- Beranda
- Berita dan Politik
Selamatkan Indonesia DARI PRABOWO - HATTA RAJASA
...
TS
ken nero
Selamatkan Indonesia DARI PRABOWO - HATTA RAJASA
Quote:
"Kebenaran akan membebaskan Anda. Tapi pertama-tama, itu akan membuatmu marah "-. Gloria Steinem
Prabowo Mulai Bokek, Kalah dan Akan Bangkrut
Tanggal 20 Mei sudah lewat, pemilihan presiden 2014 ini memastikan hanya diikuti dua pasang kandidat, yaitu pasangan Jokowi – JK dan pasangan Prabowo – Hatta. Artinya, bisa dipastikan Pilpres hanya akan berjalan satu putaran. Ada satu hal mengganjal di pikiran, karena sebelumnya aku mengira Pilpres akan diikuti tiga pasang kandidat. Silakan cek, hampir semua pengamat pung memperkirakan itu sampai sebulan lalu. Sebenarnya, Prabowo adalah orang yang sangat berkepentingan dengan adanya poros ketiga untuk memperbesar peluang kemenangannya. Data-data hasil survei selama ini menunjukkan Prabowo sebagai kandidat runner up, sehingga membutuhkan kandidat ketiga untuk memecah suara kandidat terkuat. Skenario ini bukan hal baru, karena biasa diterapkan di berbagai proses pemilihan kepala daerah hingga kepala desa sekali pun.
Dengan kalkulasi itu, seorang runner up selayaknya memainkan kandidat ketiga sebagai capres boneka. Dalam konstelasi Pilpres kali ini, ARB adalah aktor yang paling memungkinkan membangun poros ketiga. ARB adalah politisi pengusaha yang tak akan jauh dari hitungan untung rugi. Dia sudah merugi selama lima tahun memimpin Golkar, sehingga perlu mencari cara untuk mengembalikan keuntungannya. Kalau Prabowo memberinya mahar untuk membangun poros ketiga, pasti ARB akan menerimanya. Di sisi lain, masih ada partai demokrat yang “berhutang” untuk memajukan kandidat karena terlanjur menggelar konvensi. Jadi, perjodohanan antara ARB dan cawapres dari Partai Demokrat sebagai poros ketiga bersifat “sangat mungkin.”
Tentu saja, itu tergantung seberapa berani Prabowo membayar tiket capres ketiga itu pada ARB. Kalau poros ketiga itu terbentuk, hasil berbagai survei menunjukkan bahwa suara ARB pun tak akan melampaui Prabowo. Artinya, dia akan berhasil memecah suara Jokowi sehingga memuluskan langkah Prabowo untuk head to head dengan Jokowi pada putaran kedua. Dengan adanya dua putaran ini, Prabowo akan bisa mengevaluasi proses selama putaran pertama, untuk memperkuat konsolidasi pemenangan pada putaran berikutnya. Itu akan membuat durasi pertarungan lebih panjang, sehingga cukup waktu bagi Prabowo untuk mencari titik-titik lemah Jokowi. Dengan adanya dua putaran, Prabowo akan memiliki banyak bahan evaluasi untuk mencari kelemahan-kelemahan Jokowi. Secara teori psikologi politik, pihak yang kalah kuat harus mengulur konfrontasi sehingga dia memiliki kesempatan lebih panjang untuk merebut kemenangan.
Anehnya, langkah itu tidak dilakukan Prabowo. Apa yang salah? Sebagai veteran tentara, pasti dia tahu strategi itu, tapi kenapa tak melakukannya? Jawabannya sudah tersirat di depan, yaitu karena dia gagal menyediakan kompensasi bagi ARB untuk maju sebagai kandidat ketiga. Kalau itu dia lakukan, sebenarnya ARB bisa dipastikan hanya menempati urutan ketiga, namun bisa memaksa Pilpres berjalan dua putaran. Di putaran kedua ARB bisa bergabung dengan Prabowo untuk beramai-ramai mengeroyok Jokowi. Semua itu sangat mungkin disepakati dalam kontrak Prabowo dengan ARB untuk memunculkan poros ketiga.
Efek penyatuan kekuatan antara ARB dengan Prabowo pun akan jauh lebih kuat jika dilakukan pada putaran kedua. Dalam konteks ini, ada efek balas dendam di mana para pendukung ARB akan lebih militan menggabungkan kekuatannya untuk mengalahkan Jokowi. Tentu, semua itu hanya akan terjadi dengan catatan di atas, Prabowo memiliki bahan bakar yang cukup untuk melakukan pertarungan panjang. Faktanya, Prabowo memang mulai kehabisan dana untuk mengulur pertarungan. Dia bahkan memilih untuk mempercepat durasi pertarungan. Ini sungguh menyalahi teori pertarungan, karena secara universal pihak yang lebih lemah harus memilih rute gerilya yang panjang untuk pelan-pelan menggerogoti lawannya yang lebih kuat.
Tapi, bagaimana pun juga kita harus memahami pilihan realistis Prabowo jika menilik keadaannya. Dia sudah menghabiskan dana 3 Trilyun untuk memperoleh peringkat ketiga dalam pemilu legislatif kemarin. Selain itu, dukungan PPP terhadap pencapresannya juga tidak gratis. Kedatangan Surya Dharma Ali ke kampanye Gerindra sebenarnya disertai pemberian mahar 50 Milyar dari Prabowo untuk PPP. Distribusi yang tak merata memunculkan perpecahan di internal PPP. Tentu saja, perselisihan yang dipicu persoalan duit juga akan cepat kelar kalau diselesaikan dengan pendekatan duit. Artinya, Prabowo harus kembali merogoh koceknya. Bayangkan, betapa besar dana dihamburkan Prabowo yang selalu mengandalkan duit dalam menghadapi berbagai persoalan ini.
Tanpa sadar, cara kerjanya yang melulu mengandalkan duit ini ternyata benar-benar menguras kantongnya. Mau tak mau, sekarang dia harus mulai realistis memainkan skenario politiknya. Seperti pepatah mengatakan, tak ada kata terlambat untuk berhemat. Hal itu juga terlihat dalam pilihannya menerima Hatta Rajasa sebagai cawapres. Sebelumnya, lingkaran dalam Prabowo lebih banyak menginginkan Mahfud MD atau Abraham Samad sebagai cawapres, lantaran elektabilitas mereka jauh lebih tinggi. Tapi lantaran Hatta menawarkan mahar 1,7 Trilyun untuk menjadi Cawapres, akhirnya Prabowo pun menerimanya. Kalau dana Prabowo mencukupi, seharusnya dia memilih Abraham Samad atau Mahfud MD yang elektabilitasnya lebih tinggi. Tapi apa boleh buat, namanya juga kantong mulai kempes.
Akhirnya, tak mengherankan kalau sekarang cuma ada dua pasang kandidat dalam Pilpres 2014 ini, meski pun itu sedikit ganjil kalau dicermati berdasar teori persaingan. Faktor yang sangat determinan di sini, tak lain dan tak bukan, karena Prabowo sudah mulai kehabisan dana. Hal yang sama dialami ARB yang sudah banyak merugi selama memimpin Golkar. Sedari awal dia ngebet maju sebagai Capres meski internal partai banyak yang menertawakan elektabilitasnya. Bagi Bakri, persoalan maju Capres kali ini memang bukan persoalan menang, tapi persoalan mengorek modal dari kandidat runner up yang mau membiayainya. Sayang, Bakri harus kecele karena kandidat yang dia harapkan mampu memainkan poros ketiga pun ternyata juga sudah mulai bokek.
Dalam kalkulasi ini, Bakri memberikan beberapa skenario kepada Prabowo. Skenario pertama, dia akan maju sebagai kandidat ketiga pemecah suara untuk memastikan Pilpres berjalan dua putaran. Dalam skenario ini Bakri hanya akan menempati urutan ketiga dalam putaran pertama Pipres. Pada putaran kedua, barulah poros ketiga ini merapat ke Prabowo untuk beramai-ramai mengeroyok Jokowi. Tentu skenario ini membutuhkan pembiayaan yang tak sedikit, karena Prabowo harus menanggung pembiayaan dua tim.
Skenario kedua, prabowo cukup memberikan kompensasi kepada Bakri untuk mengurangi kerugiannya selama lima tahun memimpin Golkar, lalu Bakri akan bergabung dengan tim Prabowo. Dalam skenario ini, biaya yang diperlukan memang jauh lebih sedikit dibanding biaya pembentukan poros ketiga. Setelah menghitung-hitung sisa kantonya, ternyata Prabowo hanya bisa menerima opsi kedua. Fakta menyedihkan tak bisa dia tolak, bahwa dia memang sudah mulai bokek. Calon yang diharapkan bisa mejadi kandidat poros ketiga pun sudah terlanjur bokek, dan malah mengharap sokongannya untuk tetap maju sebagai Capres. Ya sudahlah balik ke hitung-hitungan aman. Dari pada tarung dua kali dan belum tentu menang, mending tarung sekali aja. Kalau pun kalah, setidaknya bisa meminimalisir duit yang terbuang. Sekali lagi, tak ada kata terlambat untuk berhemat. Maklum, sambil itung-itungan menang kalah Prabowo juga masih terus kepikiran utang perusahaannya yang mencapai 14 Trilyun. Semoga ke depan Prabowo terus mengingat pepatah “hemat pangkal kaya,” agar dia tak selalu “besar pasak dari pada tiang.”
Ditulis Oleh : Sindikat Jogja
Twitter : @SindikatJogja
part 2 page 18+19
part 3 page 20+21
part 4 page 24+25
part 5 page 29+31
Tanggal 20 Mei sudah lewat, pemilihan presiden 2014 ini memastikan hanya diikuti dua pasang kandidat, yaitu pasangan Jokowi – JK dan pasangan Prabowo – Hatta. Artinya, bisa dipastikan Pilpres hanya akan berjalan satu putaran. Ada satu hal mengganjal di pikiran, karena sebelumnya aku mengira Pilpres akan diikuti tiga pasang kandidat. Silakan cek, hampir semua pengamat pung memperkirakan itu sampai sebulan lalu. Sebenarnya, Prabowo adalah orang yang sangat berkepentingan dengan adanya poros ketiga untuk memperbesar peluang kemenangannya. Data-data hasil survei selama ini menunjukkan Prabowo sebagai kandidat runner up, sehingga membutuhkan kandidat ketiga untuk memecah suara kandidat terkuat. Skenario ini bukan hal baru, karena biasa diterapkan di berbagai proses pemilihan kepala daerah hingga kepala desa sekali pun.
Dengan kalkulasi itu, seorang runner up selayaknya memainkan kandidat ketiga sebagai capres boneka. Dalam konstelasi Pilpres kali ini, ARB adalah aktor yang paling memungkinkan membangun poros ketiga. ARB adalah politisi pengusaha yang tak akan jauh dari hitungan untung rugi. Dia sudah merugi selama lima tahun memimpin Golkar, sehingga perlu mencari cara untuk mengembalikan keuntungannya. Kalau Prabowo memberinya mahar untuk membangun poros ketiga, pasti ARB akan menerimanya. Di sisi lain, masih ada partai demokrat yang “berhutang” untuk memajukan kandidat karena terlanjur menggelar konvensi. Jadi, perjodohanan antara ARB dan cawapres dari Partai Demokrat sebagai poros ketiga bersifat “sangat mungkin.”
Tentu saja, itu tergantung seberapa berani Prabowo membayar tiket capres ketiga itu pada ARB. Kalau poros ketiga itu terbentuk, hasil berbagai survei menunjukkan bahwa suara ARB pun tak akan melampaui Prabowo. Artinya, dia akan berhasil memecah suara Jokowi sehingga memuluskan langkah Prabowo untuk head to head dengan Jokowi pada putaran kedua. Dengan adanya dua putaran ini, Prabowo akan bisa mengevaluasi proses selama putaran pertama, untuk memperkuat konsolidasi pemenangan pada putaran berikutnya. Itu akan membuat durasi pertarungan lebih panjang, sehingga cukup waktu bagi Prabowo untuk mencari titik-titik lemah Jokowi. Dengan adanya dua putaran, Prabowo akan memiliki banyak bahan evaluasi untuk mencari kelemahan-kelemahan Jokowi. Secara teori psikologi politik, pihak yang kalah kuat harus mengulur konfrontasi sehingga dia memiliki kesempatan lebih panjang untuk merebut kemenangan.
Anehnya, langkah itu tidak dilakukan Prabowo. Apa yang salah? Sebagai veteran tentara, pasti dia tahu strategi itu, tapi kenapa tak melakukannya? Jawabannya sudah tersirat di depan, yaitu karena dia gagal menyediakan kompensasi bagi ARB untuk maju sebagai kandidat ketiga. Kalau itu dia lakukan, sebenarnya ARB bisa dipastikan hanya menempati urutan ketiga, namun bisa memaksa Pilpres berjalan dua putaran. Di putaran kedua ARB bisa bergabung dengan Prabowo untuk beramai-ramai mengeroyok Jokowi. Semua itu sangat mungkin disepakati dalam kontrak Prabowo dengan ARB untuk memunculkan poros ketiga.
Efek penyatuan kekuatan antara ARB dengan Prabowo pun akan jauh lebih kuat jika dilakukan pada putaran kedua. Dalam konteks ini, ada efek balas dendam di mana para pendukung ARB akan lebih militan menggabungkan kekuatannya untuk mengalahkan Jokowi. Tentu, semua itu hanya akan terjadi dengan catatan di atas, Prabowo memiliki bahan bakar yang cukup untuk melakukan pertarungan panjang. Faktanya, Prabowo memang mulai kehabisan dana untuk mengulur pertarungan. Dia bahkan memilih untuk mempercepat durasi pertarungan. Ini sungguh menyalahi teori pertarungan, karena secara universal pihak yang lebih lemah harus memilih rute gerilya yang panjang untuk pelan-pelan menggerogoti lawannya yang lebih kuat.
Tapi, bagaimana pun juga kita harus memahami pilihan realistis Prabowo jika menilik keadaannya. Dia sudah menghabiskan dana 3 Trilyun untuk memperoleh peringkat ketiga dalam pemilu legislatif kemarin. Selain itu, dukungan PPP terhadap pencapresannya juga tidak gratis. Kedatangan Surya Dharma Ali ke kampanye Gerindra sebenarnya disertai pemberian mahar 50 Milyar dari Prabowo untuk PPP. Distribusi yang tak merata memunculkan perpecahan di internal PPP. Tentu saja, perselisihan yang dipicu persoalan duit juga akan cepat kelar kalau diselesaikan dengan pendekatan duit. Artinya, Prabowo harus kembali merogoh koceknya. Bayangkan, betapa besar dana dihamburkan Prabowo yang selalu mengandalkan duit dalam menghadapi berbagai persoalan ini.
Tanpa sadar, cara kerjanya yang melulu mengandalkan duit ini ternyata benar-benar menguras kantongnya. Mau tak mau, sekarang dia harus mulai realistis memainkan skenario politiknya. Seperti pepatah mengatakan, tak ada kata terlambat untuk berhemat. Hal itu juga terlihat dalam pilihannya menerima Hatta Rajasa sebagai cawapres. Sebelumnya, lingkaran dalam Prabowo lebih banyak menginginkan Mahfud MD atau Abraham Samad sebagai cawapres, lantaran elektabilitas mereka jauh lebih tinggi. Tapi lantaran Hatta menawarkan mahar 1,7 Trilyun untuk menjadi Cawapres, akhirnya Prabowo pun menerimanya. Kalau dana Prabowo mencukupi, seharusnya dia memilih Abraham Samad atau Mahfud MD yang elektabilitasnya lebih tinggi. Tapi apa boleh buat, namanya juga kantong mulai kempes.
Akhirnya, tak mengherankan kalau sekarang cuma ada dua pasang kandidat dalam Pilpres 2014 ini, meski pun itu sedikit ganjil kalau dicermati berdasar teori persaingan. Faktor yang sangat determinan di sini, tak lain dan tak bukan, karena Prabowo sudah mulai kehabisan dana. Hal yang sama dialami ARB yang sudah banyak merugi selama memimpin Golkar. Sedari awal dia ngebet maju sebagai Capres meski internal partai banyak yang menertawakan elektabilitasnya. Bagi Bakri, persoalan maju Capres kali ini memang bukan persoalan menang, tapi persoalan mengorek modal dari kandidat runner up yang mau membiayainya. Sayang, Bakri harus kecele karena kandidat yang dia harapkan mampu memainkan poros ketiga pun ternyata juga sudah mulai bokek.
Dalam kalkulasi ini, Bakri memberikan beberapa skenario kepada Prabowo. Skenario pertama, dia akan maju sebagai kandidat ketiga pemecah suara untuk memastikan Pilpres berjalan dua putaran. Dalam skenario ini Bakri hanya akan menempati urutan ketiga dalam putaran pertama Pipres. Pada putaran kedua, barulah poros ketiga ini merapat ke Prabowo untuk beramai-ramai mengeroyok Jokowi. Tentu skenario ini membutuhkan pembiayaan yang tak sedikit, karena Prabowo harus menanggung pembiayaan dua tim.
Skenario kedua, prabowo cukup memberikan kompensasi kepada Bakri untuk mengurangi kerugiannya selama lima tahun memimpin Golkar, lalu Bakri akan bergabung dengan tim Prabowo. Dalam skenario ini, biaya yang diperlukan memang jauh lebih sedikit dibanding biaya pembentukan poros ketiga. Setelah menghitung-hitung sisa kantonya, ternyata Prabowo hanya bisa menerima opsi kedua. Fakta menyedihkan tak bisa dia tolak, bahwa dia memang sudah mulai bokek. Calon yang diharapkan bisa mejadi kandidat poros ketiga pun sudah terlanjur bokek, dan malah mengharap sokongannya untuk tetap maju sebagai Capres. Ya sudahlah balik ke hitung-hitungan aman. Dari pada tarung dua kali dan belum tentu menang, mending tarung sekali aja. Kalau pun kalah, setidaknya bisa meminimalisir duit yang terbuang. Sekali lagi, tak ada kata terlambat untuk berhemat. Maklum, sambil itung-itungan menang kalah Prabowo juga masih terus kepikiran utang perusahaannya yang mencapai 14 Trilyun. Semoga ke depan Prabowo terus mengingat pepatah “hemat pangkal kaya,” agar dia tak selalu “besar pasak dari pada tiang.”
Ditulis Oleh : Sindikat Jogja
Twitter : @SindikatJogja
part 2 page 18+19
part 3 page 20+21
part 4 page 24+25
part 5 page 29+31
Diubah oleh ken nero 24-06-2014 12:58
0
11.9K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
692.2KThread•57.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ken nero
#19
Quote:
Partai Islam di Sekeliling Prabowo
Hari Kamis lalu, kita masyarakat Indonesia disuguhi komedi yang lebih lawak daripada Opera van Java. Mungkin juga ada yang tak tertawa, tapi menangis tanda menghina atau mencemooh, bisa saja. Bagaimana seorang Menteri Agama ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi oleh KPK. Kutukan apa lagi bagi bangsa Indonesia?
Yang lebih membuat muak bahkan mungkin kita sampai meludah dalam amarah, bahwa yang dikorupsi adalah dana penyelenggaraan haji. Amboi, sungguh menyedihkan. Barangkali, dana yang mereka makan dengan rakusnya itu adalah uang yang dikumpulkan oleh petani-petani tua di pedesaan yang menabung dari bulir-bulir padinya, atau laba dari berjualan ketela. Sungguh, perjalanan haji adalah impian setiap mereka yang ingin menuntaskan kewajiban mereka sebagai manusia beragama.
Demikian menyayat hati kita, jika ingat tubuh ringih nenek atau kakek kita, yang dalam pensiunnya masih berharap dan menabung untuk dapat mengunjungi Baitullah. Dan bayangan itu harus rusak terkoyak-moyak oleh perampok pemakan uang yang bukan dari hasil keringat mereka. Miris rasanya, mendengar rumah besar umat beragama di Indonesia itu menjadi sarang tikus-tikus pengerat. Yang tak kalah menyedihkan, tersangka juga menjabat sebagai ketua PPP yang selalu mengklaim diri sebagai partai islami.
Lengkap sudah, tahun lalu ketua PKS yang juga mengaku Islami dicokok KPK terkait kasus korupsi impor daging sapi. Tentu, umat Islam Indonesia berduka menyaksikan kasus ini. Dan tentu saja, ini bukan kesalahan umat Islam, tapi kesalahan para politisi yang MENJUAL ISLAM demi memperkaya diri, dan menggerogoti uang yang terkumpul juga dari rezeki umat Islam itu sendiri. Naudzubillahi mindzalik, semoga Allah menyadarkan mereka. Dan juga kita yang masih tetap percaya, bahwa mereka yang fasih berbicara agama, terkadang pada mereka pula kemungkaran berada.
Duhai, umat Islam Indonesia sesungguhnya adalah umat islam yang beriman. Dan jika kita mau berkaca, mayoritas umat Islam yang benar-benar zuhud dan iman di dalam hatinya, tak pernah menjual dan menyombongkan keislamannya. Hanya tong kosong yang nyaring bunyinya. Cukuplah seperti Nabi Muhamamd, yang ke Islamannya dapat dilihat dari perbuatan dan sifat diri yang melekat padanya. Maka, jika kita melihat kepada Nabi kita, simbol tak lagi penting. Untuk menjadi orang beragama, maka beragama kita dengan perbuatan. Jika kita berbuat baik, maka baiklah iman kita. Jika kita mampu berbuat dzolim seperti korupsi dana Haji, cukuplah kita tahu di sudut mana diletakkan iman di hati kita.
Prinsip keimanan yang lebih tercermin pada perbuatan adalah cara masyarakat Indonesia beriman selama berabad-abad. Karena itu pula, masyarakat yang sebenar-benar beriman, sungguh tahu bertoleransi. Tidak pernah mau mencap orang lain adalah kafir. Jika bangsa ini tak pernah bertoleransi atau terlahir dari tangan-tangan orang ekstrimis yang latah berucap kafir, maka Republik Indonesia ini tidak akan pernah berdiri. Oleh karenanya jelas sudah, bukan orang-orang seperti itu pula yang dibutuhkan agar Indonesia ini tetap bertahan dan kuat.
Marilah kita cermati Pancasila, pondasi pertama bangunan Republik Indonesia ini adalah keimanan, kemudian dilapis dengan kemanusiaan yang beradab. Barulah terwujud Persatuan Indonesia. Dari sanalah kita menjadi tahu, bahwa para pendiri bangsa ini benar-benar sadar, Indonesia adalah milik bersama. Di dalamnya ada etnis, agama, golongan, dan kebudayaan yang berbeda. Karena itulah kita menganut ideologi Pancasila, bukan ideologi agama.
Lalu, apa yang dilakukan para elit politik yang mengaku Islam ini? Di satu sisi mereka sangat lantang meneriakkan keislaman, tapi di sisi lain kita semua melihat perilaku mereka telah menghina Tuhan. Mereka ini tak lebih dari orang-orang yang menjual Tuhan demi keuntungan pribadinya. Mana yang lebih mulia, orang-orang yang lantang teriak Islam tapi perilakunya berkata sebaliknya, atau orang yang tak pernah menggembar-gemborkan keislamannya, berperilaku sesuai tuntunan Allah?
Saya pilih yang kedua. Agama adalah urusan kita dengan Tuhan, tak ada yang bisa memvonis keyakinan kita, tapi iman itu bisa terlihat dari perilaku keseharian. Karena surga dan neraka bukan milik kita, tetapi milik Allah. Marilah kita membuka hati untuk pikiran yang jernih. Sungguh dalam kedustaan yang besar, orang-orang yang berbicara ayat Tuhan tapi perbuatannya sungguh jauh dari prinsip rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Bahkan kehadirannya tak lebih bak kaum perusak yang telah disebutkan dalam Al Quran.
Jika kita terbiasa hidup jujur, sederhana, bekerja keras, dan menghargai orang lain, maka iman kita akan terjaga. Tanpa perlu menyombongkan identitas agama, Tuhan akan selalu menjaga iman orang yang berperilaku seperti itu. Sebaliknya, orang-orang yang biasa hidup mewah, berfoya-foya, munafik, gemar menfitnah, egois, tidak menghargai orang lain, pastilah iman mereka telah rusak. Mau sekeras apa pun mereka berteriak-teriak tentang identitas agamanya, Tuhan akan tetap murka dengan perilaku mereka. Dan cepat atau lambat, Allah akan memperlihatkan jati diri mereka. Tak pun di akhirat, toh di dunia telah ditunjukkan sesungguhnya mereka.
Terus terang atau kita simpan di dalam hati, jika kita melihat para pejabat mengatasnamakan agama untuk memperoleh jabatan, lalu merampas kekayaan negara demi isi perutnya, sekali waktu kita pernah mengganggap mereka tak lebih baik dari setan.
Hari ini, tampaknya dua golongan umat Islam di Indonesia terlihat semakin kental. Kita semua melihat bagaimana Prabowo dengan koalisinya selalu mengklaim dukungan dari partai-partai dan umat Islam. Tentu, di sini kita perlu bertanya, umat Islam yang mana?
Umat yang mengaku-ngaku Islam tapi hidup mewah dari hasil korupsi?
Itu bukan cerminan umat Islam Indonesia. Umat Islam Indonesia adalah mereka yang tak menggembar-gemborkan agamanya, tapi hidup dengan jujur, sederhana, suka bekerja keras, dan menghargai orang lain.
Faktanya, dua partai Islam yang saat ini memberikan dukungan pada Prabowo sudah menunjukkan dosanya secara nyata, yaitu DIKETUAI OLEH KORUPTOR. Tahun lalu, ketua umum PKS, Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) terjerat kasus korupsi, dan sekarang Surya Dharma Ali (SDA) ketua umum PPP. Lebih menyedihkan lagi kalau kita melihat gaya hidup para penjual nama Tuhan ini. Luthfi Hasan Ishaaq kita tahu memiliki empat orang istri, masing-masing istrinya diberi rumah pribadi dengan berbagai fasilitas dan mobil pribadinya. Itu belum termasuk sebelas anaknya yang tentu juga menghabiskan biaya tak sedikit untuk kehidupan sehari-harinya.
Salah satu isterinya yang masih berusia di bawah 20, juga diberi rumah dan mobil pribadi. Isteri pejabat, sepertinya harap bergaya hidup dan berpenampilan kere. Tak hanya itu, perlu dicatat juga bahwa Luthfi Hasan Ishaaq menghabiskan ratusan juta rupiah untuk HANYA memodifikasi sound system mobilnya. Entah dalil apa yang digunakan ustadz ini untuk membenarkan gaya hidupnya. Entah berapa mulut anak yatim yang bisa kenyang di malam hari dengan uang ratusan juta demi perangkat suara di mobil mewahnya itu.
Setali tiga uang, Surya Dharma Ali pun menerapkan gaya hidup yang serupa. Meski pun secara resmi dia hanya mengakui satu isteri dengan delapan anak, tapi sudah banyak yang tahu kalau dia juga punya isteri dengan pernikahan siri. Isteri simpanan ini malah seorang model senior. Tentu saja, tak murah juga membiayai isteri seperti itu. Akhirnya, mau setinggi apa pun jabatan jika gaya hidupnya telah mementingkan kenikmatan pribadi, tetap saja tidak akan cukup mengandalkan gaji dan tunjangan jabatan menteri.
Tampaknya, itu juga yang membuat para politisi yang gemar berbicara keislaman itu terjerat kasus korupsi. Dan yang tak kalah perih, SDA mengembat biaya penyelenggaraan haji demi kepentingan pribadi. Mungkin inilah yang ditangisi oleh Nabi Muhammad sebelum ia meninggal dunia, menangisi umatnya yang munafik, berbicara fasih beragama tapi hidup dan berfoya-foya menghisap keringat dan darah orang lain. Naudzubiillahi mindzalik. Jauhkan kami dari hidup yang penuh kemungkaran ya Allah.
Jadi, bagaimana mereka bicara keislaman, kepentingan umat, kepedulian kepada mulut-mulut yang lapar yang menadahkan tangan di persimpangan jalan, sementara mereka tak berpuas diri memenuhi nafsu pribadi? Lupakah mereka jika Nabi Muhammad sang saudagar kaya dengan harta yang halal saja tak mau makan gandum berlebihan jika masih ada masyarakatnya yang kelaparan. Itukah mereka yang mengatasnamakan umat Islam, sementara perilaku mereka menginjak-injak nilai keislaman dan menjual murah harga diri umat Islam Indonesia?
Apakah partai-partai Islam itu membawa aspirasi umat Islam dan hadir untuk menjadi media dakwah keimanan? TIDAK. Sebagai orang Islam, saya malu dengan perilaku mereka. Semoga, Tuhan mencabut rizki orang-orang yang kencang berteriak Islam tapi perilakunya menghina Allah itu. Semoga uang yang dirampas dari keringat orang-orang tua miskin di persawahan, dikembalikan berkah dan rahmatnya ke kehidupan mereka.
Jika kita sebagai umat masih percaya kepada kebohongan dan tingkah fasiq para pemimpin partai Islam itu, masih memilih mereka sebagai pemimpin di negeri ini, maka kita telah bersama-sama pula berbuat kemungkaran di muka bumi.
Hari Kamis lalu, kita masyarakat Indonesia disuguhi komedi yang lebih lawak daripada Opera van Java. Mungkin juga ada yang tak tertawa, tapi menangis tanda menghina atau mencemooh, bisa saja. Bagaimana seorang Menteri Agama ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi oleh KPK. Kutukan apa lagi bagi bangsa Indonesia?
Yang lebih membuat muak bahkan mungkin kita sampai meludah dalam amarah, bahwa yang dikorupsi adalah dana penyelenggaraan haji. Amboi, sungguh menyedihkan. Barangkali, dana yang mereka makan dengan rakusnya itu adalah uang yang dikumpulkan oleh petani-petani tua di pedesaan yang menabung dari bulir-bulir padinya, atau laba dari berjualan ketela. Sungguh, perjalanan haji adalah impian setiap mereka yang ingin menuntaskan kewajiban mereka sebagai manusia beragama.
Demikian menyayat hati kita, jika ingat tubuh ringih nenek atau kakek kita, yang dalam pensiunnya masih berharap dan menabung untuk dapat mengunjungi Baitullah. Dan bayangan itu harus rusak terkoyak-moyak oleh perampok pemakan uang yang bukan dari hasil keringat mereka. Miris rasanya, mendengar rumah besar umat beragama di Indonesia itu menjadi sarang tikus-tikus pengerat. Yang tak kalah menyedihkan, tersangka juga menjabat sebagai ketua PPP yang selalu mengklaim diri sebagai partai islami.
Lengkap sudah, tahun lalu ketua PKS yang juga mengaku Islami dicokok KPK terkait kasus korupsi impor daging sapi. Tentu, umat Islam Indonesia berduka menyaksikan kasus ini. Dan tentu saja, ini bukan kesalahan umat Islam, tapi kesalahan para politisi yang MENJUAL ISLAM demi memperkaya diri, dan menggerogoti uang yang terkumpul juga dari rezeki umat Islam itu sendiri. Naudzubillahi mindzalik, semoga Allah menyadarkan mereka. Dan juga kita yang masih tetap percaya, bahwa mereka yang fasih berbicara agama, terkadang pada mereka pula kemungkaran berada.
Duhai, umat Islam Indonesia sesungguhnya adalah umat islam yang beriman. Dan jika kita mau berkaca, mayoritas umat Islam yang benar-benar zuhud dan iman di dalam hatinya, tak pernah menjual dan menyombongkan keislamannya. Hanya tong kosong yang nyaring bunyinya. Cukuplah seperti Nabi Muhamamd, yang ke Islamannya dapat dilihat dari perbuatan dan sifat diri yang melekat padanya. Maka, jika kita melihat kepada Nabi kita, simbol tak lagi penting. Untuk menjadi orang beragama, maka beragama kita dengan perbuatan. Jika kita berbuat baik, maka baiklah iman kita. Jika kita mampu berbuat dzolim seperti korupsi dana Haji, cukuplah kita tahu di sudut mana diletakkan iman di hati kita.
Prinsip keimanan yang lebih tercermin pada perbuatan adalah cara masyarakat Indonesia beriman selama berabad-abad. Karena itu pula, masyarakat yang sebenar-benar beriman, sungguh tahu bertoleransi. Tidak pernah mau mencap orang lain adalah kafir. Jika bangsa ini tak pernah bertoleransi atau terlahir dari tangan-tangan orang ekstrimis yang latah berucap kafir, maka Republik Indonesia ini tidak akan pernah berdiri. Oleh karenanya jelas sudah, bukan orang-orang seperti itu pula yang dibutuhkan agar Indonesia ini tetap bertahan dan kuat.
Marilah kita cermati Pancasila, pondasi pertama bangunan Republik Indonesia ini adalah keimanan, kemudian dilapis dengan kemanusiaan yang beradab. Barulah terwujud Persatuan Indonesia. Dari sanalah kita menjadi tahu, bahwa para pendiri bangsa ini benar-benar sadar, Indonesia adalah milik bersama. Di dalamnya ada etnis, agama, golongan, dan kebudayaan yang berbeda. Karena itulah kita menganut ideologi Pancasila, bukan ideologi agama.
Lalu, apa yang dilakukan para elit politik yang mengaku Islam ini? Di satu sisi mereka sangat lantang meneriakkan keislaman, tapi di sisi lain kita semua melihat perilaku mereka telah menghina Tuhan. Mereka ini tak lebih dari orang-orang yang menjual Tuhan demi keuntungan pribadinya. Mana yang lebih mulia, orang-orang yang lantang teriak Islam tapi perilakunya berkata sebaliknya, atau orang yang tak pernah menggembar-gemborkan keislamannya, berperilaku sesuai tuntunan Allah?
Saya pilih yang kedua. Agama adalah urusan kita dengan Tuhan, tak ada yang bisa memvonis keyakinan kita, tapi iman itu bisa terlihat dari perilaku keseharian. Karena surga dan neraka bukan milik kita, tetapi milik Allah. Marilah kita membuka hati untuk pikiran yang jernih. Sungguh dalam kedustaan yang besar, orang-orang yang berbicara ayat Tuhan tapi perbuatannya sungguh jauh dari prinsip rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Bahkan kehadirannya tak lebih bak kaum perusak yang telah disebutkan dalam Al Quran.
Jika kita terbiasa hidup jujur, sederhana, bekerja keras, dan menghargai orang lain, maka iman kita akan terjaga. Tanpa perlu menyombongkan identitas agama, Tuhan akan selalu menjaga iman orang yang berperilaku seperti itu. Sebaliknya, orang-orang yang biasa hidup mewah, berfoya-foya, munafik, gemar menfitnah, egois, tidak menghargai orang lain, pastilah iman mereka telah rusak. Mau sekeras apa pun mereka berteriak-teriak tentang identitas agamanya, Tuhan akan tetap murka dengan perilaku mereka. Dan cepat atau lambat, Allah akan memperlihatkan jati diri mereka. Tak pun di akhirat, toh di dunia telah ditunjukkan sesungguhnya mereka.
Terus terang atau kita simpan di dalam hati, jika kita melihat para pejabat mengatasnamakan agama untuk memperoleh jabatan, lalu merampas kekayaan negara demi isi perutnya, sekali waktu kita pernah mengganggap mereka tak lebih baik dari setan.
Hari ini, tampaknya dua golongan umat Islam di Indonesia terlihat semakin kental. Kita semua melihat bagaimana Prabowo dengan koalisinya selalu mengklaim dukungan dari partai-partai dan umat Islam. Tentu, di sini kita perlu bertanya, umat Islam yang mana?
Umat yang mengaku-ngaku Islam tapi hidup mewah dari hasil korupsi?
Itu bukan cerminan umat Islam Indonesia. Umat Islam Indonesia adalah mereka yang tak menggembar-gemborkan agamanya, tapi hidup dengan jujur, sederhana, suka bekerja keras, dan menghargai orang lain.
Faktanya, dua partai Islam yang saat ini memberikan dukungan pada Prabowo sudah menunjukkan dosanya secara nyata, yaitu DIKETUAI OLEH KORUPTOR. Tahun lalu, ketua umum PKS, Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) terjerat kasus korupsi, dan sekarang Surya Dharma Ali (SDA) ketua umum PPP. Lebih menyedihkan lagi kalau kita melihat gaya hidup para penjual nama Tuhan ini. Luthfi Hasan Ishaaq kita tahu memiliki empat orang istri, masing-masing istrinya diberi rumah pribadi dengan berbagai fasilitas dan mobil pribadinya. Itu belum termasuk sebelas anaknya yang tentu juga menghabiskan biaya tak sedikit untuk kehidupan sehari-harinya.
Salah satu isterinya yang masih berusia di bawah 20, juga diberi rumah dan mobil pribadi. Isteri pejabat, sepertinya harap bergaya hidup dan berpenampilan kere. Tak hanya itu, perlu dicatat juga bahwa Luthfi Hasan Ishaaq menghabiskan ratusan juta rupiah untuk HANYA memodifikasi sound system mobilnya. Entah dalil apa yang digunakan ustadz ini untuk membenarkan gaya hidupnya. Entah berapa mulut anak yatim yang bisa kenyang di malam hari dengan uang ratusan juta demi perangkat suara di mobil mewahnya itu.
Setali tiga uang, Surya Dharma Ali pun menerapkan gaya hidup yang serupa. Meski pun secara resmi dia hanya mengakui satu isteri dengan delapan anak, tapi sudah banyak yang tahu kalau dia juga punya isteri dengan pernikahan siri. Isteri simpanan ini malah seorang model senior. Tentu saja, tak murah juga membiayai isteri seperti itu. Akhirnya, mau setinggi apa pun jabatan jika gaya hidupnya telah mementingkan kenikmatan pribadi, tetap saja tidak akan cukup mengandalkan gaji dan tunjangan jabatan menteri.
Tampaknya, itu juga yang membuat para politisi yang gemar berbicara keislaman itu terjerat kasus korupsi. Dan yang tak kalah perih, SDA mengembat biaya penyelenggaraan haji demi kepentingan pribadi. Mungkin inilah yang ditangisi oleh Nabi Muhammad sebelum ia meninggal dunia, menangisi umatnya yang munafik, berbicara fasih beragama tapi hidup dan berfoya-foya menghisap keringat dan darah orang lain. Naudzubiillahi mindzalik. Jauhkan kami dari hidup yang penuh kemungkaran ya Allah.
Jadi, bagaimana mereka bicara keislaman, kepentingan umat, kepedulian kepada mulut-mulut yang lapar yang menadahkan tangan di persimpangan jalan, sementara mereka tak berpuas diri memenuhi nafsu pribadi? Lupakah mereka jika Nabi Muhammad sang saudagar kaya dengan harta yang halal saja tak mau makan gandum berlebihan jika masih ada masyarakatnya yang kelaparan. Itukah mereka yang mengatasnamakan umat Islam, sementara perilaku mereka menginjak-injak nilai keislaman dan menjual murah harga diri umat Islam Indonesia?
Apakah partai-partai Islam itu membawa aspirasi umat Islam dan hadir untuk menjadi media dakwah keimanan? TIDAK. Sebagai orang Islam, saya malu dengan perilaku mereka. Semoga, Tuhan mencabut rizki orang-orang yang kencang berteriak Islam tapi perilakunya menghina Allah itu. Semoga uang yang dirampas dari keringat orang-orang tua miskin di persawahan, dikembalikan berkah dan rahmatnya ke kehidupan mereka.
Jika kita sebagai umat masih percaya kepada kebohongan dan tingkah fasiq para pemimpin partai Islam itu, masih memilih mereka sebagai pemimpin di negeri ini, maka kita telah bersama-sama pula berbuat kemungkaran di muka bumi.
0
Kutip
Balas