- Beranda
- Stories from the Heart
2 CINTA DI NUSA BUNGA
...
TS
andihunt
2 CINTA DI NUSA BUNGA
2 CINTA DI NUSA BUNGA
Sepenggal Kisah Tentang Kacamata Berbingkai Hitam & Kerudung Putih yang Anggun












PROLOG
Dulu....
Sebelum aku meneruskan kuliah di salah satu Universitas di Surabaya, aku mengambil kursus Bahasa Inggris di Kota Kediri untuk bekal kuliahku nanti. Namun pada kenyataanya aku terpaksa harus mengubur mimpi untuk kuliah di jawa dan pergi sekian mil jauhnya meninggalkan kampung halaman, sahabat bahkan Ibuku sendiri untuk memenuhi keinginanku melanjutkan kuliah.
Saat itu aku sadar kondisi ekonomi keluarga kami di kampung tidak cukup untuk memenuhi ambisiku meneruskan kuliah di kota besar seperti Surabaya. Jadi, aku akhirnya menerima tawaran kakakku untuk meneruskan kuliah di pulau antah berantah. Sebuah pulau yang tak pernah terbayangkan bahwa aku akan terdampar disana.
Dan sekarang aku akan bercerita tentang kisah perjalananku di pulau seberang, salah satu pulau di Nusa Tenggara yang dikenal sebagai Pulau Bunga, sebagian ada juga yang menyebutnya sebagai Nuca Nepa (Pulau Ular).
Dari sana awal petualanganku dimulai, ketika akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku telah terdampar terlalu jauh dan bertarung dengan kegelisahan yang muncul di setiap saat, kegelisahan tentang nasib kuliahku disana dan juga ketergantungan hidup pada orang lain.
Namun dari kegelisahan ini akhirnya mengajari aku satu hal bahwa dalam perantauan aku harus berani mengambil resiko keluar dari gejolak hati yang sengaja aku ciptakan sendiri dan mencari jati diriku sebenarnya.
Kehidupan memang seperti semangkuk buah ceri, selalu ada rasa asem dan manis. Seperti kisah perjalananku ini yang telah membawaku bertemu dengan dua sosok wanita yang selalu memberi kedamaian dan mengajari aku tentang arti dari sebuah cinta dan persahabatan. Meskipun pada akhirnya, kita tak pernah bertemu lagi dan pulau itu hanya sebagai pulau transit saja. Kita mempunyai tujuan akhir yang berbeda, namun rasa cinta itu selalu ada di masing-masing potongan hati kita, dan selalu ada....selamanya.
And... the story goes.....
"..................."
Surabaya, 22 Maret 2014
Di hari yang kuimpikan, langit biru yang menawan seakan ku terbang melayang.
Kusambut cerahnya mentari, kutinggalkan semua mimpi seakan ku masih berlari.
Malam yang terus membisu, kota yang tampak membeku seakan kau ada didekatku.
Ah, sudah tak terhitung berapa kali aku menyanyikan lagu ini di teras rumah ketika rintik hujan dan malam yang sepi menggoda pikiran untuk membayangkan sosok yang pernah ada mengisi lembaran hati kala itu. Sosok wanita yang memiliki hati seputih salju dan senyum indah seperti bunga sakura yang berguguran di musim semi.
Surabaya terlihat sepi, sunyi dan semua yang terlihat hanya gelap malam dan kerlipan lampu yang nampak samar. Suara rintikan hujan menari nari di genting teras berlari beriringan dengan petikan gitarku yang semakin terdengar lirih. Sebuah malam yang menuntunku kembali ke suatu kisah yang menyisakan senyum kecil direlung hati ketika aku mengingatnya.
Entah kenapa aku menciptakan lagu itu beberapa tahun silam. Sebuah lagu yang kutulis melawan hati nurani untuk memilikinya dengan utuh. Ya, sebuah lagu yang menceritakan tentang seseorang yang mengagumi keindahan bunga mawar tanpa bisa memilikinya.
Di malam yang sunyi ini, sebuah gitar kembali memaksa aku bercerita tentang kisah cinta seorang pemuda di pulau seberang, tentang kacamata berbingkai hitam dan kerudung putih yang anggun.
Di suatu pulau di bagian tenggara Indonesia yang dikenal sebagai Pulau Ular awal cerita ini dimulai. Yah, Pulau Ular yang telah melilit aku dalam cintanya dan membius aku dengan bisanya yang melumpuhkan sendi-sendi tulangku hingga kini. Pulau itu.... adalah Nusa Bunga yang memiliki kota Maumere dengan segala hiruk pikuknya.
Hujan semakin deras menyisakan dingin menyelimuti kalbu. Senar gitarku masih begetar dengan nada yang sumbang. Kesendirian ini bertemankan gitar dan secangkir kopi yang siap mengantarkan aku pada suatu memori yang tersimpan rapi di relung hati terdalam. Dan, asap tipis dari secangkir kopi ini mulai memudar dan bercerita tentang kisah masa lalu. Tentang sebuah Kota yang mempertemukan aku dan mereka, dan dengan segala harapan yang pupus disana.
.........................
--Di suatu tempat di seberang samudera, ada sebuah pulau nan indah, pulau yang dikenal sebagai pulau bunga. Sebuah pulau di Nusa Tenggara yang menjadi dermaga cinta ini berlabuh pada dua hati. Namun, hanya ada satu cinta yang mengajari aku tentang arti dari sebuah perpisahan.--
Soundtrack
INDEX
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh andihunt 05-09-2014 18:50
nona212 dan anasabila memberi reputasi
3
28.4K
210
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
andihunt
#148
Hitam. Part 4
Sampai di perjalanan meissa terlihat pusing menaiki angkot berisik ini. Berkali-kali dia mencoba mengipaskan telapak tangan ke wajahnya. Aku melihatnya jadi kasihan. Mungkin dia kepanasan sampai aku sadari makeup-nya sedikit luntur karena keringat yang mulai bercucuran di keningnya.
"Pengap?" kataku melihatnya duduk memangku tas slempangnya. "Mangkanya jangan bawa barang banyak biar ga ribet sendiri"
Meissa memasang muka sebel lantas menutup hidung dengan kerudung putihnya.
"Tahu gini kita jalan kaki aja, ndi" kata meissa sebel. "aku ga bisa nafas di dalam angkot ini!" tanganya mulai semakin rapat menutup hidungnya. Nampaknya asap rokok dari salah satu penumpang di depan kami menganggu meissa disampingku. Aku jadi kasihan sama dia.
"Sini aku bukain jendelanya!" ucapku membuka jendela angkot dibelakangnya dan membiarkan udara dari luar masuk mendinginkan meissa. Bapak perokok tadi sempat melihatku dan tak lama dia membuang rokok yang belum habis itu keluar.
"Maaf bu dokter." kata bapak tadi sambil tersenyum. Meissa menoleh kearahku dan mendadak bingung.
"Ndi, dikira dokter aku?" tanya meissa ternganga. Aku melihat barisan giginya yang putih dan menganguk.
"Iya bu dokter" kataku menggodanya. Meissa lalu melihat keluar jendela dan dilihatnya bangunan gereja yang megah kemudian berganti pemandangan taman hijau dengan patung kristus raja keemasan berdiri gagah ditengahnya. "Sedikit lagi sampai!" ujarku menyadarkan diamnya.
"Eh bagus ya." meissa terlihat sumringah seperti baru kali ini aja dia bisa bebas jalan-jalan keluar.
Aku cuma tersenyum menatapnya dan seketika kupegang lagi tangan meissa.
"Yuk kita turun, meissa" kataku setelah angkot berhenti di depan pintu gerbang masuk pelabuhan.
"Iya, ndi. Ga sabar pengen tau pemandangan di pelabuhan sini." jawabnya mengikutiku keluar. Kali ini dia sama sekali ga protes kalau aku sudah mengandeng tangannya.
"......"
"Ndi?" meissa melirik kebawah.
"Jam?"
"Tanganku!" matanya melotot, mukanya mendadak nyebelin tapi aku lihat bibirnya masih tersenyum manis.
"Eh, iya. Ini yang terakhir. Soalnya aku khawatir kamu bakal ilang. Mungkin setelah ini kamu bakal ngeluyur sendiri jika tidak aku awasi" aku mencoba ngeles tapi dia malah tertawa sambil mencubit bahuku.
"Kamu itu tukang cari kesempatan aja!" katanya tanpa melepaskan cubitanya. Aku mengerang kesakitan tapi mendadak kurasakan getaran luar biasa dari dalam hati ini ketika dia malah mengeluarkan Hp dari sakunya dan...
Cekrek!
Di fotonya wajah kita berdua yang hampir berdekatan dengan latar patung kristus raja ditengah-tengah taman berbunga.
"Bagus ya, ndi!" kata meissa memperlihatkan hasil fotonya kepadaku. Aku tersenyum seneng dan sedikit Ge Er karena ada sosok Andi dan Meissa dalam satu frame.
"Tapi kok latarnya ga keliatan?" protesnya menilai hasil fotonya yang menampakkan wajah kita berdua berdempetan.
"Kamu ngambilnya terlalu deket. Sini aku yang motret!" Aku raih hp meissa dan kita kembali berfoto berdua. Tapi namanya meissa dia ga terima kalo aku berfoto denganya. Dia lantas berjalan sendiri mendekati pagar pembatas taman tersebut dan berdiri berkacak pingang.
"Ayo foto, cepet!" serunya sambil tersenyum dipaksakan.
"Ok, bu dokter! Gaya apa lagi?" kataku sedikit jengkel melihat gayanya yang mulai aneh-aneh seperti model. Sudah lebih lima kali aku memfotonya dengan gaya berbeda tapi dia masih ingin di foto lagi. Lama-lama aku kesel juga dan kutarik paksa lenganya.
"Kita kesini mau jalan-jalan ke pelabuhan. Bukan sesi pemotretan!"
"Narsis bolehlah, kan aku cantik!!" dia tersenyum genit sambil mengedipkan sebelah matanya. "Kapan lagi aku bisa jalan-jalan kayak gini, ndi?"
"Ya nanti kalo kamu udah bebas. Kan sekarang masih jadi tahanan kepolisian" ejekku sambil terus mengajaknya mempercepat langkah memasuki perlabuhan.
"Eh siapa yang jadi tahanan?" protesnya lagi. Tanganya kembali siap siaga mencubitku namun keburu aku pegang tangannya dan mengajaknya berlari. "Ayo cepetan. Dasar keong!"
"Jangan lari. Aku ga bisa!" teriak meissa dibelakangku. Dia menarik tanganku dan seketika aku terhenti di depanya.
"Ya udah kejar aku!" kataku mendahuluinya.
"Aku ga bisa laaari!" teriaknya lagi sembari berlari-lari kecil menenteng tasnya, mengejarku. Aku menoleh kebelakang lantas menepok jidat menyadari kalau dia tidak bisa lari dengan rok panjang yang menutupi kakinya.
"Hehhhh. Aku lupa kalau kamu pake rok!" kataku tertawa disebelahnya.
"Bukan karena pake rok panjang begini aku ga bisa lari!" katanya dengan nada manja. "Tapi karena bawa tas ini nih!"
"Ya sudah. Sini aku bawain tasnya biar ga ribet sendiri" tawarku mengambil tas slempangnya. "Hm... pantesan berat juga"
"Thanks ya, ndi!" Meissa membalas dengan senyuman kecut lantas kulihat dia menjinjing roknya dan berlari mendahuluiku. "Ayo kejar aku kalo bisa!. Dasar keong!!" teriaknya menirukan perkataanku barusan.
"Hei! Curang nih!"
"HAAA! HAAA!!!"
Kita berdua lantas berlarian menuju tepi pelabuhan, menerjang angin dan membasuh peluh. Langit siang ini terlihat biru tanpa awan selaras dengan pemandangan laut yang dipenuhi kapal-kapal besar. Aku lihat meissa sudah berhenti berlari dan berdiri di pinggir tanggul yang tidak meninggi. Seketika langkahku terhenti tepat dibelakangnya. Aku tertegun melihat meissa menatap ke langit-langit lantas duduk di tanggul itu dan menyimpulkan kedua jemarinya yang lentik. Dia nampak bersemangat memandang laut yang membiru dan membiarkan kencangnya angin menyibakkan kerudungnya kebelakang. Sekilas aku teringat akan suatu nama. Disana di tepi tanggul itu kita pernah duduk berdua pada suatu malam, sebelum perahu kayu membawa kita ke tengah lautan.
"Rahma!" kataku lirih dalam hati seraya menyeka peluh yang menetes di kening. Perlahan aku mendekati meissa dan duduk disampingnya.
"Sejuk, kan?" kataku setengah berteriak memecah kencangnya angin.
"Iya, sejuk sekali. Huuuuu!!!! lihat itu pulau lombok!" meissa tertawa lebar. Telunjuknya kembali berputar-putar di keningku. Aku menangkapnya dan dia terlihat pasrah dengan apa yang aku lakukan.
"Itu pulau Pamana!" teriaku masih memegang erat telunjuknya dan mengarahkan tepat ke pulau yang di maksud meissa.
"Terlihat kecil sekali! aku kira itu pulau Lombok, rumahku! Akkkk... aku ingin pulang!!!! tiba-tiba dia berteriak histeris sambil menggoyang-goyang bahuku.
"Kamu mau melihatnya lebih dekat?" aku menatap matanya yang berbinar. Bibirnya kembali tersenyum manis.
"......"
"Hei, meissa?"
Meissa menganguk pelan, sangat pelan lantas mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Aku bawa ini!"
"Apa itu?" tanyaku penasaran melihat butiran bulat seperti mutiara.
"Ini mutiara Lombok. Ayahku mengambilnya dari lautan waktu aku masih kecil. Masih imut-imutnya, ndi" dia tertawa kecil. Wajahnya terlihat ceria tapi mendadak terjatuh buliran bening dari sudut matanya. "Laut ini, pemandangan ini, dan pantai ini mengingatkanku akan pulau Lombok. Pulau cantik yang membesarkanku. Meski aku lama juga tinggal di Bali"
"Jadi kamu.....?"
"Iya! kadang aku pulang ke rumah mama di bali, kadang ke lombok!" tukasnya tanpa memberiku kesempatan bicara.
"Aku mau nunjukin lebih dekat pulau itu!" bisikku ke telinga meissa. Aku mengenggam telunjuknya lagi dan kuarahkan ke pulau kecil di depan kita.
"Bisa?"
"Iya. Kita kesana!" ku bimbing telunjuknya kearah tanggul besar dan tinggi. Tanggul itu adalah tempat pertama yang aku naiki dulu saat ke Maumere. Tanggul yang sangat tinggi dengan ombak keras yang membentur temboknya berkali-kali. "Dulu aku bisa melihat jelas pulau itu dari sana!."
"Sungguh?"
"Kamu bisa melihat tepian kota Maumere dari situ!" bisikku lagi semakin dekat ke telinganya. Meissa menganguk lantas memegang erat lengan kiriku. "Eh... udah berani pegang-pegang?" godaku melihat tanganya terlingkar di lenganku.
"Bodo! aku takut terpeleset! Yuk kita kesana!" kata meissa manja. Aku cuma garuk-garuk kepala lantas tanpa pikir panjang menuntun dia bangkit dan berjalan menembus terik matahari menuju tanggul di ujung pelabuhan ini.
"......"
"Pengap?" kataku melihatnya duduk memangku tas slempangnya. "Mangkanya jangan bawa barang banyak biar ga ribet sendiri"
Meissa memasang muka sebel lantas menutup hidung dengan kerudung putihnya.
"Tahu gini kita jalan kaki aja, ndi" kata meissa sebel. "aku ga bisa nafas di dalam angkot ini!" tanganya mulai semakin rapat menutup hidungnya. Nampaknya asap rokok dari salah satu penumpang di depan kami menganggu meissa disampingku. Aku jadi kasihan sama dia.
"Sini aku bukain jendelanya!" ucapku membuka jendela angkot dibelakangnya dan membiarkan udara dari luar masuk mendinginkan meissa. Bapak perokok tadi sempat melihatku dan tak lama dia membuang rokok yang belum habis itu keluar.
"Maaf bu dokter." kata bapak tadi sambil tersenyum. Meissa menoleh kearahku dan mendadak bingung.
"Ndi, dikira dokter aku?" tanya meissa ternganga. Aku melihat barisan giginya yang putih dan menganguk.
"Iya bu dokter" kataku menggodanya. Meissa lalu melihat keluar jendela dan dilihatnya bangunan gereja yang megah kemudian berganti pemandangan taman hijau dengan patung kristus raja keemasan berdiri gagah ditengahnya. "Sedikit lagi sampai!" ujarku menyadarkan diamnya.
"Eh bagus ya." meissa terlihat sumringah seperti baru kali ini aja dia bisa bebas jalan-jalan keluar.
Aku cuma tersenyum menatapnya dan seketika kupegang lagi tangan meissa.
"Yuk kita turun, meissa" kataku setelah angkot berhenti di depan pintu gerbang masuk pelabuhan.
"Iya, ndi. Ga sabar pengen tau pemandangan di pelabuhan sini." jawabnya mengikutiku keluar. Kali ini dia sama sekali ga protes kalau aku sudah mengandeng tangannya.
"......"
"Ndi?" meissa melirik kebawah.
"Jam?"
"Tanganku!" matanya melotot, mukanya mendadak nyebelin tapi aku lihat bibirnya masih tersenyum manis.
"Eh, iya. Ini yang terakhir. Soalnya aku khawatir kamu bakal ilang. Mungkin setelah ini kamu bakal ngeluyur sendiri jika tidak aku awasi" aku mencoba ngeles tapi dia malah tertawa sambil mencubit bahuku.
"Kamu itu tukang cari kesempatan aja!" katanya tanpa melepaskan cubitanya. Aku mengerang kesakitan tapi mendadak kurasakan getaran luar biasa dari dalam hati ini ketika dia malah mengeluarkan Hp dari sakunya dan...
Cekrek!
Di fotonya wajah kita berdua yang hampir berdekatan dengan latar patung kristus raja ditengah-tengah taman berbunga.
"Bagus ya, ndi!" kata meissa memperlihatkan hasil fotonya kepadaku. Aku tersenyum seneng dan sedikit Ge Er karena ada sosok Andi dan Meissa dalam satu frame.
"Tapi kok latarnya ga keliatan?" protesnya menilai hasil fotonya yang menampakkan wajah kita berdua berdempetan.
"Kamu ngambilnya terlalu deket. Sini aku yang motret!" Aku raih hp meissa dan kita kembali berfoto berdua. Tapi namanya meissa dia ga terima kalo aku berfoto denganya. Dia lantas berjalan sendiri mendekati pagar pembatas taman tersebut dan berdiri berkacak pingang.
"Ayo foto, cepet!" serunya sambil tersenyum dipaksakan.
"Ok, bu dokter! Gaya apa lagi?" kataku sedikit jengkel melihat gayanya yang mulai aneh-aneh seperti model. Sudah lebih lima kali aku memfotonya dengan gaya berbeda tapi dia masih ingin di foto lagi. Lama-lama aku kesel juga dan kutarik paksa lenganya.
"Kita kesini mau jalan-jalan ke pelabuhan. Bukan sesi pemotretan!"
"Narsis bolehlah, kan aku cantik!!" dia tersenyum genit sambil mengedipkan sebelah matanya. "Kapan lagi aku bisa jalan-jalan kayak gini, ndi?"
"Ya nanti kalo kamu udah bebas. Kan sekarang masih jadi tahanan kepolisian" ejekku sambil terus mengajaknya mempercepat langkah memasuki perlabuhan.
"Eh siapa yang jadi tahanan?" protesnya lagi. Tanganya kembali siap siaga mencubitku namun keburu aku pegang tangannya dan mengajaknya berlari. "Ayo cepetan. Dasar keong!"
"Jangan lari. Aku ga bisa!" teriak meissa dibelakangku. Dia menarik tanganku dan seketika aku terhenti di depanya.
"Ya udah kejar aku!" kataku mendahuluinya.
"Aku ga bisa laaari!" teriaknya lagi sembari berlari-lari kecil menenteng tasnya, mengejarku. Aku menoleh kebelakang lantas menepok jidat menyadari kalau dia tidak bisa lari dengan rok panjang yang menutupi kakinya.
"Hehhhh. Aku lupa kalau kamu pake rok!" kataku tertawa disebelahnya.
"Bukan karena pake rok panjang begini aku ga bisa lari!" katanya dengan nada manja. "Tapi karena bawa tas ini nih!"
"Ya sudah. Sini aku bawain tasnya biar ga ribet sendiri" tawarku mengambil tas slempangnya. "Hm... pantesan berat juga"
"Thanks ya, ndi!" Meissa membalas dengan senyuman kecut lantas kulihat dia menjinjing roknya dan berlari mendahuluiku. "Ayo kejar aku kalo bisa!. Dasar keong!!" teriaknya menirukan perkataanku barusan.
"Hei! Curang nih!"
"HAAA! HAAA!!!"
Kita berdua lantas berlarian menuju tepi pelabuhan, menerjang angin dan membasuh peluh. Langit siang ini terlihat biru tanpa awan selaras dengan pemandangan laut yang dipenuhi kapal-kapal besar. Aku lihat meissa sudah berhenti berlari dan berdiri di pinggir tanggul yang tidak meninggi. Seketika langkahku terhenti tepat dibelakangnya. Aku tertegun melihat meissa menatap ke langit-langit lantas duduk di tanggul itu dan menyimpulkan kedua jemarinya yang lentik. Dia nampak bersemangat memandang laut yang membiru dan membiarkan kencangnya angin menyibakkan kerudungnya kebelakang. Sekilas aku teringat akan suatu nama. Disana di tepi tanggul itu kita pernah duduk berdua pada suatu malam, sebelum perahu kayu membawa kita ke tengah lautan.
"Rahma!" kataku lirih dalam hati seraya menyeka peluh yang menetes di kening. Perlahan aku mendekati meissa dan duduk disampingnya.
"Sejuk, kan?" kataku setengah berteriak memecah kencangnya angin.
"Iya, sejuk sekali. Huuuuu!!!! lihat itu pulau lombok!" meissa tertawa lebar. Telunjuknya kembali berputar-putar di keningku. Aku menangkapnya dan dia terlihat pasrah dengan apa yang aku lakukan.
"Itu pulau Pamana!" teriaku masih memegang erat telunjuknya dan mengarahkan tepat ke pulau yang di maksud meissa.
"Terlihat kecil sekali! aku kira itu pulau Lombok, rumahku! Akkkk... aku ingin pulang!!!! tiba-tiba dia berteriak histeris sambil menggoyang-goyang bahuku.
"Kamu mau melihatnya lebih dekat?" aku menatap matanya yang berbinar. Bibirnya kembali tersenyum manis.
"......"
"Hei, meissa?"
Meissa menganguk pelan, sangat pelan lantas mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Aku bawa ini!"
"Apa itu?" tanyaku penasaran melihat butiran bulat seperti mutiara.
"Ini mutiara Lombok. Ayahku mengambilnya dari lautan waktu aku masih kecil. Masih imut-imutnya, ndi" dia tertawa kecil. Wajahnya terlihat ceria tapi mendadak terjatuh buliran bening dari sudut matanya. "Laut ini, pemandangan ini, dan pantai ini mengingatkanku akan pulau Lombok. Pulau cantik yang membesarkanku. Meski aku lama juga tinggal di Bali"
"Jadi kamu.....?"
"Iya! kadang aku pulang ke rumah mama di bali, kadang ke lombok!" tukasnya tanpa memberiku kesempatan bicara.
"Aku mau nunjukin lebih dekat pulau itu!" bisikku ke telinga meissa. Aku mengenggam telunjuknya lagi dan kuarahkan ke pulau kecil di depan kita.
"Bisa?"
"Iya. Kita kesana!" ku bimbing telunjuknya kearah tanggul besar dan tinggi. Tanggul itu adalah tempat pertama yang aku naiki dulu saat ke Maumere. Tanggul yang sangat tinggi dengan ombak keras yang membentur temboknya berkali-kali. "Dulu aku bisa melihat jelas pulau itu dari sana!."
"Sungguh?"
"Kamu bisa melihat tepian kota Maumere dari situ!" bisikku lagi semakin dekat ke telinganya. Meissa menganguk lantas memegang erat lengan kiriku. "Eh... udah berani pegang-pegang?" godaku melihat tanganya terlingkar di lenganku.
"Bodo! aku takut terpeleset! Yuk kita kesana!" kata meissa manja. Aku cuma garuk-garuk kepala lantas tanpa pikir panjang menuntun dia bangkit dan berjalan menembus terik matahari menuju tanggul di ujung pelabuhan ini.
"......"
Diubah oleh andihunt 20-07-2014 21:51
0