- Beranda
- Stories from the Heart
[Doko Demo Hana] Doko Demo Watashi Ga Aru, Hana O Hanami Shite Imasu
...
TS
primenumbers
[Doko Demo Hana] Doko Demo Watashi Ga Aru, Hana O Hanami Shite Imasu
Konichiwa minna-san! Hajimemashite, watashi no namae wa Eric desu. Dozo Yoroshiku 
Artinya : Hallo semuanya! Perkenalkan, nama gue Eric. Senang bertemu dengan kalian
Selama ini gue cuma jadi silent reader abadi di SFTH, dan setelah banyak membaca cerita2 disini yg sangat inspiratif, menarik, dan unik. Gue juga memberanikan diri untuk menulis cerita gue sendiri
Gue orangnya nggak suka basa basi dan banyak ngomong. Jadi kita langsung ke ceritanya aja yah
Buat yg udah mampir arigatou onegaishimasu and happy reading
--
Buat temen2 yg udah tau/ngerti arti judulnya, gak usah di share dimari ya translate nya.
Cukup disimpen dalem hati aja dulu
Yg pasti nanti di last episode akan gue kasih tau artinya
Sankyu

Artinya : Hallo semuanya! Perkenalkan, nama gue Eric. Senang bertemu dengan kalian

Selama ini gue cuma jadi silent reader abadi di SFTH, dan setelah banyak membaca cerita2 disini yg sangat inspiratif, menarik, dan unik. Gue juga memberanikan diri untuk menulis cerita gue sendiri

Gue orangnya nggak suka basa basi dan banyak ngomong. Jadi kita langsung ke ceritanya aja yah

Buat yg udah mampir arigatou onegaishimasu and happy reading

--
Buat temen2 yg udah tau/ngerti arti judulnya, gak usah di share dimari ya translate nya.

Cukup disimpen dalem hati aja dulu

Yg pasti nanti di last episode akan gue kasih tau artinya

Sankyu

Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 34 suara
Who is your favourite character?
Eric :cool:
15%
Florina :kisss
24%
Desma :kisss
44%
Arman :cool:
18%
Diubah oleh primenumbers 13-07-2014 23:47
anasabila memberi reputasi
1
96.4K
856
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
primenumbers
#760
Eps 36
"Si Desma nggak keliatan ya akhir2 ini, kemana tuh anak? Kangen gue" Tanya Arman
"Lagi sakit dia, Man" Kata gue jujur
"Ah sok tau lo"
"Kaga percayaan kalo gue bilangin"
"Tau darimana lo dia sakit?"
"Kemaren gue ke rumahnya"
"Anjrit! Beneran, Ric?" Arman memasang ekspresi terkejut
"Ya iya lah, masa ya iya dong"
"Lo kok kagak bilang ke gue?"
"Salah lo sendiri kagak nanya"
"Payah lo, maen ke rumah cewek kagak ngajak2 gue"
"Gimana gue mau ngajak? Lo aja waktu itu gak ada, mau gue hubungin handphone lo kan mokat"
Kita berdua terus berdebat meskipun lidah ini sudah terasa pegal. Dari banyaknya orang2 yg berlalu lalang, tampak seorang gadis dengan rambut sebahu tergerai mendekat. Dan di tangannya ia membawa beberapa gelas minuman yg terlihat menarik dipandang oleh mata.
"Permisi, kakak"
Gue dan Arman saling berpandangan satu sama lain. "Mau ngapain nih cewek?" Gumam gue dalam hati.
"Mau nawarin minuman nih, Kak. Abis kuliah enak banget kan minum yg dingin2 hehehe" Gadis itu mempromosikan dagangannya.
"Minuman apa, Mbak?" Sahut Arman
"Cappucino cincau"
"Hahaha ada2 aja"
Gue tergelitik seketika mendengar nama produk yg dijual gadis itu. Cappucino cincau, sebuah nama yg unik. (Waktu itu belom terlalu nge-trend kayak sekarang)
"Iya, Kak. Kuliner baru ini, es cappucino dicampur sama cincau" Jelas dia
"Enak nggak?" Ledek Arman
"Enak dijamin. Dibeli dong, Kak. Murah, cuma lima ribu aja"
"Beli dua ya"
"Oke, Kak"
"Hoy, Ric" Arman menggerak2kan dagunya
"Kenapa lo?"
"Yaelah pura2 kagak ngerti, bayar tuh"
"Laga lo, Man. Berapa, Mbak?"
"Sepuluh ribu"
Kemudian gue menukarkan uang sepuluh ribu gue dengan dua gelas capcin. Ketika itu juga gue langsung meminumnya. Kayak apa sih nih minuman rasanya, penasaran gue.
"Gimana, Kak? Enak kan?" Ia meminta komentar
"Lumayan, tapi kurang manis" Sambung Arman
"Kalo kurang manis liat saya aja, Kak. Hahaha"
"Kalo pengen pahit liat muka dia aja, Mbak" Ujar gue
"Kampret"
"Hahaha. Kak, saya mau keliling2 lagi nih. Makasih banyak yah"
"Iya sama2" Balas gue
"Eh kamu siapa namanya?"
Geblek nih anak, sempet2nya nanya nama tuh cewek. Dasar muka tembok.
"Diana"
"Oh, hati2 yah Diana, semoga laku semua dagangannya"
"Makasih, Kak"
"Iya"
Setelah menyetel muka polos, ia terus berjalan.
"Cantik juga tuh cewek, Ric"
"Cantik sih, tapi dia bukan tipe gue"
"Tai!"
Selanjutnya kami berdua mengedarkan pandangan ke arah Diana yg menjajakan barang dagangannya ke orang, penuh dengan ceria dan semangat ia menawarkan barang dagangannya itu.
"Es Capcin Kak, murah lima ribu aja. Seger diminum siang2"
Namun kecerian di wajahnya tiba2 hilang ketika ia dihiraukan bahkan seperti dianggap tidak ada oleh salah satu calon pelanggan.
"Ric, pegangin es gue bentar"
"Mau kemana lo?"
--
"Hoy benga!" Teriak Arman ke seorang cowok yg lewat di depannya
"Ada apa, Man?" Cowok itu bertanya
"Itu ada yg nawarin lo minuman. Kenapa lo cuekin?!" Nada Suara Arman sedikit meninggi dan agak keras
"Terserah gue"
"Kalo gak mau beli, lo kan bisa nolak baik2. Gak usah pura2 gak liat kayak tadi dong"
"Gak seneng lo?"
"Malah ngelunjak lo. Sini lo biar gue ajarin cara menghargai orang laen" Arman menarik kaos cowok itu dengan tangan kirinya.
Melihat Arman yg sudah disulut amarah. Gue yg tadinya hanya memantau dari kejauhan segera bertindak cepat dan tepat. Gue tarik bajunya dan gue tahan dia sebelum suasana lebih parah. Dan gue ingetin juga ke dia.
"Hoy, Man! Jangan, Man! Ngapain sih lo ribut2 gak jelas"
"Bilangin ke temen lo jangan konyol gitu, Ric" Jawab si cowok tersebut
"Udah lo juga diem! Gak usah kompor! Brengsek lo... Udah sono pergi lo, pergi"
Akhirnya cowok itu pun pergi menjauh dari hadapan gue dan Arman. Keadaan menjadi kondusif kembali, tapi kalo tuh cowok masih ngeyel juga, bakal gue langsung ditampol di tempat.
"Yaelah lo kenapa malah megangin gue sih, Ric? Udah pengen gue tampol mukanya padahal"
"Santai bro, jangan cari gara2 di dalem kampus. Bisa repot"
"Tuh bocah gayanya pera, yg kayak gitu harus diberi"
Gue cuma bisa geleng2 kepala, gak ngerti harus ngomong apalagi.
Lalu Diana kembali menghampiri Arman.
"Kak, Arman. Makasih ya"
"Buat?"
"Makasih udah ngebelain aku. Tapi sebenernya kakak nggak perlu kayak tadi, dicuekin sama pelanggan mah aku udah biasa hehehe"
"Ah nggak apa2, demi kebaikan bersama kok"
![kaskus-image]()
Yaaah nih anak, tadi emosi kesetanan, sekarang malah sok2an romantis.
Tapi meskipun begitu, Arman has become a hero today.
Bersambung
--
Lanjut besok atau lusa ya eps selanjutnya, kemarin dan hari ini sibuk berat
"Lagi sakit dia, Man" Kata gue jujur
"Ah sok tau lo"
"Kaga percayaan kalo gue bilangin"
"Tau darimana lo dia sakit?"
"Kemaren gue ke rumahnya"
"Anjrit! Beneran, Ric?" Arman memasang ekspresi terkejut
"Ya iya lah, masa ya iya dong"
"Lo kok kagak bilang ke gue?"
"Salah lo sendiri kagak nanya"

"Payah lo, maen ke rumah cewek kagak ngajak2 gue"
"Gimana gue mau ngajak? Lo aja waktu itu gak ada, mau gue hubungin handphone lo kan mokat"
Kita berdua terus berdebat meskipun lidah ini sudah terasa pegal. Dari banyaknya orang2 yg berlalu lalang, tampak seorang gadis dengan rambut sebahu tergerai mendekat. Dan di tangannya ia membawa beberapa gelas minuman yg terlihat menarik dipandang oleh mata.
"Permisi, kakak"
Gue dan Arman saling berpandangan satu sama lain. "Mau ngapain nih cewek?" Gumam gue dalam hati.
"Mau nawarin minuman nih, Kak. Abis kuliah enak banget kan minum yg dingin2 hehehe" Gadis itu mempromosikan dagangannya.
"Minuman apa, Mbak?" Sahut Arman
"Cappucino cincau"
"Hahaha ada2 aja"
Gue tergelitik seketika mendengar nama produk yg dijual gadis itu. Cappucino cincau, sebuah nama yg unik. (Waktu itu belom terlalu nge-trend kayak sekarang)
"Iya, Kak. Kuliner baru ini, es cappucino dicampur sama cincau" Jelas dia
"Enak nggak?" Ledek Arman
"Enak dijamin. Dibeli dong, Kak. Murah, cuma lima ribu aja"
"Beli dua ya"
"Oke, Kak"
"Hoy, Ric" Arman menggerak2kan dagunya
"Kenapa lo?"

"Yaelah pura2 kagak ngerti, bayar tuh"

"Laga lo, Man. Berapa, Mbak?"
"Sepuluh ribu"
Kemudian gue menukarkan uang sepuluh ribu gue dengan dua gelas capcin. Ketika itu juga gue langsung meminumnya. Kayak apa sih nih minuman rasanya, penasaran gue.
"Gimana, Kak? Enak kan?" Ia meminta komentar
"Lumayan, tapi kurang manis" Sambung Arman
"Kalo kurang manis liat saya aja, Kak. Hahaha"
"Kalo pengen pahit liat muka dia aja, Mbak" Ujar gue

"Kampret"

"Hahaha. Kak, saya mau keliling2 lagi nih. Makasih banyak yah"

"Iya sama2" Balas gue
"Eh kamu siapa namanya?"
Geblek nih anak, sempet2nya nanya nama tuh cewek. Dasar muka tembok.
"Diana"
"Oh, hati2 yah Diana, semoga laku semua dagangannya"
"Makasih, Kak"
"Iya"
Setelah menyetel muka polos, ia terus berjalan.
"Cantik juga tuh cewek, Ric"
"Cantik sih, tapi dia bukan tipe gue"

"Tai!"

Selanjutnya kami berdua mengedarkan pandangan ke arah Diana yg menjajakan barang dagangannya ke orang, penuh dengan ceria dan semangat ia menawarkan barang dagangannya itu.
"Es Capcin Kak, murah lima ribu aja. Seger diminum siang2"
Namun kecerian di wajahnya tiba2 hilang ketika ia dihiraukan bahkan seperti dianggap tidak ada oleh salah satu calon pelanggan.
"Ric, pegangin es gue bentar"
"Mau kemana lo?"
--
"Hoy benga!" Teriak Arman ke seorang cowok yg lewat di depannya
"Ada apa, Man?" Cowok itu bertanya
"Itu ada yg nawarin lo minuman. Kenapa lo cuekin?!" Nada Suara Arman sedikit meninggi dan agak keras
"Terserah gue"
"Kalo gak mau beli, lo kan bisa nolak baik2. Gak usah pura2 gak liat kayak tadi dong"
"Gak seneng lo?"
"Malah ngelunjak lo. Sini lo biar gue ajarin cara menghargai orang laen" Arman menarik kaos cowok itu dengan tangan kirinya.

Melihat Arman yg sudah disulut amarah. Gue yg tadinya hanya memantau dari kejauhan segera bertindak cepat dan tepat. Gue tarik bajunya dan gue tahan dia sebelum suasana lebih parah. Dan gue ingetin juga ke dia.
"Hoy, Man! Jangan, Man! Ngapain sih lo ribut2 gak jelas"
"Bilangin ke temen lo jangan konyol gitu, Ric" Jawab si cowok tersebut
"Udah lo juga diem! Gak usah kompor! Brengsek lo... Udah sono pergi lo, pergi"

Akhirnya cowok itu pun pergi menjauh dari hadapan gue dan Arman. Keadaan menjadi kondusif kembali, tapi kalo tuh cowok masih ngeyel juga, bakal gue langsung ditampol di tempat.
"Yaelah lo kenapa malah megangin gue sih, Ric? Udah pengen gue tampol mukanya padahal"
"Santai bro, jangan cari gara2 di dalem kampus. Bisa repot"
"Tuh bocah gayanya pera, yg kayak gitu harus diberi"
Gue cuma bisa geleng2 kepala, gak ngerti harus ngomong apalagi.

Lalu Diana kembali menghampiri Arman.
"Kak, Arman. Makasih ya"
"Buat?"
"Makasih udah ngebelain aku. Tapi sebenernya kakak nggak perlu kayak tadi, dicuekin sama pelanggan mah aku udah biasa hehehe"

"Ah nggak apa2, demi kebaikan bersama kok"


Yaaah nih anak, tadi emosi kesetanan, sekarang malah sok2an romantis.

Tapi meskipun begitu, Arman has become a hero today.

Bersambung

--
Lanjut besok atau lusa ya eps selanjutnya, kemarin dan hari ini sibuk berat

JabLai cOY memberi reputasi
1
![[Doko Demo Hana] Doko Demo Watashi Ga Aru, Hana O Hanami Shite Imasu](https://s.kaskus.id/images/2014/04/09/6430330_20140409050230.jpg)


![[Doko Demo Hana] Doko Demo Watashi Ga Aru, Hana O Hanami Shite Imasu](https://dl.kaskus.id/bethhart.com/wp-content/uploads/2013/04/Twitter11.png)