- Beranda
- Sejarah & Xenology
Indonesian War of Independence (1945-1949)
...
TS
mabdulkarim
Indonesian War of Independence (1945-1949)
Quote:
Perang Kemerdekaan Indonesia
17 Agustus 1945—27 Desember 1949
17 Agustus 1945—27 Desember 1949

Quote:
Pihak yang terlibat:
-Posisi penahan:
-Posisi penyerang
-Posisi penahan:
- Indonesia
-Posisi penyerang
- Belanda
- Inggris (1945-1946)
Quote:
Perang Kemerdekaan Indonesia atau masa revolusi fisik merupakan era-era penting dalam sejarah Republik Indonesia yang menentukan ada tidaknya negara Indonesia. Dalam pembabakan perang kemerdekaan terbagi beberapa periode mulai dari paska proklamasi, pergolakan terhadap tentara jepang, dan sekutu, hingga operasi-operasi militier Belanda (operasi Product dan Kraai/Gagak) di 1947-1948. Periode ini berakhir dengan perjanjian-perjanjian perdamaian yang ditengahi oleh PBB yang puncaknya di Konferensi Meja Bundar di 27 Desember 1949. Setelah KMB, terbentuklah Negara Indonesia Serikat yang meliputi Republik Indonesia dan negara-negara bentukan Belanda seperti Negara Indonesia Timur, Pasundan, Sumatra Timur, Jawa Timur, dan sebagainya yang pada 17 Agustus 1950 masuk kembali ke Republik Indonesia.
Quote:
Kejadian-kejadian penting di perang kemerdekaan(Secara kronologi)
- 17 Agustus 1945: Proklamasi dan berdirinya Republik Indonesia
- Akhir September 1945: Pasukan sekutu (Inggris) mendarat di Jakarta
- Oktober 1945: Pendaratan pasukan Inggris di Medan, Padang, Palembang, Semarang, dan Surabaya.
- 27 Oktober 1945 - 20 November 1945:Pertempuran Surabaya
- 23 Maret 1946:Bandung laut api
- November 1946: Inggris mundur dari Indonesia
- 15 November 1946: Perjanjian Linggarjati terjadi.
- 21 Juli 1947-Agustus 1947:Operasi Produk atau agresi pertama Belanda dilancarkan
- 17 Januari 1948: Perjanjian Renville
- 18 September 1948: Muso mendeklarasikan Republik Soviet Indonesia di Madiun
- 19 September - Desember 1948:Perang Republik dengan PKI. Pemberontakan Madiun berhasil dihancurkan.
- 19-20 Desember 1948: Operasi gagak atau agresi militer 2 Belanda dilancarkan. Yogyakarta jatuh dan semua pemimpin Indonesia ditangkap.
- 1 Maret 1949: Serangan umum dilancarkan Republik ke Yogyakarta dan membuat posisi Indonesia di mata internasional yang dikira sudah lumpuh menjadi meningkat.
- 14 April - 7 Mei 1949: Perjanjian Roem-Roijen.
- 23 Agustus- 2 November 1949:Konferensi Meja Bundar.
- 27 Desember 1949: Terbentuknya Republik Indonesia Serikat.
Quote:
Index
1.Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia
2.Rapat besar lapangan Ikada
3.Insiden Hotel Yamato
4.Masuknya sekutu ke Indonesia
5.Selayang Pandang Pertempuran Surabaya 10 November '45 (credit by mosquit0)
6.Pertempuran Bojongkokosan
-6.1.Pertempuran Bojongkokosan (Bagian 1/2)
-6.2.Pertempuran Bojongkokosan (bagian 2/2)
-7Palagan Ambarawa(by mosquit0 )
-8.TRIP
-8.1TRIP - Tentara Republik Indonesia Pelajar (1)
-8.2 TRIP - Tentara Republik Indonesia Pelajar (2)
-9.Puputan Margarana
-10Bandoeng Laoetan Api
-11Peristiwa Merah-Putih di Manado
-12Malang Bumi Hangusby Jokiez
-13Radio Rimba Raya"Radio Hutan Bersuara Dunia"
-14Serangan Umum 1 Maret 1949
Pasukan bandit di perang kemerdekaan : Naga Terbang, dan Gagak Hitam dari Medan,
Peta
Peta Pembagian Negara-negara bagian di September 1948
Video
Video pertempuran Surabaya 1945
1.Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia
2.Rapat besar lapangan Ikada
3.Insiden Hotel Yamato
4.Masuknya sekutu ke Indonesia
5.Selayang Pandang Pertempuran Surabaya 10 November '45 (credit by mosquit0)
6.Pertempuran Bojongkokosan
-6.1.Pertempuran Bojongkokosan (Bagian 1/2)
-6.2.Pertempuran Bojongkokosan (bagian 2/2)
-7Palagan Ambarawa(by mosquit0 )
-8.TRIP
-8.1TRIP - Tentara Republik Indonesia Pelajar (1)
-8.2 TRIP - Tentara Republik Indonesia Pelajar (2)
-9.Puputan Margarana
-10Bandoeng Laoetan Api
-11Peristiwa Merah-Putih di Manado
-12Malang Bumi Hangusby Jokiez
-13Radio Rimba Raya"Radio Hutan Bersuara Dunia"
-14Serangan Umum 1 Maret 1949
Pasukan bandit di perang kemerdekaan : Naga Terbang, dan Gagak Hitam dari Medan,
Peta
Peta Pembagian Negara-negara bagian di September 1948
Video
Video pertempuran Surabaya 1945
Thread ini bakal dirapikan lagi. Nyari buku sumber dulu....

Ngasih masukan juga boleh...
Entar tak bahasa soal pertempuran, upaya diplomasi, dan lain-lain (kalau sempat)
Diubah oleh mabdulkarim 31-07-2021 00:08
dellesology dan irma.kawaii memberi reputasi
2
65.7K
Kutip
216
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mabdulkarim
#118
6.Pertempuran Bojongkokosan (bagian 2/2)
Quote:
Konvoy yang berangkat dari Jakarta pada tanggal 9 Desember 1945 baru tiba di Bandung pada tanggal 12 Desember 1945, dalam keadaan babak belur, itupun setelah dibantu oleh serangan udara habis-habisan dari RAF, terhadap posisi pertahanan Indonesia. Sedangkan pada hari yang sama telah tiba juga di Bandung pengiriman perbekalan serta peralatan milik Sekutu dari Jakarta yang dikawal oleh pasukan TKR, ialah para Taruna Akademi Militer Tanggerang dengan selamat.
Sungguh sulit untuk dimengerti, sikap perjuangan bangsa Indonesia, dalam rangka menegakkan dan mempertahankan kemerdekaannya saat itu. Disatu sisi melawan kekuatan asing yang mencoba untuk berkuasa lagi di tanah air dengan perlawanan bersenjata habis-habisan. Sedangkan disisi yang lain masih juga mengulurkan tangan untuk membuka perundingan-perundingan diplomasi dengan baik-baik.
Ternyata bahwa konvoy Tentara Sekutu yang dihadang oleh Pasukan TKR Resimen 3 pada tanggal 9 sampai dengan tanggal 11 Desember 1945 itu, terdiri dari kurang lebih 150 buah kendaraan yang dikawal oleh Tentara Sekutu dari Batalyon 5/9 Jats, yang baru untuk pertama kalinya bertempur di Pulau Jawa.
Pihak Sekutu mengalami cukup banyak kerugian, 9 buah truk dan 2 jeep jatuh ke tangan Indonesia. Sedangkan kerugian pihak kIndonesia juga cukup besar, TKR kehilangan 60 prajurit, disamping kurban dari pihak Barisan Pejuang Rakyat lebih banyak lagi, demikian pula dari penduduk daerah Cibadak yang menjadi kurban pemboman dan tembakan mitralyur dari pesawat udara.
Peristiwa tersebut dicatat oleh Letkol A.J.F. Doulton dalam Sejarah Militer Inggris “The fighting cock “, tertulis pada Chapter 24, “the turn of the year 1945/1946 “, sebagai berikut:
"An up convoy, escorted by 5/9 Jats, who were newcomers to Java, had begun the long climb through the hills when the leading rehicles were halted by a road-block. The hillside was alive with Indonesians, many of them, in the Japanese fashion occupying fox-holes, from which they lobbed an andless supply of Molotov coctail on the vehicles. It is no easy task to fight out of an ambush where an unseen foe commands the high ground and the infantry escort is spread over eight miles of road; moreover nightfall was not many hours away. The Jats C.O. was seriosly wounded in the first brush, one vehicle was ablaze, several others were badly damaged and number of drivers had slumped over their wheels, either dead or grievously hit."
(Doulton, 1951:183)
(Sebuah konvoy dikawal oleh Batalyon 5/9 Jats, pendatang baru di Pulau Jawa, mulai bergerak lama mendaki perbukitan-perbukitan. Kendaraan pendahulu berhenti dihadang perintang jalan.Diatas perbukitan dipenuhi orang-orang Indonesia. Banyak diantaranya yang bersembunyi di lubang-lubang pertahanan ala Jepang, dan mulai melempari kendaraan-kendaraan kami dengan bom-bom molotov tanpa habis-habisnya. Tidaklah mudah untuk keluar dari suatu penghadang yang dilakukan oleh musuh yang tidak nampak, yang menempati ketinggian-ketinggian, lebih-lebih keadaan sudah mendekati gelap malam. Ditambah lagi pengawal terpencar di jalanan sepanjang 10 km. Pimpinan pasukan Jats sudah terluka parah pada awal serangan. Satu kendaraan terbakar, sejumlah lainnya rusak berat dan sejumlah pengemudi terlungkup diatas kemudi, entah mati atau terkena tembakan yang mengenaskan).
Setibanya Sekutu di Sukabumi diatas pukul 21.00 terpaksa bermalam di Sukabumi sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Bandung. Di Kota Sukabumi dicapai kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata (gencatan senjata lokal).
Gencatan senjata ini dihadiri dari pihak Inggris mengirimkan Mayor Rawin Singh utusan khusus dari Bogor dan dari pihak RI yang hadir adalah Walikota dan Komandan Resimen-3 TKR.
Gencatan senjata ini selama kurang lebih 3 bulan disebut NOWAR, NOPEACE.
Setelah terjadi gencatan ini Konvoi Inggris tidak melalui Sukabumi, Personil dan Peralatan Inggris di angkut melalui udara.
Baru mulai bulan Febuari 1946 lalu Sukabumi dipergunakan lagi, tapi pihak Indonesia idak bisa mengganggu karena terikat perjanjian Cease Fire, keadaan terus berlaku hingga 9 Maret 1946, tercapai selama gencatan senjata gangguan penembakan oleh rakyat terus berjalan, aksi-aksi perlawanan terhadap pergerakan Sekutu dan penghadangan lanjutan ini pada dasarnya diakibatkan pula oleh ulah Tentara Sekutu Sendiri yang melanggar kesepakatan yang telah di buat antara lain dengan melakukan pemboman ke kota Cibadak dan sekitarnya dilakukan pemboman dan penembakan udara menggunakan senjata otomatis kaliber besar dengan pesawat tempur dan pembom Mosquito. Serangan udara balas dendam ini dalam dokumentasi Inggris diakui sebagai yang paling dasyat dalam perang Jawa (…while the R.A.F. delivered the heaviest air strike of the Java “ war “ ) (Doulton, 1951:284 The Fighting Cock).

Pesawat tempur Mosquito
Intensitas pertempuran antara para pejuang diwilayah Sukabumi dengan Sekutu pada akhirnya semakin mempertebal rasa senasib seperjuangan, baik diantara TKR dan badan-badan perjuangan maupun antara TKR dan badan-badan perjuangan dengan rakyat Sukabumi pada umumnya. Kondisi tersebut pada akhirnya semakin meningkatkan kekohesifan diantara semua elemen masyarakat yang ada di Sukabumi.
Selama Cease Firekorban pihak Indonesia minim dan korban pihak Sekutu kurang lebih 50 orang tapi tidak diakui Inggris.
Pada tanggal 10 Maret 1946 sekitar jam 15.00, suatu konvoy besar Sekutu sudah memasuki wilayah Resimen 3 TRI (sejak tanggal 24 Januari 1946, TKR sudah diresmikan sebagai Tentara Repubrik Indonesia disingkat TRI). Menyambut kedatangan konvoy ini, Resimen 3 TRI Sukabumi telah merencanakan operasi penghadangan dengan satuan-satuan kecil TRI, bersama Barisan-Barisan Pejuang Rakyat, seperti Hizbullah, Sabilillah, Banteng, PESINDO dan barisan-barisan pejuang lainnya. Penghadangan akan dilakukan secara estafet, sepanjang jalan raya Cigombong sampai Cibadak.
Sejak konvoy memasuki jalur ini disambut dengan gema takbir, yang disusul dengan letusan-letusan senapan, hujan anak panah dan peluru ketepel, serta senjata-senjata tradisional lainnya dari balik bukit-bukit dan lubang perlindungan di tebing kiri-kanan jalan.
Tentara Sekutu tidak mengira bahwa jalur Bogor-Sukabumi yang sudah dinyatakan aman sejak pertempuran tanggal 13 Desember 1945,
ternyata menjadi rawan kembali. Penghadangan dilakukan dengan taktik “ Hit and run “ yang sulit untuk diladeni.
Kali ini konvoy Sekutu yang cukup besar ini, dikawal oleh Batalyon Patiala, dibawah komando Letkol Bikram Dev Singh Gill. Batalyon Patiala ini adalah satuan-satuan serdadu bayaran dari suku Patiala yang berasal dari Propinsi Punjabi. Sebagian besar mereka memakai ikat kepala (ubel-ubel).
Di daerah Cikukulu tank Sherman, mulai tertumbuk barikade, demi barikade dari pohon-pohon perintang jalan. Dua buah tank Sherman bersama-sama mendorong barikade tersebut, tapi yang satu justru terperosok kedalam lubang jebakan, disusul dengan suara ledakan dahsyat dari ranjau darat.
Menjelang sore hari kawal depan konvoy sudah hampir memasuki kota Sukabumi, tiba-tiba tank Sherman, mobil lapis baja dan brencarrier mendapat gempuran dahsyat dari pasukan TRI yang dipimpin langsung oleh Komandan Batalyon Mayor Harry Sukardi.
Dalam kegelapan malam Letkol Bikram Dev. Singh Gill berusaha menyusun formasi tempur, namun saat itu juga terus-menerus mendapat serangan gencar dari pasukan Kompi Kapten Juanda yang berada di lokasi Situ Awi.
Bagian tengah konvoy terpenggal, mereka terpaksa mundur, namun akibatnya juga bertabrakan dengan susunan konvoy dibelakang. Serdadu-serdadu Batalyon Patiala berlompatan ke jalan raya, dan pada saat itu juga disambut dengan hujan granat, bom-bom molotov dan peluru berbagai jenis senapan.
Sedangkan bagian ekor konvoy terjepit oleh serangan serempak pasukan Kompi Kapten Kabul Sirodz dari Batalyon IV yang juga bertugas untuk mengkordinir serangan Barisan-Barisan Hizbullah, Sabilillah, Banteng, dan PESINDO.
Di pusat kota Sukabumi, malam itu menjadi marak oleh benderangnya pijar-pijar api, yang diletuskan dan diledakan berbagai jenis senjata. Tidak ubahnya sepeti layaknya pesta kembang api. Hanya bedanya, kalau pesta kembang api disambut dengan hati yang meriah, sedangkan semaraknya kembang api malam ini, diikuti rasa ngeri, kalau-kalau hidup itu hanya sampai malam itu.
Pertempuran tersebut baru reda menjelang waktu subuh, menurut catatan Letkol A.J.F. Doulton, sebagai berikut:
"When dawn came, the Patialas had lost eight killed and had twentyfive wounded. The events of the 11th were depressing. The Patialas with the main convoy advanced only eight mile, battling hard the whole way."
(Doulton, 1951:295)
(Ketika fajar menyingsing, pasukan Patiala, telah kehilangan 8 orang mati dan 25 orang terluka. Peristiwa tanggal 11 Maret 1946 menyurutkan semangat. Pasukan Patiala dengan konvoy utamanya hanya melaju sejauh 8 mil, bertempur dengan sengit sepanjang jalan).
Suatu hal yang menguntungkan, bahwa pada tanggal 11 Maret 1946 pagi dan siang mereka tidak mengadakan operasi militer. Mereka hanya sibuk memperbaiki kendaraan-kendaraan yang rusak. Serdadu-serdadunya dikonsinyir, tidak boleh meninggalkan barak-barak darurat mereka dipinggir jalan. Namun pada hari itu juga telah disebarkan pamflet oleh pihak Sekutu dengan pesawat udara di sekitar daerah Sukabumi, yang isinya sebagai berikut:
"Jika penyerangan tidak dihentikan pada 1 jam dari sekarang, maka Indonesia akan mempergunakan tank, pesawat tempur udara, meriam dan senjata perang lain, untuk menggempur dengan tanpa ampun."
SERANGAN MALAM
Pada tanggal 11 Maret 1946, malam hari tiba-tiba lampu didalam kota dipadamkan pihak GBO (PLN). Ternyata Pasukan Resimen 3 TRI, bersama Barisan-Barisan Pejuang Rakyat kembali bergerak mengepung konvoy serdadu Batalyon Patiala dalam keadaan kurang siap tidak bisa berbuat banyak kecuali mempertahankan diri dengan tembakan yang membabi buta dari tempat mereka.
Pada tanggal 12 Maret 1946, berita dari Cigombong mengatakan 12 buah tank Sherman sebagai alat bala-bantuan dari Bogor sedang menuju Sukabumi. Demikian pula bala-bantuan pihak Sekutu dari Bandung juga mulai bergerak, serta dilindungi oleh pesawat-pesawat terbang.
Dari Bogor didatangkan tank-tank Sherman dari Squadron 13 Lancer. Namun begitu memasuki daerah disekitar jalan raya Cikukulu-Cisaat, diserang secara bersama oleh 4 kompi TRI, ialah Kompi Kapten Tedjasukmana, Kompi Kapten Kusbini, Kompi Kapten Murad Idrus, dan Kompi Kapten Husein Alexsyah.
Tank Sherman Squdron 13 Lancer dalam rangka mempertahankan diri sampai-sampai kehabisan peluru, namun segera memperoleh supply lagi melalui dropping dari pesawat terbang RAF.

Ilustrasi tank sherman
Untuk menyelamatkan pasukan tank Sherman Squadron 13 Lancer, terpaksa Batalyon Patiala kembali bergerak keluar dari kota Sukabumi, untuk memberikan pertolongan. Yang akan ditolong malah akhirnya jadi menolong.
Pada tanggal 12 Maret 1946 dari Bandung juga pihak Sekutu mengirimkan bala-bantuan, ialah Batalyon 5/6 Rajputana Rifles, mereka adalah serdadu-serdadu bayaran yang berasal dari Propinsi Rajasthan.
Batalyon III TRI, dibawah pimpinan Kapten Anwar, yang ditempatkan di sekitar Cianjur, demikian mengikuti berita pertempuran-pertempuran di Sukabumi, sudah mengira bahwa bala-bantuan Sekutu juga akan didatangkan dari Bandung. Oleh karena itu batalyon ini juga sudah berada dalam keadaan siap siaga.
Kapten Anwar sekalipun ia Komandan Batalyon tapi ia juga langsung memegang senapan mesin watermantel yang sangat disayangi dan dibanggakannya, hasil rampasan dari serdadu Gurkha Rifles pada pertempuran yang lalu. Senapan mesin ini diberi nama “Si Ronggeng”.
Pada saat konvoy pendahulu dari batalyon Rajputana Rifles memasuki jembatan Cisokan di daerah Ciranjang. Pasukan Kompi Kapten Dasuni Zahid langsung membuka tembakan dari atas tebing. Pada saat itu juga sebuah tank Sherman meledak terkena ranjau darat ketika melewati jembatan.
Memasuki kota Cianjur konvoy mendapat serangan dari pasukan Kompi Kapten Saleh Opo, bekerja-sama dengan Barisan Pejuang Rakyat. Pasukan para pejuang melakukan serangan dari balik bangunan-bangunan pertokoan dan pepohonan dengan taktik “hit and run”.
Dijalan raya Belendung Batalyon Rajputana Rifles, kembali mendapat serangan gencar, sebuah tank Sherman, roda depannya menggilas ranjau darat, meledak terpental ke udara. Tidak lama kemudian sebuah tank Sherman lagi ketika melewati jembatan Cikaret, roda depannya menggilas ranjau darat, tank terseok-seok masuk jurang.
Pada saat itu terjadi kesibukan yang luar biasa untuk menolong menyelamatkan penumpang tank tersebut. Yang ternyata salah satunya adalah Komandan Batalyon Rajputana Rifles. Nampaknya dia terluka parah, yang kemudian segera diselamatkan oleh regu penolong.
Di daerah Warung Kondang tank-tank Sherman kembali dihambat barikade-barikade dari pepohonan yang silang-melintang di tengah jalan. Konvoy terpaksa berhenti, serdadu-serdadu dari Batalyon Rajputana Rifles diperintahkan turun untuk menyingkirkan batang-batang pohon tersebut. Tapi pada momen itu tiba-tiba dari kiri-kanan jalan mendapat serangan mendadak, dengan berbagai macam senjata, maka suara-suara ledakan granatpun mengguncang suasana kampung yang sepi didaerah tersebut.
Menjelang daerah Gekbrong, terjadi lagi pertempuran yang seru, dan berlangsung cukup lama. Sebuah tank Sherman mogok diwaktu mendaki suatu tanjakan. Pengemudinya terpaksa harus turun, tapi begitu kepalanya nonggol disambut dengan tembakan bedil beaumont, maka pelurunya langsung memecahkan kepala serdadu tersebut.
Beberapa truk berusaha untuk menyalip tank yang mogok, akan tetapi salah satu truk yang nekad menggilas ranjau darat, truk meledak terlontar ke udara. Serdadu-serdadu yang berada di atas truk hancur porak poranda. Salah satu sepatu serdadu Batalyon Rajputana Rifles, jatuh tepat didepan wajah salah seorang prajurit pasukan Kompi Kapten Musa Natakusumah. Memperhatikan sepatu yang masih lengkap berisi sepotong kaki yang berlumuran darah, prajurit tersebut menyeringai sambil sambil bergidik.
Ternyata bahwa pihak Sekutu selain mendatangkan bala-bantuan dari Bogor yang melalui Cigombong-Cibadak, mereka juga mengirim bantuan pasukan yang diperkuat dengan pasukan tank-tank tempur, kendaraan lapis baja dan brencarrier yang lewat Ciawi-Puncak-Cianjur.
Ketika prajurit-prajurit dari Batalyon 3 TRI, melakukan serangan terhadap sepenggal iring-iringan konvoy musuh, tiba-tiba datang iring-iringan musuh yang lain, ialah bala bantuan dari Bogor yang melalui Puncak. Muncul dari arah Cugenang. Dalam pertempuran ini dari pihak Indonesia telah gugur 11 orang perajurit, sedangkan dari pihak lawan menderita kerugian beberapa truk telah hancur dan seorang serdadu musuh tertawan. Jumlah yang tewas dan luka-luka dari pihak musuh tidak diketahui.
Karena dianggap beresiko tinggi Tentara Sekutu tidak jadi untuk menduduki Sukabumi. Setelah mengalami pertempuran 3 hari, mereka melangsungkan gerakannya ke arah Cianjur. Di daerah Sukaraja, kembali mendapat serangan dari Batalyon Field Preparation (FP) Resimen 3 TRI dibawah komando Kapten Effendy Pandjipurnama, bersama dengan Barisan Pejuang Rakyat setempat.
Pada tanggal 13 Maret 1946, Komandan Divisi ke-23 Tentara Inggris di Bandung juga memerintahkan Brigadier N.D.Wingrove untuk membantu kelancaran jalannya konvoy dari Sukabumi menuju Bandung dengan kekuatan pasukan Brigade I, yang terdiri dari 2 Kompi Pasukan Zeni tempur, disertai dengan satuan-satuan pengawalnya.
Sepanjang rute perjalanan menuju Bandung pertempuran terus berkecamuk di sekitar Cisokan, Citarum dan Purabaya. Asrama-asrama pasukan kita ditembaki dengan meriam. Di daerah Padalarang musuh mengadakan pembersihan sampai jauh sekelilingnya. Beberapa perwira TRI tertawan antara lain Mayor Sidik Brotoatmojo. Kepala Staf Resimen 9.
Brigade ke-37 Tentara Sekutu yang berada di Bandung melakukan aksi besar-besaran, mulai dari Cimahi sampai Padalarang, menyerang kedudukan-kedudukan kita.
Keadaan menjadi kacau-balau, hubungan antara pasukan kita menjadi terputus, yang diketahui hanyalah telah terjadi pertempuran yang terus menerus antara daerah Ciranjang dan Padalarang. Kerugian di pihak musuh tidak jelas, namun kabarnya mereka menderita kerugian sampai ratusan serdadunya telah tewas.
Hubungan Bogor-Sukabumi-Cianjur, akhirnya dibatalkan. Mereka lebih mengutamakan hubungan Bogor-Cianjur melalui Puncak. Mereka mendirikan pos-2 pengamanan sepanjang jalan ini. Sedangkan di Cianjur telah ditempatkan kurang lebih 1 Batalyon Tentara Sekutu untuk mengamankan daerah tersebut.
Serangan malam hari terhadap Tentara Sekutu di kota Sukabumi, telah menimbulkan korban di pihak mereka : Pada hari pertama, tewas 2 orang opsir Inggris dan 26 serdadu India. Pada hari kedua tewas 3 orang opsir Inggris, 1 orang opsir India dan 37 orang serdadu India.
Konvoy besar Tentara Sekutu, yang berangkat tanggal 10 Maret 1946, dari Jakarta, dengan pengawalan dari Batalyon Patiala, dibawah pimpinan Letkol Bikram Dev Singh Gill, tiba di Bandung pada tanggal 15 Maret 1946, dalam keadaan porak poranda, kendaraan-kendaraanya banyak yang rusak, truk-truknya pada bolong-bolong, akibat tembakan para pejuang kita disepanjang perjalanan.
Baiklah kita simak lagi catatan dari Letkol A.J.F. Doulton, sebagai berikut :
“Happily for us, this battle was the end of heavy casualties, but it was no final strom which left the air clear and there was not much rest for the troops.”
(“Syukurlah, ini adalah jumlah korban besar yang terakhir yang kami alami dalam pertempuran, namun ini bukan badai terakhir dan pasukan tidak cukup mendapat istirahat”)
Sungguh sulit untuk dimengerti, sikap perjuangan bangsa Indonesia, dalam rangka menegakkan dan mempertahankan kemerdekaannya saat itu. Disatu sisi melawan kekuatan asing yang mencoba untuk berkuasa lagi di tanah air dengan perlawanan bersenjata habis-habisan. Sedangkan disisi yang lain masih juga mengulurkan tangan untuk membuka perundingan-perundingan diplomasi dengan baik-baik.
Ternyata bahwa konvoy Tentara Sekutu yang dihadang oleh Pasukan TKR Resimen 3 pada tanggal 9 sampai dengan tanggal 11 Desember 1945 itu, terdiri dari kurang lebih 150 buah kendaraan yang dikawal oleh Tentara Sekutu dari Batalyon 5/9 Jats, yang baru untuk pertama kalinya bertempur di Pulau Jawa.
Pihak Sekutu mengalami cukup banyak kerugian, 9 buah truk dan 2 jeep jatuh ke tangan Indonesia. Sedangkan kerugian pihak kIndonesia juga cukup besar, TKR kehilangan 60 prajurit, disamping kurban dari pihak Barisan Pejuang Rakyat lebih banyak lagi, demikian pula dari penduduk daerah Cibadak yang menjadi kurban pemboman dan tembakan mitralyur dari pesawat udara.
Peristiwa tersebut dicatat oleh Letkol A.J.F. Doulton dalam Sejarah Militer Inggris “The fighting cock “, tertulis pada Chapter 24, “the turn of the year 1945/1946 “, sebagai berikut:
"An up convoy, escorted by 5/9 Jats, who were newcomers to Java, had begun the long climb through the hills when the leading rehicles were halted by a road-block. The hillside was alive with Indonesians, many of them, in the Japanese fashion occupying fox-holes, from which they lobbed an andless supply of Molotov coctail on the vehicles. It is no easy task to fight out of an ambush where an unseen foe commands the high ground and the infantry escort is spread over eight miles of road; moreover nightfall was not many hours away. The Jats C.O. was seriosly wounded in the first brush, one vehicle was ablaze, several others were badly damaged and number of drivers had slumped over their wheels, either dead or grievously hit."
(Doulton, 1951:183)
(Sebuah konvoy dikawal oleh Batalyon 5/9 Jats, pendatang baru di Pulau Jawa, mulai bergerak lama mendaki perbukitan-perbukitan. Kendaraan pendahulu berhenti dihadang perintang jalan.Diatas perbukitan dipenuhi orang-orang Indonesia. Banyak diantaranya yang bersembunyi di lubang-lubang pertahanan ala Jepang, dan mulai melempari kendaraan-kendaraan kami dengan bom-bom molotov tanpa habis-habisnya. Tidaklah mudah untuk keluar dari suatu penghadang yang dilakukan oleh musuh yang tidak nampak, yang menempati ketinggian-ketinggian, lebih-lebih keadaan sudah mendekati gelap malam. Ditambah lagi pengawal terpencar di jalanan sepanjang 10 km. Pimpinan pasukan Jats sudah terluka parah pada awal serangan. Satu kendaraan terbakar, sejumlah lainnya rusak berat dan sejumlah pengemudi terlungkup diatas kemudi, entah mati atau terkena tembakan yang mengenaskan).
Quote:
GENCATAN SENJATA / CEASE FIRE (13 DESEMBER s/d 9 MARET 1946)
Setibanya Sekutu di Sukabumi diatas pukul 21.00 terpaksa bermalam di Sukabumi sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Bandung. Di Kota Sukabumi dicapai kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata (gencatan senjata lokal).
Gencatan senjata ini dihadiri dari pihak Inggris mengirimkan Mayor Rawin Singh utusan khusus dari Bogor dan dari pihak RI yang hadir adalah Walikota dan Komandan Resimen-3 TKR.
Gencatan senjata ini selama kurang lebih 3 bulan disebut NOWAR, NOPEACE.
Setelah terjadi gencatan ini Konvoi Inggris tidak melalui Sukabumi, Personil dan Peralatan Inggris di angkut melalui udara.
Baru mulai bulan Febuari 1946 lalu Sukabumi dipergunakan lagi, tapi pihak Indonesia idak bisa mengganggu karena terikat perjanjian Cease Fire, keadaan terus berlaku hingga 9 Maret 1946, tercapai selama gencatan senjata gangguan penembakan oleh rakyat terus berjalan, aksi-aksi perlawanan terhadap pergerakan Sekutu dan penghadangan lanjutan ini pada dasarnya diakibatkan pula oleh ulah Tentara Sekutu Sendiri yang melanggar kesepakatan yang telah di buat antara lain dengan melakukan pemboman ke kota Cibadak dan sekitarnya dilakukan pemboman dan penembakan udara menggunakan senjata otomatis kaliber besar dengan pesawat tempur dan pembom Mosquito. Serangan udara balas dendam ini dalam dokumentasi Inggris diakui sebagai yang paling dasyat dalam perang Jawa (…while the R.A.F. delivered the heaviest air strike of the Java “ war “ ) (Doulton, 1951:284 The Fighting Cock).
Quote:

Pesawat tempur Mosquito
Intensitas pertempuran antara para pejuang diwilayah Sukabumi dengan Sekutu pada akhirnya semakin mempertebal rasa senasib seperjuangan, baik diantara TKR dan badan-badan perjuangan maupun antara TKR dan badan-badan perjuangan dengan rakyat Sukabumi pada umumnya. Kondisi tersebut pada akhirnya semakin meningkatkan kekohesifan diantara semua elemen masyarakat yang ada di Sukabumi.
Selama Cease Firekorban pihak Indonesia minim dan korban pihak Sekutu kurang lebih 50 orang tapi tidak diakui Inggris.
Quote:
Pertempuran Ke-II / Penghadangan yang kedua (10 MARET s/d 14 MARET 1946)
Pada tanggal 10 Maret 1946 sekitar jam 15.00, suatu konvoy besar Sekutu sudah memasuki wilayah Resimen 3 TRI (sejak tanggal 24 Januari 1946, TKR sudah diresmikan sebagai Tentara Repubrik Indonesia disingkat TRI). Menyambut kedatangan konvoy ini, Resimen 3 TRI Sukabumi telah merencanakan operasi penghadangan dengan satuan-satuan kecil TRI, bersama Barisan-Barisan Pejuang Rakyat, seperti Hizbullah, Sabilillah, Banteng, PESINDO dan barisan-barisan pejuang lainnya. Penghadangan akan dilakukan secara estafet, sepanjang jalan raya Cigombong sampai Cibadak.
Sejak konvoy memasuki jalur ini disambut dengan gema takbir, yang disusul dengan letusan-letusan senapan, hujan anak panah dan peluru ketepel, serta senjata-senjata tradisional lainnya dari balik bukit-bukit dan lubang perlindungan di tebing kiri-kanan jalan.
Tentara Sekutu tidak mengira bahwa jalur Bogor-Sukabumi yang sudah dinyatakan aman sejak pertempuran tanggal 13 Desember 1945,
ternyata menjadi rawan kembali. Penghadangan dilakukan dengan taktik “ Hit and run “ yang sulit untuk diladeni.
Kali ini konvoy Sekutu yang cukup besar ini, dikawal oleh Batalyon Patiala, dibawah komando Letkol Bikram Dev Singh Gill. Batalyon Patiala ini adalah satuan-satuan serdadu bayaran dari suku Patiala yang berasal dari Propinsi Punjabi. Sebagian besar mereka memakai ikat kepala (ubel-ubel).
Di daerah Cikukulu tank Sherman, mulai tertumbuk barikade, demi barikade dari pohon-pohon perintang jalan. Dua buah tank Sherman bersama-sama mendorong barikade tersebut, tapi yang satu justru terperosok kedalam lubang jebakan, disusul dengan suara ledakan dahsyat dari ranjau darat.
Menjelang sore hari kawal depan konvoy sudah hampir memasuki kota Sukabumi, tiba-tiba tank Sherman, mobil lapis baja dan brencarrier mendapat gempuran dahsyat dari pasukan TRI yang dipimpin langsung oleh Komandan Batalyon Mayor Harry Sukardi.
Dalam kegelapan malam Letkol Bikram Dev. Singh Gill berusaha menyusun formasi tempur, namun saat itu juga terus-menerus mendapat serangan gencar dari pasukan Kompi Kapten Juanda yang berada di lokasi Situ Awi.
Bagian tengah konvoy terpenggal, mereka terpaksa mundur, namun akibatnya juga bertabrakan dengan susunan konvoy dibelakang. Serdadu-serdadu Batalyon Patiala berlompatan ke jalan raya, dan pada saat itu juga disambut dengan hujan granat, bom-bom molotov dan peluru berbagai jenis senapan.
Sedangkan bagian ekor konvoy terjepit oleh serangan serempak pasukan Kompi Kapten Kabul Sirodz dari Batalyon IV yang juga bertugas untuk mengkordinir serangan Barisan-Barisan Hizbullah, Sabilillah, Banteng, dan PESINDO.
Di pusat kota Sukabumi, malam itu menjadi marak oleh benderangnya pijar-pijar api, yang diletuskan dan diledakan berbagai jenis senjata. Tidak ubahnya sepeti layaknya pesta kembang api. Hanya bedanya, kalau pesta kembang api disambut dengan hati yang meriah, sedangkan semaraknya kembang api malam ini, diikuti rasa ngeri, kalau-kalau hidup itu hanya sampai malam itu.
Pertempuran tersebut baru reda menjelang waktu subuh, menurut catatan Letkol A.J.F. Doulton, sebagai berikut:
"When dawn came, the Patialas had lost eight killed and had twentyfive wounded. The events of the 11th were depressing. The Patialas with the main convoy advanced only eight mile, battling hard the whole way."
(Doulton, 1951:295)
(Ketika fajar menyingsing, pasukan Patiala, telah kehilangan 8 orang mati dan 25 orang terluka. Peristiwa tanggal 11 Maret 1946 menyurutkan semangat. Pasukan Patiala dengan konvoy utamanya hanya melaju sejauh 8 mil, bertempur dengan sengit sepanjang jalan).
Suatu hal yang menguntungkan, bahwa pada tanggal 11 Maret 1946 pagi dan siang mereka tidak mengadakan operasi militer. Mereka hanya sibuk memperbaiki kendaraan-kendaraan yang rusak. Serdadu-serdadunya dikonsinyir, tidak boleh meninggalkan barak-barak darurat mereka dipinggir jalan. Namun pada hari itu juga telah disebarkan pamflet oleh pihak Sekutu dengan pesawat udara di sekitar daerah Sukabumi, yang isinya sebagai berikut:
"Jika penyerangan tidak dihentikan pada 1 jam dari sekarang, maka Indonesia akan mempergunakan tank, pesawat tempur udara, meriam dan senjata perang lain, untuk menggempur dengan tanpa ampun."
Quote:
SERANGAN MALAM
Pada tanggal 11 Maret 1946, malam hari tiba-tiba lampu didalam kota dipadamkan pihak GBO (PLN). Ternyata Pasukan Resimen 3 TRI, bersama Barisan-Barisan Pejuang Rakyat kembali bergerak mengepung konvoy serdadu Batalyon Patiala dalam keadaan kurang siap tidak bisa berbuat banyak kecuali mempertahankan diri dengan tembakan yang membabi buta dari tempat mereka.
Pada tanggal 12 Maret 1946, berita dari Cigombong mengatakan 12 buah tank Sherman sebagai alat bala-bantuan dari Bogor sedang menuju Sukabumi. Demikian pula bala-bantuan pihak Sekutu dari Bandung juga mulai bergerak, serta dilindungi oleh pesawat-pesawat terbang.
Dari Bogor didatangkan tank-tank Sherman dari Squadron 13 Lancer. Namun begitu memasuki daerah disekitar jalan raya Cikukulu-Cisaat, diserang secara bersama oleh 4 kompi TRI, ialah Kompi Kapten Tedjasukmana, Kompi Kapten Kusbini, Kompi Kapten Murad Idrus, dan Kompi Kapten Husein Alexsyah.
Tank Sherman Squdron 13 Lancer dalam rangka mempertahankan diri sampai-sampai kehabisan peluru, namun segera memperoleh supply lagi melalui dropping dari pesawat terbang RAF.
Quote:

Ilustrasi tank sherman
Untuk menyelamatkan pasukan tank Sherman Squadron 13 Lancer, terpaksa Batalyon Patiala kembali bergerak keluar dari kota Sukabumi, untuk memberikan pertolongan. Yang akan ditolong malah akhirnya jadi menolong.
Pada tanggal 12 Maret 1946 dari Bandung juga pihak Sekutu mengirimkan bala-bantuan, ialah Batalyon 5/6 Rajputana Rifles, mereka adalah serdadu-serdadu bayaran yang berasal dari Propinsi Rajasthan.
Batalyon III TRI, dibawah pimpinan Kapten Anwar, yang ditempatkan di sekitar Cianjur, demikian mengikuti berita pertempuran-pertempuran di Sukabumi, sudah mengira bahwa bala-bantuan Sekutu juga akan didatangkan dari Bandung. Oleh karena itu batalyon ini juga sudah berada dalam keadaan siap siaga.
Kapten Anwar sekalipun ia Komandan Batalyon tapi ia juga langsung memegang senapan mesin watermantel yang sangat disayangi dan dibanggakannya, hasil rampasan dari serdadu Gurkha Rifles pada pertempuran yang lalu. Senapan mesin ini diberi nama “Si Ronggeng”.
Pada saat konvoy pendahulu dari batalyon Rajputana Rifles memasuki jembatan Cisokan di daerah Ciranjang. Pasukan Kompi Kapten Dasuni Zahid langsung membuka tembakan dari atas tebing. Pada saat itu juga sebuah tank Sherman meledak terkena ranjau darat ketika melewati jembatan.
Memasuki kota Cianjur konvoy mendapat serangan dari pasukan Kompi Kapten Saleh Opo, bekerja-sama dengan Barisan Pejuang Rakyat. Pasukan para pejuang melakukan serangan dari balik bangunan-bangunan pertokoan dan pepohonan dengan taktik “hit and run”.
Dijalan raya Belendung Batalyon Rajputana Rifles, kembali mendapat serangan gencar, sebuah tank Sherman, roda depannya menggilas ranjau darat, meledak terpental ke udara. Tidak lama kemudian sebuah tank Sherman lagi ketika melewati jembatan Cikaret, roda depannya menggilas ranjau darat, tank terseok-seok masuk jurang.
Pada saat itu terjadi kesibukan yang luar biasa untuk menolong menyelamatkan penumpang tank tersebut. Yang ternyata salah satunya adalah Komandan Batalyon Rajputana Rifles. Nampaknya dia terluka parah, yang kemudian segera diselamatkan oleh regu penolong.
Di daerah Warung Kondang tank-tank Sherman kembali dihambat barikade-barikade dari pepohonan yang silang-melintang di tengah jalan. Konvoy terpaksa berhenti, serdadu-serdadu dari Batalyon Rajputana Rifles diperintahkan turun untuk menyingkirkan batang-batang pohon tersebut. Tapi pada momen itu tiba-tiba dari kiri-kanan jalan mendapat serangan mendadak, dengan berbagai macam senjata, maka suara-suara ledakan granatpun mengguncang suasana kampung yang sepi didaerah tersebut.
Menjelang daerah Gekbrong, terjadi lagi pertempuran yang seru, dan berlangsung cukup lama. Sebuah tank Sherman mogok diwaktu mendaki suatu tanjakan. Pengemudinya terpaksa harus turun, tapi begitu kepalanya nonggol disambut dengan tembakan bedil beaumont, maka pelurunya langsung memecahkan kepala serdadu tersebut.
Beberapa truk berusaha untuk menyalip tank yang mogok, akan tetapi salah satu truk yang nekad menggilas ranjau darat, truk meledak terlontar ke udara. Serdadu-serdadu yang berada di atas truk hancur porak poranda. Salah satu sepatu serdadu Batalyon Rajputana Rifles, jatuh tepat didepan wajah salah seorang prajurit pasukan Kompi Kapten Musa Natakusumah. Memperhatikan sepatu yang masih lengkap berisi sepotong kaki yang berlumuran darah, prajurit tersebut menyeringai sambil sambil bergidik.
Ternyata bahwa pihak Sekutu selain mendatangkan bala-bantuan dari Bogor yang melalui Cigombong-Cibadak, mereka juga mengirim bantuan pasukan yang diperkuat dengan pasukan tank-tank tempur, kendaraan lapis baja dan brencarrier yang lewat Ciawi-Puncak-Cianjur.
Ketika prajurit-prajurit dari Batalyon 3 TRI, melakukan serangan terhadap sepenggal iring-iringan konvoy musuh, tiba-tiba datang iring-iringan musuh yang lain, ialah bala bantuan dari Bogor yang melalui Puncak. Muncul dari arah Cugenang. Dalam pertempuran ini dari pihak Indonesia telah gugur 11 orang perajurit, sedangkan dari pihak lawan menderita kerugian beberapa truk telah hancur dan seorang serdadu musuh tertawan. Jumlah yang tewas dan luka-luka dari pihak musuh tidak diketahui.
Karena dianggap beresiko tinggi Tentara Sekutu tidak jadi untuk menduduki Sukabumi. Setelah mengalami pertempuran 3 hari, mereka melangsungkan gerakannya ke arah Cianjur. Di daerah Sukaraja, kembali mendapat serangan dari Batalyon Field Preparation (FP) Resimen 3 TRI dibawah komando Kapten Effendy Pandjipurnama, bersama dengan Barisan Pejuang Rakyat setempat.
Pada tanggal 13 Maret 1946, Komandan Divisi ke-23 Tentara Inggris di Bandung juga memerintahkan Brigadier N.D.Wingrove untuk membantu kelancaran jalannya konvoy dari Sukabumi menuju Bandung dengan kekuatan pasukan Brigade I, yang terdiri dari 2 Kompi Pasukan Zeni tempur, disertai dengan satuan-satuan pengawalnya.
Sepanjang rute perjalanan menuju Bandung pertempuran terus berkecamuk di sekitar Cisokan, Citarum dan Purabaya. Asrama-asrama pasukan kita ditembaki dengan meriam. Di daerah Padalarang musuh mengadakan pembersihan sampai jauh sekelilingnya. Beberapa perwira TRI tertawan antara lain Mayor Sidik Brotoatmojo. Kepala Staf Resimen 9.
Brigade ke-37 Tentara Sekutu yang berada di Bandung melakukan aksi besar-besaran, mulai dari Cimahi sampai Padalarang, menyerang kedudukan-kedudukan kita.
Keadaan menjadi kacau-balau, hubungan antara pasukan kita menjadi terputus, yang diketahui hanyalah telah terjadi pertempuran yang terus menerus antara daerah Ciranjang dan Padalarang. Kerugian di pihak musuh tidak jelas, namun kabarnya mereka menderita kerugian sampai ratusan serdadunya telah tewas.
Hubungan Bogor-Sukabumi-Cianjur, akhirnya dibatalkan. Mereka lebih mengutamakan hubungan Bogor-Cianjur melalui Puncak. Mereka mendirikan pos-2 pengamanan sepanjang jalan ini. Sedangkan di Cianjur telah ditempatkan kurang lebih 1 Batalyon Tentara Sekutu untuk mengamankan daerah tersebut.
Serangan malam hari terhadap Tentara Sekutu di kota Sukabumi, telah menimbulkan korban di pihak mereka : Pada hari pertama, tewas 2 orang opsir Inggris dan 26 serdadu India. Pada hari kedua tewas 3 orang opsir Inggris, 1 orang opsir India dan 37 orang serdadu India.
Konvoy besar Tentara Sekutu, yang berangkat tanggal 10 Maret 1946, dari Jakarta, dengan pengawalan dari Batalyon Patiala, dibawah pimpinan Letkol Bikram Dev Singh Gill, tiba di Bandung pada tanggal 15 Maret 1946, dalam keadaan porak poranda, kendaraan-kendaraanya banyak yang rusak, truk-truknya pada bolong-bolong, akibat tembakan para pejuang kita disepanjang perjalanan.
Baiklah kita simak lagi catatan dari Letkol A.J.F. Doulton, sebagai berikut :
“Happily for us, this battle was the end of heavy casualties, but it was no final strom which left the air clear and there was not much rest for the troops.”
(“Syukurlah, ini adalah jumlah korban besar yang terakhir yang kami alami dalam pertempuran, namun ini bukan badai terakhir dan pasukan tidak cukup mendapat istirahat”)
Quote:
Sumber:http://danizmi.blogspot.com/2012/11/sejarah-pertempuran-bojong-
Quote:
Video Pertempuran di Bojongkokosan
Diubah oleh mabdulkarim 09-08-2014 13:56
0
Kutip
Balas