- Beranda
- Stories from the Heart
pacarannya doang yang 9 tahun
...
TS
xxnonaxx
pacarannya doang yang 9 tahun
Hay gan selamat malam menjelang pagi. Sebelumnya maaf, awalnya threadnya ada disini. Maklum karena newbie dan belum paham soal perkaskus-an jadinya salah kamer hehe
sebagai newbie seperti saya, pasti bingung juga secara tab forumnya kaskus banyak banget kan
. Banyak yang bilang suruh pindahin kesini daripada ntar dihapus, semoga aja sekarang udah bener ya
kalau masih salah tolong kasih tau lagi ya gan, kedepannya semoga aja kaskus ada fitur move threadnya supaya ga manual ngetik lagi kaya gini hehe 
Yuk mulai aja gan. Maaf lagi gan kalau ini panjang banget
Ini mau share cerita saya yang sebenernya tragis dan malu2-in
yang diperparah belakangan ini malah jadi ngebingungin gan
. Pertama, ini adalah surat yang lumayan panjang yang dikirim sama mantan pacar saya. Maaf lagi gan panjang hehe baca ya gan 
Udah gan? Makasih ya gan
. Dithread sebelumnya, saya udh bilang kalau saya udah pacaran 9 tahun. Dan ini bukan sesuatu yang harus dibanggain
. Sebelum agan ngata-ngatain ke tolol-an saya. Agan dengerin lagunya crosbottom yang judulnya 9 tahundulu ya, abis itu agan boleh baca cerita saya. Mohon maaf lagi kalau bakal banyak banget hehe maklum gan kejadiannya selama 9 tahun. Siapin kopi dulu gan
. Dibaca ya gan dibawah tapi 
part 1
part 2
part 3
part 4
part 5
part 6
sebagai newbie seperti saya, pasti bingung juga secara tab forumnya kaskus banyak banget kan
. Banyak yang bilang suruh pindahin kesini daripada ntar dihapus, semoga aja sekarang udah bener ya
kalau masih salah tolong kasih tau lagi ya gan, kedepannya semoga aja kaskus ada fitur move threadnya supaya ga manual ngetik lagi kaya gini hehe 
Yuk mulai aja gan. Maaf lagi gan kalau ini panjang banget
Ini mau share cerita saya yang sebenernya tragis dan malu2-in
yang diperparah belakangan ini malah jadi ngebingungin gan
. Pertama, ini adalah surat yang lumayan panjang yang dikirim sama mantan pacar saya. Maaf lagi gan panjang hehe baca ya gan 
Spoiler for buka ya gan:
Kekasih hatiku yang baik hati, tak terasa sudah ribuan hari aku jalanin waktu cuman sama kamu. Selama ribuan hari itu hanya kamu yang membuat warna pink di hati aku. Membuat semuanya menjadi lebih mudah dari apa yang pernah aku tahu susah sebelumnya. Seorang kekasih, yang merangkap seorang teman; teman berbisnis, teman bermain, teman beradu pendapat, teman bertukar pikiran, teman pelampiasan, teman mengadu, seorang adik yang baik, seorang psikolog yang pandai memberi masukan atas semua masalah aku, atau manusia jahat yang bisa bikin aku menangis semalaman. Kamu bisa jadi semua itu, aku suka semua yang ada di diri kamu.
Kekasih hatiku yang baik hati, aku tau, aku tau kamu bosan mendengar kata I love you yang sering aku ucap, tapi tolong dengar dan jawablah. Karena aku akan tetap melakukan itu selama aku mencintaimu terus dan terus sampai aku tak tau lagi kata apa yang harus aku katakan kepadamu.
Kekasih hatiku yang baik hati, Rasanya baru kemarin aku ketemu kamu di warung soto dan dengan malu2 ajak kamu pulang. Rasanya baru kemarin juga aku terima telfon kamu yang cuman mau dengar Halo dari aku. Rasanya baru kemarin seluruh badan aku kedinginan karena aku takut ketemu sama kamu. Kenapa aku bisa sampai kaya gini? Dan aku masih merasa seperti baru terjadi di hari kemarin ketika lampu teras di matikan ibu dan kamu pergi naik motor aku yang agak berisik itu hanya dengan uang seribu di kantong aku. Rasanya baru kemarin juga aku bahagia karena kamu juga bilang cinta sama aku.
Kekasih hatiku yang baik hati, hari ini sudah entah keberapa hari setelah ban motor aku 2 kali pecah sehabis aku minta kamu jadi pacar aku. Setelah aku melihat kamu terheran-heran setelah tau bagaimana itu pantai yang ternyata bau dan gersang sekali. Setelah aku sering menangis, setelah aku sering tertawa, setelah amarahku, Setelah kata pisah yang gampang sekali aku ucapkan yang ternyata tak bisa juga memisahkan cinta aku sama kamu.
Kekasih hatiku yang baik, aku mohon maaf kepadamu kalau aku membuatmu jengkel atau badmood seharian. Seperti kita tahu, tak satu pun di dunia ini akan sama lagi jika kau sudah pernah melihatnya sebelumnya. Seperti kamu dan aku, setiap hari kita menjadi dua orang yang berbeda. Setiap hari kita berubah dan setiap hari aku berusaha mengenal sisi dirimu yang lain, yang berubah itu, dan setiap hari juga aku mengagumi dirimu yang berubah dan tidak sama lagi: mungkin rambutmu bertambah panjang sekian milimeter, mungkin jerawatmu pecah, mungkin matamu memerah, mungkin alismu terlihat lebih kusut daripada hari sebelumnya, mungkin kau lebih wangi atau justru agak bau, mungkin kau terlihat sedang kesal, mungkin kau begitu cantik dan ceria—aku selalu jatuh cinta pada perubahan-perubahanmu, itulah sebabnya setiap hari aku selalu jatuh cinta padamu. Lagi dan lagi. Tapi, bila kelak kamu menyaksikan perubahan diriku, saat aku nanti jadi jelek dan bau, dan miskin, dan berantakan, dan kendur, dan sakit-sakitan, dan kantung mataku semakin membesar dan hitam, dan mulutku yang bisu, dan kakiku yang tidak lagi bisa berjalan, dan gigiku ompong, dan ada peristiwa yang bisa membuatku begitu, apakah kau masih akan tetap mencintaiku?
Kekasih hatiku yang baik hati, Aku sama kamu mungkin gak seperti cerita Aladdin and Jasmine di lagu yang kamu nyanyiin, yang menyatukan cinta di atas semua perbedaan dan pertentangan akan hubungan mereka. Tidak juga seperti Radit dan Jani yang hidup berantakan di atas cinta mereka. Kamu hanya Mutya dan aku Afri yang sudah hampir gila karena terus mencintai kamu. Bukankah aku benar kalau kamu benar mencintaiku? Bukan sekedar kata2 dan bualan dari mulut kamu itu kan?
Kekasih hatiku yang baik hati, Sungguh, aku benar-benar takut jika kamu mungkin tidak akan ada lagi di samping aku. Nggak lagi nemenin kamu telfon. Engga ada lagi kamu di kursi itu dan nungguin aku futsal atau narikin rambut aku kalau aku lagi pusing. Aku juga ngga akan lagi datang bawa brownis Amanda kesukaan kamu atau duduk bersama makan oseng kangkung yang keasinan itu. Sungguh aku benar-benar takut ketika suatu hari kamu nggak lagi kenal sama aku. Ketika semua cerita ini cuman menjadi satu file di kardus tempat buku2 bekas kamu.
Ah kekasih hatiku yang baik hati, kalau memang hari itu akan tiba. Hari disaat kamu akan melepasku dan kita tidak akan bertemu lagi dalam jangka waktu yang lama, tolong jangan lupakan semua cerita yang pernah aku dan kamu buat. Jangan pernah tinggalkan aku di dalam kardus hatimu, jangan! Tinggalkan saja di hatimu. Tolong berikan ruang sedikit untuk nama aku tinggal. Dan nanti ketika kamu bertemu denganku, sapalah! Sungguh, aku pasti masih akan sangat mengenalmu.
Kekasih hatiku yang baik hati, mengapa aku begitu khawatir. Mengapa aku begitu takut ketika suatu hari nanti aku akan pergi lagi di kota yang sangat jauh. Kota yang tidak pernah aku kenal, kota yang tidak aku tahu juga masyarakatnya. Tolong! Aku akan sangat minta tolong! Tolong jangan khianati aku. Tolong terus jaga hati kamu hanya untuk aku. Seperti aku akan menjaga hati kamu. Aku akan selalu menjaga hati kamu. Selalu. Tolong pegang janji aku!
Kekasih hatiku yang baik hati, berdiam dirilah sejenak ketika aku sudah pergi jauh nanti, ketika kamu hendak berpaling dan melihat pria yang jauh lebih segalanya dari aku. Tolong, aku harap berdiam dirilah sejenak! Tolong ingat semua yang sudah kita lakukan. Ingatlah ketika kamu menangis dan bilang “aku nggak bisa tanpa kamu”, karena sesungguhnya akupun ngga bisa kalau harus tanpa kamu. Bukankah masalah kita hanya jarak. Bukankah walaupun kita berjauhan kita masih bisa melihat bulan yang sama? Benar kan kalau kita masih akan bisa melihat bulan yang sama? Jadi, tolong hentikan niatan untuk berpaling dan melihat pria lain di saat aku sudah jauh.
Kekasih hatiku yang baik hati, Tetapi, kalau itu tidak bisa menghentikan niatmu untuk berpaling, aku hanya berharap semoga pria itu jauh lebih baik dari aku dan semoga dia akan terus menjagamu dan tidak membiarkanmu berpaling lagi seperti aku yang tidak bisa menjagamu. Mungkin kamu akan marah aku bilang begini, tapi, bukankah berkata nanti akan lebih menyakitkan? Bukankah lebih baik sekarang berkata? Dan kekasihku, aku tidak akan pernah mengehentikan kamu jika suatu hari nanti kamu menemukan pria yang mungkin lebih baik dari aku. Bilanglah padaku dan aku akan merelakan kamu dan juga aku berjanji tidak akan lagi mengusik hidup kamu. Tapi seperti aku bilang sebelumnya, tolong ingat aku!
Kekasih hatiku yang baik hati, hari ini sudah 2000 hari! Apa kamu ingat? Kamu bahagia? Aku sangat bahagia. Aku tau tidak ada perayaan meriah di hari jadi kita yang ke delapan tahun, tahun ini, aku nggak punya cukup uang untuk pulang dan membuat perayaan atau sekedar mengirimu bunga seperti tahun-tahun lalu. Aku juga tidak berharap kamu memberiku sesuatu. Aku tau, aku gak bisa jadi laki-laki romantis dengan bunga, cokelat, atau boneka. Aku cuman bisa mencuri cokelat pernikahan mas ari yang sengaja aku curi dari pisin. Kamu tau, cokelat yang kamu makan adalah cokelat terbaik yang enak.
Kekasih hatiku yang baik hati, aku gak akan berdoa dan berharap tahun depan masih bisa bertemu lagi dengan kamu. Aku tidak akan bilang kalau “tahun depan bertemu lagi dengan aku ya”. Itu akan sangat memberatkanmu. Aku tidak pernah memaksamu untuk mencintaiku. Aku mencintaimu bukan berarti kamu juga harus sama mencintai aku. Aku hanya ingin kamu tau kalau aku mencintaimu sekarang saat aku tulis ini, aku sangat mencintai kamu. Dan tolong jangan ucapkan kalau kamu akan bertemu aku di tahun depan. Karena jika itu tidak terjadi, aku akan sangat sedih. Percayalah, tanpa berkata begitupun, aku akan berusaha menjagamu agar kita bertemu di tahun depan. Aku tidak akan mengucapkanya, aku hanya akan berusaha untuk mewujudkannya.
Kekasih hatiku yang baik hati, Aku tahu kamu pemalas dan aku mohon maaf karena aku menuliskannya terlalu panjang. Suatu saat nanti, di saat kita sudah berjauhan, di saat kata I love you bukan lagi dari mulut aku, dan di saat mungkin kamu sudah menimang anak, menjadi ibu dari anak-anak yang sangat mencintaimu, juga membuat sarapan untuk suami masa depanmu, tolong aku ingin kau membacanya sekali lagi. Mungkin akan agak sulit bagimu menyelesaikan membacanya, sebab terlalu panjang dan berbelit-belit dan juga tidak lagi penting. Tapi kumohon, bersabarlah, bacalah pelan-pelan sampai selesai.
Kekasih hatiku yang baik hati, Inilah surat yang kutulis untukmu saat usiaku dua hari lagi menjadi dua puluh tiga dan kau baru dua puluh. Saat kelak kaubaca lagi suratku ini, jika kelak kau tak sengaja menemukannya di antara tumpukkan benda-benda usang yang lain, kumohon padamu jangan mengabaikannya, bukalah lipatannya dan bacalah pelan-pelan agar kau bisa menangkap pesanku dengan jelas. Walaupun aku sulit mengingat, tapi inilah surat yang aku tulis untuk hari ke 2000 kita. Ingatlah nama aku, saat kita pertama kali bertemu dan saling menatap dengan senyum simpul yang malu-malu, saat betapa sulitnya aku menyebut namamu yang panjang dan mengakui bahwa aku jatuh cinta padamu. Kalau saat itu datang padamu, saat ketika kau membaca surat ini di masa yang akan datang, mungkin aku sudah sangat tua dan rapuh dan terbaring lemah di tempat tidurku atau barangkali aku sudah tiada, atau mungkin aku masih bisa menemanimu membaca ini. Berbaik hatilah, segeralah jawab pertanyaanku: apakah kau masih ingat namaku? Apa kau ingat aku pernah sangat mencintaimu?
Kekasih hatiku yang baik hati, aku tau, aku tau kamu bosan mendengar kata I love you yang sering aku ucap, tapi tolong dengar dan jawablah. Karena aku akan tetap melakukan itu selama aku mencintaimu terus dan terus sampai aku tak tau lagi kata apa yang harus aku katakan kepadamu.
Kekasih hatiku yang baik hati, Rasanya baru kemarin aku ketemu kamu di warung soto dan dengan malu2 ajak kamu pulang. Rasanya baru kemarin juga aku terima telfon kamu yang cuman mau dengar Halo dari aku. Rasanya baru kemarin seluruh badan aku kedinginan karena aku takut ketemu sama kamu. Kenapa aku bisa sampai kaya gini? Dan aku masih merasa seperti baru terjadi di hari kemarin ketika lampu teras di matikan ibu dan kamu pergi naik motor aku yang agak berisik itu hanya dengan uang seribu di kantong aku. Rasanya baru kemarin juga aku bahagia karena kamu juga bilang cinta sama aku.
Kekasih hatiku yang baik hati, hari ini sudah entah keberapa hari setelah ban motor aku 2 kali pecah sehabis aku minta kamu jadi pacar aku. Setelah aku melihat kamu terheran-heran setelah tau bagaimana itu pantai yang ternyata bau dan gersang sekali. Setelah aku sering menangis, setelah aku sering tertawa, setelah amarahku, Setelah kata pisah yang gampang sekali aku ucapkan yang ternyata tak bisa juga memisahkan cinta aku sama kamu.
Kekasih hatiku yang baik, aku mohon maaf kepadamu kalau aku membuatmu jengkel atau badmood seharian. Seperti kita tahu, tak satu pun di dunia ini akan sama lagi jika kau sudah pernah melihatnya sebelumnya. Seperti kamu dan aku, setiap hari kita menjadi dua orang yang berbeda. Setiap hari kita berubah dan setiap hari aku berusaha mengenal sisi dirimu yang lain, yang berubah itu, dan setiap hari juga aku mengagumi dirimu yang berubah dan tidak sama lagi: mungkin rambutmu bertambah panjang sekian milimeter, mungkin jerawatmu pecah, mungkin matamu memerah, mungkin alismu terlihat lebih kusut daripada hari sebelumnya, mungkin kau lebih wangi atau justru agak bau, mungkin kau terlihat sedang kesal, mungkin kau begitu cantik dan ceria—aku selalu jatuh cinta pada perubahan-perubahanmu, itulah sebabnya setiap hari aku selalu jatuh cinta padamu. Lagi dan lagi. Tapi, bila kelak kamu menyaksikan perubahan diriku, saat aku nanti jadi jelek dan bau, dan miskin, dan berantakan, dan kendur, dan sakit-sakitan, dan kantung mataku semakin membesar dan hitam, dan mulutku yang bisu, dan kakiku yang tidak lagi bisa berjalan, dan gigiku ompong, dan ada peristiwa yang bisa membuatku begitu, apakah kau masih akan tetap mencintaiku?
Kekasih hatiku yang baik hati, Aku sama kamu mungkin gak seperti cerita Aladdin and Jasmine di lagu yang kamu nyanyiin, yang menyatukan cinta di atas semua perbedaan dan pertentangan akan hubungan mereka. Tidak juga seperti Radit dan Jani yang hidup berantakan di atas cinta mereka. Kamu hanya Mutya dan aku Afri yang sudah hampir gila karena terus mencintai kamu. Bukankah aku benar kalau kamu benar mencintaiku? Bukan sekedar kata2 dan bualan dari mulut kamu itu kan?
Kekasih hatiku yang baik hati, Sungguh, aku benar-benar takut jika kamu mungkin tidak akan ada lagi di samping aku. Nggak lagi nemenin kamu telfon. Engga ada lagi kamu di kursi itu dan nungguin aku futsal atau narikin rambut aku kalau aku lagi pusing. Aku juga ngga akan lagi datang bawa brownis Amanda kesukaan kamu atau duduk bersama makan oseng kangkung yang keasinan itu. Sungguh aku benar-benar takut ketika suatu hari kamu nggak lagi kenal sama aku. Ketika semua cerita ini cuman menjadi satu file di kardus tempat buku2 bekas kamu.
Ah kekasih hatiku yang baik hati, kalau memang hari itu akan tiba. Hari disaat kamu akan melepasku dan kita tidak akan bertemu lagi dalam jangka waktu yang lama, tolong jangan lupakan semua cerita yang pernah aku dan kamu buat. Jangan pernah tinggalkan aku di dalam kardus hatimu, jangan! Tinggalkan saja di hatimu. Tolong berikan ruang sedikit untuk nama aku tinggal. Dan nanti ketika kamu bertemu denganku, sapalah! Sungguh, aku pasti masih akan sangat mengenalmu.
Kekasih hatiku yang baik hati, mengapa aku begitu khawatir. Mengapa aku begitu takut ketika suatu hari nanti aku akan pergi lagi di kota yang sangat jauh. Kota yang tidak pernah aku kenal, kota yang tidak aku tahu juga masyarakatnya. Tolong! Aku akan sangat minta tolong! Tolong jangan khianati aku. Tolong terus jaga hati kamu hanya untuk aku. Seperti aku akan menjaga hati kamu. Aku akan selalu menjaga hati kamu. Selalu. Tolong pegang janji aku!
Kekasih hatiku yang baik hati, berdiam dirilah sejenak ketika aku sudah pergi jauh nanti, ketika kamu hendak berpaling dan melihat pria yang jauh lebih segalanya dari aku. Tolong, aku harap berdiam dirilah sejenak! Tolong ingat semua yang sudah kita lakukan. Ingatlah ketika kamu menangis dan bilang “aku nggak bisa tanpa kamu”, karena sesungguhnya akupun ngga bisa kalau harus tanpa kamu. Bukankah masalah kita hanya jarak. Bukankah walaupun kita berjauhan kita masih bisa melihat bulan yang sama? Benar kan kalau kita masih akan bisa melihat bulan yang sama? Jadi, tolong hentikan niatan untuk berpaling dan melihat pria lain di saat aku sudah jauh.
Kekasih hatiku yang baik hati, Tetapi, kalau itu tidak bisa menghentikan niatmu untuk berpaling, aku hanya berharap semoga pria itu jauh lebih baik dari aku dan semoga dia akan terus menjagamu dan tidak membiarkanmu berpaling lagi seperti aku yang tidak bisa menjagamu. Mungkin kamu akan marah aku bilang begini, tapi, bukankah berkata nanti akan lebih menyakitkan? Bukankah lebih baik sekarang berkata? Dan kekasihku, aku tidak akan pernah mengehentikan kamu jika suatu hari nanti kamu menemukan pria yang mungkin lebih baik dari aku. Bilanglah padaku dan aku akan merelakan kamu dan juga aku berjanji tidak akan lagi mengusik hidup kamu. Tapi seperti aku bilang sebelumnya, tolong ingat aku!
Kekasih hatiku yang baik hati, hari ini sudah 2000 hari! Apa kamu ingat? Kamu bahagia? Aku sangat bahagia. Aku tau tidak ada perayaan meriah di hari jadi kita yang ke delapan tahun, tahun ini, aku nggak punya cukup uang untuk pulang dan membuat perayaan atau sekedar mengirimu bunga seperti tahun-tahun lalu. Aku juga tidak berharap kamu memberiku sesuatu. Aku tau, aku gak bisa jadi laki-laki romantis dengan bunga, cokelat, atau boneka. Aku cuman bisa mencuri cokelat pernikahan mas ari yang sengaja aku curi dari pisin. Kamu tau, cokelat yang kamu makan adalah cokelat terbaik yang enak.
Kekasih hatiku yang baik hati, aku gak akan berdoa dan berharap tahun depan masih bisa bertemu lagi dengan kamu. Aku tidak akan bilang kalau “tahun depan bertemu lagi dengan aku ya”. Itu akan sangat memberatkanmu. Aku tidak pernah memaksamu untuk mencintaiku. Aku mencintaimu bukan berarti kamu juga harus sama mencintai aku. Aku hanya ingin kamu tau kalau aku mencintaimu sekarang saat aku tulis ini, aku sangat mencintai kamu. Dan tolong jangan ucapkan kalau kamu akan bertemu aku di tahun depan. Karena jika itu tidak terjadi, aku akan sangat sedih. Percayalah, tanpa berkata begitupun, aku akan berusaha menjagamu agar kita bertemu di tahun depan. Aku tidak akan mengucapkanya, aku hanya akan berusaha untuk mewujudkannya.
Kekasih hatiku yang baik hati, Aku tahu kamu pemalas dan aku mohon maaf karena aku menuliskannya terlalu panjang. Suatu saat nanti, di saat kita sudah berjauhan, di saat kata I love you bukan lagi dari mulut aku, dan di saat mungkin kamu sudah menimang anak, menjadi ibu dari anak-anak yang sangat mencintaimu, juga membuat sarapan untuk suami masa depanmu, tolong aku ingin kau membacanya sekali lagi. Mungkin akan agak sulit bagimu menyelesaikan membacanya, sebab terlalu panjang dan berbelit-belit dan juga tidak lagi penting. Tapi kumohon, bersabarlah, bacalah pelan-pelan sampai selesai.
Kekasih hatiku yang baik hati, Inilah surat yang kutulis untukmu saat usiaku dua hari lagi menjadi dua puluh tiga dan kau baru dua puluh. Saat kelak kaubaca lagi suratku ini, jika kelak kau tak sengaja menemukannya di antara tumpukkan benda-benda usang yang lain, kumohon padamu jangan mengabaikannya, bukalah lipatannya dan bacalah pelan-pelan agar kau bisa menangkap pesanku dengan jelas. Walaupun aku sulit mengingat, tapi inilah surat yang aku tulis untuk hari ke 2000 kita. Ingatlah nama aku, saat kita pertama kali bertemu dan saling menatap dengan senyum simpul yang malu-malu, saat betapa sulitnya aku menyebut namamu yang panjang dan mengakui bahwa aku jatuh cinta padamu. Kalau saat itu datang padamu, saat ketika kau membaca surat ini di masa yang akan datang, mungkin aku sudah sangat tua dan rapuh dan terbaring lemah di tempat tidurku atau barangkali aku sudah tiada, atau mungkin aku masih bisa menemanimu membaca ini. Berbaik hatilah, segeralah jawab pertanyaanku: apakah kau masih ingat namaku? Apa kau ingat aku pernah sangat mencintaimu?
Udah gan? Makasih ya gan
. Dithread sebelumnya, saya udh bilang kalau saya udah pacaran 9 tahun. Dan ini bukan sesuatu yang harus dibanggain
. Sebelum agan ngata-ngatain ke tolol-an saya. Agan dengerin lagunya crosbottom yang judulnya 9 tahundulu ya, abis itu agan boleh baca cerita saya. Mohon maaf lagi kalau bakal banyak banget hehe maklum gan kejadiannya selama 9 tahun. Siapin kopi dulu gan
. Dibaca ya gan dibawah tapi 
INDEXNYA GAN 

part 1
part 2
part 3
part 4
part 5
part 6
Diubah oleh xxnonaxx 01-08-2014 04:09
anasabila memberi reputasi
1
10.8K
Kutip
67
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
xxnonaxx
#1
satu
Spoiler for 1:
11 tahun yang lalu cerita ini dimulai, dimulai waktu aku baru aja masuk di salah satu SMP di salah satu kota di perbatasan jawa barat. Tahun itu tahun 2003, SMP saat itu masih pake kurikulum 1994, anak-anak SMP masih culun dengan rok di bawah lutut yang kegedean, waktu itu harga es krim KFC masih seribu rupiah, gramedia adalah tempat paling gaul buat janjian, facebook juga belum ada, jadi anak-anak SMP cuman bisa curi2 pandang gebetan yang pasti bakal bikin melting semalaman. Handphone yang ngetrend nokia 2100 dan itu udh yang paling keren yang di belakangnya bisa di taro pas foto 2x3, daaaan gantungannya bisa kerlap-kerlip kalau ada sms masuk.
Cepetnya aku udah duduk di kelas 7 tahun 2003, inget sekali aku duduk di bangku di samping pintu dan itu sangat mengganggu. Kenapa mengganggu karena setiap ada orang yang lewat di depan kelas, aku selalu nengok pengen tau siapa yang lewat hahaha (bahasa kepo masa itu belum ada). Aku punya teman baik namanya Vina dan Rara, Rara pake kacamata, mukanya bulettt banget, kalau Vina mukanya lucu kaya bule yang banyak bintiknya. Kami berteman sangat dekat, dari SD kita bertiga udah satu sekolah.
Hari itu hari Sabtu semua anak kelas 7 di kumpulin di lapangan untuk di peloco (dilatih) untuk persiapan kemping minggu depan. Aku, Rara, sama Vina udah mutusin gak bakal ikut kemping itu. Alasanya cuman satu : “Kita bertiga takut”. Di depan, kakak-kakak pramuka udah teriak marah-marah tentang atribut yang ga lengkaplah, posisi berdiri yang ketuker antara yang pendek sampe yang tinggi, sampe hal sepele iket pita nyawa yang bawahnya ga di bakar. Sampe ada anak yang dipaksa disuruh meninggal dengan tiduran di depan dan ditaburin bunga sama kakak-kakak pramuka karena iket pita yang artinya nyawa nya udah abis di pretelin. Jadi udah ngerti kan kenapa kita bertiga takut dan ga mau ikut kemping? Hehehe
Saat semua lagi kacau-kacaunya dan di marahin abis2 an sama kakak2 pramuka, aku yang kepanasan sempetin nengok ke belakang dan bilang ke Vina untuk tiupin leher aku yang kepanasan.
“Vin tiupin leher aku, panas!!!” kata aku bisik-bisik. “semenit aja”
“Emong ah takut,” kata Vina yang ga mau ngeliat aku.
“Vin mau pingsan tau, buruan tiupin,” waktu aku lagi ngomong ini ada kakak-kakak ganteng yang baju pramukanya keluar-keluar dan ga pake kacu lagi ngeliat aku dari belakang dan jalan nyamperin aku.
“Kenapa? Ga tau lagi sikap siap?” kata mas-mas yang menurut aku ganteng pada masanya itu, dia petangtang-petengteng sambil nyentak2.
Aku diem aja.
“Mutya,” kata mas-mas ganteng. “Ikut kemping ga kamu?”
Aku masih diem, kan emang kalau sikap siap harus diem toh?
“Ga denger? Saya tanya kamu, kamu ikut kemping tidakkkkkk?” suaranya di tekan dan melengking di belakang.
“Enggak kak”
“Enggakkkkk?” dia muter-muter ngelilingin aku. “Enggak? Kenapa bisa enggak? Kamu takut? Atau kamu sakit atau kamu lemah?”
“Minggu depan saya ada acara keluarga kak”
Dari arah lain ada kakak perempuan nyamperin aku yang lagi di marahin sama mas-mas ganteng ini. Terus dia langsung ngedorong mas ganteng itu.
“Ngapain ira (ini bahasa daerahku ya gan hehe)? Sana-sana pulang udah sore”
“Dih ya emang ira aja yang marah-marah kita juga bisa kali,” kata dia. “Nih anak ini ga ikut kemping,” Sambil nunjuk2 name tag aku.
Kakak perempuan ini langsung beringas kaya macan dan maju ke depan terus berdiri ke podium buatan. “Perhatian semuanya! Temen kalian ada yang ga ikut kemping minggu depan dan dia masih berani-beraninya ikut kita latihan. Dia mau pake nomor kode (nomor kode sekolah yang ada di baju pramuka) tapi gak mau ikutan kemping! Menurut kalian dia berhak gak pake kode itu?” aku di barisan udah deg-deg-an, mas2 ganteng udah ketawa aja, Vina nonjok punggung aku. “Disini yang ada di barisan, ada yang gak ikut kemping minggu depan? Coba keluar barisan!”
Ga ada satupun anak yang keluar barisan termasuk si Vina sama Rara yang udah jelas gak ikut juga. Aku udah keringet dingin. (Oh iya gan masa-masa SMP dibentak2 seperti itu hal yang nakutin loh gan).
“Mutya maju ke depan,” aku udah mau nangis dan mau telfon mamah aja minta di jemput haha tapi akhirnya aku mau juga maju ke depan. “Berdiri hadap depan”
Aku nurut aja terus apa kata dia, kakak perempuan itu marahin aku di depan anak-anak seangkatan aku saat itu. Mas-mas ganteng yang bajunya berantakan nyamperin kakak perempuan terus bisik-bisik. Aku ga denger bisikin apa tapi feeling aku bilang aku bakal di permaluin, bener aja kakak perempuan itu nyuruh aku nembak mas-mas ganteng sebagai hukuman aku gak ikut kemping minggu depan. Padahal kata kakak2 kelas dua di marching aku bilang, gapp kalau ga ikut kemping, lagian masih boleh pake kode sekolah itu kok.
“Nembaknya gimana?” kata aku udh sinis.
“Ya tembak aja sampe dia terima kamu,” dia narik mas-mas ganteng dan maksa aku hadap-hadapan sama dia. “jangan cengir2 ira,” kata kakak perempuan itu ke kakak2 ganteng sambil nahan tawa juga.
Aku langsung to the point aja karena pasti ini udh bahan guyonan kakak-kakak pramuka, “Ka mau gak jadi pacar aku?”
“Kamu emang ga mau tau dulu nama aku siapa? Kelas berapa?” kata mas-mas ganteng yang bikin kakak-kakak pramuka nyorakin dan tepuk tangan. “Masa iya kamu nembak aku tapi gak tau apa2 tentang aku?” siulan2 tambah rame lagi.
“Iya kakak namanya siapa dan kelas berapa”
Sambil salamin aku dia bilang “Afri kelas 9E,” dia udah nahan tawa juga. “Kamu mau jadi pacar aku? Nih aku iyain,” dia nyium tangannya terus di tempel di pipi aku. Dia langsung lari dan teriakan mulai membahana kembali.
Aku malu setengah mati dan beberapa hari berikutnya, adegan memalukan itu jadi gosip di sekolah. Sampe-sampe mamang bakso yang aku datengin di kantin juga nanyain hubungan aku sama laki-laki dengan nama Afri yang aku sendiri gak tau juntrungannya siapa.
Cepetnya aku udah duduk di kelas 7 tahun 2003, inget sekali aku duduk di bangku di samping pintu dan itu sangat mengganggu. Kenapa mengganggu karena setiap ada orang yang lewat di depan kelas, aku selalu nengok pengen tau siapa yang lewat hahaha (bahasa kepo masa itu belum ada). Aku punya teman baik namanya Vina dan Rara, Rara pake kacamata, mukanya bulettt banget, kalau Vina mukanya lucu kaya bule yang banyak bintiknya. Kami berteman sangat dekat, dari SD kita bertiga udah satu sekolah.
Hari itu hari Sabtu semua anak kelas 7 di kumpulin di lapangan untuk di peloco (dilatih) untuk persiapan kemping minggu depan. Aku, Rara, sama Vina udah mutusin gak bakal ikut kemping itu. Alasanya cuman satu : “Kita bertiga takut”. Di depan, kakak-kakak pramuka udah teriak marah-marah tentang atribut yang ga lengkaplah, posisi berdiri yang ketuker antara yang pendek sampe yang tinggi, sampe hal sepele iket pita nyawa yang bawahnya ga di bakar. Sampe ada anak yang dipaksa disuruh meninggal dengan tiduran di depan dan ditaburin bunga sama kakak-kakak pramuka karena iket pita yang artinya nyawa nya udah abis di pretelin. Jadi udah ngerti kan kenapa kita bertiga takut dan ga mau ikut kemping? Hehehe

Saat semua lagi kacau-kacaunya dan di marahin abis2 an sama kakak2 pramuka, aku yang kepanasan sempetin nengok ke belakang dan bilang ke Vina untuk tiupin leher aku yang kepanasan.
“Vin tiupin leher aku, panas!!!” kata aku bisik-bisik. “semenit aja”
“Emong ah takut,” kata Vina yang ga mau ngeliat aku.
“Vin mau pingsan tau, buruan tiupin,” waktu aku lagi ngomong ini ada kakak-kakak ganteng yang baju pramukanya keluar-keluar dan ga pake kacu lagi ngeliat aku dari belakang dan jalan nyamperin aku.
“Kenapa? Ga tau lagi sikap siap?” kata mas-mas yang menurut aku ganteng pada masanya itu, dia petangtang-petengteng sambil nyentak2.
Aku diem aja.
“Mutya,” kata mas-mas ganteng. “Ikut kemping ga kamu?”
Aku masih diem, kan emang kalau sikap siap harus diem toh?
“Ga denger? Saya tanya kamu, kamu ikut kemping tidakkkkkk?” suaranya di tekan dan melengking di belakang.
“Enggak kak”
“Enggakkkkk?” dia muter-muter ngelilingin aku. “Enggak? Kenapa bisa enggak? Kamu takut? Atau kamu sakit atau kamu lemah?”
“Minggu depan saya ada acara keluarga kak”
Dari arah lain ada kakak perempuan nyamperin aku yang lagi di marahin sama mas-mas ganteng ini. Terus dia langsung ngedorong mas ganteng itu.
“Ngapain ira (ini bahasa daerahku ya gan hehe)? Sana-sana pulang udah sore”
“Dih ya emang ira aja yang marah-marah kita juga bisa kali,” kata dia. “Nih anak ini ga ikut kemping,” Sambil nunjuk2 name tag aku.
Kakak perempuan ini langsung beringas kaya macan dan maju ke depan terus berdiri ke podium buatan. “Perhatian semuanya! Temen kalian ada yang ga ikut kemping minggu depan dan dia masih berani-beraninya ikut kita latihan. Dia mau pake nomor kode (nomor kode sekolah yang ada di baju pramuka) tapi gak mau ikutan kemping! Menurut kalian dia berhak gak pake kode itu?” aku di barisan udah deg-deg-an, mas2 ganteng udah ketawa aja, Vina nonjok punggung aku. “Disini yang ada di barisan, ada yang gak ikut kemping minggu depan? Coba keluar barisan!”
Ga ada satupun anak yang keluar barisan termasuk si Vina sama Rara yang udah jelas gak ikut juga. Aku udah keringet dingin. (Oh iya gan masa-masa SMP dibentak2 seperti itu hal yang nakutin loh gan).
“Mutya maju ke depan,” aku udah mau nangis dan mau telfon mamah aja minta di jemput haha tapi akhirnya aku mau juga maju ke depan. “Berdiri hadap depan”
Aku nurut aja terus apa kata dia, kakak perempuan itu marahin aku di depan anak-anak seangkatan aku saat itu. Mas-mas ganteng yang bajunya berantakan nyamperin kakak perempuan terus bisik-bisik. Aku ga denger bisikin apa tapi feeling aku bilang aku bakal di permaluin, bener aja kakak perempuan itu nyuruh aku nembak mas-mas ganteng sebagai hukuman aku gak ikut kemping minggu depan. Padahal kata kakak2 kelas dua di marching aku bilang, gapp kalau ga ikut kemping, lagian masih boleh pake kode sekolah itu kok.
“Nembaknya gimana?” kata aku udh sinis.
“Ya tembak aja sampe dia terima kamu,” dia narik mas-mas ganteng dan maksa aku hadap-hadapan sama dia. “jangan cengir2 ira,” kata kakak perempuan itu ke kakak2 ganteng sambil nahan tawa juga.
Aku langsung to the point aja karena pasti ini udh bahan guyonan kakak-kakak pramuka, “Ka mau gak jadi pacar aku?”
“Kamu emang ga mau tau dulu nama aku siapa? Kelas berapa?” kata mas-mas ganteng yang bikin kakak-kakak pramuka nyorakin dan tepuk tangan. “Masa iya kamu nembak aku tapi gak tau apa2 tentang aku?” siulan2 tambah rame lagi.
“Iya kakak namanya siapa dan kelas berapa”
Sambil salamin aku dia bilang “Afri kelas 9E,” dia udah nahan tawa juga. “Kamu mau jadi pacar aku? Nih aku iyain,” dia nyium tangannya terus di tempel di pipi aku. Dia langsung lari dan teriakan mulai membahana kembali.
Aku malu setengah mati dan beberapa hari berikutnya, adegan memalukan itu jadi gosip di sekolah. Sampe-sampe mamang bakso yang aku datengin di kantin juga nanyain hubungan aku sama laki-laki dengan nama Afri yang aku sendiri gak tau juntrungannya siapa.
Diubah oleh xxnonaxx 01-08-2014 02:36
0
Kutip
Balas