- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Bersambung: Voyeurism
...
TS
widka
Cerita Bersambung: Voyeurism
Quote:

Quote:
Judul Karya : Voyeurism
Jenis Karya : Fiksi
Genre Karya : Detektif, Misteri, Drama.
Target Pembaca : Remaja-Dewasa
Usia : 17+
Quote:
HOT COVER

Spoiler for PRAWACANA:
PRAWACANA
Kisah ini menceritakan kontroversi pengakuan pelecehan seksual yg dialami ALINA pada masa lalunya. Apakah benar atau salah bahwa kejadian itu benar-benar terjadi? Seberapa akuratkah ingatan seseorang?
Seperti yang kita ketahui bahwa ada banyak tulisan yang dipublikasikan mengenai pulihnya ingatan tentang pelecehan seksual di masa anak-anak berakhir keliru atau tidak koheren (nyambung) dengan fakta-fakta yang ada.
Lantas cerita berlanjut ke polisi muda yang bernama WIDKA, yang menderita voyeurisme. Voyeurisme adalah penyakit psikologis di mana penderitanya mencapai kepuasan seksual hanya dengan cara mengintip. Namun, tanpa sengaja aktifitas terlarangnya itu membuat sang tokoh tahu misteri dibalik kontroversi yang menyelimuti ALINA.
Kisah yang menarik tentang drama-hasrat-kriminal dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, sehingga kisah ini sangat layak untuk dinikmati sebagai bacaan yang menghibur sekaligus mengundang rasa penasaran.
Saya akan update terus cerita bersambung ini jika agan-agan berkenan terhadap cerita yang sedang saya kembangkan.
Terimakasih.
Seperti yang kita ketahui bahwa ada banyak tulisan yang dipublikasikan mengenai pulihnya ingatan tentang pelecehan seksual di masa anak-anak berakhir keliru atau tidak koheren (nyambung) dengan fakta-fakta yang ada.
Lantas cerita berlanjut ke polisi muda yang bernama WIDKA, yang menderita voyeurisme. Voyeurisme adalah penyakit psikologis di mana penderitanya mencapai kepuasan seksual hanya dengan cara mengintip. Namun, tanpa sengaja aktifitas terlarangnya itu membuat sang tokoh tahu misteri dibalik kontroversi yang menyelimuti ALINA.
Kisah yang menarik tentang drama-hasrat-kriminal dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, sehingga kisah ini sangat layak untuk dinikmati sebagai bacaan yang menghibur sekaligus mengundang rasa penasaran.
Saya akan update terus cerita bersambung ini jika agan-agan berkenan terhadap cerita yang sedang saya kembangkan.
Terimakasih.
Quote:
Hot Comment Sampai BAB VIII

Quote:
Original Posted By princess.anne►
Ane juga tau cerita ini setelah liat trit agan di CYSTG
Dari sana aja udah terpesona sama pengetahuan agan ttg kepribadian
Dan 4 hal di atas yg bikin ane makin WOW sama karya agan ini
Judul kayak gini justru bagus, unik. Coba kalo judulnya langsung: petualangan sang pengintip, sedikit agak basi. Tapi dengan kata voyeurism, pertama bikin kening berkerut, lalu semakin bikin penasaran, pengen menggali lebih dalem, endingnya "ooooh.... gitu!"
Oya satu hal lagi yang paling ane suka, agan ga cuma nyediain cerita yang bikin penasaran, menghibur, tapi juga memberikan banyak pengetahuan!
I love it!
Ane penggemar berat genre kayak gini
Pokoke semangat terus berkarya gan!
Ane juga tau cerita ini setelah liat trit agan di CYSTG

Dari sana aja udah terpesona sama pengetahuan agan ttg kepribadian

Dan 4 hal di atas yg bikin ane makin WOW sama karya agan ini
Judul kayak gini justru bagus, unik. Coba kalo judulnya langsung: petualangan sang pengintip, sedikit agak basi. Tapi dengan kata voyeurism, pertama bikin kening berkerut, lalu semakin bikin penasaran, pengen menggali lebih dalem, endingnya "ooooh.... gitu!"
Oya satu hal lagi yang paling ane suka, agan ga cuma nyediain cerita yang bikin penasaran, menghibur, tapi juga memberikan banyak pengetahuan!

I love it!
Ane penggemar berat genre kayak gini
Pokoke semangat terus berkarya gan!
Quote:
Original Posted By Blazerknight►homina homina homina, keren banget ceritanya asli..... 

Quote:
Original Posted By septhia►hari minggu, gak ada hiburan, buka kaskus liat thread agan, sungguh luar biasa ceritanya...gini ini yg seru gak hanya cerita cinta melulu...salut for agan...
Quote:
Original Posted By Garyu73►What gilaaak? Ini apa? Baru pertama liat uy, ini buku ya? Keren banget uy TS bisa nyampe disini terus menyalurkan ide gilanya 
Keren gan, mudahan ada waktu biar bisa baca ceritanya

Keren gan, mudahan ada waktu biar bisa baca ceritanya

Quote:
Original Posted By bapaknya.tongol►wanjeeeeng, aktingnya alin mantap kalee bah...
"pelakunya adalah kau". sambil menjukan jati tengah ke arah kolonel
ataukah hanya mimpi widka
bodo amat, yg penting cepet abdet lagiii braaay

tunggu cendol mateng ya braaay....
buru apdet nya..
"pelakunya adalah kau". sambil menjukan jati tengah ke arah kolonel

ataukah hanya mimpi widka

bodo amat, yg penting cepet abdet lagiii braaay

tunggu cendol mateng ya braaay....
buru apdet nya..
Quote:
Original Posted By chayono►Wah gan abis baca bab 5 part 1 kayaknya bakal makin dalem nih ceritanya. Awalnya ane percaya alina tuh gila. Tapi pas baca mengenai pendapat komandan jo trus review ulang kayaknya ada yg aneh dengan kolonelnya. Seolah olah di buat skenario alina meninggal padahal engga. Di tunggu part berikutnya yg lebih ngebuka misterinya.
Quote:
Quote:
Original Posted By velerkajut►akhirnya update juga makin keren aja nh jalur ceritanya gue suka cara penulisannya yg frontal jd ga kaku bacanya nice gan di tunggu part 3 nya

Quote:
Original Posted By cUmplanks►mana bab v!! manaaaaaaaaa...!!
manaaaaaa ...!! bab v bab v bab v...
hayok cepat gannnnn..penasaran 1/2 idup ini..!!
bener" nice post gan..cendol +1 dari ane yah..

manaaaaaa ...!! bab v bab v bab v...

hayok cepat gannnnn..penasaran 1/2 idup ini..!!

bener" nice post gan..cendol +1 dari ane yah..

Quote:
Original Posted By TahtaArash►bab V part 2 mana gan. ane udh bli paket extra buat baca cerita agan
Quote:
Original Posted By umikrachmi►Gan masih bersambung yaaa ceritanyaaa? Seruuu sumpah
Quote:
Quote:
Original Posted By milan22►Yah,ternyata masih bersambung, padahal ane udah siap2 menebak endingnya..
Update nya kapan gan?
Update nya kapan gan?
Quote:
Original Posted By encantz►update lagi mas, alinanya jgn dimatiin yak 

Quote:
Quote:
Quote:
Original Posted By dados8756►izin stalk mas bro
, bagus ceritanya... sambil sekalian belajar
, bagus ceritanya... sambil sekalian belajarQuote:
Quote:
BAB I












BERSAMBUNG
INDEX
Quote:
BAB II Versi jpg
BAB II Versi Text Part 1
BAB II Versi Text Part 2
BAB II Versi Text Part 3
BAB III Versi Text Part 1
BAB III Versi Text Part 2
BAB III Versi Text Part 3
BAB IV Versi Text Part 1
BAB IV Versi Text Part 2
BAB IV Versi Text Part 3
BAB V Versi Text Part 1
BAB V Versi Text Part 2
BAB V Versi Text Part 3
BAB VI Versi Text Part 1
BAB VI Versi Text Part 2
BAB VI Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 1
BAB VII Versi Text Part 2
BAB VII Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 4
WFull Version: Wattpad
BAB II Versi Text Part 1
BAB II Versi Text Part 2
BAB II Versi Text Part 3
BAB III Versi Text Part 1
BAB III Versi Text Part 2
BAB III Versi Text Part 3
BAB IV Versi Text Part 1
BAB IV Versi Text Part 2
BAB IV Versi Text Part 3
BAB V Versi Text Part 1
BAB V Versi Text Part 2
BAB V Versi Text Part 3
BAB VI Versi Text Part 1
BAB VI Versi Text Part 2
BAB VI Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 1
BAB VII Versi Text Part 2
BAB VII Versi Text Part 3
BAB VII Versi Text Part 4
WFull Version: Wattpad
Spoiler for Cerita Lain? Mampir Gan:
Quote:
LAIN

Sinopsis
Seorang wanita mendapati dirinya tidak sendiri ketika ditinggal suaminya bekerja. Apa yang terjadi? Story Will SHOCK YOU!!!Click Here!!

Sinopsis
Seorang wanita mendapati dirinya tidak sendiri ketika ditinggal suaminya bekerja. Apa yang terjadi? Story Will SHOCK YOU!!!Click Here!!
Quote:
TRAGEDI PEMBUNUHAN DI ZANGGARO


Sinopsis
Kali ini Inspektur Jo dan Assitennnya, Widka harus memecahkan pembunuhan sadis di Zanggaro, salah satu Negara bagian Afrika.Menurut saksi, ciri-ciri seorang pelaku pembunuhan persis seperti Sibiso Vilikazi dan Sibiso Khumalo. Keduanya saudara kembar. Namun ada 1 hal yang pasti diantara keduanya, yakni salah satu dari mereka adalah seorang pembohong patologis. Link? Click here!!
Kali ini Inspektur Jo dan Assitennnya, Widka harus memecahkan pembunuhan sadis di Zanggaro, salah satu Negara bagian Afrika.Menurut saksi, ciri-ciri seorang pelaku pembunuhan persis seperti Sibiso Vilikazi dan Sibiso Khumalo. Keduanya saudara kembar. Namun ada 1 hal yang pasti diantara keduanya, yakni salah satu dari mereka adalah seorang pembohong patologis. Link? Click here!!
Spoiler for Makasih Cendolnya:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 124 suara
Misteri apa yang agan harapkan terkuak dari cerita ini?
Alina memang gila - Drama, Psychological Thriller
7%
Semua Cuma Bayangan Widka - Drama, Psychological Thriller, Horor
13%
Konspirasi Kolonel - Action, Thriller
42%
TS-nya Gila
38%
Diubah oleh widka 25-02-2017 09:51
anasabila dan yuliaherliani99 memberi reputasi
0
109.2K
Kutip
781
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
widka
#34
TEXT BAB II PART 2
Spoiler for TEXT BAB II Part 2:
“Berita ini heboh gara-gara media terus-terusan menayangkan kasusnya.” Kata Mario.
“Pembunuhnya pacarnya sendirikan?” Tanya Anjani.
“Mantan pacar.” Jawab Widka.
“Ya, maksud aku juga itu, Ka.” Gumam Anjani yang memanggil Widka dengan sebutan ‘Ka’.
“Bukannya kasus ini masuk dalam wilayah kamu, Wid?” Tanya Mario penasaran.
“Betul,” kata Widka menyuruput avocado ice brewnya.
Saat itu Widka, Mario, dan Anjani tengah berada di bar, menghabiskan waktu di akhir pekan. Berkumpul bersama sahabatnya merupakan salah satu cara Widka melegakan hatinya di tengah pekerjaan yang keparat. Widka dan Mario berteman sejak SMA. Bisa dibilang persahabatan mereka tidak luntur oleh batasan waktu. Bukan itu saja, hubungan mereka juga tidak celaka ketika keduanya terlibat cinta dengan satu wanita yang sama. Bisa dibilang Widka memiliki kesabaran yang berlimpah karena merelakan Mario menjalin hubungan dengan Anjani. Walaupun demikian, Mario bukanlah tipe teman yang suka menikung. Hanya saja dia hanya tidak tahu menahu perasaan sohibnya yang selalu bungkam soal perasaan cintanya. Memang benar selama ini Widka tidak pernah mengungkapkan kesukaannya kepada Anjani secara gamblang. Ditambah lagi, Widka merasa dirinya tidak begitu menggebu. Berbeda dengan sikap yang ditunjukkan Mario, ia terang-terangan menyatakan perasaannya.
Widka itu sentimentil, gampang mundur ketika ceweknya memasang pertahanan yang terlalu kuat, merasa tidak enakan hingga perasaan itu menguap begitu saja.
“Kau baru aja ditempatin di polsek sana,” sahut Mario, “langsung ketiban kasus pembunuhan begini. Menurutmu, bakal ada lagi gak pembunuhan-pembunuhan selanjutnya?”
“Itu artinya akulah pembawa sial, begitu?” Tanya Widka, dia melihat dari sudut matanya Mario tertawa. “Brengsek! Bahkan kau nggak bersimpati sama sekali sama yang mati.”
Dari tertawa berangsur-angsur meringis. Mario menghela nafas panjang, lalu bicara, “sori-sori. Tapi biar aku kasih tahu kau sesuatu, Wid.”
“Kalau itu membuat aku marah, mending gak usah,” sungut Widka kepada Mario.
Mario tidak lagi cengar-cengir, suaranya melunak, “aku tahu kau orang baik. Tetapi pikirlah untuk jadi bedebah sesekali. Itu akan melegakan hatimu, Wid. Kau itukan polisi. Bukannya udah seharusnya punya hati sekeras batu karang?”
“Ya betul itu.” Widka merenung, “aku ini nggak bisa berhenti memikirkan cewek yang mati itu. Sialan! Malang bener nasibnya”
“Bagaimana kalau kita ganti pembicaraan. Kasian kan si Polisi ini nggak ada habisnya menceritakan soal pembunuhan.” Anjani menengahi permbicaraan mereka.
“Ngomong-ngomong soal cewek,” kata Mario seolah mendapat ide, “sudah kau sikat belum temennya Anjani?”
“Maksudnya?” tanya Widka mengernyit.
“Ituloh temennya Anjani.” Untuk sejenak dia memikirkan sesuatu. “Siapa namanya Yang? Temen kamu yang kamu kenalin ke Widka?”
“Hani?”
“Ah. Ya Hani.. Sudah kau ajak jalan belum?”
“Bukan saatnya ngomongin itu, Mario.” Widka mencibir.
“Sebagai teman, aku nggak mau lihat kau jomblo seumur hidup. Apa kata orang kalau kau terus-terusan seorang diri? Ayolah, buka hatimu untuk orang lain.”
“Termakasih teman-teman. Kalian temenku yang paling baik. Tapi jujur aja. Hani itu tidak tertarik denganku. Jadi aku rasa pembicaraan tentang Hani sampai sini aja. Ok?!” Widka diam. Dia menyeruput minumannya lagi.
“Ok.. Ok.. Paham kita ganti pembicaraan lagi.”
Mario menoleh ke arah Anjani, ceweknya manggut-manggut cepat menandakan pemahaman diantara keduanya, lalu bicara ke arah Widka: “Wid, mau minum lagi, gak? Hari ini, aku traktir semuanya untukmu. Untuk sahabatku, Si Polisi Tidur.
“Serius?” Widka mengangkat kedua alisnya.
“Serius,” katanya melengking. “Apa aku ini kelihatan bohong.”
“Cerah bener mukamu hari ini. Sepertinya serius.”
Mario menyodorkan menu ke Widka.
“Aku ini hampir lupa,” kata Widka seolah ingat sesuatu. “Kalian berdua yang ngundangku ke sini. Nah, sekarang kasih tahu dong, apa yang penting dari pertemuan kita kali ini?”
“Pesen aja dulu,” sergah Mario.
“Makan ya?” Widka nyengir.
“Bebas.”
“Hasyiiik!! Laper nih.”
Mario mengangkat tangannya ke pelayan cewek yang terlihat judes. Dia datang dengan kertas dan pulpen di tangannya. Mencatat pesanan pelanggannya. Setelah selesai, pelayan itu buru-buru pergi ke belakang.
Untuk sejenak mereka terdiam. Widka memperhatikan sekitar yang nampak ramai. Di sebrang meja terdapat empat muda-mudi yang saling berpasangan. Di meja bar, terdapat dua orang yang duduk dalam pikirannya masing-masing. Dan ketika Widka harus melihat meja sebelah kirinya, ia bertumbuk pandang dengan seorang pria tua berambut cepak.
“Sejak kapan dia memperhatikanku?” Widka membatin. Ia kemudian melepas pandagannya dan mulai memperhatikan sekilas saja dari sudut matanya. “Mungkin mereka pasangan homo.” Widka mendapat kesan bahwa dua pria itu berasal dari kalangan tentara: berambut cepak dan berbadan tegap.
“Nah, coba cerita, ada pengumuman penting apa pertemuan kita kali ini?” Tanya Widka tidak sabaran.
“Oh ya,” Mario lupa. Tapi ketika dia ingin berbicara, si pelayan yang judes itu datang tanpa permisi membrondong meja mereka dengan menaruh gelas-gelas, ice bucket, dan sebotol Cointreu di hadapannya. Dia juga menuangkan botol itu ke tiga gelas.
“Terimakasih,” Kata Mario menoleh ketika pelayan meninggalkan mereka, tetapi sama sekali tidak digubris. Mario hanya menatap nanar ke punggung pelayan itu. Widka mengangkat bahu.
“Begini,” lanjut Mario “bulan depan aku dan Anjani berencana untuk tunangan. Kita mau bikin acara kecil-kecilan di rumah Anjani. Ketemu keluarga-keluarga dekat. Karena aku ini telah anggap kau sebagai saudaraku sendiri. Begitu juga Anjani. Kita ini mau kau hadir di sana. Gimana, sibuk gak?”
Widka mengangkat rough gelas itu cepat-cepat, membuka mulutnya lebar-lebar, dan menenggak cairan alkohol itu dalam satu kali teguk. Menderitakah dia? Seharusnya dia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Anjani.
“Selamatlah buat kalian berdua. Emang udah seharusnya hubungan kalian segera dilegalkan.” Widka merasa menyesal telah melontarkan kata-kata itu. “Aku pasti datang… Pasti.”
Mario menuang Cointreu itu kembali ke gelas Widka, kini mereka bersulang atas persahabatan mereka, atas kebahagiaan dua sejoli yang akan melanjut ke pernikahan. Kalau memang jadi, Widka tidak bisa lagi mengajak Anjani jalan-jalan sembarangan sekedar ingin ngobrol atau melepas kebosanan.
Jeda panjang dalam pertemuan mereka terisi oleh suara musik. Saat itu lagu Jason Mraz Feat Colbie Colliant, Lucky Im in love mengalun dari sound system bar:
Widka memperhatikan kedua sahabatnya memancarkan kegembiraan dan berdamai dengan dunia. Berbeda dengan suasana hatinya yang gelisah.
Waktu terus berlanjut, mereka tidak lagi membicarakan tentang rencana-rencana pernikahan mereka. Samar-samar, sambil makan iga balado, Widka setengah sadar mendengar mereka membicarakan tentang masa lalunya waktu SMA: perkelahian, kejadian lucu, dan nasib buruk ketika ujian sekolah. Kadang mereka tertawa, merenung dan jijik. Tidak satupun dari perbincangan ini yang menarik perhatiannya. Dia merasa ingin segera mengakhiri pertemuan jika memang bisa ia sela. Moodnya anjlok.
“Setelah ini apa yang aku lakukan?” batinnya gelisah.
Pada akhirnya salah satu dari mereka bergumam sesuatu: “Liburan ini, kita mau pergi ke Bandung,” Mario menyela dan bangkit dari tempat duduknya. “Ikut, yuk!”
“Bandung… Ngapain?”
“Mau ketemu kawan lama di sana. Sambil membawa berita baik ini.”
“Aku ini nggak punya urusan kayaknya,” kata Widka tidak bersemangat. “Kalian sajalah.”
Mario mengangkat bahu dan berjalan menghampiri kasir, mengambil bon, membayar semua tagihan dan berpamitan dengan si bartender.
“Kalian pulang aja duluan. Aku masih mau di sini,” kata Widka ketika Mario datang lagi menghampirinya.
“Kamu serius, Ka?” Tanya Anjani menyela sambil menatap Widka yang terlihat setengah mabuk.
“Ya. aku ini ada urusan dengan bartender yang sok jago itu.” Kata Widka santai sambil berjalan menghantarkan mereka ke pintu keluar. “Makasih traktirannya ya. Salam buat bokap-nyokap… dadaah.” Widka melambaikan tangannya.
Sesudah itu dia berbalik dan berjalan menuju meja bar, pantatnya dia rebahkan begitu saja ke bangku yang ada persis di depan Pempie, si bartender.
“Jarang ngeliat Abang datang lagi ke sini,” tuturnya.
“Ya,” katanya sambil mengambil rokok dan menawarkan satu ke Pempie.
“Banyak kerjaan.”
“Mau minum?” Tanya bartender itu menyalakan api untuk Widka, lalu dirinya.
“Black Jack, Pem,” sergah polisi itu.
Pempie hanya mengangkat jempolnya, “Sip.”
Sembari Widka menunggu, mata polisi itu mengitari seisi bar. Tidak ada yang menarik perhatiannya kecuali pria tua berambut cepak yang potongannya seperti tentara. Dia bersama temannya. Dari tadi Widka memergoki pandangan pria itu kearahnya. “Sialan, dia menunggu.”
“Black Jack.” Pempie menaruh cocktail itu dan asbak tepat di depan tangan Widka.
“Kau kenal mereka?” Tanya Widka “Dua pria itu?”
“Hmm…” Bartender itu menyipitkan matanya, mengingat-ingat apakah mereka adalah pelanggan yang sering datang ke barnya atau tidak. “Tidak. Tapi kayaknya minggu lalu mereka datang ke sini.”
“Oh.” Widka menenggak minumannya.
“Ada apa?” Tanya si penjaga bar penasaran.
“Gak apa. Aku pikir mereka pasangan homo.”
“Serius, Bang?” Pempie terbahak “Apa Abang ini mau join sama mereka?” katanya sambil lalu menepuk bahu Widka. “Bercanda Pempie ini Bang.”
“Sial! Sebentar lagi, akan ada yang menghajar kau biar tahu sopan santun,” suara Widka terdengar becanda.
“Jangan begitulah Bang. Nanti siapa lagi yang bisa bikinin Abang minuman lagi?” Rengek bartender itu. “Ngomong-ngomong Abang nggak pulang bareng sama dua sejoli itu, Bang?”
Widka menghisap rokoknya dalam-dalam, “mereka udah ga bisa temenin aku lagi, Pem.”
“Maksudnya?”
“Dua sejoli itu akan disibukan oleh rencana tunangan mereka, setelah itu menikah, bulan madu, dan punya anak,” tutur Widka sambil melingkarkan asap-asap rokok itu ke udara.
“Serius mereka akan menikah, Bang? Wah.. pantas muka Abang kusut begitu.” Kata penjaga bar itu mengejeknya lagi.
“Emang kenapa?” Widka mencibir, seolah pertanyaan itu tidak berarti untuk dijawab. Ia mengepulkan asap lagi.
“Tenang-tenang, ada Pempie di sini. Nemenin Abang minum-minum,” tutur Pempie, “Abang yang traktir tentunya.”
Widka hanya mengangkat bahu dan alisnya.
“Sebentar ya Bang, Pempie ada pesanan,” sergahnya sambil menghampiri pelayan yang judes.
Begitulah Widka menghabiskan seteguk demi seteguk minumannya. Sesekali dia sela dengan menghisap batang rokoknya dalam-dalam lalu mengepulnya ke udara. Tepat setelah habis setengah gelas, Widka menyadari ada orang yang mendekatinya dari belakang. Ia menunggu.
“Permisi.” Kata bayangan itu. “Kamu pasti Widka, betul?”
“Pembunuhnya pacarnya sendirikan?” Tanya Anjani.
“Mantan pacar.” Jawab Widka.
“Ya, maksud aku juga itu, Ka.” Gumam Anjani yang memanggil Widka dengan sebutan ‘Ka’.
“Bukannya kasus ini masuk dalam wilayah kamu, Wid?” Tanya Mario penasaran.
“Betul,” kata Widka menyuruput avocado ice brewnya.
Saat itu Widka, Mario, dan Anjani tengah berada di bar, menghabiskan waktu di akhir pekan. Berkumpul bersama sahabatnya merupakan salah satu cara Widka melegakan hatinya di tengah pekerjaan yang keparat. Widka dan Mario berteman sejak SMA. Bisa dibilang persahabatan mereka tidak luntur oleh batasan waktu. Bukan itu saja, hubungan mereka juga tidak celaka ketika keduanya terlibat cinta dengan satu wanita yang sama. Bisa dibilang Widka memiliki kesabaran yang berlimpah karena merelakan Mario menjalin hubungan dengan Anjani. Walaupun demikian, Mario bukanlah tipe teman yang suka menikung. Hanya saja dia hanya tidak tahu menahu perasaan sohibnya yang selalu bungkam soal perasaan cintanya. Memang benar selama ini Widka tidak pernah mengungkapkan kesukaannya kepada Anjani secara gamblang. Ditambah lagi, Widka merasa dirinya tidak begitu menggebu. Berbeda dengan sikap yang ditunjukkan Mario, ia terang-terangan menyatakan perasaannya.
Widka itu sentimentil, gampang mundur ketika ceweknya memasang pertahanan yang terlalu kuat, merasa tidak enakan hingga perasaan itu menguap begitu saja.
“Kau baru aja ditempatin di polsek sana,” sahut Mario, “langsung ketiban kasus pembunuhan begini. Menurutmu, bakal ada lagi gak pembunuhan-pembunuhan selanjutnya?”
“Itu artinya akulah pembawa sial, begitu?” Tanya Widka, dia melihat dari sudut matanya Mario tertawa. “Brengsek! Bahkan kau nggak bersimpati sama sekali sama yang mati.”
Dari tertawa berangsur-angsur meringis. Mario menghela nafas panjang, lalu bicara, “sori-sori. Tapi biar aku kasih tahu kau sesuatu, Wid.”
“Kalau itu membuat aku marah, mending gak usah,” sungut Widka kepada Mario.
Mario tidak lagi cengar-cengir, suaranya melunak, “aku tahu kau orang baik. Tetapi pikirlah untuk jadi bedebah sesekali. Itu akan melegakan hatimu, Wid. Kau itukan polisi. Bukannya udah seharusnya punya hati sekeras batu karang?”
“Ya betul itu.” Widka merenung, “aku ini nggak bisa berhenti memikirkan cewek yang mati itu. Sialan! Malang bener nasibnya”
“Bagaimana kalau kita ganti pembicaraan. Kasian kan si Polisi ini nggak ada habisnya menceritakan soal pembunuhan.” Anjani menengahi permbicaraan mereka.
“Ngomong-ngomong soal cewek,” kata Mario seolah mendapat ide, “sudah kau sikat belum temennya Anjani?”
“Maksudnya?” tanya Widka mengernyit.
“Ituloh temennya Anjani.” Untuk sejenak dia memikirkan sesuatu. “Siapa namanya Yang? Temen kamu yang kamu kenalin ke Widka?”
“Hani?”
“Ah. Ya Hani.. Sudah kau ajak jalan belum?”
“Bukan saatnya ngomongin itu, Mario.” Widka mencibir.
“Sebagai teman, aku nggak mau lihat kau jomblo seumur hidup. Apa kata orang kalau kau terus-terusan seorang diri? Ayolah, buka hatimu untuk orang lain.”
“Termakasih teman-teman. Kalian temenku yang paling baik. Tapi jujur aja. Hani itu tidak tertarik denganku. Jadi aku rasa pembicaraan tentang Hani sampai sini aja. Ok?!” Widka diam. Dia menyeruput minumannya lagi.
“Ok.. Ok.. Paham kita ganti pembicaraan lagi.”
Mario menoleh ke arah Anjani, ceweknya manggut-manggut cepat menandakan pemahaman diantara keduanya, lalu bicara ke arah Widka: “Wid, mau minum lagi, gak? Hari ini, aku traktir semuanya untukmu. Untuk sahabatku, Si Polisi Tidur.
“Serius?” Widka mengangkat kedua alisnya.
“Serius,” katanya melengking. “Apa aku ini kelihatan bohong.”
“Cerah bener mukamu hari ini. Sepertinya serius.”
Mario menyodorkan menu ke Widka.
“Aku ini hampir lupa,” kata Widka seolah ingat sesuatu. “Kalian berdua yang ngundangku ke sini. Nah, sekarang kasih tahu dong, apa yang penting dari pertemuan kita kali ini?”
“Pesen aja dulu,” sergah Mario.
“Makan ya?” Widka nyengir.
“Bebas.”
“Hasyiiik!! Laper nih.”
Mario mengangkat tangannya ke pelayan cewek yang terlihat judes. Dia datang dengan kertas dan pulpen di tangannya. Mencatat pesanan pelanggannya. Setelah selesai, pelayan itu buru-buru pergi ke belakang.
Untuk sejenak mereka terdiam. Widka memperhatikan sekitar yang nampak ramai. Di sebrang meja terdapat empat muda-mudi yang saling berpasangan. Di meja bar, terdapat dua orang yang duduk dalam pikirannya masing-masing. Dan ketika Widka harus melihat meja sebelah kirinya, ia bertumbuk pandang dengan seorang pria tua berambut cepak.
“Sejak kapan dia memperhatikanku?” Widka membatin. Ia kemudian melepas pandagannya dan mulai memperhatikan sekilas saja dari sudut matanya. “Mungkin mereka pasangan homo.” Widka mendapat kesan bahwa dua pria itu berasal dari kalangan tentara: berambut cepak dan berbadan tegap.
“Nah, coba cerita, ada pengumuman penting apa pertemuan kita kali ini?” Tanya Widka tidak sabaran.
“Oh ya,” Mario lupa. Tapi ketika dia ingin berbicara, si pelayan yang judes itu datang tanpa permisi membrondong meja mereka dengan menaruh gelas-gelas, ice bucket, dan sebotol Cointreu di hadapannya. Dia juga menuangkan botol itu ke tiga gelas.
“Terimakasih,” Kata Mario menoleh ketika pelayan meninggalkan mereka, tetapi sama sekali tidak digubris. Mario hanya menatap nanar ke punggung pelayan itu. Widka mengangkat bahu.
“Begini,” lanjut Mario “bulan depan aku dan Anjani berencana untuk tunangan. Kita mau bikin acara kecil-kecilan di rumah Anjani. Ketemu keluarga-keluarga dekat. Karena aku ini telah anggap kau sebagai saudaraku sendiri. Begitu juga Anjani. Kita ini mau kau hadir di sana. Gimana, sibuk gak?”
Widka mengangkat rough gelas itu cepat-cepat, membuka mulutnya lebar-lebar, dan menenggak cairan alkohol itu dalam satu kali teguk. Menderitakah dia? Seharusnya dia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Anjani.
“Selamatlah buat kalian berdua. Emang udah seharusnya hubungan kalian segera dilegalkan.” Widka merasa menyesal telah melontarkan kata-kata itu. “Aku pasti datang… Pasti.”
Mario menuang Cointreu itu kembali ke gelas Widka, kini mereka bersulang atas persahabatan mereka, atas kebahagiaan dua sejoli yang akan melanjut ke pernikahan. Kalau memang jadi, Widka tidak bisa lagi mengajak Anjani jalan-jalan sembarangan sekedar ingin ngobrol atau melepas kebosanan.
Jeda panjang dalam pertemuan mereka terisi oleh suara musik. Saat itu lagu Jason Mraz Feat Colbie Colliant, Lucky Im in love mengalun dari sound system bar:
Do you hear me?
I’m talking to you Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I’m trying
Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard
I’m talking to you Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I’m trying
Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard
Widka memperhatikan kedua sahabatnya memancarkan kegembiraan dan berdamai dengan dunia. Berbeda dengan suasana hatinya yang gelisah.
Waktu terus berlanjut, mereka tidak lagi membicarakan tentang rencana-rencana pernikahan mereka. Samar-samar, sambil makan iga balado, Widka setengah sadar mendengar mereka membicarakan tentang masa lalunya waktu SMA: perkelahian, kejadian lucu, dan nasib buruk ketika ujian sekolah. Kadang mereka tertawa, merenung dan jijik. Tidak satupun dari perbincangan ini yang menarik perhatiannya. Dia merasa ingin segera mengakhiri pertemuan jika memang bisa ia sela. Moodnya anjlok.
“Setelah ini apa yang aku lakukan?” batinnya gelisah.
Pada akhirnya salah satu dari mereka bergumam sesuatu: “Liburan ini, kita mau pergi ke Bandung,” Mario menyela dan bangkit dari tempat duduknya. “Ikut, yuk!”
“Bandung… Ngapain?”
“Mau ketemu kawan lama di sana. Sambil membawa berita baik ini.”
“Aku ini nggak punya urusan kayaknya,” kata Widka tidak bersemangat. “Kalian sajalah.”
Mario mengangkat bahu dan berjalan menghampiri kasir, mengambil bon, membayar semua tagihan dan berpamitan dengan si bartender.
“Kalian pulang aja duluan. Aku masih mau di sini,” kata Widka ketika Mario datang lagi menghampirinya.
“Kamu serius, Ka?” Tanya Anjani menyela sambil menatap Widka yang terlihat setengah mabuk.
“Ya. aku ini ada urusan dengan bartender yang sok jago itu.” Kata Widka santai sambil berjalan menghantarkan mereka ke pintu keluar. “Makasih traktirannya ya. Salam buat bokap-nyokap… dadaah.” Widka melambaikan tangannya.
Sesudah itu dia berbalik dan berjalan menuju meja bar, pantatnya dia rebahkan begitu saja ke bangku yang ada persis di depan Pempie, si bartender.
“Jarang ngeliat Abang datang lagi ke sini,” tuturnya.
“Ya,” katanya sambil mengambil rokok dan menawarkan satu ke Pempie.
“Banyak kerjaan.”
“Mau minum?” Tanya bartender itu menyalakan api untuk Widka, lalu dirinya.
“Black Jack, Pem,” sergah polisi itu.
Pempie hanya mengangkat jempolnya, “Sip.”
Sembari Widka menunggu, mata polisi itu mengitari seisi bar. Tidak ada yang menarik perhatiannya kecuali pria tua berambut cepak yang potongannya seperti tentara. Dia bersama temannya. Dari tadi Widka memergoki pandangan pria itu kearahnya. “Sialan, dia menunggu.”
“Black Jack.” Pempie menaruh cocktail itu dan asbak tepat di depan tangan Widka.
“Kau kenal mereka?” Tanya Widka “Dua pria itu?”
“Hmm…” Bartender itu menyipitkan matanya, mengingat-ingat apakah mereka adalah pelanggan yang sering datang ke barnya atau tidak. “Tidak. Tapi kayaknya minggu lalu mereka datang ke sini.”
“Oh.” Widka menenggak minumannya.
“Ada apa?” Tanya si penjaga bar penasaran.
“Gak apa. Aku pikir mereka pasangan homo.”
“Serius, Bang?” Pempie terbahak “Apa Abang ini mau join sama mereka?” katanya sambil lalu menepuk bahu Widka. “Bercanda Pempie ini Bang.”
“Sial! Sebentar lagi, akan ada yang menghajar kau biar tahu sopan santun,” suara Widka terdengar becanda.
“Jangan begitulah Bang. Nanti siapa lagi yang bisa bikinin Abang minuman lagi?” Rengek bartender itu. “Ngomong-ngomong Abang nggak pulang bareng sama dua sejoli itu, Bang?”
Widka menghisap rokoknya dalam-dalam, “mereka udah ga bisa temenin aku lagi, Pem.”
“Maksudnya?”
“Dua sejoli itu akan disibukan oleh rencana tunangan mereka, setelah itu menikah, bulan madu, dan punya anak,” tutur Widka sambil melingkarkan asap-asap rokok itu ke udara.
“Serius mereka akan menikah, Bang? Wah.. pantas muka Abang kusut begitu.” Kata penjaga bar itu mengejeknya lagi.
“Emang kenapa?” Widka mencibir, seolah pertanyaan itu tidak berarti untuk dijawab. Ia mengepulkan asap lagi.
“Tenang-tenang, ada Pempie di sini. Nemenin Abang minum-minum,” tutur Pempie, “Abang yang traktir tentunya.”
Widka hanya mengangkat bahu dan alisnya.
“Sebentar ya Bang, Pempie ada pesanan,” sergahnya sambil menghampiri pelayan yang judes.
Begitulah Widka menghabiskan seteguk demi seteguk minumannya. Sesekali dia sela dengan menghisap batang rokoknya dalam-dalam lalu mengepulnya ke udara. Tepat setelah habis setengah gelas, Widka menyadari ada orang yang mendekatinya dari belakang. Ia menunggu.
“Permisi.” Kata bayangan itu. “Kamu pasti Widka, betul?”
Diubah oleh widka 05-09-2014 10:42
0
Kutip
Balas

ternyata si alina emg sakit beneran

