- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1260
30. Retak
Langit berwarna oranye kemerahan, tanda matahari akan terbenam sebentar lagi.
Aku sampai di pintu apartemenku dan merogoh kunci dari dalam tas.
"So,... untuk sementara waktu aku nggak bisa nganter kamu pulang begini lagi..." Pak Grandy bergumam pelan, berusaha memberitahu dirinya sendiri.
"Besok kamu balik ke Jakarta, kan?" aku bertanya.
Pak Grandy mengangguk pelan dan berusaha tersenyum.
"At least we have internet. Kita bisa online anytime, kan?" Pak Grandy berusaha menghibur. "Habis ini aku harus balik ke kantor, beresin urusan terakhir sebelum pergi besok."
Aku mengiyakan saja dengan senyuman kecil.
Pak Grandy sehabis menraktirku makan sepulang kerja dan mengantarku ke depan rumah dengan selamat.
Tapi bukan senang, aku malah merasa kosong.
Sebab aku tahu bahwa mulai besok, tidak akan ada lagi acara pulang bareng seperti ini.
Mungkin secara umum, aku mengakui bahwa aku sedikit kesepian tinggal sendirian di sini.
Tapi teristimewa karena itu Pak Grandy, yang ternyata seru jika diajak mengobrol.
Rasa kesepian itu berlipat ganda.
Aku pamit masuk ke dalam rumah dan menutup pintu setelahnya.
Angin masuk dari jendela yang terbuka setengahnya.
Tirai berwarna kuning gadingku terbang dan menyusupi celah jendela.
Aku maju untuk menutup jendela ketika kudapati Sammy sedang ada di balkonnya.
"Hey, beautiful. Dari tadi gue nunggu elo nggak balik-balik." Sammy mematikan rokok yang sedang dihisapnya. "Jangan di sana..."
Aku celingukan bingung sebelum menyadari apa yang dia maksud.
Sammy menyebrang ke balkonku dengan satu lompatan dan berdiri di hadapanku.
"Sinting!" aku memukul lengannya pelan. "Udah kedua kalinya gue bilang, jangan loncat balkon ya! Enggak lihat di bawah bahaya gini??!" aku menunjuk udara bebas seolah menekankan kekhawatiranku.
Sammy maju dan membuatku melangkah mundur ke dalam apartemenku.
"Were you worried?" Sammy bertanya manja.
"Masih perlu ditanya?" aku melipat tangan.
Sammy melingkarkan tangan di pinggangku dan maju mendekati wajahku.
"You're beautiful when you're worried about me." Sammy berkata dengan suara selembut mungkin.
Honestly? He sounds sexy.
"Sam..." aku memperingatkannya untuk menjauh sedikit.
Alarm bawah sadarku mulai menyadari wajahnya hanya berjarak sejengkal dari wajahku.
Dan sudah jelas itu artinya yang berikutnya akan terjadi kemungkinan besar adalah bibir kami saling bertemu.
Jantungku semakin meletup dan nafasku tertahan ketika Sammy tidak mengindahkan peringatanku.
Dia malah semakin tertantang untuk menciumku, telihat dari senyum yang tersungging di sudut bibirnya.
"Gue nggak bakal makan elo, kok." Sammy menenangkanku. "I just miss you too damn much. Enggak tahu berapa batang rokok udah habis selagi gue nunggu elo?"
Samar, terhirup tembakau dari bibirnya.
Aku bukan penikmat rokok, tapi wangi tembakau dan membayangkan rasa manis rokok membuat wajahku semakin memerah.
Sammy akhirnya menempelkan bibirnya di dahiku.
Hatiku mencelos dan dengan mata tertutup, aku terkulai lemas di pelukannya.
Bibir Sammy turun ke antara mataku, ke pipi, dan ke samping telingaku.
Bulu kudukku merinding tapi sekuatnya aku berusaha bertahan.
Sammy tidak main-main menggodaku.
Dia baru akan mencium bibirku, ketika bel pintuku berbunyi.
Refleks, aku mendorong Sammy mundur dan mengintip di lubang pintu.
Mati! Pak Grandy berdiri di sana dengan tegap.
Aku langsung mendorong Sammy masuk ke kamar tidurku dan menutup pintunya.
"Jangan keluar, sebelum gue bilang boleh!" aku memperingatkan sebelum menutup pintu. "Gue serius!"
Setelah memastikan Sammy tidak berada di tempat yang bisa terlihat, aku membuka pintu gelagapan.
"Pak..? Kenapa kemari lagi?"
Pak Grandy merogoh ke dalam koper kecilnya dan mengeluarkan folder plastik berisi dokumen.
"Ini, laporan keseluruhan sebelum aku balik ke Jakarta. Kupikir besok repot kalo aku kasih di bandara. Tadi lupa ngasih ke kamu..." Pak Grandy menyerahkan foldernya ke tanganku.
"Oh,... oke." aku menjawab pendek-pendek. "Makasih ya."
Pak Grandy mengerutkan alis kemudian meletakkan punggung tangannya di dahiku.
"Kamu nggak enak badan lagi? Pipi kamu merah, nafas kamu berat."
Aku tersentak tapi menggeleng dengan cepat.
Jelas ini bukan karena tidak enak badan, tapi karena beberapa menit yang lalu jantungku serasa dipecut oleh Sammy yang menggodaku dengan ciuman pelannya.
Di sisi lain, beban berat moril kembali menggerogotiku karena aku terpaksa tidak berterus terang kepada Pak Grandy di hadapanku ini.
Pak Grandy hanya menyentuh pipiku pelan sambil tersenyum.
"Jaga kesehatan ya. I Love You..."
Pak Grandy kemudian berbalik pergi dan menghilang ke dalam lift.
Meninggalkanku yang masih terhenyak dengan kalimat terakhirnya.
Pak Grandy bilang dengan jelas soal kata cinta.
Dan untuk pertama kalinya, dia mengungkapkannya lisan kepadaku.
Aku hanya mampu menutup pintu dan berbalik ke arah dalam.
Aku kaget setengah mati mendapati Sammy sudah berada di balik pintu dan menatap tajam ke arahku.
"LOVE YOU?!" nada Sammy meninggi. "Elo jadian sama Pak Grandy?!"
Aku mendelik ke arah Sammy.
"Enggak. Gue enggak jadian sama dia." aku melipat tangan. "Dia udah nembak, tapi gue belom jawab."
Sammy menggaruk kepalanya.
"Belom? Berarti akan?? Elo bakal nyambut perasaan dia?" Sammy semakin gusar.
"Di mana-mana, jawaban itu ada dua. Kalo iya, ya enggak. Gue cuma bilang belom jawab, gak bilang belom nerima." aku ikutan sewot. "Lagian, elo kayaknya emosi banget, kenapa sih?"
Sammy mengetuk-ngetukkan kaki ke lantai.
"Ya jelas lah! Itu artinya elo gantungin gue juga!" Sammy terlihat semakin pucat pasi. "Gue pikir, elo beda dari Debby dulu!"
Aku terpancing emosi.
"Heh! DENGER YA!" nadaku makin meninggi. "Sekian bulan kita nggak contact, Pak Grandy dan gue jadi akrab. Baru belakangan ini, dia nembak gue! Sebagai wanita normal, tentu gue harus menghormati perasaan dia. Tapi bukan berarti gue sembarang nerima..."
"Yaudah kalo gitu tolak aja!" Sammy langsung usul.
"Enak banget ya, elo ngomong. Dulu waktu gue ngelarang elo sama Debby, apa elo nurut?! Enggak kan?" aku berbalik sinis.
"Kok jadi ungkit-ungkit begituan lagi sih?!" Sammy mencelos.
"Karena ... gue nggak mau terulang hal yang sama lagi, Sam. Sakit hati karena cowok yang gue suka, lebih memilih mantan pujaannya. Gue nggak mau Pak Grandy sakit hati karena gue milih mantan pujaan gue yang belom tentu lebih baik, yaitu elo! Plus yang notabene, elo bahkan nggak mencari gue ketika gue minggat ke Singapur!"
Sammy terdiam dan tertunduk.
Dia hendak mengatakan sesuatu, namun akhirnya hanya mengepalkan jari rapat-rapat.
Sammy kembali ke balkon untuk menyeberang ke kamarnya.
"Cher, gue pikir ... bukan ... malah gue berharap ,... tadinya bahwa gue bisa menebus kesalahan itu. Bagi gue, merelakan elo pergi adalah kesalahan terbesar gue." Sammy berkata dengan suara bergetar. "Tapi gue nggak menyangka, bahwa elo selayaknya Vas Keramik China berharga . Yang sekali saja jatuh, udah nggak bisa diperbaiki lagi."
Dan kalimat terakhir Sammy meninggalkan luka menganga lagi di jantungku.
Aku sampai di pintu apartemenku dan merogoh kunci dari dalam tas.
"So,... untuk sementara waktu aku nggak bisa nganter kamu pulang begini lagi..." Pak Grandy bergumam pelan, berusaha memberitahu dirinya sendiri.
"Besok kamu balik ke Jakarta, kan?" aku bertanya.
Pak Grandy mengangguk pelan dan berusaha tersenyum.
"At least we have internet. Kita bisa online anytime, kan?" Pak Grandy berusaha menghibur. "Habis ini aku harus balik ke kantor, beresin urusan terakhir sebelum pergi besok."
Aku mengiyakan saja dengan senyuman kecil.
Pak Grandy sehabis menraktirku makan sepulang kerja dan mengantarku ke depan rumah dengan selamat.
Tapi bukan senang, aku malah merasa kosong.
Sebab aku tahu bahwa mulai besok, tidak akan ada lagi acara pulang bareng seperti ini.
Mungkin secara umum, aku mengakui bahwa aku sedikit kesepian tinggal sendirian di sini.
Tapi teristimewa karena itu Pak Grandy, yang ternyata seru jika diajak mengobrol.
Rasa kesepian itu berlipat ganda.
Aku pamit masuk ke dalam rumah dan menutup pintu setelahnya.
Angin masuk dari jendela yang terbuka setengahnya.
Tirai berwarna kuning gadingku terbang dan menyusupi celah jendela.
Aku maju untuk menutup jendela ketika kudapati Sammy sedang ada di balkonnya.
"Hey, beautiful. Dari tadi gue nunggu elo nggak balik-balik." Sammy mematikan rokok yang sedang dihisapnya. "Jangan di sana..."
Aku celingukan bingung sebelum menyadari apa yang dia maksud.
Sammy menyebrang ke balkonku dengan satu lompatan dan berdiri di hadapanku.
"Sinting!" aku memukul lengannya pelan. "Udah kedua kalinya gue bilang, jangan loncat balkon ya! Enggak lihat di bawah bahaya gini??!" aku menunjuk udara bebas seolah menekankan kekhawatiranku.
Sammy maju dan membuatku melangkah mundur ke dalam apartemenku.
"Were you worried?" Sammy bertanya manja.
"Masih perlu ditanya?" aku melipat tangan.
Sammy melingkarkan tangan di pinggangku dan maju mendekati wajahku.
"You're beautiful when you're worried about me." Sammy berkata dengan suara selembut mungkin.
Honestly? He sounds sexy.
"Sam..." aku memperingatkannya untuk menjauh sedikit.
Alarm bawah sadarku mulai menyadari wajahnya hanya berjarak sejengkal dari wajahku.
Dan sudah jelas itu artinya yang berikutnya akan terjadi kemungkinan besar adalah bibir kami saling bertemu.
Jantungku semakin meletup dan nafasku tertahan ketika Sammy tidak mengindahkan peringatanku.
Dia malah semakin tertantang untuk menciumku, telihat dari senyum yang tersungging di sudut bibirnya.
"Gue nggak bakal makan elo, kok." Sammy menenangkanku. "I just miss you too damn much. Enggak tahu berapa batang rokok udah habis selagi gue nunggu elo?"
Samar, terhirup tembakau dari bibirnya.
Aku bukan penikmat rokok, tapi wangi tembakau dan membayangkan rasa manis rokok membuat wajahku semakin memerah.
Sammy akhirnya menempelkan bibirnya di dahiku.
Hatiku mencelos dan dengan mata tertutup, aku terkulai lemas di pelukannya.
Bibir Sammy turun ke antara mataku, ke pipi, dan ke samping telingaku.
Bulu kudukku merinding tapi sekuatnya aku berusaha bertahan.
Sammy tidak main-main menggodaku.
Dia baru akan mencium bibirku, ketika bel pintuku berbunyi.
Refleks, aku mendorong Sammy mundur dan mengintip di lubang pintu.
Mati! Pak Grandy berdiri di sana dengan tegap.
Aku langsung mendorong Sammy masuk ke kamar tidurku dan menutup pintunya.
"Jangan keluar, sebelum gue bilang boleh!" aku memperingatkan sebelum menutup pintu. "Gue serius!"
Setelah memastikan Sammy tidak berada di tempat yang bisa terlihat, aku membuka pintu gelagapan.
"Pak..? Kenapa kemari lagi?"
Pak Grandy merogoh ke dalam koper kecilnya dan mengeluarkan folder plastik berisi dokumen.
"Ini, laporan keseluruhan sebelum aku balik ke Jakarta. Kupikir besok repot kalo aku kasih di bandara. Tadi lupa ngasih ke kamu..." Pak Grandy menyerahkan foldernya ke tanganku.
"Oh,... oke." aku menjawab pendek-pendek. "Makasih ya."
Pak Grandy mengerutkan alis kemudian meletakkan punggung tangannya di dahiku.
"Kamu nggak enak badan lagi? Pipi kamu merah, nafas kamu berat."
Aku tersentak tapi menggeleng dengan cepat.
Jelas ini bukan karena tidak enak badan, tapi karena beberapa menit yang lalu jantungku serasa dipecut oleh Sammy yang menggodaku dengan ciuman pelannya.
Di sisi lain, beban berat moril kembali menggerogotiku karena aku terpaksa tidak berterus terang kepada Pak Grandy di hadapanku ini.
Pak Grandy hanya menyentuh pipiku pelan sambil tersenyum.
"Jaga kesehatan ya. I Love You..."
Pak Grandy kemudian berbalik pergi dan menghilang ke dalam lift.
Meninggalkanku yang masih terhenyak dengan kalimat terakhirnya.
Pak Grandy bilang dengan jelas soal kata cinta.
Dan untuk pertama kalinya, dia mengungkapkannya lisan kepadaku.
Aku hanya mampu menutup pintu dan berbalik ke arah dalam.
Aku kaget setengah mati mendapati Sammy sudah berada di balik pintu dan menatap tajam ke arahku.
"LOVE YOU?!" nada Sammy meninggi. "Elo jadian sama Pak Grandy?!"
Aku mendelik ke arah Sammy.
"Enggak. Gue enggak jadian sama dia." aku melipat tangan. "Dia udah nembak, tapi gue belom jawab."
Sammy menggaruk kepalanya.
"Belom? Berarti akan?? Elo bakal nyambut perasaan dia?" Sammy semakin gusar.
"Di mana-mana, jawaban itu ada dua. Kalo iya, ya enggak. Gue cuma bilang belom jawab, gak bilang belom nerima." aku ikutan sewot. "Lagian, elo kayaknya emosi banget, kenapa sih?"
Sammy mengetuk-ngetukkan kaki ke lantai.
"Ya jelas lah! Itu artinya elo gantungin gue juga!" Sammy terlihat semakin pucat pasi. "Gue pikir, elo beda dari Debby dulu!"
Aku terpancing emosi.
"Heh! DENGER YA!" nadaku makin meninggi. "Sekian bulan kita nggak contact, Pak Grandy dan gue jadi akrab. Baru belakangan ini, dia nembak gue! Sebagai wanita normal, tentu gue harus menghormati perasaan dia. Tapi bukan berarti gue sembarang nerima..."
"Yaudah kalo gitu tolak aja!" Sammy langsung usul.
"Enak banget ya, elo ngomong. Dulu waktu gue ngelarang elo sama Debby, apa elo nurut?! Enggak kan?" aku berbalik sinis.
"Kok jadi ungkit-ungkit begituan lagi sih?!" Sammy mencelos.
"Karena ... gue nggak mau terulang hal yang sama lagi, Sam. Sakit hati karena cowok yang gue suka, lebih memilih mantan pujaannya. Gue nggak mau Pak Grandy sakit hati karena gue milih mantan pujaan gue yang belom tentu lebih baik, yaitu elo! Plus yang notabene, elo bahkan nggak mencari gue ketika gue minggat ke Singapur!"
Sammy terdiam dan tertunduk.
Dia hendak mengatakan sesuatu, namun akhirnya hanya mengepalkan jari rapat-rapat.
Sammy kembali ke balkon untuk menyeberang ke kamarnya.
"Cher, gue pikir ... bukan ... malah gue berharap ,... tadinya bahwa gue bisa menebus kesalahan itu. Bagi gue, merelakan elo pergi adalah kesalahan terbesar gue." Sammy berkata dengan suara bergetar. "Tapi gue nggak menyangka, bahwa elo selayaknya Vas Keramik China berharga . Yang sekali saja jatuh, udah nggak bisa diperbaiki lagi."
Dan kalimat terakhir Sammy meninggalkan luka menganga lagi di jantungku.
Diubah oleh jumpingworm 18-08-2014 03:28
0