- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
190.8K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#101
DUEL BERDARAH DI RUMAH MAK IJAH
Spoiler for :
Arwan mengernyitkan dahi ketika tukan nasi goreng dihadapannya diam terpaku setelah menerima uang pembayaran.
“Ada apa Mas Parto?”
“Anu, kalau boleh saya mau minta tolong.”
“Kalau begitu, kita masuk dulu.”
Mereka masuk ke ruang tamu dan Parto memulai pembicaraan.
“Begini Pak Arwan, saya sedang dekat dengan seorang gadis.”
“Lalu?”
“Saya bingung kok dia mau sama saya, saya ini kan jelek,miskin dan cuma lulusan SD. Sedangkan dia cantik,pintar,kaya lagi.”
“Gadis itu,anak sini juga?”
Parto menggeleng.
“Pak Arwan kan tahu, saya di sini kost. Tiga bulan lalu mendadak Bu Rahmi, ibu kost kami harus kembali ke Jakarta. Setelah Bu rahmi pergi, dua hari kemudian dia datang,namanya Donna, keponakan Bu Rahmi yang untuk sementara menjadi pengganti yang mengurus administrasi.”
“Kemudian.”
“Karena dia juga suka masak, akhirnya jadi sering ngobrol sama saya.”
“Lalu anehnya dimana?”
“Kami kan baru kenal tiga bulan, tetapi dia minta untuk dipertemukan dengan Ibu saya. Awalnya saya menolak karena hubungan kami baru seumur jagung, tetapi dia bersikeras. Katanya tidak mau main-main,benar-benar mau nikah sama saya, dan ingin kenal keluarga saya. Akhirnya ya saya sanggupi.
Tiga hari yang lalu, Donna saya ajak ke desa ketemu Ibu saya. ke rumah kami yang sempit dan dindingnya cuma terbuat dari anyaman bambu. Di sana dia bilang mau nginapbarang tiga atau empat hari bersama ibu saya. Ketika saya tanya alasannya, dia hanya bilang ingin tahu bagaimana rasanya punya Ibu. Saya terharu Mas. Akhirnya cuma saya sendiri yang balik ke sini karena harus jualan nasi goreng sedangkan Donna sampai hari ini masih di rumah ibu saya.”
“Wah, jarang sekali ada calon istri yang seperti itu. Saya kok belum melihat ada yang aneh ya di cerita Mas Parto?”
“Tapi saya merasa aneh Mas, hati saya bilang kalau Donna terlalu baik untuk saya.”
“Banyak Mas yang seperti itu. Justru Mas Parto harus bersyukur dapat calon istri seperti Donna itu. Mungkin cuma kecurigaan saya yang berlebihan.”
“Semoga saja demikian.”
“Ya semoga, karena jaman sekarang susah menemukan orang kaya yang cinta gaya hidup sederhana seperti Donna. Bahkan ketika disuruh tinggal di rumah Bu Rahmi yang besar pun, dia tidak mau. Donna memilih tinggal di kamar kosong bekas gudang yang letaknya agak terpisah dari rumah kost.”
Wajah Arwan tiba-tiba berubah, tak lama kemudian Mas Parto pun kembali keluar dan berkeliling menjajakan nasi gorengnya. Arwan ikut keluar rumah tanpa memakan nasi goreng yang dibelinya. Ia menuju rumah kost Mas Parto.
“Eh Mas Arwan. Tumben malam-malam kemari.”
Sapa Bu Hajah Rukiyah, penjual gas elpiji di seberang rumah kost.
“Assalamualaikum Bu Rukiyah.”
“Waalaikum salam.”
“Bu Rukiyah kenal sama keponakannya Bu Rahmi yang datang ke sini dua bulan lalu?”
“Tidak.”
“Jadi dia tidak pernah beli gas di sini?”
“Tidak tuh Mas, saya juga baru tahu kalau Bu Rahmi punya keponakan.”
“Tunggu yang Mas maksud Mbak Donna kan?”
Kata Pak Sadi, tukang sayur yang tiba-tiba nimbrung ikut dalam pembicaraan.
“Ya, betul Pak Sadi. Donna namanya.”
“Kalau Mbak Donna saya kenal, dia sering ketemu saya di toko daging. Sepertinya suka masak.”
Arwan membuka jejaring sosial dan menemukan foto-foto Parto dan wanita muda cantik bernama Donna itu. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah yang berjudul di dapur Donna. Disana terlihat kedua orang yang sedang menjalin kasih itu mengambil gambar secara selfie dengan dapur di latar belakang. Di dapur itu terlihat panci aluminium,penggorengan,spatula yang masih terlihat baru dan sangat bagus, tempat minyak goreng yang penuh pengasah pisau yang basah karena baru dicuci.Di dinding juga bertengger pisau-pisau dapur biasa yang gagang kayunyanya sudah agak kusam.
Arwan mencari informasi tentang desa asal Mas Parto dan ketika membuka sebuah link ke situs dengan banyak banner iklan pemilu, kedua matanya terbelalak kaget. Ia menyadari, ternyata kecurigaan penjual nasi goreng itu memang benar, benar-benar mengerikan.
“Halo ada apa Mas Arwan?”
“Ke rumahku sekarang, gerobakmu ditaruh garasi saja. Malam ini juga kita berangkat ke rumahmu.”
“Buat apa PakArwan?”
“Buat mutusin calon istri kamu itu.”
“Memangnya ada apa ?”
“Ada sesuatu yang akan terjadi, gawat sekali.”
“Baik Mas, kalau kita berangkat sekarang, paling cepat sampai besok pagi.”
“Iya Mas, makin cepat makin baik.”
Sementara itu, di rumah Mak Ijah-ibunya Parto, terlihat Donna sedang memasukkan kayu-kayu kecil ke dalam tungku masak. Esok pagi, kayu-kayu itu akan dibakar untuk menanak nasi.
“Biar Ibu saja yang melakukannya Nduk, kamu istirahat saja. Ini sudah malam.”
Kata Mak Ijah
“Biar Donna saja Mak. Di rumah sudah biasa kok angkat-angkat seperti ini. Mak Ijah tidur duluan saja.”
Kata Donna sambil tersenyum. Dalam hati Mak Ijah berpikir, beruntung sekali Parto punya calon istri baik hati seperti Donna ini.
“Ya sudah, kalau begitu Mak tidur dulu ya Nduk.”
Mak Ijah masuk ke kamar. Ia sebenarnya belum terlalu mengantuk, tetapi besok harus bangun pagi-pagi dan pergi ke sawah sehingga mau tidak mau, ia harus memaksa matanya untuk tertutup dan terlelap.
“Urgggh”
Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di leher wanita tua ini. Satu tangan lagi, yang memegang sapu tangan menutup hidung dan mulutnya. Mak Ijah-pun terlelap dengan nyenyak. Pria yang membiusnya meletakkan tubuh kecil itu di atas amben lalu keluar kamar menuju ke dapur tempat Donna berada.
Di pintu dapur yang terbuka, pria itu berkata pada Donna yang berdiri membelakanginya lalu berkata
“Bu Rahmi tidak punya keponakan. Kau membunuhnya dan mengirim pesan ke rumah kost, mengatakan bahwa ia pergi ke Samarinda. Setelah itu kau datang pura-pura menggantikan tempatnya mengerjakan tugas-tugas administrasi. Tujuannya agar kau bisa mendekati Mas Parto dan pura-pura terlibat cinta lokasi dengannya
Selanjutnya kau menginap di rumah calon mertuamu selama beberapa hari, menunggu hari itu tiba. Hari di mana Calon bupati wanita yang menjadi targetmu kampanye di desa ini. Siapapun tahu, kalau salah satu program kampanyenya adalah memasak dan menginap di rumah warga miskin.
Ketika hari itu tiba, kau akan menggunakan pisau dapur untuk membunuhnya. Aku tahu kau sudah berlatih menggunakan pisau itu di kamar sempit bekas gudang yang kau tinggali. Mengapa memilih kamar yang sempit? Karena rumah Mak Ijah, apalagi dapurnya berukuran sempit. Sehingga untuk membiasakan diri, kau harus sering berlatih menusuk dan menyerang menggunakan pisau dapur di ruangan yang ukurannya juga sempit. Untuk latihan kau menggunakan daging yang kau gantung di dapur kamarmu. Itulah alasan mengapa kaus ering pergi ke tukang jagal di toko daging.
Tetapi kau melakukan beberapa kesalahan yang mengundang kecurigaan. Pertama, kamar bekas gudang yang kau pilih. Letaknya di lantai atas rumah kost pria. Kau mungkin tidak tahu kalau di negara ini, seorang wanita yang tinggal sendiri di kost-kostan pria itu tidak wajar.
Yang kedua kau tidak pernah memasak. Alat dapur di kamarmu yang pernah kau gunakan hanya pisau dan batu pengasahnya. Kau sering beli daging dan menggunakan pisau, tetapi tidak pernah membeli gas? Minyak gorengmu-pun dalam keadaan penuh.
Dan foto itu terpampang jelas di jejaring sosial. Kau mungkin belum tahu kalau di negeri ini hampir semua orang punya akun jejaring sosial dan suka menaruh foto di lamannya. Bukan bermaksud menghina, tetapi untuk ukuran seorang profesional, riset lokasimu payah.”
Dengan tenang Donna membalikkan punggung dan berhadap-hadapan dengan pria berambut cepak yang berdiri di balik pintu yang terbuka.
“Namamu Vincent kan?”
“Pasti wanita berkursi roda itu yang memberitahukannya kepadamu.”
“Ya dia memang memperingatkanku. Baik sekarang apa maumu?”
“Apa dia yang menyuruhmu membunuh calon pejabat itu?”
“Tidak, dua wanita berkursi roda itu hanya perantara. Mereka mempertemukanku dengan klien yang menyewaku.”
“Kau bilang dua?”
Vincent terkejut, setahunya teroris berkursi roda yang memicu serangkaian pembunuhan dan peledakan di negaranya beberapa tahun yang lalu, hanya ada satu.
“Memang ada dua, masak aku harus bohong dan bilang cuma satu?”
“Kau tahu dimana mereka berada?”
“Tahu.”
“Katakan kepadaku.”
“Nanti saja, kalau kau sudah mati.”
Donna memasang kuda-kuda. Vincent langsung berlari dan menyerang ke arahnya. Dengan menggunakan pisau dapur, keduanya bertarung di dapur Mak Ijah.
Fajar menyingsing, mobil Arwan memasuki gapura desa. Di sana ia disambut oleh kerumunan orang yang berjaga-jaga. Seorang hansip menghampiri Parto dengan tergopoh-gopoh.
“Ada apa Jo?”
Tanya Parto
“Rumahmu To, gawat!”
“Celaka, kita terlambat, Ayo Mas Parto! ”
Kata Arwan sambil turun dari mobil dan berlari menembus kerumunan. Setelah sampai di depan rumahnya, Parto tertegun. Rumah itu tak ada lagi. Keempat dinding luarnya roboh ke tanah. Atapnya roboh ke bawah dan barang-barang di dalamnya berserakan penuh sayatan.
“Mak...! Di mana Emak?”
Teriak Parto, seorang tetangga menghampirinya
“Tenang To, Makmu tidak apa-apa, kami menemukannya terbaring di luar rumah.”
“Lalu Donna dimana?”
Tetangga itu tertunduk menahan kesedihan. Ia tak kuasa menceritakannya kepada Parto
“Calon istrimu....calon istrimu sudah meninggal To, dibunuh orang yang masuk ke rumahmu tadi malam.”
“Lalu orang itu?”
Tanya Arwan penasaran dengan orang yang mendahuluinya mencegah upaya pembunuhan terhadap calon bupati itu.
Tetangga Parto menggeleng sambil berkata
“Sudah kabur.”
“Ada apa Mas Parto?”
“Anu, kalau boleh saya mau minta tolong.”
“Kalau begitu, kita masuk dulu.”
Mereka masuk ke ruang tamu dan Parto memulai pembicaraan.
“Begini Pak Arwan, saya sedang dekat dengan seorang gadis.”
“Lalu?”
“Saya bingung kok dia mau sama saya, saya ini kan jelek,miskin dan cuma lulusan SD. Sedangkan dia cantik,pintar,kaya lagi.”
“Gadis itu,anak sini juga?”
Parto menggeleng.
“Pak Arwan kan tahu, saya di sini kost. Tiga bulan lalu mendadak Bu Rahmi, ibu kost kami harus kembali ke Jakarta. Setelah Bu rahmi pergi, dua hari kemudian dia datang,namanya Donna, keponakan Bu Rahmi yang untuk sementara menjadi pengganti yang mengurus administrasi.”
“Kemudian.”
“Karena dia juga suka masak, akhirnya jadi sering ngobrol sama saya.”
“Lalu anehnya dimana?”
“Kami kan baru kenal tiga bulan, tetapi dia minta untuk dipertemukan dengan Ibu saya. Awalnya saya menolak karena hubungan kami baru seumur jagung, tetapi dia bersikeras. Katanya tidak mau main-main,benar-benar mau nikah sama saya, dan ingin kenal keluarga saya. Akhirnya ya saya sanggupi.
Tiga hari yang lalu, Donna saya ajak ke desa ketemu Ibu saya. ke rumah kami yang sempit dan dindingnya cuma terbuat dari anyaman bambu. Di sana dia bilang mau nginapbarang tiga atau empat hari bersama ibu saya. Ketika saya tanya alasannya, dia hanya bilang ingin tahu bagaimana rasanya punya Ibu. Saya terharu Mas. Akhirnya cuma saya sendiri yang balik ke sini karena harus jualan nasi goreng sedangkan Donna sampai hari ini masih di rumah ibu saya.”
“Wah, jarang sekali ada calon istri yang seperti itu. Saya kok belum melihat ada yang aneh ya di cerita Mas Parto?”
“Tapi saya merasa aneh Mas, hati saya bilang kalau Donna terlalu baik untuk saya.”
“Banyak Mas yang seperti itu. Justru Mas Parto harus bersyukur dapat calon istri seperti Donna itu. Mungkin cuma kecurigaan saya yang berlebihan.”
“Semoga saja demikian.”
“Ya semoga, karena jaman sekarang susah menemukan orang kaya yang cinta gaya hidup sederhana seperti Donna. Bahkan ketika disuruh tinggal di rumah Bu Rahmi yang besar pun, dia tidak mau. Donna memilih tinggal di kamar kosong bekas gudang yang letaknya agak terpisah dari rumah kost.”
Wajah Arwan tiba-tiba berubah, tak lama kemudian Mas Parto pun kembali keluar dan berkeliling menjajakan nasi gorengnya. Arwan ikut keluar rumah tanpa memakan nasi goreng yang dibelinya. Ia menuju rumah kost Mas Parto.
“Eh Mas Arwan. Tumben malam-malam kemari.”
Sapa Bu Hajah Rukiyah, penjual gas elpiji di seberang rumah kost.
“Assalamualaikum Bu Rukiyah.”
“Waalaikum salam.”
“Bu Rukiyah kenal sama keponakannya Bu Rahmi yang datang ke sini dua bulan lalu?”
“Tidak.”
“Jadi dia tidak pernah beli gas di sini?”
“Tidak tuh Mas, saya juga baru tahu kalau Bu Rahmi punya keponakan.”
“Tunggu yang Mas maksud Mbak Donna kan?”
Kata Pak Sadi, tukang sayur yang tiba-tiba nimbrung ikut dalam pembicaraan.
“Ya, betul Pak Sadi. Donna namanya.”
“Kalau Mbak Donna saya kenal, dia sering ketemu saya di toko daging. Sepertinya suka masak.”
Arwan membuka jejaring sosial dan menemukan foto-foto Parto dan wanita muda cantik bernama Donna itu. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah yang berjudul di dapur Donna. Disana terlihat kedua orang yang sedang menjalin kasih itu mengambil gambar secara selfie dengan dapur di latar belakang. Di dapur itu terlihat panci aluminium,penggorengan,spatula yang masih terlihat baru dan sangat bagus, tempat minyak goreng yang penuh pengasah pisau yang basah karena baru dicuci.Di dinding juga bertengger pisau-pisau dapur biasa yang gagang kayunyanya sudah agak kusam.
Arwan mencari informasi tentang desa asal Mas Parto dan ketika membuka sebuah link ke situs dengan banyak banner iklan pemilu, kedua matanya terbelalak kaget. Ia menyadari, ternyata kecurigaan penjual nasi goreng itu memang benar, benar-benar mengerikan.
“Halo ada apa Mas Arwan?”
“Ke rumahku sekarang, gerobakmu ditaruh garasi saja. Malam ini juga kita berangkat ke rumahmu.”
“Buat apa PakArwan?”
“Buat mutusin calon istri kamu itu.”
“Memangnya ada apa ?”
“Ada sesuatu yang akan terjadi, gawat sekali.”
“Baik Mas, kalau kita berangkat sekarang, paling cepat sampai besok pagi.”
“Iya Mas, makin cepat makin baik.”
Sementara itu, di rumah Mak Ijah-ibunya Parto, terlihat Donna sedang memasukkan kayu-kayu kecil ke dalam tungku masak. Esok pagi, kayu-kayu itu akan dibakar untuk menanak nasi.
“Biar Ibu saja yang melakukannya Nduk, kamu istirahat saja. Ini sudah malam.”
Kata Mak Ijah
“Biar Donna saja Mak. Di rumah sudah biasa kok angkat-angkat seperti ini. Mak Ijah tidur duluan saja.”
Kata Donna sambil tersenyum. Dalam hati Mak Ijah berpikir, beruntung sekali Parto punya calon istri baik hati seperti Donna ini.
“Ya sudah, kalau begitu Mak tidur dulu ya Nduk.”
Mak Ijah masuk ke kamar. Ia sebenarnya belum terlalu mengantuk, tetapi besok harus bangun pagi-pagi dan pergi ke sawah sehingga mau tidak mau, ia harus memaksa matanya untuk tertutup dan terlelap.
“Urgggh”
Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di leher wanita tua ini. Satu tangan lagi, yang memegang sapu tangan menutup hidung dan mulutnya. Mak Ijah-pun terlelap dengan nyenyak. Pria yang membiusnya meletakkan tubuh kecil itu di atas amben lalu keluar kamar menuju ke dapur tempat Donna berada.
Di pintu dapur yang terbuka, pria itu berkata pada Donna yang berdiri membelakanginya lalu berkata
“Bu Rahmi tidak punya keponakan. Kau membunuhnya dan mengirim pesan ke rumah kost, mengatakan bahwa ia pergi ke Samarinda. Setelah itu kau datang pura-pura menggantikan tempatnya mengerjakan tugas-tugas administrasi. Tujuannya agar kau bisa mendekati Mas Parto dan pura-pura terlibat cinta lokasi dengannya
Selanjutnya kau menginap di rumah calon mertuamu selama beberapa hari, menunggu hari itu tiba. Hari di mana Calon bupati wanita yang menjadi targetmu kampanye di desa ini. Siapapun tahu, kalau salah satu program kampanyenya adalah memasak dan menginap di rumah warga miskin.
Quote:
Arwan mencari informasi tentang desa asal Mas Parto dan ketika membuka sebuah link ke situs dengan banyak banner iklan pemilu,
Ketika hari itu tiba, kau akan menggunakan pisau dapur untuk membunuhnya. Aku tahu kau sudah berlatih menggunakan pisau itu di kamar sempit bekas gudang yang kau tinggali. Mengapa memilih kamar yang sempit? Karena rumah Mak Ijah, apalagi dapurnya berukuran sempit. Sehingga untuk membiasakan diri, kau harus sering berlatih menusuk dan menyerang menggunakan pisau dapur di ruangan yang ukurannya juga sempit. Untuk latihan kau menggunakan daging yang kau gantung di dapur kamarmu. Itulah alasan mengapa kaus ering pergi ke tukang jagal di toko daging.
Tetapi kau melakukan beberapa kesalahan yang mengundang kecurigaan. Pertama, kamar bekas gudang yang kau pilih. Letaknya di lantai atas rumah kost pria. Kau mungkin tidak tahu kalau di negara ini, seorang wanita yang tinggal sendiri di kost-kostan pria itu tidak wajar.
Yang kedua kau tidak pernah memasak. Alat dapur di kamarmu yang pernah kau gunakan hanya pisau dan batu pengasahnya. Kau sering beli daging dan menggunakan pisau, tetapi tidak pernah membeli gas? Minyak gorengmu-pun dalam keadaan penuh.
Quote:
“Bu Rukiyah kenal sama keponakannya Bu Rahmi yang datang ke sini dua bulan lalu?”
“Tidak.”
“Jadi dia tidak pernah beli gas di sini?”
“Tidak tuh Mas, saya juga baru tahu kalau Bu Rahmi punya keponakan.”
“Tidak.”
“Jadi dia tidak pernah beli gas di sini?”
“Tidak tuh Mas, saya juga baru tahu kalau Bu Rahmi punya keponakan.”
Quote:
Disana terlihat kedua orang yang sedang menjalin kasih itu mengambil gambar secara selfie dengan dapur di latar belakang. Di dapur itu terlihat panci aluminium,penggorengan,spatula yang masih terlihat baru dan sangat bagus, tempat minyak goreng yang penuh pengasah pisau yang basah karena baru dicuci.Di dinding juga bertengger pisau-pisau dapur biasa yang gagang kayunyanya sudah agak kusam.
Dan foto itu terpampang jelas di jejaring sosial. Kau mungkin belum tahu kalau di negeri ini hampir semua orang punya akun jejaring sosial dan suka menaruh foto di lamannya. Bukan bermaksud menghina, tetapi untuk ukuran seorang profesional, riset lokasimu payah.”
Dengan tenang Donna membalikkan punggung dan berhadap-hadapan dengan pria berambut cepak yang berdiri di balik pintu yang terbuka.
“Namamu Vincent kan?”
“Pasti wanita berkursi roda itu yang memberitahukannya kepadamu.”
“Ya dia memang memperingatkanku. Baik sekarang apa maumu?”
“Apa dia yang menyuruhmu membunuh calon pejabat itu?”
“Tidak, dua wanita berkursi roda itu hanya perantara. Mereka mempertemukanku dengan klien yang menyewaku.”
“Kau bilang dua?”
Vincent terkejut, setahunya teroris berkursi roda yang memicu serangkaian pembunuhan dan peledakan di negaranya beberapa tahun yang lalu, hanya ada satu.
“Memang ada dua, masak aku harus bohong dan bilang cuma satu?”
“Kau tahu dimana mereka berada?”
“Tahu.”
“Katakan kepadaku.”
“Nanti saja, kalau kau sudah mati.”
Donna memasang kuda-kuda. Vincent langsung berlari dan menyerang ke arahnya. Dengan menggunakan pisau dapur, keduanya bertarung di dapur Mak Ijah.
Fajar menyingsing, mobil Arwan memasuki gapura desa. Di sana ia disambut oleh kerumunan orang yang berjaga-jaga. Seorang hansip menghampiri Parto dengan tergopoh-gopoh.
“Ada apa Jo?”
Tanya Parto
“Rumahmu To, gawat!”
“Celaka, kita terlambat, Ayo Mas Parto! ”
Kata Arwan sambil turun dari mobil dan berlari menembus kerumunan. Setelah sampai di depan rumahnya, Parto tertegun. Rumah itu tak ada lagi. Keempat dinding luarnya roboh ke tanah. Atapnya roboh ke bawah dan barang-barang di dalamnya berserakan penuh sayatan.
“Mak...! Di mana Emak?”
Teriak Parto, seorang tetangga menghampirinya
“Tenang To, Makmu tidak apa-apa, kami menemukannya terbaring di luar rumah.”
“Lalu Donna dimana?”
Tetangga itu tertunduk menahan kesedihan. Ia tak kuasa menceritakannya kepada Parto
“Calon istrimu....calon istrimu sudah meninggal To, dibunuh orang yang masuk ke rumahmu tadi malam.”
“Lalu orang itu?”
Tanya Arwan penasaran dengan orang yang mendahuluinya mencegah upaya pembunuhan terhadap calon bupati itu.
Tetangga Parto menggeleng sambil berkata
“Sudah kabur.”
oh ya buat yang penasaran siapa Vincent? Dia itu detektif forum sebelah

Diubah oleh reloaded0101 28-06-2014 03:19
mr.dprast180 memberi reputasi
-1
Kutip
Balas