- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
delet3 dan 50 lainnya memberi reputasi
49
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#993
PART 61 – I Call You Through The Rain eps. 2
Gue menyeruput kopi hitam milik gue di cangkir kecil, dan menghela napas panjang. Angin malam bertiup dingin, dan menyebabkan gue sesekali menggigil kedinginan. Gue melihat layar BB gue, jam menunjukkan pukul 1 pagi. Tadi gue BBM-an sama Anin, sampe sekitar jam setengah 12, sebelum dia pamit tidur. Gue kangen Anin. Tangan gue tanpa sadar membuka profile BBM Anin, dan melihat display picturenya, foto gue dan Anin berdua. Semakin lama gue pandangi wajah Anin di display picture itu, semakin kangen pula gue.
Siang tadi kegiatan kami adalah rapat perencanaan sosialisasi program kerja di balai desa setempat, sekaligus mendata para perangkat desa. Rapat itu sengaja gue adakan supaya kami mahasiswa KKN lebih mudah berkoordinasi dengan perangkat desa yang berwenang, dan kesempatan itu gue pergunakan juga untuk membina hubungan baik antara mahasiswa KKN dengan warga desa. Ternyata gak mudah ya jadi pimpinan, pikir gue sambil mengurut-urut jidat. Tapi harapan gue adalah dengan awal koordinasi yang baik seperti ini bisa memperlancar tugas-tugas kami nantinya, sekaligus supaya proker kami cepet selesai.
Gue memandangi langit malam sambil sesekali menyeruput kopi gue yang tinggal sedikit. Dari dalem gue denger Haris dan Ilham sedang nonton film di laptop, gue lupa itu film apa. Gue menengok ke dalam melalui pintu yang terbuka di samping gue dan tersenyum. Those kids. Beruntung gue punya partner seperti mereka. Gak cuma membantu secara fisik, tapi bisa menjadi tempat berbagi pikiran dan gak jarang mereka mengajukan pemecahan yang memang gue butuhkan. Semoga segalanya berjalan lancar sampe 1 bulan kedepan, pikir gue.
Lamunan gue terpecah, ketika mendadak seseorang duduk di samping gue. Ternyata Vina. Dia pake kaos dan celana training, dan jaket tipis. Di tangannya gue liat dia juga memegang secangkir kopi. Gue tersenyum kecil.
Gue tersenyum ke Vina, dan kemudian menyeruput sisa kopi gue. Hampir mendekati ampas. Pahit. Sambil memegangi cangkir gue yang nyaris kosong, gue memandangi Vina. Ini cewek ternyata setia ya, dibalik sifatnya yang bawel dan manja, pikir gue. Vina berambut sebahu, bergelombang. Putih, gak kurus tapi juga gak gendut. Hidungnya cukup mancung, bikin gue pingin nyentil tuh hidung sesekali.
Gue tertawa, dan menggosok-gosok rambut gue. Vina menyeruput kopinya sekali lagi, kemudian menoleh ke gue.
Gue melihat cangkir gue yang udah kosong tinggal ampasnya, kemudian meletakkan tuh cangkir di samping gue. Vina bersin di sebelah gue. Gue menoleh.
Vina tersenyum, dan menepuk-nepuk paha gue.
Vina tertawa. Entah kenapa gue tangkap ada getaran aneh di tawanya itu. Vina mengambil cangkir gue dan kemudian berdiri sambil membawa cangkir dia dan cangkir gue.
Vina tersenyum dan kemudian dia berlalu ke dalam rumah. Sementara gue masih di teras sambil memandangi gelapnya langit malam. Entah kenapa, waktu gue ngobrol dengan Vina barusan, gue merasakan ada Anin didalem diri Vina.
Gue menyeruput kopi hitam milik gue di cangkir kecil, dan menghela napas panjang. Angin malam bertiup dingin, dan menyebabkan gue sesekali menggigil kedinginan. Gue melihat layar BB gue, jam menunjukkan pukul 1 pagi. Tadi gue BBM-an sama Anin, sampe sekitar jam setengah 12, sebelum dia pamit tidur. Gue kangen Anin. Tangan gue tanpa sadar membuka profile BBM Anin, dan melihat display picturenya, foto gue dan Anin berdua. Semakin lama gue pandangi wajah Anin di display picture itu, semakin kangen pula gue.
Siang tadi kegiatan kami adalah rapat perencanaan sosialisasi program kerja di balai desa setempat, sekaligus mendata para perangkat desa. Rapat itu sengaja gue adakan supaya kami mahasiswa KKN lebih mudah berkoordinasi dengan perangkat desa yang berwenang, dan kesempatan itu gue pergunakan juga untuk membina hubungan baik antara mahasiswa KKN dengan warga desa. Ternyata gak mudah ya jadi pimpinan, pikir gue sambil mengurut-urut jidat. Tapi harapan gue adalah dengan awal koordinasi yang baik seperti ini bisa memperlancar tugas-tugas kami nantinya, sekaligus supaya proker kami cepet selesai.
Gue memandangi langit malam sambil sesekali menyeruput kopi gue yang tinggal sedikit. Dari dalem gue denger Haris dan Ilham sedang nonton film di laptop, gue lupa itu film apa. Gue menengok ke dalam melalui pintu yang terbuka di samping gue dan tersenyum. Those kids. Beruntung gue punya partner seperti mereka. Gak cuma membantu secara fisik, tapi bisa menjadi tempat berbagi pikiran dan gak jarang mereka mengajukan pemecahan yang memang gue butuhkan. Semoga segalanya berjalan lancar sampe 1 bulan kedepan, pikir gue.
Lamunan gue terpecah, ketika mendadak seseorang duduk di samping gue. Ternyata Vina. Dia pake kaos dan celana training, dan jaket tipis. Di tangannya gue liat dia juga memegang secangkir kopi. Gue tersenyum kecil.
Quote:
Gue tersenyum ke Vina, dan kemudian menyeruput sisa kopi gue. Hampir mendekati ampas. Pahit. Sambil memegangi cangkir gue yang nyaris kosong, gue memandangi Vina. Ini cewek ternyata setia ya, dibalik sifatnya yang bawel dan manja, pikir gue. Vina berambut sebahu, bergelombang. Putih, gak kurus tapi juga gak gendut. Hidungnya cukup mancung, bikin gue pingin nyentil tuh hidung sesekali.
Quote:
Gue tertawa, dan menggosok-gosok rambut gue. Vina menyeruput kopinya sekali lagi, kemudian menoleh ke gue.
Quote:
Gue melihat cangkir gue yang udah kosong tinggal ampasnya, kemudian meletakkan tuh cangkir di samping gue. Vina bersin di sebelah gue. Gue menoleh.
Quote:
Vina tersenyum, dan menepuk-nepuk paha gue.
Quote:
Vina tertawa. Entah kenapa gue tangkap ada getaran aneh di tawanya itu. Vina mengambil cangkir gue dan kemudian berdiri sambil membawa cangkir dia dan cangkir gue.
Quote:
Vina tersenyum dan kemudian dia berlalu ke dalam rumah. Sementara gue masih di teras sambil memandangi gelapnya langit malam. Entah kenapa, waktu gue ngobrol dengan Vina barusan, gue merasakan ada Anin didalem diri Vina.
Diubah oleh jayanagari 04-09-2014 14:35
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4


: *mengangguk* iya.
: kok tau?
: keliatan.
: Anin kalo di kampus anaknya gimana sih?
: amit-amit dah kalo nasibnya.
: buset lama amat?