- Beranda
- Stories from the Heart
Hingga Akhir Senja (created by 4 IGO unyu :D)
...
TS
chesarani
Hingga Akhir Senja (created by 4 IGO unyu :D)
Permisi Agan, belakangan ini ane sering banget baca cerita -cerita di SFTH dan bikin nagih banget, selama ini ane cuma jadi silent reader gan.. 
Pada kesempatan kali ini ijinkan ane mencoba tuangin isi hati ane gan.. sebenernya ini cerita berasal dari 4 hati dan 4 jiwa yang disatukan . 4 cewe unyu yang terpikir buat bikin sebuah project cerita fiksi lengkap dengan ilustrasi dan juga soundtracknya ...

mudah-mudahan agan suka sama cerita ane dan temen-temen ane. tapi maaf kalo berantakan ya gan..
jika berkenan bisa bagi
hehe.

Pada kesempatan kali ini ijinkan ane mencoba tuangin isi hati ane gan.. sebenernya ini cerita berasal dari 4 hati dan 4 jiwa yang disatukan . 4 cewe unyu yang terpikir buat bikin sebuah project cerita fiksi lengkap dengan ilustrasi dan juga soundtracknya ...


mudah-mudahan agan suka sama cerita ane dan temen-temen ane. tapi maaf kalo berantakan ya gan..
jika berkenan bisa bagi
hehe.okelah langsung aja cek di mari.. Happy Reading

Spoiler for judul:
Concept by @Melan_RJ
Narrated by @windiirn
Illustrated by @pauLSyifa
Composed by @chesaraniKEmala
Narrated by @windiirn
Illustrated by @pauLSyifa
Composed by @chesaraniKEmala
Spoiler for Index satu:
Spoiler for Index Dua:
Part 1 - Heartbroken
September 2008
Aku masih duduk di sofa kamar. Tanganku masih menggenggam handphone dengan erat. Gemetar. Aku bisa merasakan bagaimana getaran tanganku kini sudah menjalar ke seluruh tubuh. Aku sandarkan punggungku, kemudian aku beranikan diri membaca lagi pesan yang kuterima tiga menit lalu.
From : Yan
Hubungan kita sudah tidak bisa diteruskan lagi.
Aku sibuk, dan kamu sibuk.
Kalau terus seperti ini, kita hanya akan saling menyakiti.
Lebih baik kita jalan masing-masing
Terimakasih telah bersamaku, mencintai dan menyayangiku selama ini.
Terimakasih untuk satu tahun yang indah.
Bahagiamu bukan padaku.
Pesan panjang itu jelas tapi tidak jelas. Yan meminta unutuk mengakhiri hubungan denganku. Yan adalah orang pertama yang berhasil membuat jantungku bedetak lebih cepat saat aku melihatnya, dia juga yang membuatku selalu merasa bahagia saat aku bertemu dengannya. Aku bertemu dengannya saat aku dan dia sama-sama kelas sepuluh. Dari yang semula hanya berteman biasa, aku dan Yan lebih banyak bertengkar itu karena Yan selalu berusaha mencari hal sekecil apapun untuk menarik perhartianku. Menurutnya melihat aku marah dan kesal karena ulahnya adalah suatu istimewa baginya. Begitulah Yan dengan segala karakternya dan aku menyukainya. Sampai akhirnya Yan memintaku menjadi kekasihnya dan akupun menerima. Yan selalu baik padaku, selalu berusaha membuat aku tersenyum tidak sekalipun Yan membuat aku kecewa.
Aku tidak habis fikir kenapa dia berubah begitu cepat dan mengambil keputusan besar ini sendirian, tanpa melibatkan aku. Dia dengan mudah saja mengakhiri semuanya tanpa peduli perasaanku, tanpa peduli bagaimana sakitnya aku.
Kenangan bersamanya selama satu tahun kembali terputar di otakku. Bagaimana awal kami bertemu, bertukar cerita, hingga sampai akhirnya dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Dia pernah bilang “Kita memang masih muda, tapi apa tidak boleh kita berkomitmen? Aku mencintaimu dan kamu juga mencintaiku. Aku dan kamu akan selalu bersama, selamanya.” Komitmen ? mengerti apa dia tentang komitmen ? umurnya baru 16 saat itu. Tapi dengan lugunya aku percaya akan komitmen bodoh itu.
Aku baru paham sekarang, dulu itu tidak lebih hanya sekedar omong kosong seorang remaja laki-laki yang belum mengerti tentang cinta, terlebih tentang komitmen. Tapi inilah aku dengan segala yang aku punya. Hati. Aku mencintai dan menyayangi Yan, Yan pun begitu. Aku percaya pada Yan, Yan pun begitu. Aku bahagia bersama Yan, Yan pun begitu. Setidaknya itu yang aku tahu sebelum menerima pesan menyakitkan dari Yan beberapa menit lalu. Aku membacanya sekali lagi, kini aku merasakan mataku panas dan pandanganku mulai mengabur. Air mata yang sedari tadi aku tahan kini tak terbendung lagi, mengalir deras. Aku menekuk lutut, memeluknya, membenamkan kepalaku dan menagis sejadinya. Hatiku sakit. Yaaan… aku butuh kejelasan… apa ini karena dia ?
nanti ane update lagi gan,

Jangan lupa komennya ya gan ...
Diubah oleh chesarani 03-07-2014 22:53
anasabila memberi reputasi
1
7.4K
85
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
chesarani
#43
Part 13 - :')
Aku masih mematut diriku di kaca, memilih pakaian yang akan aku kenakan untuk makan malam bersama Yudha nanti. Setelah menimbang cukup lama, akhirnya pilihanku jatuh pada dress bunga-bunga selutut yang aku padukan dengan cardigan tanggung berwarna merah maroon. Kubiarkan rambutku tergerai dan untuk menambah kesan lucu aku menyematkan jepit rambut kecil di sebelah kanan. Baiklah, aku siap untuk bertemu dengan Yudha dan semoga malam ini bahagia berpihak padaku.
Aku tiba di Chocoresto pukul 7.10. “Terlambat 10 menit.” Aku membatin. Aku memasuki Chocoresto dan mulai mencari-cari Yudha. Mataku tertuju pada sesosok laki-laki yang duduk di spot sebelah kanan.
“Hai, Yud.” Sapaku. Yudha membalas sapaanku. “Sorry yaa telat.”
“Iya ngga apa-apa kok, aku juga belum lama.” Ucap Yudha. Dia terlihat begitu ceria malam ini. “Makanannya udah aku pesenin tadi, malam ini aku yang traktir.” Lanjutnya. Aku mengangguk-angguk patuh.
Sambil menunggu pesanan datang aku dan Yudha bercerita kesana kemari. Sebenarnya Yudha lah yang lebih banyak bercerita tentang risetnya di Yogya. Yudha sudah berbicara banyak tapi tidak ada pembicaraan yang menunjukkan kalau Yudha ingin menyatakan perasaannya padaku. Mungkin nanti, pikirku. Aku menunggu. Tidak lama kemudian bukan seorang waiter atau waitress yang datang mengantarkan pesanan kami melainkan seorang gadis cantik berambut lurus sebahu berjalan menuju meja kami dan duduk di samping Yudha. Aku terdiam heran. Siapa dia? Kenapa dia ada disini? Ada hubungan apa antara dia dan Yudha? Surprise apa yang ingin Yudha beri untukku? Beberapa pertanyaan bertubi-tubi datang dipikiranku.
“Nah ini dia akhirnya dateng juga, kok lama banget sih?” tanya Yudha pada gadis itu.
“Sorry, sorry tadi toiletnya penuh.” Jawab gadis itu.
“Ah ya. Kirana ini Acha, Acha ini Kirana yang sering aku ceritain ke kamu.” Yudha memperkenalkan aku pada gadis yang bernama Acha itu. Aku dan Acha bersalaman dengan saling menyebutkan nama masing-masing. Senyum Acha sangat manis dan itu membuat parasnya menjadi semakin cantik.
“Kirana, Acha kuliah di Austarlia, kebetulan lagi liburan jadi dia pulang ke Indonesia. Dulu waktu SMA aku satu sekolah sama dia.” Yudha masih menceritakan siapa itu Acha padaku sedangkan yang diceritakan sibuk senyum malu-malu. “Dan kamu tau, dia ini.. dia ini pacar aku”

“Hah? Pacar?” tanyaku refleks. Aku kaget setengah mati. Jantungku mencelos mendengar kalimat terakhir Yudha. Acha siapa? Pacar Yudha? Mereka pacaran? Yudha dan Acha? Aku berharap telingaku salah mendengar atau memang Yudha yang salah bicara. Aku memandang Yudha dan Acha bergantian. Sangat tidak percaya.
“Iya. Kita baru jadian seminggu yang lalu.” Jawab Yudha tanpa merasa bersalah dan tanpa bisa menangkap perubahan air mukaku. “Kok bengong? Berarti surprise aku berhasil dong. Kamu ngga mau ngucapin selamat sama aku dan Acha nih?”
“Oh.. sorry aku kaget banget.” Aku jujur. “Selamat yaa, longlast okey.” Ucapku tanpa sedikitpun ketulusan disetiap kata yang keluar dari mulutku.
Surprise? Jadi ini surprise yang Yudha maksud. Mengenalkan Acha, mengenalkan status barunya dengan Acha tanpa peduli terhadap perasaanku. Lalu bagaimana dengan aku? Apa arti kebersamaan selama ini? Aku harus apa sekarang?
Hatiku sakit sangat sakit ingin rasanya aku menghilang dari tempat ini sekarang juga. Duniaku mulai abu-abu lagi.
Seorang waitress datang mengantarkan pesanan ke mejaku. Waitress itu menaruh sepiring Breadtoast vanilla cream dan segelas Mocca freeze di hadapanku. Lihat bahkan Yudha sangat tahu seleraku dalam soal makanan, ini bisa diartikan kalau hubungan aku dengan Yudha sudah sedemikian jauh kan? Bukan sekedar pertemanan biasa. Tapi kenapa sekarang dia malah bersama Acha bukan aku? Aku menatap kosong makanan dihadapanku, masih merenungi ketidakpercayaanku atas apa yang baru terjadi beberapa menit lalu.
“Kok bengong, Na? Itu kan makanan kesukaan kamu.” Yudha mengagetkanku dan membuyarkan renunganku. Aku lihat dia sudah menyuap makanannya ke dalam mulut, begitu pun dengan Acha.
“Ah iya, aku makan yaa.” Balasku sekenanya. Yudha mengangguk kemudian tersenyum. “Ah Yudha, stop smilling like that please.” Aku membatin, sakit.
Senyum yang selalu aku suka mendadak menjadi senyum yang paling aku benci. Aku mulai menyuap makanan di hadapanku, mencoba meredam emosi yang bergelung di hatiku. Aku terus mungunyah dan menelan makanan ini tanpa rasa, hambar. Mataku mulai panas dan pandanganku mulai mengabur. Aku menggerutu pada diriku sendiri, kenapa harus menangis sekarang. Baiklah aku sudah tidak kuat untuk tidak terlihat menyedihkan di hadapan Yudha.
“Aku permisi ke toilet sebentar ya.” Ucapku dengan suara yang aku buat setenang mungkin dan tanpa menunggu balasan dari siapapun aku bangkit dari kursiku dan berlalu menuju toilet. Aku ingin sampai disana sesegera yang kubisa. Tetapi air mata itu kemudian jatuh tanpa bisa aku tahan bahkan sebelum aku sampai di tujuanku.
Aku menangis sejadinya di kamar toilet itu, aku tergugu sendirian. Bahuku berguncang hebat. Semua emosi yang sedari tadi aku tahan kini tumpah sepenuhnya. Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa semuanya harus terjadi secepat ini? Aku baru saja membuka hatiku untuk Yudha, tapi kenapa Yudha malah memperlakukanku seperti ini? Datang dan kemudian meninggalkan aku seenak dan sebebas yang dia mau. Membawa aku terbang tapi kemudian menjatuhkanku begitu saja. Ternyata selama ini bukan aku yang ada di hatinya, tetapi Acha.
“Hati aku sakit Yud, sakit bangeeeet. Kamu jahaaaaat.” Rintihku di sela-sela tangisan. Sepuluh menit aku berada di toilet dan menumpahkan segala emosi dan rasa sakitku. Lega? Tidak sama sekali. Aku membasuh wajahku. Cermin itu memantulkan bayangan raut wajahku yang begitu menyedihkan. Apa aku semenyedihkan itu? Air mataku menetes lagi tapi segera aku usapkan lagi air ke wajahku. Mataku sembab.
Tiba-tiba aku dengar handphoneku berdering. Yudha.
“Kenapa dia harus menelepon?” gerutuku. Aku ingin menghindar. Tapi aku bisa apa? Aku menekan tombol hijau, menjawab telepon Yudha.
“Kirana, kamu dimana? Kok lama banget. Kamu ngga kenapa-kenapa kan?” tanya Yudha dari seberang.
“Aku ngga kenapa-kenapa kok, bentar lagi aku kesitu.” Jawabku kemudian aku memutus panggilan tanpa menunggu jawaban dari Yudha. Aku melihat lagi wajahku di cermin. Aku berlatih untuk memasang senyum di wajahku, aku ingin terlihat kalau ‘aku baik-baik saja’ atau setidaknya aku ingin terlihat biasa di depan Yudha. Setelah kurasa semuanya memang baik-baik saja aku bergegas meninggalkan toilet dan kembali ke meja makan.
“Sorry ya lama.” Ucapku saat kembali duduk di kursi di hadapan Yudha dan Acha. Sebenarnya bisa saja aku pulang saat aku selesai dari toilet tadi, tapi aku tidak enak pada Yudha dan aku tidak ingin Yudha curiga aku tidak baik-baik saja karena menghilang tanpa kabar. Mereka berdua tersenyum maklum. Tapi Yudha masih menatap ke arahku, heran.
“Kok mata kamu merah sembab gitu, kenapa?” tanya Yudha membuat Acha juga melihat kearahku.
“Ngga apa-apa kok, ini tadi ngga sengaja kelilipan terus aku kucek jadinya gini deh.” Aku beralasan, alasan yang aneh. Yudha mengangguk-angguk, tatapannya berubah dari yang semula menatap khawatir sekarang berubah menjadi tatapan iba.
“Yud, liat deh ini foto kita waktu masih SMA, kamu culun banget sih haha.” Acha menunjukkan beberapa foto dirinya dan Yudha yang ada di handphone miliknya. Mereka berdua asyik tertawa berdua.
“Oh iya, sebelum liburan aku abis kita ke Pulau Tidung yuk.. kan waktu itu kamu bilang kalau disana view nya indah banget.”
“Oke deh, nanti aku atur waktunya ya .... “ Yudha melirikku sekilas tapi aku memalingkan pandangan ke piring yang ada di hadapanku.
Pulau Tidung? Di pulau itu aku mulai merasakan benih-benih cinta pada Yudha mulai tumbuh dan bersemi di hatiku. Dan nanti Yudha bersama Acha akan pergi ke sana juga, ah sial sebenarnya seperti apa aku di mata Yudha? Aku ini siapa bagi Yudha?
Aku semakin tidak jelas mendengar pembicaraan Yudha dan Acha. Aku harus pergi dari sini sekarang juga. Aku tidak kuat, hatiku semakin sesak dan mataku mulai panas lagi.
“Yudha, aku baru inget kalau aku ada janji sama mama. Jadi aku harus pulang sekarang.”
“Loh kok pulang sih, Na. Kan makannya belum selesai?”
“Sorry.. banget, tapi aku harus pulang sekarang.” Aku berdiri dan berlalu dari hadapan Yudha dan Acha tanpa sempat Yudha menahanku. Aku bisa mendengar Yudha memanggil namaku, tapi aku tetap berlalu meninggalkan mereka. Aku sibuk menyeka air mataku, aku tidak sanggup berada disini lebih lama lagi. Hatiku terlalu sakit.

Aku tiba di Chocoresto pukul 7.10. “Terlambat 10 menit.” Aku membatin. Aku memasuki Chocoresto dan mulai mencari-cari Yudha. Mataku tertuju pada sesosok laki-laki yang duduk di spot sebelah kanan.
“Hai, Yud.” Sapaku. Yudha membalas sapaanku. “Sorry yaa telat.”
“Iya ngga apa-apa kok, aku juga belum lama.” Ucap Yudha. Dia terlihat begitu ceria malam ini. “Makanannya udah aku pesenin tadi, malam ini aku yang traktir.” Lanjutnya. Aku mengangguk-angguk patuh.
Sambil menunggu pesanan datang aku dan Yudha bercerita kesana kemari. Sebenarnya Yudha lah yang lebih banyak bercerita tentang risetnya di Yogya. Yudha sudah berbicara banyak tapi tidak ada pembicaraan yang menunjukkan kalau Yudha ingin menyatakan perasaannya padaku. Mungkin nanti, pikirku. Aku menunggu. Tidak lama kemudian bukan seorang waiter atau waitress yang datang mengantarkan pesanan kami melainkan seorang gadis cantik berambut lurus sebahu berjalan menuju meja kami dan duduk di samping Yudha. Aku terdiam heran. Siapa dia? Kenapa dia ada disini? Ada hubungan apa antara dia dan Yudha? Surprise apa yang ingin Yudha beri untukku? Beberapa pertanyaan bertubi-tubi datang dipikiranku.
“Nah ini dia akhirnya dateng juga, kok lama banget sih?” tanya Yudha pada gadis itu.
“Sorry, sorry tadi toiletnya penuh.” Jawab gadis itu.
“Ah ya. Kirana ini Acha, Acha ini Kirana yang sering aku ceritain ke kamu.” Yudha memperkenalkan aku pada gadis yang bernama Acha itu. Aku dan Acha bersalaman dengan saling menyebutkan nama masing-masing. Senyum Acha sangat manis dan itu membuat parasnya menjadi semakin cantik.
“Kirana, Acha kuliah di Austarlia, kebetulan lagi liburan jadi dia pulang ke Indonesia. Dulu waktu SMA aku satu sekolah sama dia.” Yudha masih menceritakan siapa itu Acha padaku sedangkan yang diceritakan sibuk senyum malu-malu. “Dan kamu tau, dia ini.. dia ini pacar aku”

“Hah? Pacar?” tanyaku refleks. Aku kaget setengah mati. Jantungku mencelos mendengar kalimat terakhir Yudha. Acha siapa? Pacar Yudha? Mereka pacaran? Yudha dan Acha? Aku berharap telingaku salah mendengar atau memang Yudha yang salah bicara. Aku memandang Yudha dan Acha bergantian. Sangat tidak percaya.
“Iya. Kita baru jadian seminggu yang lalu.” Jawab Yudha tanpa merasa bersalah dan tanpa bisa menangkap perubahan air mukaku. “Kok bengong? Berarti surprise aku berhasil dong. Kamu ngga mau ngucapin selamat sama aku dan Acha nih?”
“Oh.. sorry aku kaget banget.” Aku jujur. “Selamat yaa, longlast okey.” Ucapku tanpa sedikitpun ketulusan disetiap kata yang keluar dari mulutku.
Spoiler for hwaaaaa:
Surprise? Jadi ini surprise yang Yudha maksud. Mengenalkan Acha, mengenalkan status barunya dengan Acha tanpa peduli terhadap perasaanku. Lalu bagaimana dengan aku? Apa arti kebersamaan selama ini? Aku harus apa sekarang?
Hatiku sakit sangat sakit ingin rasanya aku menghilang dari tempat ini sekarang juga. Duniaku mulai abu-abu lagi.
Seorang waitress datang mengantarkan pesanan ke mejaku. Waitress itu menaruh sepiring Breadtoast vanilla cream dan segelas Mocca freeze di hadapanku. Lihat bahkan Yudha sangat tahu seleraku dalam soal makanan, ini bisa diartikan kalau hubungan aku dengan Yudha sudah sedemikian jauh kan? Bukan sekedar pertemanan biasa. Tapi kenapa sekarang dia malah bersama Acha bukan aku? Aku menatap kosong makanan dihadapanku, masih merenungi ketidakpercayaanku atas apa yang baru terjadi beberapa menit lalu.
“Kok bengong, Na? Itu kan makanan kesukaan kamu.” Yudha mengagetkanku dan membuyarkan renunganku. Aku lihat dia sudah menyuap makanannya ke dalam mulut, begitu pun dengan Acha.
“Ah iya, aku makan yaa.” Balasku sekenanya. Yudha mengangguk kemudian tersenyum. “Ah Yudha, stop smilling like that please.” Aku membatin, sakit.
Senyum yang selalu aku suka mendadak menjadi senyum yang paling aku benci. Aku mulai menyuap makanan di hadapanku, mencoba meredam emosi yang bergelung di hatiku. Aku terus mungunyah dan menelan makanan ini tanpa rasa, hambar. Mataku mulai panas dan pandanganku mulai mengabur. Aku menggerutu pada diriku sendiri, kenapa harus menangis sekarang. Baiklah aku sudah tidak kuat untuk tidak terlihat menyedihkan di hadapan Yudha.
“Aku permisi ke toilet sebentar ya.” Ucapku dengan suara yang aku buat setenang mungkin dan tanpa menunggu balasan dari siapapun aku bangkit dari kursiku dan berlalu menuju toilet. Aku ingin sampai disana sesegera yang kubisa. Tetapi air mata itu kemudian jatuh tanpa bisa aku tahan bahkan sebelum aku sampai di tujuanku.
Spoiler for teganya :
Aku menangis sejadinya di kamar toilet itu, aku tergugu sendirian. Bahuku berguncang hebat. Semua emosi yang sedari tadi aku tahan kini tumpah sepenuhnya. Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa semuanya harus terjadi secepat ini? Aku baru saja membuka hatiku untuk Yudha, tapi kenapa Yudha malah memperlakukanku seperti ini? Datang dan kemudian meninggalkan aku seenak dan sebebas yang dia mau. Membawa aku terbang tapi kemudian menjatuhkanku begitu saja. Ternyata selama ini bukan aku yang ada di hatinya, tetapi Acha.
“Hati aku sakit Yud, sakit bangeeeet. Kamu jahaaaaat.” Rintihku di sela-sela tangisan. Sepuluh menit aku berada di toilet dan menumpahkan segala emosi dan rasa sakitku. Lega? Tidak sama sekali. Aku membasuh wajahku. Cermin itu memantulkan bayangan raut wajahku yang begitu menyedihkan. Apa aku semenyedihkan itu? Air mataku menetes lagi tapi segera aku usapkan lagi air ke wajahku. Mataku sembab.
Tiba-tiba aku dengar handphoneku berdering. Yudha.
“Kenapa dia harus menelepon?” gerutuku. Aku ingin menghindar. Tapi aku bisa apa? Aku menekan tombol hijau, menjawab telepon Yudha.
“Kirana, kamu dimana? Kok lama banget. Kamu ngga kenapa-kenapa kan?” tanya Yudha dari seberang.
“Aku ngga kenapa-kenapa kok, bentar lagi aku kesitu.” Jawabku kemudian aku memutus panggilan tanpa menunggu jawaban dari Yudha. Aku melihat lagi wajahku di cermin. Aku berlatih untuk memasang senyum di wajahku, aku ingin terlihat kalau ‘aku baik-baik saja’ atau setidaknya aku ingin terlihat biasa di depan Yudha. Setelah kurasa semuanya memang baik-baik saja aku bergegas meninggalkan toilet dan kembali ke meja makan.
“Sorry ya lama.” Ucapku saat kembali duduk di kursi di hadapan Yudha dan Acha. Sebenarnya bisa saja aku pulang saat aku selesai dari toilet tadi, tapi aku tidak enak pada Yudha dan aku tidak ingin Yudha curiga aku tidak baik-baik saja karena menghilang tanpa kabar. Mereka berdua tersenyum maklum. Tapi Yudha masih menatap ke arahku, heran.
“Kok mata kamu merah sembab gitu, kenapa?” tanya Yudha membuat Acha juga melihat kearahku.
“Ngga apa-apa kok, ini tadi ngga sengaja kelilipan terus aku kucek jadinya gini deh.” Aku beralasan, alasan yang aneh. Yudha mengangguk-angguk, tatapannya berubah dari yang semula menatap khawatir sekarang berubah menjadi tatapan iba.
“Yud, liat deh ini foto kita waktu masih SMA, kamu culun banget sih haha.” Acha menunjukkan beberapa foto dirinya dan Yudha yang ada di handphone miliknya. Mereka berdua asyik tertawa berdua.
“Oh iya, sebelum liburan aku abis kita ke Pulau Tidung yuk.. kan waktu itu kamu bilang kalau disana view nya indah banget.”
“Oke deh, nanti aku atur waktunya ya .... “ Yudha melirikku sekilas tapi aku memalingkan pandangan ke piring yang ada di hadapanku.
Pulau Tidung? Di pulau itu aku mulai merasakan benih-benih cinta pada Yudha mulai tumbuh dan bersemi di hatiku. Dan nanti Yudha bersama Acha akan pergi ke sana juga, ah sial sebenarnya seperti apa aku di mata Yudha? Aku ini siapa bagi Yudha?
Aku semakin tidak jelas mendengar pembicaraan Yudha dan Acha. Aku harus pergi dari sini sekarang juga. Aku tidak kuat, hatiku semakin sesak dan mataku mulai panas lagi.
“Yudha, aku baru inget kalau aku ada janji sama mama. Jadi aku harus pulang sekarang.”
“Loh kok pulang sih, Na. Kan makannya belum selesai?”
“Sorry.. banget, tapi aku harus pulang sekarang.” Aku berdiri dan berlalu dari hadapan Yudha dan Acha tanpa sempat Yudha menahanku. Aku bisa mendengar Yudha memanggil namaku, tapi aku tetap berlalu meninggalkan mereka. Aku sibuk menyeka air mataku, aku tidak sanggup berada disini lebih lama lagi. Hatiku terlalu sakit.

0