- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
190.7K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#175
MISTERI VILA BERHANTU
Spoiler for selamat Hari raya Idul Fitri:
Kepala Sekolah hampir saja mematikan lampu mejanya ketika sebuah map tiba-tiba disodorkan oleh seseorang yang sedari tadi hanya duduk diam di meja sebelahnya.
“Apa-apaan nih Fli?,”
Pak Zulkifli, wakilnya menjawab singkat,
“Proposal reuni klub ekstrakulikuler siswa kita,”
“Angkatan berapa?”
“Lulusan tahun 1999,”
“Terus mereka minta dana?”
“Soal uang tidak ada masalah, mereka bisa bayar sendiri, 1 klub menempati 1 vila”
“Lalu?”
“mereka minta Pak Jaka hadir,”
“Oh.... aku lihat dulu, reuninya dimana?”
“Di vila, 3 hari 3 malam. Penjelasannya ada di halaman 30,”
“Ini menarik. Katakan pada ketua panitianya Si Jos...,”
Kata Pak Jaka sambil melihat tanda tangan di bawah halaman pertama,
“Jose Pak,”
“Ya si Jose atau siapalah itu, aku bisa hadir asal tempat menginap tiga orang ini diganti,”
“Tiga orang yang mana Pak?”
“Anak-anak aneh tukang tanya ini,”
“Oh, klub ilmiah. ya...ya..ya saya tahu,”
“Mereka harus pindah, tidak boleh menempati vila yang ada di denah ini,”
“Lalu dipindah kemana Pak,”
“Ke sini,”
Pak Jaka menunjuk gambar bangunan nomor 4 yang dicoret
“Vila itu memnag sengaja dibiarkan kosong Pak, tidak ada yang nyewa selama 10 tahun. Bangunan ini angker sekali,”
“Pokoknya tempatkan mereka di vila yang berhantu, paling berhantu. Titik!”
Kata Pak Jaka sambil menahan amarah.
“Ba...baik Pak!”
“Love you, ”
Kata Eka menutup pembicaraan. Setelah itu ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Di sampingnya, Raka berjalan sambil terus mencari artikel di mesin pencari. Kata-kata yang ia ketikkan di kolom pencarian adalah 'berapa jumlah roda sepeda motor,'
“OMG, Raka. Bukankah soal ini sudah pernah kita bahas 15 tahun lalu?”
Jimi keheranan melihat temannya itu masih menanyakan hal yang sama.
“Itu kan 15 tahun yang lalu, siapa tahu sekarang jawabannya lain. Waktu berlalu, variabel yang mempengaruhi suatu obyek pengamatan jumlahnya juga pasti berubah,”
“Kamu punya motor?”
“Punya,”
“Belinya kapan?”
“Yang satu lima tahun lalu, yang matic minggu lalu,”
“Rodanya ada berapa?”
“Yang sport rodanya dua, terus yang mattic rodanya dua juga,”
“Ya sudah,case closed, QED. Jawabannya ketemu, tidak perlu buang kuota buat browsing giniansegala,”
“Tapi ada kok motor yang rodanya 4,”
Kata Eka nimbrung pembicaraan,
“Dulu aku kan sudah bilang, ATV itu bukan sepeda motor,”
“Tapi bagiku TV itu sepeda motor. Lihat saja setangnya, sama kan dengan setang sepeda motor,”
“Kamu punya laptop dan PC, Ek?”
“Memangnya jaman sekarang, ada yang tidak punya?”
“Lihat saja OS-nya, sama kan? Ada bagian yang sama belum tentu namanya sama,”
Tiba-tiba seorang anggota panitia, seorang anak SMU yang membawa HT (Handie Talkie) menghentikan mereka
“Stop, Mas-mas,Bapak-bapak,”
“Stop artinya berhenti kan?”
“Mengapa menghentikan kami?”
“Apa kami dipindah ke vila lain?”
“Benar, vila Mas dan Bapak sekalian dipindah ke sana,”
“Ke sana itu kemana?”
“Yang paling atas, di puncak bukit. Yang catnya putih itu,”
“Oh...bagus kalau begitu, dari puncak sana pemandangan kota yang ada di bawah lereng pasti lebih indah,”
Mereka memasuki vila nomor empat. Bangunannya cukup luas tetapi interiornya berdebu dan banyak barang berjatuhan di lantai.
“Mirip lokasi uji nyali,”
Kata Jimi sambil memandang sekeliling dan merasakan udara yang tiba-tiba dingin.
“Aku kok merasa kita diterlantarkan ya,” Jawab Raka singkat sambil menggaruk-garuk rambut keritingnya.
“Ka, sekarang coba browsing, cari info soal vila nomor empat ini,”
“Memangnya ponselmu kenapa Ek?”
“Paket internetnya hampir habis, cuma cukup buat massenger-an sama istri,”
“Sebentar,hmm...ternyata benar vila ini dapat penghargaan bangunan paling berhantu di forum-forum supernatural,”
“Lalu bagaimana nih? Kita pindah saja?” Tanya Raka sedikit gemetar.
Ketiganya terdiam sejenak. Hingga akhirnya Jimi memecah kebuntuan.
“Kalau kita tepat disini, kita bisa membuktikan pertanyaan yang masih menjadi misteri hingga sekarang. Hantu itu ada atau tidak? Selain itu aku masih ingat dulu Bu Sita pernah bilang masalah itu untuk diatasi bukan untuk dihindari,”
Eka menimpali
“Tadi pagi, istriku juga bilang begitu,”
“Memangnya siapa istrimu,” Tanya Raka
“Bu Sita,”
“Hah?!”
“Memangnya kenapa? Umur kita cuma beda tiga tahun. Waktu nikah dia juga bukan guruku lagi,”
Bu Sita adalah Mahasiswa FKIP yang dulu praktik mengajar di sekolah mereka. Cukup terkenal terutama di kalangan para siswa karena selain muda, calon guru ini juga memiliki kecantikan yang tiada tara.
“Masalahnya adalah Ayah Bu Sita, Mertuamu,” Kata Jimi mencoba menganalisis.
“Pak Jaka memang awalnya kurang suka padaku,”
“Kenapa memangnya?” Tanya Raka,
“Dari jamannya Evis Presley masih jadi tentara dulu, dia sudah bercita-cita punya mantu anak pejabat,”
“Memangnya kamu bukan?” Tanya Raka lagi
“Kamu kan dulu pernah ke rumahku, jadi sudah tahu kan kalau Ayahku petani,”
“Ya ampun anak ini,”
“Itu kan dulu, siapa tahu sekarang profesinya berubah,”
“Masih sama Ka, Ayahku masih jadi petani meskipun tidak menggarap sendiri,”
“Daripada disewakan, mengapa tuh sawah tidak kamu saja yang garap?”
“Sibuk, tahun ini ada proyek besar yang demonya mau dilaunch di E3,”
“FPS lagi Ek?”
“Bukan, Third person open world adventure, settingnya jaman majapahit,”
“Sudah, ini kok jadi ngelantur. Kembali ke laptop, berarti bisa disimpulkan kalau alasan kita ditempatkan di vila berhantu adalah karena Pak Jaka, mertua yang tidak terlalu suka pada menantunya ini.”
“Dan kita berdua kena getahnya,”
Waktupun berlalu, jam tangan menunjukkan pukul 16.00. Sebentar lagi hari gelap dan biasanya makhluk halus datang ketika matahari menghilang. Entah itu vampire di negara barat atau kuntilanak di Indonesia, dimanapun juga selalu berlaku peraturan tak tertulis, ada malam ada hantu.
“Kalau ada hantu, apa yang akan kita lakukan?” Tanya Raka
“Pertanyaan bagus,” Jawab Jimi
“Kita antisipasi, sesuai dengan potensi gangguan yang ditimbulkan. Yang sering kudengar biasanya hantu suka menjatuhkan lukisan,hiasan dinding,lampu gantung, menggeser meja dan menggoyang-goyangkan kursi,”
“Itu namanya poltergeist,”
“Untuk mengatasi poltergeist ini kita butuh bantuan Raka,” Kata Eka lagi,
“Kenapa harus aku?”
“Karena pulsamu masih banyak, dengan ponselmu hubungi panitia, suruh kirim lima anak kemari?”
“Mau diapakan?”
“Mau diberi tip setelah mereka memindahkan seluruh barang,lampu,meja,kursi,duan jendela dan daun pintu di vila ini. Kalau tidak ada benda yang bisa digerakkan, hantu itu tidak bisa ber-poltergeist ria.”
Satu jam kemudian, vila itu kosong melompong. Tanpa benda-benda,hiasan,meja,kursi, pintu maupun jendela. Malam menjadi semakin dekat.
“Selanjutnya bagaimana Ek?” Tanya Raka lagi.
“Berharap saja hantunya cuma mau poltergeist-an sama kita. Kalau tidak bisa mengusili benda-benda dia pasti akan pergi sendiri.”
“Kuharap juga begitu, tetapi aku sekarang juga sedang mikir bagaimana kalau ada gangguan lain?”
“Benar Jim, kamu memang harus memikirkannya. Raka, seperti biasa tugas kamu mengkritisi rencana kita berdua.”
“Yang pertama, kita tidak punya pintu. Kita juga tidak punya jendela. Kalau ada maling atau orang jahat yang masuk bagaimana?”
“Kita tidur seperti waktu camping di alam terbuka. Dua orang tidur, satu jaga. Kalau ada yang aneh, yang dua harus dibangunkan.”
Malam pun tiba, Eka dan Raka pamit kepada Jimi untuk shalat Maghrib hingga shalat Isya' berjamaah di vila nomor 10. Sekembali ke vila nomor 4 pada pukul 19:00, mereka bertanya kepada Jimi.
“Ada gangguan apa Jim?”
“Tidak ada gangguan apa-apa,”
“Hantunya tidak datang, atau mungkin memang sejak awal tidak ada,”
“Kalau ada langsung rekam saja. Tadi aku pinjam handycam di bawah,” Kata Raka
Pukul 19:00 hingga pukul 20:00, tidak ada kejadian apapun. Selanjutnya pukul 20:00 hingga pukul 22:00 ketiganya turun untuk makan malam dan mengikuti serangkaian games yang diadakan di hari pertama reuni.
“Kok murung aja Jim?” Tanya raka sambil merebahkan diri di lantai.
“Tadi aku ketemu Lina,”
“Cinta pertamamu itu?” Tanya Eka
“Sekarang sedang hamil lima bulan. Anak kedua,”
“Sebaiknya sedihnya ditunda dulu Jim,” Kata Eka lagi
“Memangnya kenapa?”
“Menurut orang-orang tua jaman dulu, orang yang ikirannya kosong, sedih atau marah gampang kesurupan.” Jawab Raka sambil melihat layar smartphone-nya,”
“Kalian bilang begini, cuma mau mengalihkan perhatianku dari Lina saja kan?”
“Tidak Jimi, kedua temanmu benar. Hihihihi...”
“Aaaaaaa!!!!! Hantu!!!!”
Entah darimana, tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita. Suara itu terasa sangat dekat di telinga tapi tidak ada wujud orang yang mengatakannya.
“Jangan panik,jangan panik. Tenang kawan-kawan. Kita ini makhluk rasional, ya rasional. Kelebihan manusia ada di akalnya,” Kata Raka kepada dirinya sendiri sekaligus menenangkan kedua temannya yang histeris.
Setelah menguasai dirinya, Jimi langsung berteriak
“Kamu bisa bikin suara, kami juga bisa bikin suara,”
Ia mengeluarkan laptop dan memutar video klip kocak dari sebuah lagu parodi. Volume dinaikkan hingga maksimal.
“Kau sebarkan aura negatif, kami netralkan dengan aura positif,”
Suara tertawa hantu wanita itu tenggelam oleh beat-beat ceria dari lagu yang dimainkan. Tiba-tiba saja
PETTT
“Listriknya mati,”
“Di film kau juga pernah lihat. Makhluk halus punya semacam medan listrik yang bisa mengeluarkan EMP untuk mematikan alat-alat listrik seperti lampu,laptop dan....”
“Smartphone,” Sahut Raka lemas sambil melihat layar ponselnya yang mati.
“Hihihi hihihi,”
Dalam kegelapan suara menyeramkan itu kembali menghantui. Eka meraba-raba dinding, keluar rumah lalu smabil tetap meraba-raba mematahkan beberapa ranting pohon. Ia melepas kaos yang dipakainya lalu merobek-robek kain kaos itu untuk diikikatkan di ujung-ujung ranting dan membakarnya. Dalam kegelapan ia membuat obor untuk meneranginya.
Ia terkejut dan mundur ke belakang ketika melihat hal pertama yang dilihatnya. Tepat didepan cahaya obornya, sebuah wajah putih memucat dengan mata yang seluruhnya hitam mengeluarkan darah memandang lekat-lekat ke arahnya, dari jarak yang sangat dekat.
“Aaaahhh!”
Ia ayunkan obor ranting ke wajah itu.
“Kamu sedang apa Ek?”
Tanya Raka, ia dan Jimi menyusul keluar mendatangi nyala api di tangan Eka.
“Tadi hantu itu menampakkan diri, tetapi langsung menghilang ketika obornya kuayunkan,”
“Menghilangnya ketika kauayunkan obor itu atau ketika kami datang mendekat?”
“Entahlah jam tanganku mati,”
“Kalau menghilang karena ujung obor kauayunkan, berarti makhluk itu takut api. Kalau menghilang karena kami berdua mendekatimu, berarti makhluk itu tidak bisa menampakkan diri dihadapan orang banyak,” Kata Jimi menganalisa
“Atau mungkin karena dia tidak bisa terlalu lama meninggalkan bagian dalam rumah.”
Kata Eka mengemukakan kemungkinan ketiga
“Mengapa kau berpikiran begitu?”
“Biasanya makhluk halus punya daerahnya masing-masing. Di dalam rumah ada si wajah pucat-mulai sekarang kita sebut dia demikian, sedangkan di luar rumah yang berkuasa adalah....”
Tiba-tiba turun hujan, hujan yang sangat aneh. Air dari tempat yang tinggi itu hanya membasahi daerah seluas tiga kali tiga meter saja, termasuk tempat dimana Jimi,Raka dan Eka berdiri.
“Musim kemarau,cuaca juga cerah mengapa bisa hujan,”
“Airnya juga aneh, bau amonia” Kata Raka
“Itu bukan air hujan tetapi air seni. Kita dikencingi,” Kata Eka
“Hoeek..” Raka langsung berlari menjauh dengan jijik.
Mereka bertiga mundur lagi ke belakang, masuk ke dalam rumah. Anehnya air yang membasahi badan dan pakaian ketiganya langsung hilang.
“Gila, vila ini memang dihuni makhluk halus. Tak hanya satu tetapi dua atau bahkan lebih.”
“Yang diluar itu pasti ukurannya besar sekali,”
“Kemungkinan besar, itu yang namanya Genderuwo. Makhluk raksasa yang seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu panjang berwarna hitam.
“Hihihi hihihi,”
Suara itu terdengar lagi, kali ini disertai wujudnya. Si muka pucat tampak melayang di ruang tamu.
“Nama kamu siapa?”
“Tuti,”
“Apa yang kauinginkan dari kami?”
“Main,”
“Kau matinya kenapa?”
“Main,”
“Main apa sampai bisa mati begitu?”
“Ngerjain teman berkali-kali sampai mereka jengkel.Lalu-lalu huaaahuaa,”
“Kau menangis Apa teman-temanmu yang membunuhmu?”
Tuti menghilang dan tidak kelihatan lagi wujudnya sampai pagi menjelang.
“Jim,kita pamit shalat Subuh dulu Ya?”
Kata Raka dan Eka, Jimi tidak menjawab. Ia hanya duduk di lantai sambil menekuk lutut dan membenamkan mukanya. Listrik di rumah itupun menyala kembali seperti sedia kala.
“Jim...Jimi,”
“Aku bukan Jimi,”
“Lalu siapa Kau? Tuti?”
“Hihihi”
Raka dan Eka mundur ke belakang.
“Raka, ada ide? Jimi kesurupan.”
“Sepertinya bukan tipe kesurupan yang agresif. Kita tinggal dulu ke bawah, kita doakan waktu Shalat setelah itu kita bawa ustadznya ke sini untuk nyembuhin Jimi,”
Sayangnya tidak ada satupun teman-teman mereka yang menjadi ustadz atau pemuka agama lainnya, tidak ada juga yang tahu banyak tentang eksorsisme atau pengusiran setan.
“Bagaimana ini EK?”
Kalau di film-film, arwah penasaran karena jasadnya belum ditemukan.Kita temukan dulu jasadnya lalu dikuburkan, setelah itu baru hantunya hilang.
”Tadi kalian bilang yang jadi hantu itu namanya Tuti kan?”
Tanya Pak Zulkifli kepada Raka dan Eka
“Benar,”
“Dulu memang ada anak yang meninggal karena terjatuh ketika bermain bersama teman-temannya di atas bukit. Tetapi jenazahnya tidak dikubur di vila, dimakamkan di pemakaman umum.”
“Atau mungkin saja yang merasuki Jimi itu bukan arwah Tuti, kudengar bangsa jin bisa mengubah wujud menyerupai orang yang sudah mati.”
“Lalu sekarang bagaimana?”
“Maaf kami hanya bisa bantu dengan doa,”
Eka dan Raka kembali ke puncak bukit dengan tangan kosong. Sementara di dalam rumah teman mereka Jimi, yang perasaannya sedang kalut karean cinta pertamanya sudah menikah dengan orang lain dan hampir memiliki dua anak, masih kerasukan dengan posisi duduk yang sama dengan ketika Raka dan Eka meninggalkannya.
“Raka, handphone-mu bisa digunakan?”
“Sudah normal lagi displaynya,”
“Cari astral projection,”
“Sudah. Astral projection adalah kemampuan manusia untuk meninggalkan tubuh fisiknya,”
“Bagaimana cara melakukannya?”
“Ada, pakai brainwave dengan subliminal message khusus. Formatnya MP3 dan harus didengarkan dengan headset karena gelombang yang masuk ke telinga kiri panjangnya beda dengan gelombang yang masuk ke telinga kanan,”
“Download sekarang dan berikan smartphone-mu, ”
“Jangan gila Ek, kau tidak bertanya efek sampingnya.”
“Memangnya apa risikonya?”
“Kalau tubuh astralmu tidak kembali, kau bisa jadi idiot atau gila,”
“Itu kan kalau aku tidak kembali, kalau aku kembali bagaimana?”
“Ek...Eka,”
“Kamu disini, jaga tubuhku baik-baik.Kalau aku tidak kembali katakan kepada Sita aku mencintainya. Oh ya satu lagi, kalau aku jadi gila dan kita terpaksa bercerai, jangan pernah berpikir untuk menikahinya,”
“Yang terakhir agak sulit, tapi akan aku coba,”
Eka mendengarkan file MP3 itu dan tak lama kemudian kehilangan kesadaran. Ketika terbangun, ia melihattubuhnya sendiri terbaring di tepi jalan. Tanpa menyia-nyiakan waktu pria 32 tahun ini berlari ke atas bukit. Ketika memasuki halaman ia dicegat oleh sepasang kaki berbulu.
“Dari alam manusia kau memang tampak besar, tetapi di alam ini akupun bisa berubah menjadi lebih besar dari tubuhmu,”
“Arrrwwww”
Genderuwo penunggu halaman vila mengeram. Tak lama kemudian ia terlibat pertarungan sengit dengan Eka, Eka dalam wujud raksasa. Mereka saling pukul,saling tangkis hingga suatu ketika Eka berhasil melakukan takedown. Dalam posisi tubuh diatas, sambil menindih genderuwo itu, ia melakukan ground and pound-gerakan menghujani pukulan ke lawan yang terbaring di bawah dalam MMA.Setelah makhluk itu lemas, Eka melakukan triangle choke-mengunci leher lawan dengan tangan kaki dan lengan lwan itu sendiri hingga sang genderuwo tak sadarkan diri dan menghilang.
Eka memasuki rumah dan melihat Tuti atau makhuk yang mirip Tuti ada di dalam tubuh Jimi. Ia segera mengangkat anak perempuan itu dan memukulinya
“Dasar anak nakal,”
“Uwaa.ampun Om. Tuti nggak berani lagi deh,”
“Cepat pergi dari sini!”
“Baik Om, baik,”
Jimi pun terbangun, ia kebingungan ketika mendapati hari sudah terang dan tubuhnya sakit seperti meriang. Perutnya juga lapar bukan main, minta diisi seperti baterei kehilangan energi. Iapun keluar rumah dan turun kebawah. Di turunan pertama ia melihat ke beranda sebuah vila di tepi jalan. Ia melihat Raka yang duduk dengan ekspresi wajah cemas. Dihadapannya Eka tertidur tak sadarkan diri.
“Kenapa kalian disini?”
“Dia pergi menyelamatkanmu,”
“Memangnya aku kenapa?”
“Kamu kerasukan,”
Rakapun menceritakan apa yang terjadi
“Jadi apakah Eka akan kembali?”
“Kita tunggu saja,”
Kata keduanya sambil berdiri memandangi jasad kosong Eka yang diam mematung, tetapi tak lama kemudian, kelopak matanya yang terpejam tampak bergerak-gerak.
“Apa-apaan nih Fli?,”
Pak Zulkifli, wakilnya menjawab singkat,
“Proposal reuni klub ekstrakulikuler siswa kita,”
“Angkatan berapa?”
“Lulusan tahun 1999,”
“Terus mereka minta dana?”
“Soal uang tidak ada masalah, mereka bisa bayar sendiri, 1 klub menempati 1 vila”
“Lalu?”
“mereka minta Pak Jaka hadir,”
“Oh.... aku lihat dulu, reuninya dimana?”
“Di vila, 3 hari 3 malam. Penjelasannya ada di halaman 30,”
“Ini menarik. Katakan pada ketua panitianya Si Jos...,”
Kata Pak Jaka sambil melihat tanda tangan di bawah halaman pertama,
“Jose Pak,”
“Ya si Jose atau siapalah itu, aku bisa hadir asal tempat menginap tiga orang ini diganti,”
“Tiga orang yang mana Pak?”
“Anak-anak aneh tukang tanya ini,”
“Oh, klub ilmiah. ya...ya..ya saya tahu,”
“Mereka harus pindah, tidak boleh menempati vila yang ada di denah ini,”
“Lalu dipindah kemana Pak,”
“Ke sini,”
Pak Jaka menunjuk gambar bangunan nomor 4 yang dicoret
“Vila itu memnag sengaja dibiarkan kosong Pak, tidak ada yang nyewa selama 10 tahun. Bangunan ini angker sekali,”
“Pokoknya tempatkan mereka di vila yang berhantu, paling berhantu. Titik!”
Kata Pak Jaka sambil menahan amarah.
“Ba...baik Pak!”
“Love you, ”
Kata Eka menutup pembicaraan. Setelah itu ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Di sampingnya, Raka berjalan sambil terus mencari artikel di mesin pencari. Kata-kata yang ia ketikkan di kolom pencarian adalah 'berapa jumlah roda sepeda motor,'
“OMG, Raka. Bukankah soal ini sudah pernah kita bahas 15 tahun lalu?”
Jimi keheranan melihat temannya itu masih menanyakan hal yang sama.
“Itu kan 15 tahun yang lalu, siapa tahu sekarang jawabannya lain. Waktu berlalu, variabel yang mempengaruhi suatu obyek pengamatan jumlahnya juga pasti berubah,”
“Kamu punya motor?”
“Punya,”
“Belinya kapan?”
“Yang satu lima tahun lalu, yang matic minggu lalu,”
“Rodanya ada berapa?”
“Yang sport rodanya dua, terus yang mattic rodanya dua juga,”
“Ya sudah,case closed, QED. Jawabannya ketemu, tidak perlu buang kuota buat browsing giniansegala,”
“Tapi ada kok motor yang rodanya 4,”
Kata Eka nimbrung pembicaraan,
“Dulu aku kan sudah bilang, ATV itu bukan sepeda motor,”
“Tapi bagiku TV itu sepeda motor. Lihat saja setangnya, sama kan dengan setang sepeda motor,”
“Kamu punya laptop dan PC, Ek?”
“Memangnya jaman sekarang, ada yang tidak punya?”
“Lihat saja OS-nya, sama kan? Ada bagian yang sama belum tentu namanya sama,”
Tiba-tiba seorang anggota panitia, seorang anak SMU yang membawa HT (Handie Talkie) menghentikan mereka
“Stop, Mas-mas,Bapak-bapak,”
“Stop artinya berhenti kan?”
“Mengapa menghentikan kami?”
“Apa kami dipindah ke vila lain?”
“Benar, vila Mas dan Bapak sekalian dipindah ke sana,”
“Ke sana itu kemana?”
“Yang paling atas, di puncak bukit. Yang catnya putih itu,”
“Oh...bagus kalau begitu, dari puncak sana pemandangan kota yang ada di bawah lereng pasti lebih indah,”
Mereka memasuki vila nomor empat. Bangunannya cukup luas tetapi interiornya berdebu dan banyak barang berjatuhan di lantai.
“Mirip lokasi uji nyali,”
Kata Jimi sambil memandang sekeliling dan merasakan udara yang tiba-tiba dingin.
“Aku kok merasa kita diterlantarkan ya,” Jawab Raka singkat sambil menggaruk-garuk rambut keritingnya.
“Ka, sekarang coba browsing, cari info soal vila nomor empat ini,”
“Memangnya ponselmu kenapa Ek?”
“Paket internetnya hampir habis, cuma cukup buat massenger-an sama istri,”
“Sebentar,hmm...ternyata benar vila ini dapat penghargaan bangunan paling berhantu di forum-forum supernatural,”
“Lalu bagaimana nih? Kita pindah saja?” Tanya Raka sedikit gemetar.
Ketiganya terdiam sejenak. Hingga akhirnya Jimi memecah kebuntuan.
“Kalau kita tepat disini, kita bisa membuktikan pertanyaan yang masih menjadi misteri hingga sekarang. Hantu itu ada atau tidak? Selain itu aku masih ingat dulu Bu Sita pernah bilang masalah itu untuk diatasi bukan untuk dihindari,”
Eka menimpali
“Tadi pagi, istriku juga bilang begitu,”
“Memangnya siapa istrimu,” Tanya Raka
“Bu Sita,”
“Hah?!”
“Memangnya kenapa? Umur kita cuma beda tiga tahun. Waktu nikah dia juga bukan guruku lagi,”
Bu Sita adalah Mahasiswa FKIP yang dulu praktik mengajar di sekolah mereka. Cukup terkenal terutama di kalangan para siswa karena selain muda, calon guru ini juga memiliki kecantikan yang tiada tara.
“Masalahnya adalah Ayah Bu Sita, Mertuamu,” Kata Jimi mencoba menganalisis.
“Pak Jaka memang awalnya kurang suka padaku,”
“Kenapa memangnya?” Tanya Raka,
“Dari jamannya Evis Presley masih jadi tentara dulu, dia sudah bercita-cita punya mantu anak pejabat,”
“Memangnya kamu bukan?” Tanya Raka lagi
“Kamu kan dulu pernah ke rumahku, jadi sudah tahu kan kalau Ayahku petani,”
“Ya ampun anak ini,”
“Itu kan dulu, siapa tahu sekarang profesinya berubah,”
“Masih sama Ka, Ayahku masih jadi petani meskipun tidak menggarap sendiri,”
“Daripada disewakan, mengapa tuh sawah tidak kamu saja yang garap?”
“Sibuk, tahun ini ada proyek besar yang demonya mau dilaunch di E3,”
“FPS lagi Ek?”
“Bukan, Third person open world adventure, settingnya jaman majapahit,”
“Sudah, ini kok jadi ngelantur. Kembali ke laptop, berarti bisa disimpulkan kalau alasan kita ditempatkan di vila berhantu adalah karena Pak Jaka, mertua yang tidak terlalu suka pada menantunya ini.”
“Dan kita berdua kena getahnya,”
Waktupun berlalu, jam tangan menunjukkan pukul 16.00. Sebentar lagi hari gelap dan biasanya makhluk halus datang ketika matahari menghilang. Entah itu vampire di negara barat atau kuntilanak di Indonesia, dimanapun juga selalu berlaku peraturan tak tertulis, ada malam ada hantu.
“Kalau ada hantu, apa yang akan kita lakukan?” Tanya Raka
“Pertanyaan bagus,” Jawab Jimi
“Kita antisipasi, sesuai dengan potensi gangguan yang ditimbulkan. Yang sering kudengar biasanya hantu suka menjatuhkan lukisan,hiasan dinding,lampu gantung, menggeser meja dan menggoyang-goyangkan kursi,”
“Itu namanya poltergeist,”
“Untuk mengatasi poltergeist ini kita butuh bantuan Raka,” Kata Eka lagi,
“Kenapa harus aku?”
“Karena pulsamu masih banyak, dengan ponselmu hubungi panitia, suruh kirim lima anak kemari?”
“Mau diapakan?”
“Mau diberi tip setelah mereka memindahkan seluruh barang,lampu,meja,kursi,duan jendela dan daun pintu di vila ini. Kalau tidak ada benda yang bisa digerakkan, hantu itu tidak bisa ber-poltergeist ria.”
Satu jam kemudian, vila itu kosong melompong. Tanpa benda-benda,hiasan,meja,kursi, pintu maupun jendela. Malam menjadi semakin dekat.
“Selanjutnya bagaimana Ek?” Tanya Raka lagi.
“Berharap saja hantunya cuma mau poltergeist-an sama kita. Kalau tidak bisa mengusili benda-benda dia pasti akan pergi sendiri.”
“Kuharap juga begitu, tetapi aku sekarang juga sedang mikir bagaimana kalau ada gangguan lain?”
“Benar Jim, kamu memang harus memikirkannya. Raka, seperti biasa tugas kamu mengkritisi rencana kita berdua.”
“Yang pertama, kita tidak punya pintu. Kita juga tidak punya jendela. Kalau ada maling atau orang jahat yang masuk bagaimana?”
“Kita tidur seperti waktu camping di alam terbuka. Dua orang tidur, satu jaga. Kalau ada yang aneh, yang dua harus dibangunkan.”
Malam pun tiba, Eka dan Raka pamit kepada Jimi untuk shalat Maghrib hingga shalat Isya' berjamaah di vila nomor 10. Sekembali ke vila nomor 4 pada pukul 19:00, mereka bertanya kepada Jimi.
“Ada gangguan apa Jim?”
“Tidak ada gangguan apa-apa,”
“Hantunya tidak datang, atau mungkin memang sejak awal tidak ada,”
“Kalau ada langsung rekam saja. Tadi aku pinjam handycam di bawah,” Kata Raka
Pukul 19:00 hingga pukul 20:00, tidak ada kejadian apapun. Selanjutnya pukul 20:00 hingga pukul 22:00 ketiganya turun untuk makan malam dan mengikuti serangkaian games yang diadakan di hari pertama reuni.
“Kok murung aja Jim?” Tanya raka sambil merebahkan diri di lantai.
“Tadi aku ketemu Lina,”
“Cinta pertamamu itu?” Tanya Eka
“Sekarang sedang hamil lima bulan. Anak kedua,”
“Sebaiknya sedihnya ditunda dulu Jim,” Kata Eka lagi
“Memangnya kenapa?”
“Menurut orang-orang tua jaman dulu, orang yang ikirannya kosong, sedih atau marah gampang kesurupan.” Jawab Raka sambil melihat layar smartphone-nya,”
“Kalian bilang begini, cuma mau mengalihkan perhatianku dari Lina saja kan?”
“Tidak Jimi, kedua temanmu benar. Hihihihi...”
“Aaaaaaa!!!!! Hantu!!!!”
Entah darimana, tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita. Suara itu terasa sangat dekat di telinga tapi tidak ada wujud orang yang mengatakannya.
“Jangan panik,jangan panik. Tenang kawan-kawan. Kita ini makhluk rasional, ya rasional. Kelebihan manusia ada di akalnya,” Kata Raka kepada dirinya sendiri sekaligus menenangkan kedua temannya yang histeris.
Setelah menguasai dirinya, Jimi langsung berteriak
“Kamu bisa bikin suara, kami juga bisa bikin suara,”
Ia mengeluarkan laptop dan memutar video klip kocak dari sebuah lagu parodi. Volume dinaikkan hingga maksimal.
“Kau sebarkan aura negatif, kami netralkan dengan aura positif,”
Suara tertawa hantu wanita itu tenggelam oleh beat-beat ceria dari lagu yang dimainkan. Tiba-tiba saja
PETTT
“Listriknya mati,”
“Di film kau juga pernah lihat. Makhluk halus punya semacam medan listrik yang bisa mengeluarkan EMP untuk mematikan alat-alat listrik seperti lampu,laptop dan....”
“Smartphone,” Sahut Raka lemas sambil melihat layar ponselnya yang mati.
“Hihihi hihihi,”
Dalam kegelapan suara menyeramkan itu kembali menghantui. Eka meraba-raba dinding, keluar rumah lalu smabil tetap meraba-raba mematahkan beberapa ranting pohon. Ia melepas kaos yang dipakainya lalu merobek-robek kain kaos itu untuk diikikatkan di ujung-ujung ranting dan membakarnya. Dalam kegelapan ia membuat obor untuk meneranginya.
Ia terkejut dan mundur ke belakang ketika melihat hal pertama yang dilihatnya. Tepat didepan cahaya obornya, sebuah wajah putih memucat dengan mata yang seluruhnya hitam mengeluarkan darah memandang lekat-lekat ke arahnya, dari jarak yang sangat dekat.
“Aaaahhh!”
Ia ayunkan obor ranting ke wajah itu.
“Kamu sedang apa Ek?”
Tanya Raka, ia dan Jimi menyusul keluar mendatangi nyala api di tangan Eka.
“Tadi hantu itu menampakkan diri, tetapi langsung menghilang ketika obornya kuayunkan,”
“Menghilangnya ketika kauayunkan obor itu atau ketika kami datang mendekat?”
“Entahlah jam tanganku mati,”
“Kalau menghilang karena ujung obor kauayunkan, berarti makhluk itu takut api. Kalau menghilang karena kami berdua mendekatimu, berarti makhluk itu tidak bisa menampakkan diri dihadapan orang banyak,” Kata Jimi menganalisa
“Atau mungkin karena dia tidak bisa terlalu lama meninggalkan bagian dalam rumah.”
Kata Eka mengemukakan kemungkinan ketiga
“Mengapa kau berpikiran begitu?”
“Biasanya makhluk halus punya daerahnya masing-masing. Di dalam rumah ada si wajah pucat-mulai sekarang kita sebut dia demikian, sedangkan di luar rumah yang berkuasa adalah....”
Tiba-tiba turun hujan, hujan yang sangat aneh. Air dari tempat yang tinggi itu hanya membasahi daerah seluas tiga kali tiga meter saja, termasuk tempat dimana Jimi,Raka dan Eka berdiri.
“Musim kemarau,cuaca juga cerah mengapa bisa hujan,”
“Airnya juga aneh, bau amonia” Kata Raka
“Itu bukan air hujan tetapi air seni. Kita dikencingi,” Kata Eka
“Hoeek..” Raka langsung berlari menjauh dengan jijik.
Mereka bertiga mundur lagi ke belakang, masuk ke dalam rumah. Anehnya air yang membasahi badan dan pakaian ketiganya langsung hilang.
“Gila, vila ini memang dihuni makhluk halus. Tak hanya satu tetapi dua atau bahkan lebih.”
“Yang diluar itu pasti ukurannya besar sekali,”
“Kemungkinan besar, itu yang namanya Genderuwo. Makhluk raksasa yang seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu panjang berwarna hitam.
“Hihihi hihihi,”
Suara itu terdengar lagi, kali ini disertai wujudnya. Si muka pucat tampak melayang di ruang tamu.
“Nama kamu siapa?”
“Tuti,”
“Apa yang kauinginkan dari kami?”
“Main,”
“Kau matinya kenapa?”
“Main,”
“Main apa sampai bisa mati begitu?”
“Ngerjain teman berkali-kali sampai mereka jengkel.Lalu-lalu huaaahuaa,”
“Kau menangis Apa teman-temanmu yang membunuhmu?”
Tuti menghilang dan tidak kelihatan lagi wujudnya sampai pagi menjelang.
“Jim,kita pamit shalat Subuh dulu Ya?”
Kata Raka dan Eka, Jimi tidak menjawab. Ia hanya duduk di lantai sambil menekuk lutut dan membenamkan mukanya. Listrik di rumah itupun menyala kembali seperti sedia kala.
“Jim...Jimi,”
“Aku bukan Jimi,”
“Lalu siapa Kau? Tuti?”
“Hihihi”
Raka dan Eka mundur ke belakang.
“Raka, ada ide? Jimi kesurupan.”
“Sepertinya bukan tipe kesurupan yang agresif. Kita tinggal dulu ke bawah, kita doakan waktu Shalat setelah itu kita bawa ustadznya ke sini untuk nyembuhin Jimi,”
Sayangnya tidak ada satupun teman-teman mereka yang menjadi ustadz atau pemuka agama lainnya, tidak ada juga yang tahu banyak tentang eksorsisme atau pengusiran setan.
“Bagaimana ini EK?”
Kalau di film-film, arwah penasaran karena jasadnya belum ditemukan.Kita temukan dulu jasadnya lalu dikuburkan, setelah itu baru hantunya hilang.
”Tadi kalian bilang yang jadi hantu itu namanya Tuti kan?”
Tanya Pak Zulkifli kepada Raka dan Eka
“Benar,”
“Dulu memang ada anak yang meninggal karena terjatuh ketika bermain bersama teman-temannya di atas bukit. Tetapi jenazahnya tidak dikubur di vila, dimakamkan di pemakaman umum.”
“Atau mungkin saja yang merasuki Jimi itu bukan arwah Tuti, kudengar bangsa jin bisa mengubah wujud menyerupai orang yang sudah mati.”
“Lalu sekarang bagaimana?”
“Maaf kami hanya bisa bantu dengan doa,”
Eka dan Raka kembali ke puncak bukit dengan tangan kosong. Sementara di dalam rumah teman mereka Jimi, yang perasaannya sedang kalut karean cinta pertamanya sudah menikah dengan orang lain dan hampir memiliki dua anak, masih kerasukan dengan posisi duduk yang sama dengan ketika Raka dan Eka meninggalkannya.
“Raka, handphone-mu bisa digunakan?”
“Sudah normal lagi displaynya,”
“Cari astral projection,”
“Sudah. Astral projection adalah kemampuan manusia untuk meninggalkan tubuh fisiknya,”
“Bagaimana cara melakukannya?”
“Ada, pakai brainwave dengan subliminal message khusus. Formatnya MP3 dan harus didengarkan dengan headset karena gelombang yang masuk ke telinga kiri panjangnya beda dengan gelombang yang masuk ke telinga kanan,”
“Download sekarang dan berikan smartphone-mu, ”
“Jangan gila Ek, kau tidak bertanya efek sampingnya.”
“Memangnya apa risikonya?”
“Kalau tubuh astralmu tidak kembali, kau bisa jadi idiot atau gila,”
“Itu kan kalau aku tidak kembali, kalau aku kembali bagaimana?”
“Ek...Eka,”
“Kamu disini, jaga tubuhku baik-baik.Kalau aku tidak kembali katakan kepada Sita aku mencintainya. Oh ya satu lagi, kalau aku jadi gila dan kita terpaksa bercerai, jangan pernah berpikir untuk menikahinya,”
“Yang terakhir agak sulit, tapi akan aku coba,”
Eka mendengarkan file MP3 itu dan tak lama kemudian kehilangan kesadaran. Ketika terbangun, ia melihattubuhnya sendiri terbaring di tepi jalan. Tanpa menyia-nyiakan waktu pria 32 tahun ini berlari ke atas bukit. Ketika memasuki halaman ia dicegat oleh sepasang kaki berbulu.
“Dari alam manusia kau memang tampak besar, tetapi di alam ini akupun bisa berubah menjadi lebih besar dari tubuhmu,”
“Arrrwwww”
Genderuwo penunggu halaman vila mengeram. Tak lama kemudian ia terlibat pertarungan sengit dengan Eka, Eka dalam wujud raksasa. Mereka saling pukul,saling tangkis hingga suatu ketika Eka berhasil melakukan takedown. Dalam posisi tubuh diatas, sambil menindih genderuwo itu, ia melakukan ground and pound-gerakan menghujani pukulan ke lawan yang terbaring di bawah dalam MMA.Setelah makhluk itu lemas, Eka melakukan triangle choke-mengunci leher lawan dengan tangan kaki dan lengan lwan itu sendiri hingga sang genderuwo tak sadarkan diri dan menghilang.
Eka memasuki rumah dan melihat Tuti atau makhuk yang mirip Tuti ada di dalam tubuh Jimi. Ia segera mengangkat anak perempuan itu dan memukulinya
“Dasar anak nakal,”
“Uwaa.ampun Om. Tuti nggak berani lagi deh,”
“Cepat pergi dari sini!”
“Baik Om, baik,”
Jimi pun terbangun, ia kebingungan ketika mendapati hari sudah terang dan tubuhnya sakit seperti meriang. Perutnya juga lapar bukan main, minta diisi seperti baterei kehilangan energi. Iapun keluar rumah dan turun kebawah. Di turunan pertama ia melihat ke beranda sebuah vila di tepi jalan. Ia melihat Raka yang duduk dengan ekspresi wajah cemas. Dihadapannya Eka tertidur tak sadarkan diri.
“Kenapa kalian disini?”
“Dia pergi menyelamatkanmu,”
“Memangnya aku kenapa?”
“Kamu kerasukan,”
Rakapun menceritakan apa yang terjadi
“Jadi apakah Eka akan kembali?”
“Kita tunggu saja,”
Kata keduanya sambil berdiri memandangi jasad kosong Eka yang diam mematung, tetapi tak lama kemudian, kelopak matanya yang terpejam tampak bergerak-gerak.
THE END
next story, The sunflower. Ini prolognya
"Tumben nonton TV Sheil?"
"Kita dapat bonus gratis semua channel, Mbak Anya"
"Termasuk yang movie,"
"Iya,bahkan ada channel khusus film-film kungfu jaman dulu"
"Ada yang bagus tidak?"
"Ada, ceritanya tentang para pendekar yang terjebak di bangunan penuh perangkap,"
"Sebenarnya kita juga sudah punya yang seperti itu,aku sudah bilang ke Richard kalau dia tertangkap atau diinterogasi...katakan saja sunflower,"
"Apaan tuh Mbak, bunga matahari,"
"Tempat khusus buat Vincent dan siapapun macam-macam dengan kita,"
"Mengapa disebut tempat khusus?"
"Karena satu-satunya cara keluar dari tempat itu, hanya dengan menjadi mayat."
0
Kutip
Balas