- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
191K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#129
THE BEST THE WORST AND AND THE UGLY
Spoiler for :
Evan melangkah ke kantor ayahnya dengan langkah ringan. CEO,CEO demikian kata hatinya. Ya meskipun perusahaan ayahnya bukan persero yang go public dan hanya berbentuk firma yang didirikan oleh 2 orang-Ayahnya dan Om Chandra (almarhum), menjadi pengambil keputusan tertinggi di perusahaan produsen piring itu tetap sesuatu yang membanggakan. Selain untuk kebanggaan, ada suatu urusan pribadi yang menyebabkan Evan harus menduduki posisi itu.
“Evan, duduk.” Kata ayahnya dengan suara berat. Senyum anak muda itu langsung sirna.
“Evan tidak jadi dipromosikan Pa?”
Tanya Evan langsung tanpa basa-basi. Ayahnya diam sejenak lalu menjawab
“Kau pasti ingin tahu apa alasannya?”
“Semoga saja masuk akal.” Katanya sedikit jengkel.
“Selain masuk akal juga sangat mengejutkan.”
“Kalau mengejutkan berarti tidak terkait dengan kinerja Evan?”
“Kerjamu di keuangan bagus, sangat bagus malahan.”
“Lalu?”
“Ini soal Mas Chandra.”
“Om Chandra kan sudah meninggal Pa?”
“Selain sudah meninggal, ternyata Mas Chandra juga meninggalkan seorang anak.”
Jawab ayahnya. Setahu Evan Om Chandra dan Tante Puspa tidak punya anak. Tetapi tiba-tiba Evan teringat kalau di tahun 2004, sewaktu mereka berdua masih tinggal di Aceh mereka punya anak. Satu-satunya putra lelaki yang hilang terbawa gelombang sunami di penghujung desember. Anak itu sudah dianggap mati, bahkan dibuatkan makam kosong lengkap dengan batu nisannya.
“Dodi...ya Namanya Dodi. Apa Dodi masih hidup?”
“Sebentar lagi dia datang kemari.”
Sementara itu di parkiran, seorang pria berjaket biru penuh tambalan dihentikan oleh tukang parkir.
“Maaf Pak, pengemis dilarang masuk.”
Pria itu tiba-tiba memasang muka terkejut sambil menunjuk ke suatu arah di belakang satpam dengan jari telunjukknya sambil berkata
“Mbak, kok pagi-pagi pakai bikini.”
Satpam menengok ke arah itu dan mendapati tidak ada apa-apa di belakangnya. Ketika menengok ke depan sekali lagi, ternyata pria gembel itu sudah hilang dari pandangan.
“Dodi, darimana saja?”
“kemarin malam lihat kuburanku sendiri, nyandar di nisan enak juga sampai ketiduran. Bnagun-bangun eh sudah pagi.”
Kata Ayah Evan kepada gembel yang baru masuk dari pintu itu. Dodi langsung duduk sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Om Bukhori dan kau siapa ya?”
Evan yang tercengang melihat penampilan orang yang menggagalkannya menduduki posisi pemimpin tertinggi tidak menjawab pertanyaan itu.
“Hanya karena gembel ini, Evan gagal jadi CEO Pa?”
“Bisa ya bisa tidak.”
“Maksudnya?”
“Setiap corporate pasti punya culture. Di kita ada tradisi, sama seperti Papa dan Mas Chandra dulu, Untuk menentukan siapa yang pantas jadi pimpinan, kami mengadakan semacam lomba kecil-kecilan. Sederhana saja, karena kita buat piring, ya lombanya tidak jauh-jauh dari itu.”
“Siapa yang paling banyak menjual piring menang?”
Tanya sang gembel yang akhirnya buka mulut.
“Tepat. Tradisi ini sekarang berlaku untuk kalian berdua.”
Evan sedikit bernafas lega, penampilan lawannya tidak meyakinkan. Kalau disuruh menggelandang di kuburan atau ngemis si Dodi ini pasti jagonya, tapi tahu apa dia soal costing,pricing dan marketing? Ini kemenangan mudah dan ia memang harus menang.
Mengapa Evan ngotot mau jadi CEO? Begini ceritanya
Suatu sore Evan mengunjungi Eva kekasihnya. Ketika ia duduk di ruang tamu sambil ngopi dan makan nasi bungkus tiba-tiba Wawan, ayah Eva berteriak dari dalam kamar
“Va, tolong ke warung sebentar?”
“Beli apa Yah?”
“Tali rafia sama gunting.”
“Buat apa?”
“Bunuh diri.”
Pak Wawan memang ingin bunuh diri sore itu juga. Usahanya bangkrut dan kini terlilit hutang diatas delapan ratus juta rupiah.
“Tenang Om, jangan bunuh diri.”
“Kalau nggak punya solusi jangan ngomong sembarangan Nak Evan.”
“Saya tidak ngomong sembarangan dan saya punya solusi.”
“Oh ya?”
“Kalau saya jadi CEO, saya punya hak untuk melakukan ekspansi. Invest di usaha mertua sendiri,mengapa tidak? Dengan begitu Pak Wawan bisa bayar pinjaman dan punya tambahan modal.”
Hening sejenak sebelum Pak Wawan akhirnya bernafas lega dan berkata
“Syukurlah Nak Evan.”
Orang baik pasti menang, demikian pikir Evan. Niatnya mulia untuk membantu Pak Wawan. Sedangkan gembel ini? Hidup tanpa tujuan dan kalau punya uang juga tidak jelas mau digunakan untuk apa.
“Ini Papa sudah siapkan modal buat kalian berdua.”
Kata Pak Bukhori sambil menyorongkan dua koper ke arah Dodi dan Evan.
“Tidak usah Om, keduanya buat Dik Evan saja.”
“Orang yang takabur biasanya kalah.”
“Bukan sombong, aku memang tidak membutuhkan uang ini.”
“Kalau begitu Evan juga sama.”
Kata Evan smabil menyorongkan kedua koper ke arah ayahnya. Setelah itu mereka berdua meninggalkan kantor. Evan mulai membuat desain, niat baik harus ditunjang dengan produk yang baik pula. Ia membuat anggaran produksi, mencari pemasok bahan baku terbaik dan membeli mesin-mesin baru di pabrik untuk memastikan piring-piring yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik pula.
Berbeda dengan Dodi yang masih santai-santai sambil memain-mainkan ponsel seharian, Evan bekerja tak kenal waktu. Ia hilir mudik ke perusahaan iklan,stasiun TV,radio dan menyelenggarakan serangkaian acara makan malam bersama calon klien potensial. Piring Evan memang mewah,tahan banting,anti pecah dan menyasar segmen menengah keatas karena harganya mahal. Lalu bagaimana dengan piring buatan Dodi?
Dodi membeli bahan baku yang kualitasnya paling buruk. Desainnya juga polos tanpa hiasan dan pengerjaannya juga sepintas terlihat asal-asalan. Mengetahui hal ini semakin girang hati Evan. Ia akan menang, dapat untung banyak dan yang lebih penting ayahnya Eva tidak jadi bunuh diri.
Satu minggu berlalu, pada hari terakhir lomba Bukhori membawa dua amplop dan membacakan hasilnya.
“Piring Evan terjual 100 set. Penjualan minus biaya,ruginya sedikit cuma 15 juta rupiah. Namanya juga produk baru, belum dikenal pasar. ”
Selanjutnya Pak Bukhori membacakan hasil penjualan Dodi
“Dodi, laba 25 juta rupiah, jumlah set yang terjual 100.000 unit.”
“Kok bisa? Piringnya dia kan jelek,murahan lagi. ”
Teriak Evan dengan polosnya sambil mengetuk-ngetuk piring buatan Dodi.
“Piring semacam ini mudah pecah,tidak aman untuk dipakai makan.Cocoknya dibanting saja seperti ini nih! ”
Prang
“Evan jaga kelakuanmu.”
“Tenang Om, namanya juga terguncang. Pasti tidak rasional. Tapi kata-kata Evan ada benarnya. Piring ini memang dibeli untuk dipecahkan bukan untuk alas makan.”
Evan mengernyitkan dahi
“Memangnya ada orang beli piring buat dipecahkan?”
“Kalau belum ada ya dibuat jadi ada.” Jawab Dodi enteng.
Dodi menjelaskan mengapa piring jelek buatannya bisa laku keras. Pertama ia membuka lapak di internet, yang kedua ia sewa orang-orang dari dunia maya untuk melakukan promosi.
“Jadi tugas kami untuk mereview dan posting kelebihan piring ini?”
“Salah, aku ingin kalian membenci piring ini. Benci-sebenci bencinya. Kalian harus maki-maki produk ini,bilang ini piring norak,kampungan,alay pokoknya yang jelek-jelek.
“Lalu kalau ada yang tanya, kalau jelek buat apa dibeli?”
“Untuk dihina tentu saja.” Jawab Dodi.
“Lalu?”
“Buat meme hinaan yang lucu-lucu dan hashtag gerakan memprotes penjualan piring ini dengan mengadakan serangkaian event.”
“Event apa?”
“Acara banting piring bersama sekaligus menghilangkan stres, orang-orang yang frustasi,marah atau mengalami hari yang buruk pasti butuh pelampiasan. Jangan lupa upload video rekamannya dan anjurkan para hater di seluruh Indonesia melakukannya juga.”
Selain itu Dodi juga menawarkan piringnya ke ruamh-rumah produksi film dan sinetron action naga-nagaan. Mereka antusias membelinya karena piring itu mudah pecah ketika dipakai syuting sehingga mampu memberikan kesan bahwa tokoh utamanya memang sakti dan sangat kuat sehingga mampu menghancurkan ratusan piring dalam sekali pukul, tanpa perlu keluar uang untuk membuat efek CGI.
“Blue ocean strategy dipadu dengan kontroversial marketing? Seharusnya aku menyadarinya.” Sesal Evan.
“Tetapi terlambat, ” Jawab Dodi. Gembel ini melanjutkan dengan pertanyaan
“Dik Evan tahu mengapa bisa kalah?”
“Mesin-mesin baru itu belum balik modal, lalu pangsa pasarnya juga kecil, dan mereka cenderung membeli alat makan mahal lain yang merknya sudah terkenal.”
“Soal Eva dan Pak Wawan, jangan khawatir. Meskipun aku yang jadi CEO-nya, kita tetap bantu mereka.”
“Kok bisa tahu?”
“Itulah alasan lain mengapa bisa kalah. Beda denganku, Dik Evan tidak mengetahui siapa lawan Dik Evan.”
“Memangnya kau ini sebenarnya siapa?”
Dodi tidak menjawab pertanyaan itu, ia malah melangkah keluar sambil bersiul-siul.
“Evan, duduk.” Kata ayahnya dengan suara berat. Senyum anak muda itu langsung sirna.
“Evan tidak jadi dipromosikan Pa?”
Tanya Evan langsung tanpa basa-basi. Ayahnya diam sejenak lalu menjawab
“Kau pasti ingin tahu apa alasannya?”
“Semoga saja masuk akal.” Katanya sedikit jengkel.
“Selain masuk akal juga sangat mengejutkan.”
“Kalau mengejutkan berarti tidak terkait dengan kinerja Evan?”
“Kerjamu di keuangan bagus, sangat bagus malahan.”
“Lalu?”
“Ini soal Mas Chandra.”
“Om Chandra kan sudah meninggal Pa?”
“Selain sudah meninggal, ternyata Mas Chandra juga meninggalkan seorang anak.”
Jawab ayahnya. Setahu Evan Om Chandra dan Tante Puspa tidak punya anak. Tetapi tiba-tiba Evan teringat kalau di tahun 2004, sewaktu mereka berdua masih tinggal di Aceh mereka punya anak. Satu-satunya putra lelaki yang hilang terbawa gelombang sunami di penghujung desember. Anak itu sudah dianggap mati, bahkan dibuatkan makam kosong lengkap dengan batu nisannya.
“Dodi...ya Namanya Dodi. Apa Dodi masih hidup?”
“Sebentar lagi dia datang kemari.”
Sementara itu di parkiran, seorang pria berjaket biru penuh tambalan dihentikan oleh tukang parkir.
“Maaf Pak, pengemis dilarang masuk.”
Pria itu tiba-tiba memasang muka terkejut sambil menunjuk ke suatu arah di belakang satpam dengan jari telunjukknya sambil berkata
“Mbak, kok pagi-pagi pakai bikini.”
Satpam menengok ke arah itu dan mendapati tidak ada apa-apa di belakangnya. Ketika menengok ke depan sekali lagi, ternyata pria gembel itu sudah hilang dari pandangan.
“Dodi, darimana saja?”
“kemarin malam lihat kuburanku sendiri, nyandar di nisan enak juga sampai ketiduran. Bnagun-bangun eh sudah pagi.”
Kata Ayah Evan kepada gembel yang baru masuk dari pintu itu. Dodi langsung duduk sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Om Bukhori dan kau siapa ya?”
Evan yang tercengang melihat penampilan orang yang menggagalkannya menduduki posisi pemimpin tertinggi tidak menjawab pertanyaan itu.
“Hanya karena gembel ini, Evan gagal jadi CEO Pa?”
“Bisa ya bisa tidak.”
“Maksudnya?”
“Setiap corporate pasti punya culture. Di kita ada tradisi, sama seperti Papa dan Mas Chandra dulu, Untuk menentukan siapa yang pantas jadi pimpinan, kami mengadakan semacam lomba kecil-kecilan. Sederhana saja, karena kita buat piring, ya lombanya tidak jauh-jauh dari itu.”
“Siapa yang paling banyak menjual piring menang?”
Tanya sang gembel yang akhirnya buka mulut.
“Tepat. Tradisi ini sekarang berlaku untuk kalian berdua.”
Evan sedikit bernafas lega, penampilan lawannya tidak meyakinkan. Kalau disuruh menggelandang di kuburan atau ngemis si Dodi ini pasti jagonya, tapi tahu apa dia soal costing,pricing dan marketing? Ini kemenangan mudah dan ia memang harus menang.
Mengapa Evan ngotot mau jadi CEO? Begini ceritanya
Suatu sore Evan mengunjungi Eva kekasihnya. Ketika ia duduk di ruang tamu sambil ngopi dan makan nasi bungkus tiba-tiba Wawan, ayah Eva berteriak dari dalam kamar
“Va, tolong ke warung sebentar?”
“Beli apa Yah?”
“Tali rafia sama gunting.”
“Buat apa?”
“Bunuh diri.”
Pak Wawan memang ingin bunuh diri sore itu juga. Usahanya bangkrut dan kini terlilit hutang diatas delapan ratus juta rupiah.
“Tenang Om, jangan bunuh diri.”
“Kalau nggak punya solusi jangan ngomong sembarangan Nak Evan.”
“Saya tidak ngomong sembarangan dan saya punya solusi.”
“Oh ya?”
“Kalau saya jadi CEO, saya punya hak untuk melakukan ekspansi. Invest di usaha mertua sendiri,mengapa tidak? Dengan begitu Pak Wawan bisa bayar pinjaman dan punya tambahan modal.”
Hening sejenak sebelum Pak Wawan akhirnya bernafas lega dan berkata
“Syukurlah Nak Evan.”
Orang baik pasti menang, demikian pikir Evan. Niatnya mulia untuk membantu Pak Wawan. Sedangkan gembel ini? Hidup tanpa tujuan dan kalau punya uang juga tidak jelas mau digunakan untuk apa.
“Ini Papa sudah siapkan modal buat kalian berdua.”
Kata Pak Bukhori sambil menyorongkan dua koper ke arah Dodi dan Evan.
“Tidak usah Om, keduanya buat Dik Evan saja.”
“Orang yang takabur biasanya kalah.”
“Bukan sombong, aku memang tidak membutuhkan uang ini.”
“Kalau begitu Evan juga sama.”
Kata Evan smabil menyorongkan kedua koper ke arah ayahnya. Setelah itu mereka berdua meninggalkan kantor. Evan mulai membuat desain, niat baik harus ditunjang dengan produk yang baik pula. Ia membuat anggaran produksi, mencari pemasok bahan baku terbaik dan membeli mesin-mesin baru di pabrik untuk memastikan piring-piring yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik pula.
Berbeda dengan Dodi yang masih santai-santai sambil memain-mainkan ponsel seharian, Evan bekerja tak kenal waktu. Ia hilir mudik ke perusahaan iklan,stasiun TV,radio dan menyelenggarakan serangkaian acara makan malam bersama calon klien potensial. Piring Evan memang mewah,tahan banting,anti pecah dan menyasar segmen menengah keatas karena harganya mahal. Lalu bagaimana dengan piring buatan Dodi?
Dodi membeli bahan baku yang kualitasnya paling buruk. Desainnya juga polos tanpa hiasan dan pengerjaannya juga sepintas terlihat asal-asalan. Mengetahui hal ini semakin girang hati Evan. Ia akan menang, dapat untung banyak dan yang lebih penting ayahnya Eva tidak jadi bunuh diri.
Satu minggu berlalu, pada hari terakhir lomba Bukhori membawa dua amplop dan membacakan hasilnya.
“Piring Evan terjual 100 set. Penjualan minus biaya,ruginya sedikit cuma 15 juta rupiah. Namanya juga produk baru, belum dikenal pasar. ”
Selanjutnya Pak Bukhori membacakan hasil penjualan Dodi
“Dodi, laba 25 juta rupiah, jumlah set yang terjual 100.000 unit.”
“Kok bisa? Piringnya dia kan jelek,murahan lagi. ”
Teriak Evan dengan polosnya sambil mengetuk-ngetuk piring buatan Dodi.
“Piring semacam ini mudah pecah,tidak aman untuk dipakai makan.Cocoknya dibanting saja seperti ini nih! ”
Prang
“Evan jaga kelakuanmu.”
“Tenang Om, namanya juga terguncang. Pasti tidak rasional. Tapi kata-kata Evan ada benarnya. Piring ini memang dibeli untuk dipecahkan bukan untuk alas makan.”
Evan mengernyitkan dahi
“Memangnya ada orang beli piring buat dipecahkan?”
“Kalau belum ada ya dibuat jadi ada.” Jawab Dodi enteng.
Dodi menjelaskan mengapa piring jelek buatannya bisa laku keras. Pertama ia membuka lapak di internet, yang kedua ia sewa orang-orang dari dunia maya untuk melakukan promosi.
“Jadi tugas kami untuk mereview dan posting kelebihan piring ini?”
“Salah, aku ingin kalian membenci piring ini. Benci-sebenci bencinya. Kalian harus maki-maki produk ini,bilang ini piring norak,kampungan,alay pokoknya yang jelek-jelek.
“Lalu kalau ada yang tanya, kalau jelek buat apa dibeli?”
“Untuk dihina tentu saja.” Jawab Dodi.
“Lalu?”
“Buat meme hinaan yang lucu-lucu dan hashtag gerakan memprotes penjualan piring ini dengan mengadakan serangkaian event.”
“Event apa?”
“Acara banting piring bersama sekaligus menghilangkan stres, orang-orang yang frustasi,marah atau mengalami hari yang buruk pasti butuh pelampiasan. Jangan lupa upload video rekamannya dan anjurkan para hater di seluruh Indonesia melakukannya juga.”
Selain itu Dodi juga menawarkan piringnya ke ruamh-rumah produksi film dan sinetron action naga-nagaan. Mereka antusias membelinya karena piring itu mudah pecah ketika dipakai syuting sehingga mampu memberikan kesan bahwa tokoh utamanya memang sakti dan sangat kuat sehingga mampu menghancurkan ratusan piring dalam sekali pukul, tanpa perlu keluar uang untuk membuat efek CGI.
“Blue ocean strategy dipadu dengan kontroversial marketing? Seharusnya aku menyadarinya.” Sesal Evan.
“Tetapi terlambat, ” Jawab Dodi. Gembel ini melanjutkan dengan pertanyaan
“Dik Evan tahu mengapa bisa kalah?”
“Mesin-mesin baru itu belum balik modal, lalu pangsa pasarnya juga kecil, dan mereka cenderung membeli alat makan mahal lain yang merknya sudah terkenal.”
“Soal Eva dan Pak Wawan, jangan khawatir. Meskipun aku yang jadi CEO-nya, kita tetap bantu mereka.”
“Kok bisa tahu?”
“Itulah alasan lain mengapa bisa kalah. Beda denganku, Dik Evan tidak mengetahui siapa lawan Dik Evan.”
“Memangnya kau ini sebenarnya siapa?”
Dodi tidak menjawab pertanyaan itu, ia malah melangkah keluar sambil bersiul-siul.
THE END
note: strategi dalam cerita diatas bukan jaminan pasti berhasil jika diterapkan di dunia nyata, dalam dunia wirausaha tidak ada yang pasti semua tergantung pada keadaan yang mempengaruhi.
Diubah oleh reloaded0101 15-07-2014 04:47
0
Kutip
Balas