Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#1097
PART 66 – I Call You Through The Rain eps. 7


Gue duduk di lantai teras rumah Posko KKN gue, sambil sesekali memainkan iPod di tangan. Gue memandangi anak-anak tetangga yang sedang bermain di teras rumah depan, dan melihat kedamaian di wajah mereka. Gue menghela napas panjang. Sebentar lagi KKN akan berakhir, dan kami berdelapan akan kembali ke kampus masing-masing dengan kesibukannya masing-masing. Intensitas pertemuan pasti akan menurun drastis. Dari yang tadinya ketemu setiap waktu, mulai dari bangun tidur, sampe mau tidur lagi. Sebentar lagi kami harus mohon diri dari desa yang menyenangkan ini.

Gue memandangi langit mendung, yang rupanya sudah menumpahkan hujan walaupun cuma sedikit. Gue bakal merindukan tempat ini, suasana ini, ketenangan ini dan orang-orang ini. Penduduk desa ini sangat ramah, bahkan terlalu ramah, kepada kami para mahasiswa KKN. Gak jarang mereka menyuruh kami untuk menginap dirumah mereka, meskipun kami tidak bisa memenuhi permintaan tersebut. Gue menghela napas panjang, dan tersenyum sendiri, senyum bahagia. Gue bahagia bisa menumbuhkan rasa sayang di benak penduduk sekitar. Gue bahagia bisa berkontribusi, walaupun kecil, terhadap kehidupan mereka.

Gue menghirup bau tanah basah yang khas karena hujan, atau yang disebut petrichor. Sambil bersandar pada pilar, gue menikmati suasana hening ini, sampai kemudian gue menyadari ada seseorang yang duduk disamping gue. Vina. Gue menoleh ke Vina dan tersenyum.

Quote:


Gue menoleh ke Vina. Hari itu dia pake kaos berlengan panjang yang digulung sampe siku. Mukanya agak pucat. Entah itu memang aslinya seperti itu, atau dia lagi gak begitu sehat, gue gak tau. Dia duduk disamping gue sambil mendekap lututnya didepan dada. Kepalanya ditaruh diatas kedua lututnya itu sambil menoleh ke gue.

Quote:


Waduh, pertanyaan sulit menurut gue. Gue terdiam sejenak, dan memandangi langit. Kemudian gue menoleh ke Vina lagi, yang tetap berada di posisi yang sama seperti itu.

Quote:


Vina tersenyum lagi, dan mengalihkan pandangannya ke rumah depan. Ada kesunyian diantara kami berdua. Kesunyian yang tadi gue nikmati. Gue liat hujan turun semakin deras, dan mulai menghantam dedaunan di depan gue. Sesekali kaki gue terpercik air hujan yang dingin. Gue mulai merasakan angin yang bertiup dan bercampur dengan air hujan, dan itu membuat gue sedikit menggigil kedinginan. Kemudian gue dengar Vina mulai berbicara lagi.

Quote:


Gue terpaku dan merasakan sesuatu yang aneh. Tangan gue merasa dingin sekali. Lebih dingin daripada biasanya. Gue menoleh ke Vina.

Quote:


Vina tertawa pelan dan kemudian menggeser duduknya mendekati gue. Dia kedinginan kayaknya, sama seperti gue.

Quote:


Hujan masih terus turun, dan gue liat anak-anak diseberang rumah udah menghilang, entah kemana. Mungkin orang tua mereka menyuruh masuk ke dalam rumah daripada kehujanan. Sesekali gue menghapus percikan-percikan air hujan di telapak kaki gue.

Quote:


Vina tersenyum dan menengadahkan kepalanya, memandang ke langit yang mendung.

Quote:


Gue terpaku. Gue menoleh ke Vina dan memandangi matanya lekat-lekat. Dan tanpa diduga, seperti ada aliran listrik yang menghubungkan kami berdua. Yang membuat gue mendadak bisa mengerti siapa yang dia maksud.

Quote:


Vina tersenyum, mengangguk kecil dan memiringkan kepalanya.

Quote:



Dan hujan pun turun semakin deras membasahi desa ini.
khodzimzz
jenggalasunyi
pulaukapok
pulaukapok dan 4 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.