- Beranda
- Stories from the Heart
Everytime
...
TS
robotpintar
Everytime

Song by : Britney Spears
Notice me
Take my hand
Why are we Strangers when
Our love is strong?
Why carry on without me?
Everytime I try to fly,
I fall without my wings,
I feel so small.
I guess I need you baby.
And everytime
I sleep your in my dreams,
I see your face, it's haunting me.
I guess I need you baby.
I make believe
That you are here.
It's the only way
That I see clear.
What have I done?
You seem to moveon easy.
Everytime I try to fly,
I fall without my wings,
I feel so small,
I guess I need you baby.
And everytime I sleep
your in my dreams,
I see your face, you're haunting me
I guess I need you baby.
I may have made it rain,
Please forgive me.
My weakness caused you pain,
And this song's my sorry...
At night I pray,
That soon your face
Will fade away.
Take my hand
Why are we Strangers when
Our love is strong?
Why carry on without me?
Everytime I try to fly,
I fall without my wings,
I feel so small.
I guess I need you baby.
And everytime
I sleep your in my dreams,
I see your face, it's haunting me.
I guess I need you baby.
I make believe
That you are here.
It's the only way
That I see clear.
What have I done?
You seem to moveon easy.
Everytime I try to fly,
I fall without my wings,
I feel so small,
I guess I need you baby.
And everytime I sleep
your in my dreams,
I see your face, you're haunting me
I guess I need you baby.
I may have made it rain,
Please forgive me.
My weakness caused you pain,
And this song's my sorry...
At night I pray,
That soon your face
Will fade away.
FAQ (Frequently asked questions)
Indeks Cerita :
Quote:
Episode 1
Bagian #1
Bagian #2
Bagian #3
Bagian #4
Bagian #5
Bagian #6
Episode 2
Bagian #7
Bagian #8
Bagian #9
Bagian #10
Bagian #11
Bagian #12
Bagian #13
Bagian #14
Bagian #15
Bagian #16
Bagian #17
Bagian #18
Bagian #19
Bagian #20
Episode 3
Bagian #20A
Bagian #20B
Bagian #20C
Bagian #20D
Episode 4
Bagian #21
Bagian #22
Bagian #23
Bagian #24
Bagian #25
Bagian #26
Bagian #27
Bagian #28
Bagian #29
Bagian #30
Episode 5
Bagian #31
Bagian #32
Bagian #33
Bagian #34
Bagian #35
Bagian #36
Bagian #37
Bagian #38
Episode 6
Bagian #39
Bagian #40
Bagian #41
Bagian #42
Bagian #43
Bagian #44
Bagian #45
Bagian #46
Bagian #47
Episode 7
Bagian #48
Bagian #49
Bagian #50
Bagian #51
Bagian #52 (End)
Bagian #1
Bagian #2
Bagian #3
Bagian #4
Bagian #5
Bagian #6
Episode 2
Bagian #7
Bagian #8
Bagian #9
Bagian #10
Bagian #11
Bagian #12
Bagian #13
Bagian #14
Bagian #15
Bagian #16
Bagian #17
Bagian #18
Bagian #19
Bagian #20
Episode 3
Bagian #20A
Bagian #20B
Bagian #20C
Bagian #20D
Episode 4
Bagian #21
Bagian #22
Bagian #23
Bagian #24
Bagian #25
Bagian #26
Bagian #27
Bagian #28
Bagian #29
Bagian #30
Episode 5
Bagian #31
Bagian #32
Bagian #33
Bagian #34
Bagian #35
Bagian #36
Bagian #37
Bagian #38
Episode 6
Bagian #39
Bagian #40
Bagian #41
Bagian #42
Bagian #43
Bagian #44
Bagian #45
Bagian #46
Bagian #47
Episode 7
Bagian #48
Bagian #49
Bagian #50
Bagian #51
Bagian #52 (End)
Quote:
Diubah oleh robotpintar 04-07-2014 13:30
gocharaya dan 103 lainnya memberi reputasi
102
602.6K
Kutip
1.5K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1000
Spoiler for Bagian #45:
“Halo..”
Terdengar suara Desita diujung telepon.
“Ya..”
“Lagi ngapain?”
“Lagi di demangan..”
Gua menjawab santai, merujuk ke sebuah ruangan yang tengah direnovasi, yang bakal menjadi tempat gua menjual produk clothingan.
“Ooh.. tadi pagi ada tamu?”
Desita bertanya, singkat.
“Oo.. mm.. tamu?”
“Iya, tadi mursan SMS..”
“Oh.. Iya Astrid..”
“Ngapain?”
“Nganter undangan.. dia mau merit..”
“Hah serius? Kamu patah hati dong, sol.. yaah aku turut berduka deh..”
Desita bicara sambil seakan meledek gua.
“Asem.. kalo gua patah hati beneran, ntar lu nangis-nangis..”
“Hahaha.. nggak-nggak, jangan doong..”
“Dasar..”
“Yaudah deh..”
“Udah gitu doang? Nelpon cuma nanya gitu aja?”
“Iyah, cuma kroscek ajah.. udah ya, jangan lupa makan..”
“Iyaa.. kirain kangen?”
“Ya itumah nggak usah ditanya sol.. kangen sih udah pasti.. udah ya, aku lagi kerja nih..”
“Yaudah iya..”
Tut tut tut.
Desita mengakhiri panggilan. Beberapa saat kemudian sebuah pesan masuk, dari Desita.
‘Aku kangen terus sama km, love u..’
Gua tersenyum membaca pesan dari Desita, kemudian memasukkan ponsel kedalam saku celana.
Gua memandang sekeliling, sebuah tempat dua lantai yang terletak dipinggir jalan raya, yang kini sedang dalam tahap renovasi dan dekorasi, nggak seberapa lama lagi toko pertama gua akan berdiri dan saat itu terjadi, bokap harus sudah merestui hubungan gua dengan Desita. Gua menggut-manggut sendiri sambil membuat ceklist imajiner didalam pikiran.
Gua sudah cukup dengan kesombongan yang dulu gua punya lewat harta bokap. Kali ini, bisnis yang gua bangun benar-benar murni dari jerih payah dan kerja keras gua sendiri, ya walaupun masih banyak juga ‘jalan’ terbuka mulus gegara keterlanjuran nama belakang bokap yang melekat digua, dan memang nggak bisa dipungkiri ‘power’ bokap dalam dunia bisnis memang luar biasa. Tapi, dalam urusan berkembangnya usaha gua ini, dengan bangga gua bisa menepuk dada berkat ide-ide dan kreatifitas yang mendampinginya. Okelah, memang dalam beberapa terobosan, banyak ide yang keluar dari Desita, seperti ide untuk menciptakan satu desain untuk satu item, jadi satu pelanggan membeli sebuah tees (T-shirt) dengan gambar A, maka itu adalah satu-satunya kaos yang dijual dan si pelanggan nggak bakal menemui ada orang lain yang memiliki tees dengan gambar A tersebut, kecuali desain gua dibajak. Ada juga beberapa Ide yang datang dari teman-teman sesama Desain grafis yang gua kenal, entah dari forum di internet atau teman kuliah dulu, mereka banyak memberi masukan mengenai item-item yang sedang ‘in’ bahkan sampai input mengenai proses sablon yang mumpuni. Oke, kalau begitu gua ralat statement gua diawal kalau gua usaha ini murni jerih payah gua sendiri karena terlalu banyak ide yang malah muncul bukan dari gua, okedeh.
Membangun clothingan dengan menjual produk ekslusif (satu desain untuk satu item) sungguh sebenarnya bukan perkara mudah, coba bayangkan waktu yang dihabiskan untuk membuat satu desain kemudian kalikan dengan quota produksi yang harus dipenuhi. Dalam hal ini, quota produksi gua adalah 40 lusin atau 500 item perbulan, item-item itu meliputi tees, topi, sweater dan jaket. Untuk urusan ‘bottom’ atau bawahan, jelas nggak membutuhkan desain yang ekslusif. Dengan hitungan diatas, maka jelas dalam satu hari gua harus membuat minimal 15 desain dan sekaya-kayanya ide seseorang gua nggak yakin ada yang sanggup membuat desain dengan hitung-hitungan diatas. Dan lagi-lagi sebua ide malah muncul dari Desita;
“Ya kamu hire orang aja untuk bikin desain, gitu aja ribet..”
Tapi, jelas bukan perkara mudah untuk menemukan desainer yang mau dihire untuk membuat 15 desain perhari, sedangkan untuk meng-hire banyak orang sekaligus tentunya bukan perkara mudah untuk urusan kantong gua yang saat ini sedang tidak ada sinkronisasi dengan kantong bokap.
“Yaudah kalo gitu, kamu bayar aja per desain.. desain yang udah ada di orang kamu beli...”
Kira-kira begitu bunyi saran dari Desita yang akhirnya sampai saat ini masih gua gunakan. Jika meminjam istilah ekonomi mungkin dibilang Pay for what you get, jadi berkembangnya sistem ini membuat gua membayar dua kali untuk sebuah desain; pembayaran pertama untuk Desain-nya itu sendiri dan pembayaran kedua jika desain yang sudah terpasang pada item laku terjual. Apakah bayaran per-desainnya besar? Oh tentu tergantung dengan tingkat kesulitan dan waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya dan sudah barang tentu gua adalah orang yang sangat menghargai sebuah karya, gua nggak mau membayar murah sebuah kreatifitas.
Dan berawal dar ‘ide’ Desita itulah akhirnya clothingan gua perlahan mulai dikenal. Nggak hanya membuat sebuah brand dan memasarkannya, sejak enam bulan terakhir gua juga mulai memproduksi item untuk distro-distro lain mulai dari Jogja, Jakarta bahkan Malang. Dan tentunya gua nggak bisa menghandle itu semua sendirian, selain mursan yang bertanggung jawab dalam sisi operasional gua juga memiliki satu orang lagi yang bisa dijadikan penanggung jawab administratif, tentu saja gua memilih orang yang punya pengalaman dalam bidang administrasi, ya walaupun administrasi kasir minimart nggak bisa dibilang sebagai pengalaman ‘penting’ tapi nilai kejujuran bisa menutupinya dan Taufik rasa-rasanya pantas gua datangkan dari Bogor untuk mengisi pos tersebut.
Berbekal dua orang itu lah, gua akhirnya saat ini berdiri disebuah tempat yang mudah-mudahan nantinya bisa disebut kantor.
Terjun langsung dalam usaha seperti ini sepertinya memang berhasil untuk sedikit mengobati kerinduan mendalam terhadap cinta yang terpisah jarak. Terkadang bekerja membuat gua sedikit banyak lupa akan ‘cinta’, lupa akan Desita walaupun tetap nggak bisa dipungkiri saat menggambar tengkorak sambil memendam rindu akan Desita, hasilnya si tengkorak malah jadi tengkorak yang lucu dan ‘unyu-unyu’
Banyak hal yang membuat gua berubah. Tadinya gua menolak percaya dengan anggapan kalau cinta itu bisa merubah seseorang, tapi sekarang gua mengerti kenapa ada anggapan seperti itu. Tentu saja, saat ini jarang sekali orang yang tau bagaimana perilaku gua dulu. Mungkin karena orang-orang yang ada disekitar gua saat ini merupakan orang-orang yang berbeda dengan yang gua kenali dulu. Sekarang gua bisa lebih mentolerir segala sesuatu, gua juga sudah tidak terlalu ‘kolot’ mempertahankan semuanya dalam pola tertentu, gua sudah tidak lagi meminum kopi satu cangkir sehari dan mengenakan pakaian sesuai jadwal walaupun gua tetap selalu memakan kuning telur belakangan dan sepertinya untuk yang terakhir akan selalu begitu. Untuk urusan ego, dan mungkin ini yang paling terasa. Entah kenapa, Desita selalu berhasil mengendalikan ego yang terlalu besar dalam diri, saat mendengar suaranya, meresapi perkataannya dan memaknai nasihatnya, perlahan-lahan ego gua semakin luntur dan kini gua hanya menyisakan sedikit ‘ego’ untuk berkeras ‘melawan’ bokap.
Dan saat ini, ditempat gua berdiri, gua membulatkan tekad untuk menyongsong takdir, melakukan ‘negosiasi’ dengan bokap. Minggu depan Desita akan menjalani sidang kelulusan, dan jika semua berjalan lancar (dan gua harap begitu) maka tiga bulan berikutnya gua akan membawa Desita ke Jakarta. Tidak peduli apapun hasilnya, gua akan tetap membawanya ke Jakarta.
---
Sehari berselang, saat gua tengah beristirahat sambil menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi diberanda teras rumah. Gua mengeluarkan ponsel dan berniat menghubungi Desita, sambil memutar-mutar posel gua menimbang-nimbang apakah harus mengatakan tentang rencana gua membawa Desita ke Jakarta untuk bertemu bokap sekarang, apakah ini waktu yang tepat? Gua cuma takut hal ini malah membuat Desita yang baru akan Sidang Skripsi terganggu konsentrasinya. Gua mengurungkan niat dan kembali memasukkan ponsel kedalam saku. Nggak lama berselang Mursan dan Taufik muncul dari dalam rumah, setelah sejak sore tadi mereka menghabiskan waktu bermain playstation.
“Fik,San,..”
“Ya mas”
Mursan menjawab.
“Gua kayaknya mau pergi sekitar mungkin dua mingguan.. gua tinggal kalian bisa kan?”
“Mau kemana aa?”
Taufik bertanya
“Ke bogor”
“Jemput Mbak Desi ya mas?”
Kali ini Mursan yang bertanya.
“Nggak, mau tau aja lu.. bisa kan?”
“Bisa, tenang aja.. emang mau jalan kapan mas?”
“Kalo besok langsung dapet tiket, besok langsung berangkat..”
“Kok keto’e kesusu tho mas, ene opo?”
“Nggak ada apa-apa.. mursaan..”
Gua bicara ke Mursan sambil berlalu masuk kedalam, berniat memesan tiket pesawat secara online.
---
Esok harinya, jam sudah menunjukkan pukul dua siang saat gua baru saja menginjakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta. Cuaca panas langsung menyambut gua yang baru saja keluar dari terminal, sosok pria botak dengan janggut tebal berdiri menyambut gua sambil cengengesan.
“Apa kabar, bleh..”
Bewok menggapai gua dan mengulurkan tangannya.
“Baik.. elu gimana? Bengkel masih jalan?”
Gua menjabat tangannya dan kemudian bertanya tentang usaha bengkel mobil yang dimilikinya.
“Masih.. tumben banget minta jemput gua lu..”
“Haha.. kangen gua, sekalian nostalgia lah.. “
“Udah hampir tiga taon ya kita nggak ketemu..lebih malah..”
Bewok bicara sambil mengangkat koper kecil gua dan memasukkannya kedalam bagasi mobil sedan miliknya.
“Iya..ya..”
“Gimana? Kabar pertapaan lu setelah lari dari kenyataan ditinggal cewe yang namanya Desita itu?”
“Hahaha.. ketinggalan cerita luh..”
Gua bicara sambil tertawa mendengar pertanyaan si Bewok, kemudian masuk kedalam mobil. Sementara si Bewok terlihat penasaran.
“Maksudnya? Jangan-jangan udah kimpoi lu yak sama cewek jogja?”
“Nggak..”
“Trus..?”
“Udah jalan, ntar gua certain dijalan..”
Kemudian mobil sedan eropa Bewok mulai meluncur meninggalkan Bandara Soekarno Hatta, menembus panasnya aspal jalanan ibukota. Sepanjang perjalanan gua habiskan dengan menceritakan hampir seluruh kisah yang terjadi antara gua dan Desita, serta bagaimana Salsa juga ikut andil dalam perkara ini. Sedangkan perihal Astrid, nggak pernah gua tuturkan kepadanya. Si Bewok hanya manggut-manggut sambil tersenyum mendengar cerita gua, sesekali terdengar dia menggumam; “Parah..”, “Serius lu” atau bahkan “Anj**g”.
“Jangan keluar disini, wok..”
Gua menepuk lengan si Bewok yang hendak mengambil lajur paling kiri, berniat keluar di pintu keluar Tol Slipi. Respon si Bewok, mematikan lampu sein-nya dan kembali ke jalur tengah.
“Kenapa?”
“Lurus aja terus..”
“Kemana?”
“Ke Bogor..”
“Ah lu gila!!.. gua ntar malem mau ada acara..”
“Acara apaan sih? Pentingan mana sama nganter gua ke bogor? Gua kan sahabat lu wok..”
“Pentingan acara gua lah..”
“Alaaah paling juga lu mo main billiard sama cewek-cewek bispak di kemang..”
Si Bewok menempeleng kepala gua dengan gulungan brosur yang ada di dashboard mobilnya.
“Geblek! Ntar malem gua mau lamaran..”
“Hah? Serius lu?”
“Serius lah..”
“Yaudah keluar deh dipintu tol depan.. anterin gua kerumah aja..”
“Maksud gua juga gitu dari tadi..”
Kemudian sesaat suasana di dalam mobil hening seketika. Dan Si Bewok baru kembali membuka suaranya saat kami sudah hampir sampai komplek rumah gua.
“Lu kok nggak ngabar-ngabarin gua wok, mau lamaran?”
“Ya ini gua kabarin..”
“Siapa cewek sial itu?”
“Kampret… justru dia beruntung banget dapetin gua..”
“Siapa wok?”
“Namanya Seila.. “
“Wuih, kenal dimana?”
“Di tempat karaoke…”
“Ah geblek…”
“Lho emang kenapa bleh? Ada yang salah kenal cewek ditempat karaoke.. lu dulu juga sering nyari cewek-cewek bispak di tempat begituan..”
“Geblek.. tapi ya jangan buat dijadiin istri juga laki wook..”
“Ah gua udah cinta mati banget sama dia bleh.. asli dah.. kalau seandainya bokap gua ngelarang aja, gua bakal kimpoi lari..”
Deg!
Kalimat yang baru saja diucapkan Si Bewok, sesaat membuat hati gua terasa seperti tersayat.
“Eh Sorry, bukan maksud nyindir kasus lu sama Desita lho.. tapi gua saranin sih kalo emang restu bokap lu nggak kunjung terbuka, kimpoi lari aja..siapa tau abis lu kimpoi lari bokap lu malah pasrah dan akhirnya menerima kalian.. banyak bleh kasus yang begitu..”
Sungguh, selaknat-laknatnya gua terhadap orang-tua, belum pernah gua sekalipun berfikir untuk ‘kimpoi-lari’. Tapi, mungkin ada benarnya juga apa yang barusan dibilang Si Bewok “kimpoi lari aja..siapa tau abis lu kimpoi lari bokap lu malah pasrah dan akhirnya menerima kalian”. Gua manggut-manggut sebentar kemudian memasukkan ‘kimpoi lari’ sebagai rencana cadangan.
Nggak lama, kami pun tiba didepan rumah gua. Si Bewok turun, mengeluarkan koper kecil gua dari dalam bagasinya. Gua meraih koper tersebut;
“Mampir dulu wok, ngopi..”
“Nggak deh, gua langsung aja..”
“Ntar malem acaranya jam berapa, gua ikut deh..”
“Boleh, tapi agak jauh lamarannya…”
“Emang orang mana wok..”
“Orang purwokerto..”
“Ebuse.. balik lagi dong gua.. yaudah titip salam aja dah buat bokap-nyokap lu dan calon bini lu.. siapa namanya tadi?”
“Seila..”
“Oke deh.. Seila-mat sore kalo gitu..”
“Kampret..”
Bewok, menutup kaca jendela mobilnya dan meluncur pergi. Gua menghela nafas sebentar sambil memandang rumah besar dihadapan gua. Rumah dimana gua tumbuh dewasa dan meremajakan diri. Rumah yang sudah beberapa tahun ini tidak pernah gua kunjungi lagi. Gua melangkahkan kaki masuk kedalam, dan langsung disambut senyuman khas ‘Hisoka’ milik Bapak yang tengah menyiram rumput dan tanaman dihalaman depan.
“Baru sampe kamu hin?”
“Iya..”
Gua berjalan menghampirinya dan mencium tangannya.
“Kayaknya kamu kurusan… kurang makan apa kurang kasih sayang?”
“Dua-duanya..”
Gua berpaling kemudian masuk kedalam rumah.
Terdengar suara Desita diujung telepon.
“Ya..”
“Lagi ngapain?”
“Lagi di demangan..”
Gua menjawab santai, merujuk ke sebuah ruangan yang tengah direnovasi, yang bakal menjadi tempat gua menjual produk clothingan.
“Ooh.. tadi pagi ada tamu?”
Desita bertanya, singkat.
“Oo.. mm.. tamu?”
“Iya, tadi mursan SMS..”
“Oh.. Iya Astrid..”
“Ngapain?”
“Nganter undangan.. dia mau merit..”
“Hah serius? Kamu patah hati dong, sol.. yaah aku turut berduka deh..”
Desita bicara sambil seakan meledek gua.
“Asem.. kalo gua patah hati beneran, ntar lu nangis-nangis..”
“Hahaha.. nggak-nggak, jangan doong..”
“Dasar..”
“Yaudah deh..”
“Udah gitu doang? Nelpon cuma nanya gitu aja?”
“Iyah, cuma kroscek ajah.. udah ya, jangan lupa makan..”
“Iyaa.. kirain kangen?”
“Ya itumah nggak usah ditanya sol.. kangen sih udah pasti.. udah ya, aku lagi kerja nih..”
“Yaudah iya..”
Tut tut tut.
Desita mengakhiri panggilan. Beberapa saat kemudian sebuah pesan masuk, dari Desita.
‘Aku kangen terus sama km, love u..’
Gua tersenyum membaca pesan dari Desita, kemudian memasukkan ponsel kedalam saku celana.
Gua memandang sekeliling, sebuah tempat dua lantai yang terletak dipinggir jalan raya, yang kini sedang dalam tahap renovasi dan dekorasi, nggak seberapa lama lagi toko pertama gua akan berdiri dan saat itu terjadi, bokap harus sudah merestui hubungan gua dengan Desita. Gua menggut-manggut sendiri sambil membuat ceklist imajiner didalam pikiran.
Gua sudah cukup dengan kesombongan yang dulu gua punya lewat harta bokap. Kali ini, bisnis yang gua bangun benar-benar murni dari jerih payah dan kerja keras gua sendiri, ya walaupun masih banyak juga ‘jalan’ terbuka mulus gegara keterlanjuran nama belakang bokap yang melekat digua, dan memang nggak bisa dipungkiri ‘power’ bokap dalam dunia bisnis memang luar biasa. Tapi, dalam urusan berkembangnya usaha gua ini, dengan bangga gua bisa menepuk dada berkat ide-ide dan kreatifitas yang mendampinginya. Okelah, memang dalam beberapa terobosan, banyak ide yang keluar dari Desita, seperti ide untuk menciptakan satu desain untuk satu item, jadi satu pelanggan membeli sebuah tees (T-shirt) dengan gambar A, maka itu adalah satu-satunya kaos yang dijual dan si pelanggan nggak bakal menemui ada orang lain yang memiliki tees dengan gambar A tersebut, kecuali desain gua dibajak. Ada juga beberapa Ide yang datang dari teman-teman sesama Desain grafis yang gua kenal, entah dari forum di internet atau teman kuliah dulu, mereka banyak memberi masukan mengenai item-item yang sedang ‘in’ bahkan sampai input mengenai proses sablon yang mumpuni. Oke, kalau begitu gua ralat statement gua diawal kalau gua usaha ini murni jerih payah gua sendiri karena terlalu banyak ide yang malah muncul bukan dari gua, okedeh.
Membangun clothingan dengan menjual produk ekslusif (satu desain untuk satu item) sungguh sebenarnya bukan perkara mudah, coba bayangkan waktu yang dihabiskan untuk membuat satu desain kemudian kalikan dengan quota produksi yang harus dipenuhi. Dalam hal ini, quota produksi gua adalah 40 lusin atau 500 item perbulan, item-item itu meliputi tees, topi, sweater dan jaket. Untuk urusan ‘bottom’ atau bawahan, jelas nggak membutuhkan desain yang ekslusif. Dengan hitungan diatas, maka jelas dalam satu hari gua harus membuat minimal 15 desain dan sekaya-kayanya ide seseorang gua nggak yakin ada yang sanggup membuat desain dengan hitung-hitungan diatas. Dan lagi-lagi sebua ide malah muncul dari Desita;
“Ya kamu hire orang aja untuk bikin desain, gitu aja ribet..”
Tapi, jelas bukan perkara mudah untuk menemukan desainer yang mau dihire untuk membuat 15 desain perhari, sedangkan untuk meng-hire banyak orang sekaligus tentunya bukan perkara mudah untuk urusan kantong gua yang saat ini sedang tidak ada sinkronisasi dengan kantong bokap.
“Yaudah kalo gitu, kamu bayar aja per desain.. desain yang udah ada di orang kamu beli...”
Kira-kira begitu bunyi saran dari Desita yang akhirnya sampai saat ini masih gua gunakan. Jika meminjam istilah ekonomi mungkin dibilang Pay for what you get, jadi berkembangnya sistem ini membuat gua membayar dua kali untuk sebuah desain; pembayaran pertama untuk Desain-nya itu sendiri dan pembayaran kedua jika desain yang sudah terpasang pada item laku terjual. Apakah bayaran per-desainnya besar? Oh tentu tergantung dengan tingkat kesulitan dan waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya dan sudah barang tentu gua adalah orang yang sangat menghargai sebuah karya, gua nggak mau membayar murah sebuah kreatifitas.
Dan berawal dar ‘ide’ Desita itulah akhirnya clothingan gua perlahan mulai dikenal. Nggak hanya membuat sebuah brand dan memasarkannya, sejak enam bulan terakhir gua juga mulai memproduksi item untuk distro-distro lain mulai dari Jogja, Jakarta bahkan Malang. Dan tentunya gua nggak bisa menghandle itu semua sendirian, selain mursan yang bertanggung jawab dalam sisi operasional gua juga memiliki satu orang lagi yang bisa dijadikan penanggung jawab administratif, tentu saja gua memilih orang yang punya pengalaman dalam bidang administrasi, ya walaupun administrasi kasir minimart nggak bisa dibilang sebagai pengalaman ‘penting’ tapi nilai kejujuran bisa menutupinya dan Taufik rasa-rasanya pantas gua datangkan dari Bogor untuk mengisi pos tersebut.
Berbekal dua orang itu lah, gua akhirnya saat ini berdiri disebuah tempat yang mudah-mudahan nantinya bisa disebut kantor.
Terjun langsung dalam usaha seperti ini sepertinya memang berhasil untuk sedikit mengobati kerinduan mendalam terhadap cinta yang terpisah jarak. Terkadang bekerja membuat gua sedikit banyak lupa akan ‘cinta’, lupa akan Desita walaupun tetap nggak bisa dipungkiri saat menggambar tengkorak sambil memendam rindu akan Desita, hasilnya si tengkorak malah jadi tengkorak yang lucu dan ‘unyu-unyu’
Banyak hal yang membuat gua berubah. Tadinya gua menolak percaya dengan anggapan kalau cinta itu bisa merubah seseorang, tapi sekarang gua mengerti kenapa ada anggapan seperti itu. Tentu saja, saat ini jarang sekali orang yang tau bagaimana perilaku gua dulu. Mungkin karena orang-orang yang ada disekitar gua saat ini merupakan orang-orang yang berbeda dengan yang gua kenali dulu. Sekarang gua bisa lebih mentolerir segala sesuatu, gua juga sudah tidak terlalu ‘kolot’ mempertahankan semuanya dalam pola tertentu, gua sudah tidak lagi meminum kopi satu cangkir sehari dan mengenakan pakaian sesuai jadwal walaupun gua tetap selalu memakan kuning telur belakangan dan sepertinya untuk yang terakhir akan selalu begitu. Untuk urusan ego, dan mungkin ini yang paling terasa. Entah kenapa, Desita selalu berhasil mengendalikan ego yang terlalu besar dalam diri, saat mendengar suaranya, meresapi perkataannya dan memaknai nasihatnya, perlahan-lahan ego gua semakin luntur dan kini gua hanya menyisakan sedikit ‘ego’ untuk berkeras ‘melawan’ bokap.
Dan saat ini, ditempat gua berdiri, gua membulatkan tekad untuk menyongsong takdir, melakukan ‘negosiasi’ dengan bokap. Minggu depan Desita akan menjalani sidang kelulusan, dan jika semua berjalan lancar (dan gua harap begitu) maka tiga bulan berikutnya gua akan membawa Desita ke Jakarta. Tidak peduli apapun hasilnya, gua akan tetap membawanya ke Jakarta.
---
Sehari berselang, saat gua tengah beristirahat sambil menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi diberanda teras rumah. Gua mengeluarkan ponsel dan berniat menghubungi Desita, sambil memutar-mutar posel gua menimbang-nimbang apakah harus mengatakan tentang rencana gua membawa Desita ke Jakarta untuk bertemu bokap sekarang, apakah ini waktu yang tepat? Gua cuma takut hal ini malah membuat Desita yang baru akan Sidang Skripsi terganggu konsentrasinya. Gua mengurungkan niat dan kembali memasukkan ponsel kedalam saku. Nggak lama berselang Mursan dan Taufik muncul dari dalam rumah, setelah sejak sore tadi mereka menghabiskan waktu bermain playstation.
“Fik,San,..”
“Ya mas”
Mursan menjawab.
“Gua kayaknya mau pergi sekitar mungkin dua mingguan.. gua tinggal kalian bisa kan?”
“Mau kemana aa?”
Taufik bertanya
“Ke bogor”
“Jemput Mbak Desi ya mas?”
Kali ini Mursan yang bertanya.
“Nggak, mau tau aja lu.. bisa kan?”
“Bisa, tenang aja.. emang mau jalan kapan mas?”
“Kalo besok langsung dapet tiket, besok langsung berangkat..”
“Kok keto’e kesusu tho mas, ene opo?”
“Nggak ada apa-apa.. mursaan..”
Gua bicara ke Mursan sambil berlalu masuk kedalam, berniat memesan tiket pesawat secara online.
---
Esok harinya, jam sudah menunjukkan pukul dua siang saat gua baru saja menginjakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta. Cuaca panas langsung menyambut gua yang baru saja keluar dari terminal, sosok pria botak dengan janggut tebal berdiri menyambut gua sambil cengengesan.
“Apa kabar, bleh..”
Bewok menggapai gua dan mengulurkan tangannya.
“Baik.. elu gimana? Bengkel masih jalan?”
Gua menjabat tangannya dan kemudian bertanya tentang usaha bengkel mobil yang dimilikinya.
“Masih.. tumben banget minta jemput gua lu..”
“Haha.. kangen gua, sekalian nostalgia lah.. “
“Udah hampir tiga taon ya kita nggak ketemu..lebih malah..”
Bewok bicara sambil mengangkat koper kecil gua dan memasukkannya kedalam bagasi mobil sedan miliknya.
“Iya..ya..”
“Gimana? Kabar pertapaan lu setelah lari dari kenyataan ditinggal cewe yang namanya Desita itu?”
“Hahaha.. ketinggalan cerita luh..”
Gua bicara sambil tertawa mendengar pertanyaan si Bewok, kemudian masuk kedalam mobil. Sementara si Bewok terlihat penasaran.
“Maksudnya? Jangan-jangan udah kimpoi lu yak sama cewek jogja?”
“Nggak..”
“Trus..?”
“Udah jalan, ntar gua certain dijalan..”
Kemudian mobil sedan eropa Bewok mulai meluncur meninggalkan Bandara Soekarno Hatta, menembus panasnya aspal jalanan ibukota. Sepanjang perjalanan gua habiskan dengan menceritakan hampir seluruh kisah yang terjadi antara gua dan Desita, serta bagaimana Salsa juga ikut andil dalam perkara ini. Sedangkan perihal Astrid, nggak pernah gua tuturkan kepadanya. Si Bewok hanya manggut-manggut sambil tersenyum mendengar cerita gua, sesekali terdengar dia menggumam; “Parah..”, “Serius lu” atau bahkan “Anj**g”.
“Jangan keluar disini, wok..”
Gua menepuk lengan si Bewok yang hendak mengambil lajur paling kiri, berniat keluar di pintu keluar Tol Slipi. Respon si Bewok, mematikan lampu sein-nya dan kembali ke jalur tengah.
“Kenapa?”
“Lurus aja terus..”
“Kemana?”
“Ke Bogor..”
“Ah lu gila!!.. gua ntar malem mau ada acara..”
“Acara apaan sih? Pentingan mana sama nganter gua ke bogor? Gua kan sahabat lu wok..”
“Pentingan acara gua lah..”
“Alaaah paling juga lu mo main billiard sama cewek-cewek bispak di kemang..”
Si Bewok menempeleng kepala gua dengan gulungan brosur yang ada di dashboard mobilnya.
“Geblek! Ntar malem gua mau lamaran..”
“Hah? Serius lu?”
“Serius lah..”
“Yaudah keluar deh dipintu tol depan.. anterin gua kerumah aja..”
“Maksud gua juga gitu dari tadi..”
Kemudian sesaat suasana di dalam mobil hening seketika. Dan Si Bewok baru kembali membuka suaranya saat kami sudah hampir sampai komplek rumah gua.
“Lu kok nggak ngabar-ngabarin gua wok, mau lamaran?”
“Ya ini gua kabarin..”
“Siapa cewek sial itu?”
“Kampret… justru dia beruntung banget dapetin gua..”
“Siapa wok?”
“Namanya Seila.. “
“Wuih, kenal dimana?”
“Di tempat karaoke…”
“Ah geblek…”
“Lho emang kenapa bleh? Ada yang salah kenal cewek ditempat karaoke.. lu dulu juga sering nyari cewek-cewek bispak di tempat begituan..”
“Geblek.. tapi ya jangan buat dijadiin istri juga laki wook..”
“Ah gua udah cinta mati banget sama dia bleh.. asli dah.. kalau seandainya bokap gua ngelarang aja, gua bakal kimpoi lari..”
Deg!
Kalimat yang baru saja diucapkan Si Bewok, sesaat membuat hati gua terasa seperti tersayat.
“Eh Sorry, bukan maksud nyindir kasus lu sama Desita lho.. tapi gua saranin sih kalo emang restu bokap lu nggak kunjung terbuka, kimpoi lari aja..siapa tau abis lu kimpoi lari bokap lu malah pasrah dan akhirnya menerima kalian.. banyak bleh kasus yang begitu..”
Sungguh, selaknat-laknatnya gua terhadap orang-tua, belum pernah gua sekalipun berfikir untuk ‘kimpoi-lari’. Tapi, mungkin ada benarnya juga apa yang barusan dibilang Si Bewok “kimpoi lari aja..siapa tau abis lu kimpoi lari bokap lu malah pasrah dan akhirnya menerima kalian”. Gua manggut-manggut sebentar kemudian memasukkan ‘kimpoi lari’ sebagai rencana cadangan.
Nggak lama, kami pun tiba didepan rumah gua. Si Bewok turun, mengeluarkan koper kecil gua dari dalam bagasinya. Gua meraih koper tersebut;
“Mampir dulu wok, ngopi..”
“Nggak deh, gua langsung aja..”
“Ntar malem acaranya jam berapa, gua ikut deh..”
“Boleh, tapi agak jauh lamarannya…”
“Emang orang mana wok..”
“Orang purwokerto..”
“Ebuse.. balik lagi dong gua.. yaudah titip salam aja dah buat bokap-nyokap lu dan calon bini lu.. siapa namanya tadi?”
“Seila..”
“Oke deh.. Seila-mat sore kalo gitu..”
“Kampret..”
Bewok, menutup kaca jendela mobilnya dan meluncur pergi. Gua menghela nafas sebentar sambil memandang rumah besar dihadapan gua. Rumah dimana gua tumbuh dewasa dan meremajakan diri. Rumah yang sudah beberapa tahun ini tidak pernah gua kunjungi lagi. Gua melangkahkan kaki masuk kedalam, dan langsung disambut senyuman khas ‘Hisoka’ milik Bapak yang tengah menyiram rumput dan tanaman dihalaman depan.
“Baru sampe kamu hin?”
“Iya..”
Gua berjalan menghampirinya dan mencium tangannya.
“Kayaknya kamu kurusan… kurang makan apa kurang kasih sayang?”
“Dua-duanya..”
Gua berpaling kemudian masuk kedalam rumah.
jiyanq dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Kutip
Balas