- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Bersambung: Voyeurism
...
TS
widka
Cerita Bersambung: Voyeurism
Quote:

Quote:
Judul Karya : Voyeurism
Jenis Karya : Fiksi
Genre Karya : Detektif, Misteri, Drama.
Target Pembaca : Remaja-Dewasa
Usia : 17+
Quote:
HOT COVER

Spoiler for PRAWACANA:
PRAWACANA
Kisah ini menceritakan kontroversi pengakuan pelecehan seksual yg dialami ALINA pada masa lalunya. Apakah benar atau salah bahwa kejadian itu benar-benar terjadi? Seberapa akuratkah ingatan seseorang?
Seperti yang kita ketahui bahwa ada banyak tulisan yang dipublikasikan mengenai pulihnya ingatan tentang pelecehan seksual di masa anak-anak berakhir keliru atau tidak koheren (nyambung) dengan fakta-fakta yang ada.
Lantas cerita berlanjut ke polisi muda yang bernama WIDKA, yang menderita voyeurisme. Voyeurisme adalah penyakit psikologis di mana penderitanya mencapai kepuasan seksual hanya dengan cara mengintip. Namun, tanpa sengaja aktifitas terlarangnya itu membuat sang tokoh tahu misteri dibalik kontroversi yang menyelimuti ALINA.
Kisah yang menarik tentang drama-hasrat-kriminal dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, sehingga kisah ini sangat layak untuk dinikmati sebagai bacaan yang menghibur sekaligus mengundang rasa penasaran.
Saya akan update terus cerita bersambung ini jika agan-agan berkenan terhadap cerita yang sedang saya kembangkan.
Terimakasih.
Seperti yang kita ketahui bahwa ada banyak tulisan yang dipublikasikan mengenai pulihnya ingatan tentang pelecehan seksual di masa anak-anak berakhir keliru atau tidak koheren (nyambung) dengan fakta-fakta yang ada.
Lantas cerita berlanjut ke polisi muda yang bernama WIDKA, yang menderita voyeurisme. Voyeurisme adalah penyakit psikologis di mana penderitanya mencapai kepuasan seksual hanya dengan cara mengintip. Namun, tanpa sengaja aktifitas terlarangnya itu membuat sang tokoh tahu misteri dibalik kontroversi yang menyelimuti ALINA.
Kisah yang menarik tentang drama-hasrat-kriminal dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, sehingga kisah ini sangat layak untuk dinikmati sebagai bacaan yang menghibur sekaligus mengundang rasa penasaran.
Saya akan update terus cerita bersambung ini jika agan-agan berkenan terhadap cerita yang sedang saya kembangkan.
Terimakasih.
Quote:
Hot Comment Sampai BAB VIII

Quote:
Original Posted By princess.anne►
Ane juga tau cerita ini setelah liat trit agan di CYSTG
Dari sana aja udah terpesona sama pengetahuan agan ttg kepribadian
Dan 4 hal di atas yg bikin ane makin WOW sama karya agan ini
Judul kayak gini justru bagus, unik. Coba kalo judulnya langsung: petualangan sang pengintip, sedikit agak basi. Tapi dengan kata voyeurism, pertama bikin kening berkerut, lalu semakin bikin penasaran, pengen menggali lebih dalem, endingnya "ooooh.... gitu!"
Oya satu hal lagi yang paling ane suka, agan ga cuma nyediain cerita yang bikin penasaran, menghibur, tapi juga memberikan banyak pengetahuan!
I love it!
Ane penggemar berat genre kayak gini
Pokoke semangat terus berkarya gan!
Ane juga tau cerita ini setelah liat trit agan di CYSTG

Dari sana aja udah terpesona sama pengetahuan agan ttg kepribadian

Dan 4 hal di atas yg bikin ane makin WOW sama karya agan ini
Judul kayak gini justru bagus, unik. Coba kalo judulnya langsung: petualangan sang pengintip, sedikit agak basi. Tapi dengan kata voyeurism, pertama bikin kening berkerut, lalu semakin bikin penasaran, pengen menggali lebih dalem, endingnya "ooooh.... gitu!"
Oya satu hal lagi yang paling ane suka, agan ga cuma nyediain cerita yang bikin penasaran, menghibur, tapi juga memberikan banyak pengetahuan!

I love it!
Ane penggemar berat genre kayak gini
Pokoke semangat terus berkarya gan!
Quote:
Original Posted By Blazerknight►homina homina homina, keren banget ceritanya asli..... 

Quote:
Original Posted By septhia►hari minggu, gak ada hiburan, buka kaskus liat thread agan, sungguh luar biasa ceritanya...gini ini yg seru gak hanya cerita cinta melulu...salut for agan...
Quote:
Original Posted By Garyu73►What gilaaak? Ini apa? Baru pertama liat uy, ini buku ya? Keren banget uy TS bisa nyampe disini terus menyalurkan ide gilanya 
Keren gan, mudahan ada waktu biar bisa baca ceritanya

Keren gan, mudahan ada waktu biar bisa baca ceritanya

Quote:
Original Posted By bapaknya.tongol►wanjeeeeng, aktingnya alin mantap kalee bah...
"pelakunya adalah kau". sambil menjukan jati tengah ke arah kolonel
ataukah hanya mimpi widka
bodo amat, yg penting cepet abdet lagiii braaay

tunggu cendol mateng ya braaay....
buru apdet nya..
"pelakunya adalah kau". sambil menjukan jati tengah ke arah kolonel

ataukah hanya mimpi widka

bodo amat, yg penting cepet abdet lagiii braaay

tunggu cendol mateng ya braaay....
buru apdet nya..
Quote:
Original Posted By chayono►Wah gan abis baca bab 5 part 1 kayaknya bakal makin dalem nih ceritanya. Awalnya ane percaya alina tuh gila. Tapi pas baca mengenai pendapat komandan jo trus review ulang kayaknya ada yg aneh dengan kolonelnya. Seolah olah di buat skenario alina meninggal padahal engga. Di tunggu part berikutnya yg lebih ngebuka misterinya.
Quote:
Quote:
Original Posted By velerkajut►akhirnya update juga makin keren aja nh jalur ceritanya gue suka cara penulisannya yg frontal jd ga kaku bacanya nice gan di tunggu part 3 nya

Quote:
Original Posted By cUmplanks►mana bab v!! manaaaaaaaaa...!!
manaaaaaa ...!! bab v bab v bab v...
hayok cepat gannnnn..penasaran 1/2 idup ini..!!
bener" nice post gan..cendol +1 dari ane yah..

manaaaaaa ...!! bab v bab v bab v...

hayok cepat gannnnn..penasaran 1/2 idup ini..!!

bener" nice post gan..cendol +1 dari ane yah..

Quote:
Original Posted By TahtaArash►bab V part 2 mana gan. ane udh bli paket extra buat baca cerita agan
Quote:
Original Posted By umikrachmi►Gan masih bersambung yaaa ceritanyaaa? Seruuu sumpah
Quote:
Quote:
Original Posted By milan22►Yah,ternyata masih bersambung, padahal ane udah siap2 menebak endingnya..
Update nya kapan gan?
Update nya kapan gan?
Quote:
Original Posted By encantz►update lagi mas, alinanya jgn dimatiin yak 

Quote:
Quote:
Quote:
Original Posted By dados8756►izin stalk mas bro
, bagus ceritanya... sambil sekalian belajar
, bagus ceritanya... sambil sekalian belajarQuote:
Quote:
BAB I












BERSAMBUNG
INDEX
Quote:
BAB II Versi jpg
BAB II Versi Text Part 1
BAB II Versi Text Part 2
BAB II Versi Text Part 3
BAB III Versi Text Part 1
BAB III Versi Text Part 2
BAB III Versi Text Part 3
BAB IV Versi Text Part 1
BAB IV Versi Text Part 2
BAB IV Versi Text Part 3
BAB V Versi Text Part 1
BAB V Versi Text Part 2
BAB V Versi Text Part 3
BAB VI Versi Text Part 1
BAB VI Versi Text Part 2
BAB VI Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 1
BAB VII Versi Text Part 2
BAB VII Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 4
WFull Version: Wattpad
BAB II Versi Text Part 1
BAB II Versi Text Part 2
BAB II Versi Text Part 3
BAB III Versi Text Part 1
BAB III Versi Text Part 2
BAB III Versi Text Part 3
BAB IV Versi Text Part 1
BAB IV Versi Text Part 2
BAB IV Versi Text Part 3
BAB V Versi Text Part 1
BAB V Versi Text Part 2
BAB V Versi Text Part 3
BAB VI Versi Text Part 1
BAB VI Versi Text Part 2
BAB VI Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 1
BAB VII Versi Text Part 2
BAB VII Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 4
WFull Version: Wattpad
Spoiler for Cerita Lain? Mampir Gan:
Quote:
LAIN

Sinopsis
Seorang wanita mendapati dirinya tidak sendiri ketika ditinggal suaminya bekerja. Apa yang terjadi? Story Will SHOCK YOU!!!Click Here!!

Sinopsis
Seorang wanita mendapati dirinya tidak sendiri ketika ditinggal suaminya bekerja. Apa yang terjadi? Story Will SHOCK YOU!!!Click Here!!
Quote:
TRAGEDI PEMBUNUHAN DI ZANGGARO


Sinopsis
Kali ini Inspektur Jo dan Assitennnya, Widka harus memecahkan pembunuhan sadis di Zanggaro, salah satu Negara bagian Afrika.Menurut saksi, ciri-ciri seorang pelaku pembunuhan persis seperti Sibiso Vilikazi dan Sibiso Khumalo. Keduanya saudara kembar. Namun ada 1 hal yang pasti diantara keduanya, yakni salah satu dari mereka adalah seorang pembohong patologis. Link? Click here!!
Kali ini Inspektur Jo dan Assitennnya, Widka harus memecahkan pembunuhan sadis di Zanggaro, salah satu Negara bagian Afrika.Menurut saksi, ciri-ciri seorang pelaku pembunuhan persis seperti Sibiso Vilikazi dan Sibiso Khumalo. Keduanya saudara kembar. Namun ada 1 hal yang pasti diantara keduanya, yakni salah satu dari mereka adalah seorang pembohong patologis. Link? Click here!!
Spoiler for Makasih Cendolnya:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 124 suara
Misteri apa yang agan harapkan terkuak dari cerita ini?
Alina memang gila - Drama, Psychological Thriller
7%
Semua Cuma Bayangan Widka - Drama, Psychological Thriller, Horor
13%
Konspirasi Kolonel - Action, Thriller
42%
TS-nya Gila
38%
Diubah oleh widka 25-02-2017 09:51
anasabila dan yuliaherliani99 memberi reputasi
0
109K
Kutip
781
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
widka
#87
Spoiler for BAB III Versi Text Part 3:
BAB III Versi Text Part 3
Hari menjelang sore. Widka merasa lega karena cahaya yang sebelumnya terang benderang merambat turun. Bias-bias cahaya merah memasuki ruangan seperti garis-garis halus, layaknya tangga para bidadari untuk turun dari langit. Widka merasa hangat. Kalau di markas dia luangkan waktu untuk bersantai.
Kolonel Godam dan Sersan Tomo pergi sejam yang lalu meninggalkan, Widka dan Putrinya di rumah. Di belakang ada Bi Minah tidak pernah terlihat lagi terlihat batang hidungnya selepas makan siang.
Saat itu, Widka sedang berjalan-jalan di sekitar ruang tengah pandangannya kembali terpaku pada buffet besar pada foto-foto Alina sendiri. Widka menjumput bingkai itu, memperhatikan dengan seksama. Melihat wajahnnya: sinar matanya bandel. Sekilas Widka jadi meragukan kesan yang ia dapat dari Kolonel bahwa gadis ini sakit dan rapuh.
Saat sedang asyik membayangkan Alina, Widka merasa foto itu bicara: “Kamu bukan anak buah ayahku kan?”
Ternyata bukan foto melainkan orang yang ada di belakangnya. Widka merasa perlu menoleh ke belakang. Gadis itu muncul begitu saja seperti hantu. Sambil berusaha menenangkan diri, polisi itu bergumam: “Aku dari divisi lain, Non. Tepatnya penjaga sipil. Polisi.”
“Polisi?” Tanya gadis itu.
“Ya.” Widka mengangguk pelan.
“Apa yang diperbuat seorang polisi datang ke sini?”
“Itu…” lidahnya kaku. “Menjagamu.”
Widka melihat wajah gadis itu. Menakar apakah gadis itu menderita gangguan delusi seperti yang dibicarakan banyak orang. Kini dia melihat gadis itu tepat dihadapannya: sinar matanya bandel, gerakannya gesit, badannya sekel, kulitnya terang benderang. Semua daftar itu bukan seperti orang yang rapuh. Barangkali perkara sakitnya itu tidak lebih dari imajinasi Kolonel. Sikapnya juga bisa jadi seperti ayahnya yang keras. Berapa usianya? Widka menebak-nebak. Kira-kira tujuh belas atau delapan belas tahun.
Saat itu Alina masih memakai baju satin merah seperti tadi siang, tampak kedua bahunya memantulkan bias cahaya dengan cerlang. Kedua tangannya ia lipat menghimpit dua buah dadanya hingga membusung keluar. Ya Tuhan, Widka bersyukur karena melalui cahayanya, Bidadari telah turun dari langit.
“Menjagaku? Aku tidak butuh polisi untuk menjagaku.”
Ia salah tingkah. Benar memang tidak butuh seorang polisi untuk menjagnya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" pikir Widka dalam hati.
“Katakan, apa yang sebenarnya ayahku rencanakan membawamu kemari?” Raung gadis itu. Dari suaranya gadis itu bicara penuh dengan kecurigaan.
“Rencana?” Tanya Widka heran. “ Tidak ada. Dia hanya ingin menjagamu.”
“Omong kosong. Kamu bahkan lebih tolol dari pada seorang polisi.”
“Aku tidak punya bayangan apa yang sedang ayahmu rencanakan?”
“Bohong!” Widka begitu kaget karena gadis itu menggertak. 'Katakan apa yang ayahku rencanakan?"
“Sungguh aku ini tidak mengerti," Widka membela diri. "Rencana-rencana, Seperti apa sih?” Ia menggaruk-garuk kepalanya. Gatal? Tidak.
“Jangan berlagak tolol kamu. Ayahku pasti membayarmu untuk melakukan sesuatu yang buruk kepadaku?”
“Sesuatu yang buruk?” Widka memiringkan kepalanya, tidak paham sama sekali.
Alina terhenti dan mengambil nafas panjang.
“Kamu tahu apa soal Ayahku?”
“Aku yang malang tidak tahu apa-apa tentang Ayahmu. Tidak kenal sama sekali Tugas ini datang begitu saja, sesuatu yang tidak direncanakan dan… entah rasa penasaran darimana aku menerima tawaran tugas ini dari ayahmu. Apakah ada yang salah, non?”
“Dia pasti merencanakan sesuatu.” Gadis itu mulai tenang. Tetapi bibirnya bergetar. “Dia pasti merencakan sesuatu.”
Widka menduga-duga apakah Alina punya keyakinan bahwa semua orang bersekongkol dengan Kolonel? Tidak paham. Dia lebih mirip orang yang sedang berakting ketimbang khayal-khayal delusi itu.
“Seperti apa?” Tanya polisi itu.
Alina tidak menjawab, membuat suasana hening sejenak. Polisi itu teringat kembali bahwa misinya kesini juga untuk meneliti gosip tentang Alina yang sakit. Tetapi karena dia tidak punya bayangan tentang penyakit itu, jadi dia perlu bertanya sesuatu,
“Baiklah Non, akan aku ceritakan sedikit. Ayahmu butuh seseorang yang bisa dipercaya untuk menjagamu. Menggantikan mata dan tenaganya agar kamu aman dari gangguan yang berasal dari dalam dirimu. Apa kamu merasa demikian, Non?”
"Apa kamu menyebut aku ini gila?"
"A..Aku tentu tidak demikian," katanya tergagap. "Itulah sebabnya aku bertanya."
Widka mulai menakar reaksi gadis itu terhadap pertanyaannya.
“Dia bukan ayahku kalau kamu mau tahu.” Kata Alina menyampingkan pertanyaan Widka.
“Dia ayah tirimu kan?” Tanya Widka pura-pura bego. “Tapi kamu harus tahu bahwa dia sangat menyayangimu. Kamulah satu-satunya yang dia miliki sekarang.”
“Apa lagi yang kamu ketahui tentang dia?”
“Aku tidak tahu banyak soal ayahmu. Hanya sekilas-sekilas saja melalui gosip orang-orang di markas.” Gumam Widka. Untuk sejenak dia merenung sebelum memutuskan untuk bicara: “Tetapi ada satu hal yang aku ingin tanyakan kepadamu.”
Widka merasa jantungnya berdebar-debar, lemas, dan kering di tenggorokannya. Gugup. Hendak bertanya tetapi berubah pikiran. “Aku ambilkan air untukmu.” Widka berjalan menuju dapur, menubruk-nubruk meja dan bangku, sekian lama dia mencari gelas - yang tidak tahu letaknya – tanpa Widka sadari gadis itu menyusul dan duduk di bangku dapur.
“Maaf, aku tidak tahu dimana letak gelasnya.” Kata Widka membuka-buka lemari, berharap mendapat jawaban gadis itu hanya termenung. Widka berhasil mendapatkan gelasnya dan menjumputnya dua.
“Kamu ingin minum teh atau kopi? Biar aku buatkan.”
“Air putih saja.”
“Dingin?” Tanya Widka.
“Dingin.”
“Jadi kamu bukan orang yang berada di pihak ayahku?” Tanya Alina.
“Bukan. Aku tidak berpihak pada siapapun, Non. Demi Tuhan. Walaupun aku tahu ayahmu yang membawaku kemari. Tetapi sungguh, apapun yang terjadi ayahmu tidak merencanakan sesuatu yang buruk. Aku pastikan itu. Dan akulah jaminannya, kalau kamu tidak percaya dengan ayahmu sendiri.”
Widka menuangkan air dari dispenser, lalu menyuguhkan segelas air putih ke Alina dan menyediakan satu gelas lagi untuk dirinya. Widka meneguk satu kali dan melepas gelas dari moncongnya. Gerakkannya amat lambat. Sekarang dia merasa lebih siap untuk melanjutkan pertanyaannya. Akankah dia menceritakan aib Ayahnya kepada Alina? Apa reaksinya? Semakin lama dia memikirkan semakin jantungnya berdegup cepat, jadi dia putuskan untuk bicara blak-blakan.
“Apa benar Kolonel telah melecehkanmu, Non?”
Alina diam. Dia menenggak airnya satu teguk dengan gerakan yang amat lambat. Widka menebak-nebak apa yang sedang Alina rasakan: Apakah pertanyaan itu membuat dia menderita? Tiba-tiba mesin heater dari dispenser berdengung seolah-olah benda itu ada di dalam kepala Widka.
“Kalau memang ‘iya’, akan kamu apakan dia? Lempar dia ke penjara? Membunuhnya?”
Gadis itu terengah-engah. Widka juga merasakan hal yang demikian. Dia syok merasa hatinya hancur.Tetapi baru sebentar saja, karena masih banyak yang perlu dia ketahui untuk menimbang soal penyakitnya.
“Tidak ada yang berani menyentuh ayahmu, Non.” Widka merinding karena merasa bayangannya yang bicara.
“Haha.. Sudah aku duga sebelumnya.”
Tertawakah dia? Tidak bisa dipastikan. Widka mendapat kesan gadis itu tertawa seperti dipaksakan. Sekarang dia diam seperti boneka, matanya lurus kedepan, kedua tangannya di atas lutut. Dia mulai serius lagi. Widka merasa emosi anak ini naik turun dengan cepat.
Tiba-tiba Alina bangkit dari tempat duduknya dengan kasar, bangkunya tergeser cepat hingga hampir ambruk, dia bergerak seperti ada energi buas yang merasukinya, melesat cepat melewati Widka. Dia mengambil pisau dengan tangan kanannya.
“Katakan apa kerjamu disini? Katakan.. katakan!” Raung gadis itu sambil menodongkan pisau ke arah Widka.
Polisi itu diam. Tidak paham sedikitpun.
“Katakan.” Gadis itu berteriak lagi, lantas menggeram: “Berapa bayaranmu di sini?”
Widka masih terdiam. Dia masih bingung ingin bicara apa. “Tenanglah Alina. Sungguh aku bukanlah kaki tangan ayahmu. Aku akan membantumu keluar dari sini.”
“Tidak ada yang bisa membantuku di atas dunia ini. Semua polisi tolol. Tidak ada yang mau membantuku dari dia.” Suaranya kering. “Aku benci dia. Makhluk menjijikan dia. Monster pembunuh, pemerkosa bajingan.”
“Dengar polisi tolol. Dengarkan aku,” raung gadis itu sambil menodongkan ujung pisau ke arah Widka.
Widka diam dan tidak bisa bicara. Saking bingungnya, semua kata-kata yang dia punya buyar begitu saja.
“Dengar!” Sekarang berteriak. Nampaknya meminta respon polisi itu untuk bicara sesuatu.
“Ya. ya. Aku dengarkan. Katakan apa yang perlu aku dengarkan.” Kata Widka tergagap-gagap.
“Kalau kamu tidak mau membunuh Ayahku.” Tiba-tiba gadis itu memutar mata pisaunya ke arah lehernya sendiri. “Aku bunuh diri.”
Suara gadis itu dingin, tanpa amarah, dan tanpa emosi. Dia bicara seperti terkena hipnotis. Nadanya datar dan bicara seperti robot. Aktingkah dia? Atau anak ini menderita tekanan batin yang membuat dia bicara seperti orang setengah sadar?
“Membunuh Kolonel? Bunuh diri katanya?” Widka membatin, kemudian merasa dirinya dilemma dan takut. Ia membayangkan segala sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Sekarang dia menciut, merasa nyalinya berangsur-angsur mengkerut.
Apa yang akan dia lakukan sekarang, merupakan tema besar yang harus ia tanggung sendiri. Lantas, Widka memberanikan diri untuk menenangkan. Dengan nada yang halus campur gemetar polisi itu bergumam:
“Aku akan membantumu. Aku janji, aku akan membantumu, Alina. Sekarang taruh pisau itu. Jangan sampai kamu terluka.”
Widka kembali menggali ingatannya atas ucapan Kolonel: “Alina percaya pada khayalannya yang sulit dibuktikan secara nyata.” Widka baru sadar dan paham apa yang yang dimaksud. Menuduhnya memiliki rencana tersembunyi untuk mencelakai Alina jelas ini merupakan tuduhan yang tidak masuk akal.
“Kecurigaan ini pastilah berasal dari fantasinya yang menipu, dengan kata lain Alina memang tidak waras.” Widka membatin. Ia memang sudah siap dengan kegilaan Alina, tetapi tidak punya bayangan seberapa parah penyakitnya. Ini adalah perkenalan yang mengejutkan.
Widka berusaha menguasai diri tetapi tidak berhasil. Sambil membawa beban yang berkecamuk di kepalanya, ia berjalan lambat mendekati Alina. Saking lambatnya, Widka merasa dirinya berjalan terombang-ambing di atas air. Sebelah tangannya dia julurkan perlahan seolah gerakannya bisa meredakan segala tindakan yang bisa melukai gadis itu. Ia bisa melihat sendiri tangannya yang gemetar hebat membuat Widka sadar betapa canggungnya dia. Ketika bicara, suaranya terdengar bergema di dalam kepalanya, berdengung tidak jelas: “Tenang ya… Tenang. Jangan marah. Jangan teriak. Kita bicara. Aku akan membantumu. Aku akan membawamu keluar dari masalah ini. Sekarang lepas pisaunya.”
Alina ambruk. Tubuhnya seperti kehilangan tulang dalam waktu seketika. Tapi sebelum badannya bertumbuk dengan lantai, entah kekuatan darimana Widka mampu meraih tubuh gadis itu dengan cepat. Pingsankah dia? Sambil memapah tubuhnya seperti bayi, Widka berusaha menenangkan diri. Dalam posisi seperti ini, Widka tidak ingin buru-buru beranjak. Ia merasa nyaman memeluk Alina yang terkulai lemas. Baru kali ini ia melihat gadis misterius yang dingin itu dari jarak dekat. Pikirannya menimbang-nimbang tentang kejiwaan gadis itu. Widka menilai bahwa dirinya tertipu dengan penampilan luarnya. Walaupun tubuhnya terlihat sehat dan sorot matanya bandel, gadis ini tidak seperti yang terlihat. Alina rapuh. Saat itu semua Widka renungi, saat itu pula ada aura misterius yang memikat yang muncul di balik tubuh dara ini. Apakah ini hanya perasaan sesaat?
Matahari mulai terbenam. Widka tidak menyadari perubahan waktu yang begitu cepat. Walaupun Alina nampak seperti dinina bobokan tetapi dia sedang tidak main-main.
“Dari mana datangnya daya tarik yang memikat ini?”
>>>
0
Kutip
Balas

ternyata si alina emg sakit beneran

