- Beranda
- Green Lifestyle
Macan Tutul Jawa, Si Raja Hutan Terakhir Di Pulau Jawa Yang Terancam Punah
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Green Lifestyle
3.1KThread•3.5KAnggota
Tampilkan semua post
xixoxixo
#300

Quote:

Macan Tutul Jawa ( Panthera pardus melas) sebagaimana macan tutul lainnya adalah binatang nokturnal yang lebih aktif di malam hari. Kucing besar ini termasuk salah satu binatang yang pandai memanjat dan berenang. Macan Tutul Jawa adalah binatang karnivora yang memangsa buruannya seperti kijang, monyet ekor panjang, babi hutan, kancil dan owa jawa, landak jawa , surili dan lutung hitam. Kucing besar ini juga mampu menyeret dan membawa hasil buruannya ke atas pohon yang terkadang bobot mangsa melebih ukuran tubuhnya.

Perilaku ini selain untuk menghindari kehilangan mangsa hasil buruan, selain itu juga untuk penyimpanan persediaan makanan. Meskipun masa hidup di alam belum banyak diketahui tetapi di penangkaran, Macan tutul dapat hidup hingga 21-23 tahun. Macan tutul yang hidup dalam teritorial (ruang gerak) berkisar 5 – 15 km2. Bersifat soliter, tetapi pada saat tertentu seperti berpasangan dan pengasuhan anak, macan tutul dapat hidup berkelompok. Macan tutul jantan akan berkelana mencari pasangan dalam teritorinya masing-masing, di mana tiap daerah tersebut ditandai dengan cakaran di batang kayu, urine maupun kotorannya.

Macan tutul betina umumya memiliki anak lebih kurang 2-6 ekor setiap kelahiran dengan masa kehamilan lebih kurang 110 hari. Menjadi dewasa pada usia 3-4 tahun. Anak macan tutul akan tetap bersama induknya hingga berumur 18-24 bulan. Dalam pola pengasuhan anak, kadang-kadang macan tutul jantan membantu dalam hal pengasuhan anak.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkapkan, saat ini tingkat ancaman terhadap Macan Tutul Jawa cukup tinggi. "Ancaman tersebut ditandai dengan semakin hilangnya habitat alami, fragmentasi habitat serta menurunnya satwa mangsanya,"kata Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan di Bogor. Macan Tutul Jawa (panthera pardus melas) merupakan jenis kucing besar terakhir yang hidup di Jawa setelah Harimau Jawa (panthera tigris sundaica) dinyatakan punah pada tahun 1980an.
"Saat ini populasi satwa yang dilindung ini (Macan Tutul Jawa) tidak lebih dari 500 ekor yang tersebar di seluruh Pulau Jawa," katanya pada Konferensi Macan Tutul Jawa. Keberadaan satwa langka tersebut di alam, lanjutnya, sangat tergantung pada kondisi habitat dan kelimpahan mangsa, terutama satwa ungulata seperti kijang, rusa, babi dan kancil. Kehilangan habitat, menurut Zulkifli, juga sering diikuti dengan terjadinya konflik antara manusia dengan macan tutul jawa. Sebagian besar berakhir dengan kematian satwa ini.
Oleh karena itu Menhut menegaskan upaya konservasi macan tutul jawa dan habitatnya harus menjadi prioritas. Kawasan-kawasan hutan yang ada di Pulau Jawa selain di kawasan konservasi antara lain yang dikelola Perhutani, tambahnya, agar dapat dijadikan salah satu tempat yang aman dan memadai bagi kelangsungan populasi Macan Tutul Jawa.

"Kita telah kehilangan salah satu satwa karismatik Jawa yakni Harimau Jawa, jangan sampai hal ini terjadi pada Macan Tutul Jawa," katanya. Menurut Ketua Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) Tony Sumampaw, saat ini populasi Macan Tutul Jawa sekitar 400 ekor. Selain itu juga masuk dalam dalam CITES Apendik I yang berarti tidak boleh diperdagangkan. Populasi Macan Tutul Jawa ini tersebar di beberapa wilayah yang berbeda seperti di Taman Nasional (TN) Ujung Kulon, TN. Gunung Halimun Salak, TN. Gunung Gede, Hutan Lindung Petungkriyono Pekalongan, dan TN. Meru Betiri Jawa Timur.


Spoiler for pict:
Spoiler for pict:
Spoiler for pict:
Spoiler for pict:
Spoiler for pict:
Spoiler for pict:
Spoiler for pict:
Spoiler for pict:
Spoiler for pict:
Spoiler for pict:
Spoiler for pict:
Spoiler for pict:
Spoiler for pict:
Spoiler for pict:


[/QUOTE]
0










[/center]