- Beranda
- Stories from the Heart
Petrichor, A Lovely Story After Rain
...
TS
bekassr
Petrichor, A Lovely Story After Rain
Malam gan, ane udah lama mau bikin cerita disini, cuma ga kesampean terus, baru sekarang niatnya kesampean.
Ini cerita based on true life story of mine, cuma ada beberapa detail yang bakal ane tambah-tambahin sebagai pemanis cerita, komposisinya 80-20 lah, hehe.
Okay, i think i can start this now?
INDEX thanks to agan vanjipeng
Ini cerita based on true life story of mine, cuma ada beberapa detail yang bakal ane tambah-tambahin sebagai pemanis cerita, komposisinya 80-20 lah, hehe.
Okay, i think i can start this now?
INDEX thanks to agan vanjipeng

Spoiler for index:
Diubah oleh bekassr 12-08-2014 20:01
bukhorigan dan sunflower.id memberi reputasi
3
45K
292
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bekassr
#79
Part 19
Setelah kepergian Putri, aku menjalani hari hariku disekolah dengan biasa, namun hampa.
Saat aku memandang kursi kosongnya disebelahku, kerinduanku semakin menjadi jadi. Aku masih membayangkan Putri ada disitu, tertidur lelap diatas tas nya. Aku masih membayangkan Putri ada disitu, baru terjaga dari tidurnya lalu melemparkan senyum termanisnya saat melihatku memandanginya. Aku masih membayangkan Putri ada disitu, dan memanggil namaku.
Aku berjuang keras menahan kerinduanku setiap melihat bangku kosong itu sampai aku naik ke kelas 3. Aku dan Putri masih berhubungan lewat telpon dan sms setelah dia pergi, tapi 3 bulan setelahnya kami semakin jarang dan berhubungan, dan akhirnya lost contact. Aku mengetahui dimana Putri bersekolah di Jakarta, bagaimana kesehatan neneknya yang semakin memburuk, bagaimana dia bahagia bisa bersama lagi bersama adik adiknya, dan bagaiman hoby klabingnya semakin menjadi jadi di Jakarta...
Aku mulai bisa melupakan Putri saat menginjak kelas 3, aku disibukkan dengan jadwal les yang padat serta tugas menumpuk demi menghadapi ujian akhir. Hingga akhirnya kerja kerasku berbuah hasil manis, akhirnya aku dinyatakan lulus dan mendapat ijazah SMA.
Kebahagiaanku tidak hanya sampai disitu, aku diterima di sebuah Univ swasta yang cukup terkenal di Jakarta. Walaupun bukan ptn, tapi aku cukup bangga dapat kuliah disini karena cukup bergengsi.
Selama di Jakarta, aku mencoba menghubungi Putri, kalau kalau saja aku bisa bertemu dengannya. Namun harapanku kandas setelah berkali kali aku sms dan telpon nomornya tidak aktif, mungkin dia sudah mengganti nomornya.
Di Jakarta aku tinggal dengan om ku di apartemen dibilangan Jakarta Utara, senang bukan main saat om ku menawarkanku untuk tinggal dengannya yang masih membujang. Dia juga membolehkanku memakai kendaraannya ke kampusku.
Selama menjalani 2 semester di Jakarta, aku hanya menjadi kupu kupu, selepas jam perkuliahan selesai, aku langsung kembali pulang, aku segan dengan om ku, manalagi aku memakai kendaraannya.
Teman temanku di Jakarta ini hanya ada beberapa orang, bisa dihitung dengan jari saja. Tapi ada satu orang yang spesial. Gadis keturunan chinese bernama Vivi, Vivian. Aku dan Vivi akrab sejak awal masa orientasi. Entah bagaimana aku merasa klop dengan dia, tapi aku tidak berani mengungkapkan isi hatiku padanya. Lagipula, aku belum bisa menyingkirkan Putri dari hatiku.
Akhir semester 2, aku berencana balik ke Pekanbaru, disitulah aku memberanikan diri mengutarakan rasaku kepada Vivi, dan dia pun mengiyakan. Entah kenapa, aku merasa janggal ketika akhirnya aku bisa berpacaran dengan Vivi, tidak ada letupan letupan yang kurasakan seperti dengan Putri. Ah, kenapa aku jadi orang yang tidak bersyukur? Aku tidak harus membanding bandingkan Vivi dengan Putri, Putri adalah masa lalu. Kutanamkan mindset itu kebenakku.
Akhirnya aku dan Vivi resmi berstatus pacaran, meski saat itu aku harus meninggalkannya beberapa saat padahal kami baru saja berpacaran.
Saat aku memandang kursi kosongnya disebelahku, kerinduanku semakin menjadi jadi. Aku masih membayangkan Putri ada disitu, tertidur lelap diatas tas nya. Aku masih membayangkan Putri ada disitu, baru terjaga dari tidurnya lalu melemparkan senyum termanisnya saat melihatku memandanginya. Aku masih membayangkan Putri ada disitu, dan memanggil namaku.
Aku berjuang keras menahan kerinduanku setiap melihat bangku kosong itu sampai aku naik ke kelas 3. Aku dan Putri masih berhubungan lewat telpon dan sms setelah dia pergi, tapi 3 bulan setelahnya kami semakin jarang dan berhubungan, dan akhirnya lost contact. Aku mengetahui dimana Putri bersekolah di Jakarta, bagaimana kesehatan neneknya yang semakin memburuk, bagaimana dia bahagia bisa bersama lagi bersama adik adiknya, dan bagaiman hoby klabingnya semakin menjadi jadi di Jakarta...
Aku mulai bisa melupakan Putri saat menginjak kelas 3, aku disibukkan dengan jadwal les yang padat serta tugas menumpuk demi menghadapi ujian akhir. Hingga akhirnya kerja kerasku berbuah hasil manis, akhirnya aku dinyatakan lulus dan mendapat ijazah SMA.
Kebahagiaanku tidak hanya sampai disitu, aku diterima di sebuah Univ swasta yang cukup terkenal di Jakarta. Walaupun bukan ptn, tapi aku cukup bangga dapat kuliah disini karena cukup bergengsi.
Selama di Jakarta, aku mencoba menghubungi Putri, kalau kalau saja aku bisa bertemu dengannya. Namun harapanku kandas setelah berkali kali aku sms dan telpon nomornya tidak aktif, mungkin dia sudah mengganti nomornya.
Di Jakarta aku tinggal dengan om ku di apartemen dibilangan Jakarta Utara, senang bukan main saat om ku menawarkanku untuk tinggal dengannya yang masih membujang. Dia juga membolehkanku memakai kendaraannya ke kampusku.
Selama menjalani 2 semester di Jakarta, aku hanya menjadi kupu kupu, selepas jam perkuliahan selesai, aku langsung kembali pulang, aku segan dengan om ku, manalagi aku memakai kendaraannya.
Teman temanku di Jakarta ini hanya ada beberapa orang, bisa dihitung dengan jari saja. Tapi ada satu orang yang spesial. Gadis keturunan chinese bernama Vivi, Vivian. Aku dan Vivi akrab sejak awal masa orientasi. Entah bagaimana aku merasa klop dengan dia, tapi aku tidak berani mengungkapkan isi hatiku padanya. Lagipula, aku belum bisa menyingkirkan Putri dari hatiku.
Akhir semester 2, aku berencana balik ke Pekanbaru, disitulah aku memberanikan diri mengutarakan rasaku kepada Vivi, dan dia pun mengiyakan. Entah kenapa, aku merasa janggal ketika akhirnya aku bisa berpacaran dengan Vivi, tidak ada letupan letupan yang kurasakan seperti dengan Putri. Ah, kenapa aku jadi orang yang tidak bersyukur? Aku tidak harus membanding bandingkan Vivi dengan Putri, Putri adalah masa lalu. Kutanamkan mindset itu kebenakku.
Akhirnya aku dan Vivi resmi berstatus pacaran, meski saat itu aku harus meninggalkannya beberapa saat padahal kami baru saja berpacaran.
0