- Beranda
- Stories from the Heart
Everytime
...
TS
robotpintar
Everytime

Song by : Britney Spears
Notice me
Take my hand
Why are we Strangers when
Our love is strong?
Why carry on without me?
Everytime I try to fly,
I fall without my wings,
I feel so small.
I guess I need you baby.
And everytime
I sleep your in my dreams,
I see your face, it's haunting me.
I guess I need you baby.
I make believe
That you are here.
It's the only way
That I see clear.
What have I done?
You seem to moveon easy.
Everytime I try to fly,
I fall without my wings,
I feel so small,
I guess I need you baby.
And everytime I sleep
your in my dreams,
I see your face, you're haunting me
I guess I need you baby.
I may have made it rain,
Please forgive me.
My weakness caused you pain,
And this song's my sorry...
At night I pray,
That soon your face
Will fade away.
Take my hand
Why are we Strangers when
Our love is strong?
Why carry on without me?
Everytime I try to fly,
I fall without my wings,
I feel so small.
I guess I need you baby.
And everytime
I sleep your in my dreams,
I see your face, it's haunting me.
I guess I need you baby.
I make believe
That you are here.
It's the only way
That I see clear.
What have I done?
You seem to moveon easy.
Everytime I try to fly,
I fall without my wings,
I feel so small,
I guess I need you baby.
And everytime I sleep
your in my dreams,
I see your face, you're haunting me
I guess I need you baby.
I may have made it rain,
Please forgive me.
My weakness caused you pain,
And this song's my sorry...
At night I pray,
That soon your face
Will fade away.
FAQ (Frequently asked questions)
Indeks Cerita :
Quote:
Episode 1
Bagian #1
Bagian #2
Bagian #3
Bagian #4
Bagian #5
Bagian #6
Episode 2
Bagian #7
Bagian #8
Bagian #9
Bagian #10
Bagian #11
Bagian #12
Bagian #13
Bagian #14
Bagian #15
Bagian #16
Bagian #17
Bagian #18
Bagian #19
Bagian #20
Episode 3
Bagian #20A
Bagian #20B
Bagian #20C
Bagian #20D
Episode 4
Bagian #21
Bagian #22
Bagian #23
Bagian #24
Bagian #25
Bagian #26
Bagian #27
Bagian #28
Bagian #29
Bagian #30
Episode 5
Bagian #31
Bagian #32
Bagian #33
Bagian #34
Bagian #35
Bagian #36
Bagian #37
Bagian #38
Episode 6
Bagian #39
Bagian #40
Bagian #41
Bagian #42
Bagian #43
Bagian #44
Bagian #45
Bagian #46
Bagian #47
Episode 7
Bagian #48
Bagian #49
Bagian #50
Bagian #51
Bagian #52 (End)
Bagian #1
Bagian #2
Bagian #3
Bagian #4
Bagian #5
Bagian #6
Episode 2
Bagian #7
Bagian #8
Bagian #9
Bagian #10
Bagian #11
Bagian #12
Bagian #13
Bagian #14
Bagian #15
Bagian #16
Bagian #17
Bagian #18
Bagian #19
Bagian #20
Episode 3
Bagian #20A
Bagian #20B
Bagian #20C
Bagian #20D
Episode 4
Bagian #21
Bagian #22
Bagian #23
Bagian #24
Bagian #25
Bagian #26
Bagian #27
Bagian #28
Bagian #29
Bagian #30
Episode 5
Bagian #31
Bagian #32
Bagian #33
Bagian #34
Bagian #35
Bagian #36
Bagian #37
Bagian #38
Episode 6
Bagian #39
Bagian #40
Bagian #41
Bagian #42
Bagian #43
Bagian #44
Bagian #45
Bagian #46
Bagian #47
Episode 7
Bagian #48
Bagian #49
Bagian #50
Bagian #51
Bagian #52 (End)
Quote:
Diubah oleh robotpintar 04-07-2014 13:30
gocharaya dan 103 lainnya memberi reputasi
102
602.7K
Kutip
1.5K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1178
Spoiler for Bagian #51:
“Hal pertama, Bapak sudah cukup berumur, dan bapak sadar kalau perusahan-perusahaan bapak mau tidak mau, suka tidak suka, nantinya bakal berakhir dipundak kalian berdua. Pertanyaannya, apakah kalian sanggup?”
Bapak bicara sambil kemudian menyandarkan kepalanya kesandaran kursi.
“Salsa, yang cuma bisa ‘dugem’, gonta-ganti pacar, liburan ke luar negeri dan bercanda cengengesan.. apa dia cukup pantas memimpin perusahaan, hin?”
Bokap bertanya ke gua, gua hanya bisa mengangkat bahu.
“Solichin, yang ‘strict’, perfeksionis, nggak blended, suka gonta-ganti pacar dan yang paling berbahaya; Emosi-nya yang diluar kontrol.. lalu apa dia cukup pantas memimpin perusahaan sekaligus memimpin keluarga?”
Kali ini Bokap, berpaling ke Salsa, bertanya kepadanya. Salsa hanya mengangkat bahu
“...”
“...”
“... Diluar perilaku kamu yang masih suka ‘dugem’, gonta-ganti pacar, liburan ke luar negeri dan bercanda cengengesan, bapak pernah ngasih kamu tugas untuk mencari tau tentang pacar-nya Solichin; Desita.. lalu apa yang terjadi? Kamu malah bergerak seenak jidat sendiri.. itu baru tugas sederhana, bagaimana kalau bapak berikan tugas untuk meng-handle perusahaan, bisa-bisa kamu pecat-pecatin semua karyawan.. Sedangkan kamu Solichin, cuma kepisah dari cewek yang baru aja jadi pacar, kamu udah uring-uringan, tambah tato, kabur ke jogja, stress.. gimana kalau bapak serahin perusahaan, bisa-bisa saat ada masalah kamu malah kabur..”
“...”
“...”
“... Trus bapak harus milih siapa? Oge? Mpok Esih? C’mon.. kasih bapak saran..”
Bokap menegakkan tubuhnya sambil menggerakan tangan maju dan mundur seperti tengah menantang kami berdua.
“Pak, kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat deh ngomongin perusahaan..”
Gua angkat bicara. Bokap mengangguk kemudian berdiri.
“Kalau bukan sekarang, kapan waktu yang tepat? Kalau bukan ngomongin masalah perusahaan, mau ngomongin masalah apa? Masalah kamu dengan Desita?”
Bokap bertanya, disusul anggukan kepala gua.
“Kamu pikir Bapak nggak memikirkan hal itu hin?”
Bokap menambahkan, kali ini ditambah seringai diwajahnya. Ah seandainya ada pencari bakat disini, dan melihat ekspresi wajah bokap, dia pasti sudah diajak untuk ikut bermain sinetron.
“... Karena kelakuan kalian berdua akhirnya bapak nggak bisa begitu saja bisa menyerahkan perusahan ketangan kalian.. karena itu juga bapak banyak melakukan pertimbangan..”
“...”
“Salsa.. “
Bokap memanggil salsa dengan suara tegas namun tetap terdengar lembut.
“Ya..”
Salsa menjawab.
“Panggil Ibu-mu dan Desita..”
Tanpa bertanya lagi, Salsa bangkit dari duduknya dan melangkah keluar. Beberpa saat kemudian dia kembali masuk keruangan disusul oleh Ibu dan Desita. Ibu duduk kursi besar tempat bokap tadi duduk, sementar bokap duduk diatas meja disebelah ibu.
Gua menunjuk kursi kosong disebelah Salsa, mengisyaratkan Desita agar duduk disana. Sedangkan gua tetap berdiri disudut ruangan, dipinggir jendela besar.
“Solichin.. Desita”
Bokap menyebut nama gua dan Desita, dia kemudian berdiri dan melipat kedua tangannya didada.
“Kalian mungkin tau apa yang menghalangi hubungan kalian..”
Bokap bicara, nadanya seperti bertanya.
“Bobot, Bibit dan Bebet kita nggak sama..”
Gua menjawab.
“Des..”
Bokap memanggil nama Desita. Desita mendongak.
“Ya pak..”
“Bobot-mu apa des?”
Bokap bertanya ke Desita.
“Sekarang dia Sarjana Ekonomi, paling nggak kalo disejajarkan sama saya, kita setara..”
Gua mendahului Desita menjawab.
“Oke. Nice.. Lalu Bebet mu apa Des..”
Bokap bertanya lagi ke Desita.
“Paling nggak sekarang Desita sudah kerja, sudah bisa menghidupi dirinya sendiri, membiayai kuliahnya...”
Lagi lagi gua menyerobot jawaban dari Desita.
“Well.. Bobot dan Bebet seperti-nya saat ini Desita cukup memenuhi kriteria.. Bibit mu Des?”
Bokap mengajukan pertanyaan ke Desita, kali ini Bokap sambil membungkukkan badanya ke arah Desita. Sementara Desita hanya bisa menundukkan kepalanya, nggak mempunyai kekuatan untuk menjawab, sekalipun pertanyaan itu berhasil dijawab, gua yakin jawabannya nggak bakal memuaskan Bokap.
Bokap tersenyum, mengeluarkan seringai khas ‘Hisoka’-nya. Kemudian membuka laci pertama meja kerjanya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas, salah satunya gua kenali sebagai potongan majalah yang sudah mulai menguning dan usang.
Bokap kembali duduk diatas meja, tubuhnya dimiringkan sedemikian rupa hingga mampu menjangkau pandangan kami semua.
“Dulu, puluhan tahun yang lalu.. bapak pernah membaca tentang kedigdayaan seorang pria, seorang pengusaha mebel yang sukses, saking suksesnya,mebel buatannya selalu mampu menembus pasar Amerika dan Eropa.. bahkan sampai ke semanjung arab..”
Bokap mulai bercerita, gua mengambil kursi yang terletak disudut ruangan kemudian duduk diatasnya.
“Bertahun-tahun menikah pria ini tak kunjung dikaruniai anak, namun mungkin berkat kekuatan doa dan kebaikan hati pasangan ini, akhirnya mereka melahirkan seorang putri.. tapi sayangnya..”
“...”
“...Sayangnya... saat lahir bayi mereka memiliki kelainan, si bayi terlahir tanpa memiliki iris mata dan kornea yang rusak..”
Mendengar hal ini, jantung gua serasa bergerak semakin cepat. Gua mencoba menebak-nebak kearah mana cerita ini akan bermuara. Dan sejauh apapun gua berusaha menghalau, pikiran gua selalu berakhir ke sosok yang kini duduk disebelah gua; Desita.
“.. saat itu bapak dan ibu-mu tengah berada di Jerman untuk menyelesaikan program master kami.. bapak menerima telepon dari salah seorang kerabat yang menceritakan tentang pria itu dan putrinya yang mengidap kelainan.. dia bertanya apakah bapak bisa membantu mencarikan dokter atau rumah sakit di jerman yang mampu melakukan operasi mata.. yaa pada jaman itu, negara seperti singapur dan malaysia belum punya cukup sumber daya untuk melakukan operasi mata.. dan jerman merupakan salah satu negara yang memilikinya..itulah kenapa bapak yang dihubungi”
Kami semua yang berada diruangan itu terdiam, hening. Mendengarkan cerita bokap.
“... awalnya bapak nggak mau terlibat terlalu jauh.. tapi, karena rasa kemanusiaan dan dorongan ibumu akhirnya bapak setuju untuk membantu dan mencarikan dokter yang mampu melakukan operasi mata. Akhirnya putri pria tersebut mendapatkan donor iris yang didapat dari iris orang jerman.. operasi transplantasi pun dilakukan.. “
“...”
“... tapi harga yang harus dibayar cukup mahal, bahkan terlalu mahal untuk pria yang notabene seorang pengusaha sukses itu. Semua harta bendanya habis tak tersisa demi memulihkan pengelihatan putrinya, bahkan bukan hanya habis.. pria tersebut meninggalkan hutang dimana-mana.. dan nama pria itu”
“...”
“Pambudi..”
Bokap dan Desita bicara berbarengan. Gua menunduk sambil memegangi kepala, kepala yang terasa berat dan semakin berat saat mendengarkan sebuah cerita mengenai Desita, pacar gua yang mana malah bokap gua mengetahuinya lebih banyak dari gua sendiri.
Kemudian bokap menyerahkan lembaran potongan-potongan majalah usang ke Desita. Gua meliriknya; sebuah potongan Artikel tentang betapa suksesnya pria bernama Pambudi itu.
“.. dan sejak saat itu bapak tak pernah lagi mendengar kabar dari pria tersebut.. sampai suatu hari anak bapak sendiri berhasil bertemu dengan putri dari Pambudi.. namanya Desita..”
Gua berdiri dari duduk, sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mencoba menahan tubuh gua agar tidak bergetar
“Jadi bapak sebenernya bapak sudah lama tau mengenai Desita?”
“Oh no..no.no.. nggak nggak..”
Bapak menggeleng sambil menggerak-gerakan tangannya.
“... awalnya bapak nggak tau, sampai suatu hari bapak mencoba mencari tau lewat Salsa dan ternyata salsa sama sekali nggak memberikan informasi apa-apa, kemudian bapak mencari tau sendiri dan bapak yakin kalian tau kalau bapak punya ‘power’ untuk mencari tau, but i’m digger to deep.. bapak mencari tau terlalu banyak, hingga sampai ke informasi yang kalian dengar barusan..”
“Jadi, ibu juga tau tentang Desita?”
Salsa membuka suara, bertanya ke Bokap.
“Ya jelas tau..”
Mendengar jawaban Bokap, gua cukup terkejut, begitu pula dengan Salsa.
“Apa kalian fikir, selama ini Bapak yang membatasi hubungan kalian dengan pacar-pacar kalian? Apa kalian fikir selama ini Bapak yang memutuskan si A cocok dengan Salsa, Si B tidak cocok dengan Solichin? Apa selama ini kalian fikir, bapak yang berada dibalik gagalnya hubungan Salsa dengan Andre dan Arya? Apa selama ini kalian berfikir kalau Bapak ada dibalik penolakan Desita dari Solichin?...”
Bapak berbicara sambil menggelengkan kepalanya.
“... kalian tau kalau apa dosa-nya jika durhaka terhadap seorang ibu?”
Bapak bertanya lagi, gua dan salsa hanya terdiam, tak mampu menajwab.
“.. justru selama ini Ibu kalian lah yang berada dibalik kegagalan hubungan kalian dengan pacar-pacar kalian, Ibumu lah yang memutuskan si A cocok dengan Salsa, Si B tidak cocok dengan Solichin, Ibumu lah yang berada dibalik gagalnya hubungan Salsa dengan Andre dan Arya dan tentu saja atas instruksi Ibu kalian juga, bapak berusaha mencari tau tentang Desita..”
Mendengar penjelasan bokap, mendadak gua seperti kehilangan kesaradan, seperti ada yang menyerap semua oksigen ditubuh ini. Gua menghembuskan nafas panjang berkali-kali sebelum kemudian bertanya ke Ibu;
“Apa bener bu?”
Ibu hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Jangan menyalahkan Ibumu, justru sebenarnya Ibumu ingin menyampaikan langsung kepada kalian berdua, tapi bapak yang berkeras melarangnya.. biar cukup bapak yang menjadi pusat kebencian kalian terhadap semua keputusan ibumu.. biar kalian nggak durhaka karena membenci ibu kalian atas keputusan-keputusan yang dibuatnya..”
Bokap menjelaskan, terdengar Salsa mulai terisak dan akhirnya menangis sejadi-jadinya. Gua hanya bisa (lagi-lagi) menghela nafas. Jadi selama ini semua keputusan yang keluar dari mulut bokap, semua penolakan-penolakan atas pacar-pacar Salsa justru di inisiasi oleh Ibu. Dan Bokap berusaha membuatnya terlihat seperti keputusannya.
“Jadi, ibu juga yang nggak setuju sama Desita?”
Gua bertanya, bingung mengajukan pertanyaan ke siapa.
“Iya! Justru Ibumu yang paling keras menolaknya.. justru selama ini ibumu yang punya idealisme Bibit, bebet dan bobot..”
Bokap menjawab, lugas. Gua mengusap kepala dan menggaruk-garuk rambut. Pantaslah semua ini terjadi, gua mengingat garis keturunan ibu yang memang keturunan langsung dari kasunanan Surakarta, sedangkan bokap ‘cuma’ turunan Abdi dalem. Jelas Ibu-lah yang seharusnya paling ‘saklek’ perihal Bibit, bebet dan bobot dan gua nggak menyadari hal itu
“Tapi, hin.. sa.. jangan pernah sekali-kali menyalahkan ibu kalian..”
Bokap bicara sambil berdiri disebelah ibu yang duduk diatas kursi kebesaran bokap.
“Coba kamu cari tau deh sa.. jadi apa Andre sekarang? Dia hilang, dicari-cari debt collector, hutangnya dimana-mana.. dan kamu tau Arya gimana? Apa kamu tau kalo Arya sudah punya istri?”
Mendengar itu Salsa yang tangisnya mulai mereda kembali terisak.
“.. banyak dari keputusan ibu yang tepat, bahkan hampir semuanya tepat.. kecuali satu.. dia salah mengenai Desita..”
“Hah?”
Gua terkaget.
“... Ibumu berkeras kalau bibit, bebet dan bobot Desita jauh dari standar kita, dan justru bapak yang berusaha mati-matian membuktikan kalau Ibumu salah.. Tanpa Salsa sadari, Bapak berusaha menggiring –nya agar mau membujuk Desita berkuliah untuk mendapatkan gelar Sarjana, memenuhi bobotnya, sedangkan untuk bibitnya, bapak rasa cerita tentang Pak Pambudi; ayahnya Desita sudah cukup menggambarkan kalau Desita berasal dari keluarga baik-baik.. Untuk bebetnya.. jelas Desita memiliki cukup kredibilitas dalam menjalankan sebuah perusahaan, bahkan dia sudah membuktikannya.. “
“Hah maksudnya?”
Gua bertanya mengenai penjelasan dari kalimat terakhir yang diucapkan bokap.
“..Setelah berhasil mencari tau tentang Desita sampai ke akarnya, bapak kemudian berusaha membimbing Desita melalui Yohannes.. dari report-report yang diberikan yohannes, bapak tau kalau Desita punya cukup kemampuan untuk menjalankan sebuah perusahaan, bahkan kemampuannya melebihi kalian berdua.. Enam bulan terakhir ini Desita sudah menduduki jabatan Direktur Finansial Sinar Surya Trading, dan setelah nanti Yohannes pensiun Desita lah yang bakal menggantikan posisinya..”
Gua ternganga mendengar penjelasan bokap, lutut gua terasa lemas, bagian kepala gua terasa semakin berat dan seperti ditusuk-tusuk. Walau begitu, benak gua sempat berfikir dan mencoba mem-flashback kejadian beberapa hari yang lalu, saat gua mengantar Desita ke kantor. Saat itu kami berjalan bersisian saat memasuki kantor, beberapa karyawan mengucapkan salam dan memberi hormat berlebihan kepada gua.. bukan.. bukan.. karyawan disana bahkan tidak ada yang mengenal gua, mereka belumlah tau siapa gua.. dan mereka bukanlah memberi salam dan hormat ke gua.. melainkan ke ... Desita, si Direktur Finansial.
Tubuh gua terasa bergetar, bagian kepala belakang gua seperti tertusuk-tusuk. Kemudian semua menjadi gelap. Yang terdengar hanya samar teriakan suara Desita.
Bapak bicara sambil kemudian menyandarkan kepalanya kesandaran kursi.
“Salsa, yang cuma bisa ‘dugem’, gonta-ganti pacar, liburan ke luar negeri dan bercanda cengengesan.. apa dia cukup pantas memimpin perusahaan, hin?”
Bokap bertanya ke gua, gua hanya bisa mengangkat bahu.
“Solichin, yang ‘strict’, perfeksionis, nggak blended, suka gonta-ganti pacar dan yang paling berbahaya; Emosi-nya yang diluar kontrol.. lalu apa dia cukup pantas memimpin perusahaan sekaligus memimpin keluarga?”
Kali ini Bokap, berpaling ke Salsa, bertanya kepadanya. Salsa hanya mengangkat bahu
“...”
“...”
“... Diluar perilaku kamu yang masih suka ‘dugem’, gonta-ganti pacar, liburan ke luar negeri dan bercanda cengengesan, bapak pernah ngasih kamu tugas untuk mencari tau tentang pacar-nya Solichin; Desita.. lalu apa yang terjadi? Kamu malah bergerak seenak jidat sendiri.. itu baru tugas sederhana, bagaimana kalau bapak berikan tugas untuk meng-handle perusahaan, bisa-bisa kamu pecat-pecatin semua karyawan.. Sedangkan kamu Solichin, cuma kepisah dari cewek yang baru aja jadi pacar, kamu udah uring-uringan, tambah tato, kabur ke jogja, stress.. gimana kalau bapak serahin perusahaan, bisa-bisa saat ada masalah kamu malah kabur..”
“...”
“...”
“... Trus bapak harus milih siapa? Oge? Mpok Esih? C’mon.. kasih bapak saran..”
Bokap menegakkan tubuhnya sambil menggerakan tangan maju dan mundur seperti tengah menantang kami berdua.
“Pak, kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat deh ngomongin perusahaan..”
Gua angkat bicara. Bokap mengangguk kemudian berdiri.
“Kalau bukan sekarang, kapan waktu yang tepat? Kalau bukan ngomongin masalah perusahaan, mau ngomongin masalah apa? Masalah kamu dengan Desita?”
Bokap bertanya, disusul anggukan kepala gua.
“Kamu pikir Bapak nggak memikirkan hal itu hin?”
Bokap menambahkan, kali ini ditambah seringai diwajahnya. Ah seandainya ada pencari bakat disini, dan melihat ekspresi wajah bokap, dia pasti sudah diajak untuk ikut bermain sinetron.
“... Karena kelakuan kalian berdua akhirnya bapak nggak bisa begitu saja bisa menyerahkan perusahan ketangan kalian.. karena itu juga bapak banyak melakukan pertimbangan..”
“...”
“Salsa.. “
Bokap memanggil salsa dengan suara tegas namun tetap terdengar lembut.
“Ya..”
Salsa menjawab.
“Panggil Ibu-mu dan Desita..”
Tanpa bertanya lagi, Salsa bangkit dari duduknya dan melangkah keluar. Beberpa saat kemudian dia kembali masuk keruangan disusul oleh Ibu dan Desita. Ibu duduk kursi besar tempat bokap tadi duduk, sementar bokap duduk diatas meja disebelah ibu.
Gua menunjuk kursi kosong disebelah Salsa, mengisyaratkan Desita agar duduk disana. Sedangkan gua tetap berdiri disudut ruangan, dipinggir jendela besar.
“Solichin.. Desita”
Bokap menyebut nama gua dan Desita, dia kemudian berdiri dan melipat kedua tangannya didada.
“Kalian mungkin tau apa yang menghalangi hubungan kalian..”
Bokap bicara, nadanya seperti bertanya.
“Bobot, Bibit dan Bebet kita nggak sama..”
Gua menjawab.
“Des..”
Bokap memanggil nama Desita. Desita mendongak.
“Ya pak..”
“Bobot-mu apa des?”
Bokap bertanya ke Desita.
“Sekarang dia Sarjana Ekonomi, paling nggak kalo disejajarkan sama saya, kita setara..”
Gua mendahului Desita menjawab.
“Oke. Nice.. Lalu Bebet mu apa Des..”
Bokap bertanya lagi ke Desita.
“Paling nggak sekarang Desita sudah kerja, sudah bisa menghidupi dirinya sendiri, membiayai kuliahnya...”
Lagi lagi gua menyerobot jawaban dari Desita.
“Well.. Bobot dan Bebet seperti-nya saat ini Desita cukup memenuhi kriteria.. Bibit mu Des?”
Bokap mengajukan pertanyaan ke Desita, kali ini Bokap sambil membungkukkan badanya ke arah Desita. Sementara Desita hanya bisa menundukkan kepalanya, nggak mempunyai kekuatan untuk menjawab, sekalipun pertanyaan itu berhasil dijawab, gua yakin jawabannya nggak bakal memuaskan Bokap.
Bokap tersenyum, mengeluarkan seringai khas ‘Hisoka’-nya. Kemudian membuka laci pertama meja kerjanya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas, salah satunya gua kenali sebagai potongan majalah yang sudah mulai menguning dan usang.
Bokap kembali duduk diatas meja, tubuhnya dimiringkan sedemikian rupa hingga mampu menjangkau pandangan kami semua.
“Dulu, puluhan tahun yang lalu.. bapak pernah membaca tentang kedigdayaan seorang pria, seorang pengusaha mebel yang sukses, saking suksesnya,mebel buatannya selalu mampu menembus pasar Amerika dan Eropa.. bahkan sampai ke semanjung arab..”
Bokap mulai bercerita, gua mengambil kursi yang terletak disudut ruangan kemudian duduk diatasnya.
“Bertahun-tahun menikah pria ini tak kunjung dikaruniai anak, namun mungkin berkat kekuatan doa dan kebaikan hati pasangan ini, akhirnya mereka melahirkan seorang putri.. tapi sayangnya..”
“...”
“...Sayangnya... saat lahir bayi mereka memiliki kelainan, si bayi terlahir tanpa memiliki iris mata dan kornea yang rusak..”
Mendengar hal ini, jantung gua serasa bergerak semakin cepat. Gua mencoba menebak-nebak kearah mana cerita ini akan bermuara. Dan sejauh apapun gua berusaha menghalau, pikiran gua selalu berakhir ke sosok yang kini duduk disebelah gua; Desita.
“.. saat itu bapak dan ibu-mu tengah berada di Jerman untuk menyelesaikan program master kami.. bapak menerima telepon dari salah seorang kerabat yang menceritakan tentang pria itu dan putrinya yang mengidap kelainan.. dia bertanya apakah bapak bisa membantu mencarikan dokter atau rumah sakit di jerman yang mampu melakukan operasi mata.. yaa pada jaman itu, negara seperti singapur dan malaysia belum punya cukup sumber daya untuk melakukan operasi mata.. dan jerman merupakan salah satu negara yang memilikinya..itulah kenapa bapak yang dihubungi”
Kami semua yang berada diruangan itu terdiam, hening. Mendengarkan cerita bokap.
“... awalnya bapak nggak mau terlibat terlalu jauh.. tapi, karena rasa kemanusiaan dan dorongan ibumu akhirnya bapak setuju untuk membantu dan mencarikan dokter yang mampu melakukan operasi mata. Akhirnya putri pria tersebut mendapatkan donor iris yang didapat dari iris orang jerman.. operasi transplantasi pun dilakukan.. “
“...”
“... tapi harga yang harus dibayar cukup mahal, bahkan terlalu mahal untuk pria yang notabene seorang pengusaha sukses itu. Semua harta bendanya habis tak tersisa demi memulihkan pengelihatan putrinya, bahkan bukan hanya habis.. pria tersebut meninggalkan hutang dimana-mana.. dan nama pria itu”
“...”
“Pambudi..”
Bokap dan Desita bicara berbarengan. Gua menunduk sambil memegangi kepala, kepala yang terasa berat dan semakin berat saat mendengarkan sebuah cerita mengenai Desita, pacar gua yang mana malah bokap gua mengetahuinya lebih banyak dari gua sendiri.
Kemudian bokap menyerahkan lembaran potongan-potongan majalah usang ke Desita. Gua meliriknya; sebuah potongan Artikel tentang betapa suksesnya pria bernama Pambudi itu.
“.. dan sejak saat itu bapak tak pernah lagi mendengar kabar dari pria tersebut.. sampai suatu hari anak bapak sendiri berhasil bertemu dengan putri dari Pambudi.. namanya Desita..”
Gua berdiri dari duduk, sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mencoba menahan tubuh gua agar tidak bergetar
“Jadi bapak sebenernya bapak sudah lama tau mengenai Desita?”
“Oh no..no.no.. nggak nggak..”
Bapak menggeleng sambil menggerak-gerakan tangannya.
“... awalnya bapak nggak tau, sampai suatu hari bapak mencoba mencari tau lewat Salsa dan ternyata salsa sama sekali nggak memberikan informasi apa-apa, kemudian bapak mencari tau sendiri dan bapak yakin kalian tau kalau bapak punya ‘power’ untuk mencari tau, but i’m digger to deep.. bapak mencari tau terlalu banyak, hingga sampai ke informasi yang kalian dengar barusan..”
“Jadi, ibu juga tau tentang Desita?”
Salsa membuka suara, bertanya ke Bokap.
“Ya jelas tau..”
Mendengar jawaban Bokap, gua cukup terkejut, begitu pula dengan Salsa.
“Apa kalian fikir, selama ini Bapak yang membatasi hubungan kalian dengan pacar-pacar kalian? Apa kalian fikir selama ini Bapak yang memutuskan si A cocok dengan Salsa, Si B tidak cocok dengan Solichin? Apa selama ini kalian fikir, bapak yang berada dibalik gagalnya hubungan Salsa dengan Andre dan Arya? Apa selama ini kalian berfikir kalau Bapak ada dibalik penolakan Desita dari Solichin?...”
Bapak berbicara sambil menggelengkan kepalanya.
“... kalian tau kalau apa dosa-nya jika durhaka terhadap seorang ibu?”
Bapak bertanya lagi, gua dan salsa hanya terdiam, tak mampu menajwab.
“.. justru selama ini Ibu kalian lah yang berada dibalik kegagalan hubungan kalian dengan pacar-pacar kalian, Ibumu lah yang memutuskan si A cocok dengan Salsa, Si B tidak cocok dengan Solichin, Ibumu lah yang berada dibalik gagalnya hubungan Salsa dengan Andre dan Arya dan tentu saja atas instruksi Ibu kalian juga, bapak berusaha mencari tau tentang Desita..”
Mendengar penjelasan bokap, mendadak gua seperti kehilangan kesaradan, seperti ada yang menyerap semua oksigen ditubuh ini. Gua menghembuskan nafas panjang berkali-kali sebelum kemudian bertanya ke Ibu;
“Apa bener bu?”
Ibu hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Jangan menyalahkan Ibumu, justru sebenarnya Ibumu ingin menyampaikan langsung kepada kalian berdua, tapi bapak yang berkeras melarangnya.. biar cukup bapak yang menjadi pusat kebencian kalian terhadap semua keputusan ibumu.. biar kalian nggak durhaka karena membenci ibu kalian atas keputusan-keputusan yang dibuatnya..”
Bokap menjelaskan, terdengar Salsa mulai terisak dan akhirnya menangis sejadi-jadinya. Gua hanya bisa (lagi-lagi) menghela nafas. Jadi selama ini semua keputusan yang keluar dari mulut bokap, semua penolakan-penolakan atas pacar-pacar Salsa justru di inisiasi oleh Ibu. Dan Bokap berusaha membuatnya terlihat seperti keputusannya.
“Jadi, ibu juga yang nggak setuju sama Desita?”
Gua bertanya, bingung mengajukan pertanyaan ke siapa.
“Iya! Justru Ibumu yang paling keras menolaknya.. justru selama ini ibumu yang punya idealisme Bibit, bebet dan bobot..”
Bokap menjawab, lugas. Gua mengusap kepala dan menggaruk-garuk rambut. Pantaslah semua ini terjadi, gua mengingat garis keturunan ibu yang memang keturunan langsung dari kasunanan Surakarta, sedangkan bokap ‘cuma’ turunan Abdi dalem. Jelas Ibu-lah yang seharusnya paling ‘saklek’ perihal Bibit, bebet dan bobot dan gua nggak menyadari hal itu
“Tapi, hin.. sa.. jangan pernah sekali-kali menyalahkan ibu kalian..”
Bokap bicara sambil berdiri disebelah ibu yang duduk diatas kursi kebesaran bokap.
“Coba kamu cari tau deh sa.. jadi apa Andre sekarang? Dia hilang, dicari-cari debt collector, hutangnya dimana-mana.. dan kamu tau Arya gimana? Apa kamu tau kalo Arya sudah punya istri?”
Mendengar itu Salsa yang tangisnya mulai mereda kembali terisak.
“.. banyak dari keputusan ibu yang tepat, bahkan hampir semuanya tepat.. kecuali satu.. dia salah mengenai Desita..”
“Hah?”
Gua terkaget.
“... Ibumu berkeras kalau bibit, bebet dan bobot Desita jauh dari standar kita, dan justru bapak yang berusaha mati-matian membuktikan kalau Ibumu salah.. Tanpa Salsa sadari, Bapak berusaha menggiring –nya agar mau membujuk Desita berkuliah untuk mendapatkan gelar Sarjana, memenuhi bobotnya, sedangkan untuk bibitnya, bapak rasa cerita tentang Pak Pambudi; ayahnya Desita sudah cukup menggambarkan kalau Desita berasal dari keluarga baik-baik.. Untuk bebetnya.. jelas Desita memiliki cukup kredibilitas dalam menjalankan sebuah perusahaan, bahkan dia sudah membuktikannya.. “
“Hah maksudnya?”
Gua bertanya mengenai penjelasan dari kalimat terakhir yang diucapkan bokap.
“..Setelah berhasil mencari tau tentang Desita sampai ke akarnya, bapak kemudian berusaha membimbing Desita melalui Yohannes.. dari report-report yang diberikan yohannes, bapak tau kalau Desita punya cukup kemampuan untuk menjalankan sebuah perusahaan, bahkan kemampuannya melebihi kalian berdua.. Enam bulan terakhir ini Desita sudah menduduki jabatan Direktur Finansial Sinar Surya Trading, dan setelah nanti Yohannes pensiun Desita lah yang bakal menggantikan posisinya..”
Gua ternganga mendengar penjelasan bokap, lutut gua terasa lemas, bagian kepala gua terasa semakin berat dan seperti ditusuk-tusuk. Walau begitu, benak gua sempat berfikir dan mencoba mem-flashback kejadian beberapa hari yang lalu, saat gua mengantar Desita ke kantor. Saat itu kami berjalan bersisian saat memasuki kantor, beberapa karyawan mengucapkan salam dan memberi hormat berlebihan kepada gua.. bukan.. bukan.. karyawan disana bahkan tidak ada yang mengenal gua, mereka belumlah tau siapa gua.. dan mereka bukanlah memberi salam dan hormat ke gua.. melainkan ke ... Desita, si Direktur Finansial.
Tubuh gua terasa bergetar, bagian kepala belakang gua seperti tertusuk-tusuk. Kemudian semua menjadi gelap. Yang terdengar hanya samar teriakan suara Desita.
rinandya dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Kutip
Balas