Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#1253
28. I Miss You
Aku mengetik beberapa baris kalimat yang terpampang di LCD Mac-ku.
Mataku mulai mengirimkan sinyal Low-battery.
Saat melirik jam, ternyata sudah menunjukkan pukul 9.30.
Lagi-lagi aku lembur di hari Jumat, dan ternyata jika sudah terlanjur bekerja rasanya nanggung untuk berhenti di tengah-tengah.

Mendadak lampu di lorong mulai dipadamkan.
Sepertinya gedung akan dirapikan dan dikunci rapat sebelum jam 10.
Rasanya tidak lucu jika aku harus terkunci di dalam sini.
Aku memutuskan untuk merapikan barang-barang dan naik kereta pulang ke flat.

Perjalanan hanya memakan waktu setengah jam karena kereta ekspress ini melaju secepat kilat.
Aku berdiri di depan pintu flat dan merogoh ke dalam tas untuk mencari kunci.
Mataku sedikit melebar ketika tidak menemukan kunci itu di sana.
Aku mulai panik dan memejamkan mata, berusaha mengingat-ingat dengan baik.
Baru kuingat tadi pagi kartu yang merupakan kunci magnetik untuk flat ini tergeletak di atas meja.

Keuntungan punya kunci otomatis ini, adalah tidak usah khawatir kelupaan jika pergi tanpa mengunci pintu.
Pintunya akan otomatis terkunci dalam 15 menit jika tidak ada interaksi.
Dan di sisi lainnya, jika orangnya pelupa seperti aku, akan terjebak tidak bisa masuk ke dalam rumah sendiri.
Aku menghela nafas atas kecerobohanku sendiri.
Sepertinya, untuk kesekian kalinya aku harus ke maintenance room dan meminta petugas untuk membukakan kunciku.

"Nggak masuk?"

Aku menoleh ke arah Sammy yang sedang berdiri dengan kaus tanpa lengan berwarna hitam dan celana pendek.

"Eh,... ketinggalan." aku mendengus pasrah. "Ini mau ke maintenance room."

"Di mana ketinggalannya?"

Aku menunjuk ke dalam flatku.

"Di atas meja. Bukan yang pertama kalinya kok ini ..." aku mengangkat bahu.

Sammy melongok ke dalam dan menarik satu tanganku masuk ke dalam flatnya.

"Lho...kok?" aku terbengong-bengong.

"Lewat sini aja lebih cepet.."

Sammy menuju ke balkon dan menunjuk balkonku yang jendelanya terbuka.
Memang, jauh lebih cepat masuk dari sini.
Tapi melihat pemandangan ke bawah, kakiku langsung lemas.

"Nggak ah. Bahaya.." aku menolak dengan cepat. "Gue ke maintenance room aja."

Sammy menepuk punggungku seolah mengatakan tidak usah khawatir.
Kemudian dengan cepat dia menahan tubuhnya bersandar pada balkon dan meloncat ke balkonku yang letaknya siku bersebrangan dengan balkonku.

"Awas...!!" aku terpekik refleks karena panik.

Sepersekian detik, Sammy sudah berada di sebelah dan tersenyum bangga.
Dia masuk ke dalam, menyibak gorden dan menuju ke ruang tengahku.
Aku keluar dari apartemennya dan menuju ke depan pintuku.

"Kuncinya ada di meja tengah!" aku memberi tahu sedeikit lantang agar Sammy bisa mendengarnya jelas.

Lama, tidak ada suara Sammy dari dalam.

"Sam?"

Terdengar suara berisik di dekat pintuku.

"Wah,...ternyata kamar elo berantakan juga ya."

Alisku terangkat tinggi.

"Sammy! Jangan gerecokin barang-barang gue!" aku mengancam.

"Wah,... masih makan ayam melulu? Kok kulkas isinya ayam semua? Nugget,...sosis,...Fillet,..."

"Bukain sekarang, Sam!" aku mulai putus asa.

Pasti Sammy yang iseng mulai membuka-buka lemariku nantinya.
Rasanya sebal sekali jika Sammy mulai iseng begini.

"Gue hitung sampe tiga, ya! Satu.... dua...!"

Cklek!
Suara pintuku terbuka dan aku spontan masuk ke dalam untuk memastikan Sammy tidak membuat apartemenku berantakan.
Lampunya masih gelap dan cahaya remang-remang masuk dari jendela yang terbuka lebar di balkon.

"Iseng banget lo ya ..." aku menggerutu sambil menuju ke dinding untuk menyalakan lampu.

Mendadak Sammy merangkulku dari belakang.
Dia memelukku dari atas bahu dan nafasnya menggelitik leher belakangku.

"Sam,... jangan begini." aku berusaha meronta.

"Please, sebentar aja?" Sammy memohon dengan suara pelan.

Lengannya bergetar tapi merangkulku semakin erat.
Kakiku terasa lemas.
Apa yang sedang dia pikirkan?
Mengapa Sammy bersikap begini?

"Kenapa, Sam?"

"I miss you, Chery."

Sammy membisikkan sebaris kalimat itu ke telingaku.

"Everyday, since you left me, I miss you like crazy."

Aku membalik badan dan menatapnya lurus di matanya.

"Kalo elo kangen gue, kenapa selama 3 bulan nggak pernah ada satu patah kata pun dari elo?" aku menantangnya. "Kalo elo kangen gue, kenapa waktu gue masih suka sama elo, malahan elo balik ke Debby?"

"Gue nggak balik ke dia,Cher..." Sammy berusaha menjelaskan. "Di hari kalian berantem tampar-tamparan itu, saat itu juga gue minta dia untuk pulang ke Semarang."

Aku menggeleng seolah tidak percaya.

"Terus, kenapa elo bilang kita jadian aja,..? Seolah gue udah desperate banget, dan elo cuma ngasihani gue? Biar kita nggak saling menjauh..."

Sammy mengusap air mata yang bergulir di pipiku.
Ya, tanpa terasa aku menangis.
Baru mendapati fakta bahwa selama ini kebodohanku yang membuatku pergi dari Sammy.
Tanpa mendengar penjelasan lengkap darinya.

"Chery,... gue minta jadian sama elo, karena gue memang suka sama elo. Gue baru menyadari itu ketika hubungan kita jadi canggung."

Sammy maju dan mendekati wajahku.
Bibirnya menyentuh bibirku lembut.
Aku masih setengah kaget dan berusaha menjauh.
Tapi Sammy sekali lagi melingkarkan lengannya di belakang leherku dan menciumku dalam.

"Why did you leave me, Cher?" Sammy bertanya getir.

"Gue cuma mau elo bahagia bareng Debby..." aku terisak.

"Yang bikin gue bahagia selama ini cuma elo. Dan sampai sekarang pun hal itu nggak berubah."

Dengan perlahan namun pasti, Sammy menciumku lagi.
Tapi kali ini, aku tidak berusaha menjauh ataupun menolak.
Setelah berbulan-bulan aku berusaha untuk menghindarinya dan kenangan dirinya.
Pada akhirnya semua tertumpah menjadi satu.
Tanpa berfikir lagi, Sammy memelukku erat dan menciumku begitu lama.

Aku melangkah mundur dan akhirnya tersandar ke tembok.
Yang terlintas di kepalaku cuma satu : Sekian lama ini, ternyata aku juga merindukan Sammy.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.