TS
bawanasi465
[Orific] Harapan dan Pintu
genre: drama, supernatural, psychological thriller
cerita ini terinspirasi dari LN yang keren pisan, Utsuro no Hako to Zero no Maria yang ane baca pas SMA dulu. sayangnya ane baru kepikiran nulisnya sekarang
ts sangat menghargai setiap kritikan dan saran agan hehe. anyway, enjooy!
“Idle mind is devil’s workshop.”
Pernahkah kamu mendengar istilah itu? Aku sebenarnya juga tidak begitu mengerti, tapi kurasa intinya adalah jangan biarkan dirimu terlalu lama menganggur. Maksudku, jika dibiarkan untuk tidak melakukan apa-apa, akan muncul seekor setan kecil di kepalamu. Setan yang menyebalkan sekali, setidaknya bagiku.
Setan yang biasa dipanggil ‘rasa bosan’.
... semakin kupikir sebenarnya mungkin bukan itu yang dimaksud oleh istilah orang bule itu. Yah, pokoknya itulah tafsiranku.
Ngomong-ngomong, tentu bukan tanpa alasan aku mengumpamakan rasa bosan sebagai seekor setan. Sudah jadi tugas setan ‘kan, untuk menghasut manusia untuk berbuat hal buruk? Itulah persis apa yang dilakukan oleh rasa bosan.
Membuatmu melakukan hal buruk. Hal bodoh, tepatnya.
Wajar sih menurutku. Seperti manusia yang memiliki naluri untuk memasukan makanan ke dalam mulut atau berhubungan seks ketika birahi memuncak. Jika kamu bosan, kamu pasti akan mencari alasan untuk membuatmu melakukan sesuatu. Semakin gila kegiatan yang kamu buat sendiri itu, entah kegiatan yang positif ataupun negatif, semakin jauh rasa bosan akan pergi dari pikiranmu.
Nah, disinilah masalahnya; terkadang ‘gila’ itu hanya beda tipis dengan ‘bodoh’.
Kurasa sebaiknya aku tidak akan berceramah lebih panjang lagi, karena itu pasti akan membuatmu bosan. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui sebelum mendengar kisahku.
Aku ini sangat mudah merasa bosan.
RAMA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img631/1465/HnERjM.png)
Karakter utama yang sepertinya tak lebih dari anak SMA biasa.
"...betapa inginnya aku melompat dari jendela lalu kabur dari sini..."
PUTRI
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/9146/szIB3H.png)
Gadis misterius yang mengetahui semua yang Rama tidak ketahui.
"...aku akan selalu berada di pihakmu, dan pihakmu seorang."
MARINA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img537/4474/PnLoLN.png)
Teman sekelas Rama yang penyendiri, jarang bicara, dan sulit didekati.
"Maaf, Rama. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf."
JULIA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/4974/h3aMed.png)
Adik perempuan Rama yang selalu saja bertengkar dengan kakaknya.
"B-bukan gara-gara aku khawatir sama kakak atau apa, ya!"
OJAN
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img901/1494/LF7yFU.png)
Teman sebangku Rama yang disegani banyak orang karena terlalu cerdas.
"Bodoh juga ada batasnya, Ram."
NANA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/9299/kWfkMB.png)
Ketua kelasnya Rama yang tidak punya kata "basa-basi" di kamusnya.
"Bicara lagi, oh bicaralah sekali lagi, biar bisa gua tonjok lu."
*ilustrasi sama sekali BUKAN dibuat oleh ts, dan hanya disertakan untuk mempermudah pembaca memvisualkan karakter
Prologue
Prologue (1)
Prologue (2)
R1
7.36AM
R2
6.00AM
6.54AM
7.10AM (1)
7.10AM (2)
8.43AM
9.01AM
9.43AM
10.20AM (1)
10.20AM (2)
Spoiler for Author's Note:
cerita ini terinspirasi dari LN yang keren pisan, Utsuro no Hako to Zero no Maria yang ane baca pas SMA dulu. sayangnya ane baru kepikiran nulisnya sekarang

ts sangat menghargai setiap kritikan dan saran agan hehe. anyway, enjooy!

Spoiler for Boredom:
“Idle mind is devil’s workshop.”
Pernahkah kamu mendengar istilah itu? Aku sebenarnya juga tidak begitu mengerti, tapi kurasa intinya adalah jangan biarkan dirimu terlalu lama menganggur. Maksudku, jika dibiarkan untuk tidak melakukan apa-apa, akan muncul seekor setan kecil di kepalamu. Setan yang menyebalkan sekali, setidaknya bagiku.
Setan yang biasa dipanggil ‘rasa bosan’.
... semakin kupikir sebenarnya mungkin bukan itu yang dimaksud oleh istilah orang bule itu. Yah, pokoknya itulah tafsiranku.
Ngomong-ngomong, tentu bukan tanpa alasan aku mengumpamakan rasa bosan sebagai seekor setan. Sudah jadi tugas setan ‘kan, untuk menghasut manusia untuk berbuat hal buruk? Itulah persis apa yang dilakukan oleh rasa bosan.
Membuatmu melakukan hal buruk. Hal bodoh, tepatnya.
Wajar sih menurutku. Seperti manusia yang memiliki naluri untuk memasukan makanan ke dalam mulut atau berhubungan seks ketika birahi memuncak. Jika kamu bosan, kamu pasti akan mencari alasan untuk membuatmu melakukan sesuatu. Semakin gila kegiatan yang kamu buat sendiri itu, entah kegiatan yang positif ataupun negatif, semakin jauh rasa bosan akan pergi dari pikiranmu.
Nah, disinilah masalahnya; terkadang ‘gila’ itu hanya beda tipis dengan ‘bodoh’.
Kurasa sebaiknya aku tidak akan berceramah lebih panjang lagi, karena itu pasti akan membuatmu bosan. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui sebelum mendengar kisahku.
Aku ini sangat mudah merasa bosan.
Spoiler for Karakter:
RAMA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img631/1465/HnERjM.png)
Karakter utama yang sepertinya tak lebih dari anak SMA biasa.
"...betapa inginnya aku melompat dari jendela lalu kabur dari sini..."
PUTRI
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/9146/szIB3H.png)
Gadis misterius yang mengetahui semua yang Rama tidak ketahui.
"...aku akan selalu berada di pihakmu, dan pihakmu seorang."
MARINA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img537/4474/PnLoLN.png)
Teman sekelas Rama yang penyendiri, jarang bicara, dan sulit didekati.
"Maaf, Rama. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf."
JULIA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/4974/h3aMed.png)
Adik perempuan Rama yang selalu saja bertengkar dengan kakaknya.
"B-bukan gara-gara aku khawatir sama kakak atau apa, ya!"
OJAN
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img901/1494/LF7yFU.png)
Teman sebangku Rama yang disegani banyak orang karena terlalu cerdas.
"Bodoh juga ada batasnya, Ram."
NANA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/9299/kWfkMB.png)
Ketua kelasnya Rama yang tidak punya kata "basa-basi" di kamusnya.
"Bicara lagi, oh bicaralah sekali lagi, biar bisa gua tonjok lu."
*ilustrasi sama sekali BUKAN dibuat oleh ts, dan hanya disertakan untuk mempermudah pembaca memvisualkan karakter
Spoiler for Index:
Prologue
Prologue (1)
Prologue (2)
R1
7.36AM
R2
6.00AM
6.54AM
7.10AM (1)
7.10AM (2)
8.43AM
9.01AM
9.43AM
10.20AM (1)
10.20AM (2)
Diubah oleh bawanasi465 08-12-2014 22:18
0
4.1K
Kutip
37
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•349Anggota
Tampilkan semua post
TS
bawanasi465
#1
Spoiler for Prologue Part 1:
“Aku siap! Aku siap! Apa yang akan kita lakukan hari ini, Patric-”
Pip.
“-jika suami anda memperlakukan anda seperti anda, sebaiknya anda ceraikan saja. CERAIKAN! Dalam hadist al-”
Pip.
“-ditemukan tidak bernyawa lagi. Dari pemeriksaan penyelidik tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Saat ini jasad masih diotopsi di rumah sakit terdekat. Hingga saat ini tim dokter masih belum bisa memastikan penyebab kematian gadis nahas ini. Kejadian ini menambah panjang daftar korban penyakit misterius yang menyerang kota ini sejak tiga bulan-”
Pip.
Berita, kartun, dan ceramah.
Tiga tema ini sama sekali tidak ada hubungannya satu sama lain, kecuali kamu sedang menonton televisi di pagi buta. Kemanapun saluran yang kamu pilih, kamu akan selalu bertemu dengan salah satu dari tiga sekawan ini.
Bukannya aku tidak suka. Justru bagiku ini adalah kombinasi yang cukup menarik. Selalu ada saatnya aku ingin mendapat siraman rohani di pagi hari, atau menatap datar ke kartun komedi maupun menunggu berita menarik muncul hari ini. Tiga topik ini seakan sudah mampu memenuhi kebutuhanku setiap paginya sebelum memulai aktivitas.
Tapi tetap saja, pilihanku hanya ada tiga. Tidak lebih. Oh, aku bisa saja mematikan televisi, tapi itu bahkan pilihan yang lebih buruk dari ketiganya. Bisa mati bosan aku.
“Ooy, pagi-pagi udah bengong aja! Cepetan abisin sarapannya!”
Suara cempreng perempuan itu membangunkan aku dari lamunanku. Ketika kualihkan pandanganku ke sumber suara, terlihat seorang gadis berseragam putih-biru sedang sibuk menyisir rambut panjangnya.
“...kamu juga, cepetan dandannya. Dasar cewek centil,” jawabku ketus sembari melahap sisa nasi goreng di piringku.
“Berisik! Ini dari tadi rambutku susah banget diatur gara-gara udara lagi lembab.”
“Emang iya, ya? Rambutku biasa-biasa aja, ah.”
“Haah? Apanya yang biasa aja, ngaca dulu nih woy!” protesnya yang kemudian melempar cermin kecil dari dalam tasnya kepadaku. Dari pantulan cermin itu terlihat wajahku yang familiar dengan rambut yang berantakan.
“Tuh kan, rambutku berantakan kayak biasanya.”
“Huh, percuma ngomong sama kakakku ini. Dasar cowok ga modis!”
“...”
Namaku Rama, 17 tahun. Aku anak SMA biasa, tidak lebih, tidak kurang.
...kalaupun ada yang kurang, itu adalah respek adikku satu-satunya ini kepadaku.
Julia, adikku, baru selesai berdandan tepat setelah aku selesai mencuci piring. Sebenarnya dia masih belum puas dengan rambutnya, tapi kurasa dia sendiri sadar bahwa dia sudah terlalu lama di depan cermin. Memang jika kami tidak segera bergegas, bisa dipastikan kami akan ketinggalan kereta.
“Kak Rama ga apa-apa kan, kak?”
Pertanyaan muncul dari mulut Julia setelah kami berjalan beberapa langkah dari rumah. Langit masih belum terlalu terang dan sejauh mata memandang hanya kami manusia yang terlihat di jalanan. Wajar menurutku, mengingat waktu bahkan belum menyentuh pukul enam pagi. Kenapa kami berangkat sepagi ini? Karena kereta bisa menjadi sangat tidak bisa diandalkan, sehingga kami berangkat lebih awal untuk mengurangi kemungkinan kami datang terlambat.
“...kenapa tiba-tiba nanya gitu?”
“Jangan jawab pertanyaanku pakai pertanyaan! Jawab aja, lah!”
Apaan sih ini anak, kok galak banget pagi ini? Aku ingin berkata seperti itu, tapi kutahan melihat betapa seriusnya wajah Julia.
“Err... uh, ga kenapa-napa sih. Tapi rasanya kepala agak pusing ini.”
Julia membelalakkan matanya. “Jangan-jangan kakak keracunan masakanku lagi?“
“Kayaknya nggak, sih. Aku udah ngerasa begini dari bangun tidur tadi.”
“Ohh, syukur deh. Kalo aku boleh jujur, sebenernya aku ga sengaja numpahin baygon ke nasi gorengmu tadi, jadi ya bagus kalo ga apa-apa.”
“Apanya yang ga apa-apa, oi!! Kamu mau bunuh aku, ya!?”
“Tenang, tenang. Becanda, becanda.”
“Mengingat kamu pernah ‘ga sengaja’ masukin racun tikus ke dalam minumanku, aku ga bisa nganggep itu becandaan, tau!”
“Itu kan udah lama! Dan aku udah bilang aku ga sengajaa! Lagian masa aku rela ngeracunin kakakku sendiri, memangnya aku ini pemeran antagonis di sinetron-sinetron itu apa?”
Tidak perlu kamu bilang pun aku tahu kamu bukan adik yang jahat. Kamu hanya adik yang ceroboh, hanya saja dalam tingkatan yang agak ekstrim. Di balik kebawelan dan menyebalkannya kamu, aku tahu kamu sangat menyayangi kakakmu ini. Aku tahu persis itu.
“Kalo aku ingin ngebunuh kakak, tinggal kudorong saja kak Rama ke rel waktu kereta lewat. Lebih bersih dan lebih cepat. Mfufu.”
...kutarik kembali kata-kataku, kurasa dia memang membenciku dari lubuk hati yang terdalam.
“Ngomong-ngomong, enak ga nasi goreng bikinanku tadi?”
“Sebenernya biasa aja, tapi mengingat betapa seringnya kamu ketuker antara garam dan gula, itu termasuk enak.”
“Kak Rama sedang memuji ato ngeledek sih sebenarnya...” cibir Julia yang kemudian merogoh isi tasnya, mencari sesuatu. “Err, kunci pintu rumah ada di kakak, kan?”
“Lho, kan yang terakhir keluar rumah itu kamu. Jangan bilang kalo kamu lupa ngunci pintu rumah... lagi?”
Seketika wajah Julia membiru. “Kak, tungguin di sini, ya!”
Dan detik berikutnya, Julia sudah melesat kembali ke rumah. Entah sudah keberapa kalinya dia lupa mengunci pintu, sampai-sampai aku sudah menganggapnya sebagai pemandangan biasa. Yah, salahku juga sih. Seharusnya jika aku tahu aku punya adik yang ceroboh, aku akan lebih teliti atau setidaknya memastikan diriku yang mengunci pintunya setiap hari.
Setelah menghela nafas, kulanjutkan perjalananku ke stasiun. Aku tidak akan menunggu Julia, biar dia tahu rasa.
Kulangkahkan kakiku perlahan, sesekali menghindari genangan air di trotoar akibat hujan deras semalam. Ini memang sudah memasuki musim hujan dan wajar jika hujan turun setiap hari, mengingat kota ini dijuluki kota hujan. Hal itu juga yang mengakibatkan suhu rata-rata menjadi lebih rendah akhir-akhir ini.
“Fuah, dingiin,” gumanku.
***
Sekali lagi perkenalkan, namaku Rama, sama seperti nama protagonis di cerita epik Ramayana. Sayangnya aku belum menemukan wanita yang bernama Shinta seumur hidupku... tapi ya sudahlah, itu tidak penting.
Sejak tiga bulan lalu, aku hidup berdua dengan adikku di salah satu sudut Bogor. Ya, kami tidak tinggal bersama orang tua kami. Itu juga alasan mengapa kami harus mengunci pintu rumah ketika kami berangkat sekolah. Ayah dan ibu kami sendiri tinggal di kota di pulau seberang sana.
Kenapa kami bisa dilepas untuk hidup berdua saja di sini? Sebenarnya panjang ceritanya. Intinya Ayah dan Ibu memiliki pekerjaan masing-masing yang menuntut mereka untuk tidak menetap di tempat yang sama untuk terlalu lama. Sebelumnya kami selalu ikut tinggal dengan salah satu dari mereka kemanapun mereka pergi, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membuat homebase untuk kami.
Dan di sinilah kami, hidup dengan mandiri di sini. Dan bukannya kami sepenuhnya hidup mandiri juga, sih, karena setiap bulan kami masih dikirimi uang untuk keperluan sehari-hari. Terkadang mereka juga datang mengunjungi kami, memastikan kami tidak semakin kurus atau betingkah aneh-aneh.
Tanpa terasa aku sudah sampai di stasiun. Tempat ini jauh lebih ramai dari daerah rumahku, berpuluh-puluh kali lebih ramai lebih tepatnya. Terlihat kerumunan orang sudah bersiap di peron menunggu kereta datang. Kabar baiknya, sebagian besar dari mereka akan menuju ke Jakarta, bukan ke kota Bogor yang menjadi tujuanku.
Saat keretaku datang, di saat itu pula Julia sampai di sampingku. Dengan keringat bercucuran, dia tak berhenti mengomel tentang aku yang tidak menunggunya padahal dia masih terengah-engah. Kurasa dedikasinya untuk mengomel sangatlah tinggi.
“Lihat, kalo aku menunggumu di sana tadi, pasti kita udah ketinggalan kereta ini, tau,” jelasku kepada Julia ketika kami sudah masuk ke dalam gerbong kereta. Di saat yang sama, pintu otomatis kereta menutup dan kereta mulai berjalan.
Dia tidak menghiraukan penjelasanku dan justru mengeluarkan sisir dan cermin dari dalam tas. “Duuh, rambutku jadi berantakan lagi, kan...” keluhnya pelan seraya mulai menyisir rambut.
“Lap dulu keringatmu. Nih, aku bawa sapu tangan.”
“Mh, makasih.”
Kereta cukup lengang pagi ini. Hanya aku dan Julia saja yang berdiri di dalam gerbong ini. Sebenarnya masih ada tempat jika aku ingin duduk, tapi tidak kuambil karena kami akan segera turun di stasiun berikutnya.
Kuamati penumpang lain di sekitarku. Pemandangan yang biasa, di mana ada orang yang tertidur lelap dalam posisi duduk. Seorang wanita tak henti-hentinya menatap telepon genggamnya, sesekali menekan layarnya dan sesekali tertawa. Ada pula yang melepas earphone dari telinganya dan bersiap-siap turun dari kereta.
Mereka melakukan aktivitas masing-masing, namun kusadari ada satu kesamaan dari mereka semua. Mereka menutupi hidungnya dengan sesuatu, entah masker ataupun kain lain.
“Kenapa orang-orang pada nutupin hidung, ya?” gumanku seraya menyikut Julia yang baru selesai berdandan lagi. “Memang ga sih aneh kalo ada orang yang pakai masker di kereta, tapi ga sebanyak ini juga deh biasanya.”
“Kalau masker sih, sebenernya aku juga punya kok.” Julia mengeluarkan masker sekali pakai yang biasa dipakai dokter bedah. “Ini aku juga mau pakai.”
Kunaikkan alisku. Selama ini aku belum pernah melihatnya memakai masker, bahkan ketika dia sedang sakit atau apa.
“Apa ini semacam trend baru?” tanyaku.
“...aku sama sekali nggak ngerti kenapa kakak bisa mikir ke arah situ. Ya ampun, sejak kapan sih pakai masker bisa jadi trend?”
“Yaa... terus kenapa kamu bawa masker segala? Kamu sakit?”
“Nggak sakit juga sih. Cuma antisipasi aja.”
“Jangan khawatir berlebihan, lah. Mungkin emang cuaca lagi dingin-dinginnya, tapi asal kita bisa tetap fit kita ga akan kena pilek, kok.”
“Dih, sok tahu banget, sih! Ini bukan buat sakit flu!”
“Terus buat antisipasi apa... oh. Virus Izrail?”
Julia melirik ke arahku, mengangguk pelan lalu menutup hidung dan mulutnya dengan masker.
Virus Izrail. Kutukan Ilahi. Satan’s Breath.
Banyak sekali istilah yang digunakan orang-orang untuk menyebut peristiwa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini. Kejadian dimana seseorang tiba-tiba meregang nyawa tanpa alasan yang jelas. Ya, sangat tiba-tiba. Korban itu bisa saja sedang melakukan kegiatan tanpa terlihat sedang sakit atau apapun yang aneh, namun di detik berikutnya dia sudah mati begitu saja.
Seperti nyawanya dicabut dengan paksa.
Seperti Doraemon yang ditarik ekornya.
Tentu saja awalnya orang-orang berpikir bahwa ini hanyalah fenomena biasa. Sudah sewajarnya kan, toh memang sudah biasa jika ada orang yang meninggal setiap harinya.
Tapi ada beberapa hal lain yang unik dari fenomena ini; kejadian ini hanya terjadi di wilayah Bogor dan sekitarnya. Selain itu, kejadian ini selalu terjadi sekali dalam sehari. Artinya, selalu ada satu orang yang menjadi korban mati secara misterius setiap harinya. Terkadang ada kejadian langka dimana dua orang sekaligus menjadi korban, tapi tidak pernah lebih dari itu.
Konsistensi terjadinya fenomena ini membuat orang yakin bahwa sesuatu sedang terjadi di kota ini.
Tapi apa?
Inilah yang menjadi perbincangan hangat di Bogor selama beberapa hari ini. Ada yang bilang ini disebabkan oleh virus, ada yang bersikeras ini adalah kutukan bagi kota ini, ada juga yang yakin bahwa ini bukanlah fenomena tapi hanyalah kebetulan karena korban-korban yang jatuh cenderung tidak memiliki hubungan apapun antara satu dengan yang lainnya.
“Nih kak, buatmu,” bisik Julia yang menyodorkan masker kepadaku, membuyarkanku dari lamunan. Itu adalah masker jenis yang sama dengan yang ia sedang kenakan saat ini.
“...kamu beli ini buatku?”
“Ng-nggak, kemarin lagi ada promo beli satu gratis satu, jadi aku punya lebih. Bukan gara-gara aku khawatir sama kakak atau apa, ya!”
...sejak pagi ini aku sudah menyadari ada yang aneh dengan Julia. Sekarang aku tahu alasannya.
Kasus rentetan kematian misterius ini sangat menganggu pikirannya. Paranoid mungkin, lebih tepatnya. Begitu takutnya dia sampai-sampai dia menjadi lebih peduli kepadaku seperti saat menanyakan keadaanku setelah memakan masakannya tadi. Ini mungkin sedikit menyedihkan, tapi adikku Julia memang biasanya tidak begitu memedulikanku.
Lihat, dia bahkan membelikan aku masker. Memang ada yang tidak beres, ini.
Yah, mengingat sedang ada kejadian aneh yang melibatkan nyawa seperti ini TEPAT di kota tempat tinggalmu, tidak aneh lah jika adikku ikut khawatir. Tapi bagiku sendiri, ini bukan menjadi hal yang perlu dikhawatirkan.
“Julia, tahu ga sih kamu berapa orang yang tinggal di Bogor? Tiga juta orang lebih. Kalau dihitung pakai matematika, kemungkinanmu jadi korban berikutnya nggak lebih dari 0,0003%. Kayaknya masih lebih gede kemungkinan aku keterima kuliah di Harvard deh, dan kamu tau kan betapa ‘pinter’-nya aku?”
Aku tertawa cekikikan, namun Julia malah terlihat semakin cemberut.
“Ini serius, kak.”
“Aku juga serius. Lagipula menurutku ini bukan gara-gara virus atau penyakit, kok. Kalau memang ini penyakit menular, pasti korbannya saling hidup berdekatan, atau seenggaknya cukup sering melakukan kontak. Jumlah korbannya makin lama harusnya makin banyak setiap harinya, nggak stagnan kayak begini karena obatnya aja belum ditemuin.”
“Jadi menurut kakak ini semua terjadi gara-gara kutukan buat kota ini? Itu lebih bodoh lagi, menurutku.”
“Aku nggak pernah bilang kalo ini kutukan, tapi itu bisa aja benar. Yang namanya kejadian supernatural itu kan lebih nggak bisa ditebak sifat-sifatnya, karena memang keberadaannya aja nggak bisa dibuktikan dengan pasti.”
“Justru itu! Ga mungkin aku bisa percaya ke hal yang ga bisa dibuktikan kebenarannya!”
“Ya memang kamu ga perlu percaya kalo ini kutukan juga sih. Lagipula bisa aja semua kematian itu cuma kebetulan aja.”
“Tapi kan, tapi... ah, bikin bingung aja! Udahlah pakai aja ini maskernya!” Julia kembali menyodorkan masker di tangannya, kali ini dengan sedikit memaksa.
“Ogah ah, bikin pengap. Lagian udah kubilang, biar gimanapun juga ini pasti bukan gara-gara vi-”
“Dih, tinggal pakai aja kenapa sih?” potong Julia seraya menggelembungkan pipinya. “T-toh nggak ada salahnya kan kita jaga-jaga! Huh!”
Julia membuang muka dariku, dan aku menghela nafas.
Merepotkan sekali sih punya adik yang ingin semaunya begini. Julia memang sudah SMP, tapi dia masih memiliki sisi kekanak-kanakan seperti ini... yang menurutku wajar mengingat orang dewasa pun terkadang juga ada yang masih begitu. Aku memang harus sabar.
Ketika muncul niatku untuk meminta maaf padanya, Julia membuka mulutnya. “Sebenarnya kemarin aku baru diceritain temenku yang ngeliat sendiri orang yang meninggal dengan misterius itu. Dia kelihatan syok banget, karena memang baru pertama kali dia ngeliat orang tewas langsung di depan dia. Kalo ngedengerin ceritanya, ngeri banget, kak.”
Kualihkan pandanganku ke kedua matanya yang memandang ke luar jendela kereta api yang melaju kencang.
“Selama ini aku tahu soal kematian misterius itu dari berita-berita di TV atau internet, tapi begitu aku denger cerita dari temen deketku sendiri... aku sadar mungkin fenomena ini dekat banget dengan kita, lebih dari yang aku kira. Maksudku, kalau aku ngebayangin aku sendiri yang akan jadi korban, atau kalo... udahlah.”
“...”
Ya ampun, aku tidak pernah tahu aku punya adik seimut ini! Kegelisahannya ini justru menggelitikku untuk menggodanya lebih jauh.
“Iya deh, iya, aku tutup hidungku biar nggak ada kuman jahat masuk ke badanku,” kataku seraya menggaruk-garuk rambutku yang tidak gatal.
“...eh?” suara tertahan Julia keluar dari mulut Julia yang terkejut.
Tapi biar gimana juga aku ga mau pakai masker jelek itu,” kukeluarkan sapu tangan dari kantongku. “Mendingan aku pakai ini aja buat nutup hidungku.”
“Eh? Eeh?? Itu kan bekas aku ngelap keringat tadi, kak!”
“Iya, aku tau,” tak kuhiraukan protes Julia dan kupakaikan sapu tangan itu menutupi hidungku. “Hmm, agak aneh sih, tapi aku suka wanginya kok.”
Julia yang wajahnya sudah sangat memerah segera menggenggam kerah seragamku. “Lepasin kak! Apa-apaan, sih! Jijik banget! Dasar fetish! Incest! Hey cepet lepasin, malu tau!”
Selama beberapa menit ke depan kami terus bertengkar di kereta mengenai urusan sapu tangan ini.
***
Pip.
“-jika suami anda memperlakukan anda seperti anda, sebaiknya anda ceraikan saja. CERAIKAN! Dalam hadist al-”
Pip.
“-ditemukan tidak bernyawa lagi. Dari pemeriksaan penyelidik tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Saat ini jasad masih diotopsi di rumah sakit terdekat. Hingga saat ini tim dokter masih belum bisa memastikan penyebab kematian gadis nahas ini. Kejadian ini menambah panjang daftar korban penyakit misterius yang menyerang kota ini sejak tiga bulan-”
Pip.
Berita, kartun, dan ceramah.
Tiga tema ini sama sekali tidak ada hubungannya satu sama lain, kecuali kamu sedang menonton televisi di pagi buta. Kemanapun saluran yang kamu pilih, kamu akan selalu bertemu dengan salah satu dari tiga sekawan ini.
Bukannya aku tidak suka. Justru bagiku ini adalah kombinasi yang cukup menarik. Selalu ada saatnya aku ingin mendapat siraman rohani di pagi hari, atau menatap datar ke kartun komedi maupun menunggu berita menarik muncul hari ini. Tiga topik ini seakan sudah mampu memenuhi kebutuhanku setiap paginya sebelum memulai aktivitas.
Tapi tetap saja, pilihanku hanya ada tiga. Tidak lebih. Oh, aku bisa saja mematikan televisi, tapi itu bahkan pilihan yang lebih buruk dari ketiganya. Bisa mati bosan aku.
“Ooy, pagi-pagi udah bengong aja! Cepetan abisin sarapannya!”
Suara cempreng perempuan itu membangunkan aku dari lamunanku. Ketika kualihkan pandanganku ke sumber suara, terlihat seorang gadis berseragam putih-biru sedang sibuk menyisir rambut panjangnya.
“...kamu juga, cepetan dandannya. Dasar cewek centil,” jawabku ketus sembari melahap sisa nasi goreng di piringku.
“Berisik! Ini dari tadi rambutku susah banget diatur gara-gara udara lagi lembab.”
“Emang iya, ya? Rambutku biasa-biasa aja, ah.”
“Haah? Apanya yang biasa aja, ngaca dulu nih woy!” protesnya yang kemudian melempar cermin kecil dari dalam tasnya kepadaku. Dari pantulan cermin itu terlihat wajahku yang familiar dengan rambut yang berantakan.
“Tuh kan, rambutku berantakan kayak biasanya.”
“Huh, percuma ngomong sama kakakku ini. Dasar cowok ga modis!”
“...”
Namaku Rama, 17 tahun. Aku anak SMA biasa, tidak lebih, tidak kurang.
...kalaupun ada yang kurang, itu adalah respek adikku satu-satunya ini kepadaku.
Julia, adikku, baru selesai berdandan tepat setelah aku selesai mencuci piring. Sebenarnya dia masih belum puas dengan rambutnya, tapi kurasa dia sendiri sadar bahwa dia sudah terlalu lama di depan cermin. Memang jika kami tidak segera bergegas, bisa dipastikan kami akan ketinggalan kereta.
“Kak Rama ga apa-apa kan, kak?”
Pertanyaan muncul dari mulut Julia setelah kami berjalan beberapa langkah dari rumah. Langit masih belum terlalu terang dan sejauh mata memandang hanya kami manusia yang terlihat di jalanan. Wajar menurutku, mengingat waktu bahkan belum menyentuh pukul enam pagi. Kenapa kami berangkat sepagi ini? Karena kereta bisa menjadi sangat tidak bisa diandalkan, sehingga kami berangkat lebih awal untuk mengurangi kemungkinan kami datang terlambat.
“...kenapa tiba-tiba nanya gitu?”
“Jangan jawab pertanyaanku pakai pertanyaan! Jawab aja, lah!”
Apaan sih ini anak, kok galak banget pagi ini? Aku ingin berkata seperti itu, tapi kutahan melihat betapa seriusnya wajah Julia.
“Err... uh, ga kenapa-napa sih. Tapi rasanya kepala agak pusing ini.”
Julia membelalakkan matanya. “Jangan-jangan kakak keracunan masakanku lagi?“
“Kayaknya nggak, sih. Aku udah ngerasa begini dari bangun tidur tadi.”
“Ohh, syukur deh. Kalo aku boleh jujur, sebenernya aku ga sengaja numpahin baygon ke nasi gorengmu tadi, jadi ya bagus kalo ga apa-apa.”
“Apanya yang ga apa-apa, oi!! Kamu mau bunuh aku, ya!?”
“Tenang, tenang. Becanda, becanda.”
“Mengingat kamu pernah ‘ga sengaja’ masukin racun tikus ke dalam minumanku, aku ga bisa nganggep itu becandaan, tau!”
“Itu kan udah lama! Dan aku udah bilang aku ga sengajaa! Lagian masa aku rela ngeracunin kakakku sendiri, memangnya aku ini pemeran antagonis di sinetron-sinetron itu apa?”
Tidak perlu kamu bilang pun aku tahu kamu bukan adik yang jahat. Kamu hanya adik yang ceroboh, hanya saja dalam tingkatan yang agak ekstrim. Di balik kebawelan dan menyebalkannya kamu, aku tahu kamu sangat menyayangi kakakmu ini. Aku tahu persis itu.
“Kalo aku ingin ngebunuh kakak, tinggal kudorong saja kak Rama ke rel waktu kereta lewat. Lebih bersih dan lebih cepat. Mfufu.”
...kutarik kembali kata-kataku, kurasa dia memang membenciku dari lubuk hati yang terdalam.
“Ngomong-ngomong, enak ga nasi goreng bikinanku tadi?”
“Sebenernya biasa aja, tapi mengingat betapa seringnya kamu ketuker antara garam dan gula, itu termasuk enak.”
“Kak Rama sedang memuji ato ngeledek sih sebenarnya...” cibir Julia yang kemudian merogoh isi tasnya, mencari sesuatu. “Err, kunci pintu rumah ada di kakak, kan?”
“Lho, kan yang terakhir keluar rumah itu kamu. Jangan bilang kalo kamu lupa ngunci pintu rumah... lagi?”
Seketika wajah Julia membiru. “Kak, tungguin di sini, ya!”
Dan detik berikutnya, Julia sudah melesat kembali ke rumah. Entah sudah keberapa kalinya dia lupa mengunci pintu, sampai-sampai aku sudah menganggapnya sebagai pemandangan biasa. Yah, salahku juga sih. Seharusnya jika aku tahu aku punya adik yang ceroboh, aku akan lebih teliti atau setidaknya memastikan diriku yang mengunci pintunya setiap hari.
Setelah menghela nafas, kulanjutkan perjalananku ke stasiun. Aku tidak akan menunggu Julia, biar dia tahu rasa.
Kulangkahkan kakiku perlahan, sesekali menghindari genangan air di trotoar akibat hujan deras semalam. Ini memang sudah memasuki musim hujan dan wajar jika hujan turun setiap hari, mengingat kota ini dijuluki kota hujan. Hal itu juga yang mengakibatkan suhu rata-rata menjadi lebih rendah akhir-akhir ini.
“Fuah, dingiin,” gumanku.
***
Sekali lagi perkenalkan, namaku Rama, sama seperti nama protagonis di cerita epik Ramayana. Sayangnya aku belum menemukan wanita yang bernama Shinta seumur hidupku... tapi ya sudahlah, itu tidak penting.
Sejak tiga bulan lalu, aku hidup berdua dengan adikku di salah satu sudut Bogor. Ya, kami tidak tinggal bersama orang tua kami. Itu juga alasan mengapa kami harus mengunci pintu rumah ketika kami berangkat sekolah. Ayah dan ibu kami sendiri tinggal di kota di pulau seberang sana.
Kenapa kami bisa dilepas untuk hidup berdua saja di sini? Sebenarnya panjang ceritanya. Intinya Ayah dan Ibu memiliki pekerjaan masing-masing yang menuntut mereka untuk tidak menetap di tempat yang sama untuk terlalu lama. Sebelumnya kami selalu ikut tinggal dengan salah satu dari mereka kemanapun mereka pergi, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membuat homebase untuk kami.
Dan di sinilah kami, hidup dengan mandiri di sini. Dan bukannya kami sepenuhnya hidup mandiri juga, sih, karena setiap bulan kami masih dikirimi uang untuk keperluan sehari-hari. Terkadang mereka juga datang mengunjungi kami, memastikan kami tidak semakin kurus atau betingkah aneh-aneh.
Tanpa terasa aku sudah sampai di stasiun. Tempat ini jauh lebih ramai dari daerah rumahku, berpuluh-puluh kali lebih ramai lebih tepatnya. Terlihat kerumunan orang sudah bersiap di peron menunggu kereta datang. Kabar baiknya, sebagian besar dari mereka akan menuju ke Jakarta, bukan ke kota Bogor yang menjadi tujuanku.
Saat keretaku datang, di saat itu pula Julia sampai di sampingku. Dengan keringat bercucuran, dia tak berhenti mengomel tentang aku yang tidak menunggunya padahal dia masih terengah-engah. Kurasa dedikasinya untuk mengomel sangatlah tinggi.
“Lihat, kalo aku menunggumu di sana tadi, pasti kita udah ketinggalan kereta ini, tau,” jelasku kepada Julia ketika kami sudah masuk ke dalam gerbong kereta. Di saat yang sama, pintu otomatis kereta menutup dan kereta mulai berjalan.
Dia tidak menghiraukan penjelasanku dan justru mengeluarkan sisir dan cermin dari dalam tas. “Duuh, rambutku jadi berantakan lagi, kan...” keluhnya pelan seraya mulai menyisir rambut.
“Lap dulu keringatmu. Nih, aku bawa sapu tangan.”
“Mh, makasih.”
Kereta cukup lengang pagi ini. Hanya aku dan Julia saja yang berdiri di dalam gerbong ini. Sebenarnya masih ada tempat jika aku ingin duduk, tapi tidak kuambil karena kami akan segera turun di stasiun berikutnya.
Kuamati penumpang lain di sekitarku. Pemandangan yang biasa, di mana ada orang yang tertidur lelap dalam posisi duduk. Seorang wanita tak henti-hentinya menatap telepon genggamnya, sesekali menekan layarnya dan sesekali tertawa. Ada pula yang melepas earphone dari telinganya dan bersiap-siap turun dari kereta.
Mereka melakukan aktivitas masing-masing, namun kusadari ada satu kesamaan dari mereka semua. Mereka menutupi hidungnya dengan sesuatu, entah masker ataupun kain lain.
“Kenapa orang-orang pada nutupin hidung, ya?” gumanku seraya menyikut Julia yang baru selesai berdandan lagi. “Memang ga sih aneh kalo ada orang yang pakai masker di kereta, tapi ga sebanyak ini juga deh biasanya.”
“Kalau masker sih, sebenernya aku juga punya kok.” Julia mengeluarkan masker sekali pakai yang biasa dipakai dokter bedah. “Ini aku juga mau pakai.”
Kunaikkan alisku. Selama ini aku belum pernah melihatnya memakai masker, bahkan ketika dia sedang sakit atau apa.
“Apa ini semacam trend baru?” tanyaku.
“...aku sama sekali nggak ngerti kenapa kakak bisa mikir ke arah situ. Ya ampun, sejak kapan sih pakai masker bisa jadi trend?”
“Yaa... terus kenapa kamu bawa masker segala? Kamu sakit?”
“Nggak sakit juga sih. Cuma antisipasi aja.”
“Jangan khawatir berlebihan, lah. Mungkin emang cuaca lagi dingin-dinginnya, tapi asal kita bisa tetap fit kita ga akan kena pilek, kok.”
“Dih, sok tahu banget, sih! Ini bukan buat sakit flu!”
“Terus buat antisipasi apa... oh. Virus Izrail?”
Julia melirik ke arahku, mengangguk pelan lalu menutup hidung dan mulutnya dengan masker.
Virus Izrail. Kutukan Ilahi. Satan’s Breath.
Banyak sekali istilah yang digunakan orang-orang untuk menyebut peristiwa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini. Kejadian dimana seseorang tiba-tiba meregang nyawa tanpa alasan yang jelas. Ya, sangat tiba-tiba. Korban itu bisa saja sedang melakukan kegiatan tanpa terlihat sedang sakit atau apapun yang aneh, namun di detik berikutnya dia sudah mati begitu saja.
Seperti nyawanya dicabut dengan paksa.
Seperti Doraemon yang ditarik ekornya.
Tentu saja awalnya orang-orang berpikir bahwa ini hanyalah fenomena biasa. Sudah sewajarnya kan, toh memang sudah biasa jika ada orang yang meninggal setiap harinya.
Tapi ada beberapa hal lain yang unik dari fenomena ini; kejadian ini hanya terjadi di wilayah Bogor dan sekitarnya. Selain itu, kejadian ini selalu terjadi sekali dalam sehari. Artinya, selalu ada satu orang yang menjadi korban mati secara misterius setiap harinya. Terkadang ada kejadian langka dimana dua orang sekaligus menjadi korban, tapi tidak pernah lebih dari itu.
Konsistensi terjadinya fenomena ini membuat orang yakin bahwa sesuatu sedang terjadi di kota ini.
Tapi apa?
Inilah yang menjadi perbincangan hangat di Bogor selama beberapa hari ini. Ada yang bilang ini disebabkan oleh virus, ada yang bersikeras ini adalah kutukan bagi kota ini, ada juga yang yakin bahwa ini bukanlah fenomena tapi hanyalah kebetulan karena korban-korban yang jatuh cenderung tidak memiliki hubungan apapun antara satu dengan yang lainnya.
“Nih kak, buatmu,” bisik Julia yang menyodorkan masker kepadaku, membuyarkanku dari lamunan. Itu adalah masker jenis yang sama dengan yang ia sedang kenakan saat ini.
“...kamu beli ini buatku?”
“Ng-nggak, kemarin lagi ada promo beli satu gratis satu, jadi aku punya lebih. Bukan gara-gara aku khawatir sama kakak atau apa, ya!”
...sejak pagi ini aku sudah menyadari ada yang aneh dengan Julia. Sekarang aku tahu alasannya.
Kasus rentetan kematian misterius ini sangat menganggu pikirannya. Paranoid mungkin, lebih tepatnya. Begitu takutnya dia sampai-sampai dia menjadi lebih peduli kepadaku seperti saat menanyakan keadaanku setelah memakan masakannya tadi. Ini mungkin sedikit menyedihkan, tapi adikku Julia memang biasanya tidak begitu memedulikanku.
Lihat, dia bahkan membelikan aku masker. Memang ada yang tidak beres, ini.
Yah, mengingat sedang ada kejadian aneh yang melibatkan nyawa seperti ini TEPAT di kota tempat tinggalmu, tidak aneh lah jika adikku ikut khawatir. Tapi bagiku sendiri, ini bukan menjadi hal yang perlu dikhawatirkan.
“Julia, tahu ga sih kamu berapa orang yang tinggal di Bogor? Tiga juta orang lebih. Kalau dihitung pakai matematika, kemungkinanmu jadi korban berikutnya nggak lebih dari 0,0003%. Kayaknya masih lebih gede kemungkinan aku keterima kuliah di Harvard deh, dan kamu tau kan betapa ‘pinter’-nya aku?”
Aku tertawa cekikikan, namun Julia malah terlihat semakin cemberut.
“Ini serius, kak.”
“Aku juga serius. Lagipula menurutku ini bukan gara-gara virus atau penyakit, kok. Kalau memang ini penyakit menular, pasti korbannya saling hidup berdekatan, atau seenggaknya cukup sering melakukan kontak. Jumlah korbannya makin lama harusnya makin banyak setiap harinya, nggak stagnan kayak begini karena obatnya aja belum ditemuin.”
“Jadi menurut kakak ini semua terjadi gara-gara kutukan buat kota ini? Itu lebih bodoh lagi, menurutku.”
“Aku nggak pernah bilang kalo ini kutukan, tapi itu bisa aja benar. Yang namanya kejadian supernatural itu kan lebih nggak bisa ditebak sifat-sifatnya, karena memang keberadaannya aja nggak bisa dibuktikan dengan pasti.”
“Justru itu! Ga mungkin aku bisa percaya ke hal yang ga bisa dibuktikan kebenarannya!”
“Ya memang kamu ga perlu percaya kalo ini kutukan juga sih. Lagipula bisa aja semua kematian itu cuma kebetulan aja.”
“Tapi kan, tapi... ah, bikin bingung aja! Udahlah pakai aja ini maskernya!” Julia kembali menyodorkan masker di tangannya, kali ini dengan sedikit memaksa.
“Ogah ah, bikin pengap. Lagian udah kubilang, biar gimanapun juga ini pasti bukan gara-gara vi-”
“Dih, tinggal pakai aja kenapa sih?” potong Julia seraya menggelembungkan pipinya. “T-toh nggak ada salahnya kan kita jaga-jaga! Huh!”
Julia membuang muka dariku, dan aku menghela nafas.
Merepotkan sekali sih punya adik yang ingin semaunya begini. Julia memang sudah SMP, tapi dia masih memiliki sisi kekanak-kanakan seperti ini... yang menurutku wajar mengingat orang dewasa pun terkadang juga ada yang masih begitu. Aku memang harus sabar.
Ketika muncul niatku untuk meminta maaf padanya, Julia membuka mulutnya. “Sebenarnya kemarin aku baru diceritain temenku yang ngeliat sendiri orang yang meninggal dengan misterius itu. Dia kelihatan syok banget, karena memang baru pertama kali dia ngeliat orang tewas langsung di depan dia. Kalo ngedengerin ceritanya, ngeri banget, kak.”
Kualihkan pandanganku ke kedua matanya yang memandang ke luar jendela kereta api yang melaju kencang.
“Selama ini aku tahu soal kematian misterius itu dari berita-berita di TV atau internet, tapi begitu aku denger cerita dari temen deketku sendiri... aku sadar mungkin fenomena ini dekat banget dengan kita, lebih dari yang aku kira. Maksudku, kalau aku ngebayangin aku sendiri yang akan jadi korban, atau kalo... udahlah.”
“...”
Ya ampun, aku tidak pernah tahu aku punya adik seimut ini! Kegelisahannya ini justru menggelitikku untuk menggodanya lebih jauh.
“Iya deh, iya, aku tutup hidungku biar nggak ada kuman jahat masuk ke badanku,” kataku seraya menggaruk-garuk rambutku yang tidak gatal.
“...eh?” suara tertahan Julia keluar dari mulut Julia yang terkejut.
Tapi biar gimana juga aku ga mau pakai masker jelek itu,” kukeluarkan sapu tangan dari kantongku. “Mendingan aku pakai ini aja buat nutup hidungku.”
“Eh? Eeh?? Itu kan bekas aku ngelap keringat tadi, kak!”
“Iya, aku tau,” tak kuhiraukan protes Julia dan kupakaikan sapu tangan itu menutupi hidungku. “Hmm, agak aneh sih, tapi aku suka wanginya kok.”
Julia yang wajahnya sudah sangat memerah segera menggenggam kerah seragamku. “Lepasin kak! Apa-apaan, sih! Jijik banget! Dasar fetish! Incest! Hey cepet lepasin, malu tau!”
Selama beberapa menit ke depan kami terus bertengkar di kereta mengenai urusan sapu tangan ini.
***
Diubah oleh bawanasi465 08-12-2014 22:06
0
Kutip
Balas