“Jadi pulang naik apaan mas ?” tanya mas momo aka Tisaga.
“Blom tau mas” jawab ane.
Yup memang untuk armada pulang kali ini ane belom menentukan mau naik armada yang mana, yang jelas harus masuk budjet yang hanya kisaran 150k untuk sampai jogja
“Lebih baik naik yang belom pernah mas, ato estafet pake budiman” tambah mas mo.
“pengennya begitu mas, tapi kalo estafet mending kaga dulu deh” jawab ane sambil tetap membuka halaman intenet untuk mencari no agen yang masuk dalam hitungan.
===
Siang itu sekitar jam 11.00 ane beranjak dari penampungan Bimakus Jakarta di pancoran dengan menumpang kendaraan dinas empunya. Turun didepan hotel kaisar untuk lanjut ke Pool sebuah po di bilangan pasar rebo. Terlihat kopaja 57 mendekat, yang merupakan akses angkutan mumer tercepat, segera ane memberi isyarat layaknya penumpang. Lumayan penuh 57 saat itu, berdiri merupakan hal biasa saat ane menaiki kopaja dengan trayek KPR-Blok M ini. Tarikan khas bis kota jakarta menyusuri kemacetan antara Kalibata-Cililitan. Sampai PGC banyak sewa turun dan akhirnya terbebas dari berdiri. Kemacetan menjadi pemandangan yang sangat biasa saat menyusuri kramat jati hingga ane menginjakkan kaki didepan pool.
Gunung Harta. Yup, kali ini ane kembali akan menyusuri jalur pantura dengan armada berwarna mayoritas hijau ini. Terakhir kali ane terpuaskan dengan tingkah armada asli bali ini. Notabene pendatang baru tidak mengubah cara melaju armada kepunyaan I Wayan Sutika ini.
“mbak, mau ambil tiket pesenan kejogja hari ini” kata ane ke petugas tiketing pool
“atas nama siapa ya mas?” tanya petugas tiketing
“atas nama Anjar mbak” jawab ane.
“ok mas, bentar ya” jawab petugas sambil mengecek data penumpang hari ini
“tiket atas nama mas anjar dengan tujuan jogja, no seat 4b ya, Rp 145.000 ya mas, naik Rp 10.000 soalnya masih dalam rangka liburan sekolah” kata petugas tiketing
“ok mbak” jawab ane sambil mengeluarkan selembar merah dan biru untuk menebus satu malam menyusuri pantura malam ini.
Kali ini ane ikut seri G, termasuk seri terbaru setelah sebelumnya fokus ke area ponorogo dan malang. Tiket RP 145.000 memuat rute yang diambil jakarta-semarang-solo-klaten dan berakhir di pool jogja, free makan, dan dengan jumlah seat 38 ane rasa cukup sesuai dengan apa yang ane bayarkan.
Setelah selesai dengan urusan tiket ane putuskan nongkrong di warung depan pool sekalian menunggu nyonya yang akan menyusul ke pool. Ane memang sengaja ga foto2 seperti biasa karena saat itu sedang panas luar biasa dan juga males ngeluarin kamera.
Sambil menunggu nyonya, tercatat satu jurusan malang dan ponorogo angkat jangkar. Sekitar jam 14.00 barulah nyonya datang bersamaan masuknya seri E kalo ga salah. Sambil menunggu jam 16.00 ane dan nyonya menunggu di ruang tunggu pool. Sempat menantang mas zuhdan ikut ngelen ke jogja walau akhirnya kaga jadi ikut. Maaf ya mas zuhdan
Akhirnya seri G merapat ke pool. Buritan dengan lampu smile khas travego dengan emblem MB disebelah kanan kap mesin akhirnya menjadi tunggangan ane pulang malam ini. 1525 dengan air suspension terparkir dengan kondisi hampir full seat. Setelah dipanggil untuk segera naik ke armada dan berpamitan ke nyonya akhirnya ane menempati seat 4b yang sudah ane pesan. Sore itu manifest penumpang terlihat full seat bahkan hingga kursi CD dan CB. Sangat istimewa rupanya okupansi saat liburan seperti sekarang.
Tidak lama setelah pengecekan penumpang. 1525 ini pun di berangkatkan langsung masuk tol depan pool. Suasana tol JORR sore itu terbilang rame lancar. Tercatat membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai pintu Cikarang Utama. Budiman 3E51, Santoso seri Z, beberapa Raya, Madu Kismo dan Arjuna Samba menjadi teman menyusuri kemacetan hingga pintu tol Cikarang Utama.
Lepas Cikarang Utama sopir pinggir kembali memacu seri G konstan di jalur 3 dan 4. Sesekali menyisir bahu jalan. Armada yang sudah terbilang berumur ternyata tidak mengurangi kenyamanan dan daya pacu mesin OM 906 LA II ini. Selain itu cara driver pinggir yang smooth juga membuat banyak penumpang larut dan tertidur dalam perjalanan.
Kemacetan dialami lagi saat exit tol dawuan. Kemacetan mengular dari jalur exit hingga pintu tol. Menjelang pintu tol terlihat New Shantika berhulu pacu Hino RK air sus yang tidak terlihat kodenya mencoba merusak antrian di pintu tol. Keluar pintu tol bersamaan dengan new shantika. Terjadi adu sprint sebentar yang dengan valid dimenangkan po dari kota ukir tersebut. Ruas antara pintu tol hingga mall cikampek dilalui dengan pelan. Jalanan berlubang sedikit diredam dengan suspensi udara bawaan karoseri. Kaadaan mulai gelap saat seri G melintasi fly over jomin. Sempat bermain dengan Sumba putra dan Tunggal dara. Lepas RM Haryanto, masih terlihat sepi, ada kejadian yang kurang mengenakkan menurut ane. Tapi lebih baik off the record ajah ya.
19.40 seri G menghentikan lajunya di RM Taman Sari Pamanukan. Terlihat rombongan Harapan Jaya, SSM dan Nusantara sudah terparkir. Setelah menunaikan kewajiban langsung ane ambil serpis makan. Lumayan dapet ayam 1 potong yang agak gedhe, kayaknya mbaknya tau ane dalam masa pertumbuhan
20.25 seri G kembali mengaspal setelah menunaikan agenda resmi beristirahat. Kali ini gas di injak dengan tipe yang sama dari driver pinggir. Pembedanya hanya kecepatannya lebih cepat dari pada yang sebelumnya. Smooth tapi berani tempel. Diruas Pamanukan-Indramayu beberapa cirebonan dipaksa memberikan jalan. Sempat bermain dengan legacy SR1 Laju Prima hingga menjelang masuk lingkar Indramayu. Perbedaan power tidak membuat seri G mengalah begitu saja. Percumbuan dua po ini bersama-sama mengeliminasi beberapa sinar jaya dan wonogirian.
Persimpangan jalur Indramayu menjadi pemisah perjalanan. LP lanjut melalui ringroad dan seri G memutuskan untuk melalui jalur lama atau via Kota. Pemilihan jalur ini terbukti efektif. Jalur sepi nyaris tanpa dihantuin rombongan “gerandong”, sebutan untuk truk, dilalui dengan kecepatan yang konstan. Tercatat hanya konvoi truk rokok yang melintasi jalur ini. Ane memang sengaja berusaha untuk tidak tidur. Sekalian ngapalin jalur ini, maklum jarang sekali lewat jalur ini.
Tidak terasa jarum jam menunjukkan jam 23.15 saat seri G berhenti sebelum lampu merah tanjung yang notabene adalah pusat pertemuan arus dari cirebon dan tol pejagan. Rupanya driver mampir di warung untuk refill kopi. Kurang lebih sepuluh menit kemudian seri G di pacu kembali. Ruas jalan yang cenderung bergelombang, beberapa kali membuat bis berguncang. Memasuki kota Tegal terlata lancar jaya. Bahkan dititik kemacetan depan pom Muri pun lancar. Entah berapa top speed kali ini. Maklum ane tidak berbekal hape dengan aplikasi speedometer. Namun yang pasti saat jarum jam menunjukkan angka 00.30 seri G sudah memasuki Pekalongan.
Menyusuri kota Pekalongan bersama beberapa PO yang terkenal banter seperti Zentrum, Bejeu dll. Sempat memutuskan untuk blong kanan menjelang traffic light bersama LP, dan Zentrum. Tentu saja tanpa kompor.
Menjelang batang ane sempat tertidur. Kemudian bangun lagi saat di overtake 2 armada pak H Haryanto yang tidak ane apal no lambungnya.
Memasuki alas roban seri G diarahkan menuju jalur baru. Kontur yang menurun dipacu konstan beriringan dengan armada Sumba Putra. Masuk RM Sari Rasa untuk kontrol saat waktu menunjukkan jam 02.00 dini hari.
Keluar Sari Rasa kemudi berpindah tangan kembali ke sopir pinggir. Melewati Gerbang Elok terlihat 3 pasukan Ramayana sedang rehat. Tidak lama setelah itu ane tertidur. Penumpang turun pertama kali di jrakah Semarang. Ga sempet lihat jam berapa. Lanjut tidur sampe kenek teriak “delanggu, delanggu.”
Masih jam 5 lebih seinget ane. Istimewa dalam hati ane. Bis tetap berjalan smooth tapi tetap bisa berlari. Bongkar penumpang agak lama di Penggung. Melewati Prambanan belom ada armada Jakartaan yang terlihat dan akhirnya sampai pool saat jam menunjukkan jam 6.20.
Pengalaman dan cerita baru lagi bersama Gunung Harta. Dan sekali lagi ane tidak kecewa dengan pilihan ane kali ini. 1525 mampu menorehkan cerita ciamik perjalanan kali ini. Mematahkan anggapan yang bisa tepat waktu hanya bis dengan sasis baru dan solar cor.
Sekian dari ane, maaf tanpa gambar/penampakan