- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Bersambung: Voyeurism
...
TS
widka
Cerita Bersambung: Voyeurism
Quote:

Quote:
Judul Karya : Voyeurism
Jenis Karya : Fiksi
Genre Karya : Detektif, Misteri, Drama.
Target Pembaca : Remaja-Dewasa
Usia : 17+
Quote:
HOT COVER

Spoiler for PRAWACANA:
PRAWACANA
Kisah ini menceritakan kontroversi pengakuan pelecehan seksual yg dialami ALINA pada masa lalunya. Apakah benar atau salah bahwa kejadian itu benar-benar terjadi? Seberapa akuratkah ingatan seseorang?
Seperti yang kita ketahui bahwa ada banyak tulisan yang dipublikasikan mengenai pulihnya ingatan tentang pelecehan seksual di masa anak-anak berakhir keliru atau tidak koheren (nyambung) dengan fakta-fakta yang ada.
Lantas cerita berlanjut ke polisi muda yang bernama WIDKA, yang menderita voyeurisme. Voyeurisme adalah penyakit psikologis di mana penderitanya mencapai kepuasan seksual hanya dengan cara mengintip. Namun, tanpa sengaja aktifitas terlarangnya itu membuat sang tokoh tahu misteri dibalik kontroversi yang menyelimuti ALINA.
Kisah yang menarik tentang drama-hasrat-kriminal dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, sehingga kisah ini sangat layak untuk dinikmati sebagai bacaan yang menghibur sekaligus mengundang rasa penasaran.
Saya akan update terus cerita bersambung ini jika agan-agan berkenan terhadap cerita yang sedang saya kembangkan.
Terimakasih.
Seperti yang kita ketahui bahwa ada banyak tulisan yang dipublikasikan mengenai pulihnya ingatan tentang pelecehan seksual di masa anak-anak berakhir keliru atau tidak koheren (nyambung) dengan fakta-fakta yang ada.
Lantas cerita berlanjut ke polisi muda yang bernama WIDKA, yang menderita voyeurisme. Voyeurisme adalah penyakit psikologis di mana penderitanya mencapai kepuasan seksual hanya dengan cara mengintip. Namun, tanpa sengaja aktifitas terlarangnya itu membuat sang tokoh tahu misteri dibalik kontroversi yang menyelimuti ALINA.
Kisah yang menarik tentang drama-hasrat-kriminal dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, sehingga kisah ini sangat layak untuk dinikmati sebagai bacaan yang menghibur sekaligus mengundang rasa penasaran.
Saya akan update terus cerita bersambung ini jika agan-agan berkenan terhadap cerita yang sedang saya kembangkan.
Terimakasih.
Quote:
Hot Comment Sampai BAB VIII

Quote:
Original Posted By princess.anne►
Ane juga tau cerita ini setelah liat trit agan di CYSTG
Dari sana aja udah terpesona sama pengetahuan agan ttg kepribadian
Dan 4 hal di atas yg bikin ane makin WOW sama karya agan ini
Judul kayak gini justru bagus, unik. Coba kalo judulnya langsung: petualangan sang pengintip, sedikit agak basi. Tapi dengan kata voyeurism, pertama bikin kening berkerut, lalu semakin bikin penasaran, pengen menggali lebih dalem, endingnya "ooooh.... gitu!"
Oya satu hal lagi yang paling ane suka, agan ga cuma nyediain cerita yang bikin penasaran, menghibur, tapi juga memberikan banyak pengetahuan!
I love it!
Ane penggemar berat genre kayak gini
Pokoke semangat terus berkarya gan!
Ane juga tau cerita ini setelah liat trit agan di CYSTG

Dari sana aja udah terpesona sama pengetahuan agan ttg kepribadian

Dan 4 hal di atas yg bikin ane makin WOW sama karya agan ini
Judul kayak gini justru bagus, unik. Coba kalo judulnya langsung: petualangan sang pengintip, sedikit agak basi. Tapi dengan kata voyeurism, pertama bikin kening berkerut, lalu semakin bikin penasaran, pengen menggali lebih dalem, endingnya "ooooh.... gitu!"
Oya satu hal lagi yang paling ane suka, agan ga cuma nyediain cerita yang bikin penasaran, menghibur, tapi juga memberikan banyak pengetahuan!

I love it!
Ane penggemar berat genre kayak gini
Pokoke semangat terus berkarya gan!
Quote:
Original Posted By Blazerknight►homina homina homina, keren banget ceritanya asli..... 

Quote:
Original Posted By septhia►hari minggu, gak ada hiburan, buka kaskus liat thread agan, sungguh luar biasa ceritanya...gini ini yg seru gak hanya cerita cinta melulu...salut for agan...
Quote:
Original Posted By Garyu73►What gilaaak? Ini apa? Baru pertama liat uy, ini buku ya? Keren banget uy TS bisa nyampe disini terus menyalurkan ide gilanya 
Keren gan, mudahan ada waktu biar bisa baca ceritanya

Keren gan, mudahan ada waktu biar bisa baca ceritanya

Quote:
Original Posted By bapaknya.tongol►wanjeeeeng, aktingnya alin mantap kalee bah...
"pelakunya adalah kau". sambil menjukan jati tengah ke arah kolonel
ataukah hanya mimpi widka
bodo amat, yg penting cepet abdet lagiii braaay

tunggu cendol mateng ya braaay....
buru apdet nya..
"pelakunya adalah kau". sambil menjukan jati tengah ke arah kolonel

ataukah hanya mimpi widka

bodo amat, yg penting cepet abdet lagiii braaay

tunggu cendol mateng ya braaay....
buru apdet nya..
Quote:
Original Posted By chayono►Wah gan abis baca bab 5 part 1 kayaknya bakal makin dalem nih ceritanya. Awalnya ane percaya alina tuh gila. Tapi pas baca mengenai pendapat komandan jo trus review ulang kayaknya ada yg aneh dengan kolonelnya. Seolah olah di buat skenario alina meninggal padahal engga. Di tunggu part berikutnya yg lebih ngebuka misterinya.
Quote:
Quote:
Original Posted By velerkajut►akhirnya update juga makin keren aja nh jalur ceritanya gue suka cara penulisannya yg frontal jd ga kaku bacanya nice gan di tunggu part 3 nya

Quote:
Original Posted By cUmplanks►mana bab v!! manaaaaaaaaa...!!
manaaaaaa ...!! bab v bab v bab v...
hayok cepat gannnnn..penasaran 1/2 idup ini..!!
bener" nice post gan..cendol +1 dari ane yah..

manaaaaaa ...!! bab v bab v bab v...

hayok cepat gannnnn..penasaran 1/2 idup ini..!!

bener" nice post gan..cendol +1 dari ane yah..

Quote:
Original Posted By TahtaArash►bab V part 2 mana gan. ane udh bli paket extra buat baca cerita agan
Quote:
Original Posted By umikrachmi►Gan masih bersambung yaaa ceritanyaaa? Seruuu sumpah
Quote:
Quote:
Original Posted By milan22►Yah,ternyata masih bersambung, padahal ane udah siap2 menebak endingnya..
Update nya kapan gan?
Update nya kapan gan?
Quote:
Original Posted By encantz►update lagi mas, alinanya jgn dimatiin yak 

Quote:
Quote:
Quote:
Original Posted By dados8756►izin stalk mas bro
, bagus ceritanya... sambil sekalian belajar
, bagus ceritanya... sambil sekalian belajarQuote:
Quote:
BAB I












BERSAMBUNG
INDEX
Quote:
BAB II Versi jpg
BAB II Versi Text Part 1
BAB II Versi Text Part 2
BAB II Versi Text Part 3
BAB III Versi Text Part 1
BAB III Versi Text Part 2
BAB III Versi Text Part 3
BAB IV Versi Text Part 1
BAB IV Versi Text Part 2
BAB IV Versi Text Part 3
BAB V Versi Text Part 1
BAB V Versi Text Part 2
BAB V Versi Text Part 3
BAB VI Versi Text Part 1
BAB VI Versi Text Part 2
BAB VI Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 1
BAB VII Versi Text Part 2
BAB VII Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 4
WFull Version: Wattpad
BAB II Versi Text Part 1
BAB II Versi Text Part 2
BAB II Versi Text Part 3
BAB III Versi Text Part 1
BAB III Versi Text Part 2
BAB III Versi Text Part 3
BAB IV Versi Text Part 1
BAB IV Versi Text Part 2
BAB IV Versi Text Part 3
BAB V Versi Text Part 1
BAB V Versi Text Part 2
BAB V Versi Text Part 3
BAB VI Versi Text Part 1
BAB VI Versi Text Part 2
BAB VI Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 1
BAB VII Versi Text Part 2
BAB VII Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 4
WFull Version: Wattpad
Spoiler for Cerita Lain? Mampir Gan:
Quote:
LAIN

Sinopsis
Seorang wanita mendapati dirinya tidak sendiri ketika ditinggal suaminya bekerja. Apa yang terjadi? Story Will SHOCK YOU!!!Click Here!!

Sinopsis
Seorang wanita mendapati dirinya tidak sendiri ketika ditinggal suaminya bekerja. Apa yang terjadi? Story Will SHOCK YOU!!!Click Here!!
Quote:
TRAGEDI PEMBUNUHAN DI ZANGGARO


Sinopsis
Kali ini Inspektur Jo dan Assitennnya, Widka harus memecahkan pembunuhan sadis di Zanggaro, salah satu Negara bagian Afrika.Menurut saksi, ciri-ciri seorang pelaku pembunuhan persis seperti Sibiso Vilikazi dan Sibiso Khumalo. Keduanya saudara kembar. Namun ada 1 hal yang pasti diantara keduanya, yakni salah satu dari mereka adalah seorang pembohong patologis. Link? Click here!!
Kali ini Inspektur Jo dan Assitennnya, Widka harus memecahkan pembunuhan sadis di Zanggaro, salah satu Negara bagian Afrika.Menurut saksi, ciri-ciri seorang pelaku pembunuhan persis seperti Sibiso Vilikazi dan Sibiso Khumalo. Keduanya saudara kembar. Namun ada 1 hal yang pasti diantara keduanya, yakni salah satu dari mereka adalah seorang pembohong patologis. Link? Click here!!
Spoiler for Makasih Cendolnya:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 124 suara
Misteri apa yang agan harapkan terkuak dari cerita ini?
Alina memang gila - Drama, Psychological Thriller
7%
Semua Cuma Bayangan Widka - Drama, Psychological Thriller, Horor
13%
Konspirasi Kolonel - Action, Thriller
42%
TS-nya Gila
38%
Diubah oleh widka 25-02-2017 09:51
anasabila dan yuliaherliani99 memberi reputasi
0
109K
Kutip
781
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
widka
#182
Quote:
Spoiler for BAB V Part 2 Text:
BAB V
--Part 2--
Text
--Part 2--
Text
Widka dikabarkan stres berat pasca kematian Alina. Bartender yang sekaligus Penjaga Bar, mengeluhkan sikap polisi muda itu yang selalu mabuk sampai semaput setiap malam. Sudah dua minggu dia mengotori lantai bar dengan isi perutnya. Cukup? Belum. Yang lebih sialannya lagi mereka harus rela bajunya menjadi bahan penyeka iler dan ingus saat membopongnya keluar dari bar.
“Merepotkan kalau setiap hari seperti ini, Bang,” tukas Pempie lesu.
Malam itu, Mario mau tidak mau datang ke Dooms Bar setelah mendapat laporan dari si Pempie. Dia tidak segan-segan kali ini untuk mengubungi Mario yang nomornya ia dapati dari ponsel si mabuk.
Saat Mario datang, Polisi itu sedang menunduk. Seperti orang tidur. Kepalanya ia baringkan di atas lengannya yang membentuk siku-siku di atas meja. Setelah habis beberapa gelas Double Jack Daniels yang ia pesan, setengah sadar–setengah pingsan Widka mendengar obrolan mereka berdua.
“Dia selalu begitu: Minum whiskey supaya cepat mabuk. Bukan untuk bersenang-senang. Aku ini terpaksa mengambil sendiri uang dari dompetnya, karena dia selalu teler sebelum membayar semua tagihan,” keluh si bartender.
“Kamu punya bayangan kenapa dia berbuat seperti ini, Pem?” Tanya Mario.
“Katanya sih masalah pekerjaan, Bang.”
“Sial. Sudahku bilang dia itu nggak pantes jadi polisi. Pengecut sialan. Begini deh jadinya.”
“Oh. Iya Bang. Katanya dia dapet tugas jaga anaknya Kolonel.”
“Anaknya Kolonel, gimana?”
“Loh. Pempie pikir Abang tau!?”
“Udah hampir sebulan lebih aku nggak pernah ketemu congornya. Jarang ngobrol juga. Aku ini lagi sibuk siapin pernikahan, Pem. Biasalah.”
“Oh, gimana persiapannya?”
“Ceritain dulu. Kenapa sobatku yang malang ini?”
“Oh ya. Katanya dia menjaga seorang anak gadis, putri Kolonel. Sekitar satu bulan. Persis saat terakhir kali Abang datang ke sini. Dia bertemu dengan Kolonel itu dan memberi tugas untuk menjaga putrinya.”
“Menjaga putrinya, lalu?”
“Lalu putrinya itu mati bunuh diri saat sobatmu ini menjaganya.”
“Bunuh diri?” Suaranya terdengar kaget. “Kenapa?”
“Itulah Bang yang Pempie nggak paham,” lantas merendahkan nada bicaranya “Polisi ini bilang putrinya itu ga waras. Punya penyakit kelainan jiwa. Apalah itu Pempie gak paham.”
“Gila?”
“Ya gitulah. Putrinya itu gila… apa nama penyakitnya ya...” ia berpikir keras, nyerah. “Lupa… Pokoknya putrinya itu mau bunuh bapaknya sendiri, tetapi lewat si polisi ini. Kalau dia nggak mau, cewek itu bunuh diri. Pada akhirnya cewek itu bunuh diri karena si polisi menolak.”
“Busyet. Kacau amat urusannya. Masa bisa sampai begitu?”
“Kalau Abang mau tahu cerita lengkapnya, tanya saja sendiri sama Abang Polisi ini.”
“Kayak cerita di film-film. Lebay kali, Pem?”
“Ga taulah, Bang. Awalnya, Pempie ini juga gak percaya sama urusan sobatmu ini. Tapi liat kelakuan si Abang Polisi yang babak belur… kayaknya bener deh, Bang.”
Mario meringis.
“Pempie jadi merasa kasihan sama sobatmu ini, Bang. Pasti dia menderita sekali gara-gara kejadian itu.”
“Kasian juga sih. Tapi mau gimana lagi. Itulah tugasnya.”
“Iya, Bang.”
“Mau minum apa bang?”
“Ga usah, Pem. Jemput dia aja kok.”
Pempie mengacung jempolnya keatas:"Sip!"
Diam sejenak. Tiba-tiba Pempie membelokan arah perbincangan mereka. “Sampai mana persiapanmu untuk menikah, Bang?”
“Ya begitulah. Yang pasti tanggal baiknya ada di bulan Maret tahun depan.”
“Pempie diundang nggak?”
“Tentu saja Pempie ini diundang. Siapa lagi Bartender yang bisa aku tinggalin utang? Sialan!”
Pempie tertawa, “semoga lancar, Bang.”
Widka menengadahkan kepalanya, tetapi matanya masih ia penjamkan. Ia memegang keningnya seperti orang dalam konsentrasi tinggi. Kini Widka membuka matanya yang redup seperti setengah sadar. Menatap sobatnya itu, lalu berujar: “Halo, Mario.”
“Halo juga, Gan. Gimana kabarnya?” gumamnya ramah, sambil merangkul punggung dengan sebelah tangan.
“Seperti yang lo liat, sob.” Kata Widka, mengangguk-angguk. “Seperti yang lo lihat, sob.” Lantas menenggak sisa minuman dari rough glass yang dari tadi ia pegang.
“Aku datang untuk membawa sobatku yang malang ini pulang. Sudah siap?”
“Sabar aja dulu,” Widka merengek. “Santai… Kamu yakin nggak mau minum-minum dulu?”
“Gak deh…” ia menggeleng kepalanya. “Kau berantakan begitu. Aku dengar-dengar setiap malam sobatku yang malang ini datang ke bar cuma bisa ngerepotin orang. Ayolah, aku ini nggak mau orang-orang berpandangan buruk tentangmu, kawan.”
“Ya. Cuma gelas-gelas ini yang membuatku merasa enakan.”
“Berhentilah, sebelum kau terlalu mabuk. Kamu nggak maukan dipecat dari satuanmu gara-gara kelakuanmu sendiri?”
Widka menggerakan sebelah tangannya seperti mengusir lalat. “Tenanglah, itu bukan urusanmu. Kau yakin nggak mau minum-minum?” Kata Widka menyeringai, menoleh kearah bartender, mengangkat tangannya lalu berujar: “Jack D by glass, Pem.”
Pempie pura-pura tidak mendengar, menatap pria itu seperti keheranan.
Widka tidak lagi bersuara, seolah tahu bahwa si bartender itu telah mendengarnya. Ia membalas hanya dengan menggerakan bibirnya: “Jack D by glass.”
“Oh, Jack D by glass?” katanya mengulangi.
Widka tersenyum, mengangkat alisnya, sambil manggut pelan.
Muka si penjaga bar itu mendekati Mario, dan berbicara dengannya bisik-bisik. Widka memasang telinga, sepertinya dia bilang: “Abang yang bawa dia pulangkan, bang?”
Pempie menatap Mario dengan cemas. Sedangkan Mario menoleh ke arah Widka, polisi itu setengah teler. Balik menatap Pempie lagi, sambil menggeleng dia bilang: “Jangan kasih!”
Penjaga bar itu mundur perlahan, seolah menjauh dari urusan kedua sahabat itu.
Widka kecewa seraya mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi seperti orang sedang berdoa. Tenang lagi. Kini dia menoleh, dengan mata yang layu menatap Mario. “pramuria itu udah hajar belum?”
“pramuria? maksudnya siapa?” Mario melirik tajam.
“Aku ini nggak ngomongin tentang pramuria di rumah bordil, Sob. Aku ini ngomongin tentang tunanganmu, Anjani. Udah kamu pake belum? Berapa kali? Sekali? Dua kali?” Suara Widka gontai.
“Haha.. Kenapa jadi penasaran sama yang urusan itu Wid?” balasnya santai.
“Sobatku yang malang, bahkan kamu sendiri nggak tahu betapa pramurianya si Anjani itu.” Ia menepuk-nepuk pundak Mario, seolah sedang meremehkannya.
“Oh. Ya?” Kali ini Mario merasa terenggut perhatiannya. “Kalau begitu ceritain dong. Kenapa kamu sebut dia itu pramuria?”
Widka tergelak. Lantas diam dan kembali serius.
“Baiklah kalau emang itu mau mu,” Mario melongok ke arah Penjaga Bar. “Pempie. Jack D, Pem.” Mario bersemangat “Jack D!” dia mengulangi dan menoleh ke muka Widka, seolah mengejeknya, kemudian berujar: “By bottle.”
Pempie menyiapkan semuanya sambil terheran-heran dan ragu. Tetapi bisa apa, semua gaji karyawannya berasal dari pelanggan-pelanggan mabuk seperti ini. Dia menaruh rough glass dua biji, ice bucket, botol berisi cairan berwarna coklat keemasan, serta menuangkannya.
Widka dan Mario bersulang, gelas demi gelas ia tenggak dalam satu tegukan. Kini mereka berdiam-diaman membuat Widka terbuai oleh lagu Owl City – Good Time yang mengalun di bar.
Woah-oh-oh-oh
It's always a good time
Woah-oh-oh-oh
It's always a good time
Woke up on the right side of the bed
What's up with this Prince song inside my head?
Hands up if you're down to get down tonight
Cuz it's always a good time.
Slept in all my clothes like I didn't care
Hopped into a cab, take me anywhere
I'm in if you're down to get down tonight
Cuz it's always a good time
It's always a good time
Woah-oh-oh-oh
It's always a good time
Woke up on the right side of the bed
What's up with this Prince song inside my head?
Hands up if you're down to get down tonight
Cuz it's always a good time.
Slept in all my clothes like I didn't care
Hopped into a cab, take me anywhere
I'm in if you're down to get down tonight
Cuz it's always a good time
Kini Widka merasa dirinya mabuk berat. Ia pandangi gelasnya yang terisi setengah itu dengan konsentrasi tinggi, seperti pesulap yang hendak menggerakannya dengan tenaga telekinesis. Dalam satu gerakan, dia mengangkat gelas itu ke bibir dan menelannya. Setelah habis satu gelas, Widka memejamkan matanya, kemudian melek lagi. “Ajaib!!” Gelas itu terisi lagi seperti semula, seolah semua yang dia lakukan tadi hanyalah mimpi. Beberapa kali mengulangi hal yang sama seperti itu, lantas ia menyadari sesuatu.
“Kau curang, Sob.” Widka berkoak “Brengsek mana yang mengizinkanmu nuang-nuang ke dalam gelasku. Sialan. Pantas aja nggak habis-habis.”
“HAHA… Gampang banget ngerjain orang mabok tolol satu ini.” Mario tertawa lagi. “Baiklah aku minum nih. Kamu juga jangan kayak anjing sakit begitu. Ayo minumlah. Minum dong.”
Widka meminum lagi dan merasakan panas di perutnya. Ia menjulurkan lidahnya seperti anjing.
“Nah gitu dong.”
“Brengsek kau…” Widka diam, konsentrasi, merasa isi perutnya ingin keluar tetapi tidak. “Kau emang anjing sialan. Brengsek.”
“Nah. Sekarang bilang… Cerita tentang Anjani. Kenapa kamu sebut dia pramuria?”
Widka merasa dirinya pusing. Dia pegang lagi keningnya. “Kamu ini ngomong apa si?”
“Kenapa kamu nyebut Anjani L-O-N-T-E?” Tanya Mario pelan-pelan, seperti mengeja kepada orang bego.
Untuk sejenak Widka tertawa, sambil menahan tawanya itu Widka bicara: “Pada akhirnya kamu ini tahu juga Anjani itu pramuria. Aku bilangin nih ya, Sob. Sebelum Anjani resmi jadi pacarmu. Anjani pernah bilang kalau dia suka samaku. Terakhir-terakhir juga sepertinya dia masih berharap. Aku juga menyukai cewek itu kalau kamu mau tahu. Tetapi bisa apa setelah kau begitu menggebu mendekatinya.”
“Aku sering dengar curhatanmu tentang Anjani.. ” kata Widka serius. Saking seriusnya Mario merasa gelisah, “dan caramu memperlakukan dia membuat aku nyingkir dari perburuan Anjani… Lagi pula” – Widka menyeka ingusnya – “Satu pukulan telak lagi saat aku tahu bahwa Anjani tidak bisa awet perasaannya…. Sialan. Pada akhirnya pramuria itu jatuh hati juga padamu. Haha.. Ya begitulah. Pada akhirnya kau tahu, kan? Haha..”
Suara tawa Widka nyaring membelah suasana nyaman di tengah bar. Polisi itu bicara semaunya seolah tidak punya masalah di dunia, bahkan dia tidak lagi mempermasalahkan hubungannya dengan Mario. Saat tawanya berakhir, Widka terbatuk-batuk lantas menangis.
“Aku ini nangis bukan karena kau akan menikah dengan Anjani…. Bukan karena kau ngerebut Anjani dariku….” Widka sesugukan, ingusnya meler, dia seka dengan tangan. “Aku ini nangis karena semua pramuria meninggalkanku dengan cara mereka…. Aku nangis karena nasib naasku belum juga berakhir…. Saat Anjani memutuskan bersamamu, aku temukan Alina. Hanya dia yang bisa melupakanku terhadap bayang-bayang Anjani. Dialah hadiah penghiburanku. Tetapi pramuria itu mati bunuh diri. Sialan. Kadang aku ini iri denganmu. Kau bisa memiliki apa yang kamu mau. Sedangkan aku? Aku tidak dapat ganjaran apa-apa… Menurut mu apa ini adil? Hah!!”
Kali ini Widka mencoba bangkit dari tempat duduknya di kursi bar. Tetapi karena terlalu mabuk Polisi itu jatuh terduduk di atas lantai. Kemudian menangis lagi, sesugukan.
Pempie melihat kelakuan badut mabuk itu, sebagian pengunjung bar tergelak, sebagian lagi bertanya: “Kenapa sih dia?”
“Kasihan,” bisik Pempie melihat pelanggannya mabuk. “Abang polisi ini benar-benar menderita.”
“Mau bantu bawa bajingan ini masuk ke mobil gak?”
“Tentu, Bang!”
“Sekarang.” Mario memberi aba-aba.
Mario dan Pempie mangangkat Widka selagi pria itu masih mengoceh mengutuk nasib naasnya dan hal lain yang tidak jelas. Mereka mengeluarkan polisi mabuk itu dengan cara menyeretnya beberapa meter menuju parkiran. Hendak masuk mobil, Mario berubah pikiran.
“Bawa anjing ini ke dekat selokan dulu,” Mario memberi komando. “Biarin dia muntah dulu.”
Mario menundukan Widka ke arah selokan.
“Billnya, Pem.” Tambah Mario ke penjaga bar.
Pempie melesat masuk lagi ke bar menuju meja kasir. Dia menghitung semua pesanan yang belum di bayar.
Widka menyeka mulutnya, “lepas dulu… lepas dulu.” Ia tidak mau siapapun memegangnya. Pria itu kembali tenang sambil menunduk, Tiba-tiba posisinya bersujud dan mengeluarkan muntah banyak sekali.
“Nah begitu dong. Merasa enakan?”
Sekali lagi Widka menyeka mulutnya dengan tangan. Mario menuntun Widka masuk mobil jok belakang mobil Nissan-nya. Dari arah bar, Pempie tergopoh-gopoh membawa struk pembayaran.
“Semuanya tujuh ratus lima puluh tiga ribu.” Kata Pempie.
Mario menghela nafas. “Jadi tiap malam dia buang-buang duit segitu banyak?”
Pempie mengangguk. Sementara Mario hanya memiliki uang cash seharga empat ratus enam puluh ribu.
“Coba kamu cek dompetnya, Pem.” Menunjuk ke arah Widka yang tengah terkapar di jok belakang mobil.
Pempie merogoh kantong Widka dan memberikan ke Mario. Sobatnya itu kemudian mengambil uang tiga lembar seratus ribuan. Lalu memberikan uang tersebut ke empunya bar.
“Terimakasih ya, Pem.”
“Sama-sama, Bang.”
Dua sobat itu langsung menginjak pedal gas dan melesat dengan Nissan-ya meninggalkan bar dan Pempie yang memunggungi mereka.
Sementara itu, Widka tertidur pulas. Mimpi-mimpi seolah mengisolirnya dari dunia luar. Dalam mimpinya dia bertemu dengan Alina. Gadis itu berada di sampingnya menggunakan gaun satin merah, persis yang dia gunakan saat pertama dan terakhir kali dia melihatnya. Perempuan itu terlihat sangat cantik. Widka selalu mengagumi dirinya bukanlah seorang gadis remaja, melainkan seorang wanita muda. Kulitnya begitu putih dan mulus. Rambutnya yang kecoklatan menandakan dia seorang wanita blasteran. Bukan pribumi. Wanita yang berkelas, berasal dari ras unggulan. Tubuhnya yang padat berisi layaknya daging-daging yang hanya bisa dinikmati oleh para dewa. Tiba-tiba gadis itu mencopot bajunya, telanjang, menggelinjang dalam pelukannya. Polisi itu bisa merasakan bagaimana kulit-kulitnya saling bersentuhan, merenggangkan kakinya, lambat-lambat membasah, dan mengerang.
Widka memang selalu terbuai dalam mimpinya dan selalu terbagun saat menemukan bagian terbaiknya. Bahkan saat ini pula dia harus merelakan mimpinya terganggu oleh air.
Saat itu Widka merasa dirinya tenggelam dan tidak bisa bernafas. Dia mencoba untuk untuk konsentrasi: mencoba cari tahu sekelilingnya, mencari tahu di mana dia berada. Dia menyadari sesuatu: Ada tangan yang berusaha menahan kepalanya untuk tetap di dalam air.
“** SENSOR ** siapa nih?” Polisi itu merasa seseorang sedang mencoba membunuhnya.
Widka hampir kehabisan nafas. Merasakan paru-parunya menciut. Semakin lama ia ada di dalam air maka semakin tersiksa, tersedak oleh air yang masuk melalui kerongkongannya. Polisi itu mencoba meminta pertolongan tetapi tidak bisa. Suara gemuruh air dari mulutnya seperti suara air yang mendidih.
Polisi itu benar-benar hampir tidak berdaya, tetapi ia mencoba untuk berontak dan menendang-nendang sekena yang dia bisa. Tangannya meronta-ronta berkecipak di permukaan air.
Tiba-tiba, tangan yang menahannya melepas. Dengan gerak cepat Widka memundurkan tubuhnya ke belakang hingga menubruk pintu. Baru sadar bahwa ia sedang berada di kamar mandi. Di sana terlihat sebuah bak mandi, shower, dan dinding keramik berwarna biru muda. Widka mengenali kamar mandi ini. Tidak salah lagi dia berada di rumah Mario. Dan sang tuan rumahlah yang mencoba membunuhnya. Pria itu ada di disampingnya Gerak tubuhnya juga santai, sinar matanya tidak menunjukan ingin membunuh atau mencelakainya seperti yang Widka duga sebelumnya. Mario duduk di pinggiran kloset sambil ngelap lengannya yang basah dengan handuk.
“Kau gila.” Kata Widka mengumpat sambil terbatuk hingga terbungkuk-bungkuk mengeluarkan sisa air di dalam kerongkongan.
“Merasa enakan?”
Widka merasa dirinya terengah-engah, jantungnya bergedup cepat, lalu mencoba berpikir sambil duduk menyandar pada dinding kamar mandi. Dia memegang-memegang kepalanya yang terasa berat, kemudian memejamkan mata untuk mengembalikan kesadarannya.
“Anjing sialan. Kau hampir membuatku mati,” ujar Widka, batuk-batuk lagi hingga mengeluarkan suara keras sekali seperti berusaha mengeluarkan semua dahaknya dari kerongkongan. Meludah.
“Sampai kapan mau kayak gini terus? Mabuk-mabukan tiap malam, ngotorin bar tiap hari. Kelakuanmu bahkan lebih buruk daripada gelandangan.”
Widka diam. Dia kembali dalam posisinya yang semula.
“Bedebah sedikit, Wid. Hadapi semua masalah dengan jantan. Aku nggak mau melihatmu hancur cuma gara-gara Alina..” Mario berpikir sejenak. “itu bukan namanya? Ya gara-gara dia mati, kau jadi hancur-hancuran begini.”
Sejenak Widka merenung, lantas menyadari sesuatu. “kau tau namanya?”
“Kamu nyebut namanya berkali-kali barusan.”
“Barusan?” Widka merasa heran.
“Ya. Kau menyebutnya tadi. Saat kau sedang sekarat. Kau terus-terusan mendesah ‘Alinaa.. Alinaa..’ abis itu ngoceh kata-kata jorok. Sebelah tanganmu juga ngerogoh-rogoh ke dalam celanamu sendiri. Ngapain coba? Aku geli saja melihatmu coli sambil mimpi.”
Mario menyandarkan punggungnya di tangki penampungan air yang biasa terdapat di bagian kloset duduk.
“Sadar Wid. Kelakuanmu itu bukan pemandangan yang bagus.”
Widka bersin-bersin dan merasakan badannya kedinginan. Mario mengambil handuk dan melemparnya, hingga jatuh tepat menutupi kepala sohibnya.
“Jadi. Kamu ini benar-benar sayang sama dia ya?” Tanya Mario.
“Sayang sama siapa?”
“Sayang sama cewek yang kau sebut-sebut tadi itu. Alina-Alina itulah.”
“Lebih dari bayanganmu, Mario.” Widka mendesis.
“Pernah kamu jatuh cinta sama orang lain?” Tanya Mario serius. Saking seriusnya Widka menjadi curiga.
“Tidak yang seperti ini, Mario.” Gumam Widka sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dari sudut matanya Widka melihat, Mario tersenyum lega. Polisi itu berbalik nanya: “Kenapa jadi nanya soal cinta-cintaan?”
“Gak apa-apa. Cuma mau memastikan saja.” Kata Mario, dia diam, lalu bicara lagi. “Jujur aja. Aku ini nggak pernah tahu soal perasaanmu… soal cewek yang kamu suka. Kau nggak pernah cerita hal-hal kayak gini denganku. Padahal kau tahu... aku ini sobatmu. Siapa lagi yang mau menyeka ilermu pas kau lagi mabuk, siapa lagi yang mau bersihin muntahanmu dan nganterin pulang saat kau setengah sinting kayak gini?”
Widka diam. Dia tidak beringsut sama sekali.
Mario menghela nafasnya, lantas memberi pepatah kuno yang sering ia dengar: “Banyak ikan di lautan, Widka.” Mario menepuk-nepuk bahu sobatnya. “banyak sekali ikan di lautan.” Lantas berjalan meninggalkan Widka di kamar mandi.
Entah kalimat itu ditujukan untuk hal Alina yang mati atau hal Anjani yang sudah jadi pacar orang. Menelisik dari kondisinya saat ini, kedua hal itu dirasa tepat sasaran.
>>>
BERSAMBUNG KE BAB V PART 3
BERSAMBUNG KE BAB V PART 3
0
Kutip
Balas

ternyata si alina emg sakit beneran

