV Versi Text Part 3
BAB V Versi Text Part 1
BAB V Versi Text Part 2
BAB V Versi Text Part 3
BAB VI Versi Text Part 1
BAB VI Versi Text Part 2
BAB VI Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 1
BAB VII Versi Text Part 2
BAB VII Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 4
WFull Version: Wattpad
BAB II Versi Text Part 1
BAB II Versi Text Part 2
BAB II Versi Text Part 3
BAB III Versi Text Part 1
BAB III Versi Text Part 2
BAB III Versi Text Part 3
BAB IV Versi Text Part 1
BAB IV Versi Text Part 2
BAB IV Versi Text Part 3
BAB V Versi Text Part 1
BAB V Versi Text Part 2
BAB V Versi Text Part 3
BAB VI Versi Text Part 1
BAB VI Versi Text Part 2
BAB VI Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 1
BAB VII Versi Text Part 2
BAB VII Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 4
WFull Version: Wattpad
Spoiler for Cerita Lain? Mampir Gan:
Quote:
LAIN

Sinopsis
Seorang wanita mendapati dirinya tidak sendiri ketika ditinggal suaminya bekerja. Apa yang terjadi? Story Will SHOCK YOU!!!Click Here!!

Sinopsis
Seorang wanita mendapati dirinya tidak sendiri ketika ditinggal suaminya bekerja. Apa yang terjadi? Story Will SHOCK YOU!!!Click Here!!
Quote:
TRAGEDI PEMBUNUHAN DI ZANGGARO


Sinopsis
Kali ini Inspektur Jo dan Assitennnya, Widka harus memecahkan pembunuhan sadis di Zanggaro, salah satu Negara bagian Afrika.Menurut saksi, ciri-ciri seorang pelaku pembunuhan persis seperti Sibiso Vilikazi dan Sibiso Khumalo. Keduanya saudara kembar. Namun ada 1 hal yang pasti diantara keduanya, yakni salah satu dari mereka adalah seorang pembohong patologis. Link? Click here!!
Kali ini Inspektur Jo dan Assitennnya, Widka harus memecahkan pembunuhan sadis di Zanggaro, salah satu Negara bagian Afrika.Menurut saksi, ciri-ciri seorang pelaku pembunuhan persis seperti Sibiso Vilikazi dan Sibiso Khumalo. Keduanya saudara kembar. Namun ada 1 hal yang pasti diantara keduanya, yakni salah satu dari mereka adalah seorang pembohong patologis. Link? Click here!!
Spoiler for Makasih Cendolnya:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 124 suara
Misteri apa yang agan harapkan terkuak dari cerita ini?
Alina memang gila - Drama, Psychological Thriller
7%
Semua Cuma Bayangan Widka - Drama, Psychological Thriller, Horor
13%
Konspirasi Kolonel - Action, Thriller
42%
TS-nya Gila
38%
Diubah oleh widka 25-02-2017 09:51
anasabila dan yuliaherliani99 memberi reputasi
0
109.2K
Kutip
781
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
widka
#506
UPDTE!! BAB VII Part 4 Text
Spoiler for BAB VII Part 4 Text:
BAB VII
--Part 4--
Text
--Part 4--
Text
Mereka berjalan masuk ke dalam kos-kosan ibu Mariana. Di garasi, anak-anak sudah tidak lagi berisik, mereka asyik bermain dengan kertas dan crayon. Komandan Jo berinisiatif menghampiri keempat anak tersebut, mengeluarkan uang duapuluh ribuan dan memberikan ke salah satu dari mereka. Yang lainnya protes meminta bagian:
“Om masa aku nggak?”
Komandan Jo kembali mengeluarkan uang duapuluh ribuan dari dompet dan memberikan itu kepadanya, “nih, dibagi sama adikmu ya. Pikirmu aku ini bapak kalian meminta seenak jidatmu,” lalu tertawa. “Nah, sekarang mainlah di luar. Jajan sepuas kalian, habiskan duitnya kalau perlu,” katanya lagi sambil menggusah-gusah mereka dengan satu tangannya.
Anak-anak itu berhamburan keluar kegirangan meninggalkan kertas-kertas dan sisa crayon yang berserakan di lantai. Komandan Jo menyuruh Widka untuk menutup pintunya. Ia tergopoh-gopoh menurunkan rolling door itu hingga menimbulkan suara yang berisik. Lantas Komandan Jo langsung masuk ke dalam ruang tamu, meninggalkan ruang garasi yang gelap. Widka membuntutinya.
“Permisi Ibu Mariana, Yuhuu!” katanya keras-keras. “selamat siang. Haloo..”
Tak berapa lama perempuan tua itu hadir menghampiri sumber suara. Lagi-lagi ia menatap keduanya dengan tatapan yang penuh syak wasangka.
“Semakin kau menyembunyikan sesuatu semakin kau menderita, Nyonya.” Widka membatin.
“Selamat siang, Ibu Mariana. Tentu kami datang kembali ingin bertemu dengan anda. Kau pasti sudah tahu alasannya kenapa…” Komandan Jo merebah pantatnya di sofa yang empuk seakan dialah empunya rumah. “Kau tahu kenapa kami datang lagi kemari?”
“Tidak tahu, Pak,” gumamnya bingung.
“Karena ada sesuatu yang tidak beres di sini. Ada perkara yang ditutup-tutupi,” katanya dengan nada dingin dan tegas membuat Widka merinding mendengarnya.
“Aku ceritakan sesuatu, Nyonya. Kalian, rakyat jelata, menuduh kami melakukan pekerjaan seenaknya: ‘Apa kerjanya polisi selama ini?’ Begitu bukan pikirmu? Sial!!” – ia menggebrak meja membuat Widka terlonjak, Ibu mariana juga lebih-lebih – “Seakan-akan kami memang demikian halnya. Untuk itulah kami datang ke sini, supaya Ibu Mariana tahu betapa seriusnya kami dalam bekerja. Betapa seriusnya perkara yang sedang kami hadapi saat ini, lantas ibu Mariana tutup-tutupi.” Ia merubah nada suaranya menjadi lebih manis dengan senyum yang mengandung arti: “Duduklah kalau perlu, kita ngobrol sejenak untuk meluruskan perkara ini.”
“Perkara apa, pak?” Katanya gemertak sambil berjalan perlahan. Betapa lambatnya dia bergerak seakan-akan sedang mabuk. Ia kemudian duduk kaku membeku.
“Soal gadis yang menyewa kamar kos-kosan yang kemudian menghilang. Aneh bukan? Seolah gadis itu tidak pernah hadir dari tetek emaknya.”
Widka melihat kembali ke Ibu Mariana. Gesture tubuhnya seirus dan tegang, bahkan dia sama sekali tidak menelan guyonan Komandan Jo.
“Sudah saya bilang, pak... Tidak ada gadis yang anda sebut-sebut itu... Sumpah demi Tuhan.” Giginya gemertak.
“Tentu saja kamu tahu gadis itu, Bu. Sekarang aku tahu kenapa dia menghilang. Ya.. ya.. pada akhirnya aku harus bicara ini kepadamu…” Widka melihat Komandan mengeluarkan revolvernya dari balik sarung, lalu mengarahkan corongnya ke kepala ibu Mariana. “Karena ada yang menjemputnya sebelum kami datang ke sini dan menyuruhmu bungkam. Iya kan?”
Ibu Mariana matanya membeliak seakan tidak percaya. Mulutnya terbuka dan gemetar, seolah ingin bicara sesuatu tetapi tidak jadi. Begitu terus sikapnya, seakan bayang-bayang kematian menghampirinya.
“Siapa dia, Bu? Apakah dia mengancamu dengan pistol seperti ini juga? Bagian mana yang dia bidik? Kepala atau..” Komandan menyodorkan arah pistolnya ke payudaranya yang kendur, “dada?”
“Ma.. Maafkan aku Tuhan.. Ya Tuhaan..” ibu Mariana mengerang aneh, diiringi dengan airmata di pipinya. Ia kemudian berusaha tenang, komat-kamit memanjatkan doa seolah-olah sedang berhadapan dengan hantu. “Dia datang mengancam membunuh saya, pak.” Katanya gemertak seolah terserang demam, “Membunuh semua anak-anak saya. Ya.. Tuhaan.. sekarang kalian datang mengancam saya dengan pistol. Mana yang harus saya percaya? Katakan kepada saya, Pak. Mana yang harus saya percaya?”
Mendengar pengakuan itu membuat Widka bertanya-tanya, “siapa gerangan yang datang ke sini mendahului kami? Kolonelkah?”
“Aku tidak tahu mana yang harus ibu percaya. Itu urusanmu. Tapi biar aku kasih tahu sesuatu.” Ia mendesis, “kalau aku tahu bahwa ibu masih saja berbohong, akan terpaksa kubuat kekacauan di sini, tepat di dalam rumahmu ini. Akanku buat kau menderita dan menyesal seumur hidupmu karena menutupi-nutupi perkara ini. Aku tidak peduli lagi dengan anak-anakmu yang masih kecil-kecil itu kehilangan ibunya.” Geram Komandan tanpa menggerakan giginya, lantas dengan teliti ia menaruh revolvernya di atas meja. “Lagipula, aku tidak akan menyeretmu ke penjara, Ibu Mariana. Akan aku lakukan yang lebih ngeri daripada itu. Aku tidak takut kehilangan pekerjaanku sebagai polisi kalau memang itu yang harus aku lakukan.”
“Ayolah..” katanya lagi. “Ibu ini sudah membuang-buang waktu kami. Seharusnya ibu menerima ganjaran dengan kebohongan yang sudah kau perbuat. Beruntunglah sejauh ini belum ada kekacauan. Nah, sekarang coba bicara yang jujur agar kau terbebas dari segala sesuatu yang meresahkanmu.”
“I.. Iya mereka datang ke sini. Menjemput gadis itu. Memindahkan semua barang-barang dan mengancamku dengan pistolnya.” Ia menghela nafas, menggosok-gosok lengannya ketakutan. “Yah Tuhaan.. Salah apa aku hingga terseret dalam semua masalah ini.”
“Tenang… Tenaang.. Tidak akan yang berani menganggumu, bu. Tentu sepanjang kau mau cerita apa yang sebenarnya terjadi.” Katanya dengan nada ramah. “nah sekarang, coba kita mulai dari awal lagi. Siapa nama gadis itu dan berapa lama dia tinggal di sini?”
“Namanya Ruby, pak.”
“Ruby!” Widka tercekat. Membuat Komandan dan Ibu Mariana menoleh tajam ke arahnya. “Ah.. iya itu namanya. Aku tanya tadi ke penjaga warung, Ndan.” Ia tersenyum kecut karena merasa keceplosan.
“Ya, Ruby. Saya tidak mengenalnya dengan baik. Kami jarang bertemu karena saya lihat dia lebih sering keluar malam dan kembali saat pagi hari. Jarang sekali saya melihat dia bergaul dengan orang-orang sekitar.” Gumamnya bergetar.
“Apa ibu memiliki fotokopi KTP-nya?”
Pertanyaan itu membuat Widka berpikir bahwa Komandan Jo tahu isi kepalanya.
“Tidak ada…” Ia menggeleng “Mereka memaksa saya untuk menyerahkan semua bukti identitas gadis itu. Jadi memang itu yang mereka harapkan. Mereka membuat Ruby yang seharusnya dilihat bapak ini tidak ada. Dan tidak pernah ada.” Katanya sambil melihat Widka.
“Oh begitu triknya.” Pikir Widka. Mereka membuat Ruby seolah-olah menghilang dan membuat Ibu Mariana tidak pernah melihat gadis itu, sehingga eksistensi orang yang hilang itu berpulang pada halusinasinya. “Sialan!”
Widka melihat ke arah Ibu Mariana: Ia kelihatan lebih tenang sekarang, walaupun masih belum bisa menyembunyikan rasa takutnya. Sepertinya bayang-bayang ancaman masih ada dalam pikirannya.
“Berapa lama Ruby itu tinggal di sini?”
“Dia tinggal di sini sekitar 2 bulanan.” Lantas merasa dirinya tidak yakin, “ya sekitar segitulah.”
Komandan Jo manggut-manggut, menghela nafas panjang. “Kapan seseorang datang menjemput Ruby?”
“Tadi pagi pak. Lebih tepatnya jam delapan pagi.” Ia menyipitkan matanya. Mengingat-ingat. “Ya sekitar jam segitulah kurang lebih. Dengan kasar mereka langsung memindahkan barang-barang Ruby. Pria yang lebih tua menyodorkan pistol dan memaksaku untuk memberikan kamar yang kosong. Lalu Ruby dan pria yang lebih muda terburu-buru memindahkan barang-barang gadis itu keluar dari kamar satu-dua menuju kamar satu-enam. Setelah semua selesai mereka langsung pergi. Tetapi sebelum pergi, pria yang lebih tua mengancam membunuhku.. Memaksa saya untuk menyerahkan semua identitas yang gadis itu miliki. Saya berikan semua itu kepadanya, pak. Saya cuma tidak ingin ada masalah. Lagi pula dia mengancam membunuh saya. Sumpah demi Tuhan.. Dia mengancam membunuh saya. Saya masih memiliki anak yang masih kecil-kecil, pak. Suami saya kontraktor… Jarang sekali pulang kalau terikat kontrak.”
“Ya..ya.. Tidak akan terjadi apa-apa dengan keluargamu, bu. Percayalah.” Katanya menenangkan. “Nah sekarang, kau kenal dengan pria-pria yang menjemputnya, Ibu Mariana?”
“Tidak sama sekali, Pak. Sungguh. Bertatapan dengan mukanya saja saya takut. ”
“Bisa gambarkan ciri-cirinya? Pakaiannya?”
Wanita itu mengingat-ingat kembali: “Mereka berseragam hijau tua. Itu saja yang saya ingat.”
“TNI-Angkatan Darat!” Pikiran Widka terlonjak.
“Berapa orang yang datang menjemput gadis itu?”
“Dua orang.” Katanya. “Ya mereka datang dua orang. Yang satu lebih tua dan yang satu lagi lebih muda. Mereka datang menggunakan mobil sedan berwarna silver. Saya lihat, tidak ada siapa-siapa lagi di dalam mobil itu.”
“Kolonel dan Sersan Tomo,” pikiran Widka mengarah kepadanya. Namun dia masih tidak yakin dengan semua pengakuan itu.
“Apa kau melihat tanda pangkat dibahunya?”
Cerdas! Widka merasa penting untuk tahu masalah identitas siapa orang yang menjemputnya.
“Saya tidak tahu hal-hal seperti itu, pak.”
“Apa pria muda memanggil pria yang lebih tua dengan sebutan Kolonel?”
“Saya tidak tahu. Sungguh. Jangan buat saya bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak tahu. Yang jelas mereka bergerak buru-buru dan tidak pernah bicara satu sama lainnya.”
Wawancara ini setidaknya membuat Widka membongkar kembali ingatannya, lantas mencurigai sesuatu yang aneh. Kenapa seseorang sangat ingin melindungi Ruby dari Widka? Kenapa dia rela mengancam Ibu Mariana untuk bungkam keberadaan Ruby, seakan gadis itu tidak pernah hadir dari dunia ini? Seberapa pentingkah Ruby untuk ditutupi keberadaannya? Apakah Komandan bisa menjawab semua kegelisahan Widka ini?
“Baiklah. Akan aku beritahu sesuatu skenario yang buruk, Bu. Kemungkinan gadis itu dalam bahaya dan kami berusaha mencarinya.”
“Benarkah? Tapi sepertinya gadis itu sudah di bawa pergi. Aku melihat gadis itu masuk ke dalam mobil sedan tanpa perlawanan.” Katanya terbata-bata. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Pada intinya gadis itu terlibat dalam pembunuhan seorang gadis lain yang terjadi di wilayah kami. Itulah kenapa mereka rela menjemput Ruby dan membuat seolah-olah tidak pernah ada di sini. Kami ingin ibu membantu kami jika memiliki identitas gadis itu. Entah apa saja, foto, tempat tinggal atau apapun yang berkaitan dengan gadis itu mohon sampaikan kepada kami.”
Widka mengingat kembali saat kematian Alina. Itu dia: memakai gaun merah, bersimpah darah, terlihat lebih kurus dari pada Alina yang dia kenal. Sesaat kemudian Kolonel memeluk mayat Alina. Menghalangi pandangannya Tiba-tiba datang sersan Tomo, dia mendekati Kolonel, berbisik-bisik sesuatu yang tidak dipahami Widka, lalu sersan muda itu menodongkan pistol ke arahnya, dia bilang: “mundur.” Widka tidak bisa menggerakan tubuhnya barang seototpun, semua pendengarannya kabur dan apa yang terjadi saat itu, saat kematian Alina menjadi kian tidak jelas.
Sebentar, bayangan Widka memutar kembali saat dia melihat Alina bersimpah darah: dia terlihat lebih kurus dan nampak berbeda dengan Alina yang dia kenal. Itu dia. Alina yang mati bukanlah Alina yang dia kenal.
Pandangan Widka seperti sedang ada dalam dimensi lain, tiba-tiba dia menyadari sesuatu: “Ya Tuhan!!” Gumamnya pelan.
Suara teriakan bocah-bocah kembali menggelegar, membuat lamunan Widka buyar seketika. “Mereka kembali” Pikir Widka
“Baiklah, tidak apa.” Kata Komandan Jo sambil bergerak naik “Bisa ibu antar kami ke kamar satu-enam. Siapa tahu kami mendapat petunjuk dari sana.”
Ibu Mariana membawa kunci satu-enam dan menghantar kedua polisi itu menuju kamar yang berada di lantai satu. Ibu kos memasukan anak kunci ke lubangnya, harus beberapa kali memutarnya agar berhasil. Pintu itu terbuka, dan Widka melihat barang-barang di dalam kamar itu persis seperti yang pernah dia lihat sebelumnya. Komandan Jo dan Widka bergerak mencari semua barang yang berhubungan dengan identitas Ruby. Lama mencarinya membuat Widka berpeluh.
“Sia-sia, Komandan.” Widka menyerah.
“Ya..” kata Komandan Jo manggut-manggut, “mereka sudah merencanakan ini semua.”
Komandan memberi selamat kepada Ibu Mariana atas jerih payahnya untuk memberikan informasi. Kemudian Komandan meminta kepadanya agar bisa bekerjasama jika melihat gadis itu datang kembali.
“Tentu, pak. Tapi bagaimana jika tentara itu datang lagi ke sini? Membunuh saya dan keluarga saya? Katakan, apa yang harus saya lakukan, pak?”
“Tentang saja, Bu. Tidak ada yang berani menganggumu. Hiduplah seperti biasa ibu lakukan sehari-hari.” Katanya menenangkan. Ia melambaikan tangannya sebagai tanda berpisah. Berjalan menuju mobil dan meninggalkan kos-kosan Ibu Mariana.
>>>
BERSAMBUNG BAB VII PART 5
BERSAMBUNG BAB VII PART 5
Diubah oleh widka 28-09-2014 21:45
0
Kutip
Balas

ternyata si alina emg sakit beneran

