- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
191K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#137
LIBURAN BERSAMA SETAN
masih ingat sama Vonny?
Spoiler for :
Vonny menutup majalah pria yang dibacanya sejak setengah jam yang lalu. Harris, mantan suaminya mungkin lupa membawa majalah itu ketika pindahan ke rumah istri baru. Ya mereka cerai karena Harris selingkuh, dan kongkalingkong bawah tangan yang dilakukan suaminya terbongkar oleh sebuah kebohongan. Bukan kebohongan yangterucap oleh lidah Harris, tetapi kebohongan dari mulut Vonny sendiri yang memang dipersiapkan untuk menjebak sang oknum suami.
Bel pintu berbunyi dan Vonny membukanya dari dalam. Orang yang menyebabkan bel itu berbunyi adalah Anggun, sahabatnya . Dua ibu rumah tangga ini, berkenalan di sebuah cooking workshop dan memutuskan untuk membuka usaha katering bersama-masih berjalan hingga sekarang.
“Boleh masuk?”
“Duda yang mana lagi yang mau kau kenalkan ke aku?”
Tanya Vonny langsung ke inti pembicaraan.
“Jadi Mbak Vonny [i]ngarepmau aku kenalin sama duda?”
“Kalau bukan untuk maksa kimpoi, mengapa sekarang mau ngajak aku pergi ke villa? ”
“Darimana bisa tahu?”
“Disini udaranya panas, tetapi kamu malah pakai jaket dan pakaian hangat. Biasanya kamu kalau kemari cuma naik motor mattic tetapi sekarang bawa jeep pakai sopir lagi,”
Kata Vonny sambil menunjuk seorang sopir yang tak dikenalnya, yang sedang menunggu di kursi pengemudi mobil Anggun.
“Itu berarti kamu mau mengajakku pergi ke tempat yang bersuhu dingin dan medan jalannya berat sehingga butuh sopir yang lebih ahli untuk pergi kesana. Setahuku di dekat sini hanya ada satu tempat yang seperti itu, daerah wisata di lereng gunung Jrangkong-nama gunung ini fiktif belaka-yang dikenal dengan lereng seribu vila. Setahuku kau tidak punya kerabat atau kenalan yang punya rumah disana, jadi besar kemungkinan kita akan mengunjungi atau bahkan menginap di salah satu vila yang ada di situ,”
“Tepat banget analisisnya, sejak kapan jadi detektif Jeng?”
“Sejak jadi janda.”
Jeep melaju di jalanan menanjak. Lampu listrik di kanan kiri sudah tak tampak lagi, digantikan oleh baris-baris pepohonan yang menjulang dalam gelapnya malam.
“Kita sebenarnya mau kemana Nggun?”
“Syukuran, menyambut kedatangan bibiku yang baru keluar dari rumah sakit,”
“Sakit apa?”
“Jiwa,”
Tak lama kemudian mobil berhenti. Tepat didepan villa pada pukul 21.00 tepat. Layaknya novel-novel misteri luar negeri, di dalam bangunan besar tiga lantai bekas tempat tinggal pejabat kolonial itu sudah menunggu beberapa orang. Dua wanita dan satu laki-laki. Sopir Angun dna mobilnya kembali ke rumah Anggun di kota.
Wanita pertama menyapa Anggun dan berkenalan dengan Vonny
“Vonny,”
“Saya Lia ”
“Mbak Lia ini kakak iparku Von,” Kata Anggun
Lia lebih tua kira-kira 20 tahun dari Vonny, penampilannya seperti ibu-ibu dalam film Indonesia tahun 90-an. Memakai baju panjang dan rok,berkacamata dan berwajah sedikit tertekan dibalik senyumnya yang dipaksakan . Wanita kedua berusia lebih muda 5 tahun dari Vonny, namanya Sandra.
“Sandra ini putri Mbak Lia,”
“Oh,saya Vonny.”
Selanjutnya seorang laki-laki seusia Anggun. Dia tidak perlu diperkenalkan lagi
“Mas Oscar datang juga?”
“Sudah dua malam disini Von,”
“Kok kamu nggak ikut suamimu Nggun?Apa gara-gara pesanan nasi kotak yang kemarin,”
“Nggak tega ninggalin kamu sendirian Von,”
“Jadi nggak enak nih,”
“Sudahlah don't mention it,”
Setelah mengantarkan Vonny ke kamar, kelima orang ini turun ke lantai satu. Menuju ruang makan yang letaknya dekat dengan kebun teh di halaman samping. Saat itulah hujan turun dengan derasnya. Kilat menyambar penangkal petir di atap rumah dan angin mengetuk-ngetuk kaca jendela berulang-ulang.
“Untung listriknya tidak padam,” Kata Anggun
Berita buruknya listrik memang tiba-tiba padam. Acara makan malam dan syukuran harus ditunda, karena mereka harus menyalakan lilin-lilin di berbagai penjuru.
“Akhirnya sekarang kita bisa makan-makan,” Kata Oscar
“Tapi masih terlalu gelap, Sandra jadi tidak bisa nulis di kamar,”
“Memangnya nerusin nulis novel nggak bisa pakai laptop ya?”
“Tidak bisa,” Kata Sandra
“Kok?”
“Kalau nulis langsung di laptop, imajinasi Sandra seperti digembok, nggak bisa keluar,”
“Oh ya sudah, besok kan masih ada hari,” Kata Oscar sambil menyendok sup asparagus.
“Tunggu Mas”
“Ada apa lagi Nggun?”
“Jangan langsung makan, kita harus membuka dengan sepatah dua patah kata dulu untuk menyambut kedatangan Mbak Lia,”
“Oh ya,”
Kali ini Lia yang tampak tidak setuju.
“Sudah kubilang aku tidak gila, analisa dokter juga demikian. Makanya sekarang bisa pulang,”
Katanya
“Tetapi Mama kan sering berhalusinasi dan mimpi buruk,”
“Aku tidak berhalusinasi, orang itu memang ada,”
Kata Lia setengah berteriak, Vonny penasaran lalu bertanya
“Orang apa Mbak Lia?”
“Orang yang mencoba membunuhku.”
Jawab Lia, yang disambut dengan hening oleh seisi ruang makan.
“Tenang Ma, semua itu hanya ada di pikiran Mama saja,” Kata Sandra menenangkan.
“Aku sudah lelah menjelaskan hal ini kepada kalian. Tapi orang itu memang ada dan....dan firasatku berkata dia mengikuti kita ke rumah ini, dia akan membunuhku malam ini juga!”
'Tenang Ma, tenang,”
Acara makan malam berlangsung dengan baik, meskipun agak aneh bagi Vonny. Dari keterangan Oscar dan Anggun, beberapa bulan yang lalu Lia mengalami kecelakaan mobil, rem sedannya blong dan masuk jurang. Untung saja wanita malang itu sempat melompat keluar.
“Lalu bagaimana dengan papan reklame yang hampir menimpa diriku waktu itu?”
“Itu semua cuma kebetulan Mbak,”
Kata Oscar menenangkan kakaknya yang masih ketakutan.
Selesai makan dan bercakap-cakap untuk mendekatkan diri satu sama lain, semua orang kembali ke kamar. Hujan membuat Vonny terlelap dengan mudahnya.
“AAAAA”
Keesokan harinya, sebuah jeritan panjang membangunkan Vonny. Asalnya dari kamar Lia. Wanita itu tewas dengan mulut berbusa. Di sisi ranjangnya terdapat setengah gelas susu yang tumpah ke lantai. Acara liburan itu gagal.
Beberapa hari kemudian, setelah diautopsi, jasad Lia dimakamkan. Di kuburan Vonny bertemu lagi dengan Anggun, Oscar dan Sandra. Iapun memulai pembicaraan langsung ke intinya.
“Sebenarnya waktu di villa, Mbak Lia pernah cerita ke aku kalau dia sebenarnya sudah mencurigai seseorang. Kalau dia meninggal dibunuh, berarti orang itu yang melakukannya,”
“Siapa?” Tanya Anggun,
“Aku tidak tahu, tetapi Mbak Lia menuliskannya di buku harian. Anehnya lagi, meskipun baru kenal dia menitipkan diary yang sampulnya terkunci itu padaku. Katanya aku disuruh menyerahkan buku itu ke polisi kalau terjadi apa-apa dengannya”
“Sudah kau serahkan?”
“Rencananya nanti sore jam tiga aku mampir ke kantor polisi, sekarang mau ke supermarket dulu,”
Sebuah linggis mencongkel engsel pintu depan rumah Vonny. Seseorang mengendap-endap masuk dan langsung menuju ke kamarnya. Tamu tak diundang itu mengacak-acak rak buku, tetapi tidak menemukan apa yang dicarinya.
“Angkat tangan!”
“Jangan bergerak!”
2 orang petugas menodongkan senjatanya ke arah sosok misterius itu. Vonny yang datang di belakangnya tampak terkejut. Ia tak menyangka bahwa pelakunya adalah
“Sandra?”
“Aku sadar sekarang, buku harian itu tidak ada kan, kau berbohong untuk menjebak kami.”
“Ya, kalau aku jadi pelakunya, aku pasti akan mencari buku itu sebelum jam tiga sore. Aku hanya tak habis pikir mengapa kau bunuh ibumu sendiri?”
“Kalau kau jadi aku, pasti kau juga akan membunuhnya,”
“Memangnya apa yang dia lakukan,”
“Mbak Vonny pernah dibully?”
“Waktu kecil pernah, oleh teman sekolah,”
“Sakit kan rasanya?”
“Iya,”
“Itu belum seberapa mbak Vonny. Dibully ibu kandung sendiri, rasanya jauh lebih sakit dari itu karena saya mengalaminya dari kecil hingga sekarang,”
Kata Sandra sambil menggulung kemeja lengan panjangnya dan menunjukkan bekas-bekas luka lama yang mengerikan.Vonny terkesiap. Ia menutup mulut dengan kedua tangan dan tak snaggup berkata apa-apa lagi.
Bel pintu berbunyi dan Vonny membukanya dari dalam. Orang yang menyebabkan bel itu berbunyi adalah Anggun, sahabatnya . Dua ibu rumah tangga ini, berkenalan di sebuah cooking workshop dan memutuskan untuk membuka usaha katering bersama-masih berjalan hingga sekarang.
“Boleh masuk?”
“Duda yang mana lagi yang mau kau kenalkan ke aku?”
Tanya Vonny langsung ke inti pembicaraan.
“Jadi Mbak Vonny [i]ngarepmau aku kenalin sama duda?”
“Kalau bukan untuk maksa kimpoi, mengapa sekarang mau ngajak aku pergi ke villa? ”
“Darimana bisa tahu?”
“Disini udaranya panas, tetapi kamu malah pakai jaket dan pakaian hangat. Biasanya kamu kalau kemari cuma naik motor mattic tetapi sekarang bawa jeep pakai sopir lagi,”
Kata Vonny sambil menunjuk seorang sopir yang tak dikenalnya, yang sedang menunggu di kursi pengemudi mobil Anggun.
“Itu berarti kamu mau mengajakku pergi ke tempat yang bersuhu dingin dan medan jalannya berat sehingga butuh sopir yang lebih ahli untuk pergi kesana. Setahuku di dekat sini hanya ada satu tempat yang seperti itu, daerah wisata di lereng gunung Jrangkong-nama gunung ini fiktif belaka-yang dikenal dengan lereng seribu vila. Setahuku kau tidak punya kerabat atau kenalan yang punya rumah disana, jadi besar kemungkinan kita akan mengunjungi atau bahkan menginap di salah satu vila yang ada di situ,”
“Tepat banget analisisnya, sejak kapan jadi detektif Jeng?”
“Sejak jadi janda.”
Jeep melaju di jalanan menanjak. Lampu listrik di kanan kiri sudah tak tampak lagi, digantikan oleh baris-baris pepohonan yang menjulang dalam gelapnya malam.
“Kita sebenarnya mau kemana Nggun?”
“Syukuran, menyambut kedatangan bibiku yang baru keluar dari rumah sakit,”
“Sakit apa?”
“Jiwa,”
Tak lama kemudian mobil berhenti. Tepat didepan villa pada pukul 21.00 tepat. Layaknya novel-novel misteri luar negeri, di dalam bangunan besar tiga lantai bekas tempat tinggal pejabat kolonial itu sudah menunggu beberapa orang. Dua wanita dan satu laki-laki. Sopir Angun dna mobilnya kembali ke rumah Anggun di kota.
Wanita pertama menyapa Anggun dan berkenalan dengan Vonny
“Vonny,”
“Saya Lia ”
“Mbak Lia ini kakak iparku Von,” Kata Anggun
Lia lebih tua kira-kira 20 tahun dari Vonny, penampilannya seperti ibu-ibu dalam film Indonesia tahun 90-an. Memakai baju panjang dan rok,berkacamata dan berwajah sedikit tertekan dibalik senyumnya yang dipaksakan . Wanita kedua berusia lebih muda 5 tahun dari Vonny, namanya Sandra.
“Sandra ini putri Mbak Lia,”
“Oh,saya Vonny.”
Selanjutnya seorang laki-laki seusia Anggun. Dia tidak perlu diperkenalkan lagi
“Mas Oscar datang juga?”
“Sudah dua malam disini Von,”
“Kok kamu nggak ikut suamimu Nggun?Apa gara-gara pesanan nasi kotak yang kemarin,”
“Nggak tega ninggalin kamu sendirian Von,”
“Jadi nggak enak nih,”
“Sudahlah don't mention it,”
Setelah mengantarkan Vonny ke kamar, kelima orang ini turun ke lantai satu. Menuju ruang makan yang letaknya dekat dengan kebun teh di halaman samping. Saat itulah hujan turun dengan derasnya. Kilat menyambar penangkal petir di atap rumah dan angin mengetuk-ngetuk kaca jendela berulang-ulang.
“Untung listriknya tidak padam,” Kata Anggun
Berita buruknya listrik memang tiba-tiba padam. Acara makan malam dan syukuran harus ditunda, karena mereka harus menyalakan lilin-lilin di berbagai penjuru.
“Akhirnya sekarang kita bisa makan-makan,” Kata Oscar
“Tapi masih terlalu gelap, Sandra jadi tidak bisa nulis di kamar,”
“Memangnya nerusin nulis novel nggak bisa pakai laptop ya?”
“Tidak bisa,” Kata Sandra
“Kok?”
“Kalau nulis langsung di laptop, imajinasi Sandra seperti digembok, nggak bisa keluar,”
“Oh ya sudah, besok kan masih ada hari,” Kata Oscar sambil menyendok sup asparagus.
“Tunggu Mas”
“Ada apa lagi Nggun?”
“Jangan langsung makan, kita harus membuka dengan sepatah dua patah kata dulu untuk menyambut kedatangan Mbak Lia,”
“Oh ya,”
Kali ini Lia yang tampak tidak setuju.
“Sudah kubilang aku tidak gila, analisa dokter juga demikian. Makanya sekarang bisa pulang,”
Katanya
“Tetapi Mama kan sering berhalusinasi dan mimpi buruk,”
“Aku tidak berhalusinasi, orang itu memang ada,”
Kata Lia setengah berteriak, Vonny penasaran lalu bertanya
“Orang apa Mbak Lia?”
“Orang yang mencoba membunuhku.”
Jawab Lia, yang disambut dengan hening oleh seisi ruang makan.
“Tenang Ma, semua itu hanya ada di pikiran Mama saja,” Kata Sandra menenangkan.
“Aku sudah lelah menjelaskan hal ini kepada kalian. Tapi orang itu memang ada dan....dan firasatku berkata dia mengikuti kita ke rumah ini, dia akan membunuhku malam ini juga!”
'Tenang Ma, tenang,”
Acara makan malam berlangsung dengan baik, meskipun agak aneh bagi Vonny. Dari keterangan Oscar dan Anggun, beberapa bulan yang lalu Lia mengalami kecelakaan mobil, rem sedannya blong dan masuk jurang. Untung saja wanita malang itu sempat melompat keluar.
“Lalu bagaimana dengan papan reklame yang hampir menimpa diriku waktu itu?”
“Itu semua cuma kebetulan Mbak,”
Kata Oscar menenangkan kakaknya yang masih ketakutan.
Selesai makan dan bercakap-cakap untuk mendekatkan diri satu sama lain, semua orang kembali ke kamar. Hujan membuat Vonny terlelap dengan mudahnya.
“AAAAA”
Keesokan harinya, sebuah jeritan panjang membangunkan Vonny. Asalnya dari kamar Lia. Wanita itu tewas dengan mulut berbusa. Di sisi ranjangnya terdapat setengah gelas susu yang tumpah ke lantai. Acara liburan itu gagal.
Beberapa hari kemudian, setelah diautopsi, jasad Lia dimakamkan. Di kuburan Vonny bertemu lagi dengan Anggun, Oscar dan Sandra. Iapun memulai pembicaraan langsung ke intinya.
“Sebenarnya waktu di villa, Mbak Lia pernah cerita ke aku kalau dia sebenarnya sudah mencurigai seseorang. Kalau dia meninggal dibunuh, berarti orang itu yang melakukannya,”
“Siapa?” Tanya Anggun,
“Aku tidak tahu, tetapi Mbak Lia menuliskannya di buku harian. Anehnya lagi, meskipun baru kenal dia menitipkan diary yang sampulnya terkunci itu padaku. Katanya aku disuruh menyerahkan buku itu ke polisi kalau terjadi apa-apa dengannya”
“Sudah kau serahkan?”
“Rencananya nanti sore jam tiga aku mampir ke kantor polisi, sekarang mau ke supermarket dulu,”
Sebuah linggis mencongkel engsel pintu depan rumah Vonny. Seseorang mengendap-endap masuk dan langsung menuju ke kamarnya. Tamu tak diundang itu mengacak-acak rak buku, tetapi tidak menemukan apa yang dicarinya.
“Angkat tangan!”
“Jangan bergerak!”
2 orang petugas menodongkan senjatanya ke arah sosok misterius itu. Vonny yang datang di belakangnya tampak terkejut. Ia tak menyangka bahwa pelakunya adalah
“Sandra?”
“Aku sadar sekarang, buku harian itu tidak ada kan, kau berbohong untuk menjebak kami.”
“Ya, kalau aku jadi pelakunya, aku pasti akan mencari buku itu sebelum jam tiga sore. Aku hanya tak habis pikir mengapa kau bunuh ibumu sendiri?”
“Kalau kau jadi aku, pasti kau juga akan membunuhnya,”
“Memangnya apa yang dia lakukan,”
“Mbak Vonny pernah dibully?”
“Waktu kecil pernah, oleh teman sekolah,”
“Sakit kan rasanya?”
“Iya,”
“Itu belum seberapa mbak Vonny. Dibully ibu kandung sendiri, rasanya jauh lebih sakit dari itu karena saya mengalaminya dari kecil hingga sekarang,”
Kata Sandra sambil menggulung kemeja lengan panjangnya dan menunjukkan bekas-bekas luka lama yang mengerikan.Vonny terkesiap. Ia menutup mulut dengan kedua tangan dan tak snaggup berkata apa-apa lagi.
THE END
0
Kutip
Balas