Kaskus

News

agninistanAvatar border
TS
agninistan
[NO SARA] Sejarah Agama Hindu di Akui Resmi di Indonesia
http://kebangkitan-hindu.blogspot.co...i-di_1813.html

Sejarah Agama Hindu di Akui Resmi di Indonesia


Om Swastiastu..

Perjuangan pemeluk agama Hindu agar eksistensinya sebagai agama negara diakui atau lebih tepatnya secara eksplisit mendapat perhatian sebagai mana mestinya oleh pemerintah. Memang suatu agama tidak perlu pengakuan pemerintah karena suatu agama lahir atas wahyu Tuhan yang diterima para resi atau nabi masing-masing agama. Namun demikian, oleh karena pemeluk suatu agama berhimpun dalam suatu wilayah tertentu dalam suatu negara sehingga disebut suatu bangsa, maka pengakuan tersebut menjadi penting.

Sebagai agama tertua yang berkembang di Indonesia perkembangan agama Hindu mengalami pasang surut, terutama dari segi kuantitas. Masa kejayaan Kerajaan Majapahit sekaligus dipandang sebagai masa jaya agama Hindu di Indonesia dan Sandyakalaning Majapahit, runtuhnya Kerajaan Majapahit sekaligus pula merupakan runtuhnya perkembangan agama Hindu di Indonesia sampai titik terendah. Namun, demikian sisa-sisa kejayaan agama Hindu di Indonesia dipertahankan dengan taat hingga oleh sebagian masyarakat di Pulau Bali, Lombok, Jawa, Sumbawa, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Irian, dan daerah lainnya. Mula-mula, dipertahankan oleh masyarakat dengan sistem kerajaan dan kelompok masyarakat hinduistis, kemudian juga masih dipertahankan oleh masyarakat pasca kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada saat bangsa Indonesia melakukan perjuangan untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, banyak putra Bali berjuang sampai titik darah penghabisan untuk membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejak jaman kerajaan terbukti I Gusti Agung Jelantik memimpin perjuangan masyarakat Bali dan melakukan “Perang Jagaraga” untuk menentang pendudukan Pemerintah Hindia Belanda di Bali. Ida Cokorda Mantuk Ring Rana memimpin rakyat Kerajaan Badung, melakukan “Perang Puputan Badung”, Ida Cokorda Istri Kania bersama rakyat Kerajaan Klungkung melakukan “Perang Puputan Klungkung” dan masih banyak lagi peristiwa bersejarah perlu mendapat catatan emas tinta sejarah bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan. Demikian pula pada masa pergerakan, I Gusti Ngurah Rai telah melakukan peperangan tiada akhir melawan usaha invasi Belanda ke Bali.


Setelah pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk, dan meskipun heruisme masyarakat Bali yang beragama Hindu diakui partisipasinya dalam perang kemerdekaan, namun secara formal, agama Hindu yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat Bali belum diakui oleh pemerintah.
Pada tanggal tanggal 26 Desember 1950, Menteri Agama (K.H. Masykur) bersama Sekjen mendatangi Kantor Daerah Bali yang diterima oleh I Gusti Bagus Sugriwa sebagai salah satu Anggota Dewan Pemerintahan Daerah Bali (D.P.D. Bali) bersoal jawab mengenai agama Hindu Bali. Setelah itu, Menteri Agama dapat menerima alasan mengapa Agama Hindu Bali harus diakui sebagai agama negara dan menjanjikan akan mengesahkannya setelah selesai keliling di Sunda Kecil.
Pada Tanggal 10 Oktober 1952, Menteri Agama, Sekjen Menteri Agama (R. Moh. Kafrawi) disertai Kepala Jawatan Pendidikan Agama Islam memberi ceramah di Balai Masyarakat Denpasar dan menyatakan bahwa “.... tidak dapat mengakui dengan resmi Agama Hindu Bali karena tidak ada peraturan untuk itu berbeda dengan Agama Islam dan Agama Kristen memang telah ada peraturannya ......”.
Pada Pertengahan Tahun 1953, Pemerintah Daerah Bali membentuk Jawatan Agama Otonoom Daerah Bali dengan tujuan untuk mengatur pelaksanaan agama umat Hindu Bali, karena belum diatur dari pusat. Pimpinan lembaga tersebut dipercayakan kepada Ida Padanda Oka Telaga dan I Putu Serangan. Di tiap-tiap Kapupaten dibentuk Kantor Agama Otonoom yang diketuai oleh seorang Padanda. Pada tahun ini pula D.P.D. Bali atas persetujuan D.P.R.D. Bali mencabut hukuman: Asu Pundung, Anglangkahi Karang Hulu, Manak Salah, Salah Pati Angulah Pati, karena tidak sesuai lagi dalam suasana demokrasi.
Pada tanggal 29 Juni 1958 lima orang utusan organisasi agama dan sosial di Bali menghadap Presiden Soekarno di Tampaksiring. Diantar oleh Ketua DPR Daerah Peralihan Daerah Bali I Gusti Putu Mertha. Rombongan utusan itu adalah Ida Pedanda Made Kumenuh, I Gusti Ananda Kusuma, Ida Bagus Wayan Gede, Ida Bagus Dosther dan I Ketut Kandia. Pokok masalah yang diajukan adalah supaya dalam kementrian Kementriann Agama Republik Indonesia ada Bahagian Hindu Bali, sebagaimana yang telah diperoleh oleh Islam, Katholik dan Kristen.
Permohonan tersebut memperoleh response yang positif dari Pemerintah karena pada tanggal 5 September 1958 terbitlah Surat Keputusan Menteri Agama RI yang mengakui keberadaan Agama Hindu Bali. Selanjutnya terhitung mulai tanggal 2 Januari 1959 pada Kementerian Agama Republik Indonesia dibentuk Biro Urusan Agama Hindu Bali pada Kementrian Agama Republik Indonesia. Biro tersebut pertama kali dipimpin oleh I Gusti Gede Raka dibantu oleh I Gusti Gede Raka dibantu oleh I Nyoman Kajeng. Setelah I Gusti Gede Raka meninggal dunia saat masih menjabat, lalu digantikan oleh I Nyoman Kajeng (Agastia, 2008: 9).
Mengantisipasi hal tersebut Pada tanggal 7 Oktober 1958, diadakan pertemuan kembali antara Pemerintah Daerah Bali dengan Pimpinan Organisasi Keagamaan di Bali di Balai Masyarakat Denpasar. Pada pertemuan tersebut diputuskan membentuk panitia yang bertugas mempersiapkan Dewan Agama Hindu Bali. Panitia terdiri atas Paruman Para Padanda, Panitia Agama Hindu Bali, Angkatan Muda Hindu Bali, Doktor Ida Bagus Mantra dan I Gusti Bagus Sugriwa. Pada tanggal 6 Desember 1958, panitia tersebut menyelenggarakan rapat di Pasanggrahan Bedugul dan memutuskan bahwa Hindu Bali Sabha akan diadakan pada bulan Januari 1959 (Dana (ed), 2005: 13).
Pesamuhan Agung Hindu Bali pada tanggal 21-22-23 Februari 1959 di Gedung Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar yang dihadiri oleh pejabat dan staf Pemerintah Daerah Tingkat I Bali, pimpinan berbagai organisasi agama di Bali, Yayasan Yayasan Hindu bahkan Perhimpunan Buddhis Indonesia dan Partai Nasional Hindu Bali yang pada akhirnya membentuk Parisada yamng melahirkan “Piagam Parisada”. Hindu Bali Sabha atau Pasamuhan Agung Hindu Bali tersebut kemudian dikenal sebagai Sidang Pembentukan Parisada Dharma Hindu Bali.
Ada sejumlah tantangan (challenge) yang menyebabkan putra-putra terbaik Bali membentuk PHDI pada waktu itu, baik dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal). Menurut Ida Padanda Putra Telaga salah seorang yang ikut membidani kelahiran PHDI yang dicatat Ida Bagus Gede Agastia (WHD, 2001), bahwa tantangan dari luar disebabkan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia di mana masing-masing agama digiring untuk mewadahi dirinya dalam suatu lembaga agar mempermudah komunikasi antarlembaga, termasuk negara sebagai sebuah lembaga. Ini tentu merupakan tantangan positif, bahwa gagasan mewadahi diri dalam satu lembaga bagi pemeluk agama Hindu di Indonesia berarti pula melakukan penataan diri sehingga terbentuk peradaban Hindu berdasarkan dharma.

Sementara itu, di tengah situasi politik yang memanas, Partai Komunis Indonesia (PKI) sangat tidak menghendaki berdirinya PHDI. Namun, karena keteguhan sejumlah orang yang bersemangat tinggi mengabdikan diri pada bidang agama Hindu—bak bintang bersinar di tengah malam paling gelap—demikian dinyatakan Ida Padanda Putra Telaga, menyebabkan PHDI akhirnya terbentuk juga, sudah tentu dengan mabela pati (resiko mati). Dari dalam, desakan untuk membentuk lembaga ini disebabkan karena kesadaran kaum intelektual pada waktu itu untuk menata kehidupan beragama Hindu agar benar-benar berlandaskah ajaran dharma.

Pembentukan PHDI memang dilandasi cita-cita mulia pendirinya untuk menata diri (dharma agama) agar peradaban Hindu benar-benar berdasarkan ajaran dharma dan menjadi mitra pemerintah menciptakan negara jagadhita (dharma nagara). Dari aula Fakultas Sastra Unud yang sederhana akhirnya pada tanggal 23 Pebruari 1959 lahirlah apa yang disebut Piagam Parisadha yang merupakan cikal bakal terbentuknya PHDI sebagai lembaga nasional yang diakui dunia. Dengan demikian, dapat dikatakan tonggak kelahiran PHDI sekaligus merupakan tonggak kebangkitan Hindu Indonesia sehingga 50 tahun PHDI berarti pula Setengah Abad Kebangkitan Hindu Indonesia yang harus diperingati secara istimewa oleh masyarakat Hindu di Indonesia.

Tulisan atau artikel diatas merupakan tulisan dari : DOKTOR I WAYAN SUKARMA dengan blognya sukarma-puseh.blogspot.com
Sedangkan versi dari blog tulisan Iman Brotoseno yang saya kutip dan salin disini adalah Tahun 1953, terjadi peristiwa yang mengherankan. Fakih Usman, Menteri Agama dalam kabinet Wilopo, menyatakan bahwa syarat syarat yang harus dipenuhi sesuatu agama agar diakui Pemerintah, adalah harus memiliki kitab suci, mempunyai nabi, harus ada kesatuan ajaran serta pengakuan dari luar negeri. Menteri Agama berargumantasi bahwa Sila Pertama Pancasila harus diartikan monoteisme, sehingga kepercayaan kepada Roh-roh, dewa dewa tidak diperkenankan.

Tak lama kemudian serombongan pegawai Departemen Agama datang ke Bali dan memberitahu penduduk bahwa agama mereka tidak memenuhi syarat, maka penduduk Bali mesti mendaftarkan diri sebagai golongan Islam statistik. Mendadak sontak, Bali menjadi geger sampai ke pelosok, Penduduk Bali merasa terkejut. Roh, dewa, pura dan kebudayaan Bali akan dipisahkan dari penduduk. Protes keras dilancarkan seantero Bali.

Anggota parlemen asal bali, Ida Bagus Mauaba di Jakarta mengatakan, Indonesia Timur akan memisahkan diri jika Bali akan di Islamkan. Kita akan meminta perlindungan kepada Australia, Pemerintah buru buru mengatakan itu pendapat pribadi Menteri Agama. Presiden Soekarno sendiri merasa kecolongan, sehingga memutuskan memulai kampanye di seluruh negeri tentang negara Pancasila. Hasil gerakan tersebut akhirnya memaksa Jakarta memenuhi permintaan Bali bahwa Hindu Bali diakui sebagai agama resmi.

Tulisan ataupun artikel diatas bukan untuk dibandingkan melainkan untuk mengingatkan kita sebagai Generasi Hindu akan Sejarah Agama HIndu Diakui di Indonesia ini dan tulisan tersebut sangat menyentuh saya sebagai seorang generasi Hindu di NKRI ini, Mudah mudahan dengan cerita sejarah diatas dapat membuat generasi Hindu nusantara ini menjadikan bahwa sejarah adalah salah satu aspek penting yang menjadikan kita lebih mantap berjalan di masa depan bumi pertiwi Indonesia.Bung Karno pernah mengucapkan : “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961)...Rahayu

Om Shanti Shanti Shanti om...
Sumber Referensi dari :
http://sukarma-puseh.blogspot.com/20.../parisada.html
http://blog.imanbrotoseno.com/?p=1731
http://www.facebook.com/groups/bangk...8¬if_t=like


Read more: http://kebangkitan-hindu.blogspot.co...#ixzz39uK7hYZv


Pelajaran dari pengalaman sejarah masa lampau, gara2 Menag Fakih Usman bilang Hindu Bali itu bukan agama lalu nyuruh orang bali ngaku sebagai islam statistik , pulau bali ampir aja mau lepas dari nkri & mau gabung ke australia karena khawatir mau diislamkan. Untung aja Bung Karno turun tangan mengenai masalah ini & akhirnya bung karno mengakui hindu bali sebagai agama demi integritas Negara ini. Ini bukan SARA tetapi fakta di masa lalu yang bisa menjadi pelajaran untuk masa kini soal keberagaman & toleransi beragama. bung karno saat masih berkuasa dulu sudah ada rencana mengakui berbagai agama lokal seperti budo tengger, kaharingan, parmalim, sunda wiwitan dll.
0
23.5K
62
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
agninistanAvatar border
TS
agninistan
#24
Re: [hindu] Bls: Kisah Kakekku Yang Masuk Islam
Sri Rahayu Fri, 21 Aug 2009 03:30:05 -0700

Svastyastu,

Ini ngomongin KTP yak... lucu2 kisahnya
ayu mo share mengenai pindah agama

Niki cerita mengenai kakak..kebetulan kami lahir gendernya perempuan semua,
bertiga,
sayangnya yg masih bertahan cuma seorang, hihihi.. mungkin kelewat galak

kakak no.1 ceritanya sejak kecil dia slalu nyimpen sesuatu yg berbau agama
lain (islam kebetulan), misalnya mukena etc. Mungkin krn tinggal di
rantau,mayoritas agama tsb (Palembang), teyus.. pacarnya jg muslim. Dia suka
ngumpet2 sholat. Biar ditegur ttp aja keukeuh. Kbtln dia cucu pertama dari
kel besar di Bali,bapak ibu termasuk org yg taat pada agama & suka
pelayanan, kecewa berat ketika ketahuan.

Ketika menikah dgn suami yg muslim, bapak mungkin menyimpan sedih&down bgt,
maklum anak pertama yg disayang bgt, ketika menikahpun bpk mau ga mau
menyetujui krn sblumnya dah kimpoi lari menikah scr islam diam2, sejak itu
beliau sakit berkepanjangan.. at the end.. you know lah... ayu jd anak yatim
dlm usia muda

Sjk kejadian itu kakak pake kerudung (dia tau dia bersalah kpd bapak) dan
anak2nya (walo nama anaknya balinese bgt, tp mrk islam yg taat), moderat dan
ga neko2. Sampe skrg masih silaturahmi dgn baik. Usut punya usut.. waktu di
kandungan dulu, bapak berlayar agak lama di Jeddah (saudi) suka ngirim air
zam2 via kapal, diminum oleh ibu. sering2 lageh coz katanya bagus gituh..
hahaha jadinya gini deh.

Nah kalo kakak no.2 lain lagi, pindah ngikut suami, tp blum mepamit. Dan dia
sering cerita kl lagi sholat kdg kata2 yg keluar Trisandhya, dlm mimpi pun
bbrp x dia cerita hal yg sama. Sblumnya dia pernah pindah kembali lagi ke
Hindu, mungkin krn ga merasa sreg, tapi entah.. balik lagi ke agama lain tsb
atas dorongan someone mungkin.

Kalo ayu ga da yg bisa pengaruhi hahaha... mo suami agama apa keq, mo
tinggal dimana keq, Hindu ya Hindu, mo diapin ya Hindu. Doakan aja, si kecil
ikut keras kepala spt mamanya... ga tergoyahkan dlm soal ini.

So... ada yg bisa ditarik dari cerita ini? monggo....

Shanti...............






On 8/21/09, ketut.sl <ketut.s.l...@astra-honda.com> wrote:
>
> Kuang sesarine nto Bli Tut....Tyang juga punya kasus sama....setelah
> menikah
> di Bali KTP dan KK tyang perbaharui...Agama istri ganti jadi Hindu....ndak
> ada masalah....sudah disumpal pake sesari soalne...emoticon-Smilie
> Sorry ngajahin nyogok.....
>
> KSL
> Bekasi
>
> ----- Original Message -----
> From: "Ketut" <ke...@infracell.net>
> To: <hindu-dharma@itb.ac.id>
> Sent: Thursday, August 20, 2009 5:02 PM
> Subject: Re: [hindu] Bls: Kisah Kakekku Yang Masuk Islam
>
>
> >
> > Kalo saya lain lagi. Setelah menikah (duoh jadi ketahuan udah tidak
> single
> > lagi xexe), kami bikin KK baru beralamat di gubuk cicilan di cibubur.
> Lalu
> > bersamaan dengan KK itu juga bikin KTP. Karena KTP istri masih islam (KTP
> > lama), saya lampirkan surat sudhi wadani yang menyatakan doi udah Hindu,
> > disertai permohonan agar nanti di KTP yang baru ditulis Hindu.
> >
> > KTP kelar, dikirim ke rumah 2 biji untuk saya dan istri, plus KK. Eee..
> > agama istri tetep islam. Saya tanya kok surat2 saya diabaikan ? Mungkin
> > salah ketik katanya. Ya sudah. 5 tahun lagi saya coba lagi emoticon-Frown. Jadi
> > sementara ini penganut Hindu kurang 1 orang dari jumlah riilnya, kl
> disini
> > ada petugas sensus tolong dicatat.
> >
> > Menjelang jumat, cerita2 gini asik sambil nyaplir2 dikit emoticon-Smilie
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: "Made Dewi" <made.d...@gmail.com>
> > To: <hindu-dharma@itb.ac.id>
> > Sent: Thursday, August 20, 2009 4:42 PM
> > Subject: Re: [hindu] Bls: Kisah Kakekku Yang Masuk Islam
> >
> >
> >> OM Svastyastu,
> >>
> >> Ttg KTP Hindu, saya punya pengalaman pribadi, waktu pertama kali pindah
> >> ke
> >> Jakarta (sekitar thn 1997), saat itu saya & teman2 sesama perantauan
> >> menyewa satu rumah kontrakan sekitar 5 orang, saya sendiri Hindu
> >> selebihnya
> >> Islam. Ketika bersamaan mengurus KTP ke RT, semua sudah kelar, KTP saya
> >> ga
> >> jadi2. Hmm..tunggu punya tunggu..saya tanyakan, katanya
> >> belum..belum..akhirnya habis kesabaran..saya datangi rumahnya secara
> >> sengaja
> >> dan menanyakan masalahnya apa dan bikin kaget waktu ditanya kolom
> >> agama,"Mbak Made, kolom agamanya Hindu ya?" hmmm..ini rupanya
> >> intinya..saya
> >> jawab,"Ya, Pak, ada masalah? sejak lahir begitu tulisannya dan akan
> >> selamanya begitu..". Pak RT manggut2, dua hari kemudian KTP Jakarta saya
> >> kelar..bagus deh..hehe..belum tahu dia..org Buleleng dilawan..xixixi..
> >>
> >> Dan kejadian ini nyata di Jakarta Selatan lho, di daerah Tebet (bukan
> >> Tibet
> >> emoticon-Stick Out Tongue). Bukan jauh di pelosok Jawa. Segitunya mereka mengintimidasi umat
> >> Hindu.
> >>
> >>
> >> Sekian, terima kasih.
> >>
> >> OM Shantih,
> >> dewi
> >>
> >>
> >>
> >>
> >> 2009/8/20 Dharmaa Raksaka <yadnyas...@yahoo.co.id>
> >>
> >>> Om Suastyastu,
> >>>
> >>> Banyak sekali di Jawa orang Hindu ber- KTP Islam sehingga angka
> >>> statistik
> >>> orang yang memeluk agama Hindu menjadi kecil. Akibat selanjutnya adalah
> >>> anggaran untuk Dirjen Hindu menjadi sangat kecil. Kemarin saya
> mendengar
> >>> dari Bapak Ketua BDDN ketika memberi sosialisasi BDDN di Pura Bekasi,
> >>> penduduk Hindu Hanya diakui sekitar 4 juta sampai 5 juta orang oleh
> >>> Departeman Agama tentu saja anggaran yang diterima oleh Dirjen Hindu
> >>> menjadi
> >>> kecil lebih kecil dari anggaran Dinas Islam. Oleh karena itu bagi
> >>> teman-teman yang mengetahui ada umat Hindu yang ber-KTP- Islam mohon
> >>> diberitahu segera mengganti Kolom agama dalam KTP menjadi Agama Hindu
> >>> agar
> >>> umat Hindu menjadi lebih banyak sesuai statistik. Dengan demikian
> >>> anggaran
> >>> untuk Dirjen Hindu juga jadi lebih besar.
> >>>
> >>> Om Shanty, Shanty, Shanty, Om
> >>>
> >>> I Made Winadi Yasa
> >>> ----------------------------------
> >>>
> >>> --- Pada Kam, 20/8/09, wyat <w...@nikkoindonesia.com> menulis:
> >>>
> >>>
> >>> Dari: wyat <w...@nikkoindonesia.com>
> >>> Judul: [hindu] Kisah Kakekku Yang Masuk Islam
> >>> Kepada: hindu-dharma@itb.ac.id
> >>> Tanggal: Kamis, 20 Agustus, 2009, 1:24 PM
> >>>
> >>>
> >>> OSA,
> >>>
> >>> Karena penduduk HDnet sedang kena wabah penyakit koh nulis, maka di
> coba
> >>> iseng dengan artikel dari milis sebelah:
> >>>
> >>> Selamat membaca.
> >>>
> >>>
> >>>
> >>> Ini kisah kakek saya di salah satu kota di jawa timur, dia adalah
> >>> seorang
> >>> hindu sampai ajal, cuma sayang otoritas setempat akan memberhentikan
> >>> semua
> >>> pegawai negeri yang bukan islam, utk tetap dapat menghidupi anak dan
> >>> istrinya beliau terpaksa mengganti agamanya dgn islam di ktp nya...
> >>> Akibatnya anak2nya semua ber ktp islam, bahkan kakek saya meninggal di
> >>> kuburkan dgn islam.
> >>> Semua paman saya yg cuma ktp islam kemudian menikah dgn wanita muslim,
> >>> ternyata paman2 saya tidak bisa sholat sampe hari ini, yang menyedihkan
> >>> anak2nya jadi tidak jelas moralnya (tapi msh terkendali). Bibi2 saya
> >>> lebih
> >>> beruntung karena suami2nya mengajari sholat.
> >>>
> >>> Kisah lain terjadi dengan ibu saya, ibu saya kebetulan cantik dan
> >>> bekerja
> >>> di bank di surabaya, akhirnya pacaran dgn seorang pegawai pertamina,
> >>> menjelang pacarnya akan melamarnya, ada seorang pemuda perantau dari
> >>> bali
> >>> yang menyukai kesenian dan bekerja sebagai supir truk bertemu dgn ibu
> >>> saya
> >>> di festival angklung saat itu, mereka berkenalan, pemuda tsb jatuh
> cinta
> >>> dgn
> >>> ibu saya, dan begitu tau ibu saya mau dilamar, pemuda itu nekat ke
> rumah
> >>> ibu
> >>> saya di selatan jawa, secara ga sengaja pemuda itu bertemu dg kakek
> >>> saya,
> >>> dan bertanya dimana rumah orang tua ibu saya. Kakek saya tidak
> >>> mengungkapkan
> >>> jati dirinya tapi menawarkan mengantar pemuda itu ke tujuannya. Selama
> >>> dijalan kakek saya banyak bertanya tentang diri pemuda itu dan
> tujuannya
> >>> kesana. Pemuda itu menceritakan semuanya dan niatnya mau melamar ibu
> >>> saya
> >>> juga.
> >>> Sesampainya di rumah ibu saya, kakek saya baru cerita kalo dia adalah
> >>> bapak
> >>> dari ibu saya, pemuda itu kaget dan meminta maaf.
> >>> Kakek saya bilang bahwa ibu saya akan dilamar oleh pemuda muslim yang
> >>> bekerja di pertamina, tapi kakek saya entah kenapa lebih setuju dgn
> >>> pemuda
> >>> tsb, dan akhirnya kakek saya menerima lamaran pemuda tsb, dan meminta
> >>> ibu
> >>> saya utk ikut agama pemuda itu, ibu saya sangat patuh dengan bapaknya
> >>> dan
> >>> menyatakan bersedia.
> >>> Kemudian diadakanlah upacara lamaran ala jawa dadakan disana, tepat
> satu
> >>> jam sebelum pacar ibu saya datang bersama orang tuanya. Kemudian
> >>> pernikahan
> >>> diadakan di bali lalu lahirlah saya.
> >>> Pemuda yang akhirnya jadi ayah saya memutuskan utk mengajak ibu saya
> >>> tinggal di lombok, tinggal di daerah mayoritas muslim tapi persis
> >>> disebelah
> >>> gereja, ayah saya mengajarkan toleransi agama yang kuat dan mengijinkan
> >>> saya
> >>> memeluk agama manapun asal saya jadi orang baik.
> >>> Tapi sampai hari ini saya tetap menjadi hindu.
> >>> Baru setelah kakek saya meninggal, nenek saya bercerita fakta ini ke
> ibu
> >>> saya, bahwa kakek saya dulu memang meminta ibu saya agar meneruskan
> >>> garis
> >>> keturunan hindu yang diyakini kakek saya, suatu fakta yang membuktikan
> >>> hal
> >>> itu ternyata walau sudah berktp islam, kakek saya tetap ngayah di pura
> >>> setempat, foto2 di pura dan pengakuan penduduk hindu setempat
> >>> membenarkan
> >>> hal tsb.
> >>> Dan kakek saya bukan satu2nya yang mengalami pemindahan agama ala
> >>> pemerintah setempat waktu jaman itu.
> >>>
> >>> Satu hal yg menjadi ganjalan skrg, nenek saya secara hukum adalah
> >>> muslim,
> >>> tapi ingin meninggal sebagai hindu dan tidak ingin bernasib sama dg
> >>> suaminya
> >>> yg dimakamkan secara islam, sayang keluarga bibi dan paman saya jelas
> >>> menentang hal itu, sejujurnya nenek saya tdk bisa sholat dan tidak mau
> >>> belajar sholat dari anak2nya, ibu saya tidak bisa berbuat apa2
> >>>
> >>>
> >>>
> >>> Shanti
> >>>
> >>> ~Wyat

https://www.mail-archive.com/hindu-d.../msg32051.html
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.