- Beranda
- Stories from the Heart
2 CINTA DI NUSA BUNGA
...
TS
andihunt
2 CINTA DI NUSA BUNGA
2 CINTA DI NUSA BUNGA
Sepenggal Kisah Tentang Kacamata Berbingkai Hitam & Kerudung Putih yang Anggun












PROLOG
Dulu....
Sebelum aku meneruskan kuliah di salah satu Universitas di Surabaya, aku mengambil kursus Bahasa Inggris di Kota Kediri untuk bekal kuliahku nanti. Namun pada kenyataanya aku terpaksa harus mengubur mimpi untuk kuliah di jawa dan pergi sekian mil jauhnya meninggalkan kampung halaman, sahabat bahkan Ibuku sendiri untuk memenuhi keinginanku melanjutkan kuliah.
Saat itu aku sadar kondisi ekonomi keluarga kami di kampung tidak cukup untuk memenuhi ambisiku meneruskan kuliah di kota besar seperti Surabaya. Jadi, aku akhirnya menerima tawaran kakakku untuk meneruskan kuliah di pulau antah berantah. Sebuah pulau yang tak pernah terbayangkan bahwa aku akan terdampar disana.
Dan sekarang aku akan bercerita tentang kisah perjalananku di pulau seberang, salah satu pulau di Nusa Tenggara yang dikenal sebagai Pulau Bunga, sebagian ada juga yang menyebutnya sebagai Nuca Nepa (Pulau Ular).
Dari sana awal petualanganku dimulai, ketika akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku telah terdampar terlalu jauh dan bertarung dengan kegelisahan yang muncul di setiap saat, kegelisahan tentang nasib kuliahku disana dan juga ketergantungan hidup pada orang lain.
Namun dari kegelisahan ini akhirnya mengajari aku satu hal bahwa dalam perantauan aku harus berani mengambil resiko keluar dari gejolak hati yang sengaja aku ciptakan sendiri dan mencari jati diriku sebenarnya.
Kehidupan memang seperti semangkuk buah ceri, selalu ada rasa asem dan manis. Seperti kisah perjalananku ini yang telah membawaku bertemu dengan dua sosok wanita yang selalu memberi kedamaian dan mengajari aku tentang arti dari sebuah cinta dan persahabatan. Meskipun pada akhirnya, kita tak pernah bertemu lagi dan pulau itu hanya sebagai pulau transit saja. Kita mempunyai tujuan akhir yang berbeda, namun rasa cinta itu selalu ada di masing-masing potongan hati kita, dan selalu ada....selamanya.
And... the story goes.....
"..................."
Surabaya, 22 Maret 2014
Di hari yang kuimpikan, langit biru yang menawan seakan ku terbang melayang.
Kusambut cerahnya mentari, kutinggalkan semua mimpi seakan ku masih berlari.
Malam yang terus membisu, kota yang tampak membeku seakan kau ada didekatku.
Ah, sudah tak terhitung berapa kali aku menyanyikan lagu ini di teras rumah ketika rintik hujan dan malam yang sepi menggoda pikiran untuk membayangkan sosok yang pernah ada mengisi lembaran hati kala itu. Sosok wanita yang memiliki hati seputih salju dan senyum indah seperti bunga sakura yang berguguran di musim semi.
Surabaya terlihat sepi, sunyi dan semua yang terlihat hanya gelap malam dan kerlipan lampu yang nampak samar. Suara rintikan hujan menari nari di genting teras berlari beriringan dengan petikan gitarku yang semakin terdengar lirih. Sebuah malam yang menuntunku kembali ke suatu kisah yang menyisakan senyum kecil direlung hati ketika aku mengingatnya.
Entah kenapa aku menciptakan lagu itu beberapa tahun silam. Sebuah lagu yang kutulis melawan hati nurani untuk memilikinya dengan utuh. Ya, sebuah lagu yang menceritakan tentang seseorang yang mengagumi keindahan bunga mawar tanpa bisa memilikinya.
Di malam yang sunyi ini, sebuah gitar kembali memaksa aku bercerita tentang kisah cinta seorang pemuda di pulau seberang, tentang kacamata berbingkai hitam dan kerudung putih yang anggun.
Di suatu pulau di bagian tenggara Indonesia yang dikenal sebagai Pulau Ular awal cerita ini dimulai. Yah, Pulau Ular yang telah melilit aku dalam cintanya dan membius aku dengan bisanya yang melumpuhkan sendi-sendi tulangku hingga kini. Pulau itu.... adalah Nusa Bunga yang memiliki kota Maumere dengan segala hiruk pikuknya.
Hujan semakin deras menyisakan dingin menyelimuti kalbu. Senar gitarku masih begetar dengan nada yang sumbang. Kesendirian ini bertemankan gitar dan secangkir kopi yang siap mengantarkan aku pada suatu memori yang tersimpan rapi di relung hati terdalam. Dan, asap tipis dari secangkir kopi ini mulai memudar dan bercerita tentang kisah masa lalu. Tentang sebuah Kota yang mempertemukan aku dan mereka, dan dengan segala harapan yang pupus disana.
.........................
--Di suatu tempat di seberang samudera, ada sebuah pulau nan indah, pulau yang dikenal sebagai pulau bunga. Sebuah pulau di Nusa Tenggara yang menjadi dermaga cinta ini berlabuh pada dua hati. Namun, hanya ada satu cinta yang mengajari aku tentang arti dari sebuah perpisahan.--
Soundtrack
INDEX
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh andihunt 05-09-2014 18:50
nona212 dan anasabila memberi reputasi
3
28.4K
210
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
andihunt
#154
Hitam. Part 5
"....."
"Sudah ga bakal kepleset lagi. Kan udah jauh dari bantalan tanggul pelabuhan" kataku melirik meissa disamping. Kita berjalan berdekatan menikmati tiupan angin laut yang menyejukkan. "Heh masih pegang-pegang aja?"
"Uhmmm! Iya! Kenapa lagi aku pegang tanganmu terus!"
"Ga apa kok." Ucapku terkekeh. Meissa menunduk malu lantas melirik kewajahku.
"Ndi, kamu orang pertama yang ngajak aku keluar sejauh ini. Dan aku mau!"
"Emang selama ini ga ada yang ngajak?" Tanyaku menolehnya. Aku lantas terdiam memandang wajahnya yang tertutupi kerudung putih. Hanya terlihat sedikit hidung mancungnya. "Masa cewek secantik kamu ga ada yang deketin!"
"Banyak!" Kata meissa dengan suara tertahan "Tapi aku tak pernah percaya sama mereka."
"Kenapa?"
"Ga tau, ndi. Tapi...." Kata meissa menahan langkahku. Aku berhenti dan melihat gerakan bibirnya yang sendu. "Taaaapi.... Kok aku bisa percaya sama kamu?"
"Jadi selama ini kamu masih curiga sama aku. Bakal culik kamu dan membawa kabur dari sini?" Tanyaku menahan tawa. Meissa terdengar menghembuskan nafas panjang lantas memandang ke langit.
"Aku ga curiga sama kamu. Tapi kamu berbeda dari mereka. Kamu bisa ngertiin aku, ndi"
"Dari mana?" Aku menyela bicaranya dan mengajaknya berjalan lagi menuju tanggul yang meninggi.
"Saat kamu melihatku kesulitan bernafas di dalam angkot tadi. Dan kamu langsung menawarkan diri membuka jendela angkot itu" ujar meissa mengembangkan senyumnya. "Aku lihat bapak perokok tadi seperti tak enak hati sama kamu, ndi. Lantas membuang puntung rokok itu, hihi" tawanya memecah hembusan angin. Aku ikut tertawa tapi sedikit berpikir maksud perkataannya.
"Itu kan hal biasa, meissa." Kataku menoyor pundaknya. "Aku ga mau cewek cantik seperti kamu mendadak pingsan di dalam angkot. Bakal repot tau ga sih!"
"Apaan sih! Menggoda aja senengnya, ya!" Katanya manja. "Tapi serius, cewek suka lo diperhatikan seperti itu. Kayaknya kamu pengalaman banget ya, ndi"
"Pengalaman apa? Pacaran aja ga pernah!"
"Masa sih?" Tanyanya sambil tersenyum miris. "Pasti boong nih, kalo ga boong berarti emang ga laku. Kasian!"
"Kamu kan belum pernah pacaran juga. Kasian, cewek cakep tapi ga laku!" Aku membalas ejekannya. Meissa lantas mendadak cemberut dan mencubit lenganku lagi. Aku meringis kesakitan tapi menikmatinya.
"Rasain tuh!"
"...."
Lama kita bercanda menikmati semilir angin yang menuntun kita mendekati masjid beru. Aku lihat sebuah ruangan kelas SMP di samping masjid itu dan seketika terdiam sendiri di samping meissa. Aku menengok kesamping tanggul dan melihat sebuah sampan yang terikat di tepi pelabuhan. Perahu kayu itu terayun-ayun digiring ombak halus. Meninggalkan sepi, dan menyisakan satu cerita diatasnya. Aku lantas berhenti, menyandarkan tubuhku di pinggir tanggul dan memejamkan mata sesaat. Seketika hanya gelap di sekelilingku, hanya terlihat samar lampu-lampu pelabuhan. Dan terdengar langkah dua anak manusia saling berlari. Anak satunya memakai kemeja putih kotak-kotak dan satunya seorang gadis berkacamata hitam. "Ah lari kemana khayalanku?"
"......."
"Dasar tukang melamun!!!" Teriak meissa menarik tanganku. "Jadi aku ngomong sendirian dan kamu ninggalin aku dibelakang!" Ocehnya tiba-tiba.
"Rrrrrr... Eits! Berani pegang-pegang lagi ya!" Kataku menggodanya. Meissa langsung melepaskan genggamannya dan mengajakku memprcepat langkah lagi.
"Lihat, udah hampir sore! Jangan main ninggalin aja kayak gitu!" Dia memperlihatkan alojinya ke mukaku. Aku menganguk mengiyakan. Takut bakal dicubit lagi dengan kukunya.
"Ikh! Gitu aja sudah ngamuk. Bentaran lagi sudah nyampe tuh di depan sana"
"Ya udah ayo jalan. Dasar keong!" Ejeknya lagi sambil menjulurkan lidah. Aku tersenyum bahagia melihatnya. " Ternyata sisi asli dari meissa sudah keluar." Gumamku dalam hati menggandeng tanganya lagi. Meissa menyadari tanganku menempel di pergelangan tangannya tapi kini dia tak protes sama sekali.
"Aku pegang tanganmu ya, meissa. Aku takut kamu bakal terpeleset jatuh. Jalannya agak rusak karena proyek yang belum rampung!" kataku sedikit membungkuk menatap wajahnya.
"....." Meissa cuma tersenyum simpul. Tak ada sepatah kata keluar dari bibir tipisnya. Tak ada lagi cubitan itu. Dan tak ada rasa sungkan lagi dari dalam diri kita berdua.
"......"
"Berani?" Ucapku sambil menunjuk puncak tanggul yang setinggi atap rumah, di hadapan kita.
"Jadi kamu dulu naik tanggul ini?" Tanya Meissa seakan tak percaya. "Lewat mana naiknya?"
"Berani ga?" Kataku lagi mengejeknya. "Yah, keong! Anak rumahan. Mana berani!"
"Lewat mana?"
"Tuh! Naik tangga disebelah sana!" Ujarku memperlihatkan tangga agak rusak yang pernah aku naiki dulu.
"....." Meissa memasang muka sebel sampai alisnya ketarik sebelah. Dia menunduk dan dilihatnya rok warna hitam panjang yang menutupi kakinya.
"Aku berani!" Jawabnya mantap melihat kedua mataku.
"Beneran?"
"Nih... Nih!!!" Dia lalu jongkok dan melepaskan kedua sepatu ketsnya. "Aku lepasin juga nih kaos kaki!" lanjutnya dengan nada menantang.
"Eh! Ga usah kayak gitu juga." Aku kaget melihatnya. Padahal aku cuma bercanda.
"Aku ingin lihat tepian keindahan kota maumere dari atas sana. Seperti ceritamu tadi. Ayo, cepetan bawa aku keatas!" dia lalu buru-buru menggulung roknya. Terlihat sedikit pahanya yang putih tapi dia merasa ga malu kalo ada seorang cowok didekatnya.
"Aku gendong?"
"Ya terserah. Pokoknya bawa aku keatas. Cepetan!"
"Enak aja. Kita naik keatas sendiri-sendiri aja"
"Oke, kamu naik duluan. Pegangin tanganku ya!" Kali ini dia sedikit memelas. Aku tersenyum melihat semangatnya. Aku lalu menaiki tangga itu setapak dan kutunggu uluran tangan meissa.
"Siniin tanganya!" Ucapku melihatnya kesulitan naik.
"Iya, tapi susah nih. Roknya turun mulu!"
"Hm..." Aku menoleh ke sekitar tanggul ini. Sepi, ga ada anak kecil bermain keong seperti dulu. Tiba-tiba aku lihat tong besi bekas proyek tidak jauh dari meissa berdiri. "Meissa, coba kamu pake tong itu!"
"...." Meissa melangkah mundur dan meraih tong besi itu. Dia berpijak diatasnya dan menapaki anak tangga pertama. Aku berhasil meraih tangannya dan menariknya keatas.
"Kamu berat juga, ya! Mangkanya jangan gendut lah jadi cewek!" Dengan susah payah aku menaiki tangga tanggul ini dan menahan meissa supaya tidak tergelincir.
"Bodo! Aku ga gemuk! Tapi berisi tau!" Teriaknya dari bawah. "Udah jangan ngomel aja. Pegangin tanganku! Ntar aku jatoh, aku nangis lagi"
"Yaelah! Ya udah ah! Cepetan, panas nih!"
"...."
Setapak demi setapak kita menaiki tangga itu dan akhirnya kita sampai juga di puncaknya. Angin berhembus semakin kencang membentur tubuh kita berdua. Aku lihat Meissa duduk mendekap kedua lututnya di sampingku. Kerudungnya tersibak kebelakang berkali-kali sampai rambut merahnya tergerai sedikit dipundaknya.
"Kedinginan ya?" Ujarku menyenggol pundaknya.
"Ndi!" Matanya melotot kearahku. "Jangan main senggol, aku takut ketinggian tau!"
"Oh!!! Jadi kamu penakut juga. Sini aku ajari supaya ga takut sama ketinggian!"
Seketika aku memegang kedua bahunya dan mengajaknya berdiri di atas tanggul tebal ini.
"Katanya mau lihat keindahan pulau pemana?"
"Iya, tapi duduk aja udah kelihatan tuh disana!" Dia mulai ngambek.
"Ya udah kalo gitu aku tinggalin disini ya. Aku mau berdiri jalan-jalan kesebelah sana!" Kataku sambil berdiri selangkah menjauhinya. Meissa lantas menoleh dan memegang tanganku erat.
"Jangan tinggalin. Aku takut!"
"Ya udah. Tenang aku pegang tanganmu kok." Pelan-pelan lalu aku ajak meissa berdiri dan membiarkan tubuh kita berdua bergetar diterpa angin. "Meissa tuh lihat disana! Semakin kelihatan kan pulau pamana?"
"Iyyyya, ndi." Teriaknya sedikit bergetar memecah angin. "Di sebelah sana apa?"
"Yang mana?"
"Ituh!" Meissa menarik pandangnya ke gunung tinggi di ujung kiri kota maumere.
"Itu gunung!"
"Bukan yang itu! Tapi benda putih diatas gunung itu!" Telunjukknya kembali melayang di keningku seperti biasa ia lakukan. Tiba-tiba entah dia tersadar atau tidak dibetulkannya rambut lurus yang menutupi sebelah mataku.
"Meissa?" Aku menatapnya polos. Meissa juga menatapku. "Kamu bisa melihatnya kan sekarang?" Katanya menyibakkan rambutku lagi.
"Iya. Itu patung Bunda Maria Segala Bangsa!" Jawabku tanpa melihat arah telunjuknya. Aku masih menatap kedua bola matanya. Meisa menyadari tatapan anehku lantas berpaling menatap laut yang membiru.
"Ndi... Hm.... Indah ya kota maumere dari sini. Selama ini aku ga tau kalo aku terpenjara di surganya Tuhan" katanya mengehela nafas panjang.
"Benar meissa. Kita tak pernah bisa memahami keindahan hanya dengan duduk memojokkan diri di sudut jendela kelas lantas terlamun menatap papan hitam seperti orang gila" jawabku sekenanya dan meissa merasa tersindir. Aku lihat tanganya terangkat dan kuku merahnya mendadak menakutkan "Tenang aku siap kok di cubit lagi!"
Mendadak tanganya perlahan turun. Dia ga jadi mencubitku.
"Ndi?" Panggilnya menatapku dengan tatapan nanar.
"Iya"
"Ga jadi!"
"Loh?"
"Ya ga jadi aja. Ga usah lah...loh segala!"
"Hm..."
"...."
"Ya udah yuk kita duduk lagi" ajaknya tanpa merubah ekspresi bingungnya.
"...."
Maumere memang kota panas. Saking panasnya mungkin bisa buat memasak telur mata sapi di aspal jalan. Tapi kita berdua seperti tidak merasakan panasnya kota maumere siang ini. Entahlah... Kota ini mendadak saja menjadi dingin seperti musim salju. Apa karena aku sedang duduk di atas tanggul ini bersama meissa yang dari tadi enggan melepaskan genggaman tanganku?. Ah, aku benci tanda tanya ini.
"Ndi, lihat! Airnya muncrat sampai sini" meissa tertawa lantas membuka telapak tangannya menangkap cipratan ombak laut itu. "Eh.. Eh lepas lagi" teriaknya manja bernada.
Aku melihatnya jadi merasa lucu sendiri.
"Kamu seperti cewek yang baru keluar dari hukuman penjara seratus tahun, tahu ga sih!"
"Biarin. Baru kali ini aku bisa main-main sama air laut!" Dia menjulurkan lidahnya lagi. "Kok tambah cantik sih nih anak lama-lama" pujiku dalam hati melihat kelakuannya yang kekanak-kanakan.
"Oh iya aku ingat!" Tiba-tiba dia menepis tanganku yang menempel di pergelangan tangannya. "Aku tadi mau omong ini, ndi!"
"Masalah pegangan tangan!" Tukasku menoyor bahunya lagi. Meissa kali ini malah tertawa. Ga ketakutan seperti menit-menit yang lalu.
"Yey! Bukan!" Nadanya kembali manja. "Tapi masalah naik tanggul ini. Kamu pernah bilang kan dulu..."
"Bilang apa?"
"Saat kamu buat aku nangis di depan kelasku"
"Hmmm...." Aku mengingat-ingat lama. Kemudian meissa membalas menoyor bahuku.
"Kelamaan ah! Mm... Tentang bagaimana aku harus menapaki anak tangga itu sekarang dan mencapai puncaknya segera!" Katanya bersemangat.
"Oh... Iya aku ingat!"
"Mungkin seperti ini ya, ndi. Kita tadi bersusah payah naik tanggul ini dan pada akhirnya.... Lihatlah.... Banyak perahu berjejer indah sepanjang pantai berpasir putih, pulau lombok di depan sana, dan patung bunda maria di ujung gunung sana" jelasnya panjang lebar, sok tahu.
"Itu pulau Pemana! Bukan pulau Lombok!" Kataku meralatnya. Dia malah enggan menganguk.
"Pulau lombok! Aku ga nunjuk pulau besar di depan kita, tapi yang paling kecil itu!" dia membalas sewot sambil mengarahkan telunjuknya ke pulau lain yang lebih kecil hampir tak telihat.
"Bukan! Itu pulau sukun! Kamu jangan sok tau lah, ga pernah belajar geografi ya!" Ujarku memulai perdebatan denganya "pulau lombok jauh disana. Ga terlihat dari sini!"
"Bodo! Pokoknya itu pulau lombok. Titik!"
"Terserah!" Kataku lirih. Dari pada mengajaknya berdebat terus mending disudahi aja.
"Tapi bener katamu, ndi. Semakin sabar dan susah payah aku menapaki tangga kehidupan, semakin aku bisa melihat keindahan itu di puncaknya. Aku yakin! Aku akan meraih puncak itu segera!" Katanya berapi-api sembari mengepalkan kedua tanganya.
"Kamu pasti bisa, meissa. Aku yakin!" Jawabku menyemangatinya.
"Tapi...." Meissa lantas menatap dalam kedua mataku. Aku melihat kesedihan itu muncul kembali dari kedua matanya yang berbinar.
"Tapi apa, meissa?"
"Tapi aku tak bisa menapaki tangga itu sendirian!" Katanya tanpa melepaskan tatapan polosnya kewajahku. "Kamu yang membantuku menaiki tangga ini!"
"...." Aku menggeleng pelan di depannya. "Nggak, meissa. Aku ga membantumu"
"Aku ga mungkin bisa naik sampai ke atas sini tanpa bantuanmu, ndi"
"Aku cuma memegang tanganmu, meissa. Aku mencoba membuatmu tidak tergelincir jatuh" jelasku meraih kedua tanganya. "Lihat! Telapak tanganmu sampai kasar begini, kan? Kerikil itu melukai tanganmu. Tapi kamu tetap bersemangat menaiki tangga ini"
"...." Meissa menyunggingkan senyumanya lantas menganguk mengerti apa yang aku ucapkan. Meski tatapan matanya tetap sendu melihat peluh meluncur deras di pelipisku.
"Kamu ga sedang berbohong, kan?" Kata meissa menyeka sedikit peluh yang mengalir di pelipisku.
"Nggak, meissa yang cantik jelita" godaku tersenyum padanya. Meissa malah nyengir dan membuang muka.
"Gombal!!"
"....." tiba-tiba hening mendekap kita. Hanya terdengar gulungan ombak halus menerpa tanggul berkali-kali.
"So, you're buying a stairway to heaven?" Tanyaku mengungkit kejadian tempo dulu saat kita bersandar di tembok kelasnya.
"Aku ga akan membeli tangga hanya untuk meraih puncak yang aku inginkan! Aku bisa meraihnya sendiri dengan usahaku!"
"Bagus! Salut!" aku bertepuk tangan di depannya.
"Eh... Tapi kayak lagunya.... Mm... Siapa itu, eee... Led zeppeling, ya?" Ucapnya mengingat sesuatu.
"Led Zeppelin!. Kok kamu tau?"
"Aku sering denger musik-musik jadul gitu dari papa. Dia suka memutar piringan hitam saat kita berkumpul minum teh di sore hari."
"Jadi ngerti lagu-lagu Led Zeppelin?"
"Ya ngerti lah. Aku juga suka lagu-lagu nirvana, queen, judy garland. Pokoknya musik-musik jadul lah. Mamaku juga suka."
"Wow!!. Cadas juga kamu ya. Kirain cewek selembut kamu bakal suka lagu-lagu dangdut gitu, hehe"
"Emang hanya cowok aja yang boleh suka lagu itu?"
"Ya ga juga." Ujarku mengalah. Aku tau bakal semakin panjang jika berdebat denganya.
"...."
"Sudah ga bakal kepleset lagi. Kan udah jauh dari bantalan tanggul pelabuhan" kataku melirik meissa disamping. Kita berjalan berdekatan menikmati tiupan angin laut yang menyejukkan. "Heh masih pegang-pegang aja?"
"Uhmmm! Iya! Kenapa lagi aku pegang tanganmu terus!"
"Ga apa kok." Ucapku terkekeh. Meissa menunduk malu lantas melirik kewajahku.
"Ndi, kamu orang pertama yang ngajak aku keluar sejauh ini. Dan aku mau!"
"Emang selama ini ga ada yang ngajak?" Tanyaku menolehnya. Aku lantas terdiam memandang wajahnya yang tertutupi kerudung putih. Hanya terlihat sedikit hidung mancungnya. "Masa cewek secantik kamu ga ada yang deketin!"
"Banyak!" Kata meissa dengan suara tertahan "Tapi aku tak pernah percaya sama mereka."
"Kenapa?"
"Ga tau, ndi. Tapi...." Kata meissa menahan langkahku. Aku berhenti dan melihat gerakan bibirnya yang sendu. "Taaaapi.... Kok aku bisa percaya sama kamu?"
"Jadi selama ini kamu masih curiga sama aku. Bakal culik kamu dan membawa kabur dari sini?" Tanyaku menahan tawa. Meissa terdengar menghembuskan nafas panjang lantas memandang ke langit.
"Aku ga curiga sama kamu. Tapi kamu berbeda dari mereka. Kamu bisa ngertiin aku, ndi"
"Dari mana?" Aku menyela bicaranya dan mengajaknya berjalan lagi menuju tanggul yang meninggi.
"Saat kamu melihatku kesulitan bernafas di dalam angkot tadi. Dan kamu langsung menawarkan diri membuka jendela angkot itu" ujar meissa mengembangkan senyumnya. "Aku lihat bapak perokok tadi seperti tak enak hati sama kamu, ndi. Lantas membuang puntung rokok itu, hihi" tawanya memecah hembusan angin. Aku ikut tertawa tapi sedikit berpikir maksud perkataannya.
"Itu kan hal biasa, meissa." Kataku menoyor pundaknya. "Aku ga mau cewek cantik seperti kamu mendadak pingsan di dalam angkot. Bakal repot tau ga sih!"
"Apaan sih! Menggoda aja senengnya, ya!" Katanya manja. "Tapi serius, cewek suka lo diperhatikan seperti itu. Kayaknya kamu pengalaman banget ya, ndi"
"Pengalaman apa? Pacaran aja ga pernah!"
"Masa sih?" Tanyanya sambil tersenyum miris. "Pasti boong nih, kalo ga boong berarti emang ga laku. Kasian!"
"Kamu kan belum pernah pacaran juga. Kasian, cewek cakep tapi ga laku!" Aku membalas ejekannya. Meissa lantas mendadak cemberut dan mencubit lenganku lagi. Aku meringis kesakitan tapi menikmatinya.
"Rasain tuh!"
"...."
Lama kita bercanda menikmati semilir angin yang menuntun kita mendekati masjid beru. Aku lihat sebuah ruangan kelas SMP di samping masjid itu dan seketika terdiam sendiri di samping meissa. Aku menengok kesamping tanggul dan melihat sebuah sampan yang terikat di tepi pelabuhan. Perahu kayu itu terayun-ayun digiring ombak halus. Meninggalkan sepi, dan menyisakan satu cerita diatasnya. Aku lantas berhenti, menyandarkan tubuhku di pinggir tanggul dan memejamkan mata sesaat. Seketika hanya gelap di sekelilingku, hanya terlihat samar lampu-lampu pelabuhan. Dan terdengar langkah dua anak manusia saling berlari. Anak satunya memakai kemeja putih kotak-kotak dan satunya seorang gadis berkacamata hitam. "Ah lari kemana khayalanku?"
"......."
"Dasar tukang melamun!!!" Teriak meissa menarik tanganku. "Jadi aku ngomong sendirian dan kamu ninggalin aku dibelakang!" Ocehnya tiba-tiba.
"Rrrrrr... Eits! Berani pegang-pegang lagi ya!" Kataku menggodanya. Meissa langsung melepaskan genggamannya dan mengajakku memprcepat langkah lagi.
"Lihat, udah hampir sore! Jangan main ninggalin aja kayak gitu!" Dia memperlihatkan alojinya ke mukaku. Aku menganguk mengiyakan. Takut bakal dicubit lagi dengan kukunya.
"Ikh! Gitu aja sudah ngamuk. Bentaran lagi sudah nyampe tuh di depan sana"
"Ya udah ayo jalan. Dasar keong!" Ejeknya lagi sambil menjulurkan lidah. Aku tersenyum bahagia melihatnya. " Ternyata sisi asli dari meissa sudah keluar." Gumamku dalam hati menggandeng tanganya lagi. Meissa menyadari tanganku menempel di pergelangan tangannya tapi kini dia tak protes sama sekali.
"Aku pegang tanganmu ya, meissa. Aku takut kamu bakal terpeleset jatuh. Jalannya agak rusak karena proyek yang belum rampung!" kataku sedikit membungkuk menatap wajahnya.
"....." Meissa cuma tersenyum simpul. Tak ada sepatah kata keluar dari bibir tipisnya. Tak ada lagi cubitan itu. Dan tak ada rasa sungkan lagi dari dalam diri kita berdua.
"......"
"Berani?" Ucapku sambil menunjuk puncak tanggul yang setinggi atap rumah, di hadapan kita.
"Jadi kamu dulu naik tanggul ini?" Tanya Meissa seakan tak percaya. "Lewat mana naiknya?"
"Berani ga?" Kataku lagi mengejeknya. "Yah, keong! Anak rumahan. Mana berani!"
"Lewat mana?"
"Tuh! Naik tangga disebelah sana!" Ujarku memperlihatkan tangga agak rusak yang pernah aku naiki dulu.
"....." Meissa memasang muka sebel sampai alisnya ketarik sebelah. Dia menunduk dan dilihatnya rok warna hitam panjang yang menutupi kakinya.
"Aku berani!" Jawabnya mantap melihat kedua mataku.
"Beneran?"
"Nih... Nih!!!" Dia lalu jongkok dan melepaskan kedua sepatu ketsnya. "Aku lepasin juga nih kaos kaki!" lanjutnya dengan nada menantang.
"Eh! Ga usah kayak gitu juga." Aku kaget melihatnya. Padahal aku cuma bercanda.
"Aku ingin lihat tepian keindahan kota maumere dari atas sana. Seperti ceritamu tadi. Ayo, cepetan bawa aku keatas!" dia lalu buru-buru menggulung roknya. Terlihat sedikit pahanya yang putih tapi dia merasa ga malu kalo ada seorang cowok didekatnya.
"Aku gendong?"
"Ya terserah. Pokoknya bawa aku keatas. Cepetan!"
"Enak aja. Kita naik keatas sendiri-sendiri aja"
"Oke, kamu naik duluan. Pegangin tanganku ya!" Kali ini dia sedikit memelas. Aku tersenyum melihat semangatnya. Aku lalu menaiki tangga itu setapak dan kutunggu uluran tangan meissa.
"Siniin tanganya!" Ucapku melihatnya kesulitan naik.
"Iya, tapi susah nih. Roknya turun mulu!"
"Hm..." Aku menoleh ke sekitar tanggul ini. Sepi, ga ada anak kecil bermain keong seperti dulu. Tiba-tiba aku lihat tong besi bekas proyek tidak jauh dari meissa berdiri. "Meissa, coba kamu pake tong itu!"
"...." Meissa melangkah mundur dan meraih tong besi itu. Dia berpijak diatasnya dan menapaki anak tangga pertama. Aku berhasil meraih tangannya dan menariknya keatas.
"Kamu berat juga, ya! Mangkanya jangan gendut lah jadi cewek!" Dengan susah payah aku menaiki tangga tanggul ini dan menahan meissa supaya tidak tergelincir.
"Bodo! Aku ga gemuk! Tapi berisi tau!" Teriaknya dari bawah. "Udah jangan ngomel aja. Pegangin tanganku! Ntar aku jatoh, aku nangis lagi"
"Yaelah! Ya udah ah! Cepetan, panas nih!"
"...."
Setapak demi setapak kita menaiki tangga itu dan akhirnya kita sampai juga di puncaknya. Angin berhembus semakin kencang membentur tubuh kita berdua. Aku lihat Meissa duduk mendekap kedua lututnya di sampingku. Kerudungnya tersibak kebelakang berkali-kali sampai rambut merahnya tergerai sedikit dipundaknya.
"Kedinginan ya?" Ujarku menyenggol pundaknya.
"Ndi!" Matanya melotot kearahku. "Jangan main senggol, aku takut ketinggian tau!"
"Oh!!! Jadi kamu penakut juga. Sini aku ajari supaya ga takut sama ketinggian!"
Seketika aku memegang kedua bahunya dan mengajaknya berdiri di atas tanggul tebal ini.
"Katanya mau lihat keindahan pulau pemana?"
"Iya, tapi duduk aja udah kelihatan tuh disana!" Dia mulai ngambek.
"Ya udah kalo gitu aku tinggalin disini ya. Aku mau berdiri jalan-jalan kesebelah sana!" Kataku sambil berdiri selangkah menjauhinya. Meissa lantas menoleh dan memegang tanganku erat.
"Jangan tinggalin. Aku takut!"
"Ya udah. Tenang aku pegang tanganmu kok." Pelan-pelan lalu aku ajak meissa berdiri dan membiarkan tubuh kita berdua bergetar diterpa angin. "Meissa tuh lihat disana! Semakin kelihatan kan pulau pamana?"
"Iyyyya, ndi." Teriaknya sedikit bergetar memecah angin. "Di sebelah sana apa?"
"Yang mana?"
"Ituh!" Meissa menarik pandangnya ke gunung tinggi di ujung kiri kota maumere.
"Itu gunung!"
"Bukan yang itu! Tapi benda putih diatas gunung itu!" Telunjukknya kembali melayang di keningku seperti biasa ia lakukan. Tiba-tiba entah dia tersadar atau tidak dibetulkannya rambut lurus yang menutupi sebelah mataku.
"Meissa?" Aku menatapnya polos. Meissa juga menatapku. "Kamu bisa melihatnya kan sekarang?" Katanya menyibakkan rambutku lagi.
"Iya. Itu patung Bunda Maria Segala Bangsa!" Jawabku tanpa melihat arah telunjuknya. Aku masih menatap kedua bola matanya. Meisa menyadari tatapan anehku lantas berpaling menatap laut yang membiru.
"Ndi... Hm.... Indah ya kota maumere dari sini. Selama ini aku ga tau kalo aku terpenjara di surganya Tuhan" katanya mengehela nafas panjang.
"Benar meissa. Kita tak pernah bisa memahami keindahan hanya dengan duduk memojokkan diri di sudut jendela kelas lantas terlamun menatap papan hitam seperti orang gila" jawabku sekenanya dan meissa merasa tersindir. Aku lihat tanganya terangkat dan kuku merahnya mendadak menakutkan "Tenang aku siap kok di cubit lagi!"
Mendadak tanganya perlahan turun. Dia ga jadi mencubitku.
"Ndi?" Panggilnya menatapku dengan tatapan nanar.
"Iya"
"Ga jadi!"
"Loh?"
"Ya ga jadi aja. Ga usah lah...loh segala!"
"Hm..."
"...."
"Ya udah yuk kita duduk lagi" ajaknya tanpa merubah ekspresi bingungnya.
"...."
Maumere memang kota panas. Saking panasnya mungkin bisa buat memasak telur mata sapi di aspal jalan. Tapi kita berdua seperti tidak merasakan panasnya kota maumere siang ini. Entahlah... Kota ini mendadak saja menjadi dingin seperti musim salju. Apa karena aku sedang duduk di atas tanggul ini bersama meissa yang dari tadi enggan melepaskan genggaman tanganku?. Ah, aku benci tanda tanya ini.
"Ndi, lihat! Airnya muncrat sampai sini" meissa tertawa lantas membuka telapak tangannya menangkap cipratan ombak laut itu. "Eh.. Eh lepas lagi" teriaknya manja bernada.
Aku melihatnya jadi merasa lucu sendiri.
"Kamu seperti cewek yang baru keluar dari hukuman penjara seratus tahun, tahu ga sih!"
"Biarin. Baru kali ini aku bisa main-main sama air laut!" Dia menjulurkan lidahnya lagi. "Kok tambah cantik sih nih anak lama-lama" pujiku dalam hati melihat kelakuannya yang kekanak-kanakan.
"Oh iya aku ingat!" Tiba-tiba dia menepis tanganku yang menempel di pergelangan tangannya. "Aku tadi mau omong ini, ndi!"
"Masalah pegangan tangan!" Tukasku menoyor bahunya lagi. Meissa kali ini malah tertawa. Ga ketakutan seperti menit-menit yang lalu.
"Yey! Bukan!" Nadanya kembali manja. "Tapi masalah naik tanggul ini. Kamu pernah bilang kan dulu..."
"Bilang apa?"
"Saat kamu buat aku nangis di depan kelasku"
"Hmmm...." Aku mengingat-ingat lama. Kemudian meissa membalas menoyor bahuku.
"Kelamaan ah! Mm... Tentang bagaimana aku harus menapaki anak tangga itu sekarang dan mencapai puncaknya segera!" Katanya bersemangat.
"Oh... Iya aku ingat!"
"Mungkin seperti ini ya, ndi. Kita tadi bersusah payah naik tanggul ini dan pada akhirnya.... Lihatlah.... Banyak perahu berjejer indah sepanjang pantai berpasir putih, pulau lombok di depan sana, dan patung bunda maria di ujung gunung sana" jelasnya panjang lebar, sok tahu.
"Itu pulau Pemana! Bukan pulau Lombok!" Kataku meralatnya. Dia malah enggan menganguk.
"Pulau lombok! Aku ga nunjuk pulau besar di depan kita, tapi yang paling kecil itu!" dia membalas sewot sambil mengarahkan telunjuknya ke pulau lain yang lebih kecil hampir tak telihat.
"Bukan! Itu pulau sukun! Kamu jangan sok tau lah, ga pernah belajar geografi ya!" Ujarku memulai perdebatan denganya "pulau lombok jauh disana. Ga terlihat dari sini!"
"Bodo! Pokoknya itu pulau lombok. Titik!"
"Terserah!" Kataku lirih. Dari pada mengajaknya berdebat terus mending disudahi aja.
"Tapi bener katamu, ndi. Semakin sabar dan susah payah aku menapaki tangga kehidupan, semakin aku bisa melihat keindahan itu di puncaknya. Aku yakin! Aku akan meraih puncak itu segera!" Katanya berapi-api sembari mengepalkan kedua tanganya.
"Kamu pasti bisa, meissa. Aku yakin!" Jawabku menyemangatinya.
"Tapi...." Meissa lantas menatap dalam kedua mataku. Aku melihat kesedihan itu muncul kembali dari kedua matanya yang berbinar.
"Tapi apa, meissa?"
"Tapi aku tak bisa menapaki tangga itu sendirian!" Katanya tanpa melepaskan tatapan polosnya kewajahku. "Kamu yang membantuku menaiki tangga ini!"
"...." Aku menggeleng pelan di depannya. "Nggak, meissa. Aku ga membantumu"
"Aku ga mungkin bisa naik sampai ke atas sini tanpa bantuanmu, ndi"
"Aku cuma memegang tanganmu, meissa. Aku mencoba membuatmu tidak tergelincir jatuh" jelasku meraih kedua tanganya. "Lihat! Telapak tanganmu sampai kasar begini, kan? Kerikil itu melukai tanganmu. Tapi kamu tetap bersemangat menaiki tangga ini"
"...." Meissa menyunggingkan senyumanya lantas menganguk mengerti apa yang aku ucapkan. Meski tatapan matanya tetap sendu melihat peluh meluncur deras di pelipisku.
"Kamu ga sedang berbohong, kan?" Kata meissa menyeka sedikit peluh yang mengalir di pelipisku.
"Nggak, meissa yang cantik jelita" godaku tersenyum padanya. Meissa malah nyengir dan membuang muka.
"Gombal!!"
"....." tiba-tiba hening mendekap kita. Hanya terdengar gulungan ombak halus menerpa tanggul berkali-kali.
"So, you're buying a stairway to heaven?" Tanyaku mengungkit kejadian tempo dulu saat kita bersandar di tembok kelasnya.
"Aku ga akan membeli tangga hanya untuk meraih puncak yang aku inginkan! Aku bisa meraihnya sendiri dengan usahaku!"
"Bagus! Salut!" aku bertepuk tangan di depannya.
"Eh... Tapi kayak lagunya.... Mm... Siapa itu, eee... Led zeppeling, ya?" Ucapnya mengingat sesuatu.
"Led Zeppelin!. Kok kamu tau?"
"Aku sering denger musik-musik jadul gitu dari papa. Dia suka memutar piringan hitam saat kita berkumpul minum teh di sore hari."
"Jadi ngerti lagu-lagu Led Zeppelin?"
"Ya ngerti lah. Aku juga suka lagu-lagu nirvana, queen, judy garland. Pokoknya musik-musik jadul lah. Mamaku juga suka."
"Wow!!. Cadas juga kamu ya. Kirain cewek selembut kamu bakal suka lagu-lagu dangdut gitu, hehe"
"Emang hanya cowok aja yang boleh suka lagu itu?"
"Ya ga juga." Ujarku mengalah. Aku tau bakal semakin panjang jika berdebat denganya.
"...."
Diubah oleh andihunt 24-07-2014 07:54
0