- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#834
PART 52 – Narration
Sore itu hujan turun dengan derasnya. Gue memacu mobil gue pelan-pelan karena jarak pandang yang gak jauh. Dari tape mobil gue mengalun lagu Stand By Me nya Oasis, cocok banget nih pas hujan-hujan gini, pikir gue. Gue lirik cewek di sebelah gue, dan terlihat wajah damainya. Dia tertidur. Gue memelankan laju mobil gue, menjaga supaya dia gak terbangun. Gue lirik sekali lagi, dan gue tersenyum melihat ekspresinya yang damai. Gue melihat spion tengah, dan mendapati jaket gue ada di jok belakang. Di traffic light, gue membalikkan badan dan mengambil jaket gue, kemudian menyelimuti cewek yang ada di samping gue ini pelan-pelan. Gue kecup pipinya, dan gue tersenyum simpul.
Seandainya gue bisa memohon lebih kepada Tuhan, gue ingin memberhentikan waktu sebentar aja. Gue ingin menikmati momen-momen gue bersamanya. Tapi gue sadar, meminjam istilah SO7, dia adalah anugerah terindah yang pernah gue miliki. Sehingga gue merasa gak pantas untuk memohon lebih. Dia udah melebihi ekspektasi gue. Dia adalah impian gue. Dan gue diperbolehkan untuk memiliki impian gue. Apalagi yang bisa gue minta?
Gue melaju di jalanan kosong yang diguyur hujan deras itu. Sambil sesekali memandangi awan mendung yang datang bergulung-gulung, gue mencoba mengingat-ingat kembali apa yang udah pernah kami lalui bersama. Apa yang menjadi memori kami berdua. Tanpa sadar, bibir gue menyunggingkan senyum. Love will find the way, pikir gue.
Sejenak gue terdiam, merasakan betapa gue sangat mencintainya. Gue mencintainya sejak awal bertemu. Gue mencintai tatapannya yang sejuk dan damai. Gue mencintai caranya berbicara yang anggun. Gue mencintai caranya dia memperlakukan gue. Gue mencintai caranya mencintai gue. Gue mencintai bagaimana dia selalu berusaha mengimbangi gue dan memberikan gue semangat disaat gue jatuh. Gue mencintai bagaimana dia selalu berusaha memberikan tawa di hidup gue. Gue mencintai betapa dia berusaha memposisikan dirinya disamping gue, sehingga gue gak pernah merasa sendirian meskipun cuma sekejap. Gue mencintainya di setiap helaan napasnya. Gue mencintai apapun yang ada di dalam dirinya.
Gue berpikir, dan sejenak kemudian gue menyadari bahwa dialah yang gue butuhkan selama ini. Dia memberikan cinta yang selama ini gue cari. Dia mendampingi gue, tanpa mengganggu langkah gue. Dia menjaga gue, tanpa gue sadari kehadirannya. Dia mengarahkan gue, tanpa gue merasakan bahwa gue mengikuti arahannya. Dia bisa membuat gue berpikir dari sisi yang lain, dan menjadi lebih terbuka terhadap dunia. Pada titik ini, gue merasa rela mengorbankan apapun yang gue punya demi dia. Yang gue butuhkan hanyalah senyum dan cintanya untuk gue.
Hujan turun semakin deras, dan udara semakin dingin. Gue kecilkan AC mobil, dan membetulkan letak jaket yang tadi gue pakaikan padanya. Gue menyentuh tangannya yang dingin, dan gue tutupi dengan jaket. Gue mencium bau harum rambutnya yang menyebar, dan gue sibakkan rambutnya perlahan. Gue merasakan desah napasnya yang lembut dan damai, dan entah kenapa dalam tidur pun dia menyunggingkan senyum tipis yang selalu membuat gue jatuh cinta. Gue berdoa, akan datang hari dimana gue memegang tangannya yang lembut, dan menatap matanya yang damai, dan kemudian gue bertanya, will you marry me?
Ditengah hujan ini gue berdoa di dalam hati. Mungkin doa yang paling tulus yang pernah gue panjatkan hingga saat itu. Gue berdoa agar dia tetap disamping gue, sehingga gue bisa menjaganya dengan sepenuh hati. Agar gue bisa mendampingi dia tumbuh dewasa, not as a girl anymore, but as a lady. Agar gue bisa menjaga dia dari kerasnya dunia. Agar gue bisa menjaga apa yang menjadi tujuan hidup gue. Ah, ya, kata itu yang gue cari. Dialah tujuan hidup gue. Dialah bintang bercahaya yang gue berusaha raih setiap harinya. Dialah cinta di hidup gue.
Tapi gue sadar, nothing lasts forever. Setiap kehidupan pasti ada kematian, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Itu adalah hukum alam yang paling hakiki yang kita kenal. Kebersamaan gue dengannya pasti suatu saat akan berakhir. Tapi gue berharap, cinta gue akan tetap bersamanya di dalam keabadian.
Sore itu hujan turun dengan derasnya. Gue memacu mobil gue pelan-pelan karena jarak pandang yang gak jauh. Dari tape mobil gue mengalun lagu Stand By Me nya Oasis, cocok banget nih pas hujan-hujan gini, pikir gue. Gue lirik cewek di sebelah gue, dan terlihat wajah damainya. Dia tertidur. Gue memelankan laju mobil gue, menjaga supaya dia gak terbangun. Gue lirik sekali lagi, dan gue tersenyum melihat ekspresinya yang damai. Gue melihat spion tengah, dan mendapati jaket gue ada di jok belakang. Di traffic light, gue membalikkan badan dan mengambil jaket gue, kemudian menyelimuti cewek yang ada di samping gue ini pelan-pelan. Gue kecup pipinya, dan gue tersenyum simpul.
Seandainya gue bisa memohon lebih kepada Tuhan, gue ingin memberhentikan waktu sebentar aja. Gue ingin menikmati momen-momen gue bersamanya. Tapi gue sadar, meminjam istilah SO7, dia adalah anugerah terindah yang pernah gue miliki. Sehingga gue merasa gak pantas untuk memohon lebih. Dia udah melebihi ekspektasi gue. Dia adalah impian gue. Dan gue diperbolehkan untuk memiliki impian gue. Apalagi yang bisa gue minta?
Gue melaju di jalanan kosong yang diguyur hujan deras itu. Sambil sesekali memandangi awan mendung yang datang bergulung-gulung, gue mencoba mengingat-ingat kembali apa yang udah pernah kami lalui bersama. Apa yang menjadi memori kami berdua. Tanpa sadar, bibir gue menyunggingkan senyum. Love will find the way, pikir gue.
Sejenak gue terdiam, merasakan betapa gue sangat mencintainya. Gue mencintainya sejak awal bertemu. Gue mencintai tatapannya yang sejuk dan damai. Gue mencintai caranya berbicara yang anggun. Gue mencintai caranya dia memperlakukan gue. Gue mencintai caranya mencintai gue. Gue mencintai bagaimana dia selalu berusaha mengimbangi gue dan memberikan gue semangat disaat gue jatuh. Gue mencintai bagaimana dia selalu berusaha memberikan tawa di hidup gue. Gue mencintai betapa dia berusaha memposisikan dirinya disamping gue, sehingga gue gak pernah merasa sendirian meskipun cuma sekejap. Gue mencintainya di setiap helaan napasnya. Gue mencintai apapun yang ada di dalam dirinya.
Gue berpikir, dan sejenak kemudian gue menyadari bahwa dialah yang gue butuhkan selama ini. Dia memberikan cinta yang selama ini gue cari. Dia mendampingi gue, tanpa mengganggu langkah gue. Dia menjaga gue, tanpa gue sadari kehadirannya. Dia mengarahkan gue, tanpa gue merasakan bahwa gue mengikuti arahannya. Dia bisa membuat gue berpikir dari sisi yang lain, dan menjadi lebih terbuka terhadap dunia. Pada titik ini, gue merasa rela mengorbankan apapun yang gue punya demi dia. Yang gue butuhkan hanyalah senyum dan cintanya untuk gue.
Hujan turun semakin deras, dan udara semakin dingin. Gue kecilkan AC mobil, dan membetulkan letak jaket yang tadi gue pakaikan padanya. Gue menyentuh tangannya yang dingin, dan gue tutupi dengan jaket. Gue mencium bau harum rambutnya yang menyebar, dan gue sibakkan rambutnya perlahan. Gue merasakan desah napasnya yang lembut dan damai, dan entah kenapa dalam tidur pun dia menyunggingkan senyum tipis yang selalu membuat gue jatuh cinta. Gue berdoa, akan datang hari dimana gue memegang tangannya yang lembut, dan menatap matanya yang damai, dan kemudian gue bertanya, will you marry me?
Ditengah hujan ini gue berdoa di dalam hati. Mungkin doa yang paling tulus yang pernah gue panjatkan hingga saat itu. Gue berdoa agar dia tetap disamping gue, sehingga gue bisa menjaganya dengan sepenuh hati. Agar gue bisa mendampingi dia tumbuh dewasa, not as a girl anymore, but as a lady. Agar gue bisa menjaga dia dari kerasnya dunia. Agar gue bisa menjaga apa yang menjadi tujuan hidup gue. Ah, ya, kata itu yang gue cari. Dialah tujuan hidup gue. Dialah bintang bercahaya yang gue berusaha raih setiap harinya. Dialah cinta di hidup gue.
Tapi gue sadar, nothing lasts forever. Setiap kehidupan pasti ada kematian, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Itu adalah hukum alam yang paling hakiki yang kita kenal. Kebersamaan gue dengannya pasti suatu saat akan berakhir. Tapi gue berharap, cinta gue akan tetap bersamanya di dalam keabadian.
Diubah oleh jayanagari 29-08-2014 15:13
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3

