Berawal dari thread di SFTH ini (sejak Juli 2014), cerita Petak Umpet Minako akan diterbitkan sebagai novel di toko-toko buku kesayangan Anda. Bagi Anda yang penasaran, silakan membaca cuplikan dua bab pertamanya di thread ini!
TS ngga bisa janji kalau cerita ini bakal menjadi cerita paling menarik yang bakal agan(wati) baca, tapi TS janji kalau cerita ini bakal berbedadari cerita-cerita horor lain yang pernah agan(wati) baca!
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/53d1c9c0de2cf2010f8b45a3/2/baS E N S O R--baron"]BAB I - Baron[/URL] BAB II - Kegilaan
Apabila agan(wati) sudah membaca cerita ini di kaskus sebelumnya, agan(wati) tetap bisa menikmati versi bukunya karena ada beberapa revisi di dalam cerita, terutama di bagian ending.
Original Posted By gopekski►gan, ane udah baca cerita ente. Pertama ane baca dari kaskus. Terus berhubung ane suka dan penasaran bgt, akhirnya ane buka lewat whatpadd.
Kalo boleh jujur ya, ini satu-satu nya cerita horror di sfth menurut ane sejauh ini yang bisa ngebuat pembacanya bener-bener masuk dan ikut alur cerita yang spooky nya dapet bgt!
Overall, bagus banget gan. Ane apresiasi cerita agan
Oiya untuk ending nya, ada beberapa yg mau ane PM in ya gan
Quote:
Original Posted By mambo mesum►kereeen, sejauh ini ane cuma sepintas baca artikel tentang hitori kakurenbo, baru ini ada yang bahas permainan ini dalam bentuk cerita
ditunggu update nya bro, super kentang nih
Quote:
Original Posted By gilangazhari►keren banget ceritany gan
semoga ga sering2 kentang aja terus updateny lancar ampe tamat
ga kayak cerita2 laen sering digantung
Quote:
Original Posted By kungguru►Update lg gan , ane suka dengan gaya penulisan agan, ane bantu rate ya
Quote:
Original Posted By miracleaspowerr►ceritanya keren gan banget gan. suasananya kena banget lah. cocok jadi penulis novel nih
saran dong buat yang udah baca sampe abis di wattpad , jangan spoiler atau nyeritain ending disini
Quote:
Original Posted By hantuabu2►Epic ceritanya
Ane suka sama pembawan character tokoh yg begitu kental
Quote:
Original Posted By green.vexia►sampe bela2in dunlud app watpad di playstore, gak tahan dikentangin dimari
endingnya absurd bener asli, 6 jam mantengin hp serasa masuk ke alur cerita
lanjot gan, keren tulisan ente:
Sinopsis
Serombongan muda-mudi mengunjungi gedung sekolah lama mereka untuk bernostalgia. Ketika seseorang di antara mereka mengusulkan sebuah permainan pemanggilan arwah, firasat Gaby mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi, sehingga dia menelepon kekasihnya - Baron - agar datang menjemput.
Dua jam berikutnya, Baron datang sendirian. Panggilan teleponnya tidak pernah terhubung, dan pesan Gaby terputus semenjak gadis itu mengatakan bahwa upacara telah dimulai. Sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, Baron masuk ke dalam sekolah, hanya membawa senter dan jas hujan.
Tentang Hitori Kakurenbo
Hitori Kakurenbo, atau disebut Hide and Seek Alone dalam bahasa Inggris, adalah sebuah permainan pemanggilan arwah ini berasal dari Jepang, sama seperti boneka Jelangkung, di mana permain harus mengurbankan bagian tubuhnya terlebih dahulu. Yang mengerikan dari ritual ini adalah, arwah yang dipanggil akan menggerakkan boneka dan mencari pemanggilnya.
Berikut adalah beberapa langkah pemanggilan dalam ritual Hitori Kakurenbo (pembaca tidak dianjurkan untuk melakukannya):
Aturan persiapan:
Keluarkan busa boneka, masukkan beras dan bagian tubuh, jahit boneka dengan benang merah,
Siapkan alat-alat yang menggunakan sinyal untuk mendeteksi keberadaan spirit,
Berikan nama pada boneka, letakkan di air,
Cari semua pemain. Terakhir, kembali ke tempat boneka, tusuk dan katakan, “Sekarang giliran kamu jaga.”
Jangan menengok ke belakang ketika berlari.
Aturan dasar:
Jangan meninggalkan area permainan,
Tampung air garam di mulut untuk melindungi diri,
Persembahkan bagian tubuh sebagai tanda untuk bergabung ke dalam permainan,
Batasi durasi permainan selama dua jam saja, semakin lama berlangsung semakin kuat kekuatan spirit dan tidak akan bisa diusir.
Aturan pembatalan:
Sembur boneka dengan air garam, katakan, “Kami yang menang,” sebanyak 3x,
Buang, lalu bakar boneka untuk melepaskan kembali spirit yang dipanggil.
Baron tetap terdiam di tempatnya, menelan ludah. Dia tidak mungkin salah. Dia tadi jelas-jelas mendengar bunyi langkah, bukan mengiranya. Siapa dan kenapa dia bersembunyi?
Lalu mendadak, kilat terang menyilaukan menerangi area di sekitar Baron.
Baron hanya melihat sekilas dalam penerangan tak terduga tersebut. Tapi di kejauhan, ia melihat seseorang berlari menaiki tangga. Suara derapnya tersamarkan oleh gemuruh guntur.
“Hei! HEI!”
Detik berikutnya Baron berlari mengejar, menembus alang-alang yang menutupi jalan setapak menuju gedung TK. Cahaya senter di tangan Baron mengayun-ayun liar sementara ia berlari, jubah jas hujannya mengepak dan beradu gesek dengan semak-semak.
Dia baru berhenti berlari di depan pagar TK. Di hadapannya berdiri menjulang pintu gerbang kawat raksasa yang dililit tanaman liar setinggi tiga meter. Dulu Baron tidak pernah memahami kegunaan pagar ini, namun setelah melihatnya sekali lagi saat ini dia paham kalau gerbang ini merupakan satu-satunya akses keluar-masuk area TK. Untuk mengurung anak-anak di dalam selama jam sekolah, pikir Baron getir. Sekaligus melindungi mereka dari anak-anak SMP dan SMA yang badung.
Di luar dugaan, pintu tersebut mengayun terbuka begitu saja ketika Baron mendorongnya. Baron mendorongnya lebih keras untuk melawan gesekan dengan lantai keramik, hingga memberikan ruang yang cukup bagi Baron untuk menyelip masuk.
Pandangan Baron segera tertuju pada taman bermain. Semuanya masih ada, kelihatan seperti waktu itu, kecuali dalam keadaan rusak dan telantar. Beberapa ban karet yang dideretkan seperti terowongan telah sobek atau tercabut dari tanah, papan luncur perosotan patah di bagian tengah, dan beberapa anak tangganya juga sudah hilang; di bagian tengah taman, dari tiga ayunan hanya satu yang masih memiliki dua tali utuh, sisanya teruntai lemah pada satu tali – papan duduknya menyapu tanah dengan menyedihkan.
Baron menggelengkan kepala, berusaha fokus pada tujuan awalnya. Dia sedang mencari laki-laki – atau perempuan – yang berlari menuju lantai dua. Baron mengarahkan senternya kembali ke arah lantai koridor.
Jejak sepatu.
Sebelum berjongkok untuk memeriksanya, Baron memperhatikan keadaan sekitar – sekedar untuk menenangkan dirinya sendiri. Jejak tersebut masih baru, tanahnya lembab dan tebal, membawa sedikit genangan air. Kemudian Baron mengarahkan kembali senternya ke depan, apa yang dia lihat membuat isi perutnya terasa melonjak.
Lebih banyak jejak sepatu. Setidaknya dua, tiga orang – Baron tidak bisa memastikan, ini di luar pengetahuannya. Jejak-jejak itu bertumpuk – tumpang-tindih – hingga sulit dibedakan satu sama lain. Dengan keberadaan jejak ini, dia semakin yakin teman-temannya ada di sekitar sini.
Baron mengeluarkan teleponnya sekali lagi untuk mengecek sinyal. Masih nihil. Akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dan mengikuti jejak tersebut.
“Gaby?! Adam?!” panggil Baron, setengah berteriak. Suaranya dengan cepat terkubur oleh hujan dan aliran deras air dari pipa pembuangan.
Jejak yang diikuti Baron mengarah pada tangga yang dilihat Baron sebelumnya, tempat seseorang berlari dan lenyap sebelumnya. Ia mendaki perlahan, berusaha tidak membuat suara. Di lengkungan tangga, Baron mengintip ke atas, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan, tetapi kegelapan pekat menyelimuti lantai dua; sehingga dia terpaksa mendekat.
Setelah hampir dua puluh tahun lamanya, Baron sadar kalau dulu dia tidak pernah mengunjungi koridor lantai dua gedung TK. Anak-anak memang tidak diizinkan menaiki tangga karena berbahaya, sehingga tidak ada yang pernah ke sini tanpa pengawalan guru. Baron memeriksa sekelilingnya. Ruang guru terletak paling dekat dengan tangga di sisi kanan. Di sebelahnya, terdapat ruang rapat guru, dapur, dan ruang karyawan berurutan. Tembok sisi kiri koridor hanya dipasangi jendela-jendela kaca tinggi yang berhadapan langsung dengan koridor kelas anak-anak dan taman bermain. Dengan demikian guru-guru bisa mengawasi anak-anak setiap saat.
Part II
Spoiler for Part II:
“Adam?” panggil Baron.
“Gaby?!”
Baron menyeret kakinya tanpa suara mendekati pintu ruang guru yang terbuka. Ia melihat sekilas saja dengan bantuan senter, dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan temannya. Haruskah dia juga harus memeriksa ke kolong meja dan loker? Baron mendecakkan lidah, bulu kuduknya merinding. Dia tidak menyukai kegelapan, apalagi berada di dalam ruangan gelap sendirian. Maka dia membalikkan badan, berusaha menenangkan diri dengan memandang ke taman bermain melalui jendela terdekat.
Taman itu terlihat semakin buruk dari atas. Penuh tanah berlubang dan genangan air. Tanaman-tanaman hiasnya mati dan tergantikan rumput-rumput liar. Sangat disayangkan, padahal dulu dia senang sekali bermain kejar-kejaran di sana – menunggu orangtuanya datang menjemput dengan bermain di ayunan ...
“Eh?”
Perhatian Baron tertuju pada satu-satunya bangku ayunan yang masih bagus. Bangku itu bergoyang, rantainya mengayun berirama ke depan dan belakang. Seseorang duduk di atasnya, dengan kepala tertunduk.
“Vindha?!” bisik Baron tanpa sadar. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, dan hanya bagian belakang sosok itu yang terlihat. Tetapi seingat Baron rambut Vindha dulu dicat pirang, seperti gadis di taman. Gadis itu tampak lunglai di kursinya: kedua tangannya memegang rantai ayunan, sementara kakinya hanya menggantung di atas tanah becek.
“VINDHA!” panggil Baron keras-keras.
Sulit untuk mengetahui apakah gadis itu mendengarnya atau tidak. Tetapi sesaat kemudian ayunan itu berhenti mendadak. Gadis itu menatap melewati pundaknya, ke arah Baron. Lalu dia beranjak meninggalkan ayunannya, berjalan ke arah pintu gerbang.
Meskipun belum bisa memastikan apakah itu Vindha, Baron melangkah mundur, ingin mengejar gadis tersebut sebelum pergi terlalu jauh. Namun saat itu, di sudut matanya, Baron melihat sesuatu yang tak wajar di ujung koridor.
Sekilas, sosok itu jelas manusia – tepatnya laki-laki jangkung dengan tinggi mencapai 190 cm. Baron mengenal orang itu. Hanya satu di antara temannya yang setinggi itu.
“Ed? Edward?”
Sosok itu bereaksi begitu mendengar suara Baron. Lehernya berputar dengan janggal menghadap Baron. Kemudian dia mendesis tajam mengerikan. Raksasa itu berjalan mendekat.
Awalnya hanya bagian dada dan kakinya yang mendapat penerangan dari jendela. Baron mengikuti instingnya dan mengarahkan senter ke wajah Edward. Napas Baron terhenti sejenak.
Pria di hadapannya tidak memiliki warna hitam pada bola matanya. Hanya putih pucat, seakan seseorang merenggut pupil matanya. Meskipun demikian, Baron menduga Edward bisa melihatnya. Karena rahang Edward yang tadinya menggantung lemas kini menganga kencang, mengeluarkan lolongan melengking seperti binatang buas. Sesaat kemudian, raksasa itu berlari menerjang ke arah Baron; kedua tangannya terentang, seakan siap menerkam.
Secara naluriah, Baron berlari ke dalam ruang guru, membanting pintu menutup, dan menahan kenopnya dengan sekuat tenaga. Dalam sepersekian detik itu, Edward bahkan tidak menggunakan kenop pintu, dia menggebrak pintu dengan satu tendangan keras hingga pintu beserta Baron terhempas ke lantai dalam bunyi hantaman yang cumiakkan telinga.
“Edward! Ini aku, bodoh!” seru Baron panik. Si raksasa tidak mendengarkan, atau tampaknya tidak memahami Baron, karena dia menindihnya tanpa ampun. Satu tangan dengan kasar memiting, dan yang lainnya mencekik leher Baron. Edward melolong nyaring dan panjang.
“Lepaskan,” desis Baron tertahan. Lehernya begitu tegang hingga dia tidak bisa bersuara dengan normal, sebagai gantinya hanya hembusan udara tak beraturan yang berhasil keluar dari tenggorokannya. Napasnya tercekat, kemudian pandangannya perlahan menjadi semakin kabur – kesadarannya menipis bahkan dia tidak bisa mendengar lolongan Edward lagi. Rasanya dia mendengar bunyi benturan keras. Apakah itu suara lehernya yang patah?
Lalu ketika segalanya terasa tak tertahankan, kesadarannya pulih. Udara dingin memenuhi paru-parunya dengan tamak, dan pandangannya kembali fokus. Di sampingnya, tubuh Edward terkapar tak bergerak.
“Baron? Kau bisa mendengarku?”
“Ya, ya!” kata Baron, setengah tersedak oleh ludahnya sendiri. Baron menegakkan tubuh bagian atasnya, menatap langsung orang yang menyelamatkannya.
Part III
Spoiler for Part III:
Pria itu berjongkok di hadapannya, mengenakan kemeja bergaris lengan pendek dan celana jeans, sementara tangan kanannya memegang bongkahan kayu tebal. Matanya mengamati Baron dengan seksama, seolah menyelidik. Kemudian Baron mengenal rambut keriting dan janggut yang khas itu.
“Adam!” kata Baron lega. Ia berusaha berdiri, tapi tangan Adam memegang bahunya dan mencegah Baron. “Ada apa?”
“Apa kau mengenalku?”
Baron mengerjap kebingungan. Bahkan dengan apa yang baru saja terjadi, pertanyaan tersebut terasa janggal baginya. Sebelum Baron sempat berpikir lebih jauh, Adam sudah mengangkat gada kayunya dalam posisi menyerang.
“Ya, tentu saja!” kata Baron kaget. Kedua tangannya terangkat untuk mencegah pukulan. “Apa yang terjadi di sini? Apa yang kau lakukan?”
“Apa kau ke sini untuk menangkapku? Kau mengikutiku ke sini kan?” bentak Adam dalam teriakan.
“Aku tidak tahu apa-apa!” balas Baron, semakin panik. “Aku menyusul kalian karena terlambat. Aku baru datang ke sini, Adam! Tunggu...” Baron menyadari sesuatu. “Kau bilang kau melihatku mengikutiku tadi! Kenapa kau malah lari?!”
Setelah itu Adam tidak mengatakan apa-apa. Pria berambut keriting itu perlahan menegakkan diri, menjatuhkan balok kayu yang berlumuran darah. Tangan kanannya dijulurkan pada Baron.
“Sori kalau aku menakutimu,” kata Adam, terengah-engah. “Aku harus memastikan kau bukan ‘Penjaga’.”
“Bukan apa?” Baron menerima bantuan Adam untuk berdiri.
“Penjaga. Seperti dia –” Adam menunjuk Edward yang roboh dengan dagunya.
“Edward...” kata Baron tak percaya. “Apa yang terjadi dengannya? Dia kelihatan seperti tidak mengenalku. Bahkan sepertinya dia tidak mengenal dirinya sendiri?!”
“Ceritanya panjang,” kata Adam, “kita tidak bisa berlama-lama di sini, kita harus keluar dan mencari bantuan. Ikuti aku, Baron.”
Baron menahan bahu Adam. “Kita tidak bisa meninggalkan Edward begitu saja – dia terluka! Kau mungkin baru saja membelah kepalanya! Apa yang terjadi di sini?”
“Akan kuceritakan sambil jalan!” kata Adam tegas. “Dengarkan kata-kataku, Baron. Edward sudah bukan manusia lagi. Kalau aku tidak membunuhnya, dia yang akan membunuhmu!”
“Tapi... aku harus mencari Gaby!” protes Baron. Adam balas menatapnya dengan tajam.
“Dia akan selamat kalau kita segera menghubungi polisi dan warga sekitar. Percayalah, Baron. Kau baru saja merasakan sendiri kegilaan yang sedang terjadi di sini. Bukan cuma nyawa Gaby yang terancam. ‘Dia’ sedang mencari kita, dan akan menjadikan kita seperti Edward kalau ‘dia’ berhasil menangkap kita.”
“Siapa ‘dia’ yang kau maksud?” tuntut Baron putus asa. Tiba-tiba saja dia merasa segala hal berputar dan berada di luar kendalinya dalam sekejap.
“Sumber kegilaan ini,” kata Adam tak jelas. Dia berulang kali mengamati koridor, dan mengawasi ke bawah lewat jendela. “Kau tidak akan memercayaiku kalau tidak melihat kejadiannya langsung, Baron! Aku berjanji akan menjelaskannya kepadamu begitu kita aman. Tapi kau harus memercayaiku sekarang. Kita harus pergi dari sini! Sekarang!”
Sebelum Baron sempat mengatakan apa-apa, Adam berlari dan menghilang di balik pintu. Baron mengumpat, dan segera berlari menyusul temannya. Di dekat pintu, Baron melempar pandang sekilas pada tubuh Edward di lantai.
“Kau melihat sesuatu ketika masuk ke sini?” tanya Adam begitu menyadari Baron mengikutinya berlari menuruni tangga di belakang.
“Kurasa aku melihat Vindha,” kata Baron. Adam melempar pandang aneh pada Baron untuk sesaat. “Dia tampak sangat kacau, dia pergi setelah aku memanggilnya. Ada apa?”
“Semuanya gara-gara dia,” cecar Adam penuh emosi. “Gara-gara dia mengusulkan permainan ini.”
“Apa maksudmu?” Baron teringat dengan pesan Gaby tentang ide Vindha. “Gaby sempat mengatakan padaku kalau kalian melakukan sesuatu yang ... tidak biasa di sini.”
“Hitori kakurenbo,” kata Adam setengah berteriak untuk mengalahkan suara gemuruh petir. “Hide and Seek Alone. Permainan petak umpet dari Jepang.”
“Aku tidak mengerti. Apa hubungannya dengan semua ini?”
“Semuanya!” seru Adam. “Kita tidak bermain sendirian dalam permainan ini. Kita memanggil arwah!”
Baron tidak tahu harus mengatakan apa. Ia menunggu Adam melanjutkan penjelasannya. Mungkin dirinya baru saja salah mendengar beberapa bagian karena suara hujan. Atau mungkin Adam akan menatapnya, kemudian tertawa terbahak-bahak, dan yang lain muncul untuk menertawakan reaksinya.
Tetapi tidak terjadi apa-apa.
Part IV
Spoiler for Part IV:
Mereka terus berlari, dan Adam tidak melanjutkan ceritanya. Baron mencoba untuk mencerna kata-kata Adam.
“Di mana Gaby dan yang lain?” tanya Baron.
“Ssst!” Adam membuka pintu gerbang TK perlahan-lahan. Ia berjengit setiap kali pintu itu bergesek dengan keramik dan menimbulkan suara gaduh. Baron mengikuti Adam tepat di belakang. “Aku tidak tahu. Seharusnya mereka bersembunyi, sama seperti yang kulakukan barusan.”
“Sembunyi dari siapa?” kata Baron tak sabar.
“Mereka yang tertangkap dan berubah menjadi Penjaga!” balas Adam dalam suara tak lebih dari bisikan. “Kalau kau tertangkap, kau akan menjadi seperti Edward: kau bukan manusia waras lagi. Kau akan mengejar temanmu sendiri dan mencegatnya hingga Minako datang.”
Baron mengernyit. “Siapa Minako?”
“Dia roh yang dipanggil Vindha,” kata Adam berapi-api. “Awalnya kami hanya bermain-main, memberi nama pada sebuah boneka, mengumpulkan darah masing-masing untuk diberikan ke dalam boneka, kemudian kami bersembunyi. Siapa yang akan tahu kalau semua yang Vindha bilang akan menjadi kenyataan? Boneka itu benar-benar hidup! Boneka itu mengejar kita!” Kata-kata Adam semakin tidak jelas dan Baron menduga dia semakin berbicara sendiri daripada menjelaskan keadaan pada Baron.
“Kau seharusnya tidak perlu ke sini,” kata Adam tiba-tiba. “Kau belum terikat dengan perjanjian darah itu, Baron. Aku tidak mendengar peraturan yang dibacakan Vindha seluruhnya. Tapi aku yakin kau berada dalam bahaya sekarang. Kau yakin gerbang depan tidak ada siapa-siapa?”
“Kosong waktu aku datang.”
“Bagus, bagus..”
Tak lama kemudian, mereka telah meninggalkan jalan setapak dan kembali ke persimpangan awal tempat Baron pertama kali melihat bayangan Adam. Baron nyaris menabrak Adam ketika pria itu berhenti begitu mendadak.
“Gerbangnya.. tertutup,” kata Adam curiga.
Baron melihat melewati Adam. Kalau Adam mengatakan bahwa gerbang itu tertutup, dia baru benar separuhnya. Baron yakin sekali ketika dia datang gerbang itu memberi sedikit ruang setidaknya bagi satu orang untuk masuk. Tapi kali ini gerbang besi itu sudah melesak ke dalam tembok, bengkok dan seolah melebur bersama kerangka dinding sekoah.
“Siapa yang melakukannya..?”
Adam menggeleng, wajahya semakin pucat. “Pasti dia. Kita harus bergerak lebih cepat... ayo, Baron! Mungkin kita bisa memanjatnya.”
Gerbang itu memang tidak terlalu tinggi, tapi mustahil untuk dipanjat. Besi teralisnya berjejer paralel dan tidak menyediakan pijakan untuk kaki.
“Terlalu licin,” kata Adam getir. “Kita harus mencari tangga, meja, kursi, atau apapun untuk dijadikan pijakan.”
“Kau yakin kita harus meninggalkan yang lain?” tanya Baron cemas.
“Seratus persen. Mereka bisa menjaga diri, Baron. Mereka hanya perlu bersembunyi sampai polisi tiba,” kata Adam tergesa-gesa. Baron bimbang sejenak. Ia masih khawatir dan mencoba menelepon Gaby, tetapi teleponnya masih belum mendapat sinyal. Akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti saran Adam untuk sementara ini.
“Aku akan mencari di sekitar gudang,” kata Adam sambil berjalan menjauh. “Coba kau cari sesuatu di dekat pos satpam. Panggil aku kalau kau perlu bantuan.”
Baron berjalan mendekati pos satpam. Pos itu cukup besar, berisi kursi dan meja, dan ruang sholat. Baron mengitari bangunan tersebut, dan menemukan tangga portabel dari kayu bersandar melintang di antara semak-semak. Baron segera menghampirinya.
Tangga itu tidak terlalu berat seperti yang diduga Baron. Dia mengangkatnya dengan kedua tangan, dan sempat limbung karena beberapa anak tangga itu tersangkut dalam semak-semak. Ketika kehilangan keseimbangan itu, Baron merasa melihat sesuatu di dalam pos. Sesuatu yang tidak wajar. Tetapi begitu dia berhasil mengembalikan pijakannya, ia bahkan tidak tahu apa yang dilihatnya barusan. Baron berjalan perlahan melewati pintu pos, menuju gerbang. Sekilas, tidak terlihat apapun di dalam pos karena gelap gulita. Baron menahan keinginannya untuk meletakkan tangga dan memeriksa ke dalam dengan senter. Ia bergegas mencari Adam.
Untuk sesaat tadi, dia merasa yakin sesuatu mengawasinya dari balik kegelapan.
Part V
Spoiler for Part V:
“Aku menemukan tangga,” kata Baron terengah-engah. Ia buru-buru menyandarkan tangga itu di gerbang. Adam berlari kembali.
“Bagus sekali,” katanya senang. “Ayo, kita harus pergi sekarang.”
Baron menggeleng. “Kau bisa pergi duluan, Adam. Aku akan mencari Gaby.“
Adam memandangnya tidak percaya, seakan Baron orang gila. “Kau gila? Kau baru saja membayangkan sendiri apa yang bisa terjadi kan kalau aku tidak menyelamatkanmu tadi?”
“Justru karena itu aku harus mencari Gaby,” tukas Baron. “Aku merasakan sesuatu di pos satpam, Adam. Seseorang bersembunyi di sana. Mungkin Gaby, mungkin yang lain. Yang pasti dia tidak menyerangku barusan. Kurasa dia ketakutan.”
Adam melempar pandang cemas ke arah pos tersebut. “Kau yakin?”
“Seribu persen,” kata Baron, memaksakan diri menyeringai. “Meskipun aku masih tidak mengerti apa yang terjadi kau sudah membantuku, Adam. Aku akan segera menyusulmu, setelah menemukan Gaby dan membawanya kemari.”
“Terserah kau saja,” gumam Adam khawatir. “Aku akan segera membawa bantuan, Baron. Aku bersumpah.”
“Aku akan menunggu,” sahut Baron, menepuk punggung Adam. “Setelah itu kita akan reuni lagi besok. Sori aku terlambat tadi.”
Adam menyeringai kecil. “Dan aku minta maaf karena memperlakukanmu kasar tadi setelah lama tidak bertemu. Aku akan menebusnya segera... Aku akan segera kembali.“ Dia mulai memanjat anak tangga demi anak tangga. Baron berdiri di bawahnya, memegang gagang tangga untuk memastikan pijakan Adam tetap stabil.
“Sedikit lagi,” gumam Adam. Ia sudah berada di puncak gerbang, memosisikan kakinya dengan hati-hati melewati besi tajam yang melindungi puncak pagar. “Dan...” Dia melompat turun dan berguling dengan keras, namun tidak tampak berbahaya. Adam bangkit dan berbalik menghadap Baron dari sisi lain gerbang.
“Berhati-hatilah, Ron. Tunggu saja, kita akan ...”
Tapi apa persisnya yang akan dikatakan Adam tidak pernah terucapkan. Detik selanjutnya, sekujur tubuh Adam terihat menegang bagai terkena serangan jantung. Kedua matanya melebar dan mulutnya menganga seakan tidak percaya.
“ADAM!”
Baron mencoba mendekati temannya. Ingin memapahnya sebelum jatuh. Namun tangannya bahkan tidak sampai separuh jalan mendekati Adam. Di hadapannya, Adam membuka mulut tapi tidak dapat bersuara – hanya ratapan dan erangan menyedihkan yang terdengar. Kedua mata pria itu memandang lurus melewati Baron. Tatapannya ngeri tidak terperi.
Adam mencoba memperingati Baron sebelum ajal mencabut nyawanya. Ia mengangkat tangan sekuat tenaga, menunjuk sesuatu di belakang Baron, yang masih meneriakkan namanya berulang kali. Tetapi semuanya terlambat. Adam merasakan kegelapan menyelimutinya secepat hembusan nafas terakhir. Dan pemandangan yang terakhir dilihatnya adalah boneka Okiku yang berjalan di belakang Baron – MINAKO.