- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#835
PART 53
Gue sedang menulis rundown acara di ruang keluarga rumah gue, sementara nyokap berbicara dengan bude di sebelah gue. Waktu itu memang gue dan keluarga besar sedang agak sibuk mempersiapkan acara pernikahan sodara sepupu gue. Kebetulan sodara sepupu gue ini memang paling dekat sama gue, daripada sama sodara sepupu yang lain. Jadilah gue dan keluarga gue menjadi seksi paling sibuk di acara pernikahan itu. Bokap diminta jadi ketua panitia pernikahan, sementara nyokap jadi bendahara. Lah gue? gue jadi pembantu utama. Tukang disuruh ini-itu.
Sesekali gue bertanya kepada nyokap gue tentang beberapa detail acara, dan gue menuliskan apa yang diterangkan. Gue mulai bosan, dan merasa butuh minum kopi. Gue melirik cewek yang sedari tadi duduk di dekat nyokap sambil senyum-senyum.
Gue melanjutkan menyusun rundown acara sambil sesekali ngemilin kue kering disebelah gue. Nikah adat Jawa ternyata repot juga ya, pikir gue. Apalagi ada siraman, midodareni dan segala macem gitu. Belom lagi kostumnya harus berbaju adat Jawa lengkap. Panas dah ah. Gue membayangkan kalo besok gue nikah, dan merinding sendiri menghadapi kerempongannya. Anin dateng dengan secangkir kopi susu panas dan kemudian duduk di samping gue sambil memandangi hasil coretan gue.
---------
Hari pernikahan saudara gue pun tiba. Agenda hari itu adalah siraman, dan Anin juga diundang untuk dateng di acara siraman itu. Anin menggunakan kebaya berwarna merah maroon, dengan rambut yang disanggul rapi model kontemporer. Gue menebak bahwa cewek gue ini pasti jadi pusat perhatian, dan bener aja dugaan gue. Baru dateng aja bude-bude gue yang lain udah pada ngajak ngobrol sambil memuji-muji penampilan Anin. Emang sih dengan tinggi 170 cm lebih ditambah pake high heels, siapa sih yang gak bakal merhatiin. Udah kayak menara berjalan gitu.
Gue dan Anin cuman bisa menjawab rentetan pertanyaan itu alakadarnya. Gue lirik Anin sambil menggerakkan bibir tanpa suara “hayoloh”. Gue lebih banyak diem sementara Anin yang ngejawab pertanyaan bude-bude yang berondongannya melebihi wartawan infotainment.
Kelar meladeni bude-bude dengan sejuta pertanyaan, kami berdua bergeser ke tempat sodara-sodara gue yang lain berkumpul. Nah bisa ditebak lagi, Anin jadi pusat perhatian. Pada nanya-nanya hal-hal yang sama seperti pertanyaan bude-bude sebelumnya. Ya asal Anin, kuliah dimana, kapan nyusul, udah berapa lama sama gue dan lain-lain. Gue sih ketawa aja. Gue mendekatkan bibir ke telinga Anin dan berbisik,
Anin paham maksud “capek” gue itu apa. Maksud capek gue adalah berondongan pertanyaan yang sama dan dia harus berbasa-basi ke banyak orang dalam waktu yang cukup lama. Dia menoleh ke gue dan tersenyum.
Gue tersenyum.
Selama acara hari itu, sering banget gue dan Anin difoto candid gitu. Ini fotografernya terobsesi sama gue kayaknya yak (atau sama Anin?
). Satu hal yang gue suka dari Anin hari itu adalah kalo dia difoto dalam posisi duduk di samping gue, pasti tangannya diletakkan diatas paha gue, sambil memegang tangan gue. Seperti menunjukkan bahwa “gue udah ada yang punya lho” seperti itu. Gayanya kayak ibu-ibu pejabat, sementara gue gayanya kayak preman. 
Besok malamnya, adalah acara midodareni, semacam acara lamaran dan pertemuan keluarga dalam adat Jawa gitu. Anin juga diajak di acara itu, dan malam itu dia tampil stunning (gue susah menemukan kata dalam bahasa Indonesia) dengan menggunakan kebaya berwarna hitam berkilau, dan rambut yang disanggul kontemporer seperti pada waktu siraman.
Di acara midodareni ini Anin udah dapet “temen”, yaitu ponakan gue bernama Tasya. Anak dari kakak sepupu gue, umurnya 5 tahun. Si gendut Tasya ini lengket banget kalo sama tante Anin nya sejak acara siraman kemaren. Dari siang dia udah nanya ke gue “om, nanti tante Anin dateng kaaan?”. Tasya maunya duduk disebelah Anin, terpaksa gue mengalah dengan duduk di belakang Anin. Tapi ada untungnya gue duduk di belakang Anin. Sesekali gue endus-endus rambutnya yang berbuah cubitan di hidung gue. Galak bener dah ah cewek gue satu ini
Waktu jamuan makan malem, Tasya nempeeel terus sama Anin. Emang dasarnya Anin orangnya luwes dan care, Tasya diambilin makan, sesekali disuapin. Dari kejauhan gue memandangi mereka berdua sambil tersenyum. Mendadak ada bude gue berdiri disamping gue sambil memandangi mereka berdua juga.
Gue sedang menulis rundown acara di ruang keluarga rumah gue, sementara nyokap berbicara dengan bude di sebelah gue. Waktu itu memang gue dan keluarga besar sedang agak sibuk mempersiapkan acara pernikahan sodara sepupu gue. Kebetulan sodara sepupu gue ini memang paling dekat sama gue, daripada sama sodara sepupu yang lain. Jadilah gue dan keluarga gue menjadi seksi paling sibuk di acara pernikahan itu. Bokap diminta jadi ketua panitia pernikahan, sementara nyokap jadi bendahara. Lah gue? gue jadi pembantu utama. Tukang disuruh ini-itu.
Sesekali gue bertanya kepada nyokap gue tentang beberapa detail acara, dan gue menuliskan apa yang diterangkan. Gue mulai bosan, dan merasa butuh minum kopi. Gue melirik cewek yang sedari tadi duduk di dekat nyokap sambil senyum-senyum.
Quote:
Gue melanjutkan menyusun rundown acara sambil sesekali ngemilin kue kering disebelah gue. Nikah adat Jawa ternyata repot juga ya, pikir gue. Apalagi ada siraman, midodareni dan segala macem gitu. Belom lagi kostumnya harus berbaju adat Jawa lengkap. Panas dah ah. Gue membayangkan kalo besok gue nikah, dan merinding sendiri menghadapi kerempongannya. Anin dateng dengan secangkir kopi susu panas dan kemudian duduk di samping gue sambil memandangi hasil coretan gue.
Quote:
---------
Hari pernikahan saudara gue pun tiba. Agenda hari itu adalah siraman, dan Anin juga diundang untuk dateng di acara siraman itu. Anin menggunakan kebaya berwarna merah maroon, dengan rambut yang disanggul rapi model kontemporer. Gue menebak bahwa cewek gue ini pasti jadi pusat perhatian, dan bener aja dugaan gue. Baru dateng aja bude-bude gue yang lain udah pada ngajak ngobrol sambil memuji-muji penampilan Anin. Emang sih dengan tinggi 170 cm lebih ditambah pake high heels, siapa sih yang gak bakal merhatiin. Udah kayak menara berjalan gitu.
Quote:
Gue dan Anin cuman bisa menjawab rentetan pertanyaan itu alakadarnya. Gue lirik Anin sambil menggerakkan bibir tanpa suara “hayoloh”. Gue lebih banyak diem sementara Anin yang ngejawab pertanyaan bude-bude yang berondongannya melebihi wartawan infotainment.
Kelar meladeni bude-bude dengan sejuta pertanyaan, kami berdua bergeser ke tempat sodara-sodara gue yang lain berkumpul. Nah bisa ditebak lagi, Anin jadi pusat perhatian. Pada nanya-nanya hal-hal yang sama seperti pertanyaan bude-bude sebelumnya. Ya asal Anin, kuliah dimana, kapan nyusul, udah berapa lama sama gue dan lain-lain. Gue sih ketawa aja. Gue mendekatkan bibir ke telinga Anin dan berbisik,
Quote:
Anin paham maksud “capek” gue itu apa. Maksud capek gue adalah berondongan pertanyaan yang sama dan dia harus berbasa-basi ke banyak orang dalam waktu yang cukup lama. Dia menoleh ke gue dan tersenyum.
Quote:
Gue tersenyum.
Selama acara hari itu, sering banget gue dan Anin difoto candid gitu. Ini fotografernya terobsesi sama gue kayaknya yak (atau sama Anin?
). Satu hal yang gue suka dari Anin hari itu adalah kalo dia difoto dalam posisi duduk di samping gue, pasti tangannya diletakkan diatas paha gue, sambil memegang tangan gue. Seperti menunjukkan bahwa “gue udah ada yang punya lho” seperti itu. Gayanya kayak ibu-ibu pejabat, sementara gue gayanya kayak preman. 
Besok malamnya, adalah acara midodareni, semacam acara lamaran dan pertemuan keluarga dalam adat Jawa gitu. Anin juga diajak di acara itu, dan malam itu dia tampil stunning (gue susah menemukan kata dalam bahasa Indonesia) dengan menggunakan kebaya berwarna hitam berkilau, dan rambut yang disanggul kontemporer seperti pada waktu siraman.
Di acara midodareni ini Anin udah dapet “temen”, yaitu ponakan gue bernama Tasya. Anak dari kakak sepupu gue, umurnya 5 tahun. Si gendut Tasya ini lengket banget kalo sama tante Anin nya sejak acara siraman kemaren. Dari siang dia udah nanya ke gue “om, nanti tante Anin dateng kaaan?”. Tasya maunya duduk disebelah Anin, terpaksa gue mengalah dengan duduk di belakang Anin. Tapi ada untungnya gue duduk di belakang Anin. Sesekali gue endus-endus rambutnya yang berbuah cubitan di hidung gue. Galak bener dah ah cewek gue satu ini

Waktu jamuan makan malem, Tasya nempeeel terus sama Anin. Emang dasarnya Anin orangnya luwes dan care, Tasya diambilin makan, sesekali disuapin. Dari kejauhan gue memandangi mereka berdua sambil tersenyum. Mendadak ada bude gue berdiri disamping gue sambil memandangi mereka berdua juga.
Quote:
Diubah oleh jayanagari 30-08-2014 10:12
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4


: dek, minta kopi dong hehehehe
: pake susu aja gakpapa dek
: bikin sendiri lah Bas, masak Anin disuruh-suruh bikin kopi gitu! Ayo sana bikin sendiri ah!
: ya tapi sekarang masak tamu disuruh bikinin minum buat tuan rumah, Nduk.
: nah tuh mah, Anin jago bikin kopi kok mah, enak. Lagian Anin kan bukan tamu. Gimana sih mamah.
: trus apa dong?
: *berbicara pelan* ya maunya jadi calon mantu mamah gitu….
: ini yang buat siraman emang harus segini ya orangnya mas?
: oh jadi mas gamau nikah sama aku? Okee deh. Okeeee.
: yaeyalaaah *gayanya tengil*
: wah ini calonmu Bas? Cantik banget. Rumahnya dimana mbak?