Kaskus

Story

sayulovmeAvatar border
TS
sayulovme
Whats wrong with me? Im addicted to you! [True Story]
Perkenalkan...

gue sekarang 23 tahun, just call me say (sounds weird eh?) emoticon-Bingung (S)
di sini gue mau ceritain tentang cerita yang mungkin ada yang pernah ngalamin hal begini juga. Cerita berawal di saat gue kerja di salah satu redaksi majalah.

Gue sangat berterima kasih untuk yang sudi mampir ke sini dan apalagi bermurah tangan untuk nge-rate ataupun kasih cendol. Kritik dan saran sangat gue butuhkan mengingat gue bukan penulis. Gue cuma mencoba share cerita ini karna selama ini gue SR di sfth dan komen2 sedikit di cerita yang gue pantengin pakai id prime gue. Gue sudah perkirakan nanti bakal ada yang bilang kalo cerita gue stensilan, okay gue akuin ada beberapa part nanti yang bakal rada "hot" tapi menurut gue masih normal kok. Akhir kata..selamat membaca emoticon-Kiss (S)


Sebaiknya yang belom punya KTP jangan terlalu serius baca ini emoticon-Malu (S)

Index : Special thanks untuk Bang Lucky emoticon-Kiss (S)
1. I wanna see your abra cadabra bra bra bra
2. Secret 'Meeting'
3. Si Bodoh
4. Makan Siangnya Pake Gossip
5. The Power Of Engagement Ring
6. After Party
6. After Party (Confession)
7. Berdua Denganmu (Minus Setan Penggoda)
8. Berdua Denganmu (Plus Sodaranya Sadako)
9. Stay Away From Me
10. The Devil Wears Jersey
11. Takdir Memang Kejam
12. Free Food And Shit
13. Awkward Moment With Mak Lampir
14. Kelewat Batas
15. KAMEHAMEHA
16. He About To Lose Me
Diubah oleh sayulovme 29-09-2014 22:56
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
4
32.2K
217
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
sayulovmeAvatar border
TS
sayulovme
#31
6. After Party (Confession)
Sampailah di rumah Tara. Kepala Jo terangkat memandangi bagian depan rumah Tara. Not bad. Ada taman kecil yang asri di lahan terbatas itu. Pot2 anggrek di gantungkan di teras depan. Ada kolam nyaris tersembunyi di antara tanaman2.

“Thanks ya buat tebengannya suh” kata Tara setelah turun dari motor.

“Anytime” kata Jo sambil lepas helmnya.

Keduanya saling menatap dan nggak tau harus berbuat apa. Kalau tadi good weird, sekarang ini bad weird. Ngantar Tara pulang itu hal biasa yang sering dia lakukan ke teman2 kantor. Tapi ini Tara loh, yang biasa mencak2 mendadak murah senyum kayak mbak2 SPG rokok. Jo agak berdebar2 ngelihat senyumannya.

“Wanna come in?”

Jo mengangguk terlalu antusias.

Seperti apa yang ada di depan, ruang tamu Tara juga nggak kalah cantiknya. Nggak luas memang, tapi bersih dan rapi. Dekorasinya didominasi warna biru muda. Gaya bohemian keliatan dari piring2 yang dipajang manis di dinding, belum lagi karpet dan sekat kayu ala Timur Tengah. Lampu setinggi bahu Tara sebenarnya biasa aja, belinya di Carrefour doang lagi (katanya). Tapi lampu itu ditutupi scarf yang bikin cahaya redup.

Tara pamit ke dapur untuk bikin minuman.

“Sebenernya ada teh mint, tapi nggak tau kenapa gue ngerasa lo terlalu cowok buat minum minuman kayak gitu”

Jo terkekeh

“Kok sepi?”

“Iya emang cuman gue doang. Ortu gue dah meninggal pas gue umur 11 tahun. Trus gue tinggal sama nenek. Eh ternyata beliau juga harus pergi sebelum gue wisuda”

Tak ingin berlama2 mellow, di depan si musuh pula, cewek itu buru2 mengganti obrolan. Jo tau perasaan jengah itu. Dibiarkannya Tara memilih topik ringan yg nyaman buat mereka berdua. Mulai dari gosip2 kantor nggak penting, hal2 ringan yang mereka tahu dari tv atau buku, sampai film2 terbaru yang sudah mereka tonton. So far so good. Sampai hampir jam 12 malam nggak tau kenapa Jo enggan beranjak dari sofa. Tiba2 hp Tara berdering.

“Sori ya” kata Tara sambil berdiri dan jalan menuju kamar
Ada kali 15menitan Tara di dalam sana. Sesekali Jo dengar Tara ngomong dengan nada tinggi. Jo mau pura2 nggak dengar, tapi nggak bisa. Suara itu terlalu keras untuk dicuekin gitu aja.

“Terserah kamu deh! Excuse me?! Kamu bilang apa? Aku nggak pernah komplain selama ini? Don’t pull that card on me. Dari awal kan kamu yang punya ide backstreet kayak gini. Aku nggak pernah setuju ndre..nggak pernah!”

Oh cowoknya Tara berulah lagi, pikir Jo.

“I don’t give a damn. Nggak. Nggak aku nggak mood ngomong apa2 lagi sama kamu. Whatever. I hang up now. Bye!”
Setelah itu. Hening.

“Sori ya lama” kata Tara dengan suara gemetar. Jo diem aja tapi Tara tau kalau cowok itu dengar apa yang barusan dia omongin di telpon.

“Ehm pernah nyoba kopi dikasih marshmellow nggak suh?” cewek itu memaksa tersenyum

“Aneh memang, tapi rasanya kayak kopi dikasih krim”

Jo bergeming

“Kapan2 kalo ke Ambassador mampir ke toko snack langganan gue deh” katanya lagi pura2 nggak sadar tatapan kasihan Jo yang jelas2 tertuju ke arahnya. Dia nggak suka dikasihani apalagi sama musuhnya.

“Dia jual marshmellow rasa semangka loh. Enak banget..sumpah deh” akhirnya Tara nyerah dan beranikan diri buat liat cowok yang ada di depannya.

“Kalo lo mau cerita gue siap dengerin” kata Jo hati2

Tanpa Tara sadari, air mata mengalir deras membasahi bulu2 matanya. Shit. Tara menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Oh God. Pasti sekarang ini Jo nganggap dia menyedihkan banget. Nangis karna cowok. Koreksi, nangis karna cowok yang jelas2 menduakan dia dan begonya gue setuju2 aja diselingkuhin gitu.

“Re..”

“Apa?”

“Lo nggak pantes dapat waktu sisa dari orang itu”

Tara kaget

“Gue nggak ngerti omongan lo barusan” katanya jelas2 dusta

“Gue bisa kok nyimpulin sendiri, dia sudah punya tunangan kan?”
Ucapan Jo kayak tamparan keras langsung di pipinya. Sesaat, Tara terenyak. Ditatapnya wajah khawatir itu dengan kebencian teramat sangat. Jadi dia tahu, dia nggak cuma curi dengar, tapi dia juga tahu kalau Andre sudah punya tunangan.

“.......”

“Lo nggak perlu malu..gue ngerti..”

“Lo sama gue tuh nggak akrab Jo. Jadi, nggak usah ngerasa punya kewajiban buat pura2 ngertiin keadaan gue!”

“Tapi gue...”

Suara Tara makin naik “Kalo abis ini lo bakal bilang sama anak2 kantor, gue nggak keberatan kok. Biar semua orang tau gimana hidup gue...”

“Tara, gue justru..”

“You know what, fak yu!” air mata Tara makin deras. “Mending lo pergi sekarang. Gue nggak mau liat lo di sini lagi”
Cewek itu berjalan cepat menuju pintu dan membukakan pintu lebar2 buat Jo.

“Ra, tunggu dulu. Harusnya lo kasih gue kesempatan buat ngomong..”

“Pergi atau gue teriak..”

“Gue juga punya pengakuan..gue selingkuhan”

“..biar tetangga pada denger dan..what?!”
Matanya terbelalak nggak percaya. Dia mencoba menemukan tanda2 kebohongan di wajah Jo. Nggak ada. Wajah cowok itu sama terlukanya dengan dirinya sekarang. Rasanya seperti melihat diri sendiri di depan cermin.

“Kita senasib Ra..” katanya pelan. Jo menarik napas panjang sebelum melanjutkan “Gue juga ada di situasi sama kayak lo”

Spoiler for Flashback:


“Sori” Tara ngangkat satu tangannya ke atas sebagai tanda buat yuruh Jo berhenti cerita di bagian ini. Biar Jo dan Tuhan yang tahu detail2 apa aja yang dia lakuin bersama Dwira malam itu.

Sebulan kemudian Jo pindah ke apartemen yang disewakan Dwira untuknya. Awalnya cowok itu nolak. Tapi Dwira bilang dia nggak pengin bercinta di –ini kutipan langsung dari cewek itu- sarang tikus dan kecoak yang diaku Jo sebagai kamar kosnya.

Sejauh ini sih kedengarannya kayak kisah cinta biasa aja, kecuali bagian pas Dwira ngaku kalau dia sudah bersuami. Buruknya lagi, suaminya itu ngidap kanker otak dan saat itu dirawat secara intensif di rumah sakit di Singapura.

“Jadi, Dwira tidur sama lo sementara suaminya sekarat?” tanya Tara begitu cowok itu selesai cerita

Jo menunduk lalu mengangguk. Tara mendecak2an lidahnya.

“Ya ampyun...sudah kayak Lady Chatterley’s Lover aja ya lo berdua..lo jadi si tukang kebun”

“Nyindir lo?”

Cewek itu menggeleng pelan “Why should I? Kayak kisah cinta gue beres aja. So..do you love her?”

“Yes.No.Maybe. Gue nggak tau. Tapi, satu yg pasti, salah satu alasan kenapa gue bertahan sama dia sampe sekarang karena perasaan berutang budi”

“Karena dia nampung lo?”

Jo menggeleng “Karena dia ada tepat saat gue bener2 ngerasa sendiri di bumi ini. Ya secara teknis gue sebatang kara. Di saat itu Dwira datang trus mengulurkan tangannya buat gue. Masa gue tolak?”

“Meskipun lo jadi simpenannya?”

Jo tersenyum lemah “Gue cuma nggak mau ngerasa kesepian..sisanya gue pura2 nggak tau”


Bonus malem minggu nih buat para jomblo, semoga terhiburemoticon-Kiss (S)
Cara bikin index gimana ya?? help me agan2 yang baik hati,pm deh kalo boleh emoticon-Malu (S)
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.