- Beranda
- Stories from the Heart
Holder [Cerita Fiksi] genre : Misteri/thriller
...
TS
UncloudedEyes
Holder [Cerita Fiksi] genre : Misteri/thriller
# Holders : Who sent the book? [Part : I] #
"Karena setiap pribadi memegang takdir pribadi lainnya" - Tjhang (writer)
**-------------------------------**
--sampai kepada aku pahami bahwa kesemuanya adalah keterkaitan--
Sambil ku bongkar box karton berisi buku-buku dan barang tidak terpakai lainnya sisa barang masa kecilku yang kusimpan dan kuanggap penting walau sudah usang.
Haha, semua memori masa kecil tersirat jelas dikepalaku. Kubaca buku harian kado dari Papa semasa aku duduk di sekolah dasar. Tiap halaman ku maknai dalam ingatan, sungguh masa-masa yang indah. Rasa haru, Bersorak senang dan sedih bocah menempel erat malam itu.
Di halaman tengah kubaca sepenggal nama "Calvin". Aku baru ingat sekarang bahwa Calvin yang semasa sekolah menengah ku suka dulu adalah temanku sekolah dasar. Bagaimana kabar dia sekarang ya. Sudahlah mungkin dia juga sudah tidak mengenalku lagi.
Kumasukkan kembali semua barang usang itu dan ku kembalikan pada tempatnya semula. Malam ini papa mengantarku kembali ke asrama setelah 2 hari aku pulang ke rumah karena jadwal kampus sedang kosong dan ada sedikit keperluan di rumah.
"Selvie, bangun... sudah jam 8:28, kau mau bangun jam berapa? Bukankah hari ini ada jadwal kuliah?" Ucap Carrol teman sekamarku sambil menggoyangkan badanku memaksaku untuk bangun.
"Cay, kenapa kau baru membangunkanku? Ini sudah hampir telat" Aku terperanjak bangun kaget melihat jam.
"Kau yang sedari tadi tidak bangun, Sel. Sudah untung aku mau membangunkanmu"
"Aduh aku telat, harus buru-buru mandi"
"Mandi? Buat apa mandi? Haha cuci muka lalu semprot parfum dibadanmu saja daripada kesiangan"
Haha saran gila Carrol ku pakai. Hanya cuci muka, sikat gigi, ganti baju dan semprot parfum lalu tak lama kemudian aku keluar kamar dan lari ke luar asrama.
"Selviee... Kenapa terburu-buru?" Tanya Bu Rahma pengurus asrama.
"Kesiangan buuuu...." Teriakku.
Hari dikampus begitu biasa flat seperti hari-hari kuliah biasanya. Bertemu beberapa teman, dosen dan orang aneh yang selalu menyendiri, namanya Frangky tapi terkenal dengan panggilan Freaky.
"Bang, baso satu, putihan ya tidak pake sayur macam-macam" aku memesan semangkok baso di kantin untuk makan siang disusul antrian mahasiswa lain.
"Sel, kamu tahu gossip terbaru, tidak?" Ucap Helen mengawali pembicaraan kami.
"Apa?"
"Kemarin di lokasi kematian Arga ada Freaky"
"Terus kenapa?"
"Ahh.., ya mungkin saja dia juga komplotan pembunuh itu"
"Bukannya Arga mati gantung diri?"
"Siapa tahu dia dipaksa gantung diri buat kamuflase"
"Ngarang kamu, Len. Lagian Arga sudah mati kenapa mesti jadi bahan omongan sih?" Jawabku sambil mulai mengabaikan Helen yang terus saja berbicara tanpa henti. Padahal aku sudah tidak mendengarkannya.
Nada pesan singkat di handphone ku berbunyi, ku ambil dari dalam tas lalu ku buka isi pesan ternyata dari mama,
"Sel, mama titip buku ke Bu Rahma, kayaknya buku penting kamu ketinggalan di kamar kemarin, tadi kebetulan mama lewat sana"
Ku balas sms mama dengan singkat "ok ma", hari berlanjut begitu saja sampai aku kembali pulang ke asrama.
"Tuh, Bu Rahma tadi titip buku katanya dari mama kamu" ucap Carrol saat aku baru saja memasuki kamar.
"Buku apa sih, kayaknya kemarin tidak ada yang ketinggalan"
"Mana aku tau Sel, lagian bukan punya ku, kepo kalau aku mesti buka-buka, hahaha"
Aku heran, sepertinya aku tidak pernah memiliki buku seperti ini sebelumnya, bahkan sangat terlihat asing, buku dengan sampul kulit berwarna cokelat dan memiliki pengait di luarnya.
"Ma... Ini bukan buku Selvie, mungkin buku Papa, kok main dianter aja ke sini?" Terka ku dalam pembicaraan telepon ke Mama,
"Buku apa sih? Telepon baru diangkat kok nerocos aja"
"Lho buku yang tadi siang Mama titipin ke Bu Rahma, kan Mama sms Selvie tadi"
"Buku apa? Mama tidak sms kamu apa-apa, seharian juga Mama dirumah, ngapain juga Mama jauh-jauh anterin buku kesana. Ih, kamu ini Sel kok ngarang cerita"
"Mama yang ngarang cerita, udah lah kalo gitu, bye ma" Kuakhiri pembicaraan dalam telepon yang entah tak ada kejelasan.
Tak lama setelah itu terdengar dencitan pintu terbuka,
"Aku pulang..." Carrol memasuki kamar langsung menaruh belanjaannya di atas kasur dan merebahkan diri.
"Pulang? Kau darimana bukankah daritadi kau sudah dikamar?"
"Aku baru saja sampai, Sel. Dari mall bersama David belanja baju."
"Ah entahlah, kejadian hari ini membuatku pusing, mungkin aku terlalu lelah dan perlu istirahat."
"Tok tok tok" suara pintu diketuk dari luar, lalu Carrol membukanya,
"Haha makasih bu, kelewat teledor saya" ucapnya ke Bu Rahma,
"Makanya belanja tuh jangan banyak-banyak tangan kanan kiri bawa kantong belanjaan sampai tidak sadar dompetnya jatuh, untung jatuhnya di ruang tamu"
"Bu, Bu Rahma tadi siang di titipin buku mama saya sekitar jam Berapa?" Sahutku sebelum Bu Rahma meninggalkan tempat berdirinya,
"Buku apa?"
"Ini, tadi siang katanya Mama titipin ke Ibu?" Sambil kutunjukkan buku yang ku maksud,
"Ngawur Mama kamu, ibu tadi ada pemakaman tetangga dari jam 10 pulangnya jam 4, mana ada nitipin buku"
"Ya uda deh Bu, makasih ya" Aku makin bingung dengan semuanya.
Jadi siapa yang sebenarnya Mengirim buku ini?
Diubah oleh UncloudedEyes 18-09-2014 20:55
anasabila memberi reputasi
1
7.1K
49
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
UncloudedEyes
#7
# Holders : Run!!! (Part III) #
Sebelumnya : "Hai Sel!!!" Pundakku di tepuk dari belakang,
"Helen?"
**-----------------------------------**
Helen menemukan ku dan Nana,
"Na, lariii..." Teriakku,
"Lalu kau mau kemana?" Senyum Helen kepadaku menyeringai seperti kucing menemukan tikus yang terjepit tak ada jalan kabur.
Tangan kirinya memegangi kerah bajuku sedangkan tangan kanannya mengetik di ponselnya.
"Holder? Dia holder dengan ponsel" hatiku berdegup kencang, kubuka buku itu, tertulis kalimat baru.
Dan Nana terpeleset di eskalator, kakinya terkilir tak dapat melarikan diri dari Helen
Astaga apa yang harus kulakukan, kucoba berfikir untuk mengarang baris berikutnya saat Helen asik dengan ponselnya.
Sesaat setelah Nana terjatuh tak lama security segera membantunya berdiri dan membawanya ke pos keamanan untuk diberikan bantuan
Baru saja beberapa detik tertulis kalimat baru,
Pelayan cafe yang hendak menanyai soal bill minuman terpeleset menubruk Helen dan memberi kesempatan kepada Selvie untuk melarikan diri
Benar saja baru beberapa menit kubaca tulisan itu, sang pelayan cafe terpeleset menubruk Helen dan memberikanku kesempatan untuk lari.
Aman, aku berusaha mencari Nana. Aku menelponnya sampai akhirnya kami kembali bertemu.
"Na, kau menulis larik itu?"
"Tidak kak, aku holder cacat, aku tak bisa menulis sendiri, ponselku hanyalah passive holder, aku hanya bisa membaca secara global apa yang akan terjadi, tapi aku tidak bisa menulis pematahan takdir"
"Maksudmu?" Aku masih tak paham,
"Di sini tertulis nama-nama holder dan setiap nama memiliki jalan cerita sendiri" ucapnya sambil menyodorkan ponselnya kepadaku, aku membantunya berdiri dan membawanya ke lobby.
Tak lama mobil pribadi Nana datang, kami bergegas naik dan kabur dari kejaran Helen yang terlihat baru saja dia keluar dari pintu lobby celingukan mencari kami berdua.
"Jadi, siapa yang menulis baris terakhir?"
"Mungkin holder lain kak, aduh kakiku sakit sekali"
"Baiklah lupakan, yang penting kita segera pulang dan kau dapat beristirahat"
"Boleh kubaca garis cerita holder lainnya di ponselmu?"
"Silakan" terlihat wajahnya menahan sakit, bibirnya membiru pucat tapi air wajahnya memerah, kasihan gadis ini.
Freaky
Supir Nana mengantuk dan mobil mereka akan menabrak pembatas jalan hingga terbalik.
Helen
Setelah mobil mereka terbalik Helen akan memastikan mereka sudah tewas.
saac
Helen membawa kedua barang holder itu.
Aku kualahan tulisannya saling berkelanjutan tanpa henti, bahkan saking takutnya rasa kantuk yang kutahan sejak tadi siang hilang begitu saja.
"Bapak mengantuk? Biar saya yang ganti mengemudi mobil?" Tanyaku kepada driver pribadi Nana
"Tapi mbak"
"Ga apa-apa kok, lagian mumpung Nana tertidur"
"Ya udah, mbak yakin bisa mengemudi mobil kan? Bapak juga takut kalau ngantuk gini jadi kenapa-kenapa"
"Iya , ya udah bapak ganti disebelah saya, saya yang pegang kemudi, bapak pandu saya untuk jalan sampai ke rumah ya"
Semua tulisan para holder terhapus berganti cerita-cerita baru, aku sempat melihat segaris baru.
Calvin
Dan mereka selamat sampai rumah, bomb yang dipasang Helen di bawah mobil Nana meledak dalam waktu yang meleset, setelah mereka semua turun dari mobil.
Benar saja, semua kejadian cerita sebelumnya tak terjadi semenjak aku yang memegang kemudi mobil.
Sesampainya di depan pagar aku meminta Driver membantu menurunkan dan membopong Nana masuk ke dalam rumah, sedangkan aku membawa barang-barangnya, tepat sampai di depan pintu mobil di luar pagar meledak keras. Bau bakaran besi dan karet ban memenuhi aroma halaman rumah.
"Aduh mbakk... Bapak bisa dipecat ini, aduh gimana gantiin uang mobilnya" wajah tua nya menangis terlihat takut, cemas dan kebingungan.
"Ga apa-apa pak Yadi. Nanti Nana bisa jelasin ke Papa kok. Lagian Papa Mama pulangnya masih lama, paling juga 3 bulanan lagi." Sahut Nana yang masih digendong pak Yadi.
"Kak, makasih ya?" Lanjutnya,
"Ya udah kamu rehat, Na. Semoga lekas membaik"
Setelah mobil dipadamkan oleh beberapa orang komplek segera Aku keluar pagar sambil berfikir, Ada dua hal yang harus aku tanyakan ke Nana, 7 life holder dan 7 death holder. Tapi mengapa ada 15 nama? Lalu kenapa life holder tidak menulis kematian para death holder agar semuanya berakhir?
"Karena life holder hanya mematahkan nasib buruk, bukan menuliskan nasib buruk, dan 1 dari 15 nama itu adalah server perantara dari masing-masing holder. Itulah yang dicari para death holder untuk bisa mengakses item dari setiap holder" Aku terkejut suara pria dibelakangku menimpali semua pertanyaan dalam fikiranku.
"Kau siapa? Bagaimana bisa tahu apa yang sedang ku fikirkan?"
Tampilannya dingin, dengan kedua tangan dimasukkan ke saku dan kepalanya ditutup tudung jaketnya yg berwarna biru gelap menutup separuh atas dari hidungnya,
"Salam kenal, Sel. Aku Calvin life holder. Tanpa item apapun, hanya pria biasa dengan mind holder"
0