- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#412
PART 29 – Lost in Yogyakarta (5)
Gue tutup itu telpon Amel, dan gue buru-buru mengejar Anin didepan yang menggandeng Shinta. Gue liat muka Shinta bingung dengan perkembangan ini, sementara gue belum sempat menjelaskan apa-apa ke Shinta, Aninnya masih kayak gitu. Gue raih tangan kiri Anin yang nganggur, dan tanpa gue duga dia menyentakkan tangan gue. Kaget gue dengan perlakuannya dia yang kayak gitu.
Anin terdiam. Gue terlanjur jengkel sama Anin. Gue merasa selama ini gue berusaha semaksimal mungkin buat selalu ada disamping Anin, tapi karena Amel telepon gak ada semenit, apa yang gue lakukan selama ini jadi terlupakan. Gue memandang Anin tajam, menunggu jawabannya dia. Entah berapa lama kami terdiam kayak gitu. Dan mungkin kami akan terdiam lebih lama lagi seandainya gak ada Shinta yang memecahkan kesunyian.
Gue tersadar dari emosi gue. Dengan tatapan bersalah, gue memandangi Shinta, kemudian memandangi Anin. Gue gandeng tangan kanan Anin, dan gue gandeng tangan kiri Shinta.
Kamipun keluar museum dengan bergandengan tangan. Atau lebih tepatnya gue keluar museum dengan menggandeng dua cewek ngambek.
Di dalam mobil Anin masih terdiam membisu. Gue lirik Shinta dari kaca spion tengah, dan gue memiringkan kepala. Shinta menangkap maksud gue, dan mengucapkan “yang sabar yah” ke gue tanpa suara. Gue tersenyum kecil dan mengangguk ke Shinta melalui spion. Gue lirik Anin, kemudian gue genggam erat tangan kanannya. Anin menoleh ke gue, dan memandangi gue, yang gue balas dengan senyuman lemah. Di wajah Anin terbentuk sedikit senyum lemah, dan kemudian dia mengangguk kecil dan mengalihkan pandangannya ke kaca depan.
Lama kemudian, kami sampai di pantai Parangtritis. Waktu itu menunjukkan tengah hari, jadi lagi panas-panasnya. Gue parkirkan mobil, dan kamipun berjalan cukup jauh ke area pantai. Sesampai disana, kami disambut oleh deburan ombak ganas Samudera Hindia yang bergulung-gulung ke arah kami. Gue liat Shinta tersenyum lebar melihat itu, dan berjalan menuju tepi pantai. Gue liat Anin, ada senyum di wajahnya. Gue gandeng tangannya, dan gue tersenyum ke Anin. Kemudian kami berdua berjalan menyusuri pantai itu meskipun panas matahari serasa membakar kulit gue.
Gue merasa gue harus membuka pembicaraan, dan gue lakukan itu.
Gue mendadak teringat Shinta. Langsung lah mata gue jelalatan kesana kemari nyari Shinta. Males aja kalo dia ilang lagi buat kedua kalinya. Kalo dia ilang lagi, gue udah niatin makein dia lonceng sapi biar dari jauh kedengeran suara “klontong-klontong” jadi gue gak perlu repot nyariin. Syukurlah gue liat dia di depan kami sedang bermain-main dengan ombak kecil. Gue tertawa kecil, dan sambil tetap merangkul Anin, gue berjalan menuju Shinta.
*gue dibantai*
Quote:
Gue tutup itu telpon Amel, dan gue buru-buru mengejar Anin didepan yang menggandeng Shinta. Gue liat muka Shinta bingung dengan perkembangan ini, sementara gue belum sempat menjelaskan apa-apa ke Shinta, Aninnya masih kayak gitu. Gue raih tangan kiri Anin yang nganggur, dan tanpa gue duga dia menyentakkan tangan gue. Kaget gue dengan perlakuannya dia yang kayak gitu.
Quote:
Anin terdiam. Gue terlanjur jengkel sama Anin. Gue merasa selama ini gue berusaha semaksimal mungkin buat selalu ada disamping Anin, tapi karena Amel telepon gak ada semenit, apa yang gue lakukan selama ini jadi terlupakan. Gue memandang Anin tajam, menunggu jawabannya dia. Entah berapa lama kami terdiam kayak gitu. Dan mungkin kami akan terdiam lebih lama lagi seandainya gak ada Shinta yang memecahkan kesunyian.
Quote:
Gue tersadar dari emosi gue. Dengan tatapan bersalah, gue memandangi Shinta, kemudian memandangi Anin. Gue gandeng tangan kanan Anin, dan gue gandeng tangan kiri Shinta.
Quote:
Kamipun keluar museum dengan bergandengan tangan. Atau lebih tepatnya gue keluar museum dengan menggandeng dua cewek ngambek.
Di dalam mobil Anin masih terdiam membisu. Gue lirik Shinta dari kaca spion tengah, dan gue memiringkan kepala. Shinta menangkap maksud gue, dan mengucapkan “yang sabar yah” ke gue tanpa suara. Gue tersenyum kecil dan mengangguk ke Shinta melalui spion. Gue lirik Anin, kemudian gue genggam erat tangan kanannya. Anin menoleh ke gue, dan memandangi gue, yang gue balas dengan senyuman lemah. Di wajah Anin terbentuk sedikit senyum lemah, dan kemudian dia mengangguk kecil dan mengalihkan pandangannya ke kaca depan.
Lama kemudian, kami sampai di pantai Parangtritis. Waktu itu menunjukkan tengah hari, jadi lagi panas-panasnya. Gue parkirkan mobil, dan kamipun berjalan cukup jauh ke area pantai. Sesampai disana, kami disambut oleh deburan ombak ganas Samudera Hindia yang bergulung-gulung ke arah kami. Gue liat Shinta tersenyum lebar melihat itu, dan berjalan menuju tepi pantai. Gue liat Anin, ada senyum di wajahnya. Gue gandeng tangannya, dan gue tersenyum ke Anin. Kemudian kami berdua berjalan menyusuri pantai itu meskipun panas matahari serasa membakar kulit gue.
Gue merasa gue harus membuka pembicaraan, dan gue lakukan itu.
Quote:
Gue mendadak teringat Shinta. Langsung lah mata gue jelalatan kesana kemari nyari Shinta. Males aja kalo dia ilang lagi buat kedua kalinya. Kalo dia ilang lagi, gue udah niatin makein dia lonceng sapi biar dari jauh kedengeran suara “klontong-klontong” jadi gue gak perlu repot nyariin. Syukurlah gue liat dia di depan kami sedang bermain-main dengan ombak kecil. Gue tertawa kecil, dan sambil tetap merangkul Anin, gue berjalan menuju Shinta.
Quote:
*gue dibantai*
chanry dan 5 lainnya memberi reputasi
6



: duh mel, telponnya entar lagi yak, waktunya lagi gak pas
: ih kamu kok sekarang jahat sih sama akuuuu
: kenapa? Cewek kamu itu marah kan?
: eh bent….
: tau ah!
: udah dari dulu kaliiii
: apaan waktu mas kecil mukanya kayak cepot gitu
: awas kalo ikutan ngambek
: cari ikan, siapa tau dapet
: : aku putra duyung berarti, yuk berenang bareng yuk
: trus trus trus apaan emang?
: ikan asin.