- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Bersambung: Voyeurism
...
TS
widka
Cerita Bersambung: Voyeurism
Quote:

Quote:
Judul Karya : Voyeurism
Jenis Karya : Fiksi
Genre Karya : Detektif, Misteri, Drama.
Target Pembaca : Remaja-Dewasa
Usia : 17+
Quote:
HOT COVER

Spoiler for PRAWACANA:
PRAWACANA
Kisah ini menceritakan kontroversi pengakuan pelecehan seksual yg dialami ALINA pada masa lalunya. Apakah benar atau salah bahwa kejadian itu benar-benar terjadi? Seberapa akuratkah ingatan seseorang?
Seperti yang kita ketahui bahwa ada banyak tulisan yang dipublikasikan mengenai pulihnya ingatan tentang pelecehan seksual di masa anak-anak berakhir keliru atau tidak koheren (nyambung) dengan fakta-fakta yang ada.
Lantas cerita berlanjut ke polisi muda yang bernama WIDKA, yang menderita voyeurisme. Voyeurisme adalah penyakit psikologis di mana penderitanya mencapai kepuasan seksual hanya dengan cara mengintip. Namun, tanpa sengaja aktifitas terlarangnya itu membuat sang tokoh tahu misteri dibalik kontroversi yang menyelimuti ALINA.
Kisah yang menarik tentang drama-hasrat-kriminal dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, sehingga kisah ini sangat layak untuk dinikmati sebagai bacaan yang menghibur sekaligus mengundang rasa penasaran.
Saya akan update terus cerita bersambung ini jika agan-agan berkenan terhadap cerita yang sedang saya kembangkan.
Terimakasih.
Seperti yang kita ketahui bahwa ada banyak tulisan yang dipublikasikan mengenai pulihnya ingatan tentang pelecehan seksual di masa anak-anak berakhir keliru atau tidak koheren (nyambung) dengan fakta-fakta yang ada.
Lantas cerita berlanjut ke polisi muda yang bernama WIDKA, yang menderita voyeurisme. Voyeurisme adalah penyakit psikologis di mana penderitanya mencapai kepuasan seksual hanya dengan cara mengintip. Namun, tanpa sengaja aktifitas terlarangnya itu membuat sang tokoh tahu misteri dibalik kontroversi yang menyelimuti ALINA.
Kisah yang menarik tentang drama-hasrat-kriminal dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, sehingga kisah ini sangat layak untuk dinikmati sebagai bacaan yang menghibur sekaligus mengundang rasa penasaran.
Saya akan update terus cerita bersambung ini jika agan-agan berkenan terhadap cerita yang sedang saya kembangkan.
Terimakasih.
Quote:
Hot Comment Sampai BAB VIII

Quote:
Original Posted By princess.anne►
Ane juga tau cerita ini setelah liat trit agan di CYSTG
Dari sana aja udah terpesona sama pengetahuan agan ttg kepribadian
Dan 4 hal di atas yg bikin ane makin WOW sama karya agan ini
Judul kayak gini justru bagus, unik. Coba kalo judulnya langsung: petualangan sang pengintip, sedikit agak basi. Tapi dengan kata voyeurism, pertama bikin kening berkerut, lalu semakin bikin penasaran, pengen menggali lebih dalem, endingnya "ooooh.... gitu!"
Oya satu hal lagi yang paling ane suka, agan ga cuma nyediain cerita yang bikin penasaran, menghibur, tapi juga memberikan banyak pengetahuan!
I love it!
Ane penggemar berat genre kayak gini
Pokoke semangat terus berkarya gan!
Ane juga tau cerita ini setelah liat trit agan di CYSTG

Dari sana aja udah terpesona sama pengetahuan agan ttg kepribadian

Dan 4 hal di atas yg bikin ane makin WOW sama karya agan ini
Judul kayak gini justru bagus, unik. Coba kalo judulnya langsung: petualangan sang pengintip, sedikit agak basi. Tapi dengan kata voyeurism, pertama bikin kening berkerut, lalu semakin bikin penasaran, pengen menggali lebih dalem, endingnya "ooooh.... gitu!"
Oya satu hal lagi yang paling ane suka, agan ga cuma nyediain cerita yang bikin penasaran, menghibur, tapi juga memberikan banyak pengetahuan!

I love it!
Ane penggemar berat genre kayak gini
Pokoke semangat terus berkarya gan!
Quote:
Original Posted By Blazerknight►homina homina homina, keren banget ceritanya asli..... 

Quote:
Original Posted By septhia►hari minggu, gak ada hiburan, buka kaskus liat thread agan, sungguh luar biasa ceritanya...gini ini yg seru gak hanya cerita cinta melulu...salut for agan...
Quote:
Original Posted By Garyu73►What gilaaak? Ini apa? Baru pertama liat uy, ini buku ya? Keren banget uy TS bisa nyampe disini terus menyalurkan ide gilanya 
Keren gan, mudahan ada waktu biar bisa baca ceritanya

Keren gan, mudahan ada waktu biar bisa baca ceritanya

Quote:
Original Posted By bapaknya.tongol►wanjeeeeng, aktingnya alin mantap kalee bah...
"pelakunya adalah kau". sambil menjukan jati tengah ke arah kolonel
ataukah hanya mimpi widka
bodo amat, yg penting cepet abdet lagiii braaay

tunggu cendol mateng ya braaay....
buru apdet nya..
"pelakunya adalah kau". sambil menjukan jati tengah ke arah kolonel

ataukah hanya mimpi widka

bodo amat, yg penting cepet abdet lagiii braaay

tunggu cendol mateng ya braaay....
buru apdet nya..
Quote:
Original Posted By chayono►Wah gan abis baca bab 5 part 1 kayaknya bakal makin dalem nih ceritanya. Awalnya ane percaya alina tuh gila. Tapi pas baca mengenai pendapat komandan jo trus review ulang kayaknya ada yg aneh dengan kolonelnya. Seolah olah di buat skenario alina meninggal padahal engga. Di tunggu part berikutnya yg lebih ngebuka misterinya.
Quote:
Quote:
Original Posted By velerkajut►akhirnya update juga makin keren aja nh jalur ceritanya gue suka cara penulisannya yg frontal jd ga kaku bacanya nice gan di tunggu part 3 nya

Quote:
Original Posted By cUmplanks►mana bab v!! manaaaaaaaaa...!!
manaaaaaa ...!! bab v bab v bab v...
hayok cepat gannnnn..penasaran 1/2 idup ini..!!
bener" nice post gan..cendol +1 dari ane yah..

manaaaaaa ...!! bab v bab v bab v...

hayok cepat gannnnn..penasaran 1/2 idup ini..!!

bener" nice post gan..cendol +1 dari ane yah..

Quote:
Original Posted By TahtaArash►bab V part 2 mana gan. ane udh bli paket extra buat baca cerita agan
Quote:
Original Posted By umikrachmi►Gan masih bersambung yaaa ceritanyaaa? Seruuu sumpah
Quote:
Quote:
Original Posted By milan22►Yah,ternyata masih bersambung, padahal ane udah siap2 menebak endingnya..
Update nya kapan gan?
Update nya kapan gan?
Quote:
Original Posted By encantz►update lagi mas, alinanya jgn dimatiin yak 

Quote:
Quote:
Quote:
Original Posted By dados8756►izin stalk mas bro
, bagus ceritanya... sambil sekalian belajar
, bagus ceritanya... sambil sekalian belajarQuote:
Quote:
BAB I












BERSAMBUNG
INDEX
Quote:
BAB II Versi jpg
BAB II Versi Text Part 1
BAB II Versi Text Part 2
BAB II Versi Text Part 3
BAB III Versi Text Part 1
BAB III Versi Text Part 2
BAB III Versi Text Part 3
BAB IV Versi Text Part 1
BAB IV Versi Text Part 2
BAB IV Versi Text Part 3
BAB V Versi Text Part 1
BAB V Versi Text Part 2
BAB V Versi Text Part 3
BAB VI Versi Text Part 1
BAB VI Versi Text Part 2
BAB VI Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 1
BAB VII Versi Text Part 2
BAB VII Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 4
WFull Version: Wattpad
BAB II Versi Text Part 1
BAB II Versi Text Part 2
BAB II Versi Text Part 3
BAB III Versi Text Part 1
BAB III Versi Text Part 2
BAB III Versi Text Part 3
BAB IV Versi Text Part 1
BAB IV Versi Text Part 2
BAB IV Versi Text Part 3
BAB V Versi Text Part 1
BAB V Versi Text Part 2
BAB V Versi Text Part 3
BAB VI Versi Text Part 1
BAB VI Versi Text Part 2
BAB VI Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 1
BAB VII Versi Text Part 2
BAB VII Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 4
WFull Version: Wattpad
Spoiler for Cerita Lain? Mampir Gan:
Quote:
LAIN

Sinopsis
Seorang wanita mendapati dirinya tidak sendiri ketika ditinggal suaminya bekerja. Apa yang terjadi? Story Will SHOCK YOU!!!Click Here!!

Sinopsis
Seorang wanita mendapati dirinya tidak sendiri ketika ditinggal suaminya bekerja. Apa yang terjadi? Story Will SHOCK YOU!!!Click Here!!
Quote:
TRAGEDI PEMBUNUHAN DI ZANGGARO


Sinopsis
Kali ini Inspektur Jo dan Assitennnya, Widka harus memecahkan pembunuhan sadis di Zanggaro, salah satu Negara bagian Afrika.Menurut saksi, ciri-ciri seorang pelaku pembunuhan persis seperti Sibiso Vilikazi dan Sibiso Khumalo. Keduanya saudara kembar. Namun ada 1 hal yang pasti diantara keduanya, yakni salah satu dari mereka adalah seorang pembohong patologis. Link? Click here!!
Kali ini Inspektur Jo dan Assitennnya, Widka harus memecahkan pembunuhan sadis di Zanggaro, salah satu Negara bagian Afrika.Menurut saksi, ciri-ciri seorang pelaku pembunuhan persis seperti Sibiso Vilikazi dan Sibiso Khumalo. Keduanya saudara kembar. Namun ada 1 hal yang pasti diantara keduanya, yakni salah satu dari mereka adalah seorang pembohong patologis. Link? Click here!!
Spoiler for Makasih Cendolnya:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 124 suara
Misteri apa yang agan harapkan terkuak dari cerita ini?
Alina memang gila - Drama, Psychological Thriller
7%
Semua Cuma Bayangan Widka - Drama, Psychological Thriller, Horor
13%
Konspirasi Kolonel - Action, Thriller
42%
TS-nya Gila
38%
Diubah oleh widka 25-02-2017 09:51
anasabila dan yuliaherliani99 memberi reputasi
0
109.2K
Kutip
781
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
widka
#239
Spoiler for BAB VI Part 1 Text:
BAB VI
--Part 1--
Text
--Part 1--
Text
Bayang-bayang tentang Alina semakin hari semakin menganggu kesehatan Widka, bahkan trauma tentang gadis itu menyusup hingga mengganggu hasrat seksualnya. Diam-diam polisi muda itu menyisir rumah bordil di Jakarta Barat hanya mencari seorang gadis yang profilnya mirip dengan Alina. Dia datang sendirian saja, lalu mengamati pramuria-pramuria yang dipajang di sebuah panggung kecil. Di bawah sinar lampu yang remang-remang Widka mengamati pramuria itu satu persatu, kemudian menghilang tanpa menyewa satupun dari mereka. Begitu terus, dari tempat satu ke tempat yang lain.
Tempat pramuriaan di Jakarta telah menjadi isu klasik yang menuai kontroversi. Ada pemerintah kota sebelumnya yang melokalisir pramuriaan secara legal dengan konsekuensi menetapkan pajak yang tinggi. Tujuannya, selain menaikan pendapatan daerah, agar tempat-tempat seperti itu mudah diatur dan dibina. Tetapi polisi moral selalu menentang pemerintahan yang melegalkan pramuriaan tersebut dan menuntut untuk menutupnya. Pemerintah itu berhasil digulingkan, tetapi tempat pramuriaan terus tumbuh seperti jamur. Walaupun secara resmi di tutup, tetapi apakah praktek pramuriaan yang menjadi titik permaslahan itu hilang? Tidak praktek pramuriaan justru muncu sembunyi-sembunyi bak jamur. Sekarang, tempat pramuriaan itu seperti dibiarkan begitu saja, tanpa induk semang yang mengatur kegiatannya. Walaupun jelas-jelas ada larangan, tetapi pemerintah kota tidak benar-benar serius memburu untuk menutupnya. Kini praktik pramuriaan bukan lagi soal dosa lendir, melainkan: premanisme, minuman keras, narkotika, dan kekerasan.
Waktu hampir tengah malam. Setelah memarkir Kawasakinya di pinggiran kali, Widka menginjakkan sepatu botnya kembali di jalanan becek. Dengan menggunakan topi koboi, kacamata hitam, dan jaket kerah tinggi, polisi itu nampak seperti orang yang sedang menyamar. Namun alih-alih menyamar, ia justru menjadi pusat perhatian banyak orang karena pakaiannya yang tidak wajar.
Setelah melewati beberapa gang ditawar kesana-kemari, akhirnya dia sampai di rumah bordil milik Jon. Rumah bordil di sana dibangun di pinggiran kali, bangunannya dibuat kokoh dan memiliki dua lantai. Lantai dasar di gunakan untuk transaksi dan lobby para penjaja cinta. Di tempat itu juga disediakan panggung kecil yang digunakan untuk memajang pramuria-pramuria agar pelanggan bisa melihatnya sebelum transaksi dimulai. Di lantai atas di bangun kamar-kamar dengan bilik papan seadanya. Di tempat inilah para kupu-kupu malam dan pasangannya menghabiskan malam bersama.
Sekarang Widka berniat untuk menyewa salah satu dari mereka. Mudah-mudahan dengan membawa sebuah gaun satin merah – yang persis dimiliki Alina – bisa mengembalikan hasrat seksualnya . Dia membelinya tadi siang di sebuah mall.
Widka duduk kalem di sofa pengunjung. Tampaknya dia tidak masalah dengan kacamata hitamnya walaupun di dalam rumah lampu remang-remang. Dengan lagu dangdut tarling yang bising Widka melihat nanar semua pengunjung yang ada di sana, duduk di sebuah kursi pelanggan yang mengarah ke panggung. Dia berhadapan dengan pramuria-pramuria yang duduk berjejer. Matanya mengikuti garis horizontal perlahan dari kanan ke kiri mengamati mereka satu persatu. Tidak ada yang mirip Alina. Pandangannya berubah mengamati sekeliling rumah bordil pengunjung, pramuria, jongos, dan germo berbaur dalam kilatan lampu cahaya disko.
Widka memanggil seorang jongos, namun suara sound system menenggelamkan perhatian suara lainnya. Ia bergerak-gerak hebat untuk mendapat perhatian. Berhasil. Seorang jongos menolehnya dan polisi itu langsung meminta bir. Jongos siap siaga di samping kulkas dan menghantar pesanannya.
Widka kembali mengamati pramuria yang di pajang. Rata-rata dari mereka mengenakan baju yang bergaun tipis hingga setiap bentuk lekukannya terekspose dengan jelas. Dia mengulangi gerakan matanya sambil meminum bir. Dari balik kacamata hitamnya, pupil itu bergerak perlahan dari kanan ke kiri. Setelah habis satu botol, tiba-tiba dia menoleh tajam saat pramuria baru nongol dari balik pintu. Perempuan itu berjalan dengan langkah gontai menuju kursi yang berseberangan dengan para predator. pramuria itu berkulit putih dan berambut coklat. Bagi Widka, penampakan pramuria itu sekilas mirip dengan Alina jadi dia putuskan untuk menyewanya. Ia berjalan kalem ke jongos yang memiliki tompel di lehernya. Berbisik untuk segera membooking pramuria yang baru saja datang itu. Ia keluarkan uang dari dompetnya. Membayar. Tidak ada yang lebih murah atau lebih mahal, semua telah dipatok dengan harga yang sama. Dia amati lagi pramuria itu yang memakai tangtop putih dengan celana hotpants berwarna hitam itu. Tubuhnya agak pendek dari bayanganya – Alina – tetapi lumayanlah. Selesai membayar, jongos memanggil pramuria itu. Dia mengangguk paham dan membawa Widka berjalan ke lantai atas. Di lantai atas tersedia bilik-bilik kamar yang disekat sederhana dengan triplek. Lantainya terbuat dari papan-papan kayu yang dipaku seadanya. Sekarang keduanya berada di kamar kupu-kupu malam. Widka melihat sekelilingnya, nampak sebuah kasur kapuk dan lemari plastik dan foto-foto pramuria itu di dinding. Untuk sejenak mereka berdua saling berdiaman dan Widka merasa gundah dengan suasana yang tidak biasa.
“Bawa kondom?” Tanya pramuria itu dingin.
“Apa?”
“Kondom?” ia mengulangi.
Widka menggeleng.
“Aku ada, nih.”
Perempuan itu berjalan, membuka laci, mengambil potongan plastik di tangannya. Dengan gayanya yang cuek, bungkusan itu disodorkan ke pria yang menyewanya begitu saja.
“Lima belas ribu.”
Widka tidak punya bayangan tentang kondom, tetapi dia harus melepas dan mengambil sesuatu di dalam ranselnya. Sebuah gaun merah ia keluarkan, lalu memberikan ke pramuria itu.
“Coba deh,” gumamnya.
pramuria itu mengantongi kondom di sakunya, lalu menempelkan baju tersebut hingga menutupi tubuhnya.
“Bagus?” Tanya dia.
Widka hanya manggut-manggut perlahan.
“Kamu nggak mau lepas kacamata? Topi?”
Buru-buru Widka membuka topinya dan menggantungnya di paku-paku yang berada di balik pintu. Setelah itu ia membuka jaketnya. Kacamatanya tetap dia kenakan. Disaat yang bersamaan, pramuria itu langsung membuka tantop dan celana hotpantsnya. Saat hendak membuka dalemannya, Widka mendecit: “Tahan.. tahan,” sebelah tangannya ia julurkan mengisyaratkan untuk berhenti. “Sekarang coba di pakai baju itu dulu.”
pramuria yang ditaksir Widka itu usianya dua puluh tahunan, manut dan memakainya dengan cepat.
“Bagaimana, cocok gak?” Tanya pramuria itu dibarengi dengan senyuman nakal.
Lampu kamar yang terlihat lebih terang dibandingkan di lantai dasar membuat wajah pramuria itu nampak berbeda dari bayangannya. Widka sama sekali tidak merasakan apa-apa dari caranya memandang pramuria tersebut.
“Tunggu sebentar.” Kata Widka kasar. Dia berlari ke bawah meninggalkan pramuria di kamar sendirian. Menuju lantai dasar. Saat di bawah, dia meminta jongos yang memiliki tompel di lehernya itu untuk mengambil dua botol bir, membayarnya, lalu kembali ke atas dengan cepat dan menemui pramuria kembali di kamar.
“Mau minum?” Tanya Widka, sambil memberikan satu botol ke pramuria itu.
“Tentu,” katanya yang duduk di tepi kasur.
“Maafkan aku, tetapi aku butuh ini,” sambil mengangkat botol birnya, kemudian duduk di sisi kanan pramuria.
“Tidak apa.” Kata pramuria itu sambil tertawa. “Lucu deh. Baru pertama kali ya?”
“Kok tahu?” tanya Widka berkedip dua kali.
“Kamu kelihatan tegang, sayang.”
Widka diam, lalu menenggak birnya satu kali. pramuria itu tampak di atas angin melihat pelanggannya yang culun. Barangkali dia bosan dengan pria yang penuh nafsu.
“Ya.” Jawab Widka lambat.
Suara mendesah terdengar melalui celah-celah kamar. Kadang desahan itu diiringi raungan, teriakan, dan ajakan suara si cewek. Suara derit kasur yang terbuat dari kayu, goyah dan primitif itu juga terdengar secara ritmis. Begitu pramuria itu mendegarnya, ia menatap Widka, lalu tertawa nakal serta menggigit bibirnya.
“Dewi.” pramuria itu mencoba berinteraksi.
Widka menoleh ke arahnya, tidak ngeh.
“Aku Dewi.”
“Oh, hai… Dewi.”
Diam. Widka kembali merenung dan memusatkan konsentrasi pada minumannya.
“Namamu siapa, jagoan?”
“Widka.”
“Oh. Widka, nama yang bagus… Ok Widka. Kapan kita memulainya? Jangan sampai minumanku ini habis duluan, bisa-bisa basah sebelum kau timpa,” perempuan itu mendesah.
Habis setengah botol, Widka bangkit dari duduknya. pramuria itu bereaksi cepat dengan menaruh botol bir di meja sudut. Menakar dari wajah pramuria itu, ia kelihatan bersiap-siap untuk melayani jagoannya.
“Tidurlah,” Widka memberi komando. “Berbaringlah di kasur.”
pramuria itu manut lagi, seperti anjing yang hendak di lempar tulang. Dia berbaring miring
Widka mangamatinya dengan serius dari pinggir kasur. Akan tetapi suara derit dari kamar sebelah mengganggu kosentrasinya.
“Udah?” tanya pramuria itu.
Widka diam. Ia masih serius mengamati pramuria. Tangannya mengangkat baju pramuria itu hingga tersingkap celana dalamnya. Dia kembali meminum satu tengukan. Mengamatinya lagi. Mengangkat botolnya satu tegukan. Konsentrasi lagi.
pramuria itu merasa aneh dengan kelakuan pelanggannya. Merasa tidak sabar dia bergumam sesuatu: “Gimana, bisa kita mulai?”
Widka diam, seolah ia tidak bernafas lagi. Suasana hening. Terdengar suara ringkikan lain dari kamar sebelah. Kali ini lebih berisik, si cowok nampaknya membuat gerakan yang semakin lama semakin cepat hingga kasurnya terpentok bilik menimbulkan suara. Si cewek tidak mau kalah, dia mengerang panjang sampai kehabisan nafas. Hingga akhirnya berhenti mandadak, terngengah-engah. “Sudah selesai?” Widka membatin. Sayup-sayup terdengar lagi suara musik disco yang berasal dari lantai dasar.
Sampai di sana, Widka masih belum bisa merasakan keinginan untuk menghajar si pramuria.
“Tidak berhasil,” pikir Widka kecewa. Dia merasa dirinya cuma buang-buang waktu jika membayangkan orang lain seperti Alina.
“Buka bajunya,” ia berkoak. “Maaf , tetapi aku masih membutuhkannya.”
pramuria itu merasa dirinya bingung, membukanya, lalu menyerahkan gaun itu sambil menelan tanda tanya dalam pikirannya. Mereka tidak melakukan apa-apa sepanjang kurang lebih dua puluh menit. Dan ini merupakan pelanggan yang paling aneh yang pernah dia temui sepanjang karirnya sebagai kupu-kupu malam.
Widka memberikan tip kepada si pramuria, merapatkan jaket, topi dan kacamatanya. Dengan sedikit terburu-buru pria itu bergegas keluar ke udara bebas. Ia nyalakan rokok dan menghembuskannya ke udara bebas. Saat di tengah gang yang berkelok-kelok, Widka merasa dirinya dicolek oleh sederetan pramuria. “Di luar tempat senior,” pikirnya. Mereka menawari dirinya untuk dijajaki. Ada lagi germo-germo yang menawarinya untuk masuk ke dalam rumah bordil, melihat koleksi-koleksi mereka di dalam markasnya. Dengan sopan Widka menolak mereka semua sambil mengangkat sebelah tangannya.
Kini dia keluar dari gang sempit. Dari sini semerbak bau amis dari pelantaran kali yang kotor itu terasa menusuk-nusuk hidungnya. Widka terus bergerak menjauhinya, melirik sederetan mata manusia yang menerjang manatapnya. Ia merasa was-was jika dirinya dikenali, tetapi ternyata mereka adalah para tukang ojek. Ketika bertumbuk pandang, mereka memanfaatkan itu untuk menawari Widka sebuah tumpangan.
“Ojek.. Ojek?” katanya.
Seperti biasa Widka mengangkat lagi sebelah tangannya.
Setelah sampai di parkiran, dia kasih uang kepada tukang parkir, dan menyalakan Kawasakinya hingga memecah keheningan malam. Kepulan asapnya melaju bak roket menuju jalan raya. Jalanan sepi saat jam dua belas malam. Puluhan lampu jalan dan sinar rembulan jatuh di jalan panjang yang lurus.
Widka berhenti sejenak saat lampu merah. Dari situ telihat sebuah papan billboard besar yang mengumumkan film The Dark Knight Rises yang dibintangi oleh Chritian Bale. “Si kampret itu laku juga rupanya.”
Untuk sesaat pikirannya kosong, namun ketika lampu merah berubah menjadi kuning, saat itulah Widka menyadari sesuatu. Di sebrang jalan, pandangan matanya jatuh pada penampakan seorang gadis yang mirip dengan Alina. Dia memakai jaket kulit berwarna hijau tua dan rok jeans yang pandek. Secara profil wajahnya mirip, tetapi rambutnya sama sekali berbeda: berwarna hitam dan lurus. Widka memajukan motornya perlahan, mendekat kepadanya sebelum dia berhasil menyetop sebuah taxi yang membawa gadis itu pergi. Spontan Widka berbelok arah dan merasa penting untuk membuntutinya. Dengan motor yang dia miliki tentu akan mudah menempel taxi tersebut dalam kondisi apapun. Entah kemana mobil itu akan membawanya, ia tidak punya bayangan. Yang jelas mereka bergerak ke arah selatan. Dengan menjaga jarak yang aman, Widka terus memburunya.
Di daerah Kemang, taxi itu berhenti dan menurunkan penumpangnya. DI depan gedung itu sebuah papan billboard besar yang bertuliskan: “The Forest – club and lounge” terpampang dengan kelap-kelip lampu menyertainya. Perempuan itu terlihat menghampiri kedua temannya yang sudah menunggu di parkiran, kemudian hilang pandang di balik gedung. Widka buru-buru memarkir motornya, membuka helm, merapatkan topi, memakai kacamata hitam, lalu tergesa-gesa mengikuti arah perempuan itu masuk.
Siapakah gadis itu?
>>>
Diubah oleh widka 12-09-2014 21:12
0
Kutip
Balas

ternyata si alina emg sakit beneran

