- Beranda
- Stories from the Heart
THIS IS SO GRAY
...
TS
akelhaha
THIS IS SO GRAY
Spoiler for Intro:
INTRODUCTION
"Well, you know, life started with good things, your mama fed you, smiled
at you. Your papa played with you. Or, maybe some of us were having another
scene, like your mama just left you on your bed when you were crying, and
your papa? He left the house. But, you can't decide their life in the
future by looking at their childhood. No, man. They have their life, not
their parents'. They decide everything, even their future." –Anggina
***
"Alat musik gitar dimainkan dengan cara di petik, suling dimainkan dengan
cara di tiup..." Terdengar suara Augray yang sedang belajar kesenian.
"Sedang apa nak?" Tanya sang mama.
"Besok ulangan kesenian, ma." Jawab Augray yang pada saat itu masih duduk
di kelas 2 Sekolah Dasar.
"Kalau belajar terus nilainya bisa bagus dong ya?" Tanya mama yang hanya di
jawab Augray dengan senyuman.
***
Terdengar suara tamparan kuat dari ruang keluarga, dan terdengar suara
tangisan yang keluar dari mulut seorang bocah berusia 8 tahun. Televisi
menyala dan bervolume keras sekali, tapi seakan suara Televisi tersebut
kalah dengan tangisannya.
"Sabu! Kalau aku bilang cuci piring, cuci baju, dan mengepel rumah tolong
diturutin dong!!! Kamu gak punya telinga atau gak sayang mama? Kalau aku
tampar, kamu baru beri respon!" Teriak seorang ibu setelah menampar anaknya.
"Sabu ingin menonton kartun ma, Sabu sudah bosan setiap hari sehabis
sekolah mengerjakan semua pekerjaan dirumah. Sabu tidak sempat belajar
juga, apalagi kalau Sabu melihat mama sedang nonton TV dan tertawa, Sabu
juga ingin, ma." Jawab Sabu sambil menangis.
"Heh?! Ngejawab lagi! Ngerjain pekerjaan rumah tuh gak seberapa daripada
waktu aku mau melahirkan kamu ya! RASANYA HAMPIR MATI! Aku sama bapakmu
yang kurang ajar itu menamai kamu Sabu karena kami pikir kamu akan membuat
kami bahagia seperti sabu-sabu yang waktu itu suka kami konsumsi, sekarang?
KAMU CUMA BIKIN SUSAH!" Omel mamanya dengan nada tinggi sambil pergi
meninggalkan Sabu yang sedang menangis, sendirian.
***
17 tahun kemudian...
"Damn, man! Why do you work in here? I mean, you're so good looking to be a
cleaning service." Merupakan ucapan yang terlontar ketika Augray mendapati
salah satu cleaning servicenya di dalam kantornya, sedang membersihkan
lantai, sofa, dan meja. Percakapan monolog Augray terdengar cukup kuat di
ruang kantornya tersebut.
"Excuse me, sir. I am not good looking as you are. Thank you for letting me
have this job, it means a lot to me." Jawab sang cleaning service kepada
Augray.
Kontan Augray pun ternganga kemudian berkata, "Are you really my cleaning
service person? Your English is good. Pretty good. Your pronunciation and
the way you talking to me, the tone."
"I am. I learned it from movies I watched and from music I always hear. Saya
sekolah hanya sampai SMA kelas 2, pak. Saya belajar hanya sekedarnya, tapi
Alhamdulillah nilai saya tak pernah gagal. Termasuk bahasa asing." Jawab
sang cleaning service.
Augray pun mengangguk sambil keheranan. "Ok, nama kamu siapa? Memangnya gak ada
pekerjaan lain yang kamu bisa ambil di kantor ini?"
"Saya Sabu, pak. Zassabu Fattir. Saya tidak mengambil pekerjaan lain karena
saya tidak lulus SMA, tidak ada yang mau menerima saya jika saya melamar
pekerjaan yang lebih tinggi lagi dari pekerjaan ini pak, paling saya bisa
jadi office boy dan cleaning service, pak." Jawab Sabu.
Augray pun tersenyum, "Hey, I like you. Let's hangout sometime and talk
about things. Kalau sekarang kita kerjakan dulu pekerjaan masing-masing ya.
Bagaimana kalau sehabis Maghrib, saya dan kamu off, lalu kita pergi makan
malam bareng? Like a close friend?"
"Maaf, pak. Tapi nanti yang lain..." Jawab Sabu yang langsung di potong
Augray dengan, "Alah, sudah jangan dengarkan yang lain. My office, I decide.
"
Sabu hanya terdiam menandakan setuju, dan Augray terus tersenyum kagum
melihat Sabu yang pintar. Ya, Augray sangat senang sekali melihat
orang-orang yang pintar. Semasa sekolah dan kuliahnya dulu, teman-temannya
semua pintar. Pintar dalam pelajaran maupun pergaulan, maksudnya pintar
menjadi seperti sosok malaikat padahal dirinya sendiri... ya hanya Tuhan
yang bisa menilai.
Augray selalu saja pergi ke club-club malam, minum minuman beralkohol.
Sholat? Augray lupa akan hal itu. Ada satu hal yang di rahasiakan Augray
dari orang tuanya, Augray adalah seorang DJ, dengan nama panggung Kogreya.
Sebenarnya untuk sukses dengan meneruskan usaha ayahnya, ini adalah pilihan
orang tuanya. Sedangkan Augray? Dia bercita-cita ingin menjadi seseorang
yang bisa menghibur orang lain, termasuk nge-DJ.
Lain halnya dengan Sabu, dia memiliki banyak pilihan dalam hidupnya, dana?
Dia tak punya. Ingin sekali dia membuka usaha sehingga dia dapat
melanjutkan sekolahnya, tapi dana? Hanya cukup untuk keperluan sehari-hari.
Orang tuanya? Meninggalkannya semenjak dia mulai memasuki masa SMA.
Sebelumnya ane minta izin naro titipan temen buat om mod dan om min sekalian, juga buat temen temen kaskuser di sini.
THIS IS SO GRAY

Angginanggi
Fiksi remaja
*Maaf kalo berantakan, next bakal ane rapihin deh
Spoiler for INDEKS:
Diubah oleh akelhaha 08-12-2014 18:19
anasabila memberi reputasi
1
7.6K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akelhaha
#39
Spoiler for PART XIII:
REN AND DIARY
3 tahun yang lalu...
Terlihat seorang lelaki campuran Indonesia-Jepang sedang sibuk di atas meja belajarnya, menulis sesuatu. Buku itu, buku sampul coklat buatannya, dihiasi dengan kata-kata puitis pada sampul depannya.
Ren. Dia sedang asik sekali menulis, menulis tentang seorang gadis yang selama ini telah dia tunggu untuk datang, gadis yang menurutnya tidak pantas untuk di lewatkan. Gadis yang sudah seharusnya dia catat dalam sejarah hidupnya. Giesta.
Pada halaman pertama buku tersebut, terlihat Ren menempel foto Giesta yang dia ambil dari kejauhan. Giesta tampak sedang tersenyum ke arah luar, cantik. Lalu Ren mulai menulis.
Dimulai dari sini, Giesta Syabella. Selamat datang di duniaku.
Foto ini aku ambil di hari pertama aku melihat kamu. Kamu tidak tahu kan? Aku duduk tepat dua meja bersebrangan dari arah depan kamu. Melihat kamu dan Shaulia datang, menghela nafas, kemudian duduk dan melihat ke arah luar jendela. Cantik, itu yang pertama aku lihat.
Aku sudah menyukaimu semenjak kamu menginjak kakimu di kafe tersebut, lalu segera aku mengambil foto dirimu. Benar cantik.
Aku tidak langsung mengajak kamu berkenalan, aku hanya memperhatikan kamu terlebih dahulu untuk beberapa saat, anggun. Kamu hanya berbicara, tersenyum simpul. Kamu tidak terlihat seperti wanita lainnya, kamu terlihat berbeda. Buatku. Lalu aku datangi kamu setelah puas melihatmu. Aku senang ketika kamu mulai bercerta, banyak. Aku senang bisa berkenalan denganmu. Semakin senang lagi ketika kamu bersedia untuk tinggal di rumahku. Giesta...
Ren berencana untuk menulis mengenai Giesta setiap minggunya. Hingga saat Giesta pergi untuk kembali ke Indonesia. Moments yang harus aku abadikan, pikirnya.
***
Satu minggu kemudian...
Ren terlihat sibuk mencari sebuah foto yang sudah dia persiapkan. Foto Giesta. Giesta tampak sedang menghadap ke jendela dan melihat ke arah luar, tersenyum. Kemudian Ren mulai menempelkan foto Giesta tersebut ke jurnalnya, dan dia pun mulai menulis.
Hari ini awal minggu kedua kamu di Jepang, di rumahku. Kamu tahu? Kamu hadir disini, lebih indah dari pada bunga-bunga yang ibuku rawat. Kamu adalah wanita yang ku kenal seperti sudah lama, wanita yang setiap paginya selalu tersenyum. Kamu adalah wanita yang selalu menatap kosong ke arah jendela setiap paginya, seperti sedang memikirkan sesuatu, kemudian tersenyum. Kamu ingat ketika aku menyapamu minggu yang lalu, hari kelima kamu dirumahku? Saat itu kamu juga seperti sekarang ini, seperti saat aku mengambil fotomu pagi ini. Hari itu aku datang menghampiri kamu, aku bertanya kenapa kamu setiap pagi selalu melihat kosong ke arah jendela, lalu tersenyum. Kamu menjawab, "Kamu lihat? Matahari masih menari, orang-orang masih berjalan. Kamu lihat? Angin masih berhembus damai, terang masih panjang." Kemudian kamu tersenyum. "Aku bukan menatap kosong, aku melihat luas. Ke sekitar. Merasakan, bukan hanya melihat. Jadi aku bisa lebih bersyukur, bersyukur buat hidup aku yang sekarang ini dan selanjutnya." Lanjutmu setelah tersenyum, lalu memandang ke arahku. Kamu tahu? Kamu membuat aku lebih menyukaimu, mulai pagi itu. Kemudian aku mulai diam-diam mengambil fotomu pagi ini, dari balik lemari yang bersebrangan dengan jendela. Cantik.
***
Minggu ketiga...
Kamu bisa lihat foto yang ku tempel pada lembar ketiga jurnalku ini, Giesta? Kamu di kelilingi bunga-bunga yang sudah lama ibuku rawat. Ya, ini saat kamu membantu ibuku berkebun. Kamu sangat cocok disana. Kamu terlihat seperti bunga baru di taman tersebut. Kamu masih ingat apa yang kamu katakan kepada bunga-bunga tersebut setiap kali kamu singgah untuk menyirami dan memotong daun yang kering? Kamu berkata, "Bunga yang cantik, kamu jangan layu. Jangan karena ada daun yang kering, atau temanmu yang layu, kamu lantas bersedih. Tumbuh yang indah ya, tetaplah menjadi penyemangat ibu Katou. Dia satu-satunya wanita di rumah ini, jadilah temannya di saat aku dan Shaulia sudah kembali ke Indonesia nanti." Itu katamu. Meskipun tampak klise, tapi perkataanmu itu membuatku tersenyum. Kamu baik. Kamu pasti tidak sadar kenapa aku bs tahu kamu berkata seperti itu kepada bunga-bunga yang kamu siram. Ketika kamu terlalu fokus bermain dengan mereka, aku terlalu fokus mengikutimu, dan diam-diam aku ambil foto kamu dengan bunga-bunga yang indah ini. Cantik.
***
Minggu ke empat...
Sudah hampir sebulan kamu disini, tidak terasa. Waktu terasa cepat begitu kamu tinggal di rumahku. Terkadang ingin rasanya aku memaksa kamu buat tinggal disini selamanya. Ah, tapi aku tidak ada hak. Apakah kamu sadar kalau aku diam-diam suka memperhatikanmu? Mungkin tidak. Aku terlalu takut, pengecut. Melihatmu hanya dari kejauhan. Seperti saat aku mengambil fotomu hari ini, menggunakan daster ibuku. Hahaha, terlihat lucu karena sizenya yang besar. Rambutmu yang kamu ikat ke atas, dan matamu yang terlihat mengantuk. Ya, aku mengambil foto ini sebelum kamu beranjak tidur, pada saat di dapur. Kamu mengambil segelas air dan meminumnya, disaat itu juga aku mengambil fotomu. Kamu ini makhluk apa? Ketika minum saja terlihat sempurna. Aku berada di balik jendela kamarku yang berdekatan dengan dapur dan diam-diam mengambil fotomu. Cantik.
***
Ren terus menulis jurnalnya tentang Giesta setiap minggu. Dia juga terus mengambil foto Giesta diam-diam setiap minggunya untuk di tempel ke dalam tiap lembar jurnal mingguannya mengenai Giesta. Ren sangat tergila-gila dengan Giesta. Dia bukan hanya mirip dengan ibunya, akan tetapi dia juga mirip seperti keinginanku, wanita idamanku. Pikirnya.
Tanpa terasa, sudah minggu terakhir Giesta tinggal di rumah Ren. Minggu ini pun menjadi minggu terakhir bagi Ren dalam jurnalnya tentang Giesta. Minggu ke 48. Giesta, aku sangat menyayangi kamu. Jurnal ini, membuatku makin mengenal kamu, semakin ingin mengenal kamu. menyayangi kamu. Pikirnya. Kemudian dia pun mulai menempel foto Giesta yang dia ambil hari ini, dan mulai menulis jurnal untuk minggu ke 48-nya bersama Giesta.
Hari ini, hari terakhir kamu di rumahku. Pagi ini pun kamu dan Shaulia pamit untuk kembali ke Indonesia. Aku sedih Giesta, tapi aku harus bisa menahan rasa sedihku. Aku ingin menjadi seseorang yang sukses dan membahagiakan kamu, Kamu tunggu ya, Giesta. Oh ya, kamu ingat foto yang aku tempel pada halaman ini? Foto itu aku ambil pada saat kamu pamit tadi, kamu tersenyum sambil menyalam tangan ibuku. Kamu terlihat sangat senang karena ingin kembali ke Indonesia. Oh ya, kamu lihat juga kan foto kamu yang masih ada di halaman ini juga, di samping foto kamu bersalaman dengan ibuku? Foto kamu melambaikan tangan, melihat ke arah belakang, tersenyum. Pertama kalinya aku panggil namamu untuk di foto, kemudian yang kamu berikan lambaian dan senyuman. Kamu pun berkata, "See you, Ren. Gonna miss you, thank you for everything." Tersenyum. Cantik. Pergi. Oh iya, kamu buka ya halaman selanjutnya. Halaman yang aku sudah persiapkan untuk kamu, kita.
Kemudian Ren mulai membalik halaman jurnalnya, dan kembali menulis. Halaman 49...
Giesta, bukan aku menyukaimu karena kamu cantik. Bukan aku menyukaimu karena fisikmu. Banyak wanita cantik diluar sana, banyak. Aku tidak tahu mengapa aku suka sama kamu. Pertama kali melihat kamu, aku seperti melihat ibuku sendiri. Lalu aku mulai memperhatikan, aku tidak sanggup dengan hanya memperhatikan, aku mendatangi meja kamu dan Shaulia. Setelah kenal lama denganmu, aku baru sadar kalau aku semakin menyukaimu. Aku tidak tahu dengan alasan apa. Tingkah bodohmu, perkataanmu, semua yang kamu perbuat, semua membuat aku jatuh cinta. Aku nggak tahu kenapa bisa ada perasaan ini. Aku memperhatikan kamu sejak lama secara diam-diam. Aku sayang kamu, Giesta. Aku cinta kamu. Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, jadi aku membuat jurnal ini. Jurnal ini mewakili bagaimana perasaan aku terhadap kamu setiap harinya. Maaf kalau aku terlalu pengecut. Aku, cinta kamu. Giesta. Kamu, buka halaman terakhir jurnal ini ya. I hope you like it, you want it, and accept it.
***
Sehari sebelum berangkat ke Indonesia... 3 tahun kemudian.
Ren mendatangi meja belajarnya, membuka laci mejanya. Mencari buku dan sesuatu yang lain. Tersenyum. Kemudian dia menemukan buku yang dia cari, jurnalnya. Ren pun mulai membuka dan membalik halaman jurnalnya. Halaman 50. Kemudian Ren mengeluarkan sebuah cincin yang dibelinya diam-diam dengan uang tabungannya, yang selama ini dia simpan di dalam laci meja belajarnya. Ya, cincin tersebut untuk Giesta. Kemudian dia menempelkan cincin tersebut pada halaman ke-50 tersebut.
Cincin ini, sudah lama aku persiapkan. Buku ini, sudah lama aku simpan untuk aku tunjukkan ke kamu. Aku sangat sayang kamu, cinta kamu hingga hari ini. Kamu, mau menerima aku?
Aku cinta kamu, will you be mine?
Aku cinta kamu, maukah kamu menikah denganku? Jika ya, tolong kenakan cincin ini pada saat kamu mengantarku kembali ke Jepang. Aku sangat menyayangi kamu, more than you know, more than you think.
3 tahun yang lalu...
Terlihat seorang lelaki campuran Indonesia-Jepang sedang sibuk di atas meja belajarnya, menulis sesuatu. Buku itu, buku sampul coklat buatannya, dihiasi dengan kata-kata puitis pada sampul depannya.
Ren. Dia sedang asik sekali menulis, menulis tentang seorang gadis yang selama ini telah dia tunggu untuk datang, gadis yang menurutnya tidak pantas untuk di lewatkan. Gadis yang sudah seharusnya dia catat dalam sejarah hidupnya. Giesta.
Pada halaman pertama buku tersebut, terlihat Ren menempel foto Giesta yang dia ambil dari kejauhan. Giesta tampak sedang tersenyum ke arah luar, cantik. Lalu Ren mulai menulis.
Dimulai dari sini, Giesta Syabella. Selamat datang di duniaku.
Foto ini aku ambil di hari pertama aku melihat kamu. Kamu tidak tahu kan? Aku duduk tepat dua meja bersebrangan dari arah depan kamu. Melihat kamu dan Shaulia datang, menghela nafas, kemudian duduk dan melihat ke arah luar jendela. Cantik, itu yang pertama aku lihat.
Aku sudah menyukaimu semenjak kamu menginjak kakimu di kafe tersebut, lalu segera aku mengambil foto dirimu. Benar cantik.
Aku tidak langsung mengajak kamu berkenalan, aku hanya memperhatikan kamu terlebih dahulu untuk beberapa saat, anggun. Kamu hanya berbicara, tersenyum simpul. Kamu tidak terlihat seperti wanita lainnya, kamu terlihat berbeda. Buatku. Lalu aku datangi kamu setelah puas melihatmu. Aku senang ketika kamu mulai bercerta, banyak. Aku senang bisa berkenalan denganmu. Semakin senang lagi ketika kamu bersedia untuk tinggal di rumahku. Giesta...
Ren berencana untuk menulis mengenai Giesta setiap minggunya. Hingga saat Giesta pergi untuk kembali ke Indonesia. Moments yang harus aku abadikan, pikirnya.
***
Satu minggu kemudian...
Ren terlihat sibuk mencari sebuah foto yang sudah dia persiapkan. Foto Giesta. Giesta tampak sedang menghadap ke jendela dan melihat ke arah luar, tersenyum. Kemudian Ren mulai menempelkan foto Giesta tersebut ke jurnalnya, dan dia pun mulai menulis.
Hari ini awal minggu kedua kamu di Jepang, di rumahku. Kamu tahu? Kamu hadir disini, lebih indah dari pada bunga-bunga yang ibuku rawat. Kamu adalah wanita yang ku kenal seperti sudah lama, wanita yang setiap paginya selalu tersenyum. Kamu adalah wanita yang selalu menatap kosong ke arah jendela setiap paginya, seperti sedang memikirkan sesuatu, kemudian tersenyum. Kamu ingat ketika aku menyapamu minggu yang lalu, hari kelima kamu dirumahku? Saat itu kamu juga seperti sekarang ini, seperti saat aku mengambil fotomu pagi ini. Hari itu aku datang menghampiri kamu, aku bertanya kenapa kamu setiap pagi selalu melihat kosong ke arah jendela, lalu tersenyum. Kamu menjawab, "Kamu lihat? Matahari masih menari, orang-orang masih berjalan. Kamu lihat? Angin masih berhembus damai, terang masih panjang." Kemudian kamu tersenyum. "Aku bukan menatap kosong, aku melihat luas. Ke sekitar. Merasakan, bukan hanya melihat. Jadi aku bisa lebih bersyukur, bersyukur buat hidup aku yang sekarang ini dan selanjutnya." Lanjutmu setelah tersenyum, lalu memandang ke arahku. Kamu tahu? Kamu membuat aku lebih menyukaimu, mulai pagi itu. Kemudian aku mulai diam-diam mengambil fotomu pagi ini, dari balik lemari yang bersebrangan dengan jendela. Cantik.
***
Minggu ketiga...
Kamu bisa lihat foto yang ku tempel pada lembar ketiga jurnalku ini, Giesta? Kamu di kelilingi bunga-bunga yang sudah lama ibuku rawat. Ya, ini saat kamu membantu ibuku berkebun. Kamu sangat cocok disana. Kamu terlihat seperti bunga baru di taman tersebut. Kamu masih ingat apa yang kamu katakan kepada bunga-bunga tersebut setiap kali kamu singgah untuk menyirami dan memotong daun yang kering? Kamu berkata, "Bunga yang cantik, kamu jangan layu. Jangan karena ada daun yang kering, atau temanmu yang layu, kamu lantas bersedih. Tumbuh yang indah ya, tetaplah menjadi penyemangat ibu Katou. Dia satu-satunya wanita di rumah ini, jadilah temannya di saat aku dan Shaulia sudah kembali ke Indonesia nanti." Itu katamu. Meskipun tampak klise, tapi perkataanmu itu membuatku tersenyum. Kamu baik. Kamu pasti tidak sadar kenapa aku bs tahu kamu berkata seperti itu kepada bunga-bunga yang kamu siram. Ketika kamu terlalu fokus bermain dengan mereka, aku terlalu fokus mengikutimu, dan diam-diam aku ambil foto kamu dengan bunga-bunga yang indah ini. Cantik.
***
Minggu ke empat...
Sudah hampir sebulan kamu disini, tidak terasa. Waktu terasa cepat begitu kamu tinggal di rumahku. Terkadang ingin rasanya aku memaksa kamu buat tinggal disini selamanya. Ah, tapi aku tidak ada hak. Apakah kamu sadar kalau aku diam-diam suka memperhatikanmu? Mungkin tidak. Aku terlalu takut, pengecut. Melihatmu hanya dari kejauhan. Seperti saat aku mengambil fotomu hari ini, menggunakan daster ibuku. Hahaha, terlihat lucu karena sizenya yang besar. Rambutmu yang kamu ikat ke atas, dan matamu yang terlihat mengantuk. Ya, aku mengambil foto ini sebelum kamu beranjak tidur, pada saat di dapur. Kamu mengambil segelas air dan meminumnya, disaat itu juga aku mengambil fotomu. Kamu ini makhluk apa? Ketika minum saja terlihat sempurna. Aku berada di balik jendela kamarku yang berdekatan dengan dapur dan diam-diam mengambil fotomu. Cantik.
***
Ren terus menulis jurnalnya tentang Giesta setiap minggu. Dia juga terus mengambil foto Giesta diam-diam setiap minggunya untuk di tempel ke dalam tiap lembar jurnal mingguannya mengenai Giesta. Ren sangat tergila-gila dengan Giesta. Dia bukan hanya mirip dengan ibunya, akan tetapi dia juga mirip seperti keinginanku, wanita idamanku. Pikirnya.
Tanpa terasa, sudah minggu terakhir Giesta tinggal di rumah Ren. Minggu ini pun menjadi minggu terakhir bagi Ren dalam jurnalnya tentang Giesta. Minggu ke 48. Giesta, aku sangat menyayangi kamu. Jurnal ini, membuatku makin mengenal kamu, semakin ingin mengenal kamu. menyayangi kamu. Pikirnya. Kemudian dia pun mulai menempel foto Giesta yang dia ambil hari ini, dan mulai menulis jurnal untuk minggu ke 48-nya bersama Giesta.
Hari ini, hari terakhir kamu di rumahku. Pagi ini pun kamu dan Shaulia pamit untuk kembali ke Indonesia. Aku sedih Giesta, tapi aku harus bisa menahan rasa sedihku. Aku ingin menjadi seseorang yang sukses dan membahagiakan kamu, Kamu tunggu ya, Giesta. Oh ya, kamu ingat foto yang aku tempel pada halaman ini? Foto itu aku ambil pada saat kamu pamit tadi, kamu tersenyum sambil menyalam tangan ibuku. Kamu terlihat sangat senang karena ingin kembali ke Indonesia. Oh ya, kamu lihat juga kan foto kamu yang masih ada di halaman ini juga, di samping foto kamu bersalaman dengan ibuku? Foto kamu melambaikan tangan, melihat ke arah belakang, tersenyum. Pertama kalinya aku panggil namamu untuk di foto, kemudian yang kamu berikan lambaian dan senyuman. Kamu pun berkata, "See you, Ren. Gonna miss you, thank you for everything." Tersenyum. Cantik. Pergi. Oh iya, kamu buka ya halaman selanjutnya. Halaman yang aku sudah persiapkan untuk kamu, kita.
Kemudian Ren mulai membalik halaman jurnalnya, dan kembali menulis. Halaman 49...
Giesta, bukan aku menyukaimu karena kamu cantik. Bukan aku menyukaimu karena fisikmu. Banyak wanita cantik diluar sana, banyak. Aku tidak tahu mengapa aku suka sama kamu. Pertama kali melihat kamu, aku seperti melihat ibuku sendiri. Lalu aku mulai memperhatikan, aku tidak sanggup dengan hanya memperhatikan, aku mendatangi meja kamu dan Shaulia. Setelah kenal lama denganmu, aku baru sadar kalau aku semakin menyukaimu. Aku tidak tahu dengan alasan apa. Tingkah bodohmu, perkataanmu, semua yang kamu perbuat, semua membuat aku jatuh cinta. Aku nggak tahu kenapa bisa ada perasaan ini. Aku memperhatikan kamu sejak lama secara diam-diam. Aku sayang kamu, Giesta. Aku cinta kamu. Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, jadi aku membuat jurnal ini. Jurnal ini mewakili bagaimana perasaan aku terhadap kamu setiap harinya. Maaf kalau aku terlalu pengecut. Aku, cinta kamu. Giesta. Kamu, buka halaman terakhir jurnal ini ya. I hope you like it, you want it, and accept it.
***
Sehari sebelum berangkat ke Indonesia... 3 tahun kemudian.
Ren mendatangi meja belajarnya, membuka laci mejanya. Mencari buku dan sesuatu yang lain. Tersenyum. Kemudian dia menemukan buku yang dia cari, jurnalnya. Ren pun mulai membuka dan membalik halaman jurnalnya. Halaman 50. Kemudian Ren mengeluarkan sebuah cincin yang dibelinya diam-diam dengan uang tabungannya, yang selama ini dia simpan di dalam laci meja belajarnya. Ya, cincin tersebut untuk Giesta. Kemudian dia menempelkan cincin tersebut pada halaman ke-50 tersebut.
Cincin ini, sudah lama aku persiapkan. Buku ini, sudah lama aku simpan untuk aku tunjukkan ke kamu. Aku sangat sayang kamu, cinta kamu hingga hari ini. Kamu, mau menerima aku?
Aku cinta kamu, will you be mine?
Aku cinta kamu, maukah kamu menikah denganku? Jika ya, tolong kenakan cincin ini pada saat kamu mengantarku kembali ke Jepang. Aku sangat menyayangi kamu, more than you know, more than you think.
0
Kutip
Balas