- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#502
PART 32
Gue menelan ludah, dan berpikir keras apa yang akan gue katakan ke Anin yang lagi ngamuk di seberang sana. Entah apa yang Anin omongin, gue gak denger sama sekali. Gue sibuk mencari alasan biar gue selamat dari amukan cewek gue satu ini. Kalo diladenin ngamuknya, gak bakal selesai-selesai ini, pikir gue.
Akhirnya gue bisa selamat dari amukan Kanjeng Anin dan ngobrol-ngobrol enak sama dia. Gue lupa kita ngobrolin apa, yang jelas gak penting pokoknya. Gak jarang juga Shinta nimbrung teriak-teriak dari belakang, minta ditraktir. Muka badak dah ini anak satu. Kemaren di Jogja barusan gue traktir, eh ini minta traktir lagi. Dikira duit gue kayak ketombe apa, tiap hari nongol. Kalo gue udah punya perusahaan sih gakpapa traktir Shinta tiap hari, lah ini gue pengangguran, mahasiswa juga enggak.
Gue skip ya ke beberapa hari kedepan setelah pulang dari Yogya.
Waktu itu gue sedang ngumpul bersama tiga anak berandal itu dan beberapa temen lainnya. Kita ngumpul di kantin SMA gue, meskipun aslinya gue sudah jadi alumni. Sambil nongkrong dan ngerokok, banyak hal konyol lah yang kami omongin. Termasuk ngecengin guru-guru legendaris dan antik di SMA kami ini. Gue merasa, SMA gue ini masih menjadi tempat yang paling nyaman buat gue. Banyak banget yang bisa gue lakukan disana, mulai dari nongkrong di kantin sambil ngegebet mbak-mbak penjaga kantin, gelesotan di sepanjang koridor kelas 3 sambil mainan handphone, tidur di ruang multimedia yang ber AC dan berkarpet, sampe iseng main band di ruang seni musik yang terkenal angker.
Intermezzo yak.
Mengenai ruang seni musik yang terkenal angker ini, gue dan anak-anak punya pengalaman serem disini. Waktu itu awal-awal kelas 3, kalo gak salah menjelang acara 17an. Berhubung acara 17an selalu ada lomba-lomba, maka kami dibebaskan dari kegiatan belajar mengajar selama beberapa hari, istilahnya classmeeting. Karena hari itu bener-bener gak ada kegiatan di sekolah selain absen doang, maka siang-siang kami berempat iseng naik ke lantai 2 (kelas gue di lantai 1) dan mencoba membuka ruang seni musik. Siapa tau gak dikunci, pikir kami. Eh, bener juga, ruangan itu gak dikunci. Akhirnya kami mulai iseng memainkan alat-alat musik disitu. Gue meraih satu gitar akustik sementara yang lain mulai memegang bass, gitar dan drum. Awalnya gue mendahului mereka, dan bernyanyi duluan diiringi dengan petikan gitar gue. Baru sebentar gue nyanyi, gue terdiam. Gue menoleh ke anak-anak.
Gue menyanyi lagi. Bait yang sama yang gue nyanyikan sebelumnya. 2 kalimat pertama masih aman, gak ada suara cewek seperti tadi. Tapi mulai kalimat ketiga dan bait-bait berikutnya, mulai terdengar suara cewek bernyanyi pelan. Gue membelalakkan mata, dan begitu pula ketiga anak itu yang ikut mendengarkan nyanyian gue dengan seksama. Gue masih bernyanyi, meskipun dengan membelalakkan mata. Suara cewek itu masih terdengar, rasa-rasanya dia ada di belakang gue. Pada waktu itu emang gue duduk membelakangi sebuah pintu yang merupakan gudang. Sambil bernyanyi pelan dan masih tetap membelalakkan mata, gue menunjuk ke pintu belakang gue. Mata anak-anak yang duduk dihadapan gue pun terpaku ke pintu kayu kuno di belakang punggung gue.
Gue masih menyanyi pelan, diiringi dengan petikan gitar gue yang juga sangat lembut. Masuk ke bagian reffrain, suara cewek itu masih terdengar, bahkan agak lebih keras. Kami berempat gak ada yang berani beranjak dari tempat duduk masing-masing. Gue masih bernyanyi, entah kenapa gue gak bisa menghentikan lagu ini. Menjelang lagu selesai, suara cewek itu hilang. Gue selesaikan lagu itu sampe bener-bener selesai, kemudian meletakkan gitar gue dan menoleh ke belakang. Pintu kayu kuno itu rasanya menjadi besar banget seakan-akan mau memangsa gue. Dengan pandangan takut, gue memandangi anak-anak dan menggerakkan kepala gue ke pintu, kode untuk kata-kata “dia disitu.”
Gue beranikan diri beranjak dari kursi, dan mencoba membuka pintu kayu kuno itu. Terkunci ternyata. Gue coba lagi membuka handle pintu itu. Satu pilihan yang akan gue sesali. Persis pada saat gue membuka handle pintu yang berat itu untuk kedua kalinya, gue gak bohong, ada suara cewek tertawa lirih dari balik pintu itu. Ketiga temen gue itu juga ikut mendengarnya. Mata gue membelalak lebar dan otomatis gue meloncat mundur. Kampret lah, pikir gue. Kami berempat pun langsung cabut dari ruangan itu tanpa membereskan alat-alat musik yang tadi sempet kami pake.
Kembali ke cerita.
Waktu gue nongkrong bersama ketiga anak itu di kantin dan beberapa temen gue, sambil makan gorengan gue memainkan handphone gue. Hari itu Anin lagi ada sodara sepupunya yang dateng dari Makassar. Karena itu untuk beberapa hari kedepan Anin gak bisa nemenin gue karena dia harus ngajak main sodara sepupunya itu. Sodara Anin ini cewek juga, namanya Saras, mbak Saras tepatnya, karena dia 3 tahun lebih tua daripada gue dan Anin. Mbak Saras ini main kesini karena dia lagi libur kuliah, dan emang jarang main ke rumah Anin. Mbak Saras ini bisa dibilang cantik, meskipun agak jerawatan.
Gue melihat kalender di handphone gue, dan gue baru sadar kalo hari ini hari Kamis. Artinya besok gue pergi sama Amel, seperti janji gue beberapa waktu lalu. Emang kayaknya keberuntungan ada di pihak gue deh, karena kebetulan juga Anin lagi sibuk sama mbak Saras, jadi ya ada waktu lah buat gue jalan sama Amel. Gue SMS Amel.
Gue menelan ludah, dan berpikir keras apa yang akan gue katakan ke Anin yang lagi ngamuk di seberang sana. Entah apa yang Anin omongin, gue gak denger sama sekali. Gue sibuk mencari alasan biar gue selamat dari amukan cewek gue satu ini. Kalo diladenin ngamuknya, gak bakal selesai-selesai ini, pikir gue.
Quote:
Akhirnya gue bisa selamat dari amukan Kanjeng Anin dan ngobrol-ngobrol enak sama dia. Gue lupa kita ngobrolin apa, yang jelas gak penting pokoknya. Gak jarang juga Shinta nimbrung teriak-teriak dari belakang, minta ditraktir. Muka badak dah ini anak satu. Kemaren di Jogja barusan gue traktir, eh ini minta traktir lagi. Dikira duit gue kayak ketombe apa, tiap hari nongol. Kalo gue udah punya perusahaan sih gakpapa traktir Shinta tiap hari, lah ini gue pengangguran, mahasiswa juga enggak.
Gue skip ya ke beberapa hari kedepan setelah pulang dari Yogya.
Waktu itu gue sedang ngumpul bersama tiga anak berandal itu dan beberapa temen lainnya. Kita ngumpul di kantin SMA gue, meskipun aslinya gue sudah jadi alumni. Sambil nongkrong dan ngerokok, banyak hal konyol lah yang kami omongin. Termasuk ngecengin guru-guru legendaris dan antik di SMA kami ini. Gue merasa, SMA gue ini masih menjadi tempat yang paling nyaman buat gue. Banyak banget yang bisa gue lakukan disana, mulai dari nongkrong di kantin sambil ngegebet mbak-mbak penjaga kantin, gelesotan di sepanjang koridor kelas 3 sambil mainan handphone, tidur di ruang multimedia yang ber AC dan berkarpet, sampe iseng main band di ruang seni musik yang terkenal angker.
Intermezzo yak.
Mengenai ruang seni musik yang terkenal angker ini, gue dan anak-anak punya pengalaman serem disini. Waktu itu awal-awal kelas 3, kalo gak salah menjelang acara 17an. Berhubung acara 17an selalu ada lomba-lomba, maka kami dibebaskan dari kegiatan belajar mengajar selama beberapa hari, istilahnya classmeeting. Karena hari itu bener-bener gak ada kegiatan di sekolah selain absen doang, maka siang-siang kami berempat iseng naik ke lantai 2 (kelas gue di lantai 1) dan mencoba membuka ruang seni musik. Siapa tau gak dikunci, pikir kami. Eh, bener juga, ruangan itu gak dikunci. Akhirnya kami mulai iseng memainkan alat-alat musik disitu. Gue meraih satu gitar akustik sementara yang lain mulai memegang bass, gitar dan drum. Awalnya gue mendahului mereka, dan bernyanyi duluan diiringi dengan petikan gitar gue. Baru sebentar gue nyanyi, gue terdiam. Gue menoleh ke anak-anak.
Quote:
Gue menyanyi lagi. Bait yang sama yang gue nyanyikan sebelumnya. 2 kalimat pertama masih aman, gak ada suara cewek seperti tadi. Tapi mulai kalimat ketiga dan bait-bait berikutnya, mulai terdengar suara cewek bernyanyi pelan. Gue membelalakkan mata, dan begitu pula ketiga anak itu yang ikut mendengarkan nyanyian gue dengan seksama. Gue masih bernyanyi, meskipun dengan membelalakkan mata. Suara cewek itu masih terdengar, rasa-rasanya dia ada di belakang gue. Pada waktu itu emang gue duduk membelakangi sebuah pintu yang merupakan gudang. Sambil bernyanyi pelan dan masih tetap membelalakkan mata, gue menunjuk ke pintu belakang gue. Mata anak-anak yang duduk dihadapan gue pun terpaku ke pintu kayu kuno di belakang punggung gue.
Gue masih menyanyi pelan, diiringi dengan petikan gitar gue yang juga sangat lembut. Masuk ke bagian reffrain, suara cewek itu masih terdengar, bahkan agak lebih keras. Kami berempat gak ada yang berani beranjak dari tempat duduk masing-masing. Gue masih bernyanyi, entah kenapa gue gak bisa menghentikan lagu ini. Menjelang lagu selesai, suara cewek itu hilang. Gue selesaikan lagu itu sampe bener-bener selesai, kemudian meletakkan gitar gue dan menoleh ke belakang. Pintu kayu kuno itu rasanya menjadi besar banget seakan-akan mau memangsa gue. Dengan pandangan takut, gue memandangi anak-anak dan menggerakkan kepala gue ke pintu, kode untuk kata-kata “dia disitu.”
Gue beranikan diri beranjak dari kursi, dan mencoba membuka pintu kayu kuno itu. Terkunci ternyata. Gue coba lagi membuka handle pintu itu. Satu pilihan yang akan gue sesali. Persis pada saat gue membuka handle pintu yang berat itu untuk kedua kalinya, gue gak bohong, ada suara cewek tertawa lirih dari balik pintu itu. Ketiga temen gue itu juga ikut mendengarnya. Mata gue membelalak lebar dan otomatis gue meloncat mundur. Kampret lah, pikir gue. Kami berempat pun langsung cabut dari ruangan itu tanpa membereskan alat-alat musik yang tadi sempet kami pake.
Kembali ke cerita.
Waktu gue nongkrong bersama ketiga anak itu di kantin dan beberapa temen gue, sambil makan gorengan gue memainkan handphone gue. Hari itu Anin lagi ada sodara sepupunya yang dateng dari Makassar. Karena itu untuk beberapa hari kedepan Anin gak bisa nemenin gue karena dia harus ngajak main sodara sepupunya itu. Sodara Anin ini cewek juga, namanya Saras, mbak Saras tepatnya, karena dia 3 tahun lebih tua daripada gue dan Anin. Mbak Saras ini main kesini karena dia lagi libur kuliah, dan emang jarang main ke rumah Anin. Mbak Saras ini bisa dibilang cantik, meskipun agak jerawatan.
Gue melihat kalender di handphone gue, dan gue baru sadar kalo hari ini hari Kamis. Artinya besok gue pergi sama Amel, seperti janji gue beberapa waktu lalu. Emang kayaknya keberuntungan ada di pihak gue deh, karena kebetulan juga Anin lagi sibuk sama mbak Saras, jadi ya ada waktu lah buat gue jalan sama Amel. Gue SMS Amel.
Quote:
jenggalasunyi dan 2 lainnya memberi reputasi
3



: eh, tadi telpon ya dek? Ga ada telpon masuk tuh.
: Bohong ah! Daritadi aku telpon ga pernah nyambung, sibuk terus!
: lah, beneran. Daritadi ga ada telpon masuk dek. Ga ada sinyal kali makanya ga nyambung kesini
*
: oh, gitu ya? Iya kali ya sinyalnya ga beres….
: naaah, emang hari ini kayaknya lagi ga begitu bagus sinyalnya dek
: paan?
: kayak ada suara cewek ikutan nyanyi deh.
: jam 10-11 an aja, jangan kepagian. Oke?