- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#589
PART 38
Suatu hari di kampus.
Gue berangkat ke kampus agak kesiangan, macet soalnya. Hari itu gue naik motor, tapi gak tau kenapa naik motorpun tetep kesiangan. Sampe di parkiran kampus, gue parkirin motor dan copot helm. Disitu gue liat Joe dan Zulmi duduk di bangku plastik didepan pos penjaga. Gue samperin mereka. Gue liat Joe duduk dengan satu kaki disilangkan, dan Zulmi duduk di sampingnya. Beneran kayak preman deh mereka berdua ini.
“Ngapain kok pada belom masuk? Gak ada dosen?” tanya gue sambil membetulkan letak tas selempang gue yang amburadul.
“Belom ada, tepatnya. Noh anak-anak masih pada nongkrong didepan kelas.” kata Zulmi sambil memonyongkan bibir ke arah kelas.
“lah kirain gue telat, ternyata belom masuk. Tau gitu tadi sarapan dulu gue.”
“yaudah ayok sarapan, gue juga belum sarapan. Nanggung tadi gue, bingung mau sarapan duluan apa boker duluan”
Joe menoleh.
“kamu mau sarapan pake tai kamu?” katanya dengan logat khas Ambon, kayak di film The Raid itu.
Gue ngakak sejadi-jadinya, sambil nepuk pundak Joe keras-keras.
“muka sangar tapi tolol juga ya lo” sahut Zulmi keki.
Gue semakin ngakak dan Joe juga ngakak ngeliat Zulmi kena batunya.
Gue celingukan mencari bangku yang bisa gue pergunakan untuk duduk. Di dalem pos penjaga yang jarang dipake itu gue menemukan kursi kayu seperti di kelas, dan gue seret keluar. Kemudian kami bertiga duduk di depan pos itu. Gak lama kemudian gue merasa ada yang memeluk leher gue dari belakang.
“halo sayang” suara tersebut datang dari belakang gue.
Kalo suara cewek gue mah seneng campur bingung, nah ini suara cowok. Yang gue rasakan adalah jijik campur shock. Dan lebih shock lagi pas gue liat kebelakang, dan gue liat siapa yang meluk leher gue. Si Bayu. Makhluk terkutuk emang nih kutu celana satu.
“anj*ng! ngapain lo Bay pake peluk-peluk gitu? Hiiiii!” teriak gue sambil meloncat dari kursi.
Bayu cengengesan dan memandangi Joe dan Zulmi. Mereka berdua juga ketawa menyeringai.
“gue kan sayang sama lo, Bas. Kangen tau.”
“setan luh
”
Mendadak Bayu dengan santainya duduk di kursi kayu yang sebelumnya gue ambil dari pos penjaga. Otomatis gue protes dong.
“eh kutang, enak aja lo duduk-duduk di kursi gue. Cari sendiri gih! Syuh syuh!” kata gue sambil mengibas-ngibaskan tangan didepan Bayu.
Bayu mendengus dan berdiri, kemudian beranjak dari situ mencari kursi lain yang bisa dia gondol kemari. Dia muter-muter parkiran motor. Gue gak peduliin itu si rontokan j*mb*t mau cari kursi dimana. Gue dan Joe kemudian membicarakan sesuatu, tapi gue agak lupa ngomong apa waktu itu. Jadi gak perlu gue tuliskan ya. Mendadak gue liat tangan Zulmi di depan mata gue dan Joe, seperti mencolek-colek kami berdua, meminta perhatian kami berdua. Gue dan Joe menoleh ke arah Zulmi yang memandang ke satu arah dengan fokus. Zulmi tanpa berkata apa-apa, dia menunjuk ke satu arah. Gue dan Joe mengikuti ke arah yang Zulmi tunjuk. Dan kemudian gue liat pemandangan yang menyedihkan. Bayu lagi ngubek-ubek pembuangan sampah.
“Bay, ngapain disitu woooy!” teriak gue.
“cari kursi.” jawabnya kalem tanpa bersalah.
“yassalam.” Gue, Joe dan Zulmi serempak menepuk jidat.
Gue melihat jam tangan, dan udah kelewat 20 menit tapi dosen masih belum dateng juga. Gue mulai malas masuk kelas. Di depan ruangan kelas, gue liat semakin banyak anak yang bergerombol. Gue liat ada Rika disana, lagi nyebar gossip layaknya ibu-ibu di tukang sayur komplek rumah. Gue menoleh ke Bayu.
“homoan lo mana?” tanya gue.
“sape?” jawab Bayu.
“Dhika.” sahut gue datar.
“oh, belom bangun paling dia. Biasalah jam segini itu masih tengah malem kalo buat dia.”
“semalem brapa ronde, Bay? Pantat lo sakit gak?” tanya Zulmi sambil ketawa-ketawa.
“lo kira gue tusbol-tusbolan ama dia.” jawab Bayu keki.
“tadi gue liat lo jalannya ngangkang, Bay. Aa’ Dhika kalo main kasar yah?” tanya gue sok simpatik.
“kampret lo Bas, gue cipok juga nih nih nih” dia monyong-monyongin bibir kearah gue.
“anjay, lo gitu sekali lagi, gue parut tuh bibir lo.” jawab gue bergidik, kemudian gue melanjutkan, “cipok Joe aja tuh sono.”
Joe terkesiap dan ekspresinya berubah panik.
“kamu macam-macam sama saya, nanti leher kamu saya putar.”
“watdefak…..” kami bertiga terdiam.
Kemudian gue liat ada 3 orang cewek yang berjalan beriringan dari kejauhan. Mereka menuju ke kelas, dan pasti sebelumnya harus melewati parkiran motor tempat kami nongkrong. Gue memicingkan mata, ternyata itu Luna dan Nindy, dan satu lagi cewek yang belum begitu gue kenal. Sampe di dekat kami, tanpa gue duga, Luna melambaikan tangan ke arah gue sambil tersenyum, “hallo Bas…” dan kemudian berlalu gitu aja. Gue melongo, dan menoleh ke arah anak-anak. Ternyata mereka melongonya lebih lebar dari gue.
“cakep bener tuh cewek. Namanya siapa sih?” kata Bayu bersemangat.
“lo bukannya doyan cowok ya?” kata gue.
“enak aja, gue asli masih normal tau. Namanya siapa sih Bas? Kayaknya dia kenal elo.”
“yang tadi ngomong ke gue, namanya Luna. Yang rambut pendek namanya Nindy.”
“kayaknya mereka anak kelas sebelah deh, gue belum pernah liat mereka di kelas soalnya” sahut Zulmi.
“kok lo bisa kenal Bas?” tanya Bayu penasaran.
“iyalah, gue gitu. Siapa sih yang gak tergoda sama ketampanan gue.” sahut gue pasang muka sombong.
“iya nih, gue tergoda nih sama elo. Horny nih gue. Uuuuuhhh.” sahut Bayu. Mukanya kayak comberan.
“ntar siang lo gue traktir makan ya Bay.” kata gue.
“horeee, tumben lo baik Bas, kalo gini kan cakep. Emang lo mau traktir gue apaan?”
“Apotas.”
Quote:
Suatu hari di kampus.
Gue berangkat ke kampus agak kesiangan, macet soalnya. Hari itu gue naik motor, tapi gak tau kenapa naik motorpun tetep kesiangan. Sampe di parkiran kampus, gue parkirin motor dan copot helm. Disitu gue liat Joe dan Zulmi duduk di bangku plastik didepan pos penjaga. Gue samperin mereka. Gue liat Joe duduk dengan satu kaki disilangkan, dan Zulmi duduk di sampingnya. Beneran kayak preman deh mereka berdua ini.
“Ngapain kok pada belom masuk? Gak ada dosen?” tanya gue sambil membetulkan letak tas selempang gue yang amburadul.
“Belom ada, tepatnya. Noh anak-anak masih pada nongkrong didepan kelas.” kata Zulmi sambil memonyongkan bibir ke arah kelas.
“lah kirain gue telat, ternyata belom masuk. Tau gitu tadi sarapan dulu gue.”
“yaudah ayok sarapan, gue juga belum sarapan. Nanggung tadi gue, bingung mau sarapan duluan apa boker duluan”
Joe menoleh.
“kamu mau sarapan pake tai kamu?” katanya dengan logat khas Ambon, kayak di film The Raid itu.
Gue ngakak sejadi-jadinya, sambil nepuk pundak Joe keras-keras.
“muka sangar tapi tolol juga ya lo” sahut Zulmi keki.
Gue semakin ngakak dan Joe juga ngakak ngeliat Zulmi kena batunya.
Gue celingukan mencari bangku yang bisa gue pergunakan untuk duduk. Di dalem pos penjaga yang jarang dipake itu gue menemukan kursi kayu seperti di kelas, dan gue seret keluar. Kemudian kami bertiga duduk di depan pos itu. Gak lama kemudian gue merasa ada yang memeluk leher gue dari belakang.
“halo sayang” suara tersebut datang dari belakang gue.
Kalo suara cewek gue mah seneng campur bingung, nah ini suara cowok. Yang gue rasakan adalah jijik campur shock. Dan lebih shock lagi pas gue liat kebelakang, dan gue liat siapa yang meluk leher gue. Si Bayu. Makhluk terkutuk emang nih kutu celana satu.
“anj*ng! ngapain lo Bay pake peluk-peluk gitu? Hiiiii!” teriak gue sambil meloncat dari kursi.
Bayu cengengesan dan memandangi Joe dan Zulmi. Mereka berdua juga ketawa menyeringai.
“gue kan sayang sama lo, Bas. Kangen tau.”
“setan luh
”Mendadak Bayu dengan santainya duduk di kursi kayu yang sebelumnya gue ambil dari pos penjaga. Otomatis gue protes dong.
“eh kutang, enak aja lo duduk-duduk di kursi gue. Cari sendiri gih! Syuh syuh!” kata gue sambil mengibas-ngibaskan tangan didepan Bayu.
Bayu mendengus dan berdiri, kemudian beranjak dari situ mencari kursi lain yang bisa dia gondol kemari. Dia muter-muter parkiran motor. Gue gak peduliin itu si rontokan j*mb*t mau cari kursi dimana. Gue dan Joe kemudian membicarakan sesuatu, tapi gue agak lupa ngomong apa waktu itu. Jadi gak perlu gue tuliskan ya. Mendadak gue liat tangan Zulmi di depan mata gue dan Joe, seperti mencolek-colek kami berdua, meminta perhatian kami berdua. Gue dan Joe menoleh ke arah Zulmi yang memandang ke satu arah dengan fokus. Zulmi tanpa berkata apa-apa, dia menunjuk ke satu arah. Gue dan Joe mengikuti ke arah yang Zulmi tunjuk. Dan kemudian gue liat pemandangan yang menyedihkan. Bayu lagi ngubek-ubek pembuangan sampah.
“Bay, ngapain disitu woooy!” teriak gue.
“cari kursi.” jawabnya kalem tanpa bersalah.
“yassalam.” Gue, Joe dan Zulmi serempak menepuk jidat.
Gue melihat jam tangan, dan udah kelewat 20 menit tapi dosen masih belum dateng juga. Gue mulai malas masuk kelas. Di depan ruangan kelas, gue liat semakin banyak anak yang bergerombol. Gue liat ada Rika disana, lagi nyebar gossip layaknya ibu-ibu di tukang sayur komplek rumah. Gue menoleh ke Bayu.
“homoan lo mana?” tanya gue.
“sape?” jawab Bayu.
“Dhika.” sahut gue datar.
“oh, belom bangun paling dia. Biasalah jam segini itu masih tengah malem kalo buat dia.”
“semalem brapa ronde, Bay? Pantat lo sakit gak?” tanya Zulmi sambil ketawa-ketawa.
“lo kira gue tusbol-tusbolan ama dia.” jawab Bayu keki.
“tadi gue liat lo jalannya ngangkang, Bay. Aa’ Dhika kalo main kasar yah?” tanya gue sok simpatik.
“kampret lo Bas, gue cipok juga nih nih nih” dia monyong-monyongin bibir kearah gue.
“anjay, lo gitu sekali lagi, gue parut tuh bibir lo.” jawab gue bergidik, kemudian gue melanjutkan, “cipok Joe aja tuh sono.”
Joe terkesiap dan ekspresinya berubah panik.
“kamu macam-macam sama saya, nanti leher kamu saya putar.”
“watdefak…..” kami bertiga terdiam.
Kemudian gue liat ada 3 orang cewek yang berjalan beriringan dari kejauhan. Mereka menuju ke kelas, dan pasti sebelumnya harus melewati parkiran motor tempat kami nongkrong. Gue memicingkan mata, ternyata itu Luna dan Nindy, dan satu lagi cewek yang belum begitu gue kenal. Sampe di dekat kami, tanpa gue duga, Luna melambaikan tangan ke arah gue sambil tersenyum, “hallo Bas…” dan kemudian berlalu gitu aja. Gue melongo, dan menoleh ke arah anak-anak. Ternyata mereka melongonya lebih lebar dari gue.
“cakep bener tuh cewek. Namanya siapa sih?” kata Bayu bersemangat.
“lo bukannya doyan cowok ya?” kata gue.
“enak aja, gue asli masih normal tau. Namanya siapa sih Bas? Kayaknya dia kenal elo.”
“yang tadi ngomong ke gue, namanya Luna. Yang rambut pendek namanya Nindy.”
“kayaknya mereka anak kelas sebelah deh, gue belum pernah liat mereka di kelas soalnya” sahut Zulmi.
“kok lo bisa kenal Bas?” tanya Bayu penasaran.
“iyalah, gue gitu. Siapa sih yang gak tergoda sama ketampanan gue.” sahut gue pasang muka sombong.
“iya nih, gue tergoda nih sama elo. Horny nih gue. Uuuuuhhh.” sahut Bayu. Mukanya kayak comberan.
“ntar siang lo gue traktir makan ya Bay.” kata gue.
“horeee, tumben lo baik Bas, kalo gini kan cakep. Emang lo mau traktir gue apaan?”
“Apotas.”
Diubah oleh jayanagari 15-08-2014 09:33
chanry dan 5 lainnya memberi reputasi
6

