- Beranda
- Stories from the Heart
MIMPI, MEMORI, MELODI
...
TS
ka.elka
MIMPI, MEMORI, MELODI
Quote:
Permisi Agan n Sista penghuni SFTH, ane mau numpang share cerita pertama ane nih, kalau amburegul eh amburadul mohon maaf ya, maaf ane masih newbie 

MIMPI, MEMORI, MELODI
.Cover:
Spoiler for mimpi, memori, melodi:

Indeks:
Quote:
Indeks:
CHAPTER 1
Prolog
Part 1 - Kembali Ke Desa
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Berbagi Meja, Berbagi Cerita
Part 4 - Kelas Sejuta Cerita
Part 5 - Teman Lama Bertemu Kembali
Part 6 - Bullying
Part 7 - Reuni SD
Part 8 - Mengejar Prestasi
Part 9 - Perjalanan Ke Jakarta
Part 10 - Terjebak Romantisme Kota Bandung
Part 11 - Dari Balik Kaca Bus Itu
CHAPTER 2
Part 12 - Sebuah Awal Yang Baru
Part 13 - Apalah Arti Sebuah Nama
Part 14 - Akibat Sebuah Lamunan
Part 15 - Catatan Rahasia Naya
Part 16 - Penambal Hati
Part 17 - Sepasang Sampan Di Rawa Pening
Part 18 - Penganiayaan
Part 19 - Tak Sanggup Menjauhinya
Part 20 - Persaudaraan
Part 21 - Is This Love
CHAPTER 1
Prolog
Part 1 - Kembali Ke Desa
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Berbagi Meja, Berbagi Cerita
Part 4 - Kelas Sejuta Cerita
Part 5 - Teman Lama Bertemu Kembali
Part 6 - Bullying
Part 7 - Reuni SD
Part 8 - Mengejar Prestasi
Part 9 - Perjalanan Ke Jakarta
Part 10 - Terjebak Romantisme Kota Bandung
Part 11 - Dari Balik Kaca Bus Itu
CHAPTER 2
Part 12 - Sebuah Awal Yang Baru
Part 13 - Apalah Arti Sebuah Nama
Part 14 - Akibat Sebuah Lamunan
Part 15 - Catatan Rahasia Naya
Part 16 - Penambal Hati
Part 17 - Sepasang Sampan Di Rawa Pening
Part 18 - Penganiayaan
Part 19 - Tak Sanggup Menjauhinya
Part 20 - Persaudaraan
Part 21 - Is This Love
========================================================
Prolog
Spoiler for Prolog:
Prolog
Ia terbangun dari tidurnya, tubuhnya terperanjat, keringatnya mengucur deras, dadanya terasa sesak, dan raut mukanya tampak tegang. Ia melirik ke arah jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Diraihnya segelas air putih di atas meja kecil samping tempat tidurnya. Teguk demi teguk, air tersebut kini mengalir deras di kerongkongannya, lalu terjun bebas menghujam lambungnya yang kosong. Perasaannya kini berangsur menjadi sedikit lebih tenang setelah meminum air tersebut, dan ia mulai mengatur nafasnya, berusaha mengontrol dirinya, lalu ia mencoba berfikir dan mengingat-ingat apa yang sebenarnya telah terjadi.
Mimpi. Ya, mimpi itu hadir kembali. Sebuah mimpi tentang seseorang wanita yang pernah mengisi hatinya dahulu, seorang gadis remaja yang menghiasi hari-harinya dahulu, sosok yang selalu ada di dalam fikiran, lamunan, angan dan khayalannya. Mimpi tersebut memang bukanlah mimpi buruk, namun ada perasaan yang selama ini membuatnya merasa terganggu dan membuatnya selalu bertanya-tanya di dalam hati tentang apa arti dari mimpi tersebut.
Mimpi tersebut bukanlah yang pertama atau kedua kalinya, mungkin yang kesekian puluh kalinya sejak enam tahun yang lalu, saat di mana mereka berdua bertemu untuk yang terakhir kalinya. Enam tahun berlalu, walau ia tak pernah lagi memikirkan atau mengingat-ingat kembali tentang wanita itu, bahkan saat ia sudah bergonta-ganti dan berpindah-pindah dari satu cinta ke cinta lainnya, terkadang mimpi itu sesekali muncul kembali menemani tidurnya secara tiba-tiba tanpa diduga dan direncana.
Tentu saja setiap setelah terbangun dari mimipi-mimpinya tersebut, ia menjadi teringat kembali dengan sosok wanita yang selalu hadir di dalam mimpinya itu. Membuatnya senyum-senyum sendiri mengingat jalannya cerita di dalam mimpinya yang baru saja berlalu, atau mengingat kisah masa lalunya bersama wanita tersebut. Tetapi sejenak kemudian, selalu nampak keraguan di dalam dirinya, ekspresi kebingungan tergambar di wajahnya, dan ribuan rasa penasaran hinggap di benaknya.
"Tuhan, sebenarnya apa maksud dari semua mimpi-mimpiku selama ini tentangnya? Enam tahun berlalu, di saat aku tak pernah lagi memikirkannya, mengapa Kau selalu menghadirkannya di setiap mimpi-mimpiku? Apa arti dari semua ini? Apakah karena dahulu aku pernah menyayanginya namun hanya memendam rasaku terhadapnya, aku tak pernah sampai untuk memilikinya, sehingga rasa penasaranku sampai terbawa-bawa ke dalam mimpiku selama ini? Atau apakah aku mempunyai salah kepadanya? Atau aku masih memiliki hutang dan janji-janji yang belum kulunasi kepadanya? Atau... dialah jodohku, tulang rusukku, yang suatu saat nanti akan bersatu? Arrgghh, aku bingung dengan semua ini!"
Ya, ribuan pertanyaan seperti itulah yang selalu memenuhi fikirannya setiap ia bermimpi tentang wanita itu. Kini matanya sulit untuk terpejam kembali. Ia beranjak dari ranjangnya lalu berjalan menuju ke dapur, diseduhnya secangkir kopi, lalu dibawanya ke pendopo rumah, kemudian ia duduk di lantai dan bersandar pada pilar kayu yang kokoh menopang atap pendopo tersebut. Dengan ditemani secangkir kopi, sebatang rokok dan sebuah alunan melodi lagu 'Is This Love' dari Bob Marley, ia pandangi langit malam Banyubiru yang bertabur bintang dengan tatapan kosong dan fikiran yang menerawang. Kini ia larut dalam lamunannya, mencoba mengenang masa lalunya yang Indah, sebuah memori saat ia bersama dengan wanita yang selalu hadir di dalam mimpinya itu, masa-masa saat ia berseragam putih abu-abu.
---
Ia terbangun dari tidurnya, tubuhnya terperanjat, keringatnya mengucur deras, dadanya terasa sesak, dan raut mukanya tampak tegang. Ia melirik ke arah jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Diraihnya segelas air putih di atas meja kecil samping tempat tidurnya. Teguk demi teguk, air tersebut kini mengalir deras di kerongkongannya, lalu terjun bebas menghujam lambungnya yang kosong. Perasaannya kini berangsur menjadi sedikit lebih tenang setelah meminum air tersebut, dan ia mulai mengatur nafasnya, berusaha mengontrol dirinya, lalu ia mencoba berfikir dan mengingat-ingat apa yang sebenarnya telah terjadi.
Mimpi. Ya, mimpi itu hadir kembali. Sebuah mimpi tentang seseorang wanita yang pernah mengisi hatinya dahulu, seorang gadis remaja yang menghiasi hari-harinya dahulu, sosok yang selalu ada di dalam fikiran, lamunan, angan dan khayalannya. Mimpi tersebut memang bukanlah mimpi buruk, namun ada perasaan yang selama ini membuatnya merasa terganggu dan membuatnya selalu bertanya-tanya di dalam hati tentang apa arti dari mimpi tersebut.
Mimpi tersebut bukanlah yang pertama atau kedua kalinya, mungkin yang kesekian puluh kalinya sejak enam tahun yang lalu, saat di mana mereka berdua bertemu untuk yang terakhir kalinya. Enam tahun berlalu, walau ia tak pernah lagi memikirkan atau mengingat-ingat kembali tentang wanita itu, bahkan saat ia sudah bergonta-ganti dan berpindah-pindah dari satu cinta ke cinta lainnya, terkadang mimpi itu sesekali muncul kembali menemani tidurnya secara tiba-tiba tanpa diduga dan direncana.
Tentu saja setiap setelah terbangun dari mimipi-mimpinya tersebut, ia menjadi teringat kembali dengan sosok wanita yang selalu hadir di dalam mimpinya itu. Membuatnya senyum-senyum sendiri mengingat jalannya cerita di dalam mimpinya yang baru saja berlalu, atau mengingat kisah masa lalunya bersama wanita tersebut. Tetapi sejenak kemudian, selalu nampak keraguan di dalam dirinya, ekspresi kebingungan tergambar di wajahnya, dan ribuan rasa penasaran hinggap di benaknya.
"Tuhan, sebenarnya apa maksud dari semua mimpi-mimpiku selama ini tentangnya? Enam tahun berlalu, di saat aku tak pernah lagi memikirkannya, mengapa Kau selalu menghadirkannya di setiap mimpi-mimpiku? Apa arti dari semua ini? Apakah karena dahulu aku pernah menyayanginya namun hanya memendam rasaku terhadapnya, aku tak pernah sampai untuk memilikinya, sehingga rasa penasaranku sampai terbawa-bawa ke dalam mimpiku selama ini? Atau apakah aku mempunyai salah kepadanya? Atau aku masih memiliki hutang dan janji-janji yang belum kulunasi kepadanya? Atau... dialah jodohku, tulang rusukku, yang suatu saat nanti akan bersatu? Arrgghh, aku bingung dengan semua ini!"
Ya, ribuan pertanyaan seperti itulah yang selalu memenuhi fikirannya setiap ia bermimpi tentang wanita itu. Kini matanya sulit untuk terpejam kembali. Ia beranjak dari ranjangnya lalu berjalan menuju ke dapur, diseduhnya secangkir kopi, lalu dibawanya ke pendopo rumah, kemudian ia duduk di lantai dan bersandar pada pilar kayu yang kokoh menopang atap pendopo tersebut. Dengan ditemani secangkir kopi, sebatang rokok dan sebuah alunan melodi lagu 'Is This Love' dari Bob Marley, ia pandangi langit malam Banyubiru yang bertabur bintang dengan tatapan kosong dan fikiran yang menerawang. Kini ia larut dalam lamunannya, mencoba mengenang masa lalunya yang Indah, sebuah memori saat ia bersama dengan wanita yang selalu hadir di dalam mimpinya itu, masa-masa saat ia berseragam putih abu-abu.
---
Diubah oleh ka.elka 28-08-2014 15:32
anasabila memberi reputasi
1
6.1K
Kutip
50
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ka.elka
#40
Part 18 - Penganiayaan
Spoiler for Part 18 - Penganiayaan:
Part 18 - Penganiayaan
"Pagi Nda!" sapa Naya yang baru saja tiba di kelas kepada Enda.
"Eh Nay, met pagi juga! Hehe." balas Enda dengan memberikan senyuman.
"Ngomong-ngomong hari sabtu kemarin kamu nggak masuk sekolah ya Nda?" tanya Naya.
"Masuk kok!" jawab Enda meyakinkan Naya.
"Serius? Kok aku nyari kamu ke mana-mana nggak ketemu? Dan kamu kok juga nggak datang di acara Pemilihan Putra Dan Putri Sekolah? Bukannya datang kek, nonton dan beri dukungan buat aku kek." timpal Naya sedikit kesal.
"Aku nonton kamu kok, serius aku nggak bohong, walau cuma sebentar sih tapi serius aku datang kok! Kamunya aja yang nggak ngelihat aku." jawab Enda berusaha meyakinkan Naya.
"Iyakah?" tanya Naya seolah tak percaya.
"Iya beneran sumpah, kalau nggak percaya kamu tanya aja ke Wahyu atau Ariadi! Terus terus gimana hasilnya kamu menang nggak?" jawab Enda berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Enggak! Aku sama Cahyo cuma masuk 5 besar aja." jawab Naya dengan lesu.
"Ya udah nggak apa-apa, yang penting kan kamu udah berusaha, udah jangan sedih, senyum dong! Hehehe." Enda berusaha menyemangati Naya.
"Hay Nda! Met pagi!" sapa Winda yang baru saja datang dan duduk di bangkunya memotong obrolan Enda dan Naya.
"Eh, met pagi juga Nda!" balas Enda.
"Oh ya nih baju seragam kamu yang basah kemarin udah aku cuciin, udah kering tapi sayangnya belum aku setrika!" ujar Winda sambil menyodorkan sebuah kantong plastik berisi baju seragam milik Enda.
"Oh, iya nggak apa-apa, makasih banyak ya Nda! Maaf aku jadi ngerepotin kamu. Oh ya baju kakakmu belum kering jadi belum bisa aku balikin." balas Enda dengan sedikit rasa sungkan.
"Santai aja Nda, bisa kamu balikin kapan aja!" timpal Winda.
"Hayo pada ngapain kalian sabtu kemarin? Katanya mau jalan-jalan bareng, kok sampai basah-basahan? Hahaha... mana bajunya dicuciin lagi, cieee calon istri yang baik nih, hahaha." goda Airin kepada Winda sambil menyikut lengan Winda.
"Apaan sih Rin? Negatif melulu fikiran kamu, orang kita kemarin kehujanan basah kuyup, terus Enda nganterin aku pulang ya udah sekalian aja aku cuciin baju dia." jawab Winda setengah kesal dan salah tingkah karena digoda oleh Airin.
"Hahaha bercanda Nda! Gitu aja kok sewot, hehe... tapi seumur-umur aku jadi sahabat kamu, belum pernah sekalipun kamu nyuciin bajuku, mau dong sekali-kali bajuku kamu cuciin, hahaha." lanjut Airin meledek Winda.
"Enak aja! Emangnya aku pembantu kamu apa?" timpal Winda sambil menjewer telinga Airin.
"Hahaha auww sakit Nda! Hahaha." Airin terus menertawakan Winda, sedangkan Enda hanya tersenyum melihat kelakuan Airin dan Winda.
Naya hanya mengerutkan dahi mendengar percakapan antara Enda, Winda, dan Airin, lalu memalingkan muka. Dari percakapan yang baru saja Ia dengar rasanya Ia sudah tahu alasan mengapa di hari sabtu lalu Ia tak menemukan Enda setelah Ia mencarinya ke seluruh sudut sekolah. Mendengar percakapan barusan membuat hati kecil Naya menjadi sakit dan seolah ingin marah kepada Enda. Tapi mau sesakit apapun, secemburu apapun dan semarah apapun rasanya hanya akan sia-sia, Enda tak pernah mengerti dan peduli dengan isi hatinya. Enda hanya menganggap Ia sebatas sahabatnya, tak lebih dari itu. Sungguh Naya telah benar-benar merasa kehilangan Enda sepenuhnya, walau pada kenyataannya Enda selalu duduk di sampingnya, namun Ia merasa Enda tak pernah ada untuknya.
---
Bel pulang sekolah telah berdering, Enda langsung bergegas menuju motornya lalu memacunya, hari ini tak ada rencana apapun sehingga Enda berniat untuk langsung pulang ke rumah. Seperti biasanya Enda melewati jalan di sekitar kuburan Chinese untuk memotong jalan menuju Jalan lingkar Ambarawa. Setibanya di area yang sepi tiba-tiba ada tiga motor dengan kecepatan tinggi menyusul dan memepet Enda ke pinggir jalan dan memaksa Enda untuk berhenti.
Ketiga motor tersebut kini menghadang Enda. Keenam pengendara sepeda motor tersebut lalu turun dari motor mereka dan datang menghampiri Enda sambil membuka kaca helmnya masing-masing. Ternyata mereka adalah Jarot dan komplotannya lengkap membawa persenjataan berupa tongkat baseball, balok kayu, dan benda-benda tumpul keras lainnya. Tenyata kabar kedekatan Enda dan Winda telah cepat menyebar hingga ke telinga Jarot, maka dari itu kali ini Jarot benar-benar berniat ingin menghabisi Enda.
"Turun!" perintah Jarot kepada Enda agar turun dari motornya dengan suara yang lantang dan matanya yang melotot.
"Eeittsss ada apaan nih?" tanya Enda penuh waspada.
"Buruan turun! Kalau aku bilang turun ya turun!!... Sekarang kamu mau mengelak apa lagi?" tantang Jarot.
"Masalahnya apa dulu nih? Jangan asal main keroyok gini!" timpal Enda.
"Alah banyak omong! Aargghhh...." ....Pyarrrrrr..... tiba-tiba Jarot melayangkan tongkat baseball nya ke arah headlamp motor Enda, seketika headlamp motor Enda pecah dan berhamburan.
"Eh apa-apan nih?!" Enda kemudian turun dari motornya, merasa tak terima motornya dirusak oleh Jarot, Enda pun menghampiri Jarot.
Jarot melayangkan tongkat baseballnya ke arah Enda yang meghampirinya, namun Enda berhasil menangkisnya dengan tangan kiri lalu melayangkan pukulan ke wajah Jarot, namun sayang pukulannya meleset dan hanya mengenai helm yang melindungi wajah Jarot. Tak kehilangan akal kemudian Enda menendang perut bagian kiri Jarot. Melihat ada perlawanan, komplotannya Jarot akhirnya ikut menyerang dan mengepung Enda dari berbagai sisi.
Pada awalnya Enda mampu melayangkan beberapa pukulan dan tendangan kepada Jarot dan komplotannya, tapi usaha Enda tampak sia-sia, sendirian dengan tangan kosong menghadapi enam orang bersenjatakan senjata tumpul membuat Enda kwalahan. Hingga satu hantaman telak sebuah balok kayu mendarat di tengkuknya, membuat Enda tersungkur dan kehilangan kesadarannya beberapa detik. Kondisi ini tentunya dimanfaatkan dengan baik oleh Jarot dan komplotannya, pukulan bertubi-bertubi mendarat di tubuh Enda. Helm Enda dibuka secara paksa lalu dicampakkan entah kemana, kehilangan pelindung membuat wajah Enda menjadi sasaran empuk untuk dipukuli.
Kini Enda tersungkur dan meringkuk di aspal, pukulan dan tendangan bertubi-tubi mendarat di tubuhnya, kini Enda mulai kehilangan kesadaran dan tak dapat mengenali siapa-siapa saja yang memukuli dan menendangnya, dan siapa-siapa saja yang sedang asik merusak motornya.
"Woy..!!! Pada ngapain tuh!" Teriak seorang warga yang berlari menuju ke arah Jarot dan komplotannya yang sedang menganiaya Enda. beberapa warga kemudian mulai bermunculan dan ikut berlari ke arah tempat penganiayaan, beberapa pengguna jalan juga sempat berhenti dan menuju ke arah yang sama. Melihat warga yang berdatangan Jarot dan komplotannya lalu bergegas menuju motornya masing-masing lalu kabur meninggalkan Enda dan motornya yang tergeletak di pinggir aspal jalan.
"Woy! A*u, ndlog*k, baj*ngan, jangan kabur koe!" Teriak beberapa warga mencoba mengejar Jarot dan komplotannya yang telah kabur.
"Eh itu buruan ditolong anak itu!" ujar salah seorang warga. Kemudian beberapa warga mencoba membopong Enda ke teras salah satu rumah warga.
"Kamu nggak kenapa-napa le? Makanya kalau sekolah tuh pada yang bener! jangan pada tawuran! Ini kamu minum air dulu!" salah seorang warga menasehati Enda sambil memberikan segelas air putih untuk Enda.
"Nggak kenapa-napa kok Pak!" jawab Enda sambil meringis menahan rasa sakit.
"Kita antar ke rumah sakit ya!" saran salah seorang warga.
"Nggak usah Pak, saya pulang aja! Saya baik-baik aja kok!" jawab Enda.
"Yakin kamu le? Memangnya rumah kamu di mana le?" tanya salah satu warga yang lainnya.
"Wirogomo, Banyubiru Pak!" jawab Enda singkat.
"Oalah itu kan masih jauh! Kamu kuat? Terus motor kamu gimana tuh?" lanjut Bapak itu bertanya.
Dengan tertatih-tatih Enda menghampiri motornya, diperiksanya baik-baik kondisi motornya. "Cuma lampu-lampunya yang pecah, sama spakbor depannya patah, masih bisa jalan kok pak!" Enda berusaha meyakinkan para warga.
"Jadi kamu mau langsung pulang sekarang? Ya udah hati-hati kalau gitu!" ujar Bapak yang memberikan minuman tadi.
"Iya Pak saya mau pulang aja, makasih banyak semuanya, Pak, Bu!" kata Enda berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada semua warga yang telah menolongnya, lalu perlahan-lahan mencoba menjalankan sepeda motornya.
---
"Ya ampun le, kamu kenapa kok berdarah-darah dan motormu hancur begitu, kamu kenapa Nda?" tanya Neneknya Enda yang mendadak panik melihat kondisi cucunya yang baru saja pulang dari sekolah.
"Kecelakaan Nek!" jawab Enda berbohong.
"Ya ampun le kok bisa? Makanya naik motor tuh hati-hati, pelan-pelan, ya udah buruan masuk nenek bersihin lukamu!" ujar Nenek Enda.
"Jangan bilang-bilang ke Bapak dan Ibu ya Nek! Aku nggak mau mereka khawatir di sana! Ntar masalah motor aku bawa aja ke bengkelnya mas Marimin paling ongkos benerinnya nggak sampai dua ratus ribu." pinta Enda.
"Udah nggak usah ngurusin motor dulu, yang penting ini lho luka-lukamu harus segera dibersihkan biar nggak infeksi." kata Nenek Enda sambil mulai membersihkan dan mengobati luka-luka Enda dengan ramuan tradisionalnya.
"Ini kamu minum jamunya biar cepat sembuh, setelah itu kamu istirahat aja! Besok nggak usah sekolah dulu, biar Bulikmu yang buatin surat izin dan mengantarkannya ke sekolahan besok." lanjut Nenek Enda menyarankan.
Malam pun telah tiba, rasa sakit di tubuh Enda makin menjadi, terlebih di sekitar area punggungnya. Enda berusaha menahan rasa sakit dan perihnya luka-luka di sekujur tubuhnya. Badannya terasa sangat berat untuk digerakkan, serasa ada beban ratusan kilo yang menindih tubuhnya. Matanya sulit terpejam walau ingin rasanya Enda cepat tertidur dan melupakan rasa sakit yang dideritanya saat ini. Setelah berusaha sekian lama untuk memejamkan matanya, akhirnya Enda pun dapat tertidur.
---
"Pagi Nda!" sapa Naya yang baru saja tiba di kelas kepada Enda.
"Eh Nay, met pagi juga! Hehe." balas Enda dengan memberikan senyuman.
"Ngomong-ngomong hari sabtu kemarin kamu nggak masuk sekolah ya Nda?" tanya Naya.
"Masuk kok!" jawab Enda meyakinkan Naya.
"Serius? Kok aku nyari kamu ke mana-mana nggak ketemu? Dan kamu kok juga nggak datang di acara Pemilihan Putra Dan Putri Sekolah? Bukannya datang kek, nonton dan beri dukungan buat aku kek." timpal Naya sedikit kesal.
"Aku nonton kamu kok, serius aku nggak bohong, walau cuma sebentar sih tapi serius aku datang kok! Kamunya aja yang nggak ngelihat aku." jawab Enda berusaha meyakinkan Naya.
"Iyakah?" tanya Naya seolah tak percaya.
"Iya beneran sumpah, kalau nggak percaya kamu tanya aja ke Wahyu atau Ariadi! Terus terus gimana hasilnya kamu menang nggak?" jawab Enda berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Enggak! Aku sama Cahyo cuma masuk 5 besar aja." jawab Naya dengan lesu.
"Ya udah nggak apa-apa, yang penting kan kamu udah berusaha, udah jangan sedih, senyum dong! Hehehe." Enda berusaha menyemangati Naya.
"Hay Nda! Met pagi!" sapa Winda yang baru saja datang dan duduk di bangkunya memotong obrolan Enda dan Naya.
"Eh, met pagi juga Nda!" balas Enda.
"Oh ya nih baju seragam kamu yang basah kemarin udah aku cuciin, udah kering tapi sayangnya belum aku setrika!" ujar Winda sambil menyodorkan sebuah kantong plastik berisi baju seragam milik Enda.
"Oh, iya nggak apa-apa, makasih banyak ya Nda! Maaf aku jadi ngerepotin kamu. Oh ya baju kakakmu belum kering jadi belum bisa aku balikin." balas Enda dengan sedikit rasa sungkan.
"Santai aja Nda, bisa kamu balikin kapan aja!" timpal Winda.
"Hayo pada ngapain kalian sabtu kemarin? Katanya mau jalan-jalan bareng, kok sampai basah-basahan? Hahaha... mana bajunya dicuciin lagi, cieee calon istri yang baik nih, hahaha." goda Airin kepada Winda sambil menyikut lengan Winda.
"Apaan sih Rin? Negatif melulu fikiran kamu, orang kita kemarin kehujanan basah kuyup, terus Enda nganterin aku pulang ya udah sekalian aja aku cuciin baju dia." jawab Winda setengah kesal dan salah tingkah karena digoda oleh Airin.
"Hahaha bercanda Nda! Gitu aja kok sewot, hehe... tapi seumur-umur aku jadi sahabat kamu, belum pernah sekalipun kamu nyuciin bajuku, mau dong sekali-kali bajuku kamu cuciin, hahaha." lanjut Airin meledek Winda.
"Enak aja! Emangnya aku pembantu kamu apa?" timpal Winda sambil menjewer telinga Airin.
"Hahaha auww sakit Nda! Hahaha." Airin terus menertawakan Winda, sedangkan Enda hanya tersenyum melihat kelakuan Airin dan Winda.
Naya hanya mengerutkan dahi mendengar percakapan antara Enda, Winda, dan Airin, lalu memalingkan muka. Dari percakapan yang baru saja Ia dengar rasanya Ia sudah tahu alasan mengapa di hari sabtu lalu Ia tak menemukan Enda setelah Ia mencarinya ke seluruh sudut sekolah. Mendengar percakapan barusan membuat hati kecil Naya menjadi sakit dan seolah ingin marah kepada Enda. Tapi mau sesakit apapun, secemburu apapun dan semarah apapun rasanya hanya akan sia-sia, Enda tak pernah mengerti dan peduli dengan isi hatinya. Enda hanya menganggap Ia sebatas sahabatnya, tak lebih dari itu. Sungguh Naya telah benar-benar merasa kehilangan Enda sepenuhnya, walau pada kenyataannya Enda selalu duduk di sampingnya, namun Ia merasa Enda tak pernah ada untuknya.
---
Bel pulang sekolah telah berdering, Enda langsung bergegas menuju motornya lalu memacunya, hari ini tak ada rencana apapun sehingga Enda berniat untuk langsung pulang ke rumah. Seperti biasanya Enda melewati jalan di sekitar kuburan Chinese untuk memotong jalan menuju Jalan lingkar Ambarawa. Setibanya di area yang sepi tiba-tiba ada tiga motor dengan kecepatan tinggi menyusul dan memepet Enda ke pinggir jalan dan memaksa Enda untuk berhenti.
Ketiga motor tersebut kini menghadang Enda. Keenam pengendara sepeda motor tersebut lalu turun dari motor mereka dan datang menghampiri Enda sambil membuka kaca helmnya masing-masing. Ternyata mereka adalah Jarot dan komplotannya lengkap membawa persenjataan berupa tongkat baseball, balok kayu, dan benda-benda tumpul keras lainnya. Tenyata kabar kedekatan Enda dan Winda telah cepat menyebar hingga ke telinga Jarot, maka dari itu kali ini Jarot benar-benar berniat ingin menghabisi Enda.
"Turun!" perintah Jarot kepada Enda agar turun dari motornya dengan suara yang lantang dan matanya yang melotot.
"Eeittsss ada apaan nih?" tanya Enda penuh waspada.
"Buruan turun! Kalau aku bilang turun ya turun!!... Sekarang kamu mau mengelak apa lagi?" tantang Jarot.
"Masalahnya apa dulu nih? Jangan asal main keroyok gini!" timpal Enda.
"Alah banyak omong! Aargghhh...." ....Pyarrrrrr..... tiba-tiba Jarot melayangkan tongkat baseball nya ke arah headlamp motor Enda, seketika headlamp motor Enda pecah dan berhamburan.
"Eh apa-apan nih?!" Enda kemudian turun dari motornya, merasa tak terima motornya dirusak oleh Jarot, Enda pun menghampiri Jarot.
Jarot melayangkan tongkat baseballnya ke arah Enda yang meghampirinya, namun Enda berhasil menangkisnya dengan tangan kiri lalu melayangkan pukulan ke wajah Jarot, namun sayang pukulannya meleset dan hanya mengenai helm yang melindungi wajah Jarot. Tak kehilangan akal kemudian Enda menendang perut bagian kiri Jarot. Melihat ada perlawanan, komplotannya Jarot akhirnya ikut menyerang dan mengepung Enda dari berbagai sisi.
Pada awalnya Enda mampu melayangkan beberapa pukulan dan tendangan kepada Jarot dan komplotannya, tapi usaha Enda tampak sia-sia, sendirian dengan tangan kosong menghadapi enam orang bersenjatakan senjata tumpul membuat Enda kwalahan. Hingga satu hantaman telak sebuah balok kayu mendarat di tengkuknya, membuat Enda tersungkur dan kehilangan kesadarannya beberapa detik. Kondisi ini tentunya dimanfaatkan dengan baik oleh Jarot dan komplotannya, pukulan bertubi-bertubi mendarat di tubuh Enda. Helm Enda dibuka secara paksa lalu dicampakkan entah kemana, kehilangan pelindung membuat wajah Enda menjadi sasaran empuk untuk dipukuli.
Kini Enda tersungkur dan meringkuk di aspal, pukulan dan tendangan bertubi-tubi mendarat di tubuhnya, kini Enda mulai kehilangan kesadaran dan tak dapat mengenali siapa-siapa saja yang memukuli dan menendangnya, dan siapa-siapa saja yang sedang asik merusak motornya.
"Woy..!!! Pada ngapain tuh!" Teriak seorang warga yang berlari menuju ke arah Jarot dan komplotannya yang sedang menganiaya Enda. beberapa warga kemudian mulai bermunculan dan ikut berlari ke arah tempat penganiayaan, beberapa pengguna jalan juga sempat berhenti dan menuju ke arah yang sama. Melihat warga yang berdatangan Jarot dan komplotannya lalu bergegas menuju motornya masing-masing lalu kabur meninggalkan Enda dan motornya yang tergeletak di pinggir aspal jalan.
"Woy! A*u, ndlog*k, baj*ngan, jangan kabur koe!" Teriak beberapa warga mencoba mengejar Jarot dan komplotannya yang telah kabur.
"Eh itu buruan ditolong anak itu!" ujar salah seorang warga. Kemudian beberapa warga mencoba membopong Enda ke teras salah satu rumah warga.
"Kamu nggak kenapa-napa le? Makanya kalau sekolah tuh pada yang bener! jangan pada tawuran! Ini kamu minum air dulu!" salah seorang warga menasehati Enda sambil memberikan segelas air putih untuk Enda.
"Nggak kenapa-napa kok Pak!" jawab Enda sambil meringis menahan rasa sakit.
"Kita antar ke rumah sakit ya!" saran salah seorang warga.
"Nggak usah Pak, saya pulang aja! Saya baik-baik aja kok!" jawab Enda.
"Yakin kamu le? Memangnya rumah kamu di mana le?" tanya salah satu warga yang lainnya.
"Wirogomo, Banyubiru Pak!" jawab Enda singkat.
"Oalah itu kan masih jauh! Kamu kuat? Terus motor kamu gimana tuh?" lanjut Bapak itu bertanya.
Dengan tertatih-tatih Enda menghampiri motornya, diperiksanya baik-baik kondisi motornya. "Cuma lampu-lampunya yang pecah, sama spakbor depannya patah, masih bisa jalan kok pak!" Enda berusaha meyakinkan para warga.
"Jadi kamu mau langsung pulang sekarang? Ya udah hati-hati kalau gitu!" ujar Bapak yang memberikan minuman tadi.
"Iya Pak saya mau pulang aja, makasih banyak semuanya, Pak, Bu!" kata Enda berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada semua warga yang telah menolongnya, lalu perlahan-lahan mencoba menjalankan sepeda motornya.
---
"Ya ampun le, kamu kenapa kok berdarah-darah dan motormu hancur begitu, kamu kenapa Nda?" tanya Neneknya Enda yang mendadak panik melihat kondisi cucunya yang baru saja pulang dari sekolah.
"Kecelakaan Nek!" jawab Enda berbohong.
"Ya ampun le kok bisa? Makanya naik motor tuh hati-hati, pelan-pelan, ya udah buruan masuk nenek bersihin lukamu!" ujar Nenek Enda.
"Jangan bilang-bilang ke Bapak dan Ibu ya Nek! Aku nggak mau mereka khawatir di sana! Ntar masalah motor aku bawa aja ke bengkelnya mas Marimin paling ongkos benerinnya nggak sampai dua ratus ribu." pinta Enda.
"Udah nggak usah ngurusin motor dulu, yang penting ini lho luka-lukamu harus segera dibersihkan biar nggak infeksi." kata Nenek Enda sambil mulai membersihkan dan mengobati luka-luka Enda dengan ramuan tradisionalnya.
"Ini kamu minum jamunya biar cepat sembuh, setelah itu kamu istirahat aja! Besok nggak usah sekolah dulu, biar Bulikmu yang buatin surat izin dan mengantarkannya ke sekolahan besok." lanjut Nenek Enda menyarankan.
Malam pun telah tiba, rasa sakit di tubuh Enda makin menjadi, terlebih di sekitar area punggungnya. Enda berusaha menahan rasa sakit dan perihnya luka-luka di sekujur tubuhnya. Badannya terasa sangat berat untuk digerakkan, serasa ada beban ratusan kilo yang menindih tubuhnya. Matanya sulit terpejam walau ingin rasanya Enda cepat tertidur dan melupakan rasa sakit yang dideritanya saat ini. Setelah berusaha sekian lama untuk memejamkan matanya, akhirnya Enda pun dapat tertidur.
---
0
Kutip
Balas