- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#1014
PART 62 – I Call You Through The Rain eps. 3
Gue masuk kedalem rumah yang jadi posko KKN desa gue, dan kemudian bergabung bersama Haris dan Ilham yang lagi nonton film. Gue duduk di belakang mereka berdua sambil bersandar ke dinding. Di depan gue ada film yang lagi diputer tapi pikiran gue gak disitu samasekali. Alhasil sampe sekarang gue lupa film apa yang diputer waktu itu. Pikiran gue melayang ke isi obrolan dengan Vina barusan. Gue menoleh ke arah kamar cewek yang pintunya selalu tertutup, dan menarik napas panjang.
Gue melamun, sesekali memutar-mutarkan BB gue di telapak tangan. Tanpa sadar, film yang Haris dan Ilham tonton udah abis. Mereka berdua membereskan laptop dan masuk ke kamar, tidur, sementara gue masih duduk sendirian di ruang tengah yang gelap, bersandar pada dinding. Cuma cahaya dari lampu serambi belakang yang menerangi ruang tengah itu sehingga gak terlalu gelap gulita. Entah berapa lama waktu yang gue habiskan disitu, mendadak pintu kamar cewek terbuka perlahan. Gue menoleh ke sumber cahaya dari kamar cewek itu. Ternyata Vina yang keluar. Dia langsung duduk bersandar di dinding, tepat di samping gue.
Gue tersenyum dan menunduk. Kemudian gue bungkukkan badan kedepan dan mengambil bantal yang tergeletak di kaki gue, dan gue peluk tuh bantal sambil memandangi Vina. Gue liat dia berwajah agak pucat, dengan rambut tergerai kedepan.
Gue memandangi Vina. Ini anak juga punya problem ya tentang kehidupan cintanya, pikir gue. Ternyata apa yang barusan gue bicarakan sama Vina terbukti. Bahwa manusia pada umumnya memperlihatkan apa yang ingin dia perlihatkan. Yah, seperti Vina ini. Dari luar gue lihat dia anaknya ceria, bawel, manja dan segala macem. Tapi itu adalah sisi yang ingin dia perlihatkan. Dia gak mau memperlihatkan tangisannya di dalem hati. Seperti Tami, yang juga punya segudang masalah pribadi, tapi di kampus dia selalu memperlihatkan bahwa dia baik-baik aja.
Gue menarik tangan Vina, dan menggenggamnya diatas bantal di pangkuan gue.
Vina menggenggam tangan gue erat, dan tersenyum ke arah gue didalam kegelapan itu.
Gue tertawa kecil dan merasakan telapak tangan gue dikecup oleh Vina.
Gue masuk kedalem rumah yang jadi posko KKN desa gue, dan kemudian bergabung bersama Haris dan Ilham yang lagi nonton film. Gue duduk di belakang mereka berdua sambil bersandar ke dinding. Di depan gue ada film yang lagi diputer tapi pikiran gue gak disitu samasekali. Alhasil sampe sekarang gue lupa film apa yang diputer waktu itu. Pikiran gue melayang ke isi obrolan dengan Vina barusan. Gue menoleh ke arah kamar cewek yang pintunya selalu tertutup, dan menarik napas panjang.
Gue melamun, sesekali memutar-mutarkan BB gue di telapak tangan. Tanpa sadar, film yang Haris dan Ilham tonton udah abis. Mereka berdua membereskan laptop dan masuk ke kamar, tidur, sementara gue masih duduk sendirian di ruang tengah yang gelap, bersandar pada dinding. Cuma cahaya dari lampu serambi belakang yang menerangi ruang tengah itu sehingga gak terlalu gelap gulita. Entah berapa lama waktu yang gue habiskan disitu, mendadak pintu kamar cewek terbuka perlahan. Gue menoleh ke sumber cahaya dari kamar cewek itu. Ternyata Vina yang keluar. Dia langsung duduk bersandar di dinding, tepat di samping gue.
Quote:
Gue tersenyum dan menunduk. Kemudian gue bungkukkan badan kedepan dan mengambil bantal yang tergeletak di kaki gue, dan gue peluk tuh bantal sambil memandangi Vina. Gue liat dia berwajah agak pucat, dengan rambut tergerai kedepan.
Quote:
Gue memandangi Vina. Ini anak juga punya problem ya tentang kehidupan cintanya, pikir gue. Ternyata apa yang barusan gue bicarakan sama Vina terbukti. Bahwa manusia pada umumnya memperlihatkan apa yang ingin dia perlihatkan. Yah, seperti Vina ini. Dari luar gue lihat dia anaknya ceria, bawel, manja dan segala macem. Tapi itu adalah sisi yang ingin dia perlihatkan. Dia gak mau memperlihatkan tangisannya di dalem hati. Seperti Tami, yang juga punya segudang masalah pribadi, tapi di kampus dia selalu memperlihatkan bahwa dia baik-baik aja.
Gue menarik tangan Vina, dan menggenggamnya diatas bantal di pangkuan gue.
Quote:
Vina menggenggam tangan gue erat, dan tersenyum ke arah gue didalam kegelapan itu.
Quote:
Gue tertawa kecil dan merasakan telapak tangan gue dikecup oleh Vina.
Diubah oleh jayanagari 05-09-2014 10:08
chanry dan 3 lainnya memberi reputasi
4


: kok lo belum tidur?
: nungguin elo tidur
: gombal lo *nonjok lengan gue*
: lo kenapa Bas? Daritadi lo kayaknya banyak pikiran. Apa yang tadi lo bilang ke gue itu yang jadi pikiran lo?
: maksud lo?
: kerja?
: sedikit.