- Beranda
- Stories from the Heart
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS (POSITIF HIV AIDS)
...
TS
masternagato
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS (POSITIF HIV AIDS)
Bissmillah.
Assalamualaikum.
Nb: kontak bbm berubah: 5AB07E99
Wa:08128886670
Line:
@masternagato
mas ter nagato proudly Present
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’
DISCLAIMER
1. sangat dianjurkan mencopy dan memperbanyak. Share kepada dunia tulisan busuk ini! (kayanya lebay banget sih?)
Ijin atau tanpa seijin dari penulis (buat ane sah-sah aje)
pelanggaran hak cipta akan dikenakan sanksi sesuai dengan hati nurani lau sendiri.
.
2. Kisah dalam cerita ini adalah fiksi belaka kalau ada kesamaan nama, tempat atau kejadian itu cuma kebetulan semata.
Selamat membaca tulisan busuk ini!
*******
Petunjuk arah baca HD
Kalo membaca tanda:
*******
Berarti pergantian waktu, bisa tempat, tokoh.
Atau bisa tokoh sama waktu dan tempat berbeda?
Bisa aja cuma di alam mimpi!
Kalo membaca tanda:
-------
Ini menandakan hari yang sama.
Bisa berbbeda waktu, berbeda tokoh, berbeda tempat, tapi tetap dihari yang sama.
Bisa juga menunjukan kelanjutan alur cerita!
*******
soudtrack: Eminem Not Afraid
Langsung update add line:
@masternagato
Pin bb: 5AB07E99
WhatsappBrother-sister
Jangan lupa

Bikin

sekalian


Atas saran berbagai pihak.
:Yang mau memberikan donasi seikhlasnya.

Untuk terwujudnya buku ini
Rekening bank btpn
Kode bank 213
Norek:
90010415858
Rudi hermawan

sedikit sinobsis:
bersetting di tahun 2003.
Rudi kelas 2 SMA.
Masuk ke blackworl, drugs user tingkat dewa.
Menjadi drugs dealer.
Hidup penuh bling-bling,wanita.
Teman-teman yang mengelilingi karena uang.
Dengan time skip.
Rudi yang di tahun 2014.
Sudah berkeluarga,punya anak.
Hidup dengan kemiskinan,tanpa penglihatan,positif HIV?
*******
’HIV AIDS salah satu penyakit paling menakutkan.’
’penyakit kutukan’
’yang terkena tak tertolong!’
’sampah masyarakat’
’jauhi orang-orang sampah itu’
’tak ada obatnya!’
’pasti mati’
dan masih banyak lagi label stigma yang menempel!
Yang berpendapat sama dengan stigma di atas!
Monggo jangan di teruskan membaca.
Why..?
Guest what?
Yang nulis HIV+

jadi harus di jauhi.. Nanti ketularan.


warning 16+ only.

Minimal SMA kelas satu boleh lanjut baca, wajib malah!

"Ini nyata gan?"
"terserah.! Anggap aja fiksi"
HIV (Human Immunodeficiency Virus)
AIDS (Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome)
ane nulis ini biar bro-sis mikir sejuta kali!
Untuk tenggelam di blackworl,sex,drugs.
Dan buat yang sudah terkena!
Bangun! Bangkit! Kembalikan warna hidup lo sebelumnya.
Gak ada yang mau bertemen ama lo?
Minder?
Sekeliling lo penuh kepalsuan?
Takut? Trauma?
Sumpah demi Allah
Ane siap kapan aja jadi best friend forever!
Melewati semua cobaan yang ane anggap adalah pujian dari Allah
ane bukan siapa-siapa.
Cuma orang buta pengangguran kelas berat.
Bermodalkan laptop jadul dengan pembaca layar.
Dengan tetesan darah, dengan gerimis air mata.
Dengan sepenuh hati..
Berharap kejelekan ane jadi kebaikan lo.
Kesedihan ane menjadi kebahagiaan buat lo.
Salah langkahnya ane menjadi jalan buat lo.
Penyakit ane menjadi kesehatan buat lo.
"kenapa pemeran utamanya Rudi sama ama agan?"
"habis gak ada yang lebih bagus dari Rudi, yang lebih mahal banyak!"

harapan utama ane. Menurunkan tingkat HIV AIDS walaupun cuma beberapa %
setidaknya menghambat kecepatan tingkat HIV AIDS yang menggila setiap detiknya.
Harapan ke dua.
Tentu saja tulisan ini jadi sumber penghasilan ane!
Gak ada yang bisa ane lakuin selain nulis!
Setiap hari bini kerja nyari nafkah!
Bayangin perasaan ane yang cuma enak-enakan dirumah!
Asli mending tusuk ane gan.. Daripada ane ngerasain ini setiap hari.


stop!
Ane gak minta di kasihani.
Tapi ane berharap buat agan-sista bantuin nerbitin tulisan ane ini.
Kendala ane di modal gak ada!
Boro-boro buat publish keseharian ane juga susah.
Ngiklanin rumah buat modal di fjb.
Ampe capek nyundulnya belum ketemu jodohnya tuh rumah.
Entah kenapa ane yakin aja kalo ini jadi novel, pasti laris.

impianya sih kalo jadi novel.
Taruh di sekolahan, yayasan narkoba atau HIV AIDS.
Taruh dirumah sakit tempat HIV AIDS.
Kalo bisa di toko buku apalagi.
Yah cuma harapan.
Mudah-mudah dikabulkan allah, aamiin.
dan agan sista ada yang tertarik.
Apalagi dilirik penerbit.
"kenapa gak langsung ngirim ke penerbit gan?"
"karena tulisan ane,ane ngerasa berantakan perlu di poles.. Perlu ada yang ngeditorin.
Penerbit mana mau nerima tulisan mentah ane!"

"emang tulisanya udah tamat gan?"
"boro-boro,. Males-malesan nulisnya. Kalo ada yang nerbitin tuh! Baru semangat"
sebetulnya sih tokoh utamanya bukan cuma Rudi.
Banyak tokoh utama lainya.
Termasuk pembaca ane sebut tokoh utama juga disini.
cerita ini agan-sista
Bakal nemuin 3type orang HIV

Ini pakai pengamatan ane sendiri dan bahasa ane seadanya:
Jadi gak bakal ketemu kalo search di google.


1: saver: orang yang terkena HIV dan sadar akan HIVnya!
2. Invite: orang terkena HIV tapi dendam!
Dan membahayakan orang lain.
Menyebarkan HIV ke orang lain!
Biasanya faktornya adalah type invite ini terkena HIV tapi gak terima!
Masih bisa disadarkan type yang ini.
3. Zero: orang ini terkena HIV tapi ia gak tahu!
Ini yang paling berbahaya!
Ia gak tahu.
Yang terkena gak tahu!
Semua gak tahu.
Tahu-tahu pada kena HIV.
Sedikit saran dan percobaan buat agan-sista.
Supaya lebih bersyukur atas nikmat Allah
Kalo agan-sista di rumah sendiri.
Terserah mau malem boleh, siang juga boleh.
Coba lakuin kegiatan sambil di tutup pake apa aja matanya.
Sejam aja coba rasain.abis itu agan-sista renungin.
Seberapa nikmat Allah yang diberikan.
Banyak yang nyoba saran ane ini.
Nanti pandangan agan-sista berubah, setelah melakukan percobaan di atas.

Index setelah pariwara berikut ini:yang mau bergabung di FHD (fans hati malaikat darah iblis)
Invite pin: 5AB07E99
Mau memberikan donasi silakan
Rekening btpn.
Kode bank 213
Norek:
90010415858
Atas nama Rudi hermawan
Call/sms/whatsapp:
08128886670
Update add line:
@masternagato
selamat membaca

HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’
Mau membeli buku ini?
Mau memberikan donasi untuk membantu tulisan ini
:thubup
Menjadi novel


"apa yang didapetin kalo ngasih donasi gan?"
"gak ada! Ente dapet ucapan terimakasih sedalamnya dari lubuk hati ane!"

Mudah-mudahan dengan donasi gotong royong seikhlasnya.
Bisa menerbitkan tulisan busuk ane.
aamiin..
Bisa di bilang ini sumbangan lebih tepatnya kale

Rekening btpn.
Norek:
90010415858
Rudi hermawan.
DAFTAR ISI:
Update langsung ad line:
@masternagato
BAB1: KABUKI
BAB2 BAGIAN1: PENGANTIN KOPLAK
BAB2 BAGIAN2: PENGANTIN KOPLAK
BAB SIDE STORY: PENCARIAN SAHABAT 12 TAHUN
BAB3 BAGIAN1: TULISAN BERBICARA
BAB3 BAGIAN2: TULISAN BERBICARA
BAB4 BAGIAN1: OTAK MAFIA
BAB4 BAGIAN2: OTAK MAFIA
BAB5 BAGIAN1: PRODUK GAGAL
BAB5 BAGIAN2: PRODUK GAGAL
BAB6: SAVE HOUSE
BAB7: OTAK ATIK
BAB8: TEKAD BLENDER
BAB9 BAGIAN1: EMOTION
BAB9 BAGIAN2: EMOTION
BAB WARNING: WAJIB BACA
BAB WARNING: WAJIB BACA
BAB10: LATIHAN MEMBUNUH
BAB11 BAGIAN1: UNDER THE INFLUENCE
BAB11 BAGIAN2: UNDER THE INFLUENCE
BAB : warning2: galaw gak penting!
BAB12 BAGIAN1: CANDIED MANGO MISERABLE
BAB12 BAGIAN2: CANDIED MANGO MISERABLE
BAB13: NGENES AWARDS
BAB14: TULISANKU ATAU KELUARGAKU
BAB15 BAGIAN1: HEY MAN
BAB15 BAGIAN2: HEY MAN
update FHD16: koberlaw
BAB16 BAGIAN1: RIP
BAB16 BAGIAN2: RIP
BAB WARNING3: PETUNJUK ARAH
BAB17 BAGIAN1: LOVE NOTES FOR MY DRUGS
BAB17 BAGIAN2: LOVE NOTES FOR MY DRUGS
BAB18 BAGIAN1: POCONG VS KUNTILANAK
BAB18 BAGIAN2: POCONG VS KUNTILANAK
BAB19 BAGIAN1: FROZEN HEART
BAB19 BAGIAN2: FROZEN HEART
REHAT
BAB WARNING4: FHD LEGOWO
BAB20: MENGECOH HITUNGAN LANGIT
BAB21 BAGIAN1: BIG MOM
BAB21 BAGIAN2: BIG MOM
BAB22: SATU TITIK X SEPULUH=SEPULUH
BAB23 BAGIAN1: FOUR GODFATHER
BAB23 BAGIAN2: FOUR GODFATHER
BAB24 BAGIAN1: ROLLER HEARTS
BAB24 BAGIAN2: ROLLER HEARTS
BAB25: VIRGIN SEGAW
BAB26 BAGIAN1: MASIH HIJAU
BAB26 BAGIAN2: MASIH HIJAU
BAB27 BAGIAN1: FIRST JACKPOT
BAB27 BAGIAN2: FIRST JACKPOT
BAB28 BAGIAN1: FOR SENTIMENTAL REASON
BAB28 BAGIAN2: FOR SENTIMENTAL REASON
BAB28 BAGIAN3: FOR SENTIMENTAL REASON
video zamirah monster kecil
wait yo!
IN PROGRESS


Kontak:
WA: 08128886670
Pin bbm: 5AB07E99
line:
@masternagato
Twitter: @masternagato
Diubah oleh masternagato 24-03-2017 22:20
anasabila memberi reputasi
1
256.6K
1.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
masternagato
#314
BAB11-2
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
BAB11-2:
UNDER THE INFLUENCE
-------
nongkrong di warung Babeh, pemandangan cewek-cewek kelas satu yang baru mau masuk sekolah.
Tak membuat kejengkelanku menghilang, masih kesal! Ditambah Jidad menceritakan kejadian anka tujuh ke gerombolan setan.
Tawa mereka cuma membuatku tambah geram.
Seperti biasa botol peltokan berputar, hasil patungan aku,Ara, Acong.
Jidad, bego jadi tim hore.
Peltokan membuatku tambah panas!
Ada baiknya juga mereka tahu sudah kelewatan bercandanya melihatku yang lebih banyak diam!
Beberapa meter dari tempat kami, geng kelas tiga,
beberapa orang ngumpul, salah satunya dengan pandangan sinis.
Mereka melakukan ritual yang sama dengan kami.
Tak ada yang kukenal!
Cuma mengenal beberapa anak kelas tiga yang jadi pasien.
Dan Doni yang traktir minuman beberapa hari lalu.
"Bego kemana ya? Tumben gak kemari.." kata Ara menuang peltokan.
"ah paling molor!" sahut Acong.
Doni mendekati Jidad, pembicaraan mereka tak terdengar!
"ada yang ngajakin taruhan Cong! Treck jalan baru.!" jelas jidad duduk di sebelahku.
"siapa Don! Yang ngajakin taruhan? Elo?" Acong memberikan gelas ke Doni.
"bukanlah! Tuh temen gua.." Doni sambil minum.
"yang mana sih orangnya Don?"
"temen gua Fandi! yang itu Cong.." menunjuk RX king, orang itu melihat kami sinis.
"tuh orang mukanye sewot bener !"
"udah Cong! Sikat."kompor Jidad.
Acong semangat, penuh keyakinan.
"lah! Itu bukannya motor Doyok?" sela Ara.
"maksud lo.. Doyok Abon village?" Acong, Jidad berjengit!
.
"yakin gua. Kalo ada Bego pasti ngenalin tuh motor! Itu korekan abis Cong.. Pasti kalah lo! Seandainya lo menang juga percuma! Bakal panjang urusanya ama Doyok!"
"iyalah gak usah.. Kalo tahu itu motor Doyok! Dari tadi gua tolak.."
sepintas kulihat senyum bangga Doni, membuat Acong patah semangat..
Ia kembali ke tempat gengnya.
Aku tak peduli, menikmati pletokan lagi.
Sementara Ara, Acong, Jidad berdebat.
Perhatianku teralih, suara knalpot King cumiakan.
Awalnya perlahan,.. Mencari sela.. Dan suaranya garing bulat..
Perlahan lagi, membulat..
Berulang hingga orang-orang mulai terganggu.
Dengan suara bulat motor itu bergerak.
Melakukan standing berhenti dihadapan kami.
Baru punya motor sepertinya? Atau baru bisa standing?
Entah kenapa nih orang sewot banget mukanya.
"siapa yang punya nih motor.." tanya Fandi menunjuk motorku.
"......."
Ara, Acong, Jidad mengerling menanti jawabanku.
Pertanyaan bodoh yang cuma cari setory.
Tak peduli, menikmati peltokan lagi.
"lo pada budeg? Ini motor siapa?" suaranya berkuasa.
"ngomong ama siapa sih lo?" jawabku dingin, rada bingung juga ama tiga setan jadi kaya ayam sakit.
Fandi mendengus geram.
"'langsung aja man! Mau lo apa? Gak usah bertele-tele. Mau ngajak ribut? Atau mau gimana?" suaraku setajam sembilu.
Tiga setan berjengit ngeri.
"lo ama gua di jalan baru! Takut lo.?"
"berapa. Taruhanya?"
"berapa banyak uang lo?!" sahutnya mencemooh.
"oh.. Yaudah.. Tarohan motor! Gimane?"
ekspresinya memblalak, serasa tamparan keras oleh jawabanku.
Temannya mulai bersiaga.
"kalo lo mau gertak gue soal uang.. Salah sasaran man! Udah cetiao gimane?" kataku menguap.
"uang di muka! Bukan di mulut!" jawabnya tak percaya.
Aku memberinya uang, membuat ia membeku.
*******
motor-motor berkumpul di jalan baru! Bengkel Cengir di penuhi geng tengah berbaur geng Fandi.
Ara, Acong, Jidad yang tadi seperti ayam sakit.
Sekarang karena banyakan geng tengah ketimbang gengnya Fandi.
Mereka kembali menjadi ayam jago sejati.
Beberapa kelas satu yang membolos juga hadir meramaikan.
Fandi menggeber,. Menyetting motornya.
Geng tengah tampak cemas karena Rudi belum hadir.
Dari kejauhan suara knalpot racing mendengung.. Geberan suara bulat merdu, lalu menghilang.
Motor Rudi mendekat dengan posisi mesin sudah tak menyala.
Ia berhenti di samping Fandi, dengan rem depan mengangkat ban belakang setinggi-tingginya.
Fandi tampak kaget..
Sepertinya ia membalas perbuatan Fandi yang standing di warung Babeh.
Rudi menatap seolah menyatakan begini baru bener kalo mau standing!
Star di mulai dari bengkel Cengir.
Saksi ke dua geng sudah menjaga garis finis.
Mereka berdua sudah siap.
Suara siulan ramai terdengar, cewek kelas tiga yang seragamnya terlihat beberapa kancing terbuka.
Berdiri diantara Rudi dan Fandi.
Ia melirik nakal.
"yang menang bawa pulang hadiah! Bawa pulang sekalian gua juga boleh!"
wajah Fandi mesum, Rudi tanpa ekspresi.
Cewek itu mulai menghitung.
"satu..."
"dua..."
"tiga!!"
Rudi menghentakan gas spontan, posisinya merunduk membuat badanya lurus dengan stang.
Fandi menggeber sekuatnya, di garis start ia melesat dengan standing.
Kurang perhitungan ia standing terbalik, kehilangan keseimbangan.
Suara orang yang ngeri melihat kejadian itu.
*******
aku sudah siap, kulihat wajah Fandi penuh keyakinan.
Kulihat Rita mendekat, ia salah satu pasienku.
"yang menang bawa pulang hadiah! Bawa pulang gua juga boleh!" suara menggoda, matanya melirik penuh kemauan.
Aku menahan diri untuk tak mual mendengar perkataanya.
Di hitungan ke tiga.
Menarik gas setengah, mataku focus!
Aku mendengar suara knalpot yang berlebihan di belakang, lalu sepi? Tak ada suara yang mengejar.
Sampai garis finis.
Jidad berseri, tahu bakalan pesta nanti!
Mengernyit, kenapa Fandi belum sampai juga?
Aku, Jidad, dan Doni kembali ke bengkel Cengir.
Rasa kaget, bingung? Menyerangku bergantian.
Melihat Fandi dengan luka besot di lengan, baret di keningnya?
Motornya kulihat bagian kiri tak semulus tadi, kopling patah, bu-step serta gigi yang menjorok ke atas.
Jidad menceritakan apa yang terjadi dengan geli.
Fandi tak lagi garang seperti sebelumnya, malah patut untuk di kasihani.
Terlihat rasa malunya lebih besar ketimbang kecewa!
Kalo kalah paling kecewa, selsai.
Daripada seperti ini, belum lima meter menjadi tontonan!
Aku sempat menolak uang taruhan itu, yang di sambut dengan plototan geng tengah.
Entah mengapa Fandi menjadi sewot lagi salah pengertian dengan ucapanku yang di anggap meledek.
Semua juga tahu peraturanya, yang sampai garis finis menang.
Mau apapun yang terjadi!
Kata-kataku tulus, perhatianku murni mengkhawatirkan keadaan Fandi.
Rasa permusuhan yang tak jelas diantara kami menguap begitu saja.
Tapi ia tetap menolak ideku yang membatalkan pertaruhan!
Ia tak mau menjadi orang yang merusak peraturan dan menjadi contoh buat yang lain.
Aku mengantongi rp500.000, rp400.000, ku kasih Cengir membagikan geng tengah.
Rp100.000; kuberikan Rita, supaya ia pergi, rada terganggu dari tadi ia terus menempel.
satu persatu orang mulai meninggalkan lokasi,
Fandi dan gengnya menghilang, geng tengah juga bubar.
aku, Ara, Jidad, Acong, dan Bego yang baru hadir.
masih nongkrong di bengkel Cengir.
"udahlah, berangkat! Pesta apa nih kita.." celetuk Bego.
"enak amat lo! Baru nyampe main berangkat aja!" tukas Cengir.
Aku membakar rokok, dengan gelas es teh manis di tangan.
Bosan melihat mereka.
Tarik, ulur, intinya cuma bokul!
Angin semilir membuat rasa kantukku bertambah beberapa bagian.
"eh kali-kali kita bokul heroin dong? Putaw melulu." usul Acong.
"lo pikir murah heroin?" tukas Cengir.
"bisa dua kali lipat harganya cong.." timpal Ara.
Susul menyusul mereka berbicara.
Mataku yang mulai terpejam, membelalak ngeri melihat sekumpulan orang pintar ini!
"maksudnya.. Gimane? Lo pada? Heroin.. Putaw? Ya itu kan sama..? Lo pade ngomong seolah heroin.. Putaw.. Dua barang yang berbeda?" tanyaku ngeri campur geli melihat kebodohan mereka.
Kata--kataku menggantung di udara.. Beberapa detik baru meresap ke mereka.
"bikin malu aja lo pade! Kalo Jidad, Acong, Bego mendingan salah! Lah lo Ngir.. Ra.. Lo pade kan angkatan tua..?! Udah gak usah pada main drugs dah.. Pada main gundu aje! Junky abal-abal lo pade!" jelasku sarkastik.
"iya.. Iya.. Bang Sempak.. Kita kan cuma manusia yang tak luput dari dosa!" jawab Ara menahan malu.
Mereka tergelak, aku menggeleng frustasi.
"sayang banget ya.. Putaw ilegal.. Coba dijual bebas kaya papir di warung" angan Bego,sambil menuangkan peltokan.
"jangan nyamain heroin ama papir dong..!" tukas Cengir, merebut gelas.
Jidad membawa beberapa gelas plastik,masing-masing segelas menghabiskan sisa peltokan.
"Eh man! Walaupun putaw ilegal! tetap tersedia bagi pasien dengan penyakit kanker terminal karena.
efek analgesik dan euforik-nya yang baik..." sambarku.
"﹑putaw buat sakit kanker?" gumam Jidad tak yakin.
"kalo di film man.. Bukanya morfin yang sering di pake? Band Of Brothers! Tau kan lo! Berarti morfin lebih kuat ketimbang putaw? Gak salah.. Kan gua!" sela Bego antusias.
"iye bener! Kalo di film itu! Tapi lo salah man.. Putaw dua kali lipat lebih kuat dari pada morfin.!yah.. Tapi putaw secara farmakologis mirip dengan morfin. Efeknya man.. menjadi mengantuk dan perubahan mood yang tidak menentu.." balasku cepat.
"yoi man.. Gokilan putawlah! Efek cuma berjam-jam.. Wakasnya berkarat.." Ara menimpali serius.
Kata wakas mengelilingi udara sekitar kami.
Sakaw menjerat.. Membelenggu dengan rantai perak di darah kami.
Kami tahu.. Kami tak melawan.. Tiap hari hanya memohon untuk di ikat lebih kuat!
Tak tahu kalo rantai itu bakal mencabik-cabik kami tak tersisa.
"sebetulnya Ra.. Kalo lo niat.. Sindroma wakas bisa lo lewatin! Kalo lo focus sindroma wakas selama dua minggu bisa lo lewatin!
Walaupun ada beberapa gejala yang menetap enam bulan.. Bisa jadi lebih!
Biasanya man.. setelah suatu periode satu sampai dua minggu pemakaian continue pemberian antagonis narkotik.. Bisa ngalihin lo! Lo alihin ke ubas misalnya! Coba aje lo continue ngubas.." saranku
Ara menggaruk kepala, Jidad termangu-mangu.
"buset! Itu mah lari dari kandang macan masuk kandang singa! Etep aja empot-empotan gua.. Apalagi ubas!"
"itu kan contoh doang man.. Lo liat tuh si Kapten.. Doi bisa ngalihin ke anggur! Nokip gaur paling banter ceban! Itu kalo lo niat.. Kalo gue mah yakin gak bisa!"
"bukan cuma wakas doang problemnya kan? Semenjak gencar acara TV kriminal, makin sempit ruang gerak kita?" Acong memperingati.
"makanya.. Andai.. A.. A.. Etep terjual bebas." sahut Bego bernyanyi.
Cengir mengotak-ngatik motorku.
"terus aja bermimpi Bego.. Kali aja jadi kenyataan.."
Bego masih menggerutu.
"di jual bebas? Gue gak kebayang man.. Berapa orang yang bakal intoksikasi kalo begitu!"
"apaan tuh Sempak? Intoksikasi?" tukas Jidad.
Mataku menyipit geli.
"intoksikasi ya.. Keracunan man.. Emang lo pikir pedaw apaan? Itu gejala keracunan.. Tapi enak kan?
Lo pada pasti ngalamin tapi gak sadar! Konstraksi pupil atau dilatasi pupil karena anoksia akibat wakap putaw kebanyakan..
Junk model lo pada bakal mokat cepet! Coba man lo pikirin efeknya kalo abis wakap! mengantuk, bicara cadel ,gangguan atensi atau daya ingat.."
jelasku, mereka tampak asik mendengarkan.
Menyalakan rokok aku melanjutkan.
"nanti man.. Lo bakalan sampe di titik Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis.
Gak sadar kan? Man.. Kalo lo ngerasain euforia awal diikuti oleh apatis, disforia, agitasi atau retardasi..
psikomotor, gangguan pertimbangan, atau gangguan fungsi sosial atau aktifitas lo.."
Jidad melotot dengan monkey face.
"kadang gua bingung ama Sempak! Yang harusnya lo tahu.. Kaya pelajaran Harmo malah lo jawab angka tujuh?
Tapi kalo soal-soal yang seharusnya gak diketahui lo bisa tahu detail gitu man. Dari mana lo pelajarin itu semua.? Salut gua.." Jidad berbinar ajak salam tinju.
Aku membalas salamnya riang.
"ah makanya lo baca tuh buku biologi.!" jawabku geli.
"monyeet buku biologi mana! Ngarang lo.. Buku stensil kali Sempak.." sahutnya keki, kapok bertanya.
Dengan ini rasa jengkelku soal angka tujuh terbayar, kekalahanku ama Betay terbalas berkali lipat di pertaruhan motor.
"kira-kira siapa ya guru besar kita.. Yang ngajarin pertama kali make bubuk setan ini pake suntikan ya?" gumam Bego berpikir.
" itu sekitar tahun 1884 man.." jawabku datar.
"sok tahu lo.. Siapa hah?" timpal Jidad penasaran.
"yang pertama kali menggunakan kokain lewat insullin.. Tahun 1884 di amerika man.. Dr. William S. Halsted,"
Mataku mengerjap lucu, melihat Jidad menahan diri buat bertanya.
"ngape? Lo mau tahu.. Gue tahu darimane? Lo baca tuh buku sejarah.."
"monyeeet.. Buku sejarah mana ada begituan! Lo baca sejarah apaan? Sejarah mafia kali iya ada!" balas Jidad keki berat.
Aku tertawa tergelak-gelak.
--------
aku kaget terbangun karena kotak dus menimpa kepala.
Menggeser badan dari posisi tidur, aku menyender sofa memegang dus yang ternyata hp n-gage qd terbaru.
.
Terblalak melihat Ria matanya hakim agung.
"kenapa sih nek? Sakit tahu?" mengelus-ngelus kepala.
Ia menggeram seperti kucing liar.
"belum beli hp juga kan? Gua nelpon di kacangin.? Masih untung gua timpuk pake dus.. Tadinya mau gua timpuk pake ulekan mau lo!" dengusnya menghempaskan diri di sebelahku.
Aku mengingat-ngingat tadi di bengkel pergi, ninggalin anak-anak yang mau bokul.
Aku tak ikut, yang penting sudah ngasih uang mereka.
Mau ke mal beli hp..
Sampe rumah ketiduran..
Mataku berkeliling mencari inspirasi jawaban yang bagus, melihat botol coca-cola yang berjoget.
"gue ketiduran.. De! Tadinya mau beli.."
kupikir masih mau mendengarkan ceramah nenek sihir.
Tapi matanya berubah lembut.
Kami duduk di masing-masing sudut sofa.
Ia berselonjor mengangkat ke dua kakinya, mennaruh di pahaku.
Terpukau oleh kaki mulus bak pualam, celana jean ketat sedengkul.
Menutupi paha, tapi membuat orang focus melihat betis yang indah.
Baju santai dengan rangkaian tali rumit di bagian ke dua lengan.
Mengelus betis perlahan, takut tanganku bisa membuat lecet.
"geli Day.." terkekeh geli kakinya bermain di processor. Membuatku tergeliat.
"lemari udah gak muat Day? Sampe bikin rak buat komik lo? Lama-lama bisa penuh komik di semua tembok.!" ia memperhatikan kamar.
"ada komik yang bagus Day? Buat gua baca..." kakinya masih bermain, nafasku memburu.
"Salad Days.. Bagus tuh buat cewek.. Putri juga suka.."
aktifitas kakinya terhenti, membuatku kehilangan sesuatu.
"Putri? Kapan lo ketemu.? Yang dia suka pasti gua gak suka!" sahutnya dingin.
Bingung juga ama perubahan suasana hatinya yang berubah-ubah.
"kemaren malem.. Di kamarnya.. Pas lagi maen ke tempat Bego.."
aku terbiasa ngeles.. Tapi didepanya sulit untuk tak menyatakan yang sebenarnya.
"di kamarnya?? Terus.." penuh penekanan di setiap kata.
"pleas deh de.. Putri tuh cuma anak kecil dimata gue.."
"anak kecil? Bodo amat! Yang gua tanya lo ngapain di kamarnya?"
"cuma ngasih Harry potter,. Itu juga gue berdiri di pintu.."
"oh.. Bagus deh.. Gua gak yakin ada cewek yang bisa tahan lepas celana kalo berduaan di kamar ama lo." kata-katanya tak enak tapi nadanya udah normal kembali.
"terus kapan lo buka celana..?" godaku.
Bersambung..
BAB11-2:
UNDER THE INFLUENCE
-------
nongkrong di warung Babeh, pemandangan cewek-cewek kelas satu yang baru mau masuk sekolah.
Tak membuat kejengkelanku menghilang, masih kesal! Ditambah Jidad menceritakan kejadian anka tujuh ke gerombolan setan.
Tawa mereka cuma membuatku tambah geram.
Seperti biasa botol peltokan berputar, hasil patungan aku,Ara, Acong.
Jidad, bego jadi tim hore.
Peltokan membuatku tambah panas!
Ada baiknya juga mereka tahu sudah kelewatan bercandanya melihatku yang lebih banyak diam!
Beberapa meter dari tempat kami, geng kelas tiga,
beberapa orang ngumpul, salah satunya dengan pandangan sinis.
Mereka melakukan ritual yang sama dengan kami.
Tak ada yang kukenal!
Cuma mengenal beberapa anak kelas tiga yang jadi pasien.
Dan Doni yang traktir minuman beberapa hari lalu.
"Bego kemana ya? Tumben gak kemari.." kata Ara menuang peltokan.
"ah paling molor!" sahut Acong.
Doni mendekati Jidad, pembicaraan mereka tak terdengar!
"ada yang ngajakin taruhan Cong! Treck jalan baru.!" jelas jidad duduk di sebelahku.
"siapa Don! Yang ngajakin taruhan? Elo?" Acong memberikan gelas ke Doni.
"bukanlah! Tuh temen gua.." Doni sambil minum.
"yang mana sih orangnya Don?"
"temen gua Fandi! yang itu Cong.." menunjuk RX king, orang itu melihat kami sinis.
"tuh orang mukanye sewot bener !"
"udah Cong! Sikat."kompor Jidad.
Acong semangat, penuh keyakinan.
"lah! Itu bukannya motor Doyok?" sela Ara.
"maksud lo.. Doyok Abon village?" Acong, Jidad berjengit!
.
"yakin gua. Kalo ada Bego pasti ngenalin tuh motor! Itu korekan abis Cong.. Pasti kalah lo! Seandainya lo menang juga percuma! Bakal panjang urusanya ama Doyok!"
"iyalah gak usah.. Kalo tahu itu motor Doyok! Dari tadi gua tolak.."
sepintas kulihat senyum bangga Doni, membuat Acong patah semangat..
Ia kembali ke tempat gengnya.
Aku tak peduli, menikmati pletokan lagi.
Sementara Ara, Acong, Jidad berdebat.
Perhatianku teralih, suara knalpot King cumiakan.
Awalnya perlahan,.. Mencari sela.. Dan suaranya garing bulat..
Perlahan lagi, membulat..
Berulang hingga orang-orang mulai terganggu.
Dengan suara bulat motor itu bergerak.
Melakukan standing berhenti dihadapan kami.
Baru punya motor sepertinya? Atau baru bisa standing?
Entah kenapa nih orang sewot banget mukanya.
"siapa yang punya nih motor.." tanya Fandi menunjuk motorku.
"......."
Ara, Acong, Jidad mengerling menanti jawabanku.
Pertanyaan bodoh yang cuma cari setory.
Tak peduli, menikmati peltokan lagi.
"lo pada budeg? Ini motor siapa?" suaranya berkuasa.
"ngomong ama siapa sih lo?" jawabku dingin, rada bingung juga ama tiga setan jadi kaya ayam sakit.
Fandi mendengus geram.
"'langsung aja man! Mau lo apa? Gak usah bertele-tele. Mau ngajak ribut? Atau mau gimana?" suaraku setajam sembilu.
Tiga setan berjengit ngeri.
"lo ama gua di jalan baru! Takut lo.?"
"berapa. Taruhanya?"
"berapa banyak uang lo?!" sahutnya mencemooh.
"oh.. Yaudah.. Tarohan motor! Gimane?"
ekspresinya memblalak, serasa tamparan keras oleh jawabanku.
Temannya mulai bersiaga.
"kalo lo mau gertak gue soal uang.. Salah sasaran man! Udah cetiao gimane?" kataku menguap.
"uang di muka! Bukan di mulut!" jawabnya tak percaya.
Aku memberinya uang, membuat ia membeku.
*******
motor-motor berkumpul di jalan baru! Bengkel Cengir di penuhi geng tengah berbaur geng Fandi.
Ara, Acong, Jidad yang tadi seperti ayam sakit.
Sekarang karena banyakan geng tengah ketimbang gengnya Fandi.
Mereka kembali menjadi ayam jago sejati.
Beberapa kelas satu yang membolos juga hadir meramaikan.
Fandi menggeber,. Menyetting motornya.
Geng tengah tampak cemas karena Rudi belum hadir.
Dari kejauhan suara knalpot racing mendengung.. Geberan suara bulat merdu, lalu menghilang.
Motor Rudi mendekat dengan posisi mesin sudah tak menyala.
Ia berhenti di samping Fandi, dengan rem depan mengangkat ban belakang setinggi-tingginya.
Fandi tampak kaget..
Sepertinya ia membalas perbuatan Fandi yang standing di warung Babeh.
Rudi menatap seolah menyatakan begini baru bener kalo mau standing!
Star di mulai dari bengkel Cengir.
Saksi ke dua geng sudah menjaga garis finis.
Mereka berdua sudah siap.
Suara siulan ramai terdengar, cewek kelas tiga yang seragamnya terlihat beberapa kancing terbuka.
Berdiri diantara Rudi dan Fandi.
Ia melirik nakal.
"yang menang bawa pulang hadiah! Bawa pulang sekalian gua juga boleh!"
wajah Fandi mesum, Rudi tanpa ekspresi.
Cewek itu mulai menghitung.
"satu..."
"dua..."
"tiga!!"
Rudi menghentakan gas spontan, posisinya merunduk membuat badanya lurus dengan stang.
Fandi menggeber sekuatnya, di garis start ia melesat dengan standing.
Kurang perhitungan ia standing terbalik, kehilangan keseimbangan.
Suara orang yang ngeri melihat kejadian itu.
*******
aku sudah siap, kulihat wajah Fandi penuh keyakinan.
Kulihat Rita mendekat, ia salah satu pasienku.
"yang menang bawa pulang hadiah! Bawa pulang gua juga boleh!" suara menggoda, matanya melirik penuh kemauan.
Aku menahan diri untuk tak mual mendengar perkataanya.
Di hitungan ke tiga.
Menarik gas setengah, mataku focus!
Aku mendengar suara knalpot yang berlebihan di belakang, lalu sepi? Tak ada suara yang mengejar.
Sampai garis finis.
Jidad berseri, tahu bakalan pesta nanti!
Mengernyit, kenapa Fandi belum sampai juga?
Aku, Jidad, dan Doni kembali ke bengkel Cengir.
Rasa kaget, bingung? Menyerangku bergantian.
Melihat Fandi dengan luka besot di lengan, baret di keningnya?
Motornya kulihat bagian kiri tak semulus tadi, kopling patah, bu-step serta gigi yang menjorok ke atas.
Jidad menceritakan apa yang terjadi dengan geli.
Fandi tak lagi garang seperti sebelumnya, malah patut untuk di kasihani.
Terlihat rasa malunya lebih besar ketimbang kecewa!
Kalo kalah paling kecewa, selsai.
Daripada seperti ini, belum lima meter menjadi tontonan!
Aku sempat menolak uang taruhan itu, yang di sambut dengan plototan geng tengah.
Entah mengapa Fandi menjadi sewot lagi salah pengertian dengan ucapanku yang di anggap meledek.
Semua juga tahu peraturanya, yang sampai garis finis menang.
Mau apapun yang terjadi!
Kata-kataku tulus, perhatianku murni mengkhawatirkan keadaan Fandi.
Rasa permusuhan yang tak jelas diantara kami menguap begitu saja.
Tapi ia tetap menolak ideku yang membatalkan pertaruhan!
Ia tak mau menjadi orang yang merusak peraturan dan menjadi contoh buat yang lain.
Aku mengantongi rp500.000, rp400.000, ku kasih Cengir membagikan geng tengah.
Rp100.000; kuberikan Rita, supaya ia pergi, rada terganggu dari tadi ia terus menempel.
satu persatu orang mulai meninggalkan lokasi,
Fandi dan gengnya menghilang, geng tengah juga bubar.
aku, Ara, Jidad, Acong, dan Bego yang baru hadir.
masih nongkrong di bengkel Cengir.
"udahlah, berangkat! Pesta apa nih kita.." celetuk Bego.
"enak amat lo! Baru nyampe main berangkat aja!" tukas Cengir.
Aku membakar rokok, dengan gelas es teh manis di tangan.
Bosan melihat mereka.
Tarik, ulur, intinya cuma bokul!
Angin semilir membuat rasa kantukku bertambah beberapa bagian.
"eh kali-kali kita bokul heroin dong? Putaw melulu." usul Acong.
"lo pikir murah heroin?" tukas Cengir.
"bisa dua kali lipat harganya cong.." timpal Ara.
Susul menyusul mereka berbicara.
Mataku yang mulai terpejam, membelalak ngeri melihat sekumpulan orang pintar ini!
"maksudnya.. Gimane? Lo pada? Heroin.. Putaw? Ya itu kan sama..? Lo pade ngomong seolah heroin.. Putaw.. Dua barang yang berbeda?" tanyaku ngeri campur geli melihat kebodohan mereka.
Kata--kataku menggantung di udara.. Beberapa detik baru meresap ke mereka.
"bikin malu aja lo pade! Kalo Jidad, Acong, Bego mendingan salah! Lah lo Ngir.. Ra.. Lo pade kan angkatan tua..?! Udah gak usah pada main drugs dah.. Pada main gundu aje! Junky abal-abal lo pade!" jelasku sarkastik.
"iya.. Iya.. Bang Sempak.. Kita kan cuma manusia yang tak luput dari dosa!" jawab Ara menahan malu.
Mereka tergelak, aku menggeleng frustasi.
"sayang banget ya.. Putaw ilegal.. Coba dijual bebas kaya papir di warung" angan Bego,sambil menuangkan peltokan.
"jangan nyamain heroin ama papir dong..!" tukas Cengir, merebut gelas.
Jidad membawa beberapa gelas plastik,masing-masing segelas menghabiskan sisa peltokan.
"Eh man! Walaupun putaw ilegal! tetap tersedia bagi pasien dengan penyakit kanker terminal karena.
efek analgesik dan euforik-nya yang baik..." sambarku.
"﹑putaw buat sakit kanker?" gumam Jidad tak yakin.
"kalo di film man.. Bukanya morfin yang sering di pake? Band Of Brothers! Tau kan lo! Berarti morfin lebih kuat ketimbang putaw? Gak salah.. Kan gua!" sela Bego antusias.
"iye bener! Kalo di film itu! Tapi lo salah man.. Putaw dua kali lipat lebih kuat dari pada morfin.!yah.. Tapi putaw secara farmakologis mirip dengan morfin. Efeknya man.. menjadi mengantuk dan perubahan mood yang tidak menentu.." balasku cepat.
"yoi man.. Gokilan putawlah! Efek cuma berjam-jam.. Wakasnya berkarat.." Ara menimpali serius.
Kata wakas mengelilingi udara sekitar kami.
Sakaw menjerat.. Membelenggu dengan rantai perak di darah kami.
Kami tahu.. Kami tak melawan.. Tiap hari hanya memohon untuk di ikat lebih kuat!
Tak tahu kalo rantai itu bakal mencabik-cabik kami tak tersisa.
"sebetulnya Ra.. Kalo lo niat.. Sindroma wakas bisa lo lewatin! Kalo lo focus sindroma wakas selama dua minggu bisa lo lewatin!
Walaupun ada beberapa gejala yang menetap enam bulan.. Bisa jadi lebih!
Biasanya man.. setelah suatu periode satu sampai dua minggu pemakaian continue pemberian antagonis narkotik.. Bisa ngalihin lo! Lo alihin ke ubas misalnya! Coba aje lo continue ngubas.." saranku
Ara menggaruk kepala, Jidad termangu-mangu.
"buset! Itu mah lari dari kandang macan masuk kandang singa! Etep aja empot-empotan gua.. Apalagi ubas!"
"itu kan contoh doang man.. Lo liat tuh si Kapten.. Doi bisa ngalihin ke anggur! Nokip gaur paling banter ceban! Itu kalo lo niat.. Kalo gue mah yakin gak bisa!"
"bukan cuma wakas doang problemnya kan? Semenjak gencar acara TV kriminal, makin sempit ruang gerak kita?" Acong memperingati.
"makanya.. Andai.. A.. A.. Etep terjual bebas." sahut Bego bernyanyi.
Cengir mengotak-ngatik motorku.
"terus aja bermimpi Bego.. Kali aja jadi kenyataan.."
Bego masih menggerutu.
"di jual bebas? Gue gak kebayang man.. Berapa orang yang bakal intoksikasi kalo begitu!"
"apaan tuh Sempak? Intoksikasi?" tukas Jidad.
Mataku menyipit geli.
"intoksikasi ya.. Keracunan man.. Emang lo pikir pedaw apaan? Itu gejala keracunan.. Tapi enak kan?
Lo pada pasti ngalamin tapi gak sadar! Konstraksi pupil atau dilatasi pupil karena anoksia akibat wakap putaw kebanyakan..
Junk model lo pada bakal mokat cepet! Coba man lo pikirin efeknya kalo abis wakap! mengantuk, bicara cadel ,gangguan atensi atau daya ingat.."
jelasku, mereka tampak asik mendengarkan.
Menyalakan rokok aku melanjutkan.
"nanti man.. Lo bakalan sampe di titik Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis.
Gak sadar kan? Man.. Kalo lo ngerasain euforia awal diikuti oleh apatis, disforia, agitasi atau retardasi..
psikomotor, gangguan pertimbangan, atau gangguan fungsi sosial atau aktifitas lo.."
Jidad melotot dengan monkey face.
"kadang gua bingung ama Sempak! Yang harusnya lo tahu.. Kaya pelajaran Harmo malah lo jawab angka tujuh?
Tapi kalo soal-soal yang seharusnya gak diketahui lo bisa tahu detail gitu man. Dari mana lo pelajarin itu semua.? Salut gua.." Jidad berbinar ajak salam tinju.
Aku membalas salamnya riang.
"ah makanya lo baca tuh buku biologi.!" jawabku geli.
"monyeet buku biologi mana! Ngarang lo.. Buku stensil kali Sempak.." sahutnya keki, kapok bertanya.
Dengan ini rasa jengkelku soal angka tujuh terbayar, kekalahanku ama Betay terbalas berkali lipat di pertaruhan motor.
"kira-kira siapa ya guru besar kita.. Yang ngajarin pertama kali make bubuk setan ini pake suntikan ya?" gumam Bego berpikir.
" itu sekitar tahun 1884 man.." jawabku datar.
"sok tahu lo.. Siapa hah?" timpal Jidad penasaran.
"yang pertama kali menggunakan kokain lewat insullin.. Tahun 1884 di amerika man.. Dr. William S. Halsted,"
Mataku mengerjap lucu, melihat Jidad menahan diri buat bertanya.
"ngape? Lo mau tahu.. Gue tahu darimane? Lo baca tuh buku sejarah.."
"monyeeet.. Buku sejarah mana ada begituan! Lo baca sejarah apaan? Sejarah mafia kali iya ada!" balas Jidad keki berat.
Aku tertawa tergelak-gelak.
--------
aku kaget terbangun karena kotak dus menimpa kepala.
Menggeser badan dari posisi tidur, aku menyender sofa memegang dus yang ternyata hp n-gage qd terbaru.
.
Terblalak melihat Ria matanya hakim agung.
"kenapa sih nek? Sakit tahu?" mengelus-ngelus kepala.
Ia menggeram seperti kucing liar.
"belum beli hp juga kan? Gua nelpon di kacangin.? Masih untung gua timpuk pake dus.. Tadinya mau gua timpuk pake ulekan mau lo!" dengusnya menghempaskan diri di sebelahku.
Aku mengingat-ngingat tadi di bengkel pergi, ninggalin anak-anak yang mau bokul.
Aku tak ikut, yang penting sudah ngasih uang mereka.
Mau ke mal beli hp..
Sampe rumah ketiduran..
Mataku berkeliling mencari inspirasi jawaban yang bagus, melihat botol coca-cola yang berjoget.
"gue ketiduran.. De! Tadinya mau beli.."
kupikir masih mau mendengarkan ceramah nenek sihir.
Tapi matanya berubah lembut.
Kami duduk di masing-masing sudut sofa.
Ia berselonjor mengangkat ke dua kakinya, mennaruh di pahaku.
Terpukau oleh kaki mulus bak pualam, celana jean ketat sedengkul.
Menutupi paha, tapi membuat orang focus melihat betis yang indah.
Baju santai dengan rangkaian tali rumit di bagian ke dua lengan.
Mengelus betis perlahan, takut tanganku bisa membuat lecet.
"geli Day.." terkekeh geli kakinya bermain di processor. Membuatku tergeliat.
"lemari udah gak muat Day? Sampe bikin rak buat komik lo? Lama-lama bisa penuh komik di semua tembok.!" ia memperhatikan kamar.
"ada komik yang bagus Day? Buat gua baca..." kakinya masih bermain, nafasku memburu.
"Salad Days.. Bagus tuh buat cewek.. Putri juga suka.."
aktifitas kakinya terhenti, membuatku kehilangan sesuatu.
"Putri? Kapan lo ketemu.? Yang dia suka pasti gua gak suka!" sahutnya dingin.
Bingung juga ama perubahan suasana hatinya yang berubah-ubah.
"kemaren malem.. Di kamarnya.. Pas lagi maen ke tempat Bego.."
aku terbiasa ngeles.. Tapi didepanya sulit untuk tak menyatakan yang sebenarnya.
"di kamarnya?? Terus.." penuh penekanan di setiap kata.
"pleas deh de.. Putri tuh cuma anak kecil dimata gue.."
"anak kecil? Bodo amat! Yang gua tanya lo ngapain di kamarnya?"
"cuma ngasih Harry potter,. Itu juga gue berdiri di pintu.."
"oh.. Bagus deh.. Gua gak yakin ada cewek yang bisa tahan lepas celana kalo berduaan di kamar ama lo." kata-katanya tak enak tapi nadanya udah normal kembali.
"terus kapan lo buka celana..?" godaku.
Bersambung..
Diubah oleh masternagato 24-08-2014 16:52
0