- Beranda
- Berita dan Politik
Selamatkan Indonesia DARI PRABOWO - HATTA RAJASA
...
TS
ken nero
Selamatkan Indonesia DARI PRABOWO - HATTA RAJASA
Quote:
"Kebenaran akan membebaskan Anda. Tapi pertama-tama, itu akan membuatmu marah "-. Gloria Steinem
Prabowo Mulai Bokek, Kalah dan Akan Bangkrut
Tanggal 20 Mei sudah lewat, pemilihan presiden 2014 ini memastikan hanya diikuti dua pasang kandidat, yaitu pasangan Jokowi – JK dan pasangan Prabowo – Hatta. Artinya, bisa dipastikan Pilpres hanya akan berjalan satu putaran. Ada satu hal mengganjal di pikiran, karena sebelumnya aku mengira Pilpres akan diikuti tiga pasang kandidat. Silakan cek, hampir semua pengamat pung memperkirakan itu sampai sebulan lalu. Sebenarnya, Prabowo adalah orang yang sangat berkepentingan dengan adanya poros ketiga untuk memperbesar peluang kemenangannya. Data-data hasil survei selama ini menunjukkan Prabowo sebagai kandidat runner up, sehingga membutuhkan kandidat ketiga untuk memecah suara kandidat terkuat. Skenario ini bukan hal baru, karena biasa diterapkan di berbagai proses pemilihan kepala daerah hingga kepala desa sekali pun.
Dengan kalkulasi itu, seorang runner up selayaknya memainkan kandidat ketiga sebagai capres boneka. Dalam konstelasi Pilpres kali ini, ARB adalah aktor yang paling memungkinkan membangun poros ketiga. ARB adalah politisi pengusaha yang tak akan jauh dari hitungan untung rugi. Dia sudah merugi selama lima tahun memimpin Golkar, sehingga perlu mencari cara untuk mengembalikan keuntungannya. Kalau Prabowo memberinya mahar untuk membangun poros ketiga, pasti ARB akan menerimanya. Di sisi lain, masih ada partai demokrat yang “berhutang” untuk memajukan kandidat karena terlanjur menggelar konvensi. Jadi, perjodohanan antara ARB dan cawapres dari Partai Demokrat sebagai poros ketiga bersifat “sangat mungkin.”
Tentu saja, itu tergantung seberapa berani Prabowo membayar tiket capres ketiga itu pada ARB. Kalau poros ketiga itu terbentuk, hasil berbagai survei menunjukkan bahwa suara ARB pun tak akan melampaui Prabowo. Artinya, dia akan berhasil memecah suara Jokowi sehingga memuluskan langkah Prabowo untuk head to head dengan Jokowi pada putaran kedua. Dengan adanya dua putaran ini, Prabowo akan bisa mengevaluasi proses selama putaran pertama, untuk memperkuat konsolidasi pemenangan pada putaran berikutnya. Itu akan membuat durasi pertarungan lebih panjang, sehingga cukup waktu bagi Prabowo untuk mencari titik-titik lemah Jokowi. Dengan adanya dua putaran, Prabowo akan memiliki banyak bahan evaluasi untuk mencari kelemahan-kelemahan Jokowi. Secara teori psikologi politik, pihak yang kalah kuat harus mengulur konfrontasi sehingga dia memiliki kesempatan lebih panjang untuk merebut kemenangan.
Anehnya, langkah itu tidak dilakukan Prabowo. Apa yang salah? Sebagai veteran tentara, pasti dia tahu strategi itu, tapi kenapa tak melakukannya? Jawabannya sudah tersirat di depan, yaitu karena dia gagal menyediakan kompensasi bagi ARB untuk maju sebagai kandidat ketiga. Kalau itu dia lakukan, sebenarnya ARB bisa dipastikan hanya menempati urutan ketiga, namun bisa memaksa Pilpres berjalan dua putaran. Di putaran kedua ARB bisa bergabung dengan Prabowo untuk beramai-ramai mengeroyok Jokowi. Semua itu sangat mungkin disepakati dalam kontrak Prabowo dengan ARB untuk memunculkan poros ketiga.
Efek penyatuan kekuatan antara ARB dengan Prabowo pun akan jauh lebih kuat jika dilakukan pada putaran kedua. Dalam konteks ini, ada efek balas dendam di mana para pendukung ARB akan lebih militan menggabungkan kekuatannya untuk mengalahkan Jokowi. Tentu, semua itu hanya akan terjadi dengan catatan di atas, Prabowo memiliki bahan bakar yang cukup untuk melakukan pertarungan panjang. Faktanya, Prabowo memang mulai kehabisan dana untuk mengulur pertarungan. Dia bahkan memilih untuk mempercepat durasi pertarungan. Ini sungguh menyalahi teori pertarungan, karena secara universal pihak yang lebih lemah harus memilih rute gerilya yang panjang untuk pelan-pelan menggerogoti lawannya yang lebih kuat.
Tapi, bagaimana pun juga kita harus memahami pilihan realistis Prabowo jika menilik keadaannya. Dia sudah menghabiskan dana 3 Trilyun untuk memperoleh peringkat ketiga dalam pemilu legislatif kemarin. Selain itu, dukungan PPP terhadap pencapresannya juga tidak gratis. Kedatangan Surya Dharma Ali ke kampanye Gerindra sebenarnya disertai pemberian mahar 50 Milyar dari Prabowo untuk PPP. Distribusi yang tak merata memunculkan perpecahan di internal PPP. Tentu saja, perselisihan yang dipicu persoalan duit juga akan cepat kelar kalau diselesaikan dengan pendekatan duit. Artinya, Prabowo harus kembali merogoh koceknya. Bayangkan, betapa besar dana dihamburkan Prabowo yang selalu mengandalkan duit dalam menghadapi berbagai persoalan ini.
Tanpa sadar, cara kerjanya yang melulu mengandalkan duit ini ternyata benar-benar menguras kantongnya. Mau tak mau, sekarang dia harus mulai realistis memainkan skenario politiknya. Seperti pepatah mengatakan, tak ada kata terlambat untuk berhemat. Hal itu juga terlihat dalam pilihannya menerima Hatta Rajasa sebagai cawapres. Sebelumnya, lingkaran dalam Prabowo lebih banyak menginginkan Mahfud MD atau Abraham Samad sebagai cawapres, lantaran elektabilitas mereka jauh lebih tinggi. Tapi lantaran Hatta menawarkan mahar 1,7 Trilyun untuk menjadi Cawapres, akhirnya Prabowo pun menerimanya. Kalau dana Prabowo mencukupi, seharusnya dia memilih Abraham Samad atau Mahfud MD yang elektabilitasnya lebih tinggi. Tapi apa boleh buat, namanya juga kantong mulai kempes.
Akhirnya, tak mengherankan kalau sekarang cuma ada dua pasang kandidat dalam Pilpres 2014 ini, meski pun itu sedikit ganjil kalau dicermati berdasar teori persaingan. Faktor yang sangat determinan di sini, tak lain dan tak bukan, karena Prabowo sudah mulai kehabisan dana. Hal yang sama dialami ARB yang sudah banyak merugi selama memimpin Golkar. Sedari awal dia ngebet maju sebagai Capres meski internal partai banyak yang menertawakan elektabilitasnya. Bagi Bakri, persoalan maju Capres kali ini memang bukan persoalan menang, tapi persoalan mengorek modal dari kandidat runner up yang mau membiayainya. Sayang, Bakri harus kecele karena kandidat yang dia harapkan mampu memainkan poros ketiga pun ternyata juga sudah mulai bokek.
Dalam kalkulasi ini, Bakri memberikan beberapa skenario kepada Prabowo. Skenario pertama, dia akan maju sebagai kandidat ketiga pemecah suara untuk memastikan Pilpres berjalan dua putaran. Dalam skenario ini Bakri hanya akan menempati urutan ketiga dalam putaran pertama Pipres. Pada putaran kedua, barulah poros ketiga ini merapat ke Prabowo untuk beramai-ramai mengeroyok Jokowi. Tentu skenario ini membutuhkan pembiayaan yang tak sedikit, karena Prabowo harus menanggung pembiayaan dua tim.
Skenario kedua, prabowo cukup memberikan kompensasi kepada Bakri untuk mengurangi kerugiannya selama lima tahun memimpin Golkar, lalu Bakri akan bergabung dengan tim Prabowo. Dalam skenario ini, biaya yang diperlukan memang jauh lebih sedikit dibanding biaya pembentukan poros ketiga. Setelah menghitung-hitung sisa kantonya, ternyata Prabowo hanya bisa menerima opsi kedua. Fakta menyedihkan tak bisa dia tolak, bahwa dia memang sudah mulai bokek. Calon yang diharapkan bisa mejadi kandidat poros ketiga pun sudah terlanjur bokek, dan malah mengharap sokongannya untuk tetap maju sebagai Capres. Ya sudahlah balik ke hitung-hitungan aman. Dari pada tarung dua kali dan belum tentu menang, mending tarung sekali aja. Kalau pun kalah, setidaknya bisa meminimalisir duit yang terbuang. Sekali lagi, tak ada kata terlambat untuk berhemat. Maklum, sambil itung-itungan menang kalah Prabowo juga masih terus kepikiran utang perusahaannya yang mencapai 14 Trilyun. Semoga ke depan Prabowo terus mengingat pepatah “hemat pangkal kaya,” agar dia tak selalu “besar pasak dari pada tiang.”
Ditulis Oleh : Sindikat Jogja
Twitter : @SindikatJogja
part 2 page 18+19
part 3 page 20+21
part 4 page 24+25
part 5 page 29+31
Tanggal 20 Mei sudah lewat, pemilihan presiden 2014 ini memastikan hanya diikuti dua pasang kandidat, yaitu pasangan Jokowi – JK dan pasangan Prabowo – Hatta. Artinya, bisa dipastikan Pilpres hanya akan berjalan satu putaran. Ada satu hal mengganjal di pikiran, karena sebelumnya aku mengira Pilpres akan diikuti tiga pasang kandidat. Silakan cek, hampir semua pengamat pung memperkirakan itu sampai sebulan lalu. Sebenarnya, Prabowo adalah orang yang sangat berkepentingan dengan adanya poros ketiga untuk memperbesar peluang kemenangannya. Data-data hasil survei selama ini menunjukkan Prabowo sebagai kandidat runner up, sehingga membutuhkan kandidat ketiga untuk memecah suara kandidat terkuat. Skenario ini bukan hal baru, karena biasa diterapkan di berbagai proses pemilihan kepala daerah hingga kepala desa sekali pun.
Dengan kalkulasi itu, seorang runner up selayaknya memainkan kandidat ketiga sebagai capres boneka. Dalam konstelasi Pilpres kali ini, ARB adalah aktor yang paling memungkinkan membangun poros ketiga. ARB adalah politisi pengusaha yang tak akan jauh dari hitungan untung rugi. Dia sudah merugi selama lima tahun memimpin Golkar, sehingga perlu mencari cara untuk mengembalikan keuntungannya. Kalau Prabowo memberinya mahar untuk membangun poros ketiga, pasti ARB akan menerimanya. Di sisi lain, masih ada partai demokrat yang “berhutang” untuk memajukan kandidat karena terlanjur menggelar konvensi. Jadi, perjodohanan antara ARB dan cawapres dari Partai Demokrat sebagai poros ketiga bersifat “sangat mungkin.”
Tentu saja, itu tergantung seberapa berani Prabowo membayar tiket capres ketiga itu pada ARB. Kalau poros ketiga itu terbentuk, hasil berbagai survei menunjukkan bahwa suara ARB pun tak akan melampaui Prabowo. Artinya, dia akan berhasil memecah suara Jokowi sehingga memuluskan langkah Prabowo untuk head to head dengan Jokowi pada putaran kedua. Dengan adanya dua putaran ini, Prabowo akan bisa mengevaluasi proses selama putaran pertama, untuk memperkuat konsolidasi pemenangan pada putaran berikutnya. Itu akan membuat durasi pertarungan lebih panjang, sehingga cukup waktu bagi Prabowo untuk mencari titik-titik lemah Jokowi. Dengan adanya dua putaran, Prabowo akan memiliki banyak bahan evaluasi untuk mencari kelemahan-kelemahan Jokowi. Secara teori psikologi politik, pihak yang kalah kuat harus mengulur konfrontasi sehingga dia memiliki kesempatan lebih panjang untuk merebut kemenangan.
Anehnya, langkah itu tidak dilakukan Prabowo. Apa yang salah? Sebagai veteran tentara, pasti dia tahu strategi itu, tapi kenapa tak melakukannya? Jawabannya sudah tersirat di depan, yaitu karena dia gagal menyediakan kompensasi bagi ARB untuk maju sebagai kandidat ketiga. Kalau itu dia lakukan, sebenarnya ARB bisa dipastikan hanya menempati urutan ketiga, namun bisa memaksa Pilpres berjalan dua putaran. Di putaran kedua ARB bisa bergabung dengan Prabowo untuk beramai-ramai mengeroyok Jokowi. Semua itu sangat mungkin disepakati dalam kontrak Prabowo dengan ARB untuk memunculkan poros ketiga.
Efek penyatuan kekuatan antara ARB dengan Prabowo pun akan jauh lebih kuat jika dilakukan pada putaran kedua. Dalam konteks ini, ada efek balas dendam di mana para pendukung ARB akan lebih militan menggabungkan kekuatannya untuk mengalahkan Jokowi. Tentu, semua itu hanya akan terjadi dengan catatan di atas, Prabowo memiliki bahan bakar yang cukup untuk melakukan pertarungan panjang. Faktanya, Prabowo memang mulai kehabisan dana untuk mengulur pertarungan. Dia bahkan memilih untuk mempercepat durasi pertarungan. Ini sungguh menyalahi teori pertarungan, karena secara universal pihak yang lebih lemah harus memilih rute gerilya yang panjang untuk pelan-pelan menggerogoti lawannya yang lebih kuat.
Tapi, bagaimana pun juga kita harus memahami pilihan realistis Prabowo jika menilik keadaannya. Dia sudah menghabiskan dana 3 Trilyun untuk memperoleh peringkat ketiga dalam pemilu legislatif kemarin. Selain itu, dukungan PPP terhadap pencapresannya juga tidak gratis. Kedatangan Surya Dharma Ali ke kampanye Gerindra sebenarnya disertai pemberian mahar 50 Milyar dari Prabowo untuk PPP. Distribusi yang tak merata memunculkan perpecahan di internal PPP. Tentu saja, perselisihan yang dipicu persoalan duit juga akan cepat kelar kalau diselesaikan dengan pendekatan duit. Artinya, Prabowo harus kembali merogoh koceknya. Bayangkan, betapa besar dana dihamburkan Prabowo yang selalu mengandalkan duit dalam menghadapi berbagai persoalan ini.
Tanpa sadar, cara kerjanya yang melulu mengandalkan duit ini ternyata benar-benar menguras kantongnya. Mau tak mau, sekarang dia harus mulai realistis memainkan skenario politiknya. Seperti pepatah mengatakan, tak ada kata terlambat untuk berhemat. Hal itu juga terlihat dalam pilihannya menerima Hatta Rajasa sebagai cawapres. Sebelumnya, lingkaran dalam Prabowo lebih banyak menginginkan Mahfud MD atau Abraham Samad sebagai cawapres, lantaran elektabilitas mereka jauh lebih tinggi. Tapi lantaran Hatta menawarkan mahar 1,7 Trilyun untuk menjadi Cawapres, akhirnya Prabowo pun menerimanya. Kalau dana Prabowo mencukupi, seharusnya dia memilih Abraham Samad atau Mahfud MD yang elektabilitasnya lebih tinggi. Tapi apa boleh buat, namanya juga kantong mulai kempes.
Akhirnya, tak mengherankan kalau sekarang cuma ada dua pasang kandidat dalam Pilpres 2014 ini, meski pun itu sedikit ganjil kalau dicermati berdasar teori persaingan. Faktor yang sangat determinan di sini, tak lain dan tak bukan, karena Prabowo sudah mulai kehabisan dana. Hal yang sama dialami ARB yang sudah banyak merugi selama memimpin Golkar. Sedari awal dia ngebet maju sebagai Capres meski internal partai banyak yang menertawakan elektabilitasnya. Bagi Bakri, persoalan maju Capres kali ini memang bukan persoalan menang, tapi persoalan mengorek modal dari kandidat runner up yang mau membiayainya. Sayang, Bakri harus kecele karena kandidat yang dia harapkan mampu memainkan poros ketiga pun ternyata juga sudah mulai bokek.
Dalam kalkulasi ini, Bakri memberikan beberapa skenario kepada Prabowo. Skenario pertama, dia akan maju sebagai kandidat ketiga pemecah suara untuk memastikan Pilpres berjalan dua putaran. Dalam skenario ini Bakri hanya akan menempati urutan ketiga dalam putaran pertama Pipres. Pada putaran kedua, barulah poros ketiga ini merapat ke Prabowo untuk beramai-ramai mengeroyok Jokowi. Tentu skenario ini membutuhkan pembiayaan yang tak sedikit, karena Prabowo harus menanggung pembiayaan dua tim.
Skenario kedua, prabowo cukup memberikan kompensasi kepada Bakri untuk mengurangi kerugiannya selama lima tahun memimpin Golkar, lalu Bakri akan bergabung dengan tim Prabowo. Dalam skenario ini, biaya yang diperlukan memang jauh lebih sedikit dibanding biaya pembentukan poros ketiga. Setelah menghitung-hitung sisa kantonya, ternyata Prabowo hanya bisa menerima opsi kedua. Fakta menyedihkan tak bisa dia tolak, bahwa dia memang sudah mulai bokek. Calon yang diharapkan bisa mejadi kandidat poros ketiga pun sudah terlanjur bokek, dan malah mengharap sokongannya untuk tetap maju sebagai Capres. Ya sudahlah balik ke hitung-hitungan aman. Dari pada tarung dua kali dan belum tentu menang, mending tarung sekali aja. Kalau pun kalah, setidaknya bisa meminimalisir duit yang terbuang. Sekali lagi, tak ada kata terlambat untuk berhemat. Maklum, sambil itung-itungan menang kalah Prabowo juga masih terus kepikiran utang perusahaannya yang mencapai 14 Trilyun. Semoga ke depan Prabowo terus mengingat pepatah “hemat pangkal kaya,” agar dia tak selalu “besar pasak dari pada tiang.”
Ditulis Oleh : Sindikat Jogja
Twitter : @SindikatJogja
part 2 page 18+19
part 3 page 20+21
part 4 page 24+25
part 5 page 29+31
Diubah oleh ken nero 24-06-2014 12:58
0
11.9K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
694KThread•58.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ken nero
#18
Quote:
Selamatkan Indonesia DARI PRABOWO - HATTA RAJASA [PART 2]
Prabowo Soekarnois Palsu
Prabowo selama ini mencitrakan diri sebagai sosok yang mirip Presiden pertama RI, Soekarno. Mulai dari gaya busana, hingga image yang digembar-gemborkan timnya, semua menggiring persepsi publik bahwa dia memiliki kemiripan dengan Soekarno. Dalam penentuan deklarasi pasangan Prabowo-Hatta pun, dia ingin terus mempertahankan image itu, sehingga memilih ‘Rumah Polonia’ yang pernah ditempati Soekarno sebagai tempat deklarasinya. Bahkan Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Suhardi, tidak ragu-ragu menyebut Prabowo sebagai pengagum Soekarno. Secara tegas Suhardi membenarkan bahwa suasana deklarasi memang dibuat bergaya Soekarno jaman dahulu. “Ya kita memang pengagum Soekarno, cara pakaian kita juga menerima. Kita juga pendukung idealisme Soekarno karena kemandiriannya,” kata Suhardi di rumah Polonia.
Namun benarkah Prabowo mencerminkan sosok dan kepribadian seorang Soekarno? Apakah hanya dengan memakai baju safari berkantong dua di depan dada, lalu seseorang sudah bisa kita anggap seperti Soekarno? Betapa mudahnya jika begitu.
Amboi, sungguh kita orang yang mampu berpikir jernih tak boleh menelan mentah-mentah menu pencitraan yang disajikan seorang Prabowo. Lihat saja berbagai tindak-tanduk dan pernyataan Prabowo Subianto di forum publik. Sungguh membuktikan bahwa upaya pencitraan yang dia buat sama sekali tak konsisten. Bahkan bisa bahwa Prabowo bersama tim suksesnya sedang membangun sebuah kebohongan publik secara sistematis.
19 Desember 2013, usai Mukernas MKGR di Hotel Kartika Candra, Jakarta, Prabowo Subianto mengakui dirinya dan Partai Golkar adalah bagian dari Orde Baru. “Kita ini friend, kalian dulu bagian Orde Baru. Saya juga bagian Orde Baru,” kata Prabowo. Tentu saja yang dimaksud Prabowo Subianto dengan Orde Baru adalah jaman di mana Indonesia dikuasai Suharto. Prabowo kembali melontarkan pernyataan senada pada seminar nasional ‘Membangun Kembali Indonesia Raya Berdasarkan Konstitusi’ dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. “Kalau Pak Harto fit sampai sekarang, dia terpilih jadi presiden 2014,” kata Prabowo di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa Orde Baru dibangun di atas tumbangnya Seokarno. Peralihan kepemimpinan dari Soekarno kepada Soeharto, tidak terjadi melalui proses yang normal. Tetapi dipenuhi ketegangan dan intrik politik. Berbekal Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar 11 Maret 1966), Soeharto mengambil kebijakan dan keputusan politik yang penting tanpa persetujuan Soekarno. Padahal isi dari Supersemar sendiri lebih menekankan pada penyerahan kekuasaan militer (dalam artian pengamanan jalannya pemerintahan) dan bukan sebagai penyerahan kekuasaan politik dari Soekarno ke Soeharto.
Terjadinya dualism kepemimpinan itulah yang mewarnai peralihan kekuasaan politik dari Soekarno kepada Soeharto. Bahkan setelah kekuasaan beralih Soekarno masih berstatus sebagai presiden. Berdasarkan kesaksian Jendral Soebandrio, tindakan-tindakan yang diambil oleh Soeharto hingga ia diangkat sebagai pejabat presiden pada tahun 1967, merupakan kudeta merangkak.Proses kudetanya tidak langsung menghantam, melainkan secara perlahan-lahan.
Sepertinya tidak perlu lagi kita bersusah-susah menjabarkan bagaimana kepemimpinan Soeharto yang militeristik. Cukup tanyakan saja kepada orang tua kita, mereka yang pernah hidup di masa berbicara menjadi begitu menakutkan dan hidup yang diliputi rasa was-was jika bertindak berbeda dari apa yang digariskan pemerintah.
Lalu, apa isi hati dan kepala Prabowo sesungguhnya? Dia memasang berbagai atribut pencitraan sosok Soekarno, namun dengan bangga pula menyebut sebagai pewaris Orde Baru, sang pengkhianat Soekarno.
Wah wah, inilah bentuk petualangan politik yang dijalankan Prabowo bersama tim suksesnya. Bergaya ala Soekarno tak lebih dari sekedar pendongkrak popularitas, hanya sebagai pembungkus citra belaka. Karena ia tahu, jika ia berani mengatakan bahwa ia pengagum dan pelaksana pemikiran Soeharto dan Orde Baru, maka tak ada masa depan baginya memenangkan pilpres 2014. Sungguh seorang yang bermain dengan kebohongan. Toh, syarat-syarat sesungguhnya telah terpenuhi; warisan Orba, mantan militer, dan tak ramah pada perbedaan (lihat manifesto Partai Gerindra).
Prabowo sepertinya hendak mempraktekkan pameo Jawa ‘Diumbulke duwur terus ditibake’, dinaikkan tinggi-tinggi lalu dijatuhkan. Popularitas Soekarno dipuja-puja setinggi langit, untuk kemudian dijatuhkan dan dikangkangi dengan kembalinya otoriter dan oligarki Orde Baru.
Jika ditelusuri dari riwayat keluarganya, tak heran jika Prabowo mewarisi sifat petualang politik yang ugal-ugalan, dan oportunis. Ayahnya adalah Sumitro Djojohadikusumo, yang juga mengaku sebagai pengagum Soekarno. Bahkan pada era pemerintahan Soekarno, pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian RI dan ikut mendirikan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ironisnya, ayah Prabowo pula yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Soekarno.
Periode akhir tahun 1950-an, keluarga Prabowo adalah 1 dari 10 keluarga pemberontak PRRI/Permesta yang berlindung di Singapura. Pada Mei 1957, Sumitro menghilang di pedalaman Sumatera untuk mempersiapkan deklarasi PRRI/ Permesta. Pada akhir 1950-an, ayah Prabowo lari ke luar negeri karena diburu aparat pemerintahan Soekarno lantaran terlibat aktif dalam gerakan separatis PRRI/ Permesta yang disponsori Amerika Serikat. Paska tergulingnya pemerintahan Soekarno, Sumitro Djojohadikusumo membawa keluarganya, termasuk Prabowo untuk kembali ke Indonesia dan menyokong pemerintahan Orde Baru.
Sejarah keluarga dan bagaimana seseorang dididik dan hidup di masa lalu, sungguh mempengaruhi ia bersikap dan berpikir. Catatan sejarah di atas adalah bukti bahwa apa yang diucapkan Prabowo kini, berlainan dengan isi hati sesungguhnya. Hanya secara simbolik, ia berkoar-koar mengagumi Soekarno. Tapi masa lalu tak pernah berdusta, dan masa lalu selalu aktual. Sejarah pengkhianatan di masa lalu, juga akan kembali ke depan mata kita.
Bapaknya Prabowo, Soemitro adalah anti Soekarno dan pro Orde Baru. Ia pula yang mendukung Soeharto perlahan-lahan menyingkirkan Bung Karno hingga keluarganya. Ayah Prabowo adalah Antek Amerika yang menentang kebijakan ekonomi berdikari Soekarno. Prabowo pun banyak belajar tentang ekonomi dari ayahnya. Itulah mengapa Hasjim, adik Prabowo begitu dekat dengan penguasa ekonomi Amerika seperti keluarga Yahudi, Rothschild. Khususnya Nathaniel Philip Rothschild, teman dekat Hasjim, adik Prabowo.
Lalu sekarang dia koar-koar ingin mewujudkan kemandirian ekonomi nasional? Omong kosong macam apa yang digembar-gemborkan itu? Dari mana akar pemikirannya?
Bagi Prabowo, figur dan sosok apalagi pemikiran Soekarno adalah pemanis kampanye demi pencitraan semata. Apalagi jika bukan untuk popularitas. Bagaimana bisa Prabowo sensitif mewujudkan masyarakat mandiri yang memiliki kuasa atas modal mereka hidup, toh ia lahir dan besar dalam kemewahan. Jika pun sekarang ia telah peduli, apakah pernah ia mengurangi lapis penjagaan protokolnya demi membiarkan masyarakat memiliki ruang bertemu dengan calon pemimpin mereka? Seorang ketua Dewan Pertimbangan Partai saja sudah pengamana berlapis lima, apalagi nanti menjadi Presiden?
Yah, sepertinya Prabowo berkepribadian ganda, tipe yang inkonsisten. Jadi, masih percayakah kita bahwa Prabowo adalah seorang Soekarnois?
Ditulis Olah : Sindikat Jogja
Twitter : @SindikatJogja
==============================================
Referensi :
http://www.gatra.com/pemilu-capres/5...%E2%80%8F.html
http://www.tribunnews.com/pemilu-201...-akan-soekarno
http://news.detik.com/pemilu2014/rea...-prabowo-hatta
http://www.waspada.co.id/index.php?o...itik&Itemid=30
http://yoilah.blogspot.com/2014/04/p....V4a2fZIN.dpuf
Lembaga Analisa Informasi, Kontroversi Supersemar dalam Transisi Kekuasaan Soekarno-Soeharto, Yogyakarta: Penerbit Media Pressindo, 1998, hlm. 84.
Soebandrio, Kesaksianku tentang G-30-S , Jakarta: Forum Pendukung Reformasi Total, 2001, hlm. 60-61.
http://id.wikipedia.org/wiki/Soemitr...johadikoesoemo
http://soedoetpandang.wordpress.com/...anak-pelarian/
link
Prabowo Soekarnois Palsu
Prabowo selama ini mencitrakan diri sebagai sosok yang mirip Presiden pertama RI, Soekarno. Mulai dari gaya busana, hingga image yang digembar-gemborkan timnya, semua menggiring persepsi publik bahwa dia memiliki kemiripan dengan Soekarno. Dalam penentuan deklarasi pasangan Prabowo-Hatta pun, dia ingin terus mempertahankan image itu, sehingga memilih ‘Rumah Polonia’ yang pernah ditempati Soekarno sebagai tempat deklarasinya. Bahkan Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Suhardi, tidak ragu-ragu menyebut Prabowo sebagai pengagum Soekarno. Secara tegas Suhardi membenarkan bahwa suasana deklarasi memang dibuat bergaya Soekarno jaman dahulu. “Ya kita memang pengagum Soekarno, cara pakaian kita juga menerima. Kita juga pendukung idealisme Soekarno karena kemandiriannya,” kata Suhardi di rumah Polonia.
Namun benarkah Prabowo mencerminkan sosok dan kepribadian seorang Soekarno? Apakah hanya dengan memakai baju safari berkantong dua di depan dada, lalu seseorang sudah bisa kita anggap seperti Soekarno? Betapa mudahnya jika begitu.
Amboi, sungguh kita orang yang mampu berpikir jernih tak boleh menelan mentah-mentah menu pencitraan yang disajikan seorang Prabowo. Lihat saja berbagai tindak-tanduk dan pernyataan Prabowo Subianto di forum publik. Sungguh membuktikan bahwa upaya pencitraan yang dia buat sama sekali tak konsisten. Bahkan bisa bahwa Prabowo bersama tim suksesnya sedang membangun sebuah kebohongan publik secara sistematis.
19 Desember 2013, usai Mukernas MKGR di Hotel Kartika Candra, Jakarta, Prabowo Subianto mengakui dirinya dan Partai Golkar adalah bagian dari Orde Baru. “Kita ini friend, kalian dulu bagian Orde Baru. Saya juga bagian Orde Baru,” kata Prabowo. Tentu saja yang dimaksud Prabowo Subianto dengan Orde Baru adalah jaman di mana Indonesia dikuasai Suharto. Prabowo kembali melontarkan pernyataan senada pada seminar nasional ‘Membangun Kembali Indonesia Raya Berdasarkan Konstitusi’ dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. “Kalau Pak Harto fit sampai sekarang, dia terpilih jadi presiden 2014,” kata Prabowo di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa Orde Baru dibangun di atas tumbangnya Seokarno. Peralihan kepemimpinan dari Soekarno kepada Soeharto, tidak terjadi melalui proses yang normal. Tetapi dipenuhi ketegangan dan intrik politik. Berbekal Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar 11 Maret 1966), Soeharto mengambil kebijakan dan keputusan politik yang penting tanpa persetujuan Soekarno. Padahal isi dari Supersemar sendiri lebih menekankan pada penyerahan kekuasaan militer (dalam artian pengamanan jalannya pemerintahan) dan bukan sebagai penyerahan kekuasaan politik dari Soekarno ke Soeharto.
Terjadinya dualism kepemimpinan itulah yang mewarnai peralihan kekuasaan politik dari Soekarno kepada Soeharto. Bahkan setelah kekuasaan beralih Soekarno masih berstatus sebagai presiden. Berdasarkan kesaksian Jendral Soebandrio, tindakan-tindakan yang diambil oleh Soeharto hingga ia diangkat sebagai pejabat presiden pada tahun 1967, merupakan kudeta merangkak.Proses kudetanya tidak langsung menghantam, melainkan secara perlahan-lahan.
Sepertinya tidak perlu lagi kita bersusah-susah menjabarkan bagaimana kepemimpinan Soeharto yang militeristik. Cukup tanyakan saja kepada orang tua kita, mereka yang pernah hidup di masa berbicara menjadi begitu menakutkan dan hidup yang diliputi rasa was-was jika bertindak berbeda dari apa yang digariskan pemerintah.
Lalu, apa isi hati dan kepala Prabowo sesungguhnya? Dia memasang berbagai atribut pencitraan sosok Soekarno, namun dengan bangga pula menyebut sebagai pewaris Orde Baru, sang pengkhianat Soekarno.
Wah wah, inilah bentuk petualangan politik yang dijalankan Prabowo bersama tim suksesnya. Bergaya ala Soekarno tak lebih dari sekedar pendongkrak popularitas, hanya sebagai pembungkus citra belaka. Karena ia tahu, jika ia berani mengatakan bahwa ia pengagum dan pelaksana pemikiran Soeharto dan Orde Baru, maka tak ada masa depan baginya memenangkan pilpres 2014. Sungguh seorang yang bermain dengan kebohongan. Toh, syarat-syarat sesungguhnya telah terpenuhi; warisan Orba, mantan militer, dan tak ramah pada perbedaan (lihat manifesto Partai Gerindra).
Prabowo sepertinya hendak mempraktekkan pameo Jawa ‘Diumbulke duwur terus ditibake’, dinaikkan tinggi-tinggi lalu dijatuhkan. Popularitas Soekarno dipuja-puja setinggi langit, untuk kemudian dijatuhkan dan dikangkangi dengan kembalinya otoriter dan oligarki Orde Baru.
Jika ditelusuri dari riwayat keluarganya, tak heran jika Prabowo mewarisi sifat petualang politik yang ugal-ugalan, dan oportunis. Ayahnya adalah Sumitro Djojohadikusumo, yang juga mengaku sebagai pengagum Soekarno. Bahkan pada era pemerintahan Soekarno, pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian RI dan ikut mendirikan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ironisnya, ayah Prabowo pula yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Soekarno.
Periode akhir tahun 1950-an, keluarga Prabowo adalah 1 dari 10 keluarga pemberontak PRRI/Permesta yang berlindung di Singapura. Pada Mei 1957, Sumitro menghilang di pedalaman Sumatera untuk mempersiapkan deklarasi PRRI/ Permesta. Pada akhir 1950-an, ayah Prabowo lari ke luar negeri karena diburu aparat pemerintahan Soekarno lantaran terlibat aktif dalam gerakan separatis PRRI/ Permesta yang disponsori Amerika Serikat. Paska tergulingnya pemerintahan Soekarno, Sumitro Djojohadikusumo membawa keluarganya, termasuk Prabowo untuk kembali ke Indonesia dan menyokong pemerintahan Orde Baru.
Sejarah keluarga dan bagaimana seseorang dididik dan hidup di masa lalu, sungguh mempengaruhi ia bersikap dan berpikir. Catatan sejarah di atas adalah bukti bahwa apa yang diucapkan Prabowo kini, berlainan dengan isi hati sesungguhnya. Hanya secara simbolik, ia berkoar-koar mengagumi Soekarno. Tapi masa lalu tak pernah berdusta, dan masa lalu selalu aktual. Sejarah pengkhianatan di masa lalu, juga akan kembali ke depan mata kita.
Bapaknya Prabowo, Soemitro adalah anti Soekarno dan pro Orde Baru. Ia pula yang mendukung Soeharto perlahan-lahan menyingkirkan Bung Karno hingga keluarganya. Ayah Prabowo adalah Antek Amerika yang menentang kebijakan ekonomi berdikari Soekarno. Prabowo pun banyak belajar tentang ekonomi dari ayahnya. Itulah mengapa Hasjim, adik Prabowo begitu dekat dengan penguasa ekonomi Amerika seperti keluarga Yahudi, Rothschild. Khususnya Nathaniel Philip Rothschild, teman dekat Hasjim, adik Prabowo.
Lalu sekarang dia koar-koar ingin mewujudkan kemandirian ekonomi nasional? Omong kosong macam apa yang digembar-gemborkan itu? Dari mana akar pemikirannya?
Bagi Prabowo, figur dan sosok apalagi pemikiran Soekarno adalah pemanis kampanye demi pencitraan semata. Apalagi jika bukan untuk popularitas. Bagaimana bisa Prabowo sensitif mewujudkan masyarakat mandiri yang memiliki kuasa atas modal mereka hidup, toh ia lahir dan besar dalam kemewahan. Jika pun sekarang ia telah peduli, apakah pernah ia mengurangi lapis penjagaan protokolnya demi membiarkan masyarakat memiliki ruang bertemu dengan calon pemimpin mereka? Seorang ketua Dewan Pertimbangan Partai saja sudah pengamana berlapis lima, apalagi nanti menjadi Presiden?
Yah, sepertinya Prabowo berkepribadian ganda, tipe yang inkonsisten. Jadi, masih percayakah kita bahwa Prabowo adalah seorang Soekarnois?
Ditulis Olah : Sindikat Jogja
Twitter : @SindikatJogja
==============================================
Referensi :
http://www.gatra.com/pemilu-capres/5...%E2%80%8F.html
http://www.tribunnews.com/pemilu-201...-akan-soekarno
http://news.detik.com/pemilu2014/rea...-prabowo-hatta
http://www.waspada.co.id/index.php?o...itik&Itemid=30
http://yoilah.blogspot.com/2014/04/p....V4a2fZIN.dpuf
Lembaga Analisa Informasi, Kontroversi Supersemar dalam Transisi Kekuasaan Soekarno-Soeharto, Yogyakarta: Penerbit Media Pressindo, 1998, hlm. 84.
Soebandrio, Kesaksianku tentang G-30-S , Jakarta: Forum Pendukung Reformasi Total, 2001, hlm. 60-61.
http://id.wikipedia.org/wiki/Soemitr...johadikoesoemo
http://soedoetpandang.wordpress.com/...anak-pelarian/
link
Diubah oleh ken nero 23-06-2014 13:46
0
Kutip
Balas