Quote:
“Ceklek..” suara pintu dibuka dari dalam
“Siang mbak Desi..” ujar Fanni menyapa seorang wanita yang baru saja muncul dibalik pintu
“Eh siang.. ada apa ya dek Fanni?”
“Siang mbak..” Aku mendekat ke Fanni, menyapa mbak Desi, tampak dia sedikit gugup ketika melihatku, sejenak aku melihat ke dalam ruang tamunya, terlihat jaket kulit hitam kepunyaan mas Agung, ga diragukan lagi, mas Agung ada di dalam
“Cowok saya suruh keluar dong mbak..” Ujarku kemudian
“Eh ehmm.. Sebentar ya mbak..” Mbak Desi terlihat gugup mendengar kalimatku barusan, kemudian dia berpaling dan berjalan masuk
“Kamu yakin Din, ada cowokmu di dalem?” tanya Fanni padaku setelah mbak Desi masuk ke dalam
“Banget, itu jaket diatas kursi sama helm diatas meja punya nya dia Fan, aku hapal banget” ujarku
Ga lama kemudian muncul seorang pria yang aku kenal, ya, mas Agung. Aku emosi banget saat itu, tapi ga mungkin juga kalo aku lampiaskan dirumah orang seperti ini, akhirnya hanya mataku yang berlinang air mata tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku.
Memang benar kata orang, air mata adalah kata-kata yang keluar ketika mulut tak sanggup berbicara.
Aku speechless, ingin menolak kenyataan bahwa cowok yang aku lihat dirumah mbak Desi saat ini adalah mas Agung, aku mencoba berpikir jernih, tapi tidak bisa. Baru saja aku mencoba untuk menyayanginya, tapi sikapnya sudah membuatku kecewa.
Quote:
“Nduk..” ujar mas Agung sambil hendak meraih tanganku, aku kibaskan tanganku menghindarinya.
Aku berbalik dan berjalan menuju rumah, air mataku sudah tak tertahan lagi, aku kecewa dengannya.
Sampai dirumah aku langsung menaruh belanjaan di dapur, masuk kamar, dan mengunci diri disana, aku menangis sejadi-jadinya dengan bantal menutupi wajahku, meredam suara tangisku agar tak terdengar ibu.
Quote:
Tok..Tok..Tok.. tak lama terdengar ada yang mengetuk pintu kamarku
“Nduk.. ada mas Agung datang itu..” suara ibu memanggilku dari depan pintu
“To..tolong bilangin Dini sakit bu..” jawabku terbata karena berusaha menahan tangisanku
“Lho.. mbok ditemuin dulu bentar, mas nya dateng kok ditinggal di kamar..”
“Ayo gih.. keluar dulu bentar..” ujar Ibu
Ugghhh, kalu saja bukan permintaan Ibu, aku ogah nemuin tu cowok.. dengan malas aku beranjak turun dari kasur, merapikan rambut, menghapus sisa-sisa air mata di pipi dan mataku, aku keluar kamar dan menuju ruang tamu..
Quote:
“Nduk..” sapa mas Agung yang sedang duduk di kursi ruang tamu, aku hanya diam, jangankan berbicara, memandangnya saja aku malas, aku duduk di kursi didepannya, menundukkan muka memandang kebawah
“Nduk.. maaf, kamu jangan marah dulu.. denger penjelasanku..” ujar mas Agung, aku masih diem dan tidak memandangnya
“Aku cuma main disana, aku ga ngapa-ngapain nduk.. ga seperti yang kamu bayangin..” katanya
“Main? Main di kamar? Berdua??” ujarku dalam hati
“Nduk.. plis dong, jangan diem aja.. kamu jangan marah gini..”
“Emang salah aku marah? Ga boleh? Cuma kamu aja yang boleh marah? Iya??” akhirnya aku angkat bicara, aku berbicara dengan nada emosi padanya
“Iya, ya boleh.. tapi kan aku udah bilang, ini itu ga sesuai dengan apa yang dipikiran kamu..” jawab mas Agung
“Udah deh mas, mending kamu pulang aja sekarang, aku lagi males ngomong sama kamu” jawabku sambil mengalihkan pandangan ke akuarium di sudut ruang tamuku, memandang ikan mas dan koi di dalamnya, seandainya aku pria mungkin sudah aku lemparkan akuarium itu ke kepala mas Agung saking emosinya. Mas Agung terdiam, kepalanya menunduk, sepertinya dia sadar kalo aku sedang tidak bisa diajak bicara.
“Ya sudah aku balik dulu kalo gitu, tolong kamu jangan marah lagi..sekali lagi aku minta maaf” ujarnya sambil mengambil kunci motor yang dia letakkan diatas meja, kemudian bangkit berdiri dan berjalan keluar rumah, aku masih terduduk di tempat yang sama, tidak beranjak keluar untuk membukakan pintu pagar baginya seperti yang biasa aku lakukan ketika dia mau pulang dari rumahku.
Seenaknya aja aku disuruh jangan marah, katanya lembur? Tapi malah aku jelas-jelas lihat dia dirumah tetanggaku yang seorang janda, yang mendapatkan stempel negative dari tetangga sekitar, dengan gampangnya dia meminta maaf dan memintaku untuk tidak marah? Sudah berapa kali dia main kesana? Kata Fanni aja beberapa kali, berarti sudah cukup sering dia kesana?? Coba kalau dia diposisiku, dia melihatku sedang main kerumah seorang cowok, di dalam, berdua, apa ga sudah emosi kesetanan dia?
Quote:
“Ka.. nanti pulang kerja mampir kerumahku ya..” sms ku ke Tika siang itu.
Aku butuh dia disaat seperti ini, aku membutuhkan nasihat dan masukan darinya, karena jujur aku pribadi sudah tidak dapat berpikir jernih hari itu, pikiranku hanya ada emosi dan kecewa atas tingkah mas Agung.
Quote:
“Keterlaluan memang si Agung! Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu!!” ujar Tika geram sambil mengepalkan tangannya sore itu ketika kami berdua ngobrol di kamar, aku menjelaskan mengenai apa yang terjadi tadi siang
“Aku ga habis pikir aja ka, kok dia setega itu, dia udah dipercaya sama almarhum bapak buat menjaga aku tapi malah dia yang nyakitin aku..” ujarku dengan pandangan menerawang kedepan, menahan air mataku
“Sebenernya kalo aku diposisimu aku pasti juga akan sangat emosi nduk! aku juga pasti ga bisa berpikir jernih! Wajar itu, semua cewek pasti seperti itu!” ujarnya
“Tapi.. aku tau kamu mengajakku disini untuk memberi nasihat dari sudut pandang yang berbeda, untuk memberi masukan padamu, maka aku coba memposisikan diriku pada pihak netral, tidak membelamu tapi juga tidak membelanya..” tambahnya, ya, memang itu yang aku perlukan saat ini, sebuah sudut pandang dari orang lain yang bisa memberikan masukan dan nasihat yang obyektif.
“Kita coba kasih kesempatan dia sekali lagi, tapi kali ini kita benar-benar mengawasi dia nduk, kan kamu baru ngeliat dia dirumahnya mbak Desi, belum sempat memergokinya melakukan itu dengan mbak Desi.. yaa.. meskipun kalau di logika sebenernya juga pasti pada tau cowok sama cewek ngapain di dalam rumah berdua, tapi oke, kita coba percaya dengan perkatannya.. anggap aja dia berkata jujur, anggap aja dia benar-benar hanya sekedar main, ga ngapa-ngapain..”
“Tapi ka..”
“Tunggu, dengerin aku dulu..” sela nya
“Kamu kasih kesempatan sama dia sekali lagi, mengingat almarhum bapak juga menitipkan amanah padanya, tapi dalam kesempatan ini kamu harus benar-benar mengawasi setiap tindakannya, sikapnya yang mencurigakan, bahkan kalau perlu sesekali kamu cek hp nya. Mbak Desi ini yang kita tau, yang kita ga tau? Bisa aja kan ternyata ada mbak-mbak yang lain lagi?” ujarnya yang disambut dengan anggukan ku
“Nah.. tapi.. kamu kasih persyaratan ke dia kalau memang dia minta dimaafkan..”
“Persyaratan?”
“Iya dong, enak aja dia minta maaf langsung dimaafin, kita harus lihat dia serius ga minta maafnya, dia bener-bener merasa bersalah ga, dia bener-bener berubah ga”
“Gitu ya?” ujarku sambil menoleh ke Tika, Tika mengangguk
“Terus, persyaratannya seperti apa ka?” tanyaku
“Kamu bilang sama dia, kalau dia memang serius mau minta maaf, lakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa dia bener-bener nyesel dan ga akan ngelakuin itu lagi.. nanti biar dia yang mikir dia mesti ngapain, kamunya tinggal menentukan sudah cukup terlihat belum penyesalannya dari tindakannya, enak aja kamu udah disakiti, masih harus disuruh berpikir dia musti ngapain, biar aja dia yang mikir!”
“Hehe..” gue senyum mendengar sarannya
“Tapi.. ada tapinya nih nduk, kalau sampai someday dia ketauan lagi masih ada hubungan sama tu janda atau sama cewek lain yang menurutmu itu sudah bukan hubungan sewajarnya seorang teman, kamu harus bener-bener ambil tindakan tegas untuk putus dari dia, jangan dikasih kesempatan lagi!” ujar Tika, aku mengangguk dengan mantap.
“Ya, aku pasti akan jadi cewek yang sangat bodoh seandainya dia mengulangi kesalahan yang sama tapi masih aku terima..” ujarku dalam hati.