- Beranda
- Stories from the Heart
Whats wrong with me? Im addicted to you! [True Story]
...
TS
sayulovme
Whats wrong with me? Im addicted to you! [True Story]
Perkenalkan...
gue sekarang 23 tahun, just call me say (sounds weird eh?)
di sini gue mau ceritain tentang cerita yang mungkin ada yang pernah ngalamin hal begini juga. Cerita berawal di saat gue kerja di salah satu redaksi majalah.
Gue sangat berterima kasih untuk yang sudi mampir ke sini dan apalagi bermurah tangan untuk nge-rate ataupun kasih cendol. Kritik dan saran sangat gue butuhkan mengingat gue bukan penulis. Gue cuma mencoba share cerita ini karna selama ini gue SR di sfth dan komen2 sedikit di cerita yang gue pantengin pakai id prime gue. Gue sudah perkirakan nanti bakal ada yang bilang kalo cerita gue stensilan, okay gue akuin ada beberapa part nanti yang bakal rada "hot" tapi menurut gue masih normal kok. Akhir kata..selamat membaca
Sebaiknya yang belom punya KTP jangan terlalu serius baca ini
Index : Special thanks untuk Bang Lucky
1. I wanna see your abra cadabra bra bra bra
2. Secret 'Meeting'
3. Si Bodoh
4. Makan Siangnya Pake Gossip
5. The Power Of Engagement Ring
6. After Party
6. After Party (Confession)
7. Berdua Denganmu (Minus Setan Penggoda)
8. Berdua Denganmu (Plus Sodaranya Sadako)
9. Stay Away From Me
10. The Devil Wears Jersey
11. Takdir Memang Kejam
12. Free Food And Shit
13. Awkward Moment With Mak Lampir
14. Kelewat Batas
15. KAMEHAMEHA
16. He About To Lose Me
gue sekarang 23 tahun, just call me say (sounds weird eh?)

di sini gue mau ceritain tentang cerita yang mungkin ada yang pernah ngalamin hal begini juga. Cerita berawal di saat gue kerja di salah satu redaksi majalah.
Gue sangat berterima kasih untuk yang sudi mampir ke sini dan apalagi bermurah tangan untuk nge-rate ataupun kasih cendol. Kritik dan saran sangat gue butuhkan mengingat gue bukan penulis. Gue cuma mencoba share cerita ini karna selama ini gue SR di sfth dan komen2 sedikit di cerita yang gue pantengin pakai id prime gue. Gue sudah perkirakan nanti bakal ada yang bilang kalo cerita gue stensilan, okay gue akuin ada beberapa part nanti yang bakal rada "hot" tapi menurut gue masih normal kok. Akhir kata..selamat membaca

Sebaiknya yang belom punya KTP jangan terlalu serius baca ini

Index : Special thanks untuk Bang Lucky

1. I wanna see your abra cadabra bra bra bra
2. Secret 'Meeting'
3. Si Bodoh
4. Makan Siangnya Pake Gossip
5. The Power Of Engagement Ring
6. After Party
6. After Party (Confession)
7. Berdua Denganmu (Minus Setan Penggoda)
8. Berdua Denganmu (Plus Sodaranya Sadako)
9. Stay Away From Me
10. The Devil Wears Jersey
11. Takdir Memang Kejam
12. Free Food And Shit
13. Awkward Moment With Mak Lampir
14. Kelewat Batas
15. KAMEHAMEHA
16. He About To Lose Me
Diubah oleh sayulovme 29-09-2014 22:56
anasabila memberi reputasi
4
32.2K
217
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sayulovme
#12
3. Si Bodoh
Tara kerja di Mustika Group (Nama samaran). Perusahaan keluarga yang sukses dalam bidang lifestyle. Mulai dari kosmetik, majalah, advertising, agensi model, event organizer, dll, pokoknya ada 16 anak perusahaan yang berkantor di gedung yang bertuliskan THE MUSTIKA ini.
Tara sendiri kerja di lantai sembilan, senior fashion editor untuk majalah Fabolous (Not the real name) disingkat Fab. Nggak sedikit yang ngira majalah ini franchise dari luar. Well, Tara sendiri yang jamin kalo semua content berasal dari kerja keras redaksinya sendiri. Makanya kadang mau gila rasanya pas kerjaan numpuk kayak monas di kubikel, sementara deadline itungan hari.
Selain Fabolous, masih ada satu majalah lagi di bawah naungan Mustika Group, majalah pria metroseksual, Famous namanya, disingkat Fam. Tara lebih suka nyebut itu majalah cowok sensual, soalnya cowok2 yang ada di majalah itu seksi2 semua haha. Bukan itu aja, setiap kali main ke sana selalu aja ada cowok mondar mandir telanjang dada atau minimal pake kaos ketat kayak Ricky Martin versi Shake Your Bon Bon keliaran di ruang studio foto.
Fab dan Fam berbagi tim fotografer. Kantornya berupa studio foto, ada di lantai delapan, deket pantry. Alasannya supaya cowok2 itu bebas merusak paru2 mereka, ngerokok sepuasnya dan nggak ganggu karyawan lain yang banyakan ceweknya, lagian juga ada tanda No Smoking di area kantor.
Setelah berurusan dengan bagian sekuriti, Tara masuk ke area lobi. Lagu2 lembut mengalun dari enam speaker yang di pasang di beberapa tempat di ruangan itu. Oh ye, selain cek keamanan, di daerah lobi ini juga sering ada cek status fashion yg biasanya dilakukan oleh sesama karyawan cewek. Top rank karyawan Mustika Group berbibir lancip dan suka komentar : anak2 Mustika Cosmetics, Fab dan Fam (tapi khusus bagian fashion dan beauty aja).
Ada satu orang yang paling dibenci Tara. Mita namanya, anak Fam. Sama2 hamba sahaya juga kayak Tara, tapi gayanya berasa real life Miranda Priestly aja hih. Dan sialnya dia juga lagi nunggu lift.
Tara yakin banget dia bakal jadi sarapan empuk bibir tumpis Mita, mana tampilan Mita tanpa cela pula, as usual.
“bajunya masih yang kemaren?”
“Nginep dimana lo semalem?”
“Pagi2 jangan comel deh” jawab Tara dengan nada nggak bersahabat.
“Lo punya kecengan baru trus nggak cerita ke gue? How could you?!” mukanya di bikin sok peduli yang bikin Tara mau muntah.
“Siapa elo? Lagian bukan kecengan juga..” oops keceplosan kannn
“Jadi apa? Selingkuhan?” tanyanya dengan tampang yang so kepo banget.
“Ta, bisa diem nggak!”
“Orang galak dikubur badak loh Ra” jawabnya asal sambil manyun2 sok imut.
“Masa? Berarti kuburan gue sama lo disatuin dong” jawab Tara dengan nada datar bak flat shoes.
“Sialan”
Ting!
Mita segera masuk ke lift dan Tara tetap di tempatnya.
“Kok nggak masuk?”
“Lo duluan aja” kata Tara manis dengan senyum pepsodent.
SKIP
Sambil nyeruput cappuccino yang tinggal di gelasnya, Tara berpikir untuk membuat tip singkat yang bener2 baru untuk rubrik dua halaman Hits and Tips. Setiap edisi, Tara harus buat minimal empat tip fashion dan prediksi fashion item apa yang bakal jadi the next best thing beberapa bulan ke depan. Tara sudah bikin 3 tip, dan tip terakhir malah stuck lama begini.
“Pagi semuanya!” Jo, yang buat Tara itu versi jantannya Mita, jalan di depan kubikel Tara sambil lempar senyum khasnya. Senyum cowok PK, batin Tara.
Tunggu deh, kalian tau kan kubikel itu apa? Atau kalian mungkin terlalu malas untuk cari tahu,nih tak kasih tahu ya. Kubikel itu kata serapan yang diserap secara serampangan dari kata cubicle, itu loh sekat2 kecil yang membagi ruang kantor jadi bilik2.
Sedikit tentang Jo. Namanya Joshua Dolken, nggak kok dia bukan sodaranya Adipati Dolken. Kalo boleh jujur ya, Jo ini paling oke dibandingkan sama fotografer lain yang kerja di kantor ini. Rambut ikalnya dibiarkan berantakan, seksi menurut orang2, nggak sisiran menurut Tara. Jo punya mata yang tajam dan bulu mata panjang, rahang persegi dan leher yang kokoh. Jo emang cakep. Tapi semua kualitas over the top itu mendadak ilang karna dia jago banget nyelanya!! Sialnya Tara selalu ‘kalah’ tiap kali cowok itu nyerang pake one liner mematikan.
Kayak sekarang.
Cowok itu ngeliat ke arah Tara,trus senyum.
“Eh ada si Bobo”
“Bobo? Siapa yang Bobo?”
Tara bingung
“Elo!” matanya berkilat2 nakal ngingetin Tara sama kucing garong yang sering keliaran di rumah lamanya di Bekasi dulu. Ini nggak penting deh ya.
“Bobo kan sama kayak elo, nggak ganti baju”
“Ada apa sih sama orang2 hari ini pada ngomentarin baju gue? Iya emang gue nggak ganti baju, gue nggak pulang kerumah dari kemaren. Trus apa gue langgar aturan perusahaan?!”
“Oh jadi lo nginep semalem?” cowok itu manggut2 dan sebelum Tara jawab, cowok itu ngambil gelas di meja Tara dan meminumnya.
“Hey, that’s mine!” percuma juga Tara ngomel, pas gelas itu diletakkan kembali udah sisa seperempat, cukup untuk memuaskan dahaga seekor kucing.
“Nginep atau nggak juga bukan urusan lo”
“Emang bukan urusan gue, gue cuma cari bahan obrolan aja, bosen berantem sama lo”
“Kalo lo bosen berantem sama gue, gue punya solusi ampuh”
“Apa?”
“Simpel aja..lo keluar dari perusahaan ini”
“Kenapa bukan lo aja yang keluar”
“Ngebiarin lo menang telak? Nggak usah lah ya” jawab Tara murka
“Ya kalo gitu lo masih harus stuck sama gue sampe tahun2 depan” cowok itu mengatakannya dengan nada santai dan seperti terhibur ngeliat Tara mencak2. Nggak ada marahnya sama sekali ni cowok. Sialan.
“Sorry doll face”
“Sudah berapa kali sih gue bilang gue nggak suka dipanggil doll face..” tiba2 telepon di meja Tara berdering.
“Halo?”
“Halo mbak, modelnya dah datang nih”
“Yang mana?”
“Malika mbak”
“Oh, nanti Bian yang jemput dia di lobi” Bian itu junior staff Fab sejak (mungkin) sebulan yang lalu. Di kantor nama Bian itu sering diplesetin jadi Biyance, maksudnya sih Beyonce saking melambainya tuh cowok.
Sebenernya Tara males kalo harus perang mulut sama cowok ganteng tapi iblis di depannya ini, tapi you know kan dia di sini buat kerja.
“Modelnya dah datang tuh, ke studio yuk”
“Okay”
SKIP
Jo membiarkan pemandangan itu merusak konsentrasinya. Nggak ada yang lebih seksi dari cewek yang bersemangat pas lagi kerja, Tiara, musuh bebuyutannya, termasuk salah satunya. Dia lagi breafing sama model untuk pemotretan hari ini, menjelaskan pose2 apa yang akan diambil. Tanpa ada maksud melebih2kan, emang cewek ini paling oke untuk pekerjaan ini. Sense of style nya tinggi dan selalu punya ide2 brilian yang nggak ditemukannya di majalah satu lagi (baca:Famous). Mita sih oke juga, cuma belakangan agak monoton.
“Sebentar lagi ya suh!” kata cewek itu dengan suara agak keras.
Jo nggak bisa untuk nggak senyum. Cewek itu menemukan cara baru untuk memanggilnya. Kali ini suh, as in Musuh. Sebenernya Jo nggak pernah anggap Tara musuh, malahan cewek itu adalah ‘mainan’ menarik yang dia utak utik kalau lagi bosan. Gampang marah sih. Dan semakin marah, Jo semakin terhibur.
SKIP
Seperti dugaannya, model bernama Marissa ini cocok banget pakai gaun cocktail bergaya tahun 50an yang dia temukan di salah satu butik di ITC Mangga Dua. Gadis itu emang udah cantik dari sananya.
“Fotografer tadi namanya Joshua ya?”
“Iya, dipanggil Jo”
“Orangnya lucu ya?”
Lucu? As in lucunya Azis Gagap atau Adam Levine nih? Lihat kan? Lucu dalam kamus cewek bener2 kompleks.
“Dah punya pacar atau belum sih dia mbak?”
Whoaaaaa! Wait wait wait...dia nanya apa tadi? Jo sudah punya pacar apa belum?.
Jujur sih Tara clueless kalo soal urusan pribadi Jo, lagian juga dia nggak mau tau.
“Wah kalo itu sih mending tanya langsung aja sama orangnya”
Seriously model cantik ini tertarik sama Jo? Jo si kurang ajar itu.Sekarang Tara malah kasian sama Marissa. Masih muda, cantik tapi rabun akut. Tapi keliatannya Marissa bener2 tertarik sama Jo, di sela2 sesi foto, Marissa selalu berada di radius cukup dekat dengan Jo. Dan tawa renyah yang dibuat2 itu, ckckck, familier banget di telinganya. Sebagai cewek, nggak perlu malu buat ngakuin kalau dia juga pernah ngelakuin gestur yg sama di depan cowok yang disuka. Istilah Tara, ‘ketawa jaim’ biasanya dilakukan sambil tutup2 mulut pake tangan, atau bikin suara ketawanya seindah mungkin. Pokoknya fake lah.
“Omaigat, otot2nya keras banget kayak (bang satrio) batu” Marissa megang lengan atas Jo dengan mulut terkagum2, which is, ekspresi itu sama fake-nya dengan tas Gucci abal2 di Tanah Abang.
Makin hari cewek2 seumuran Marissa makin agresif aja,batin Tara, geleng2 kepala mode on.
“Tadi bilangnya fitness dimana?Fitness First ya?”
Suara Jo nggak terlalu kedengaran, tapi kayaknya Jo membenarkan pernyataan Marissa, soalnya barusan cewek itu bilang lagi,
“Gue juga ngegym di sana, kapan2 gym bareng yuk, ajarin cara workout biar otot2 lengan gue bisa sekeren itu”
Tara nggak yakin tampang kayak Marissa pengin punya lengan perkasa macam Madonna. Parahnya lagi Jo manggut2 aja.
Oh God. Tara langsung buang muka.Abaikan..abaikan.., gumamnya seperti mantra. Tara terus mengucapkan itu sambil berbalik ke ruang ganti. Masih banyak hal yang harus dilakukan ketimbang nonton kronologis proses ‘pra-penyerbukan’. Meh!

Tara sendiri kerja di lantai sembilan, senior fashion editor untuk majalah Fabolous (Not the real name) disingkat Fab. Nggak sedikit yang ngira majalah ini franchise dari luar. Well, Tara sendiri yang jamin kalo semua content berasal dari kerja keras redaksinya sendiri. Makanya kadang mau gila rasanya pas kerjaan numpuk kayak monas di kubikel, sementara deadline itungan hari.
Selain Fabolous, masih ada satu majalah lagi di bawah naungan Mustika Group, majalah pria metroseksual, Famous namanya, disingkat Fam. Tara lebih suka nyebut itu majalah cowok sensual, soalnya cowok2 yang ada di majalah itu seksi2 semua haha. Bukan itu aja, setiap kali main ke sana selalu aja ada cowok mondar mandir telanjang dada atau minimal pake kaos ketat kayak Ricky Martin versi Shake Your Bon Bon keliaran di ruang studio foto.
Fab dan Fam berbagi tim fotografer. Kantornya berupa studio foto, ada di lantai delapan, deket pantry. Alasannya supaya cowok2 itu bebas merusak paru2 mereka, ngerokok sepuasnya dan nggak ganggu karyawan lain yang banyakan ceweknya, lagian juga ada tanda No Smoking di area kantor.
Setelah berurusan dengan bagian sekuriti, Tara masuk ke area lobi. Lagu2 lembut mengalun dari enam speaker yang di pasang di beberapa tempat di ruangan itu. Oh ye, selain cek keamanan, di daerah lobi ini juga sering ada cek status fashion yg biasanya dilakukan oleh sesama karyawan cewek. Top rank karyawan Mustika Group berbibir lancip dan suka komentar : anak2 Mustika Cosmetics, Fab dan Fam (tapi khusus bagian fashion dan beauty aja).
Ada satu orang yang paling dibenci Tara. Mita namanya, anak Fam. Sama2 hamba sahaya juga kayak Tara, tapi gayanya berasa real life Miranda Priestly aja hih. Dan sialnya dia juga lagi nunggu lift.
Tara yakin banget dia bakal jadi sarapan empuk bibir tumpis Mita, mana tampilan Mita tanpa cela pula, as usual.
“bajunya masih yang kemaren?”

“Nginep dimana lo semalem?”
“Pagi2 jangan comel deh” jawab Tara dengan nada nggak bersahabat.
“Lo punya kecengan baru trus nggak cerita ke gue? How could you?!” mukanya di bikin sok peduli yang bikin Tara mau muntah.
“Siapa elo? Lagian bukan kecengan juga..” oops keceplosan kannn
“Jadi apa? Selingkuhan?” tanyanya dengan tampang yang so kepo banget.
“Ta, bisa diem nggak!”
“Orang galak dikubur badak loh Ra” jawabnya asal sambil manyun2 sok imut.
“Masa? Berarti kuburan gue sama lo disatuin dong” jawab Tara dengan nada datar bak flat shoes.
“Sialan”
Ting!
Mita segera masuk ke lift dan Tara tetap di tempatnya.
“Kok nggak masuk?”

“Lo duluan aja” kata Tara manis dengan senyum pepsodent.
SKIP
Sambil nyeruput cappuccino yang tinggal di gelasnya, Tara berpikir untuk membuat tip singkat yang bener2 baru untuk rubrik dua halaman Hits and Tips. Setiap edisi, Tara harus buat minimal empat tip fashion dan prediksi fashion item apa yang bakal jadi the next best thing beberapa bulan ke depan. Tara sudah bikin 3 tip, dan tip terakhir malah stuck lama begini.
“Pagi semuanya!” Jo, yang buat Tara itu versi jantannya Mita, jalan di depan kubikel Tara sambil lempar senyum khasnya. Senyum cowok PK, batin Tara.
Tunggu deh, kalian tau kan kubikel itu apa? Atau kalian mungkin terlalu malas untuk cari tahu,nih tak kasih tahu ya. Kubikel itu kata serapan yang diserap secara serampangan dari kata cubicle, itu loh sekat2 kecil yang membagi ruang kantor jadi bilik2.
Sedikit tentang Jo. Namanya Joshua Dolken, nggak kok dia bukan sodaranya Adipati Dolken. Kalo boleh jujur ya, Jo ini paling oke dibandingkan sama fotografer lain yang kerja di kantor ini. Rambut ikalnya dibiarkan berantakan, seksi menurut orang2, nggak sisiran menurut Tara. Jo punya mata yang tajam dan bulu mata panjang, rahang persegi dan leher yang kokoh. Jo emang cakep. Tapi semua kualitas over the top itu mendadak ilang karna dia jago banget nyelanya!! Sialnya Tara selalu ‘kalah’ tiap kali cowok itu nyerang pake one liner mematikan.
Kayak sekarang.
Cowok itu ngeliat ke arah Tara,trus senyum.
“Eh ada si Bobo”

“Bobo? Siapa yang Bobo?”

Tara bingung
“Elo!” matanya berkilat2 nakal ngingetin Tara sama kucing garong yang sering keliaran di rumah lamanya di Bekasi dulu. Ini nggak penting deh ya.
“Bobo kan sama kayak elo, nggak ganti baju”

“Ada apa sih sama orang2 hari ini pada ngomentarin baju gue? Iya emang gue nggak ganti baju, gue nggak pulang kerumah dari kemaren. Trus apa gue langgar aturan perusahaan?!”

“Oh jadi lo nginep semalem?” cowok itu manggut2 dan sebelum Tara jawab, cowok itu ngambil gelas di meja Tara dan meminumnya.
“Hey, that’s mine!” percuma juga Tara ngomel, pas gelas itu diletakkan kembali udah sisa seperempat, cukup untuk memuaskan dahaga seekor kucing.
“Nginep atau nggak juga bukan urusan lo”

“Emang bukan urusan gue, gue cuma cari bahan obrolan aja, bosen berantem sama lo”

“Kalo lo bosen berantem sama gue, gue punya solusi ampuh”
“Apa?”
“Simpel aja..lo keluar dari perusahaan ini”
“Kenapa bukan lo aja yang keluar”
“Ngebiarin lo menang telak? Nggak usah lah ya” jawab Tara murka
“Ya kalo gitu lo masih harus stuck sama gue sampe tahun2 depan” cowok itu mengatakannya dengan nada santai dan seperti terhibur ngeliat Tara mencak2. Nggak ada marahnya sama sekali ni cowok. Sialan.
“Sorry doll face”

“Sudah berapa kali sih gue bilang gue nggak suka dipanggil doll face..” tiba2 telepon di meja Tara berdering.
“Halo?”
“Halo mbak, modelnya dah datang nih”
“Yang mana?”
“Malika mbak”
“Oh, nanti Bian yang jemput dia di lobi” Bian itu junior staff Fab sejak (mungkin) sebulan yang lalu. Di kantor nama Bian itu sering diplesetin jadi Biyance, maksudnya sih Beyonce saking melambainya tuh cowok.
Sebenernya Tara males kalo harus perang mulut sama cowok ganteng tapi iblis di depannya ini, tapi you know kan dia di sini buat kerja.
“Modelnya dah datang tuh, ke studio yuk”

“Okay”

SKIP
Jo membiarkan pemandangan itu merusak konsentrasinya. Nggak ada yang lebih seksi dari cewek yang bersemangat pas lagi kerja, Tiara, musuh bebuyutannya, termasuk salah satunya. Dia lagi breafing sama model untuk pemotretan hari ini, menjelaskan pose2 apa yang akan diambil. Tanpa ada maksud melebih2kan, emang cewek ini paling oke untuk pekerjaan ini. Sense of style nya tinggi dan selalu punya ide2 brilian yang nggak ditemukannya di majalah satu lagi (baca:Famous). Mita sih oke juga, cuma belakangan agak monoton.
“Sebentar lagi ya suh!” kata cewek itu dengan suara agak keras.
Jo nggak bisa untuk nggak senyum. Cewek itu menemukan cara baru untuk memanggilnya. Kali ini suh, as in Musuh. Sebenernya Jo nggak pernah anggap Tara musuh, malahan cewek itu adalah ‘mainan’ menarik yang dia utak utik kalau lagi bosan. Gampang marah sih. Dan semakin marah, Jo semakin terhibur.
SKIP
Seperti dugaannya, model bernama Marissa ini cocok banget pakai gaun cocktail bergaya tahun 50an yang dia temukan di salah satu butik di ITC Mangga Dua. Gadis itu emang udah cantik dari sananya.
“Fotografer tadi namanya Joshua ya?”

“Iya, dipanggil Jo”
“Orangnya lucu ya?”
Lucu? As in lucunya Azis Gagap atau Adam Levine nih? Lihat kan? Lucu dalam kamus cewek bener2 kompleks.
“Dah punya pacar atau belum sih dia mbak?”
Whoaaaaa! Wait wait wait...dia nanya apa tadi? Jo sudah punya pacar apa belum?.

Jujur sih Tara clueless kalo soal urusan pribadi Jo, lagian juga dia nggak mau tau.
“Wah kalo itu sih mending tanya langsung aja sama orangnya”
Seriously model cantik ini tertarik sama Jo? Jo si kurang ajar itu.Sekarang Tara malah kasian sama Marissa. Masih muda, cantik tapi rabun akut. Tapi keliatannya Marissa bener2 tertarik sama Jo, di sela2 sesi foto, Marissa selalu berada di radius cukup dekat dengan Jo. Dan tawa renyah yang dibuat2 itu, ckckck, familier banget di telinganya. Sebagai cewek, nggak perlu malu buat ngakuin kalau dia juga pernah ngelakuin gestur yg sama di depan cowok yang disuka. Istilah Tara, ‘ketawa jaim’ biasanya dilakukan sambil tutup2 mulut pake tangan, atau bikin suara ketawanya seindah mungkin. Pokoknya fake lah.
“Omaigat, otot2nya keras banget kayak (bang satrio) batu” Marissa megang lengan atas Jo dengan mulut terkagum2, which is, ekspresi itu sama fake-nya dengan tas Gucci abal2 di Tanah Abang.
Makin hari cewek2 seumuran Marissa makin agresif aja,batin Tara, geleng2 kepala mode on.
“Tadi bilangnya fitness dimana?Fitness First ya?”
Suara Jo nggak terlalu kedengaran, tapi kayaknya Jo membenarkan pernyataan Marissa, soalnya barusan cewek itu bilang lagi,
“Gue juga ngegym di sana, kapan2 gym bareng yuk, ajarin cara workout biar otot2 lengan gue bisa sekeren itu”
Tara nggak yakin tampang kayak Marissa pengin punya lengan perkasa macam Madonna. Parahnya lagi Jo manggut2 aja.
Oh God. Tara langsung buang muka.Abaikan..abaikan.., gumamnya seperti mantra. Tara terus mengucapkan itu sambil berbalik ke ruang ganti. Masih banyak hal yang harus dilakukan ketimbang nonton kronologis proses ‘pra-penyerbukan’. Meh!

Diubah oleh sayulovme 13-09-2014 08:39
1