- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
190.7K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#88
TAK KENAL USIA
Spoiler for :
Bangun tidur kuterus masak. Setelah mengambil panci aluminium dan menuang air setengah gayung, kuputar pemantik kompor gas. Setelah air mendidih, satu unit mi instan langsung berenang ke dalamnya. Sambil membolak-balik mi dengan garpu, kulihat apa yang terlihat melalui kaca jendela lantai 2 yang terpasang tepat di hadapanku.
Sebuah ruko 2 lantai yang belum buka berdiri kokoh di seberang jalan. Seperti biasa, pada pukul 6 pagi pintu sampingnya akan terbuka dari dalam dan seorang gadis kecil berseragam SMP yang memakai pita merah jambu akan keluar dari dalamnya sambil berkata
“Bu, Nia berangkat dulu! ”
Lalu samar-samar akan terdengar suara ibunya menjawab.
“Ya Nia, hati-hati di jalan.”
Ruko itu adalah sebuah toko kue, hanya dihuni oleh 2 orang ibu dan anak. Gadis berpita merah jambu itu adalah anak pemilik toko yang bernama Milenia, biasa dipanggil Nia. Lahir pada tahun 2000 dan sekarang masih duduk di bangku SMP. Ibunya sendiri adalah seorang janda 44 tahun bernama Fatimah.
Bisa dibilang aku adalah orang pertama yang dikenal keduanya di kompleks ini. Saat itu ketika baru dibuka, sepulang kuliah sengaja aku mampir ke sana untuk bersilaturahmi dan melihat-lihat. Kabar buruknya, ternyata bukan hanya aku saja yang mampir ke tempat itu.
“Serahkan uang!”
Ya toko itu dihampiri perampok bersenjata tajam. Karena hanya satu orang, kulawan saja. Akhirnya kami berduel. Perampok itu kalah dan kabur, sedangkan aku menang meskipun harus dijahit karena tersambar ujung pisaunya.
Pikiranku yang berjalan kembali ke masa lalu, dikembalikan ke saat ini oleh ponsel yang berdering. Ternyata Milenia meneleponku
“Halo.”
“Lagi ngapain?”
“Masak buat sarapan. Kamu sendiri sudah sampai sekolah belum?”
“Masih di angkot nih.”
“Oh ya Nia, nanti sore ada waktu tidak?”
“Ada.”
“Kita ketemu yuk,ada yang mau aku omongin nih sama kamu.”
Bagian yang tercetak miring diatas sangat berat kukatakan. Ada rasa grogi berkepanjangan yang bercampur dengan degup jantung yang bertambah cepat karena sedikit was-was. Sudah lama aku ingin mengatakan hal itu kepadanya tetapi niat itu selalu kuurungkan di saat-saat terakhir. Tetapi hari ini dorongan itu sudah tak bisa kutahan lagi. Kau tahu bagaimana rasanya memanggul karung beras 1000 ton di punggung? Seperti itulah derita insan yang merindukan asmara yang seolah tak mungkin teraih. Ada begitu banyak perbedaan yang merisaukanku.
Tetapi dengan riang Nia menjawab
“Oh ya? Kita ketemuan dimana?”
“Perpustakaan Kota jam setengah empat bagaimana?”
“Baik, pokoknya nanti Nia akan dandan secantik mungkin buat Mas.”
“Tidak usah dandan kamu sudha cantik kok Nia.”
“Sudah dulu ya, sebenatr lagi masuk nih.”
“Bye, sampai nanti sore.”
Sore harinya kukenakan kemeja dengan gelisah. Tak lupa, kubawa boneka beruang yang juga berpita merah jambu untuk kuberikan padanya. Setelah merasa penampilanku cukup rapi, kuturuni tangga, kukendarai sepeda motor matic dan kujumpai Nia yang rupanya sudah duduk di salah satu meja. Ia terlihat cantik, dengan riasan dan pakaian yang cocok dengan tubuhnya. Hanya saja ia jadi terlihat menjadi terlalu dewasa untuk ukuran anak-anak sesusianya.
“Buat kamu.”
Kuberikan boneka beruang itu kepadanya.
“Terima kasih.”
“Sebenarnya aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
Aku semakin berdebar-debar ketika melihat pipinya yang menjadi merah.
“Bukannya dari tadi juga sudah ngomong sama aku?”
“Tapi yang ini topiknya lain. Butuh kesungguhan bukan bercandaan.”
“Ya sudah ngomong saja.”
“Begini Nia, aku ngajak kamu ketemuan disini, karena aku mau bilang kalau...kalau...”
“Kalau apa?”
“Kalau aku cinta sama....Ibu kamu. Aku harap kamu mau merestui hubungan kami.”
Nia pun terdiam lalu sejenak kemudian ia menangis tersedu-sedu.
Sebuah ruko 2 lantai yang belum buka berdiri kokoh di seberang jalan. Seperti biasa, pada pukul 6 pagi pintu sampingnya akan terbuka dari dalam dan seorang gadis kecil berseragam SMP yang memakai pita merah jambu akan keluar dari dalamnya sambil berkata
“Bu, Nia berangkat dulu! ”
Lalu samar-samar akan terdengar suara ibunya menjawab.
“Ya Nia, hati-hati di jalan.”
Ruko itu adalah sebuah toko kue, hanya dihuni oleh 2 orang ibu dan anak. Gadis berpita merah jambu itu adalah anak pemilik toko yang bernama Milenia, biasa dipanggil Nia. Lahir pada tahun 2000 dan sekarang masih duduk di bangku SMP. Ibunya sendiri adalah seorang janda 44 tahun bernama Fatimah.
Bisa dibilang aku adalah orang pertama yang dikenal keduanya di kompleks ini. Saat itu ketika baru dibuka, sepulang kuliah sengaja aku mampir ke sana untuk bersilaturahmi dan melihat-lihat. Kabar buruknya, ternyata bukan hanya aku saja yang mampir ke tempat itu.
“Serahkan uang!”
Ya toko itu dihampiri perampok bersenjata tajam. Karena hanya satu orang, kulawan saja. Akhirnya kami berduel. Perampok itu kalah dan kabur, sedangkan aku menang meskipun harus dijahit karena tersambar ujung pisaunya.
Pikiranku yang berjalan kembali ke masa lalu, dikembalikan ke saat ini oleh ponsel yang berdering. Ternyata Milenia meneleponku
“Halo.”
“Lagi ngapain?”
“Masak buat sarapan. Kamu sendiri sudah sampai sekolah belum?”
“Masih di angkot nih.”
“Oh ya Nia, nanti sore ada waktu tidak?”
“Ada.”
“Kita ketemu yuk,ada yang mau aku omongin nih sama kamu.”
Bagian yang tercetak miring diatas sangat berat kukatakan. Ada rasa grogi berkepanjangan yang bercampur dengan degup jantung yang bertambah cepat karena sedikit was-was. Sudah lama aku ingin mengatakan hal itu kepadanya tetapi niat itu selalu kuurungkan di saat-saat terakhir. Tetapi hari ini dorongan itu sudah tak bisa kutahan lagi. Kau tahu bagaimana rasanya memanggul karung beras 1000 ton di punggung? Seperti itulah derita insan yang merindukan asmara yang seolah tak mungkin teraih. Ada begitu banyak perbedaan yang merisaukanku.
Tetapi dengan riang Nia menjawab
“Oh ya? Kita ketemuan dimana?”
“Perpustakaan Kota jam setengah empat bagaimana?”
“Baik, pokoknya nanti Nia akan dandan secantik mungkin buat Mas.”
“Tidak usah dandan kamu sudha cantik kok Nia.”
“Sudah dulu ya, sebenatr lagi masuk nih.”
“Bye, sampai nanti sore.”
Sore harinya kukenakan kemeja dengan gelisah. Tak lupa, kubawa boneka beruang yang juga berpita merah jambu untuk kuberikan padanya. Setelah merasa penampilanku cukup rapi, kuturuni tangga, kukendarai sepeda motor matic dan kujumpai Nia yang rupanya sudah duduk di salah satu meja. Ia terlihat cantik, dengan riasan dan pakaian yang cocok dengan tubuhnya. Hanya saja ia jadi terlihat menjadi terlalu dewasa untuk ukuran anak-anak sesusianya.
“Buat kamu.”
Kuberikan boneka beruang itu kepadanya.
“Terima kasih.”
“Sebenarnya aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
Aku semakin berdebar-debar ketika melihat pipinya yang menjadi merah.
“Bukannya dari tadi juga sudah ngomong sama aku?”
“Tapi yang ini topiknya lain. Butuh kesungguhan bukan bercandaan.”
“Ya sudah ngomong saja.”
“Begini Nia, aku ngajak kamu ketemuan disini, karena aku mau bilang kalau...kalau...”
“Kalau apa?”
“Kalau aku cinta sama....Ibu kamu. Aku harap kamu mau merestui hubungan kami.”
Nia pun terdiam lalu sejenak kemudian ia menangis tersedu-sedu.
THE END
Diubah oleh reloaded0101 21-06-2014 00:52
jwbali memberi reputasi
1
Kutip
Balas